Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991
48
Pengaruh JAKIM
sebagai Makanan Tambahan Balita
terhadap Berat Badan
Dr. Rudi Irawan
Kepala PRM Parado Kab Bima, Nusa Tenggara Barat
ABSTRAK
Sebelum makanan tambahan dengan JA-KI-M (jawawut, kacang ijo, madu) diberikan
pada balita, diperlukan suatu penelitian kelayakan penggunaannya baik di Posyandu, di
RKBPKK maupun di tempat-tempat lainnya.
Penelitian uji coba ini telah dilakukan di Puskesmas Parado yang meliputi 4 desa
(Parado rato, Parado wane, Kuta dan Kanca), kecamatan Monta, Kabupaten Bima,
Prop. NTB dengan melibatkan 17 orang kader posyandu dan 7 orang petugas puskesmas
(seorang petugas gizi dan 6 orang staf puskesmas), dilaksanakan terhadap 91 anak balita
yang diikuti perkembangan dan pertumbuhannya selama 3 bulan (Juli 1988 - Oktober
1988); sedang pemberian makanan tambahan diberikan mulai awal bulan Juni 1988
sampai dengan Oktober 1988.
Lebih dari 90% kader yang telah dilatih sebelumnya melakukan tugas dengan baik,
sehingga pelaksanaan bukan merupakan beban yang nyata selama masih tersedianya
peralatan penimbangan, pengukur tinggi badan serta kartu (KMS).
JAKIM bermanfaat meningkatkan motivasi ibu dan anak untuk datang ke posyandu
sehingga cakupan kunjungan balita meningkat, dan bermanfaat pula untuk meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan balita di posyandu; selain itu ternyata JAKIM juga ber-
manfaat menurunkan angka kesakitan/kematian dengan cara meningkatkan kesadaran
ibu dari balita tersebut akan pentingnya menjaga kesehatan dengan memakan makanan
bergizi, sehingga JAKIM merupakan makanan tambahan yang layak dalam menunjang
usaha perbaikan gizi anak balita di Parado pada khususnya.
PENDAHULUAN
Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya merupakan
upaya yang sangat komplek dan berperspektif jangka panjang,
karena itu penuangannya menghendaki usaha yang berkesi-
nambungan dan terpadu. Untuk meningkatkan kualitas manusia
diperlukan penggarapan terhadap subyeknya sendiri sedini
mungkin, tegasnya pada usia balita. Hal ini didasarkan per-
timbangan bahwa usia balita merupakan periode pembentukan
kritis bagi perkembangan pribadi seseorang.
Berpedoman pada hal di atas maka perlu suatu usaha untuk
meneliti keadaan tumbuh kembang anak di wilayah kerja Pus-
kesmas Parado (meliputi desa Parado rato, Parado wane, Kuta,
Kanca), kecamatan Monta, Kabupaten Bima, Propinsi Nusa
Tenggara Barat. Karena gizi anak balita di Parado yang masih
kurang (649 anak balita), sehingga menyebabkan angka kema-
tian yang tinggi (16%), dan angka kesakitan masih tinggi (40-80
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991 49
anak/bulan). Berbagai upaya telah dijalankan melalui Posyandu,
pemantauan status gizi, dan penyuluhan pemberian makanan
tambahan; tetapi program di atas masih belum bisa diharapkan
secara optimal, sehingga terdorong keinginan untuk meneliti
JAKIM (jawawut, kacang hijau, madu), sebagai makanan tam-
bahan yang banyak didapat di Parado, murah, mudah memasak-
nya, enak dimakan dan yang terpenting tinggi nilai gizinya yaitu
973 kalori/100 mg, 32.2 g protein/100 mg, 4.7 g lemak/100 mg.
Pada penelitian ini dibatasi hanya pada balita saja, JAKIM
cukup potensial untuk digunakan secara luas.
TUJUAN PENELITIAN
1.
Primer, untuk mengetahui pengaruh pemberian makanan
tambahan (PMT) Jakim, terhadap kenaikan berat badan.
2.
Sekunder, melatih ibu-ibu kader kesehatan/petugas kese-
hatan dalam memantau status gizi dan keadaan kesehatan
(morbiditas) anak-anak Balita.
