background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 51
Pengelolaan dan Pengobatan
Hipertiroidi
A. Guntur
Hermawan
Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
PENDAHULUAN
Hipertiroidi (penyakit Graves, PG) atau juga disebut tirotok-
sikosis adalah suatu keadaan akibat peningkatan kadar hormon
tiroid bebas dalam darah. PG pertama kali dilaporkan oleh Parry
pada tahun 1825, kemudian Graves pada tahun 1835 dan di-
susul oleh Basedow pada tahun 1840.
1
Distribusi jenis kelamin
dan umur pada penyakit hipertiroidi amat bervariasi dari ber-
bagai klinik. Perbandingan wanita dan laki-laki yang didapat di
RSUP Palembang adalah 3,1 : 1 di RSCM Jakarta adalah
6 : 1, di RS. Dr. Soetomo 8 : 1 dan di RSHS Bandung 10 :1.
1
Sedangkan distribusi menumt umur di RSUP Palembang yang
terbanyak adalah pada usia 21 - 30 tahuii (41,73%), tetapi
menurut beberapa penulis lain puncaknya antara 30--40 tahun.
3
Jumlah penderita penyakit ini di seluruh dunia pada tahun
1960 diperkirakan 200 juta, 12 juta di antaranya terdapat di Indo-
nesia. Angka kejadian hipertiroidi yang didapat dari beberapa
klinik di Indonsia berkisar antara 44,44% -- 48,93% dari seluruh
penderita dengan penyakit kelenjar gondok.
1
Di AS diperkirakan
0,4% populasi menderita PG, biasanya sering pada usia di bawah
40 tahun.
2
Dikenal beberapa penyakit yang dapat menyebabkan hiper-
tiroidi dengan penyebab tersering toxic diffuse goiter dan toxic
nodular goiter, baik jenis multinoduler maupun soliter.
1 4 5
Beberapa penyebab hipertiroidi yang lain dapat ditemukan pada
tiroiditis subakuta, chronic autoimmune thyroiditis, karsinoma
tiroid, struma ovarii, exogenous hyperthyroidism, hipertiroidi
karena pemakaian jodium.
6
' Da berbagai penyebab hiper-
tiroidi, penyakit Graves (PG) atau penyakit Basedow atau pe-
nyakit Parry merupakan penyebab paling sering ditemukan.
2
8 9
PG adalah suatu penyakit multisistemik yang karakteristik
dengan adanya struma difusa, tirotoksikosis, oftalmopati infil-
tratif dan kadang-kadang disgrtai dengan dermopati infiltratif.
2
PG dikatakan merupakan penyakit otoimun kelenjar tiroid, hal
ini disokong dengan adanya laperan-laporan tentang terdapat-
nya antibodi spesifik pada penderita PG.
2 10 11
Pengobatan penderita hipertiroidi sangat komplek, dan masih
banyak perbedaan pendapat dari para ahli tentang cara terbaik
dalam pengobatan.5
10
Faktor sex, umur, berat ringannya pe-
nyakit, penyakit lain yang menyertainya, penerimaan penderita
serta pengalaman dari pengelola hams dipertimbangkan.
10
Pada kesempatan ini akan dibahas cara penanganan pen-
derita hipertiroidi dengan mengingat faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi pemilihan cara pengelolaan dan juga dapat
mempengaruhi hasil pengobatan.
PATOFISIOLOGI
Hipertiroidi adalah suatu keadaan klinik yang ditimbulkan
oleh sekresi berlebihan dari hormon tiroid yaitu tiroksin (T4)
dan triiodotironin (T3). Didapatkan pula peningkatan produksi
triiodotironin (T3) sebagai hasil meningkatnya konversi
tiroksin (T4) di jaringan perifer.
1 2
Dalam keadaan normal hormon tiroid berpengaruh terhadap
metabolisme jaringan, proses oksidasi jaringan, proses pertum-
buhan dan sintesa protein. Hormon-hormon tiroid ini ber-
pengaruh terhadap semua sel-sel dalam tubuh melalui meka-
nisme transport asam amino dan elektrolit dari cairan ekstra-
seluler kedalam sel, aktivasi/sintesa protein enzim dalam sel dan
peningkatan proses-proses intraseluler.
