Scientific Working Group on Progress in Immunology of Filariasis.
Geneva : WHO, November 1979.
4.Grove DI, Cabrera BD, Valeza FS, Guinto RS, Ash LR, Warren KS.
Sensitivity and specificity of skin reactivity to Brugia malayi and
Dirofilaria immitis antigens in bancroftian and malayan filariasis in
the Philippines. Amer J Trop Med Hyg 1977; 26 : 220.
5.Grove DI, Valeza FS, Cabrera BD. Bancroftian filariasisin a Philip-
pine village : clinical, parasitological, immunological and social
aspects. Bull Wld Hlth Org 1978; 56 : 975.
6.McGreevy PB, Ratiwayanto S, Tuti S, McGreevy MM, Dennis DT.
Brugia malayi : relationship between anti-sheath antibodies and
amicrofilaraemia in natives living in an endemic area of South
Kalimantan. Submitted for publication 1980.
7.Subramanyam D, Mehta K, Nelson DS, Rao YVBG, Rao LK.
Immune reactions in human filariasis. J Clin Microbiol 1978; 8:228.
8.Weiss N. Dipetalonema viteae : in-vitro blastogenesis of hamster
spleen and lymph node cells to phytohemagglutinin and filarial
antigens. Exp Parasitol 1978; 46 : 283.
9.Weller PF. Cell-mediated immunity in experimental filariasis :
lymphocyte reactivity to filarial stage-specific antigens and to
B-and T-cell mitogens during acute and chronic infection. Cell
Immunol 1978; 37 : 369.
10.Piessens WF, McGreevy PB, Piessens PW. Immune responses in
human infections with Brugia malayi. Specific cellular unrespon-
siveness to filarial antigens. J Clin Invest 1980; 65 : 172.
11.Ottesen EA, Weller PF, Heck L. Specific cellular immune unrespon-
siveness in human filariasis. Immunology 1977; 33 : 413.
12.Pandit CG, Pandit SR, Iyer PVS. The adhesion phenomenon in
filariasis : a preliminary note. Indian J Med Res 1929; 16 : 946.
13.Kazura JW, Groven DI. Stage-specific antibody-dependent eosino-
phil-mediated destruction of Trichinella spiralis. Nature (Lond.)
1978; 274 : 588.
14.Subrahmanyam D, Rao YVBG, Mehta K, Nelson DS. Serum-depen-
dent adhesion and cytotoxicity of cells to Litosomoides carinii
microfilariae? Nature (Lond.) I976; 260 : 529.
15.Weiss N, Tanner M. Studies on Dipetalonema viteae (Filarioidea).
3. Antibody-dependent cell-mediated destruction of microfilariae
in vitro. Tropenmed Parasit 1979; 30 : 73.
16.Mackenzie CD. Antibody dependent cell-mediated mechanisms in
filariasis. Scientific Working Group on Progress in Immunology of
Filariasis. Geneva : WHO, November 1979.
17.Hawking F. Diethylcarbamazine and new compounds for the
treatment of filariasis. Adv Pharmacol Chemother 1979; 16 : 129.
18.Paganelli R, Ngu JL, Levinsky RJ. Circulating immune complexes
in ochocerciasis. Submitted for publication 1979.
19.Dissanayake S. Antigens, antibodies and immune complexes in
Wuchereria bancrofti infections in man. Scientific Working Group
on Progress in Immunology of Filariasis. Geneva : WHO, November
1979.
20. Karavodin LM, Ash LR. Circulating immune complexes in experi-
mental filariasis. Clin exp Immunol 1980; 40 : 312.
21.Piessens WF, Ratiwayanto S, Tuti S, et al. Antigen specific suppres-
sor cells and suppressor factors in human filariasis with Brugia
malayi. Submitted for publication 1980.
22.Piessens WF, Ratiwayanto S, Tuti S, et al. Immune responses in
human infections with Brugia malayi : reversal of filarial antigen
specific immune unresponsiveness following treatment with diethyl-
carbamazine. Submitted for publication 1980.
23. Kassis Al, Aikawa M, Mahmoud AAF. Mouse antibody-dependent
eosinophil and macrophage adherence and damage to schistosomula
of Schistosoma mansoni. J lmmunol 1979; 122 : 398.
24.Anwar ARE, Smithers SR, Kay AB. Killing of schistosomula of
Schistosoma mansoni coated with antibody and/or complement by
human leukocytes in vitro : requirement for complement in pre-
ferential killing by eosinophils. J Immunol 1979; 122 : 628.
25.Capron M, Rousseaux J, Mazingue C, Bazin H, Caorin A. Rat mast
cell-eosinophil interaction in antibody-dependent eosinophil cytoto-
xicity to Schistosoma mansoni schistosomula. J Immunol 1978;
121 : 2518.
26.Ogilvie BM, Askenase PW, Rose ME. Basophils and eosinophils in
three strains of rats and in athymic (nude) rats following infection
with the nematode Nippostrongylus brasiliensis or Trichinella
spiralis. Immunology 1980; 39 : 385.
27.Glauert AM, Butterworth AE. Morphological evidence for the
ability of eosinophils to damage antibody-coated schistosomula.
Trans Royal Soc Trop Med Hyg 1977; 71 : 392.