I. BAHAN DAN CARA KERJA
A. LOKASI
Penelitian dilakukan di 4 desa di wilayah kerja puskesmas
Parado yaitu : Parado rato, Parado wane, Kuta, Kanca, Keca-
matan Monta, Kabupaten Bima, Propinsi Nusa Tenggara Barat.
Dan tiap desa tersebut diambil 1 -- 2 posyandu, sehingga di-
dapatkan 6 posyandu.
KRITERIA PEMILIHAN
1.
Harus posyandu mantap dengan kader yang aktif.
2.
Posyandu yang cakupan balitanya lebih dari 50 anak.
3.
Sarana sumber daya (jakim) dan lain-lain tersedia di wilayah
posyandu tersebut.
B. BENTUK PENELITIAN
Penelitian analitik observasional secara Randomized
Controlled Trial.
C. SUBYEK PENELITIAN
Pemilihan subyek secara random sample sebanyak 91 anak
balita dari empat desa tersebut, ditujukan pada balita yang rutin/
rajin datang ke posyandu tiap bulan.
D. CARA KERJA
Penelitian ini dimulai pada awal bulan Juni 1988, berupa
pemberian makanan tambahan Jakim, dimonitor perkembang-
annya pada kunjungan ke posyandu pada bulan Juli; pemberian
makanan tambahan diteruskan sampai bulan September, de-
mikian juga monitor diteruskan sampai bulan Oktober 1988.
Pada kunjungan I ke posyandu (bulan Juli) latar belakang
orang tua seperti umur, pendidikan dan pekerjaan dicatat. Dicatat
pula riwayat persalinan, penyakit yang pernah diderita anak
tersebut, semua dilakukan oleh kader. Kemudian dilakukan pe-
meriksaan kesehatan balita oleh petugas kesehatan, diberi buku
KMS yang sudah diisi penimbangan berat badannya dan di-
interpretasikan ke dalam grafik.
Buku KMS balita yang diuji diberi tanda khusus, setiap
bulan diharuskan datang ke posyandu dengan membawa buku
a
KMS tersebut sekaligus balita ditimbang berat badannya, di-
periksa kesehatannya. Terhadap ibunya diberikan penyuluhan
mengenai JAKIM dan diberikan bahan mentah JAKIM ntuk
digunakan di rumah. Hasilnya dibuat kurve di dalam grafik
misalnya : berat badan di dalam buku KMS; tinggi badan, ling-
kar kepala, lingkar lengan atas, lipatan kulit dibuat kurve di buku
lain.
Seandainya ada balita yang sakit, disembuhkan dulu dan
PMT dilanjutkan asalkan tidak menimbulkan alergi (komplikasi
lain) terhadap balita tersebut. Sampai penelitian ini disusun tidak
ada drop out/gagal sebelum penelitian selesai.
E. ALAT DAN CARA PENGUKURAN
(1,2,3)
Hasil tumbuh kembang fisik adalah bertambah besarnya
ukuran antropometrik dan gejala (tanda lain pada rambut, gigi
geligi, otot, kulit serta jaringan lemak, darah dan lain-lain.
1. Ukuran Antropometri
(1)
Yang bermanfaat dan sering dipakai adalah :
1. a. Berat badan.
b.
Tinggi/panjang badan.
c.
Lingkaran kepala.
d.
Lingkaran lengan atas.
e.
Lipatan kulit.
a)
Berat badan.
Merupakan ukuran antropometri yang terpenting, dipakai
untuk memeriksa kesehatan anak pada setiap kelompok umur.
Merupakan indikator tunggal yang terbaik pada waktu ini
untuk keadaan gizi, keadaan tumbuh kembang, karena pening-
katan berat adalah hasil dari peningkatan seluruh jaringan tulang,
otot, lemak, cairan tubuh dan lain-lain.
b)
Tinggi badan.
Merupakan ukuran antropometrik kedua yang panting; ke-
istimewaannya nilai tinggi badan adalah meningkat terus walau-
pun laju tumbuh berubah, oleh karena itu nilai tinggi badan
dipakai untuk dasar perbandingan terhadap perubahan relatif,
seperti nilai berat dan lingkar lengan atas.
c)
Lingkar kepala.
Mencerminkan volume intrakranial, dipakai untuk menaksir
pertumbuhan otak.
d)
Lingkar lengan atas.