12
Pada mamalia dewasa khasiat hormon tiroid terlihat antara
lain :
--
aktivitas lipolitik yang meningkat pada jaringan lemak
--
modulasi sekresi gonadotropin
--
mempertahankan pertumbuhan proliferasi sel dan maturasi
rambut
-- merangsang pompa natrium dan jalur glikolitik, yang meng-
hasilkan kalorigenesis dan fosforilasi oksidatif pada jaringan
hati, ginjal dan otot.
Dengan meningkatnya kadar hormon ini maka metabolisme
jaringan, sintesa protein dan lain-lain akan terpengaruh, keadaan
ini secara klinis akan terlihat dengan adanya palpitasi, taki-
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990
52
kardi, fibrilasi atrium, kelemahan, banyak keringat, nafsu
makan yang meningkat, berat badan yang menurun. Kadang-
kadang gejala klinis yang ada hanya berupa penurunan berat
badan, payah jantung, kelemahan otot serta sering buang air
besar yang tidak diketahui sebabnya.
2 7
Patogenesis PG masih belum jelas diketahui. Diduga pe-
ningkatan kadar hormon tiroid ini disebabkan oleh suatu akti-
vator tiroid yang bukan TSH yang menyebabkan kelenjar timid
hiperaktif. Aktivator ini merupakan antibodi terhadap reseptor
TSH, sehingga disebut sebagai antibodi reseptor TSH. Anti-bodi
ini sering juga disebut sebagai thyroid stimulating immuno-
globulin (TSI)
10 11
Dan ternyata TSI ini ditemukan pada hampir
semua penderita PG.
Selain itu pada PG sering pula ditemukan antibodi terhadap
tiroglobulin dan anti mikrosom.
10
11
Penelitian lebih lanjut
menunjukkan bahwa kedua antibodi ini mempunyai peranan
dalam terjadinya kerusakan kelenjar tiroid. Antibodi mikrosom
ini bisa ditemukan hampir pada 60 -70% penderita PG, bahkan
dengan pemeriksaan radioassay bisa ditemukan pada hampir
semua penderita, sedangkan antibodi tiroglobulin bisa ditemukan
pada 50% penderita.
10
Terbentuknya autoantibodi tersebut
diduga karena adanya efek dari kontrol immunologik (immuno-
regulation), defek ini dipengaruhi oleh faktor genetik seperti
HLA
2
9 10 11
dan faktor lingkungan seperti infeksi atau stress.
9
Pada toxic nodular goiter peningkatan kadar hormon tiroid
disebabkan oleh autonomisasi dari nodul yang bersangkutan
dengan fungsi yang berlebihan sedangkan bagian kelenjar se-
lebihnya fungsinya normal atau menurun.
4 13
DIAGNOSIS
Gambaran klinik hipertiroidi dapat ringan dengan keluhan-
keluhan yang sulit dibedakan dari reaksi kecemasan, tetapi dapat
berat sampai mengancam jiwa penderita karena timbulnya hiper-
pireksia, gangguan sirkulasi dan kolaps.
3
Keluhan utama biasa-
nya berupa salah satu dari meningkatnya nervositas, berdebar-
debar atau kelelahan. Dari penelitian pada sekelompok penderita
didapatkan 10 geiala yang menonjol yaitu
3 10 15 16
-
Nervositas
-
Kelelahan atau kelemahan otot-otot
-
Penurunan berat badan sedang nafsu makan baik
-
Diare atau sering buang air besar
-
Intoleransi terhadap udara panas
-
Keringat berlebihan
-
Perubahan pola menstruasi
-
Tremor
-
Berdebar-debar
-
Penonjolan mata dan leher
Gejala-gejala hipertiroidi ini dapat berlangsung dari beberapa
hari sampai beberapa tahun sebelum penderita berobat ke
dokter, bahkan sering seorang penderita tidak menyadari pe-
nyakitnya.
3
Pada pemeriksaan klinis didapatkan gambaran yang khas
yaitu : seorang penderita tegang disertai cara bicara dan tingkah
laku yang cepat, tanda-tanda pada mata, telapak tangan basah
dan hangat, tremor, onchlisis, vitiligo, pembesaran leher, nadi
yang cepat, aritmia, tekanan nadi yang tinggi dan pemendekan
waktu refleks Achilles.
3 17
Atas dasar tanda-tanda klinis tersebut
sebenarnya suatu diagnosis klinis sudah dapat ditegakkan.'
