background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Pengobatan Dismenore
secara Akupunktur
Galya Junizar, Sulianingsih, Dharma K. Widya
KSMF Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Ciptomangunkusumo
Jakarta
PENDAHULUAN
Nyeri saat haid merupakan keluhan yang sering dijumpai
di kalangan wanita usia subur, yang menyebabkan mereka
pergi ke dokter untuk berobat dan berkonsultasi. Dismenore
terdapat pada 30-75% dari populasi dan kira-kira separuhnya
memerlukan pengobatan
(1)
.
Etiologi dan patogenesis dismenore sampai sekarang
belum jelas, maka pengobatannya pun masih simpang siur
(2,3)
.
Pengobatan secara kedokteran barat yang akhir-akhir ini
banyak dipakai yaitu anti prostaglandin non steroid seperti:
asam mefenamat, naproksen dan ibuprofen, yang berefek
menurunkan konsentrasi prostaglandin di endometrium
(1,5)
.
Tetapi ternyata obat-obat ini mengakibatkan banyak kerugian
karena dapat menimbulkan iritasi lambung, kolik usus, diare,
lekopeni dan serangan asma bronkial.
Keberhasilan pengobatan secara barat belum diketahui
dengan pasti, sedangkan pengobatan secara akupunktur keber-
hasilannya sekitar 90,9%
(1)
.
TINJAUAN DARI SEGI ILMU KEDOKTERAN BARAT
Definisi
Dismenore adalah nyeri haid yang sedemikian hebatnya,
sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan
pekerjaan atau cara hidup sehari-hari untuk beberapa jam atau
beberapa hari
(5)
.
Patofisiologi
Patofisiologi dismenore sampai saat ini masih belum jelas;
tetapi akhir-akhir ini teori prostaglandin banyak digunakan;
dikatakan bahwa pada keadaan dismenore kadar prostaglandin
meningkat
(1)
.
Klasifikasi
(2,3,4)
1. Dismenore
primer
Sering juga disebut sebagai dismenore sejati, intrinsik,
esensial atau fungsional. Nyeri haid timbul sejak menars,
biasanya pada bulan-bulan atau tahun-tahun pertama haid.
Biasanya terjadi pada usia antara 15 sampai 25 tahun dan
kemudian hilang pada usia akhir 20-an atau awal 30-an. Tidak
dijumpai kelainan alat-alat kandungan.
2. Dismenore
sekunder
Dimulai pada usia dewasa, menyerang wanita yang semula
bebas dari dismenore. Disebabkan oleh adanya kelainan alat-
alat kandungan.
Etiologi dan Gejala
(4,5,6,7)
1. Dismenore
Primer
Rasa nyeri di perut bagian bawah, menjalar ke daerah
pinggang dan paha. Kadang-kadang disertai mual, muntah,
diare, sakit kepala dan emosi yang labil. Nyeri timbul sebelum
haid dan berangsur hilang setelah darah haid keluar.
Etiologinya belum jelas tetapi umumnya berhubungan
dengan siklus ovulatorik. Beberapa faktor yang diduga ber-
peran dalam timbulnya dismenore primer yaitu:
a) Prostaglandin
(2,3,7,8)
Penyelidikan dalam tahun-tahun terakhir menunjukkan
bahwa peningkatan kadar prostaglandin (PG) penting peranan-
nya sebagai penyebab terjadinya dismenore.
Jeffcoate
(2)
berpendapat bahwa terjadinya spasme mio-
metrium dipacu oleh zat dalam darah haid, mirip lemak
alamiah yang kemudian diketahui sebagai prostaglandin; kadar
zat ini meningkat pada keadaan dismenore dan ditemukan di
dalam otot uterus.
Pickles, dkk
(8)
mendapatkan bahwa kadar PGE
2
dan PGF
2
-
alfa sangat tinggi dalam endometrium, miometrium dan darah
haid wanita yang menderita dismenore primer. PG menyebab-
kan peningkatan aktivitas uterus dan serabut-serabut syaraf
terminal rangsang nyeri. Kombinasi antara peningkatan kadar
PG dan peningkatan kepekaan miometrium menimbulkan
tekanan intra uterus sampai 400 mm Hg dan menyebabkan
kontraksi miometrium yang hebat. Atas dasar itu disimpulkan
bahwa PS yang dihasilkan uterus berperan dalam menimbulkan
hiperaktivitas miometrium. Selanjutnya kontraksi miometrium
yang disebabkan oleh PG akan mengurangi aliran darah,
sehingga terjadi iskemia sel-sel miometrium yang mengakibat-
kan timbulnya nyeri spasmodik. Jika PG dilepaskan dalam
jumlah berlebihan ke dalam peredaran darah, maka selain
Cermin Dunia Kedokteran No. 133, 2001
50
background image
dismenore timbul pula pengaruh umum lainnya seperti diare,
mual, muntah.
b. Hormon steroid seks
Dismenore primer hanya terjadi pada siklus ovulatorik.
