ABSTRAK
PEDOMAN PENATALAKSANAAN
HIPERTENSI
WHO dan International Society of
Hypertension telah mengeluarkan
pedoman hipertensi yang baru, meng-
gantikan pedoman lama yang dike-
luarkan pada tahun 1993.
Perubahan yang cukup penting di
antaranya :
-
Target penurunan tekanan darah lebih
rendah-di bawah 130/85
mmHg-dibandingkan dengan reko-
mendasi terdahulu (140/90 mmHg).
-
Klasifikasi hipertensi baru yang
disesuaikan dengan pedoman di AS
(JNC-VI); tetapi pedoman di AS
tersebut bahkan menetapkan target
tekanan darah yang lebih rendah
120/80 mmHg.
-
Antagonis angiotensin II telah di-
cantumkan sebagai obat yang dapat
digunakan.
-
Tidak menentukan golongan obat
tertentu sebagai pilihan pertama;
dinyatakan bahwa semua jenis
dapat digunakan dengan memper-
hatikan risiko individual; reko-
mendasi sebelumnya menganjurkan
diuretik sebagai pilihan pertama,
disusul dengan berturut-turut pe-
nyekat beta, penyekat ACE, penye-
kat Ca dan penyekat alfa.
-
Selain itu pedoman baru ini mem-
beri perhatian yang lebih besar
terhadap kemungkinan penggunaan
kombinasi obat untuk mengurangi
efek samping.
Scrip 1999; 2411
Brw
HORMON UNTUK OSTEO-
POROSIS
US National Osteoporosis Founda-
tion bekerjasama dengan beberapa
institusi telah mengeluarkan rekomen-
dasi penanganan osteoporosis; mereka
menganjurkan uji bone mineral density
(BMD) pada :
= semua wanita usia 65 tahun ke atas.
= wanita pascamenopause dengan satu
atau lebih faktor risiko (kecuali
menopause) fraktur osteoporotik.
=semua wanita postmenopause dengan
riwayat fraktur.
Wanita tanpa faktor risiko diobati bila
T score
-2 sedangkan bila ada faktor
risiko, bila t
-1½.
Sedangkan UK National Osteo-
porosis Society menganjurkan peng-
gunaan colecalciferol (vitamin D) dan
suplemen kalsium pada pasien yang
dietnya inadekuat atau pada lanjut usia.
Bifosfonat digunakan pada cor-
ticosteroid-induced osteoporosis, khu-
susnya bila eugonad atau tidak bersedia
menjalani hormone replacement the-
rapy (HRT). Wanita pramenopause
dengan hipogonad dianjurkan meng-
gunakan estradiol. Calcitriol dianjurkan
pada pasien yang tidak toleran terhadap
bifosfonat dan pada pria yang lebih
muda.
Wanita postmenopause mengguna-
kan HRT, sedangkan pria hipogonadal
menggunakan testosteron.
Inpharma 1999; 1163: 3
Brw
PAINFUL STIFF SHOULDER
Untuk kasus-kasus painful stiff
shoulder, injeksi kortikosteroid ter-
nyata lebih efektif dibandingkan
dengan fisioterapi; demikian kesimpul-
an para peneliti di Belanda atas pasien
berobat jalan.
Sejumlah 53 pasien mendapat
maksimum 3 kali injeksi triamsinolon
intraartikuler dibandingkan dengan 59
pasien yang menjalani 12 kali fisio-
terapi.
Setelah 7 minggu, 77% pasien yang
mendapat kortikosteroid merasa lebih
baik, nyeri berkurang dan rotasi eks-
terna yang lebih baik dibandingkan
dengan 46% di kalangan yang men-
dapat fisioterapi. Keunggulan makin
berkurang bila follow-upnya lebih
lama; setelah 26 dan 52 minggu,
perbedaannya tidak lagi bermakna.
Nyeri pasca terapi dirasakan pada
53% pasien kelompok triamsinolon dan
56% kelompok fisioterapi; efek sam-
ping lain berupa flushing dialami pada
9 pasien kelompok triamsinolon dan
menstruasi tak teratur pada 6 pasien
kelompok yang sama.
BMJ 1998; 314: 1292-6
Brw
ANTITUBERKULOSIS BARU
Setelah menunggu 25 tahun lama-
nya, baru sekarang ditemukan obat anti
tuberkulosis baru - rifapentin. Obat ini
dikembangkan dari rifampisin, umum-
nya in vitro lebih aktif terhadap M.
tuberculosis, tetapi kasus yang resisten
terhadap rifampisin umumnya juga
resisten terhadap rifapentin.
Keuntungan obat ini ialah waktu
paruh yang lebih panjang sehingga
dapat diberikan sekali seminggu pada
fase pemeliharaan, dibandingkan de-
ngan dua atau tiga kali seminggu bila
menggunakan rifampisin-hal ini sangat
menguntungkan terutama bila diguna-
kan pada program DOTS (directly
observed therapy short course).
Rifapentin juga meningkat ab-
sorpsinya sebesar 40% bila ditelan
bersama makanan, dibandingkan de-
ngan rifampisin yang justru turun 30%.
Obat ini digunakan dengan dosis
600 mg. dua kali seminggu dalam 2
bulan pertama, kemudian 600 mg
sekali seminggu dalam 4 bulan berikut-
nya bersama isoniazid.
Efek samping yang ditemukan be-
rupa hiperurisemi, peningkatan SGOT/
SGPT dan netropeni, selain itu
dijumpai juga ruam kulit dan gangguan
saluran cerna.