Untuk daerah di mana pemeriksaan laboratorik yang spesifik
untuk hormon tiroid tak dapat dilakukan, penggunaan indeks
Wayne dan New Castle sangat membantu menegakkan diagnosis
hipertiroid. Pengukuran metabolisme basal (BMR), bila basil
BMR > ± 30, sangat mungkin bahwa seseorang menderita
hipertiroid.
Untuk konfirmasi diagnosis perlu dilakukan pemeriksaan
hormon timid (thyroid function test), seperti kadar T4 dan T3,
kadar T4 bebas atau free thyroxine index (FT41). Adapun pe-
meriksaan lain yang dapat membantu menegakkan diagno-
sis a.l.: pemeriksaan antibodi tiroid yang meliputi anti tiroglo-
bulin dan antimikrosom, pengukuran kadar TSH serum, test
penampungan yodium radioaktif (radioactive iodine uptake) dan
pemeriksaan sidikan tiroid (thyroid scanning)
18
19
Khir
18
me-
ngemukakan pendapatnya untuk menegakkan diagnosis PG,
yakni : adanya riwayat keluarga yang mempunyai penyakit yang
sama atau mempunyai penyakit yang berhubungan dengan
otoimun, di samping itu pada penderita didapatkan eksoftalmus
atau miksedem pretibial; kemudian dikonfirmasi dengan pe-
meriksaan antibodi tiroid.
DASAR PENGOBATAN
Beberapa faktor hams dipertimbangkan, ialah :
1.
Faktor penyebab hipertiroidi
2.
Umur penderita
3.
Berat ringannya penyakit
4.
Ada tidaknya penyakit lain yang menyertai
5.
Tanggapan penderita terhadap pengobatannya
6.
Sarana diagnostik dan pengobatan serta pengalaman dokter
dan klinik yang bersangkutan.
Pada dasarnya pengobatan penderita hipertiroidi meliputi :
A.
Pengobatan Umum
B.
Pengobatan Khusus
C.
Pengobatan dengan Penyulit
Pengobatan Umum
2 20
:
1)
Istirahat.
Hal ini diperlukan agar hipermetabolisme pada penderita
tidak makin meningkat. Penderita dianjurkan tidak melakukan
pekerjaan yang melelahkan/mengganggu pikiran balk di rmah
atau di tempat bekerja. Dalam keadaan berat dianjurkan bed rest
total di Rumah Sakit.
2)
Diet.
Diet harus tinggi kalori, protein, multivitamin serta mineral.
Hal ini antara lain karena : terjadinya peningkatan metabolisme,
keseimbangan nitrogen yang negatif dan keseimbangan kalsium
yang negatif.
3)
Obat penenang.
Mengingat pada PG sering terjadi kegelisahan, maka obat
penenang dapat diberikan. Di samping itu perlu juga pemberian
psikoterapi.
Pengobatan Khusus.
1) Obat antitiroid.
Obat-obat yang termasuk golongan ini adalah thionamide,
yodium, lithium, perchlorat dan thiocyanat.
Obat yang sering dipakai dari golongan thionamide adalah
propylthiouracyl (PTU), 1 - methyl - 2 mercaptoimidazole
(methimazole, tapazole, MMI), carbimazole. Obat ini bekerja
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 53
menghambat sintesis hormon tetapi tidak menghambat sekresi-
nya, yaitu dengan menghambat terbentuknya monoiodotyrosine
(MIT) dan diiodotyrosine (DIT), serta menghambat coupling
diiodotyrosine sehingga menjadi hormon yang aktif. PTU juga
menghambat perubahan T4 menjadi T3 di jaringan tepi, serta
harganya lebih murah sehingga pada saat ini PTU dianggap
sebagai obat pilihan.
2 21 22
Obat antitiroid diakumulasi dan dimetabolisme di kelenjar
gondok sehingga pengaruh pengobatan lebih tergantung pada
konsentrasi obat dalam kelenjar dari pada di plasma. MMI dan
carbimazole sepuluh kali lebih kuat daripada PTU sehingga
dosis yang diperlukan hanya satu persepuluhnya.
Dosis obat antitiroid dimulai dengan 300 - 600 mg perhari
untuk PTU atau 30 - 60 mg per hari untuk MMI/carbimazole,
terbagi setiap 8 atau 12 jam atau sebagai dosis tunggal setiap
24 jam. Dalam satu penelitian dilaporkan bahwa pemberian PTU
atau carbimazole dosis tinggi akan memberi remisi yang lebih
besar.