Artinya, dismenore hanya timbul bila uterus berada di bawah
pengaruh progesteron. Sedangkan sintesis PG berhubungan
dengan fungsi ovarium. Kadar progesteron yang rendah akan
menyebabkan terbentuknya PGF
2
-alfa dalam jumlah yang
banyak. Kadar progesteron yang rendah akibat regresi corpus
luteum menyebabkan terganggunya stabilitas membran lisosom
dan juga meningkatkan pelepasan enzim fosfolipase-A2 yang
berperan sebagai katalisator dalam sintesis PG melalui per-
ubahan fosfolipid menjadi asam arakhidonat.
Ylikorkala, dkk
(9)
pada penelitiannya menemukan bahwa
kadar estradiol lebih tinggi pada wanita yang menderita
dismenore dibandingkan wanita normal. Estradiol yang tinggi
dalam darah vena uterina dan vena ovarika disertai kadar
PGF
2
-alfa yang juga tinggi dalam endometrium. Hasil ter-
penting dari penelitian ini adalah ditemukannya perubahan
nisbah E2/P.
c. Sistim saraf (neurologik)
Uterus dipersarafi oleh sistim saraf otonom (SSO) yang
terdiri dari sistim saraf simpatis dan parasimpatis.
Jeffcoate mengemukakan bahwa dismenore ditimbulkan
oleh ketidakseimbangan pengendalian SSO terhadap mio-
metrium. Pada keadaan ini terjadi perangsangan yang berlebih-
an oleh saraf simpatik sehingga serabut-serabut sirkuler pada
istmus dan ostium uteri internum menjadi hipertonik.
d. Vasopresin
Akarluad, dkk
(10)
pada penelitiannya mendapatkan bahwa
wanita dengan dismenore primer ternyata memiliki kadar
vasopresin yang sangat tinggi, dan berbeda bermakna dari
wanita tanpa dismenore. Ini menunjukkan bahwa vasopresin
dapat merupakan faktor etiologi yang penting pada dismenore
primer. Pemberian vasopresin pada saat haid menyebabkan
meningkatnya kontraksi uterus dan berkurangnya darah haid.
Namun demikian peranan pasti vasopresin dalam mekanisme
dismenore sampai saat ini belum jelas.
e. Psikis
Semua nyeri tergantung pada hubungan susunan saraf
pusat, khususnya talamus dan korteks. Derajat penderitaan
yang dialami akibat rangsang nyeri tergantung pada latar
belakang pendidikan penderita. Pada dismenore, faktor pen-
didikan dan faktor psikis sangat berpengaruh; nyeri dapat
dibangkitkan atau diperberat oleh keadaan psikis penderita.
Seringkali segera setelah perkawinan dismenore hilang, dan
jarang masih menetap setelah melahirkan. Mungkin kedua
keadaan tersebut (perkawinan dan melahirkan) membawa per-
ubahan fisiologik pada genitalia maupun perubahan psikis.
2. Dismenore
Sekunder
Nyeri mulai pada saat haid dan meningkat bersamaan
dengan keluarnya darah haid.
Dapat disebabkan oleh antara lain:
a)
Endometriosis
b)
Stenosis kanalis servikalis
c)
Adanya AKDR
d)
Tumor ovarium
Perbandingan gejala Dismenore Primer dengan Dismenore
Sekunder
(11)
:
Dismenore Primer
Dismenore Sekunder
-
usia lebih muda
- usia lebih tua
-
timbul segera setelah
- tidak tentu
terjadinya
siklus
haid
yang
teratur
-
sering pada nulipara
- tidak berhubungan
dengan
paritas
-
nyeri sering terasa sebagai
- nyeri terus-menerus
kejang uterus dan spastik
-
nyeri timbul mendahului
- nyeri mulai pada saat haid
haid, meningkat pada
dan meningkat bersamaan
hari pertama dan kemudian dengan keluarnya darah
menghilang bersamaan
haid
dengan keluarnya darah haid.
