background image
LAPORAN KASUS
Hernia Umbilikalis Inkarserata
pada Neonatus
Laporan Kasus
Nawazir Bustami
Laboratorium/U.P.F Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang
Rumah Sakit Dr. Achmad Mochtar, Bukittinggi
ABSTRAK
Dilaporkan satu kasus hernia umbilikalis inkarserata pada neonatus umur 2 hari dan
berat 2000 gr.
Terdapat pembengkakan di daerah pusat waktu lahir, perut bertambah besar. Pada
pemeriksaan terdapat tanda-tanda ileus obstruksi di pusat pembengkakan penampang
3 cm ditutup kulit dan di atasnya terdapat potongan tali pusat. Dilakukan operasi, dalam
kantong hernia terdapat sekum dan appendiks.
PENDAHULUAN
Pada daerah pusat terdapat beberapa bentuk hernia; sesuai
dengan bentuk dan terjadinya dibedakan:
1) Hernia umbilikalis pada bayi dan anak
Adalah penonjolan melalui defek fasia rektus ditutup si-
katriks tali pusat, terjadi setelah lahir karena tekanan intra-
abdomen meninggi
(1)
.
2) Hernia para umbilikalis : menyerupai hernia umbilikalis,
penonjolan melalui defek fasia transversal di atas atau di bawah
pusat tertutup oleh kulit; frekuensinya 3%, sedangkan hernia
umbilikalis bayi 97%.
3) Kongenital yaitu hernia dengan penonjolan waktu lahir yang
tertutup kulit dan di atasnya terdapat tali pusa
(2)
; disebut juga
hernia tali pusat Hernia ini jarang sekali ditemukan.
4) Omfalokel yaitu hernia umbilikalis inkomplet terdapat waktu,
lahir ditutup oleh peritonium, selai Warton dan selaput amnion.
Makalah ini melaporkan hernia umbilikalis kongenital
pada satu neonatus umur 2 hari yang mengalami inkarserasi;
kasus ini baru pertama kali ditemukan di RSAM Bukittinggi.
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Hernia umbilikalis kongenital adalah hernia utuh ditutup
kulit yang terdapat waktu lahir. Hernia ini dapat menonjol ke-
dalam tali pusat, disebut hernia ke dalam tali pusat
(3,4)
. Diduga
hernia ini terjadi dari omfalokel kecil yang mengalami epitelisasi
intrauterin
(1)
. Hernia berbentuk oval atau bulat dengan penam-
pang 2­3 cm, lehernya sempit dan berisi mid gut
(4)
.
Setelah tali pusat dipotong dan diikat puntungnya dipuntir
perlahan-lahan supaya usus yang mungkin ada dalam tali pusat
tereposisi. Kemudian puntung ini difiksasi dengan plester ke
dinding perut untuk mencegah puntiran terlepas. Setelah tali
pusat nekrosis terdapat luka granulasi yang menutup beberapa
minggu kemudian. Adhesi usus dalam kantong hernia dapat
terjadi sehingga reposisi gagal. Bila ini terjadi perlu dilakukan
tindakan operasi segera.
Hernia umbilikalis pada bayi dan anak terjadi karena defek
fasia di daerah umbilikus dan manifestasinya terjadi setelah
lahir. Waktu lahir pada fasia terdapat celah yang hanya dilalui
tali pusat. Setelah pengikatan, puntung tali pusat sembuh dengan
granulasi dan epitelisasi terjadi dari pinggir kulit sekitarnya.
Waktu lahir banyak bayi dengan hernia umbilikalis karena
defek yang tidak menutup sempurna
(5,6,7)
dan linea alba tetap
terpisah
(2,8,9)
. Pada bayi prematur defek ini lebih sering ditemu-
kan
(6,7)
. Defek ini cukup besar untuk dilalui peritoneum; bila
tekanan intraabdomen meninggi, peritoneum dan kulit akan
menonjol dan berdekatan
(10)
. Penampang defek kurang 1 cm,
95% dapat sembuh spontan, bila defek lebih 1,5 cm jarang me-
nutup spontan
(7)
. Defek kurang 1 cm waktu lahir dapat menutup
spontan pada umur 1­2 tahun
(9)
.