Mencerminkan tumbuh kembang jaringan lemak dan otot
yang tidak terpengaruh banyak oleh keadaan cairan tubuh di-
bandingkan dengan berat badan. Dapat dipakai untuk menilai
keadaan gizi pada kelompok usia pra sekolah.
e)
Lipatan kulit.
Tebalnya lipatan kulit pada daerah trisep dan subskapular
merupakan refleksi tumbuh kembang jaringan lemak bawah
kulit, yang mencerminkan kecukupan energi.
2. Tanda pemeriksaan fisik
(1,2)
a) Keseluruhan fisik.
Dilihat bentuk tubuh, perbandingan bagian kepala, tubuh
dan anggota.
b) Jaringan otot.
Tumbuh kembang otot diperiksa pada lengan atas, pantat
dan paha dengan cara cubitan tebal.
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991
50
c)
Jaringan lemak.
Diperiksa pada kulit di bawah trisep dan subkapular dengan
cara cubitan tipis.
d)
Rambut.
Diperiksa tumbuh, warna, diameter (tebal/tipis), sifat (lurus/
keriting) dan akar rambut (mudah dicabut atau tidak).
e)
Gigi geligi.
Jadwal pertumbuhan gigi geligi susu (saat erupsi), saat
tanggal dan pergantian/erupsi gigi geligi permanen.
3. Pemeriksaan Laboratorium dan Radiologi.
4. Buku Patokan (Standard Reference) sebagai pemban-
ding
(1,4)
a) Pola Tumbuh kembang.
Memperlihatkan variasi normal yang luas, sehingga perlu
cara dan istilah statistik untuk menilai keadaan tumbuh kembang
seorang anak.
Terdapat tiga macam cara untuk menunjukkan suatu variasi
normal :
i) Menggunakan Mean dan SD.
Mean adalah nilai rata-rata ukuran anak yang dianggap
normal (sehat); dengan cara ini seorang anak dapat ditentukan
posisinya, yaitu :
Mean kurang lebih 1 SD mencakup 66,6%
Mean kurang lebih 2 SD mencakup 95%
Mean kurang lebih 3 SD mencakup 97,7% dari jumlah
populasi anak normal.
ii) Menggunakan Persentase.
Pada lokakarya antropometri di Indonesia untuk anak
prasekolah (Gizi, Depkes 1974) disepakati bahwa :
Nilai 100% untuk berat adalah nilai persentil ke 50 dari
Harvard standard.
Variasi normal berada di antara 80% 110%.
Dalam prakteknya, nilai-nilai tersebut disusun dalam se-
buah tabel atau digambarkan dengan kartu pertumbuhan.
b) Baku Antropometri Gizi
(1,4)
i)
Baku untuk Tinggi dan Berat menurut Direktorat Gizi
Depkes 1973.
ii)
Baku NCHS (National Centre of Health Statistics) dianjur-
kan oleh WHO 1978, untuk berat dan tinggi.
iii)
Hasil penelitian Sugiono dan Pelenkahu (1964) untuk bayi
menggunakan rata-rata untuk berat dan tinggi.
iv)
Standard NCHS untuk anak 0 18 bulan, menggunakan
persentil untuk berat, tinggi, lingkar kepala (Nelson 1979).
5. Tata cara penilaian/pemeriksaan
(1,5,6)
Pemeriksaan yang dilakukan sama seperti membuat diagno-
sis tentang penyakit atau tentang keadaan kesehatan; yaitu :
1)
Anamnesis
Untuk memperoleh informasi tentang tumbuh kembang
selama dalam kandungan, saat kelahiran, keadaan waktu lahir,
kecukupan makanan, penyakit/kelainan yang diderita, keadaan
fisik kedua orangtua.
2)
Pemeriksaan fisik.
Untuk memperoleh kesan klinis tentang tumbuh kembang
,
dengan informasi gejala/tanda tumbuh kembang.
3)
Pemeriksaan penunjang dengan pemeriksaan antropometrik
saja, karena pemeriksaan laboratorium dan radiologi belum ada.
Penilaian kelompok umur
(1)
1)
Bayi
Landasan tumbuh kembang telah ditentukan dalam kan-
dungan dan persalinan; gejala/tanda normal, antara lain me-
nyusu/makan dengan baik, tidur nyenyak.