28.McLaren DJ, Ramalho-Pinto FJ, Smithers SR. Ultrastructural
evidence for complement and antibody-dependent damage to
schistosomula of Schistosoma mansoni by rat eosinophils in vitro.
Parasitology 1978; 77 : 313.
29.Butterworth AE, Wassom DL, Gleich GJ, Loegering DA, David JR.
Damage to schistosomula of Schistosoma mansoni induced directiy
by eosinophil major basec protein. J Immunol 1979; 122 : 221.
30.Duffus WPH, Thorne K, Oliver R. Killing of juvenile Fasciola
hepatica by purified bovine eosinophil proteins. Clin exp Immunol
1980; 40 : 336.
31.Simone S de Donelli G, Melli D, Rosati F, Sorice F. Human eosino-
phils and parasitic diseases : light and electron microscopy evidence
of interaction with sheep erythrocyte. Clin exp Immunol 1980;
390 : 247.
32. Tai PC, Spry CJF. Enzymes aItering the binding capacity of human
blood eosinophils for IgG antibody-coated erythrocytes (EA).
Clin exp Immunol 1980; 40 : 206.
33.Tanaka J, Baba T, Torisu M. Ascaris and eosinophil. II. Isolation
and characterization of eosinophil chemotactic factor and neutro-
phil chemotactic factor of parasite in ascaris antigen. J Immunol
1979; I22 : 302.
Filariasis Bancrofti di Semarang : Hasil
Survai Entomologik dan Parasitologik di
Beberapa Daerah
FA Sudjadi ,Soesanto Tj , Moetrarsi F, Noerhayati S ,
Isdiarto H , Agus Suwito
Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran UGM, Dinas
Kesehatan Propinsi
Jawa
Tengah,
Dinas Kesehatan Kota
Madya Semarang
PENDAHULUAN
Menurut penyelidikan Arbain dan Isdiarto (I) bentuk
urban filariasis di Indonesia tidak hanya terdapat di Jakarta,
tetapi juga di Semarang. Infeksi Wuchereria bancrofti dengan
bentuk periodik nocturnal telah dilaporkan terjadi di Bojong
Salaman Semarang Barat dengan infection rate 5.5% dari 1.050
penduduk yang diperiksa. Gejala klinik yang akut maupun
menahun tidak diketemukan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui infeksi
parasit ini di daerah-daerah lain, keadaan penularan dan
species vektornya.
Disadari
diperlukannya data-data yang lebih lengkap
tentang epidemiologi filariasis bancrofti di Semarang untuk
menentukan strategi pemberantasan dan evaluasinya dikemudi-
an hari.
BAHAN DAN CARA PENELITIAN
Keadaan Daerah Penelitian
Kota Semarang terletak di pantai utara Jawa,
ber-
+ Penelitian ini dilakukan dengan sponsor
Rockefeller Foundation Alokasi 88.
Simposium Masalah Penyakit Parasit
4 8
Tabel I
JUMLAH PEMASANGAN LIGHT TRAP (TRAP -- NIGHT)
Semazang Barat
Semarang Timur
Semarang Utara
Semarang Selatan
Semarang Tengah
Tambak Harjo
(1)
Pleburan
(1)
Bugangan
(1)
Bergota
(1)
Sekayu
(1)
Krobokan
(I)
Tandang
(4)
Mlati Harjo
(3)
Petompon
(12)
Sukolilo
(1)
Ngemplak Simongan
(8)
Pandean Lamper
(1)
Kemijen
(1)
Kaliwiru
(1)
Brumbungan
(4)
Mlayu Dazat
(1)
Sendang Guwo
(I3)
Paderesan Besar
(1)
Genuk Sari
(I)
Kembang Paes
(1)
hawa panas antara 25°08 - 32°05 C, berudara lembab antara
53 - 85% dan curah hujan 200 mm/tahun.
Daerah penelitian adalah
"
kota lama" sebelum diperluas,
yang merupakan dataran rendah dengan ketinggian hanya
antara 0.75 - 3 m dan dengan kemiringan yang kecil, sehing-
ga sangat tidak menguntungkan untuk sistem drainase air
buangan penduduk. Berlainan dengan di bagian selatan yang
merupakan lereng pegunungan dengan ketinggian 270 m.
Banjir yang boleh dikata terjadi setiap tahun menunjukkan
kurang memadainya sistem drainese di kota Semarang. Sehing-
ga aliran air buangan nampak tidak lancar dan mengalami
polusi
.
Survai Entomologis
Di dalam survai ini dilakukan penangkapan nyamuk di luar
rumah dengan menggunakan light trap dan di dalam rumah
dengan tabung hisap/aspirator.
Light trap yang dilengkapi dengan karbon dioksida padat/
dry ice untuk memperkuat daya tarik pada nyamuk di pasang
Model Number 5I2 with gate system, 3308 South Hill Street,
New SmyrnaBeach, Fla, 32069 (904) 428--644I USA.
antara jam 18.00 - 06.00. Cara ini dikerjakan seperti dilakukan
oleh Newhouse (2). Penangkapan nyamuk dalam rumah di-
lakukan di daerah yang dijumpai banyak nyamuk pada pe-
masangan light trap sebelumnya. Ini dikerjakan pada pagi hari
dengan waktu 5 menit tiap rumah.
