background image
HASIL PENELITIAN
Status Kesehatan Petani
Perkebunan Rakyat
Pengguna Paraquat Dibandingkan
dengan Petani bukan Pengguna
Paraquat di Lampung Selatan
Janahar Murad, D. Mutiatikum, SR. Muktiningsih
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Penggunaan herbisida telah terbukti bermanfaat meningkatkan hasil pertanian
maupun perkebunan. Salah satu bahan aktif herbisida yang secara luas digunakan
adalah paraquat, bahan aktif ini telah digunakan di Indonesia sejak tahun 1974. Karena
sifat kimia dan toksisitasnya maka pada tahun 1979 statusnya diubah menjadi pestisida
terbatas pakai yang hanya boleh digunakan oleh instansi atau perorangan yang telah
mendapat izin.
Pada akhir tahun delapanpuluhan beberapa kelompok perkebunan rakyat di
Lampung Selatan masih menggunakan herbisida tersebut setelah mendapat pelatihan.
Untuk melihat keberhasilan pelatihan tersebut dilakukan penelitian status kesehatan
pengguna herbisida dengan bahan aktif paraquat dibandingkan dengan petani bukan
pengguna paraquat. Kedua kelompok pengguna dan bukan pengguna paraquat masing-
masing 50 orang diusahakan dari kelompok usia yang sama, demikian juga kebiasaan
merokok serta tingkat pendidikan yang hampir sama.
Karena keracunan paraquat tidak menunjukkan gejala yang spesifik, pemeriksaan
pengaruh herbisida ini dilihat melalui antara lain: kesehatan umum, tingkat anemia,
tekanan darah, Hb, Foto toraks untuk mengetahui terjadinya fibrosis, fungsi hati
(SGOT, SGPT, alkalifosfatase, bilirubin) serta fungsi ginjal (ureum dan kreatinin).
Status kesehatan kelompok pengguna herbisida dan bukan pengguna herbisida
tidak berbeda bermakna.
Kata kunci: Herbisida, Paraquat.
PENDAHULUAN
Penggunaan herbisida untuk mengendalikan gulma per-
tanian atau perkebunan dapat meningkatkan hasil pertanian;
salah satu bahan aktif herbisida yang digunakan secara luas
adalah paraquat. Senyawa ini berupa racun kontak yang sangat
aktif pada bagian tanaman yang hijau. Paraquat tidak bekerja
sistemik jadi tidak merusak perakaran, struktur tanah dan tidak
mengganggu tanaman utama. Senyawa ini banyak digunakan
di perkebunan seperti perkebunan teh, kopi, karet, kelapa
sawit.
Herbisida dengan bahan aktif paraquat telah digunakan di
Indonesia sejak tahun 1974. Sifat racun paraquat tidak spesifik
dan absorbsi lambat yang dalam jangka panjang dapat
menyebabkan kerusakan paru-paru (fibrosis), gangguan fungsi
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 49
background image
hati dan fungsi ginjal manusia yang terpapar. Karena sifat
racun tersebut, maka pada tahun 1979 senyawa ini ditetapkan
menjadi herbisida terbatas dengan ketentuan antara lain hanya
boleh digunakan oleh perorangan atau badan hukum tertentu
yang memiliki izin menggunakan yang diberikan oleh Menteri
Pertanian atau pejabat yang ditunjuk.
Pada awalnya hanya perkebunan baik swasta maupun
milik negara yang diberi izin penggunaan, tetapi para petani
perkebunan rakyat juga membutuhkan herbisida ini, sehingga
pada tahun 1988 Dinas Perkebunan Lampung melakukan
pelatihan dan penyuluhan pada petani kopi di kecamatan
Pagelaran Lampung Selatan. Sejak 1988 petani kopi daerah ini
sudah menggunakan herbisida Gramoxon dengan bahan aktif
paraquat untuk membasmi tanaman pengganggu pada per-
kebunan kopi mereka. Untuk mengetahui keberhasilan pelatih-
an/penyuluhan dilakukan studi tentang status kesehatan petani
perkebunan rakyat pengguna paraquat dibandingkan dengan
petani bukan pengguna paraquat.
TUJUAN
Tujuan Umum : Melindungi masyarakat dari dampak negatif
pengguna herbisida.
Tujuan Khusus : Mengetahui status kesehatan petani peng-
guna herbisida berbahan aktif paraquat yang telah mendapat
pelatihan/penyuluhan dibandingkan dengan bukan pengguna.
