background image
Resistensi Plasmodium falciparum
terhadap Beberapa Obat Anti Malaria di
Indonesia
Sekar Tuti
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
PENDAHULUAN
Ada beberapa teori mengenai terjadinya resistensi pada
Plasmodium falciparum (P. falciparum). Yang pertama adalah
bahwa dalam tubuh parasit ada gen yang resisten dan yang
sensitif terhadap obat tertentu, gen yang satu dapat menjadi/
lebih dominan daripada gen yang lain, sehingga menimbulkan
adariya' strain yang resisten dan strain yang sensitif. Teori
kedua mengatakan bahwa mutasi gen dapat terjadi dalam tubuh
parasit, yang memungkinkan parasit tersebut menjadi resisten
(tidak peka) terhadap suatu obat dengan dosis atau aktifitas
tertentu
l
.
Strain P. falciparum yang resisten terhadap kina pertama
kali dilaporkan pada awal abad ini di Brazil. Selanjutnya kasus-
kasus yang resisten ini juga ditemukan di beberapa negara lain,
sampai penggunaan obat ini secara luas digantikan oleh obat-
obat sintetis. Pada saat mepakrin digunakan, juga dilaporkan
adanya resistensi terhadap obat ini di Papua New Guinea.
Resistensi terhadap golongan dihidrofolat reduktase (misalnya:
pirimetamin) cepat terjadi setelah obat tersebut digunakan
secara massal dan terus-menerus. Awal tahun 1960 dilaporkan
timbulnya resistensi terhadap klorokuin di Columbia dan
Thailand, sejak saat itu menyebar ke negara-negara Amerika
Selatan dan Asia yang lain. Dari daerah perbatasan Thailand
dan Kamboja juga, pada tahun 1967 untuk pertama kali
dilaporkan timbulnya resistensi terhadap kombinasi sulfa-
doksin-pirimetamin
2
. Adanya resistensi/turunnya sensitifitas
terhadap meflokuin dilaporkan dari negara yang sama sekitar
tahun 1980, juga dari negara-negara Asia yang lain termasuk
Indonesia, meskipun obat tersebut belum dipakai dalam
program pemberantasan
3,4
Keadaan ini timbul sebagai hasil interaksi antara tingginya
angka penularan dengan pengobatan yang terus-menerus dalam
jangka waktu yang lama (drug pressure), sehingga terjadi
seleksi atau mutasi gen pada parasit tersebut.
Resistensi terhadap klorokuin diduga ditemukan untuk
pertama kali di daerah di mana ada P. falciparum yang secara
genetis dapat menghasilkan strain yang resisten, penyebaran
selanjutnya mungkin disebabkan oleh adanya kasus-kasus
impor. Seperti telah diketahui, yang dimaksud dengan resis
tensi P. falciparum terhadap obat adalah kemampuan parasit
tersebut untuk terus hidup dalam tubuh manusia, berkembang-
biak dan menimbulkan gejala penyakit, meskipun telah diberi-
kan pengobatan secara teratur, baik dengan dosis standar mau-
pun dosis yang lebih tinggi yang masih bisa ditolerir oleh
pemakainyd
3
.
Penentuan resisten atau tidaknya P. falciparum dapat di-
lakukan dengan cara in-di
"
vo dan in-vitro (mikro/makro)-. Cara
in-vivo dapat menunjukkan derajat atau tingkat resistensi
parasit yang dinyatakan dalam tiga tingkatan yakni RI (Resis-
tensi derajat 1), Rll dan RIII. Sedangkan cara in-vitro hasilnya
dinyatakan sebagai sensitif atau resisten saja, tanpa adanya
penjenjangan tingkat. Keuntungan penggunaan cara ini antara
lain adalah beberapa jenis obat dapat dites pada saat ber-
samaan
s
.
Beberapa penelitian pada vektor .lokal di Asia Tenggara
menunjukkan bahwa vektor dapat menyebarkan strain parasit
yang resisten terhadap klorokuin lebih cepat daripada strain
yang sensitif
2
. Oleh karena keadaan ini, telah dilakukan usaha
untuk memantau sensitivitas P. falciparum terhadap beberapa
obat yang telah, sedang maupun akan dipakai dalam program
pemberantasan di Indonesia,
'
mengingat masalah resistensi P.
falciparum terhadap obat anti malaria di Indonesia mulai
meningkat pula.