23
Secara farmakologi terdapat perbedaan antara PTU dengan
MMI/CBZ, antara lain adalah :
1.
MMI mempunyai waktu paruh dan akumulasi obat yang lebih
lama dibanding PTU di clalam kelenjar tiroid. Waktu paruh MMI
± 6 jam sedangkan PTU + 1
1
/
2
jam.
13
2.
Penelitian lain menunjukkan MMI lebih efektif dan kurang
toksik dibanding PTU (dikutip dari 13).
3.
MMI tidak terikat albumin serum sedangkan PTU hampir
80% terikat pada albumin serum, sehingga MMI lebih bebas
menembus barier plasenta dan air susu,
13
sehingga untuk ibu
hamil dan menyusui PTU lebih dianjurkan.
Jangka waktu pemberian tergantung masing-masing pen-
derita (6 - 24 bulan) dan dikatakan sepertiga sampai setengahnya
(50 - 70%) akan mengalami perbaikan yang bertahan cukup
lama. Apabila dalam waktu 3 bulan tidak atau hanya sedikit
memberikan perbaikan, maka harus dipikirkan beberapa ke-
mungkinan yang dapat menggagalkan pengobatan (tidak teratur
minum obat, struma yang besar, pernah mendapat pengobatan
yodium sebelumnya atau dosis kurang)
2 5 21 23
Efek samping ringan berupa kelainan kulit misalnya
gatal-gatal, skin rash dapat ditanggulangi dengan pemberian anti
histamin tanpa perlu penghentian pengobatan. Dosis yang
sangat tinggi dapat menyebabkan hilangnya indera pengecap,
cholestatic jaundice dan kadang-kadang agranulositosis (0,2 -
0,7%), kemungkinan ini lebih besar pada penderita umur di
atas 40 tahun yang menggunakan dosis besar
.13 20 21 22 23
Efek
samping lain yang jarang terjadi. a.l. berupa : arthralgia, demam
rhinitis, conjunctivitis, alopecia, sakit kepala, edema, limfadeno-
pati, hipoprotombinemia, trombositopenia, gangguan gastro-
intestinal.
9 13
2) Yodium.
Pemberian yodium akan menghambat sintesa hormon secara
akut tetapi dalam masa 3 minggu efeknya akan menghilang
karena adanya escape mechanism dari kelenjar yang bersangkut-
an, sehingga meski sekresi terhambat sintesa tetap ada. Akibat-
nya terjadi penimbunan hormon dan pada saat yodium dihenti-
kan timbul sekresi berlebihan dan gejala hipertiroidi meng-
hebat.
Pengobatan dengan yodium (MJ) digunakan untuk mem-
peroleh efek yang cepat seperti pada krisis tiroid atau untuk
persiapan operasi. Sebagai persiapan operasi, biasanya diguna-
kan dalam bentuk kombinasi. Dosis yang diberikan biasanya
15 mg per hari dengan dosis terbagi yang diberikan 2 minggu
sebelum dilakukan pembedahan.
9
Marigold dalam penelitian-
nya menggunakan cairan Lugol dengan dosis 1/2 ml (10 tetes)
3 kali perhari yang diberikan '10 hari sebelum dan sesudah
operasi.
17
3) Penyekat Beta (Beta Blocker).
Terjadinya keluhan dan gejala hipertiroidi diakibatkan oleh
adanya hipersensitivitas pada sistim simpatis.
16
Meningkatnya
rangsangan sistem simpatis ini diduga akibat meningkatnya ke-
pekaan reseptor terhadap katekolamin.
13
16 19
Penggunaan obat-obatan golongan simpatolitik diperkirakan
akan menghambat pengaruh hati.Reserpin, guanetidin dan pe-
nyekat beta (propranolol) merupakan obat yang masih diguna-
kan.
16
Berbeda dengan reserpin/guanetidin, propranolol lebih
efektif terutama dalam kasus-kasus yang berat.
24
Biasanya dalam
24 - 36 jam setelah pemberian akan tampak penurunan gejala.
Khasiat propranolol
14 17
:
-
penurunan denyut jantung permenit
-
penurunan cardiac output
-
perpanjangan waktu refleks Achilles
-
pengurangan nervositas
-
pengurangan produksi keringat
-
pengurangan tremor
Di samping pengaruh pada reseptor beta, propranolol dapat
menghambat konversi T4 ke T3 di perifer. Bila obat tersebut
dihentikan, maka dalam waktu ± 4 - 6 jam hipertiroid dapat
kembali lagi. Hal ini penting diperhatikan, karena penggunaan
dosis tunggal propranolol sebagai persiapan operasi dapat me-
nimbulkan krisis tiroid sewaktu operasi.