Nyamuk yang tertangkap dimasukkan dalam
"
cup" nya-
muk yang dilengkapi dengan
"
klep
"
karet dan tutup kain kasa.
Cup nyamuk ini disimpan dalam kotak nyamuk yang dileng-
kapi dengan ventilasi dan diberi kertas basah/daun segar.
Dengan demikian nyamuk tetap hidup sampai di laboratorium.
Setelah dimatikan dengan chloroform nyamuk betina ditentu-
kan speciesnya dengan segera dan dibedah.
Di dalam suatu penangkapan, nyamuk yang tertangkap
dengan jumlah lebih dari 25 ekor dibedah secara massal/mass
disection. Kelompok 25 - 50 ekor nyamuk yang sama species-
nya dipecah-pecah dalam garam faal di atas lempeng kaca,
kemudian dituang dan diguyur dengan garam faal dalam
corong yang dilengkapi kain kasa sebagai saringan. Setelah
30 menit klem yang menutup pipa corong dibuka. Filtrat
yang ditampung diperiksa di bawah mikroskop stereoskopis.
Pada Species nyamuk yang sudah diketahui sebagai vektor
pembedahan dilakukan tiap nyamuk/individual dissection,
demikian pula spesies nyamuk dalam jumlah yang kecil.
Survai Parasitologis
Survai ini dilakukan setelah diadakan penerangan pada
penduduk tentang tujuan pemeriksaan darah dan dugaan
terjangkitnya penyakit kaki gajah di daerah tersebut.
Darah diambil dari ujung jari sebanyak 30 mm
3
dengan
menggunakan jarum lancet dan diukur dengan tabung kapiler/
capillary tube ) dan dilakukan pada jam 20.00 - 22.00.
Dibuat sediaan darah tebal, dihemolisa dan dipulas dengan
giemsa. Adanya lymphadenitis/lymphangitis dan Iymphedema/
elephantiasis dicatat untuk diketahui gejala kliniknya.
HASIL HASIL PENELITIAN
Hasil Survai Entomologis
Dalam pemasangan light trap sebanyak 57 trap-night,
masing-masing di Semarang Barat I1 trap-night, di Semarang
Timur 19 trap-night, di Semarang utara 6 trap-night, di Sema-
rang Selatan 14 trap-night dan di Semarang Tengah 7 trap-
night
(tabel 1) dapat dikumpulkan nyamuk 3.202 ekor,
) 6630--00--6I8--0073 Sherwood Medical Inc. St. Louis,
Missouri 63I03, USA
4 9
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
Tabel 2
SPESIES NYAMUK YANG DIKUMPULKAN DAN DIBEDAH DI SEMARANG
No.
Spesies Nyamuk
Light trap
Aspirator
Jumlah
Larva Filaria
I.
Aedes aegypti
24
427
501
0
2.
Aedes albopictus
1
0
1
0
3.
Aedes catastica
3
0
3
0
4.
Aedes lineatopennis
54
0
54
0
5.
Aedes vexans
6
0
6
0
6.
Anopheles annularis
0
1 1 0
7.
Anopheles barbirostris
4
1
5
0
8.
Anopheles kochi
1
0
1
0
9.
Anopheles maculatus
1
1
2
0
10.
Anopheles subpictus
2
8
10
0
11.
Anopheles tesselatus
5
0
5
0
12.
Anopheles vagus
30
16
46
0
13.
Arnigeres subalbatus
7
3
10
0
14.
Culex bitaeniorhynchus
113
53
I66
0
15.
Culex fatigans
886
+
4.915
+
5.801
+
8 L2 dan 4 L3
16.
Culex fuscocephalus
369
3
372
0
17.
Culex gelidus
32
0
32
0
18.
Culex sinensis
16
4
20
0
19.
Culex sitiens
105
0
I05
0
20.
Culex tritaeniorhynchus
11 I01
107
1.208
0
21.
Culex vishnui
433
135
568
0
22.
Mansonia uniformis
9
0
9
0
T o t a
3.202
5.724
8.926
8 L2 dan 4 L3
Tabel 3
SPESIES NYAMUK YANG DIKUMPULKAN DAN DIBEDAH DI 3 KELURAHAN
Ngemplak Simongan
Sendang Guwo
Petompon
No.
Spesies
Lt.
Asp.
JmL
Lt.
Asp.
JmL
Lt.
Asp.
Jml.
1.
Ae. aegypti
0
93
93
19
82
10
1
5
50
55
2.
Ae. albopictus
0
0
0
I
0
1
0
0
0
3.
Ae. catastica
2
0
2
1
0
1
0
0
0
4.
Ae. lineatopennis
0
0
0
53
0
53
1
0
1
5.
Ae. vexans
1
3
4
0
0
0
0
2
2
6.
An. annularis
0
0
0
1
0
I
0
0
0
7.
An. barbirostris
1
0
1
3
0
3
0
0
0
8.
An. kochi
0
0
0
0
0
0
I
0
I
9.
An. maculatus
0
1
1
1
0
I
0
0
0
10
An. subpictus
0
1
1
2
7
9
0
0
0
11
An. tesselatus
0
0
0
1 0 1 0 0 0
12.
An. vagus
6
1
7
20
0
20
4
0
4
I3.