METODOLOGI
Penelitian ini merupakan suatu studi cross sectional untuk
mengetahui perbedaan status kesehatan antara petani pengguna
paraquat yang telah mendapat pelatihan/penyuluhan dan petani
bukan pengguna paraquat. Populasi kasus ini adalah masya-
rakat petani kopi di daerah Tangkit Serdang dan Talang Lebar
kecamatan Pagelaran dan sebagai kontrol petani padi di daerah
yang sama.
Pengumpulan data dilakukan dengan:
1)
Kuesioner untuk kasus dan kontrol meliputi: lokasi, iden-
titas responden, riwayat pekerjaan, sanitasi lingkungan, riwa-
yat kesehatan kerja dan riwayat kesehatan umum.
2)
Pemeriksaan kesehatan meliputi: keadaan kesehatan
umum, tingkat anemia, tekanan darah, Hb, foto Toraks untuk
mengetahui adanya fibrosis, tes fungsi hati (SGPT, SGOT,
alkali fosfatase, bilirubin) dan tes fungsi ginjal, (ureum dan
kreatinin).
Pemeriksaan kesehatan umum dilakukan oleh dokter
puskesmas setempat. Pemeriksaan rontgen di UPF Radiologi
RSU A. Moeloek, sedangkan pemeriksaan fungsi hati dan
ginjal dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah Tanjung
Karang Lampung. Analisis perbedaan status kesehatan di-
lakukan dengan uji test.
HASIL
Petani kopi di kecamatan Pagelaran Lampung Selatan
telah menggunakan herbisida dengan bahan aktif paraquat
lebih dari 5 tahun.
Tabel 1. Petani yang mengikuti penyuluhan penggunaan paraquat.
Jumlah sampel
Mengikuti
Penyuluhan
n %
Pernah 38
76
Tidak Pernah
12
24
Jumlah 50
100
Sebagian besar petani (76%) pernah mengikuti penyuluh-
an tentang pengolahan herbisida dengan bahan aktif paraquat
(Tabel 1).
Tabel 2. Frekuensi penyemprotan dalam bulan/tahun
Jumlah yang menyemprot
Lama
n %
1 ­ 2 bulan
9
18
3 ­ 4 bulan
26
52
5 ­ 6 bulan
10
20
7 ­ 8 bulan
3
6
Tidak mengisi
2
4
Jumlah 50
100
Tabel 3. Frekuensi penyemprotan dalam hari/bulan.
Jumlah yang menyemprot
Lama
n %
1 ­4 hari
27
54
5 ­ 8 hari
14
28
9 ­ 12 hari
5
10
13 ­ 16 hari
1
2
> 16 hari
2
4
Tidak mengisi
1
2
Jumlah 50
100
Tabel 4. Frekuensi penyemprotan dalam jam/hari
Lama
Jumlah yang menyemprot
n
%
1 ­ 2 jam
6
12
3 ­ 4 jam
35
70
5 ­ 6 jam
7
14
> 6 jam
2
4
Jumlah
50
100
Sekitar 72% petani melakukan penyemprotan antara 3 ­ 6
bulan pertahun dengan frekuensi penyemprotan 1 ­ 8 hari
perbulan (82%) dan 9 ­12 hari perbulan (10%), tiap hari pe-
nyemprotan lamanya 3 ­ 4 jam (70%) (Tabel 2, 3, 4).
Demografi responden sampel dan kontrol adalah homo-
gen (Tabel 5).
Perilaku responden sampel dan kontrol yang berhubung-
an dengan kesehatan homogen (Tabel 6).
Kesehatan umum, sistem peredaran darah dan sistem per-
nafasan baik sampel maupun kontrol normal (Tabel 7).
Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan dilakukan terhadap darah tepi, fungsi hati
dan fungsi ginjal. Hasil pemeriksaan dibandingkan antara
sampel dan kontrol dengan uji t (t test) dengan tingkat
kemaknaan 0,05 dan derajat kebebasan n
1
+ n
2
­ 2 dengan
n
1
=n
2
=50.
Tabel 5. Demografi responden.
No. Ikhwal
Sampel
Kontrol
n % n %
1
Kelompok
Umur
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004
50
background image
15 ­ 35 tahun
> 35 tahun
18
32
36
64
17
33
34
66
2 Jenis
Kelamin
Laki-laki
Perempuan
49
1
98
2
49
1
98
2
3 Tingkat
Pendidikan
Tidak Sekolah
SD
SMP
SMA
Perguruan Tinggi
4
30
9
6
1
8
60
18
12
2
3
31
9
6
1
6
62
18
12
2
4 Pekerjaanselain
petani
Tidak ada
Pedagang
Pegawai negeri
Pensiun
Lain-lain
37
2
-
-
11
74
4
-
-
22
37
2
-
-
11
74
4
-
-
22
Tabel 6. Perilaku responden yang berhubungan dengan kesehatan.