Pada penggunaan selama 6 bulan,
sputum negatif tercapai pada 87%
pasien, dibandingkan dengan 81% pada
pasien yang menggunakan rifampisin.
D&TP. 1999; 13(7): 1-4
Brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000
54
ABSTRAK
PENGGUNAAN ANTIBIOTIK
Komite Medik di Inggris telah
menerbitkan anjuran untuk mengurangi
penggunaan antibiotik dalam praktek;
para dokter di sana juga memper-
tanyakan efektivitas terapi antibiotik
pada beberapa keadaan, diantaranya :
Profilaksis endokarditis pada pasien
kelainan katup jantung.
Penggunaan rifampisin dan sipro-
loksasin pada orang yang kontak
dengan penyakit meningokok.
Profilaksis pada implan prostetik.
Profilaksis pada seksio saesaria.
Pengguna sefalosporin generasi tiga
pada
community - acquired
pneumonia.
Scrip 1999; 2419: 3
Brw
TROMBOLITIK UNTUK INFARK
MIOKARD
Setelah tPA/alteplase digunakan
untuk mengurangi mortalitas akibat
infark miokard, menyusul obat lain
yang juga tengah dicoba untuk indikasi
yang sama.
TNK (Genentech) dan lanoteplase
(BMS) telah mulai diuji coba klinis dan
hasil pendahuluannya menunjukkan
efektivitas serupa; keunggulan kedua
obat ini ialah dapat diberikan dalam
bentuk injeksi bolus, tidak perlu
infus/drip seperti al teplase.
Kedua obat ini akan bersaing
dengan reteplase (Centocor) yang telah
tersedia di pasaran dan diberikan dalam
dua kali pemberian bolus (double
bolus) berselang 30 menit.
VIAGRA UNTUK WANITA
Percobaan penggunaan sildenafil
(Viagra
®
) untuk disfungsi seksual
wanita belum menunjukkan hasil yang
memuaskan; dosis 50 mg. digunakan
oleh 33 wanita pascamenopause selama
3 bulan ternyata hanya 25% yang
merasakan peningkatan kepuasan sek-
sualnya - sama besar dengan yang
dirasakan oleh pria yang mendapat
plasebo pada percobaan serupa.
Scrip 1999; 2419: 23
Brw
DIAGNOSIS DEMENSIA
Diagnosis klinis demensia selama
ini didasarkan atas kumpulan gejala
yang ditentukan berdasarkan kriteria
tertentu; dan saat ini terdapat beberapa
kriteria klinis diagnosis berdasarkan
DSM-III, DSM-III-R, DSM-IV, ICD-9,
ICD-10 dan CAMDEX.
Studi atas 1879 pria dan wanita
berusia 65 tahun ke atas di Canada
menunjukkan bahwa penggunaan kri-
eria yang berbeda menghasilkan pre-
valensi yang berbeda pula, yang pada
populasi tersebut berkisar dari 3,1%
berdasarkan ICD-10 sampai 29,1 %
berdasarkan DSM-III. Perbedaan me-
nyolok ini terutama disebabkan per-
bedaan dalarn hal gejala daya ingat
jangka panjang, fungsi eksekutif,
aktivitas sosial dan lamanya sakit.
Hanya 20 orang yang memenuhi
kriteria seluruh enam pedoman ter-
sebut.
N. Engl. J. Med 1997, 337: 1667-74
Hk
ASPIRIN UNTUK INFARK MIO-
KARD
Suatu meta analisis mutakhir atas
16 percobaan yang melibatkan lebih
dari 55000 pasien kembali menunjuk-
kan manfaat aspirin dalam menurunkan
risiko infark miokard dan stroke
iskemik; penurunan risiko ini lebih
besar daripada peningkatan risiko ter
hadap infark hemoragik. Meskipun
demikian, penelitian ini menunjukkan
bahwa risiko infark hemoragik di
kalangan pengguna aspirin harus lebih
diwaspadai pada orang Asia yang
hipertensif dengan kadar kholesterol
rendah.
Scrip 1999; 2419: 23
Brw
FINASTERID UNTUK KEBOTAK-
AN
Finasterid-suatu 5-alfa inhibitor
yang menurunkan kadar dihidrotestos-
teron terbukti cukup efektif untuk
menumbuhkan rambut dan mencegah
kebotakan pria. Dosis 1 mg/hari selama
1 tahun memperbaiki pertumbuhan
rambut vertex pada 48% dan 66%
setelah 2 tahun. Dibandingkan dengan
hanya 7% di kalangan pengguna
plasebo, baik setelah 1 maupun 2
tahun. Selain itu finasterid juga terbukti
mencegah rambut rontok; setelah 2
tahun 83% pengguna finasterid tidak
lagi mengalami kerontokan rambut,
dibandingkan dengan 28% di kalangan
pengguna plasebo. Sayangnya efek
penumbuhan rambut ini akan hilang
dalam 12 bulan setelah penghentian
obat. Efek samping yang tercatat
berupa penurunan libido, gangguan
ejakulasi dan disfungsi ereksi yang
umumnya hilang bila pengobatan
dilanjutkan dan selalu hilang bila obat
dihentikan.
DT & P 1999; 13(10) : 3
Hk
MALFORMASI KONGENITAL
Malformasi kongenital yang pernah dilaporkan akibat antikonvulsan :
Fenitoin
Asam
valproat
Karbamazepin
Fenobarbital
Defek jantung kongenital
+
+
-
+
Bibir/langit-langit sumbing
+
+
-
+
Defek neural tube -
+
+
-
Defek tr, genitourinarius
+
+
+
+
Gangguan
Kognitif + + +
+
Anomali
minor
+ + +
+
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2000
55