-
sering memberikan respons - sering memerlukan tin-
terhadap pengobatan medika dakan operatif
mentosa
-
sering disertai mual, muntah, - tidak
diare, kelelahan dan nyeri
kepala.
PENATALAKSANAAN
1) Dismenore
Primer
a. Psikoterapi
b. Medikamentosa
-
Analgetika:
Nyeri ringan: aspirin, asetaminofen, propoksifen.
Nyeri berat: prometazin, oksikodon, butalbital
-
Sediaan hormonal: progestin, pil kontrasepsi (estrogen
rendah dan progesteron tinggi).
-
Antiprostaglandin
Jenis obat:
dosis:
frekuensi:
aspirin 650
mg
4-6
kali/hari
indometasin 25
mg 3-4
kali/hari
fenilbutazon 100
mg 4
kali/hari
ibuprofen 400-600
mg
3
kali/hari
naproksen 250
mg
2
kali/hari
asam mefenamat
250 mg
4 kali/hari
asam meklofenamat
50-100 mg
3 kali/hari
pemberian dilakukan 24-72 jam prahaid
2)
Dismenore Sekunder
Pengobatan terutama ditujukan mencari dan menghilang-
kan penyebabnya, di samping pemberian obat-obat bersifat
simtomatik.
TINJAUAN AKUPUNKTUR
Pengertian
Dismenore adalah nyeri haid akibat sumbatan Sie atau
dingin yang berlebihan sehingga menghambat sirkulasi Ci dan
menyumbat meridian
(12)
.
Klasifikasi
(12,13)
-
tipe Se
Cermin Dunia Kedokteran No. 133, 2001 51
background image
-
tipe Si
Etiologi dan Gejala
Tipe Se
Akibat sumbatan Ci dan penggumpalan Sie.
Gejala:
-
Nyeri perut timbul pada saat/sesudah darah haid keluar,
yang berkurang bila ditekan atau dipanaskan.
-
Muka pucat
-
Lesu
-
Takut dingin
-
Darah yang keluar sedikit dan berwarna merah muda.
-
Nadi halus lemah
PENATALAKSANAAN
Menurut Kim SS, penusukan akupunktur akan merangsang
target organ melalui jalur refleks saraf humoral dan otonom,
sehingga siklik AMP meningkat, akibatnya pelepasan mediator
dari mast cell dihambat (salah satu mediator tersebut adalah
PG)
(14)
.
Pengobatan dismenore secara ilmu akupunktur dan moksi-
busi banyak disebut dalam berbagai macam buku, dengan
berbagai macam resep. Titik akupunktur yang selalu dipakai
(utama) dalam pengobatan dismenore adalah Kuan Yen
(XIII,4) dan San Yin Ciau (IV,6). Titik-titik lain dipergunakan
secara bervariasi. Pengobatan diberikan 3-5 hari sebelum
haid
(13)
.
Titik-titik yang digunakan:
1.
Tipe Se:
-
Kuan Yen (XIII, 4)
-
San Yin Ciao (IV, 6)
-
Kui Lai (III, 29)
-
Ci Hai (XIII, 6)
Metode pelemahan
2.
Tipe Si
-
Kuan Yen (XIII, 4) diberi moksa
-
Cu San Li (III, 36)
-
Sen Cie (XIII, 8)
-
Sui Tao (III, 28)
Metode penguatan
Angka keberhasilan pengobatan dismenore primer dengan
jarum akupunktur pada titik-titik tersebut di atas 90,9%.
Menurut Nan Jing Seminar penatalaksanaan tipe Se dibagi
menjadi:
Tipe Se akibat stagnasi Ci
-
Sing Cien (XII, 2)
-
Ci Hai (XIII, 6)
-
Sie Hai (IV, 10)
-
San Yin Ciao (IV, 6)
-
Tai Cung (XII, 3)
Metode pelemahan
Tipe Se akibat penyumbatan Sie
-
Kui Lai (XIII,29)
-
Ci Hai (XIII,6)
-
Sie Hai (IV,10)
-
San Yin Ciao (IV,6)
-
Tai Cung (XII,3)
Metode pelemahan.
HASIL PENELITIAN
Galya Junizar
(15)
melakukan penelitian terhadap 22
penderita dismenore primer yang dibagi 11 orang kasus dengan
akupunktur dan 11 orang kontrol dengan plasebo. Didapatkan
perbedaan bermakna pada kelompok yang mendapat peng-
obatan akupunktur (p<0,01).
PEMBICARAAN
Dismenore meskipun bersifat temporer tetapi dirasakan
cukup mengganggu, terutama pada wanita yang bekerja.