Ar. subalbatus
7
1 8 0 0 0 0 0 0
I4.
Cx. bitaeniorhynchus
3
0
3
30
0
30
4
0
4
15.
Cx. fatigans
40
924
+
964
+
110
1 .116
+
1 .226
+
208
+
771
979
+
16
Cx. fuscocephalus
250
1
251
55
0
55
20
0
20
17.
Cx. gelidus
3
0
3
25
0
25
2
0
2
18.
Cx. sinensis
2
0
2
0
0
0
9
0
9
19.
Cx. sitiens
62
0
62
39
0
39
I
0
1
20.
Cx. tritaeniorhynchus
505
0
505
287
0
287
156
0
I56
21 .
Cx. vishnui
293
0
293
47
0
47
27
0
27
22.
Ma uniformis
0
0
0
3
0
3
0
0
0
T O T A L
1.175
1.025
2.200
698
I.205
I.903
438
823
1.261
masing-masing di Semarang Barat I.324 ekor, Semarang
Timur 762 ekor, di Semarang Utara 3I6 ekor, Semarang
Selatan 457 ekor dan Semarang Tengah 343 ekor.
Penangkapan nyamuk dalam rumah seluruhnya sebanyak
840 buah rumah, masing masing 160 buah di Semarang Barat,
240 buah di Semarang Timur, 200 buah di Semarang Utara,
120 buah di Semarang Selatan dan 120 buah di Semarang
Tengah terkumpulkan masing masing 1.125 ekor, 1.337
ekor, 2044 ekor dan 397 ekor nyamuk. Seluruhnya terkumpul
5.724 ekor (tabel 2).
Simposium Masalah Penyakit Parasit
50
Tabel 4
LARVA FILARIA YANG DIKETEMUKAN DI NGEMPLAK SIMONGAN SEMARANG BARAT
No. Rumah
Species Nyamuk
Mass Dissection
Individual Diss.
Larva Filaria
..................
.....
.....
.....
..................
.....
.....
.....
30
Ac. aegypti
0
1
0
Cx. fatigans
0
8
0
3
1
Ae. acgypti
0
4
0
Cx. fatigans
0
2
0
32
Ae.
aegypti
0
1
0
Cx. fatigans
0
24
0
33
Cx. fatigans
0
1
0
34
Cx. fatigans
29
0
0
Ac. acgypti
0
1
0
35
Cx.
fatigans
3
1 +
0
8 stad 2 Wuchereria sp. )
36
Ae. aegypti
0
1
0
Cx. fatigans
0 6 0
37
Cx. fatigans
0
4
0
38
Ac. acgypti
0
2
0
Cx. fatigans
0
2
0
39
Cx. fatigans
0 9 0
40
Ac. aegypti
0
3
0
Cx. fatigans
0
9
0
.................
.....
.....
.....
.................
.....
.....
...
.................
.....
.....
...
) infection rate : tak diketahui
Tabel 5
LARVA FILARIA YANG DIKETEMUKAN DI
SENDANG GUWO SEMARANG
TIMUR
No. Rumah
Specics Nyamuk
Mass Dissection
Individual I)iss.
Larva Filaria
.................
.....
.....
.....
.................
.....
.....
.....
.................
.....
.....
.....
10
Cx. fatigans
0
3
0
11
(
x. fatigans
0
7
0
12
Cx. fatigans
0
l
0
13
Cx. fatigans
0
38 +
3 stad 3 (1 dari 38)
Wuchereria sp.
)
I4
Ae. aegypti
0
I
0
( x. fatigans
0
15
0
15
Cx. fatigans
0
9
0
16
Cx. fatigans
0
8
0
I7
Cx. fatigans
0
6
0
I8
Cx. fatigans
0
5
0
19
Ae. aegypti
0
I
0
Cx. fatigans
0
3
0
20
Cx. fatigans
0
4
0
..................
.....
.....
.....
..................
.....
.....
.....
..................
.....
.....
.....
) infection rate : 0.09 %
Jumlah seluruh nyamuk yang terkumpulkan dari luar dan
dalam rumah penduduk sebanyak 8.926 ekor terbagi dalam 5
species : 7 species Aedes, 7 species Anopheles, 1 species
Armigers, 8 species Culex dan 1 species Mansonia (tabel 2).
Pada waktu pembedahan massal nyamuk yang berasal dari
Ngemplak Simongan Semarang Barat, 8 ekor larva filaria
stadium 2 diketemukan di antara 31 ekor nyamuk Culex
fatigans yang tertangkap di dalam rumah seorang penduduk.
Morfologis
menunjukkan bahwa larva tersebut adalah
Wuchereria sp. dengan adanya 3 buah papilla pada ujung
caudalnya. Sejak itu pembedahan
Cx.
fatigans dilakukan satu
persatu. (tabel 4).
Di Sendang Guwo dalam rumah penduduk juga ditemukan
Culex fatigans yang mengandung larva Wuchereria sp. Larva
tersebut telah dalam bentuk yang infektif
dan dalam 1
diantara 38 ekor Culex fatigans (2.6%). Dari I.II6 Culex
51
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
Tabel 6
LARVA FILARIA YANG DIKETEMUKAN DI PETOMPON SEMARANG SELATAN
No.
Species Nyamuk
Mass Dissection
Individual Diss.