Sampel Kontrol
No. Ikhwal
n % n %
1 Merokok
Tidak merokok
45
5
90
10
44
6
88
12
2 Minum
alkohol
Tidak minum alkohol
11
39
22
79
12
38
74
76
3
Tempatmembersihkan alat semprot
Di sumur
Di kamar mandi
Di sungai
Lain-lain
Tidak mengisi
3
-
29
18
-
60
-
58
36
-
3
1
25
17
4
60
2
50
34
8
4 Tempat
melakukan
pengenceran
Di rumah
Di tempat menyemprot
Tidak mengisi
2
48
-
4
96
-
-
46
4
-
92
8
5 Mandi
sesudah
menyemprot
Tidak mandi sesudah menyemprot
44
6
88
12
43
7
86
14
6 Pakaian dicuci setiap selesai
bekerja
Pakaian tidak dicuci setiap selesai
bekerja
33
17
66
34
41
9
82
18
Hasil pemeriksaan darah tepi sampel dan kontrol tidak berbeda
bermakna (Tabel 8).
Ada perbedaan bermakna pada kadar alkali fosfatase
(p=0,05), sedangkan hasil pemeriksaan ginjal tidak ada per-
bedaan bermakna (Tabel 9, 10).
Tabel 7. Status kesehatan umum, peredaran darah dan sistem per-
nafasan.
Sampel Kontrol
No. Pemeriksaan
n % n %
1 Kesehatan
umum
baik
50 100 50 100
2
Tekanan darah normal
41
82
47
94
3 Jantung
normal
49 98 50 100
4
Bunyi jantung normal
49
98
48
96
5 Anemia
- - 1 2
6 Auskultasi
normal
49 98 47 94
7
Rontgen (foto torax) normal
44
88
46
92
8
Lesi TB aktif
3
6
2
4
9
Lesi TB non aktif
2
4
2
4
Tabel 8. Hasil pemeriksaan darah tepi
Pemeriksaan Sampel
Kontrol
Hb (g %)
11 ­ 18,4
8,8 ­ 18,1
Leukosit (/mm)
4.100 ­ 15.500
4.450 ­ 10.200
Eritrosit x 10
6
(/mm)
3,1 ­ 6,1
2,9 ­ 6,1
Trombosit x 10
3
(/mm)
144 ­ 416
200 ­ 500
LED mm/jam
0 ­ 9,9
3 ­ 8,1
Tabel 9. Hasil pemeriksaan fungsi hati
Pemeriksaan Sampel
Kontrol
SGOT (u/l)
23 ­ 61
14 ­ 106
SGPT (u/l)
9 ­ 43
8 ­ 46
Alkali fosfatase (u/l)
61 ­ 216
68 ­ 156
Bilirubin total (mg%)
0,32 ­1,2
0,37 ­ 1,6
Bilirubin direk (mg%)
0,12 ­ 0,46
0,10 ­ 0,50
Bilirubin indirek (mg%)
0,22 ­ 0,88
0,20 ­ 1,09
Tabel 10. Hasil pemeriksaan fungsi ginjal
Pemeriksaan Sampel Kontrol
Ureum (mg %)
18 ­ 57
10 ­ 46
Kreatinin (mg %)
0,11 ­ 1,5
0,48 ­ 1,47
PEMBAHASAN
Pada masing-masing kelompok sampel dan kontrol hanya
ada 1 orang perempuan. Tingkat pendidikan terakhir yang ter-
banyak adalah Sekolah Dasar (sampel 60% dan kontrol 62%).
Sebagian besar petani tidak mempunyai pekerjaan lain (sampel
dan kontrol masing-masing 74%). Kedua kelompok mem-
punyai kebiasaan merokok yang hampir sama (kelompok
sampel 90% dan kelompok kontrol 88% perokok); demikian
juga kebiasaan minum beralkohol, kelompok sampel 78% dan
kelompok kontrol 76% tidak minum minuman beralkohol.
Dari uraian di atas terlihat bahwa kedua kelompok ini
homogen. Kebiasaan lain yang berhubungan dengan kesehat-
an pada kedua kelompok seperti tempat penyimpanan, tempat
membersihkan alat semprot, melakukan pengenceran, ke-
biasaan mandi setelah menyemprot dan pencucian pakaian
kerja hampir sama (Tabel 6). Karena kelompok sampel adalah
petani perkebunan kopi dan kelompok kontrol sebagian besar
adalah petani padi, perbedaan hanya terdapat pada pestisida
yang digunakan. Kelompok sampel mengguna-kan herbisida
dengan bahan aktif paraquat di samping pesti-sida lain, sedang-
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 51
background image
kan kelompok kontrol menggunakan pesti-sida golongan fosfat
organik, karbamat dan piretrin sintetis.