RESISTENSI P. FALCIPARUM TERHADAP
KLOROKUIN DAN AMODIAKUIN.
Klorokuin dan amodiakuin adalah derivat dari 4-amino-
kuinolin, yang mempunyai kemampuan untuk menghalangi
sintesa enzim pada parasit dalam pembentukan DNA dan RNA.
Obat ini bersenyawa dengan DNA sehingga proses pembelahan
dan pembentukan RNA terganggu. Klorokuin sendiri adalah
obat anti malaria yang paling umum dipakai sebagai
pencegahan maupun pengobatan. Obat ini sangat efektif
terhadap stadium aseksual dari keempat spesies malaria,
kecuali di daerah dengan strain yang resister
5
.
Di Indonesia, menurunnya sensitivitas P. falciparum ter-
hadap klorokuin telah dilaporkan pada tahun 1950­1951 dan
kemudian pada tahun 1961. Akan tetapi baru pada
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992 49
background image
tahun 1973 ditemukan 1 kasus di Jawa Tengah (kasus impor
dari Kalimantan Timur) yang resisten terhadap dosis standar
7
.
Penelitian Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Me-
nular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (IiitJen P2M&
PLP) dengan bantuan WHO menemukan bahwa 26 dari 27
propinsi mempunyai fokus-fokus yang resisten terhadap
klorokuin dengan derajat dan distribusi yang bervariasi.
Secara keseluruhan situasinya dapat digambarkan sebagai
berikut (tabel 1).
Tabel 1. Propinsi-propinsi di man resistensi P. falciparum terhadap
klorokuin ditemukan secara in-vivo dan in-vitro pada tahun
1981 - 1988.
No. Propinsi
Tes in­vivo
(derajat resistensi)
Tea in­vitro
1. Jawa
Barat RI
R
2. D.K.I.
Jakarta
RIII
R
3. Jawa
Tengah
RI, RII, Rill
R
4. Jawa
Timur
­
R
5. Bali
­
R
(kasus impor)
6. Nusa
Tenggara Barat
RI, RII, RIII
R
7. Nusa
Tenggara Timur RII
R
8. Irian
Jaya
RI, RII, RII!
R
9. Maluku
­
R
10.
Sulawesi Utara
RI, RII, RIII
R
11. Sulawesi
Tengah RI,
Rlti R
12. Sulawesi
Tenggara
­
R
13.
Sulawesi Selatan
RI, RII, RIII
R
14. Kalimantan Timur RI,
RII
R
15. Kalimantan
Tengah
­
R
16. Kalimantan
Selatan
­
R
17. Kalimantan
Barat
­
R
18. Lampung
RI, RIi, RIII
R
19. Sumatera
Selatan
RI
­
20. Bengkulu
RI, RII, RIII
R
21. Riau
­
R
22. Jambi
RI,
RIII
R
23. Sumatera
Barat RI R
24.
Sumatera Utara
RI, RII, RHI
R
25.
D.I. Aceh
RII, RIII
R
26. Timor
Timur
RI, RH, RIII
R
Dengan tes in-vivo atau in-vitro resistensi terhadap klorokuin
ditemukan hampir di semua propinsi di Indonesia, kecuali DI
Yogyakarta. Pada umumnya secara in-vivo RI dan RII lebih
menonjol, kecuali di Indonesia bagian Timur lebih sering
ditemukan RIII
8
. Empat propinsi merupakan fokus utama
dengan resistensi tersebar luas yaitu propinsi Kalimantan
Timur, Irian Jaya, Timor Timur dan Jawa Tengah
9
.
Beberapa ahli berpendapat bahwa cepatnya penularan/
penyebaran P. falciparum yang resisten terhadap klorokuin di
daerah dimana ditemukan Anopheles balabacensis (A. bala-
bacensis) bukanlah merupakan suatu kebetulan; akan tetapi
karena keunggulan spesies ini sebagai vektor malaria, antara
lain yaitu mempunyai umur panjang (longevity), bersifat
menggigit manusia (anthropophilism) dan hidup di luar rumah
(exophily), sehingga dapat bertahan sebagai vektor potensial
meskipun telah dilakukan penyemprotan/residual spraying° Di
Indonesia, di beberapa daerah dengan resistensi terhadap
klorokuin, nyamuk ini juga berperan sebagai salah satu vektor-
nya, di samping spesies lain seperti A. maculatus, A. aconitus,
A. urnbrosus dan lain-lain. Jadi tidak hanya daerah dengan
vektor A. balabacensis saja yang mempunyai P. falciparum
yang resisten, tetapi juga daerah-daerah dengan jenis vektor
lain yang dapat menimbulkan tingkat penularan yang tinggi.