Larva Filaria
1
Ae. lineatopennis
0
1
0
2
An kochi
0
1
·
0
3
Cx. bitaeniorhynchus
0
1
0
4
Cx. fatigans
0
39 +
1 stad 3 Wuchereria sp. )
5
Cx. sinensis
0
1
0
Total
0
43
I stad 3 Wuchereria sp.
No. Light Trap : I
Tempat : dikebun pisang dan pohon bambu dibelakang rumah RT I0 RK II.
) infcction rate : 0.I0 %
Tabel 7
DISTRIBUSI UMUR PENGANDUNG
MIKROFILARIA
Golongan Umur
Ngemplak
Simongan
Sendang Guwo
Petompon
-
Diperiksa
Mikrofilaremi
Diperiksa
Mikrofilaremi
Diperiksa
Mikrofilaremi
2 -
9
I16
2 ( 1 . 7 % )
I52
5 ( 3. 3%)
85
3( 3. 5%)
10 - I9
85
7(8.2%
)
285
18(6.3%
1I3
6 ( 5.3 %)
20 - 29
56
2 ( 3.6 %)
138
1 2
.
( 8.7 %)
57
4 ( 7.0 %)
30 - 39
26
1 ( 3.8%)
1 07
3 ( 2.8 %)
32
2 ( 6.2 %)
40 - 49
I5
1 ( 6.7
% )
89
5 ( 5.6 %)
25
3 (12.0 %)
50 +
I0
1(10.0 % )
39
1 ( 2.5 %)
42
5 (11.9 %)
T
o t
1
308
14 ( 4.5 % )
8I0
44 ( 5.4 %)
354
23 ( 6.5 %)
Tabel 8 DISTRIBUSI JUMLAH MIKROFILARIA DALAM 30 mm
3
DARAH TEPI
Jumlah Mikrofilaria
Jumlah Pcnderita
Ngemplak Simongan
Sendang Guwo
Petompon
1 - 14
1 3 (92.8 %)
33 (75.0 %)
1 7 (73.9 %)
15 -
29
0
4 ( 9.9 %)
4 (1 7.3 %)
30 -
44
0
4 ( 9.9 %)
1 ( 4.3 %)
45 -
59
l ( 7.1 %)
l ( 2.2 %)
0
60 -
74
0
0
0
75 -
89
0
1 ( 2.2 %)
1 ( 4.3 %)
90 - 1 04
0
0
0
1 05 - 11 9
0
1 ( 2.2
%)
0
120 +
0
0
0
Total
14 (100 %)
44 (100 %)
23 (100 %)
microfilarial density
7.2 1
4.9 1
3.3
fatigans yang terkumpulkan di Sedang Guwo (tabel 3) didapat
angka infection rate 0.09%.
Pada penangkapan nyamuk dengan light trap juga didapat-
kan satu diantara 39 ekor (2,6%) nyamuk Culex fatigans yang
tertangkap di kebun pisang milik seorang penduduk di Petom-
pon mengandung seekor larva Wuchereria sp stadium 3 (tabel
5).
Culex fatigans yang terkumpulkan di Petompon seluruhnya
979 ekor (tabel 3) sehingga diperoleh infection rate 0.10%.
Jumlah nyamuk Culex fatigans yang dikumpulkan dan
dibedah di dalam penelitian ini adalah 5.801 ekor. Masing-
masing I.059 ekor di Semarang Barat 1.384 di Semarang
Timur, 1.895 di Semarang Utara, 1.000 ekor di Semarang
Selatan dan 463 ekor di Semarang Tengah. Larva yang telah
diisolasi dari nyamuk Culex fatigans tersebut di atas diduga
Wuchereria bancrofti, dan dugaan ini akan disokong pada
hasil pemeriksaan darah yang menunjukkan bahwa daerah
di sekitar penangkapannya adalah endemik filariasis bancrofti.
Hasil survai Parasitologi
Jumlah penduduk yang diperiksa 1.472 orang terdiri atas
308 orang di Ngemplak Samongan, 810 orang di Sendang
Guwo dan 354 orang di Petompon. Hasil menunjukkan di
ketiga daerah tersehut te!dapat 81 orang penduduk yang
mengandung mikrofilaria dalam darahnya yang morfologis
menunjukkan Wuchereria bancrofti. Jumlah penduduk yang
mengandung mikrofilaria di Ngemplak Simongan, Sendang
Guwo dan Petompon masing masing 14 orang (4.5%) 44 orang
(5.4%) dan 23 orang (6.5%) (lihat tabel 7).
Simposium Masalah Penyakit Parasit
52
Tabel 9
KEADAAN FILARIASIS BANCROFTI DIBEBERAPA DAERAH DI SEMARANG DAN DI JAKARTA
Daerah
Microfilaremia
rate
Microfilarial
density
Infection rate
(Cx. fatigans)
Peneliti
Ngemplak Simongan
Semarang Barat
4.5 %
7.2
--
Sudjadi et al
1980
Sendang Guwo
Semarang Timur
5.4 %
14.9
0.09
Sudjadi et al
1980
Petompon
Semarang Selatan
6.5 %
13.3
0.10
Sudjadi et al
1980
Bojong Salaman
Semarang Barat
5.5 %
Arbain et al
1977
Mampang Prapatan
Jakarta Selatan
23.8 %
31.8
7.00
Lie Kian Joe et al
1959
Kamillosan
baik untuk ibu, aman bagi bayi
Mencegah fisure dan rhagaden dari niple, sehingga ibu- ibu
terhindar dari Mastitis pada masa laktasi.