Secara ilmu kedokteran timur dismenore adalah akibat
gangguan sirkulasi Ci dan Sie, sehingga terapinya bertujuan
melancarkan sirkulasi Ci dan Sie.
Secara ilmu kedokteran barat patofisiologi dismenore
masih belum jelas. Dari gejala klinik yang dijumpai ternyata
ada persamaan antara dismenore primer dengan dismenorea
tipe Se yaitu nyeri timbul sebelum haid dan berangsur hilang
setelah darah haid keluar. Lokasi nyeri pada perut bagian
bawah dapat menyebar ke pinggang dan paha, kadang-kadang
Cermin Dunia Kedokteran No. 133, 2001
52
background image
disertai mual, muntah dan sakit kepala.
Juga dalam pengobatan terdapat persamaan yaitu secara
barat bertujuan menghambat sintesa PG, sedang penusukan
jarum akupunktur mempunyai efek menghambat pengeluaran
PG.
KEPUSTAKAAN
1.
Helms JM. Acupuncture for the Management of Primary Dysmenorrhea.
Br J Obstet Gynecol 1987; 69: 51-6.
2.
Jeffcoate SN. Dysmenorrhea. In: Principles of Gynecology. 4
th
ed.
London, Boston, Durban, Singapore, Sydney, Toronto, Wellington:
Butterworth Scientific 1982; 537-46.
3.
Horowitz. Symptomatic relief for dysmenorrhoea. Paed J Obstet Ginecol
1987; 13: 39-44.
4.
Prawirahardjo S. Ilmu Kandungan. Jakarta: Bina Pustaka. Ed. 1, 1981;
178-80.
KESIMPULAN
5.
Dawood M. Nonsteroid anti inflammatory drugs and changing attitudes
towards dysmenorrhea. Am J Med 1988; 84: 23-9.
Dismenore primer diderita oleh sekitar 50% wanita usia
reproduksi dengan siklus ovulatorik. Titik tolak dismenore
primer menurut kedokteran barat adalah ketidakseimbangan
hormon seks steroid (E2/P) yang menimbulkan rangkaian
perubahan patologik sistemik dengan hasil akhir terjadinya
peningkatan kadar PG. Keberhasilan pengobatan secara barat
belum jelas, obat-obat antiprostaglandin yang banyak dipakai
ternyata memberi efek samping seperti menimbulkan iritasi
lambung, kolik usus, diare, leukopeni dan serangan asma
bronkhial.
6.
Jacoeb TZ, Judi JE, Ali Baziad: Aspek Patofisiologi dan Penatalaksanaan
Dismenorea. Subbagian Endokrinologi Reproduksi RSCM, 1990; 1-29.
7.
Speroff L. Current Obstetric and Gynecologic Diagnosis and Treatment.
4
th
ed. Singapore: Lange Med Publ Maruzen Asia (Pte) Ltd. 1982; 134-5.
8.
Pickles VR, Hall WJ, Best FA, Smith GN. Prostaglandin in endometrium
and menstrual fluid from normal and dysmenorrhoea subjects. J Obstet
Gynecol Br Comm 1975; 72: 185.
9.
Ylikorkala O et al. New Concepts in Dysmenorrhea. Am J Obstet
Gynecol 1978; 130: 833-47.
10.
Akerluad M., Forsling ML. Primary Dysmenorrhoea and Vasopressin. Br
J. Obstet Gynecol 1979; 86: 484-7.
Menurut Kim SS, penusukan akupunktur akan merangsang
target organ melalui jalur refleks saraf humoral dan otonom,
sehingga siklik AMP meningkat, akibatnya pelepasan mediator
dari mast cell dihambat (salah satu mediator tersebut adalah
PG). Kesembuhan dengan pengobatan cara akupunktur 90,9%
dan tidak terdapat efek samping (lebih aman).
11.
Connor JO et al. Acupuncture: a comprehensive text, Eastland Press
Chicago 1981; 671-2.
12.
Anonim. Essentials of Chinese Acupuncture. Am J Acup. 1976; 25-32.
13.
Kim SS. Mediators of Acupuncture, Pergamon Press Ltd. Beijing 1981;
375-6.
14.
Qiu ML, Su XM. The Nan Jing Seminars. London: Spring 1984; 3-8.
15.
Galya Junizar. Penanggulangan Nyeri pada Dismenore Primer dengan
Akupunktur.Jakarta, 1995.
Cermin Dunia Kedokteran No. 133, 2001 53