Meskipun resistensi terhadap klorokuin sudah tersebar
luas, klorokuin masih tetap bermanfaat bagi program pem-
berantasan di mana P. falciparum telah resisters, oleh karena
masih dapat mencegah kematian dan mengurangi penderitaan.
Hal ini sejalan dengan penemuan Hoffman dkk. di Flores
berupa resistensi secara in-vivo maupun in-vitro terhadap
klorokuin; selama setahun tidak seorangpun penderita P. fal-
ciparum yang diobati dengan obat ini meninggal
11,12
Tes resistensi yang telah dilakukan oleh Dit Jen P2M&PLP
dan Hoffman dkk. terhadap amodiakuin hanya secara in-vitro
di Irian Jaya dan Sulawesi Selatan
s,l3
. Dilaporkan bahwa
dengan dosis yang sama, amodiakuin lebih efektif daripada
klorokuin untuk pengobatan, kecuali untuk beberapa strain
Pilipina yang telah resisten terhadap amodiakuin. Pada umum-
nya P. falciparum yang resisten terhadap amodiakuin juga
resisten terhadap klorokuin tetapi dengan derajat resistensi
yang berbeda
s
. Hal ini dapat dipahami mengingat bahwa kedua
obat ini termasuk dalam grup yang sama yaitu 4-amino-
kuinolin. Hasil tes in-vitro di Irian Jaya dan Sulawesi Selatan
menunjukkan adanya resistensi silang antara amodiakuin dan
klorokuin
8,13
.
SENSITIFITAS P.FALCIPARUM TERHADAP FANSIDAR
®
(KOMBINASI SULFADOKSIN-PIRIMETAMIN).
Penelitian telah dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pe-
ngembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) bekerja-sama
dengan Dit Jen P2M&PLP di delapan propinsi.
Secara in-vivo Penelitian ini menemukan bahwa efektifitas
Fansidar
®
masih cukup baik, hal ini mungkin disebabkan oleh
adanya sistim pertahanan tubuh (imunitas) yang ikut berperan
dalam membunuh parasit. Hanya di beberapa daerah seperti di
Jawa Tengah ditemukan 12 kasus, Lampung dan Sulawesi
Selatan masing-masing 1 kasus yang sensitifitasnya rendah
terhadap obat ini
14
Secara in-vitro (modifikasi Nguyen Dinh) ditemukan
kasus-kasus yang sensitifitasnya rendah terhadap kombinasi
sulfadoksin-pirimetamin di semua daerah yang diteliti, seperti
yang terlihat pada tabel 2.
Tabel 2 : Lokasi di mana sensitifitas P. falciparum terhadap Fansidar
rendah secara in-vivo dan terhadap kombinasi sulfadoksin-
pirimetamin secant in-vitro pada tahun 1983 - 1988.
No.
Lokasi
Tea in­vivo
Tea in­vitro
1. Jawa
Tengah
R
R
(Kato. Batang & Wonosobo)
(12)
+
2. Lampung
R
R
(1)
++
3.
Riau
(P. Singkep)
­
R
4.
Sumatra Mara
(P. Nias)
­
R
5.
D.I. Aceh
(Kodya Sabang)
­
R
6. Sulawesi.Selatan
R
R
(Kab.
Mamuju)
(1)
7.
Nusa Tenggara Timur ·
(P. Flores)
­
R
8. Timor
Timur
­
R
Keterangan:
+ = Jumlah kasus yang diketemukan.
++ = Hilangnya parasitemia baru terjadi pada hari ke-5 (7).
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992
50
background image
Tabel 3 : Lokasi di mana sensitifitas P. falciparum terhadap pirimetamin
diketemukan rendah secara in-vivo dan in-vitro pada tahun
1983 ­ 1985.
No; Lokasi
Tes in-vivo
(derajat resistensi)
Tes in-vitro
1.
Jawa Tengah
(Kab. Wonosobo)
RI, RII, RIII
R
2. Lampung
RI
R
3. Riau
­
R
4.
Sumatra Utara
(P. Nias)
RI
R
5. D.I.
Aceh
­
R
6. Sulawesi
Selatan
­
R
7.