Komposisi :
Setiap 100 g salep mengandung :
Camomile dry extract
400
mg
Essential oil
20
mg
Chamazulene
0,4 mg
Bisabolol
7
mg
Indikasi
: Keadaan iritasi kulit seperti pada : luka-luka
parut, luka lecet, luka sayat, luka bakar, ter-
kena sinar matahari yang terlalu terik, iradiasi
sinar X, ultra violet, eksema, dermatitis, pruri-
tus (terutama pada kulit yang kering), abses,
bisul, rhinitis, herpes labialis, perawatan dan
perlindungan kulit bayi, perawatan puting
buah dada semasa kehamilan dan laktasi.
Kemasan : Tube 10 g, botol 10 cc dan 30 cc
Manufactured
by KALBE FARMA,
Jakarta-fndonesia
under Iicence
of
CHEMIEWERK HOMBURG
Frankfurt/Main Germany
5 3
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
Dari 81 orang pengandung mikrofilaria, 10 orang di antara-
nya berumur di bawah I0 tahun, masing-masing 2 orang di
Ngemplak Simongan, 5 orang di Sendang Guwo dan 3 orang
di Petompon (tabel 7). Penderita termuda di ketiga daerah
tersebut berumur 7 tahun, 7 tahun dan 5 tahun, penderita
tertua berumur 99 tahun. Kebanyakan jumlah mikrofilaria
kurang dari 15 mf (77.7%). Masing masing I3 orang di Ngem-
plak Simongan (92.8%), 33 orang di Sendang Guwo (75%)
dan 17 orang di Petompon (73.9%). Jumlah mikrofilaria
terbanyak 1I5 mf terdapat di Sendang Guwo, sedangkan di
Ngemplak Simongan 56 mf dan di Petompon 89 mf. Microfi-
laria density per penderita masing-masing di Ngemplak Simong-
an 7.2, di Sendang Guwo 14.9 dan di Petompon 13.3. Sedang-
kan microfilarial density per penduduk masing-masing adalah
0.33, 0.81 dan 0.86.
Di antara penduduk yang diperiksa tidak didapatkan gejala
klinik filariasis yang akut maupun kronis, kecuali seorang yang
mengalami elephantiasis pada satu kakinya bertempat tinggal
di luar daerah pemeriksaan.
PEMBICARAAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa filariasis bancrofti,
kceuah di Bojong Salaman (1), juga terdapat di Ngemplak
Simongan, Scndang Guwo dan Petompongan yang masing
masing terletak di Semarang Barat, Semarang Timur dan
Semarang Selatan. Microfilaremia rate yang masing-masing
4.5%, 5.4% dan 6.5% tidak jauh berbeda dengan hasil penye-
lidikan Arbain (1) yakni 5.5% di Bojong Salaman. Derajat
endemi tersebut lebih rendah daripada di Jakarta, misalnya
di Mampang Prapatan Jakarta Selatan menurut Lie Kian Joe
(3) didapatkan 23.8%. Demikian pula intensitas infeksinya,
di daerah tersehut dengan microfilarial density 31.8 per 20
mm3
Sedangkan di ketiga daerah penelitian tersebut di muka
microfilarial density-nya masing
masing 7.2 di Ngemplak
Simongan, 14.9 di Sendang Guwo dan 13.3 di Petompon
pada tiap 30 mm
3
darah tepi.
Ditemukan pula bahwa di waktu sekarang penularan
filariasis masih berlangsung. Menurut WHO (4) dijumpainya
pengandung mikrofilaria pada usia muda yakni di bawah 10
tahun merupakan petunjuk yang sensitif masih berlangsung-
nya penularan, dan penderita pada usia ini terdapat di ketiga
daerah penelitian (tabel 7).
Disamping itu diketemukannya nyamuk Culex fatigans yang
infektif baik di dalam rumah maupun di luar rumah penduduk
seperti tersebut di muka merupakan bukti masih terjadinya
penularan.
Sudah jelas, bahwa nyamuk Culex fatigans berperan sebagai
vektor di dalam penularan tersebut. Hal in memungkinkan
karena species ini terbanyak dijumpai terlebih di dalam rumah.
Species nyamuk yang lain misalnya Culex bitaeniorhynchus,
Anopheles
barbiro ris,
Anopheles maculatus,
Anopheles
subpictus dan Mansonia uniformis yang pernah dilaporkan
sebagai vektor alami filariasis bancrofti ditempat lain (4,5)
dalam penelitian ini jauh lebih sedikit dijumpai, sehingga
tidak menyokong kemungkinan peranannya sebagai vektor.
Dapat ditunjukkan pula di dalam hasil survai entomologis
bahwa 0.09% Culex farigans yang tertangkap di daerah Sen-
dang Guwo mengandung larva filaria, sedangkan di Petompon
di peroleh angka 0.I% dan di Ngemplak Simongan tidak
diketahui ,rsentasenya. Hasil ini jauh lebih rendah dari hasil
yang diperoleh di Jakarta misalnya di Mampang Prapatan (6)
sebesar 7.0%. Keadaan penularan ini mungkin dapat dihuhung-
kan dengan sumbernya sendiri, yakni jumlah pengandung
mikrofilaria (mf rate) dan jumlah mikrofilaria yang terkandung
(mf-density) seperti tersebut dimuka. (tabel 9).