8
24
Penggunaan pro-
pranolol a.l. sebagai : persiapan tindakan pembedahan atau
pemberian yodium radioaktif, mengatasi kasus yang berat dan
krisis tiroid.
4) Ablasi kelenjar gondok.
Pelaksanaan ablasi dengan pembedahan atau pemberian I
131
.
a) Tindakan pembedahan
Indikasi utaina untuk melakukan tindakan pembedahan
adalah mereka yang berusia muda dan gagal atau alergi terhadap
obat-obat antitiroid. Tindakan pembedahan berupa tiroidektomi
subtotal juga dianjurkan pada penderita dengan keadaan yang
tidak mungkin diberi pengobatan dengan I
131
(wanita hamil atau
yang merencanakan kehamilan dalam waktu dekat).
Indikasi lain adalah mereka yang sulit dievaluasi pengobatan-
nya, penderita yang keteraturannya minum obat tidak teijamin
atau mereka dengan struma yang sangat besar dan mereka
yang ingin cepat eutiroid atau bila strumanya diduga mengalami
keganasan, dan alasan kosmetik.
21 22 23
Untuk persiapan pembedahan dapat diberikan kombinasi
antara thionamid, yodium atau propanolol guna mencapai ke-
adaan eutiroid.
9
13
Thionamid biasanya diberikan 6 - 8 minggu
sebelum operasi, kemudian dilanjutkan dengan pemberian larut-
an Lugol selama 10 - 14 hari sebelum operasi. Propranolol
dapat diberikan beberapa minggu sebelum operasi, kombinasi
obat ini dengan Yodium dapat diberikan 10 hari sebelum ope-
rasi.
13
Tujuan pembedahan yaitu untuk mencapai keadaan eutiroid
yang permanen.
19
Dengan penanganan yang baik, maka angka
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990
54
kematian dapat diturunkan sampai 0.
13
b) Ablasi dengan I
131
.
Sejak ditemukannya I
131
terjadi perubahan dalam bidang
pengobatan hipertiroidi. Walaupun dijumpai banyak komplikasi
yang timbul setelah pengobatan, namun karena harganya murah
dan pemberiannya mudah, cara ini banyak digunakan.
22
Tujuan pemberian I
131
adalah untuk merusak sel-sel kelenjar
yang hiperfungsi. Sayangnya I
131
ini temyata menaikan angka
kejadian hipofungsi kelenjar gondok (30 -- 70% dalam jollow up
10 -- 20 tahun) tanpa ada kaitannya dengan besarnya dosis
obat yang diberikan. Di samping itu terdapat pula peningkatan
gejala pada mata sebanyak 1 -- 5% dan menimbulkan kekhawatir-
an akan terjadinya perubahan gen dan keganasan akibat peng-
obatan cara ini, walaupun belum terbukti.
21 22 23
Penetapan dosis
1131
didasarkan atas derajat hiperfungsi serta
besar dan beratnya kelenjar gondok. Dosis yang dianjurkan
± 140 -- 160 micro Ci/gram atau dengan dosis rendah ± 80
micro Ci/gram.
2
Dalam pelaksanaannya perlu dipertimbangkan antara lain :
dosis optimum yang diperlukan kelenjar tiroid, besar/ukuran
dari kelenjar yang akan diradiasi, efektivitas I
131
di dalam jaring-
an dan sensitivitas jaringan tiroid terhadap I
131, 10
PENGOBATAN PG DENGAN PENYULIT
PG dan Kehamilan
Angka kejadian PG dengan kehamilan ± 0,2%. Selama ke-
hamilan biasanya PG mengalami remisi, dan eksaserbasi setelah
melahirkan.
23
Dalam pengobatan, yodium radioaktif merupakan kontra-
indikasi karena pada bayi dapat terjadi hipotiroidi yang irever-
sibel.
2
Penggunaan propranolol masih kontroversiil. Beberapa
peneliti memberikan propranolol pada kehamilan, dengan dosis
40 mg 4 kali sehari tanpa menimbulkan gangguan pada proses
kelahiran, tanda-tanda teratogenesis dan gangguan fungsi tiroid
dari bayi yang baru dilahirkan.