Nusa Tenggara Timur
­
R
Efek kombinasi sulfadoksin-pirametamin adalah saling
memperkuat (sinergisme). Sulfadoksin mempunyai sifat com-
petitive inhibition dapat bersaing dengan PABA (para amino
benzoic acid) sehingga pembentukan asam folat yang dibutuh-
kan dalam proses pembentukan inti sel dan sitoplasma terha-
lang; sedangkan pirimetamin menghalangi kerja enzim dihidro-
folat reduktase sehingga tidak terbentuk asam folinat
O
. Oleh
karena kedua obat yang mempunyai sasaran berlainan tersebut
bekerja secara sinergis, maka diduga bahwa bila sensitifitas
terhadap salah satu komponennya rendah, efektifitas obat
tersebut akan berkurang. Sulfonamida telah banyak dipakai
untuk pengobatan penyakit infeksi yang disebabkan oleh
bakteri, sehingga kemungkinan telah adanya resistensi terhadap
obat ini mempengaruhi efektifitas kombinasi obat tersebut
dengan pirimetamin. Demikian pula di daerah dimana
pirimetamin pernah digunakan dalam program pemberantasan
malaria dalam jangka waktu yang cukup lama, efektifitas
kombinasi obat ini juga rendah
(4)
.
SENSITIFITAS P. FALCIPARUM TERHADAP PIRIME-
TAMIN
Sensitifitas P. falciparum terhadap pirimetamin telah di-
teliti oleh tim dan pada waktu yang sama dengan penelitian
sensitifitas terhadap Fansidar, kecuali propinsi Timor Timur
(tidak dilakukan). Dari tes in-vivo ditemukan beberapa kasus
yang sensitifitasnya rendah yaitu di Lampung, Jawa Tengah
dan P. Nias (Sumatra Utara) dengan derajat resistensi yang
bervariasi antara RI dan RIII. Secara in-vitro (modifikasi
Nguyen Dinh) ditemukan bahwa kasus yang sensitifitasnya
rendah cukup tinggi ­ 60% dari jumlah kasus yang diperiksa.
Ternyata ada hubungan antara rendahnya sensitifitas ter-
hadap pirimetamin dengan terhadap kombinasi obat tersebut
dengan sulfadoksina4).
Kasus yang sensitifitasnya rendah ditemukan di semua
daerah yang diteliti, hal ini mungkin disebabkan oleh pemakai-
an pirimetamin pada waktu yang lalu, sehingga kemungkinan
timbulnya resistensi terhadap obat ini dapat dipahami.
Pirimetamin lebih bersifat sebagai obat plasmostatik dari pada
plasmosidal, sehingga sistim pertahanan tubuh (imunitas)
mempunyai peran yang besar sekali dalam menghancurkan
parasit yang sudah terhenti pertumbuhannya oleh obat ter-
sebut
(5)
.
RESISTENSI P. FALCIPARUM TERHADAP KINA
Sembilan propinsi telah di tes resistensinya terhadap kina
secara in-vitro yaitu Irian Jaya, Kalimantan Timur, Nusa
Tenggara Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra Selatan,
Riau, Sulawesi Selatan dan Timor Timur oleh Ditjen P2M&
PLP serta Hoffman dkk. sekitar tahun 1983­1988. Ditemukan
kasus-kasus yang resisten di 4 propinsi yaitu Irian Jaya, Nusa
Tenggara Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat
0
, hal ini
mungkin terjadi oleh karena kina memang telah dipakai se-
lama bertahun-tahun terutama di Jaws dan Irian Jaya.
Kina adalah obat malaria yang dikenal pertama kali. Obat
ini dapat membentuk ikatan hidrogen dengan DNA yang akan
menghambat sintesa protein sehingga pembelahan DNA dan
perubahannya menjadi RNA akan tercegah. Selain itu kina juga
dapat menekan beberapa sistim enzim sehingga digolongkan
sebagai racun protoplasma yang bersifat umum
e
, sangat efektif
sebagai sizontosida darah pada semua spesies malaria
manusia
(5)
.
Seperti telah diketahui, kina mempunyai efek samping
yang kadang-kadang cukup mengganggu, dan pemberiannya
kiirang praktis yaitu 3 kali sehari selama satu minggu, sehingga
penderita sering menolak untuk meneruskan pengobatan.