Apabila dianggap volume blood-meal Culex fatigans 2 mm
3
yakni menurut postulate WHO (4) maka jumlah mikrofilaria
per 30 mm
3
minimal harus I5 mf supaya dapat menginfeksi
vektor sehingga dapat ditularkan keorang lain. Dapat diper-
lihatkan (tabel 8) bahwa hanya sebagian kecil pengandung
mikrofilaria yang mempunyai jumlah mikrofilaria lebih dari
14 mf. Sebaliknya sebagian besar memiliki jumlah mikrofilaria
yang rendah yakni diperoleh 92.8% di Ngemplak Simongan,
75.0% di Sendang Guwo dan 77.7% di Petompon. Bernard
Carne (7) menunjukkan bahwa tingkat mierofilaremia yang
rendah masih mampu menginfeksi nyamuk yang menggigitnya,
sudah barang tentu dalam persentase yang rendah sehingga
diperlukan lebih banyak gigitan nyamuk, yang mana akan
mempengaruhi frekuensi yang
mengandung larva filaria.
KESIMPULAN
Tclah dilakukan pembedahan nyamuk yang dikumpulkan
di luar dan di dalam rumah penduduk di berbagai daerah di
Semarang. Telah dilakukan pula pemeriksaan darah penduduk
sekitar tempat nyamuk yang mengandung larva filaria di-
ketemukan. Hasil pembedahan nyamuk dan pemeriksaan darah
penduduk menunjukkan bahwa :
1. Filariasis bancrofti ternyata endemik di Ngemplak Simong-
an Semarang Barat, Sendang Guwo Semarang Timur dan
Petompon Semarang Selatan, dengan microfilaremia rate
4.5%, 5.4% dan 6.5%, dengan microfilarial density 7.2,
14.9 dan 13.3.
2. Bukti masih berlangsungnya penularan filariasis didapatkan
di ketiga daerah tersebut dengan vektor Culex fatigans dan
dengan infection rate 0.09% di Sendang Guwo dan 0.I0% di
Petompon.
3. Mungkin ada hubungan yang positif antara infection rate
Culex fatigans dengan derajad endemi dan intensitas infeksi
filariasis bancrofti di Semarang.
PERNYATAAN
Ucapan terima kasih disampaikan kepada dr. R. Roestanto dan
dr. Socbodro MPH Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah
dengan staf dan dr. R. Hasan Soelaiman Kepala Dinas Kesehatan Kodya
Semarang dengan Staf yang telah memberikan bantuan dan kerja sama
yang baik sehingga terlaksananya penelitian ini. Pengarang merasa
berhutang budi pada Rektor UGM/Rockefeller loundation dan US-
NAMRU Jakarta yang telah memberikan bantuannya untuk penelitian
ini. Demikian pula disampaikan ucapan terima kasih atas saran-saran
dari Bapak Soeroto Atmosujono, dr. Poernomo Surjantoro dan dr.
Soenarto dalam penelitian dan penulisan karangan ini.
KEPUSTAKAAN
1.Arbain J, Isdiazto H. New focus of bancroftian filariasis in Semarang
municipality. Bull Hlth Stud. Indonesia 1977; 2 : 19 - 21.
2.Newhause VF, Chamberlain RW, Johsnton JG, Sudra WD. Use of
dry ice to increase mosquito catches of the CDC miniature light
trap. Mosquito News 1966; 26 : 30 - 35.
3.Lie Kian Joe, RMP Winoto, Moh Rusad. Filariasis di Jakarta. Hasil
penyelidikan darah pada penduduk Kecamatan Mampang Perapatan
MKI, 1959.
4.World Health Organization. Expert Committee on filariasis, third
report. Wld Hlth Org Tech Rep Ser No. 542, 1974.
5. Atmo Suyono 1977.
Simposium Masalah Penyakit Parasit
5 4
6. Lie Kian Joe, Soegiarto , RMP Winoto, Moh Risad. Hasil penyelidik-
an pembedahan nyamuk di Mampang Perapatan. MKI, 1959.
7.Carne B, Jaques Laigret, Longevity of Wuchereria bancrofti var
Pasifica and mosquito infection from a patient with low parasitemia.
Am Soc Trop Med Hyg 1979; 28 : 53 - 55.
8.Lie Kian Joe. The distribution of filariasis in Indonesia: a summary
of published information. Southeast Asian J Trop Med Pub Hlth
1970; 1 : 366 - 376.
9.Gubler D, Bhattacharya NC. A quantitative approach to the study of
bancroftian filariasis. AmJ Trop Med Hyg 1974; 23 : 1027 - 1036.
Pengaruh Pengobatan Massal Jangka
Panjang dan Jangka Pendek Filariasis
dengan DEC terhadap Penyembuhan dan
Efek Sampingnya
Jan Rusch , J R Palmieri , David T Dennis , B lbrahim ,
Harijani A Marwoto
NAMR U-2 Jakarta, Badan Penelitian dan Pengembangan
kesehatan Depkes RI.