14
Tetapi beberapa peneliti lain
mendapatkan gejala-gejala proses kelahiran yang terlambat, ter-
ganggunya pertumbuhan bayi intra uterin, plasenta yang kecil,
hipoglikemi dan bradikardi pada bayi yang baru lahir.
Umumnya propranolol diberikan pada wanita hamil dengan
hipertiroidi dalam waktu kurang dari 2 minggu bilamana diper-
siapkan untuk tindakan operatif.
7
Pengobatan yang dianjurkan hanya pemberian obat antitiroid
dan pembedahan. Untuk menentukan pilihan tergantung faktor
pengelola maupun kondisi penderita.
23
PTU merupakan obat
antitiroid yang digunakan, pemberian dosis sebaiknya serendah
mungkin.
13
Bila terjadi efek hipotiroidi pada bayi, pemberian
hormon tiroid tambahan pada ibu tidak bermanfaat mengingat
hormon tiroid kurang menembus plasenta.
13
Pembedahan dilakukan bila dengan pemberian obat antitiroid
tidak mungkin. Sebaiknya pembedahan ditunda sampai tri-
mester I kehamilan untuk mencegah terjadinya abortus
spontan.
14
Eksoftalmus
Pengobatan hipertiroidi diduga mempengaruhi derajat pe-
ngembangan eksoflmus.
2
Selain itu pada eksoftalmus dapat di-
berikan terapi a.l. : istirahat dengan berbaring terlentang, kepala
lebih tinggi; mencegah mata tidak kering dengan salep mata
atau larutan metil selulose 5%; menghindari iritasi mata dengan
kacamata hitam; dan tindakan operasi; dalam keadaan yang
berat bisa diberikan prednison peroral tiap hari.2 23
Krisis tiroid
Krisis tiroid merupakan suatu keadaan tirotoksikosis yang se-
konyong-konyong menjadi hebat dan disertai a.l. adanya panas
badan, delirium, takikardi, dehidrasi berat dan dapat dicetuskan
oleh antara lain : infeksi dan tindakan pembedahan.
13
Prinsip pengelolaan hampir sama, yakni mengendalikan tiro-
toksikosis dan mengatasi komplikasi yang teijadi. Untuk me-
ngendalikan tirotoksikosis dapat digunakan terapi kombinasi
dengan dosis tinggi misalnya PTU 300 mg tiap 6 jam, KJ 10
tetes tiap 6 jam, propranolol 80 mg tiap 6 jam (IV 2 -- 4 mg tiap
4 jam) dan dapat diberikan glukokortikoid (hidrokortison
300 mg).
13
Sedangkan untuk mengatasi komplikasinya ter-
gantung kondisi penderita dan gejala yang ada. Tindakan hams
secepatnya karena angka kematian penderita ini cukup besar.
13
KEPUSTAKAAN
1.
Sumanggar Ps. Thyrotoxicosis di bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUP
Palembang. Dalam : Naskah Lengkap KOPAPDI V, Jilid I. Bagian Ilmu
Penyakit Dalam FK UNDIP -- RS Kariadi, Semarang 1981, hal. 53.
2.
Ingbar SH Woeber KA. Disease of the Thyroid. In : Harrison's Principles
of Internal Medicine.IsselbacherKJ et.al. (eds) 9th ed. Tokyo : McGraw --
Hill Hogakusha Ltd. 1980. p. 1694.
3.
Werner SC. Hyperthyroidism : Introduction. In : The Thyroid, a funda-
mental and clinical text. Werner SC, Ingbar SH Eds. 4th Ed. Maryland;
Harper and Row. 1978, p. 591.
4.
Permono, Sri Walijoeni.Pola hipertiroidi di Poliklinik Tiroid. Karya Akhir.
Penelitian Retrospektif di Polildinik Tiroid Bagian Penyakit Dalam Fak.
Kedokteran Universitas Airlangga R.S. Dr. Soetomo Surabaya, 1980;
hal. 31.
5.
Adimasta JH, Hassan A. Hyperthyroidi di Rumah Sakit Dr. Soetomo
Surabaya. Dalam : Saleh M dick. (eds) : Naskah lengkap Kopapdi II
Surabaya. Libra Jaya Press. 1973; hal 450.
6.