Di Indonesia kina sudah lama dipakai, sampai kemudian
diperkenalkan derivat 4-aminokuinolin (klorokuin dan amodia-
kuin) yang kurang toksisitasnya dan lebih mudah cara pem-
beriannya. Akan tetapi dengan timbulnya masalah P. falcipa-
rum yang multi resisten (resisten terhadap lebih dari satu
macam obat misalnya klorokuin dan Fansidar
®
), dan belum
adanya obat alternatif yang barn di Indonesia, pemakaian
kombinasi kina dan tetrasiklin telah dianjurkan oleh WHO
untuk mengatasi masalah tersebut
(15)
. Di samping itu, kina juga
merupakan obat pilihan untuk mengatasi serangan malaria yang
berat, misalnya malaria serebral.
RESISTENSI P. FALCIPARUM TERHADAP MEFLOKUIN
Dalam rangka persiapan kemungkinan pemakaiannya,
telah diteliti sensitifitasnya secara in-vitro maupun in-vivo pada
tahun 1983 ­ 1988. Tujuh belas propinsi telah diteliti, di-
dapatkan bahwa secara in-vitro resistensi ditemukan di 3 pro-
pinsi yaitu Irian Jaya, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur
masing-masing 5, 1 dan 2 kasus
(3,6,13,16)
.
Satu kasus di Irian Jaya yang di tes terhadap 4 macam obat
secara bersama-sama (klorokuin, amodiakuin, meflokuin dan
kina), menunjukkan bahwa kasus ini resisten terhadap meflo-
kuin dan kina, tetapi sensitif terhadap klorokuin dan amodia-
kuinaa). Hal ini memperkuat dugaan mengenai adanya resis-
tensi silang antara meflokuin dan kina
(5,17)
.
Oleh karena meski-
pun meflokuin belum pernah dipakai di Indonesia, namun kina
seperti yang telah dikemukakan terdahulu, yaitu struktur
kimianya mirip dengan meflokuin telah lama dipakai terutama
di Jawa dan Irian Jaya.
Seberapa ahli berpendapat bahwa resistensi terhadap
meflokuin akan lebih cepat timbul di daerah dengan sensitivitas
P. falciparum terhadap kina rendah seperti di Thailand dan
Burmaa'
r
). Sedangkan terjadinya resistensi silang antara
meflokuin dan klorokuin hanya mungkin terjadi pada tingkat
yang terbatas. Hal ini berhubungan dengan prinsip alamiah
fungsi dari dinding sei darah merah sebagai pintu gerbang
untuk keluar-masuknya obat, di mana untuk 4-aminokuinolin
lebih terbatas dibandingkan yang tersedia untuk meflokuin,
sehingga meflokuin bisa masuk ke dalam sel darah merah dan
membunuh parasit yang resisten terhadap klorokuina
e
). Secara
in-vivo ditemukan 2 orang penderita yang resisten (RII dan
RIII) terhadap kombinasi meflokuin dengan sulfadoksin-
background image
pirimetamin di Jayapura, Irian Jaya. Akan tetapi secara in-vitro
kedua penderita ini sensitif terhadap meflokuinaD. Sedangkan
di Kalimantan Timur dan DI Aceh secara in-vivo meflokuin
efektif terhadap P. faiciparum di kedua daerah tersebut
(16)
.
Beberapa negara tetangga juga mendapatkan hasil yang
kurang-lebih sama pada penggunaan meflokuin sendiri di
bandingkan dengan kombinasinya dengan sulfadoksin-piri-
metamin. Oleh karena itu masih dipertimbangkan penggunaan
kombinasi meflokuin dengan Fansidar®, atau meflokuin saja
untuk menanggulangi kasus yang multi resisten. Beberapa
peneliti juga menemukan bahwa efek samping Fansimef
(kombinasi Fansidar dengan meflokuin) lebih berat, sedangkan
efektifitasnya kurang-lebih sama dengan pemakaian meflokuin
saja. Masalah ini sedang diteliti di Thailanda
(19)
.
Mengingat bahwa sampai saat ini belum ada obat alternatif
lain untuk mengatasi P. falciparum yang resisten terhadap
klorokuin dan/atau Fansidar (multi resisten), sebaiknya di-
mantapkan kembali pemakaian kina atau kombinasi kina
dengan tetrasiklin seperti yang telah dianjurkan WHO/Dit Jen
P2M&PLP, dan dijajagi kemungkinan penggunaan obat
tradisional.
KEPUSTAKAAN
1.