PENDAHULUAN
Kalimantan Selatan
merupakan daerah endemis Brugia
malayi subperiodik. Prevalensi penyakit filaria di daerah ini
berkisar antara 12.5 - 45% (1 - 3).
Sejak bulan Mei 1977 sampai sekarang, penelitian longitu-
dinal mengenai filariasis dilakukan di Kabupaten Banjar,
Kalimantan Selatan oleh team NAMRU--2, Litbangkes dan
P3M Kab. Banjar. Salah satu aspek yang ditehti ialah mengenai
pengobatan masal yang dilakukan pada bulan November 1978
di dua desa, Pengiuran dan Sungai Baru.
Penelitian ini bertujuan untuk mencari cara pengobatan
masal terhadap filariasis yang sederhana, mudah dan baik
hasilnya, di mana efek samping obat kecil.
BAHAN DAN TATA KERJA
Sebelum pengobatan masal diadakan pemeriksaan klinis
dan parasitologis dari penduduk di daerah penelitian. Pemerik-
saan parasitologis dilakukan dengan pengambilan darah tepi
sebanyak 20l
pada malam hari. Dua puluh empat jam kemu-
dian sediaan tersebut dihemohsa dengan air suling. Setelah
kering difixasi dengan metanol, lalu diwarnai dengan Giemsa
dalam buffer pH 7.2 (1 : 15) selama 15 menit. Pemeriksaan
darah ulang dilakukan 6 dan I2 bulan kemudian dengan cara
yang sama.
Obat yang diberikan ialah diethylcarbamazine citrate (
Filar-
zan® ) dengan dosis total yang diterima tiap orang 50 mg/kg
BB. Pengobatan jangka pendek, dilakukan di desa Pengiuran
yang berpenduduk 24I orang. Dosis yang diberikan 10 mg/kg
BB/hari selama 5 hari berturut-turut dibagi dalam dua dosis
pagi dan sore. Di Sungai Baru yang berpenduduk 95 orang,
diberikan pengobatan jangka panjang selama 25 hari berturut-
turut dengan dosis tunggal, 2 mg/kg BB/hari.
Obat tidak diberikan kepada : (1) penduduk berus}a <
2 tahun (BB 0-7 kg); (2) wanita hamil; (3) penduduk dengan
keadaan umum lemah atau sakit berat.
Penduduk yang menderita efek samping diberi obat-obatan
simtomatis untuk menghilangkan gejala sampingan tersebut.
HASIL
Dari 241 penduduk Pengiran, I60 orang (66%) hadir pada
pemeriksaan 20 µl
darah tepi, 42 orang (26%) mengandung
mikrofilaria dalam darahnya. Pengobatan masal diberikan pada
212 orang (88%) dari total penduduk. Di Sungai Baru jumlah
penduduk 95 orang dan yang dibuat sediaan darah tepi 74
orang (78%) dengan hasil 15 orang (20%) positif mikrofilaria.
Yang menerima pengobatan 77 orang (81%).
Pengaruh pengobatan terhadap prevalensi penyakit filaria
dapat dilihat pada tabel l. Di Pengiuran dilakukan pengobatan
jangka pendek. Prevalensi sebelum pengobatan, 6 bulan dan
12 bulan sesudah pengobatan menurun berturut-turut dari
26% (42 positif mf dari 160 orang) menjadi 2% (3 positif mf
dari 160 orang) dan akhirnya 5% (8 positif dari 147 orang).
Penurunan prevalensi yang terjadi 6 bulan sesudah pengobatan
adalah 93% dan 12 bulan kemudian 79%. MFDso (Median
value of the microfilaria density) juga menurun dari 4 menjadi
1,5 dan akhirnya 1,5 (Gambar 1). MFDso ditentukan menurut
"The Seeond Report of WHO Expert Committee on Filariasis
"
(4). Pada 6 bulan setelah pengobatan terdapat 3 orang yang
positif mf; dari ketiga orang ini 1 orang keluar daerah pada
waktu pengobatan dan 2 orang menolak diobati penuh karena
efek samping yang timbul. Sedangkan 8 orang yang positif mf
pada 12 bulan kemudian terdiri dari 3 orang yang disebutkan
di atas ditambah 3 orang pendatang baru dan 2 orang yang
diobati tetapi masih positif I mf.
Tabel 1. Prevalensi dari penderita filaria sebelum dan sesudah pengobatan masal dengan DEC di
Pengiuran dan Sungai Baru.
Prevalensi
Penurunan Prevalensi
Caza
Jumlah
Sebelum
pengobatan
6 bulan
sesudah
pengobatan
12 bulan
sesudah
pengobatan
6 bulan
sesudah
pengobatan
12 bulan
sesudah
pengobatan
pengobatan
penduduk
N(%)
N(%)
N (%)
N(%
)
N(%)
Jangka pendek
241
42/160(26) 3/160(2)
8/147(51
93
79
(Pengiuran)
Jangka panjang
95
15/74 (20)
2/36 (6)
3/67 (4)
73
78
(Sungai Baru)
Jumlah penduduk positif
N = - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
mf
Jumlah penduduk yang diperiksa
5 5
Cermin Dunia Kcdokteran, Nomor Khusus 1980