Pada kebanyakan kasus, cincin hernia mengecil setelah
umur beberapa tahun, hernia hilang spontan
(10,11)
dan jarang se-
kali residif. Penutupan defek terjadi perlahan-lah kira-kira
18% setiap bulan
(12)
. Bila defek lebih besar, penutupan lebih lama
dan beberapa hernia tidak hilang spontan. Hernia yang besar se-
* Dipresentasikan pada Pertemuan Ilmiiah Tahunan X IKABI. Bali 10­11
Maret 1995
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997
60
background image
kali menimbulkan gangguan pada anak dan ibu sehingga perlu
operasi lebih cepat
(9)
.
Hernia umbilikalis biasanya tanpa gejala, jarang yang
mengeluh nyeri. Diagnosis tidak sukar yaitu dengan adanya
defek pada umbilikus
(8)
. Diagnosis banding bila ada defek supra-
umbilikus dekat dengan defek umbilikus dengan penonjolan
lernak preperitonial yang dirasakan tidak enak
(8)
.
Pengobatan adalah expectant therapy. Defek kecil dengan
penonjolan minimal pada semua anak sebaiknya diamati sampai
umur prasekolah atau sampai timbulnya gangguan emosional.
Pada hernia yang besar tanpa gangguan emosional pada anak
atau orang tua dapat ditunggu sampai sembuh spontan, atau
dioperasi.
Pengobatan konservatif dengan strapping masih belum
disepakati. Menurut Rains dan Ritchie penyembuhan spontan
lebih cepat dengan memakai Strapping plester melingkari perut
untuk mendekatkan kulit dan otot
(4)
. Sedangkan menurut Swen-
son sulit menentukan apakah strapping umbilikus dapat mem-
bantu proses penutupan defek secara alamiah
(10)
. Biasanya pende-
rita merasa tidak enak dengan masuknya usus ke dalam kantong
hernia. Paling tidak hal ini dapat dicegah dengan strapping.
Menurut Kottinier strapping tidak bermanfaat untuk mencegah
herniasi, malah dapat menutupi tanda-tanda inkarserasi dan
menimbulkan iritasi ku1it
(6)
.
KOMPLIKASI
Hernia umbilikalis jarang mengalami inkarserasi
(3,4,7-10)
.
Kalau terjadi, kerusakan usus lebih cepat dibanding pada hernia
inguinal karena cincin umbilikus kurang elastis dibanding hernia
inguinal
(8)
. Reposisi spontan seperti hernia inguinal tidak di-
anjurkan
(9)
. Pada beberapa kasus yang mengalami inkarserasi,
dalain kantong terdapat usus tidak mengalami nekrosis, hanya
ada satu kasus dengan nekrosis omentum
(10)
. Mestel dan Burns
melaporkan 3 kasus inkarserata satu kasus menjalani reseksi
usus karena gangren
(1)
.
Jarang sekali terjadi ruptur kulit dengan eviserasi organ intra
abdomen
(10)
.
INDIKASI OPERASI
Operasi dianjurkan bila terdapat keadaan berikut:
·
Defek fasia lebih dari 1 cm, umur pada wanita lebih 2 tahun
(4)
dan pada pria Iebih dari 4 tahun
(7)
.
·
Bila terjadi inkarserasi atau strangulasi
(5,6,7,9)
.
·
Bila defek hernia 1 jan longgar pada usia 6 tahun.
·
Bila kantong besar dan kulit tipis dipertimbangkan operasi
karena kemungkinan ruptur
(10)
.
·
Bila anak sering kesakitan waktu hernia menonjol, sedang-
kan Strapping tidak mungkin karena ada kelainan kulit atau ada
riwayat inkarserasi
(10)
.
·
Hernia yang besar sekali mengganggu ibu dan anak
(9)
.
·
Bila selama observasi defek membesar atau menetap atau
bertambah besar setelah umur 4 tahun
(6)
.