Clyde D1. Mechanisms of drug resistance in malaria. Meeting of Principal
Investigators of Regional Collaborative Studies on Drug Resistant Malaria.
Jakarta, Indonesia 2 ­ 6 May 1983.
2.
Wernsdorfer WH, Kouznetson RL. Drug resistant malaria : occurence,
control and surveillance. Bull WHO 1980; 58 (3): 341­52.
3.
Hoffman SL, Anthony J, Campbell JR et al. RII and RIII type resistance of
Plasmodium falciparum to combination of mefloquine and
sulfadoxine/pyrimethamine in Indonesia. Lancet, Nov 9, 1985.
4.
Brockelman CR, Mongkolkeha S, Tan-Ariya P. Decrease in susceptibility
of P. falciparum to mefloquine in continuous culture. Bull WHO 1981;
59:249.
5.
Bruce-Chwatt LJ, Black RH, Canfield CJ et al. Chemotherapy of malaria.
2nd ed. WHO Geneva, 1981.
6.
Ditjen P2M&PLP, Depkes. RI. Pengobatan malaria. 1983.
7.
Verdrager J,'Arwati. Resistant P. falciparum infection from Samarinda,
8.
Kalimantan. Bull Hlth Stud Indon 1974; 11 :43.
9.
Ditjen P2M&PLP, Depkes RI. Unpublished data th. 1973 ­ 1988.
10.
Rai NK. Review of status of drug resistance in P. falciparum in Indonesia.
Report of an Intercountry Meeting, New Delhi 13 ­ 15 May 1985.
11.
Verdrager J. Epidemiology of emergence and spread of drug resistant
falciparum malaria in Southeast Asia. Southeast Asian J Trop Med Pub
H1th 1986; 17:1 (March).
12.
Rai NK. Masalah P. falciparum yang resisten klorokuin di Indonesia.
Kumpulan Naskah Lengkap Simposium dan Diskusi Panel Malaria.
Semarang, 9 Mei 1985.
13.
Hoffman SL, Masbar S, Hussein PR. Absence of mortality in villagers
with chloroquine-resistant Plasmadium falciparum treated with
chloroquine. Trans Roy Soci Trop Med Hyg 1984, 78.175-8.
14.
Hoffman S1, Harun S, Anthony J, Marwoto A Harijani. In-vitro studies of
Plasmodium falciparum to mefloquine in Indonesia. Panel diskusi Seminar
Parasitologi Nasional dan Kongres Ke-2 P4I, Bandung, Agustus 1983.
15.
Marwoto A Harijani. Penelitian resistensi P. falciparum terhadap Fansidar
di Indonesia. Kumpulan Hasil Penelitian Bio Medis, No. 5, Ed. I, th. 1984­
1985.
16.
Harinasuta T. Malaria with special reference to drug resistance and
chemotherapy. Special lecture. Proc 12th SEAMIC Workshop: Problem of
malaria in the Seamic Countries. Bangkok, Thailand 20 ­ 24 August 1984.
17.
Sekar Tuti. Penelitian resistensi P. falciparum terhadap meflokuin di
beberapa daerah perbatasan. Laporan akhir penelitian Badan Litbangkes.
th. 1986­1987.
18.
Myint Lwin, Min Zaw. In-vitro sensitivity of P. falciparum isolates from
Burma to chloroquine, quinine and mefloquine. Southeast Asian J Trop
Med Pub Hlth 1985; 16:3 (September).
19.
Clyde DF. Theoretical constraint to cross-resistance between chloroquine
and mefloquine. Meeting of Principal Investigators of the Regional
Collaborative Studies on Drug Resistant Malaria. Jakarta, Indonesia, 2 ­ 6
May 1983.
20.
Khronthong T. Personal Communication. Malaria Division, Bangkok,
Thailand 1989.
Ucapan Terima Kasih.
Ucapan terima-kasih kami tujukan kepada dr. Arbani, Kepala Sub
Direktorat Malaria, Ditjen P2M&PLP atas segala data dan keterangan yang
telah diberikan sehingga makalah ini dapat disusun, /uga kepada Dra.
Harijani A.M. atas segala petunjuknya dalam menyusun makalah ini. Tak lupa
ucapan terima kasih kami sampaikan pula kepada dr. Suriadi Gunawan,
Kepala Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Litbang. Kesehatan atas
kesempatan yang diberlkan sehingga makalah ini dapat terwujud.
For we brought nothing into the world, it is certain we can
Carry nothing out
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992
52