Dari hasil pemeriksaan kesehatan yang terdiri dari ke-
sehatan umum, tingkat anemia, tekanan darah, keadaan
jantung, tidak terdapat perbedaan antara kedua kelompok.
Pemeriksaan rontgen (sinar X) paru kelompok sampel ter-
dapat 5 orang yang tidak normal yang disebabkan oleh infeksi
tuberkulosis (3 orang aktif dan 2 orang non aktif). Kelainan ini
tidak ada hubungannya dengan pengguna paraquat. Keracun-
an paraquat sistemik terutama dapat dilihat pada paru antara 24
­ 48 jam setelah menelan lebih kurang 50 ml paraquat pekat,
berupa pembengkakan paru dan setelah beberapa hari dapat
terjadi fibrosis (1 orang). Dari hasil foto rontgen baik kelom-
pok kontrol maupun kelompok sampel tidak terdapat kelainan
tersebut.
Pada pemeriksaan kulit dan kuku juga tidak didapatkan
kelainan oleh pengaruh penggunaan paraquat.
Pada pemeriksaan laboratorium klinis meliputi peme-
riksaan hemoglobin (Hb). Harga normal untuk Hb adalah
antara 12-18 g%. Pada pemeriksaan tahap awal 50 sampel
terdapat 3 orang dengan Hb di bawah normal yaitu 11,0; 11,5
dan 11,6 g%, sedangkan pada kelompok kontrol juga terdapat
3 orang di bawah normal yaitu 8,8; 11,5 dan 11,8 g%, tidak
ada perbedaan antara sampel dan kontrol. Pada pemeriksaan
leukosit kelompok sampel ada satu orang dengan kadar leuko-
sit melebihi batas normal tetapi hal ini tidak ada hubung-annya
dengan penggunaan paraquat. Pada pemeriksaan eritro-sit tidak
terdapat penyimpangan dan tidak ada perbedaan yang
bermakna pada kedua kelompok. Pada pemeriksaan Laju
Endap Darah (LED) tidak terdapat penyimpangan pada kedua
kelompok. Pada pemeriksaan SGOT tidak terdapat perbedaan
yang bermakna antara kedua kelompok, hal ini tidak ada
hubungannya dengan penggunaan paraquat, sedangkan pada
pemeriksaan SGPT kelompok sampel ada tiga orang yang
melewati batas normal yaitu 40, 42 dan 43, dan kelompok
kontrol ada tiga orang yang melewati harga normal yaitu 38,
41 dan 46 secara statistik tidak ada perbedaan yang bermakna.
Pada pemeriksaan alkali fosfatase kelompok sampel 47 orang
(94%) dalam batas normal dan 3 orang (6%) di atas normal,
sedangkan pada kelompok kontrol 49 orang (98%) dalam batas
normal 1 orang (2%) di atas normal. Walaupun perbedaan ini
bermakna secara statistik tetapi secara klinis tidak terdapat
perbedaan. Pemeriksaan bilirubin total, bilirubin direk dan
indirek untuk kelompok sampel dan kontrol tidak menghasil-
kan perbedaan yang bermakna baik secara statistik maupun
secara klinis.
Status kesehatan kedua kelompok sampel dan kontrol ini
tidak berbeda; petani pengguna paraquat sebagian besar (76%)
sudah mengikuti pelatihan pengelolaan paraquat, sedangkan
yang belum pernah mengikuti pelatihan mendapat bimbingan
dari petani yang sudah dilatih.
KESIMPULAN
Tidak terdapat perbedaan status kesehatan antara kelom-
pok pengguna herbisida dengan bahan aktif paraquat dan
kelompok yang tidak menggunakan herbisida tersebut. Dapat
disimpulkan bahwa pelatihan yang diberikan kepada para
petani cukup efektif dan bermanfaat.
KEPUSTAKAAN
1.
Haddad LM, Winchester JF. Clinical Management of Poisoning and Drug
Overdose. WB Saunders Co, 1983.
2.
Dreisbach RH. Handbook of Poisoning. 11
th
ed; Maruzen Asia Edition,
1983.
3.
Cassarett and Doull's Toxicology: The Basic Science of Poisons. 2
nd
ed;
Macmillan Publ. Co. Inc. New York, 1875.
4.
Moss D. Liver Function Test. Medicine International, 1994; 7 (28).
Better be friends at a distance than enemies near each other
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004
52