KASUS
Seorang bayi wanita umur 2 hari, lahir di rumah bidan
dengan berat badan 2000 g, anak ke enam dengan persalinan.
normal. Mekonium keluar hari pertama dan terdapat pem-
bengkakan pada daerah pusat. Kencing jernih.
Pada pemeriksaan ditemukan keadaan umum lemah sedikit
dehidrasi. Jantung dan paru-paru dalam batas normal. Ekstremi-
tas dan genitalia tidak tampak kelainan. Abdomen tampak gem-
bung dan mengkilat. Pada daerah pusat tampak pembengkakan
dengan penampang 3 cm ditutup kulit. Di atas pembengkakan
terdapat potongan tali pusat.
Pada perabaan abdomen tegang dan tanda cairan tidak ada.
Pembengkakan teraba lunak dan tidak hilang dengan penekanan.
Anus dan rektum tidak ada kelainan.
Pada pemeriksaan foto polos abdomen tampak usus melebar
dan di daerah pusat terdapat masa. Udana bebas tidak tampak.
Batas udara cairan tidak jelas.
Hb 15 g%dan lekosit darah 9100/mm Urine dalain batas
normal. Dilakukan nesusitasi cairan, pemasangan pipa lambung
dan kateter.
Pada pemeriksaan Rontgen terdapat pelebanan usus-usus,
batas udara cairan tidakjelas dan udara bebas tidak tampak.
Pada daerah pusat terdapat bayangan massa.
Ditegakkan diagnosis ileus obstruksi kemungkinan karena
hernia umbilikalis inkaserata.
Dilakukan operasi dengan sayatan melingkardi bawah pusat
pada hernia; dalam kantong hernia terdapat sekum dan appendik
terjepit pada cincin hernia dengan ganis tengah 1,5 cm. Sekum
tidak terisi udara dan masih vital, kemudian direposisi. Kolon
bagian distal tidak terisi udara. Dilakukan herniorafi dan luka
operasi ditutup. Pasca bedah berjalan baik dan penderita dipu-
langkan pada hari ke 6.
KESIMPULAN
Dilaporkan satu kasus hernia umbilikalis inkanserata pada
satu neonatus berumur 2 hari.
KEPUSTAKAAN
1. Mestel, Burns dikutip oleh Swenson.
2. Maingot R. Umbilical hernia. Dalam: Maingot R. (ed). Abdominal opera-
tions Maingot. ed 7. Vol. II. New York: Appleton Century Croft, 1980.
hal. 1618.
3. Morton JH. Abdominal wall hernias. Dalam: Schwartz SI. Principles of
Surgery ed. 5. New York: McGraw-Hill, 1988. hal. 1529.
4. Rains AJH, Ritchie MD. Bailey and Loves Short Practice of Surgery, ed 19.
London: H.K. Lewis & Co. 1984. hal. 1093.
5. Giles GR. The Abdominal Wall and Hernias. Dalam: Cushieri dkk. Essen-
tial Surgical Practice. Bristol: P.S.G. 1982. hal. 882.
6. Kottimier PK. Pediatric Surgical Emergencies. Dalam: Shaftan GW,
Gardner B. Surgical Emergencies. Philadelphia: Lippincot Co. 1974. hal.
549­50.
7. de LonnierHA, Hamson MR. Pediatric Surgery. Dalam: Dunphy JE, Way
LW. Surgical Diagnosis and Treatment. ed 4. Los Altos: Lange Med Publ.
1979. hal. 1066­67.
8. Fillton HC. Pediatric Surgery. Dalam: Sabiston. Textbook of Surgery, Vol
II. ed. 10. Tokyo: Igaku-Shoin 1986. hal. 1295.
9. Guzzetta PC dkk. Pediatric Surgery. Dalam: Schwartz SI (Cd). Principle of
Surgery. ed. 5. New York: Mc Graw-Hill Co. 1988. hal. 1712.
10. SwenvnO. Umbilical anomalies. Dalarn: Swenson 0. Pediatric Surgery,
Vol. I. ed 3. New York: Appleton Century-Croffs. 1969. hal. 542-47.
11. Sibley dikutip oleh Swenson.
12. Heifetz dkk. dikutip oleh Maingot.
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997 61