Ober KF, Hennesy JF. Jodbasedow and Thyrotoxic Period Paralysis. Arch
Intern Med 1981; 141.
7.
Kaplan MM, Utiger PD. Diagnosis of Hyperthyroidism. In : Clinics in
Endocrinology and Metabolism; Thyrotoxicosis. Volpe R (ed) Vol. 7/No. 1
London, Philadelphia, Toronto. WB Saunders Co Ltd. March 1978; p. 197.
8.
Hoffenberg R. The Aetiology of Hyperthyroidism. Br Med J. 1974; 3 : 452.
9.
Yeo PPB. Hyperthyroidism Treatment and Prediction of Relapse. Med.
Progr 1984; 11 : 16.
10.
Gossage AAR, Munro DS. The Pathogenesis of Graves Disease. Clinics In
Endocrinology And Metabolism 1985; 14 : 299.
11.
Wall JR, Kuraki T. Immunologic Factors in Thyroid Disease. Med Clin
N Am 1985; 69 : 913.
12.
Shambaugh GE. Chemistry and actions of thyroid hormone : Biologic and
cellular effects. In : The Thyroid, a fundamental and clinical text. Werner
SC, Ingbar SH (Eds) 4 th ed. Maryland. Harper and Row,1978; p. 115.
13.
Cooper DS, Ridgway EC. Clinical Management of Patients with Hyper-
thyroidism. Med Clin N Am 1986; 69 : 953.
14.
Langer A, Hung CT, McA'Nulty JA, Harringan JT, Washington E. Adre-
nergic blockade. A new approach to hyperthyroidism during pregnancy.
Obstet Gynecol 1974; 44 : 181.
15.
Mc Larty DG, Brownlie BEW, Alexander WD, Papapetrou PD, Horton P.
Remission of thyrotoxicosis during treatment with propranolol. Br Med J
1973; 2 : 332.
16.
Riddle MC, Schwartz TB. New tactics for hyperthyroidism : Sympathetic
blockade. Ann Inter Med 1970; 72 : 749.
17.
Mc Devitt DG, Shanks RG. Beta adrenoceptor blocking drugs in Hyper-
thyroidism. In : Avery GS (ed.) : Cardiovascular drugs. Vol 2. Adis Press.
Sydney, 1977. p. 161.
18.
Khir ASM. Suspected Thyrotoxicosis. Br Med J. 1985; 290 : 916.
19.
Spaulding SW, Lippes H. Hyperthyroidism. Med Clin North Am. 1985;
69 : 937.
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 55
20.
Carmago CA, Kolb FO. Endocrine Disorders. In : Current ­ Medical Diag-
nosis and Treatment 1984. Krupp MA, Chatton MJ. (eds) Lange Medical
Publ. Los Altos, California, 1984; p. 679.
21.
Robbins J, Rall JE, Gordon P. The Thyroid and Iodine Metabolism, In :
Duncan's Diseases of Metabolism. Bondy PK, Rosenberg LE. Eds. 7th. Ed.
Philadelphia, London, Toronto. WB Saunders Co. Tokyo : Igaku Shoin Ltd
1974; p. 1009.
22.
Solomon D. Treatment : Antithyroid Drugs, Surgery, Radioiodine; Selec-
tion of Therapy. In : The Thyroid, A fundamental and clinical test.
Werner SC, Ingbar SH. (Eds.) 4th Ed. Hagertown, Maryland, New York,
San Fransisco, London. Harper and Row. 1978; p. 814.
23.
Romaldini JH et al. Management of Hyperthyroidism with High Dosage of
Antithyroid Drugs (ATD) associated with Triiodothyronine (T3). In :
A. Tjokroprawiro, ED : VII International Thyroid. Sydned Australia,
February 3 ­ 8 ­ 1980. Selected Abstracts, 1980.
24.
Braverman LE. Therapeutic Considerations. In : Clinics in Endocrinology
and Metabolism; Thyrotoxicosis. Volpe R. (Ed) Vol. 7/No. 1 London,
Philadelphia, Toronto. WB Saunders Co Ltd. March 1978, p. 221.
25.
Camargo CA, Kolb FO, Endocrine Disorders. In : Current Medical Diag-
nosis and Treatment 1982. Krupp MA, Chatton MJ. (eds) Lange Medical
Publ. Maruzen Asia (Ptc) Ltd. 1982; p.662.
26.
Hoffenberg R. The Thyroid. Medicine 1973; 3 : 224.