Dalam dua minggu pertama penurunan berat badan fisiolo-
gik pada hari ke 5 tidak lebih dari 10%, berat badan lahir dicapai
kembali pada hari ke 10 14; bila melebihi 30 hari merupakan
indikator kecurigaan terhadap penyakit. Laju tumbuh kem-
bang sesuai baku patokan.
Gigi geligi mulai erupsi pada usia 7 8 bulan, berjumlah
4 6 pada usia satu tahun.
2)
Anak prasekolah.
Perlu dibagi dalam dua kelompok usia: 1 3 tahun (Batita)
dan 4 5 tahun (Balita).
Anak usia 1 3 tahun ditandai dengan laju tumbuh fisik
bersifat lambat, mantap untuk berat dan tinggi, lingkar kepala
melambat pada usia 2 3 tahun, gigi geligi susu secara bertahap
menjadi lengkap 20 pada usia 2 3 tahun.
Usia 4 5 tahun aktivitas fisiknya meningkat, laju tumbuh
berat badan dan tinggi lambat mantap, mulai terjadi pergantian
gigi geligi susu dengan erupsi gigi seri (permanen).
Tabel 1. Lokasi, Janis kelamin serta umur anak yang diuji (n = 91)
Umur
Desa
1- 3 Tabun
4 - 5 Tabun
Laki Perempuan Laki Perempuan
Parado Rato
5
4
15
12
Parado Wane
3
5
8
7
Kuta
4
2
7
5
Kanca
2
1
9
2
Jumlah
14
12
39
26 = 91
F. TENAGA LAPANGAN
Pelaksanaan penelitian di lapangan dikerjakan oleh kader
dan petugas kesehatan. Setiap kader bertanggung jawab terhadap
4 8 anak yang diteliti, sedang petugas kesehatan (seorang
petugas gizi dan 6 orang staf PKM) bertanggung jawab terhadap
pemeriksaan kesehatan anak yang diteliti serta sebagai konsultan
bagi kader; petugas kesehatan dan kader dalam melaksanakan
tugas di bawah pengawasan dokter puskesmas.
Tabel 2. Lokasi dan Jumlah kader di masing-masing desa, Kecamatan
Monta, Kabupaten Bima
Umur
Desa
Pengalaman Kerja
Kader
20 th
20-29
30-40
1 th
1-2
Parado Rato
2
2
1
1
4
5
Parado Wane
1
2
2
1
4
5
Kuta 1
2
1
1
3
4
Kanca 1
1
1
1
2
3
Jumlah 5
7
5 5 13 17
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991 51
Tabel 3. Latar belakang kader
Pelaksanaan pengumpulan data dikoordinir petugas gizi dan
disempumakan oleh dokter Puskesmas.
Pemilihan kadar diutamakan yang mempunyai sifat sosial,
berdedikasi tinggi, cekatan, ulet bekerja dan kekuatan fisik yang
balk sehingga dapat menunjang kegiatan ini dengan balk.
G. LATIHAN UNTUK TENAGA LAPANGAN
Kader dan petugas kesehatan yang mengumpulkan data
dilatih selama 2 hari dan penyuluhan rutin setiap turun posyandu
bagi kader. Latihan yang diberikan mengenai tata cara peng-
ukuran antropometri terhadap anak, cara memberikan penyu-
luhan terhadap orang tua dari anak yang diuji coba, cara men-
cantumkan basil pengukuran antropometri, interpretasi hasil
pengukuran, cara mendapatkan dan mengisi faktor risiko, pen-
jelasan tentang pesan kesehatan dan gizi dalam laporan, cara me-
manfaatkan/memasak Jakim, variasi masakan/menu dan cara
menghidangkannya. Latihan diberikan secara teori dan praktek.
Pada hari terakhir dilakukan uji validasi tentang pengukuran
antropometri, wawancara dengan anak/ibu dan kebenaran peng-
isian laporan; hasil pengisian data oleh kader divalidasi dengan
cara membandingkan dengan hasil pengukuran oleh pelatih.
Dengan adanya latihan dan uji validasi ini hasil penelitian benar-
benar akan dapat dipertanggung jawabkan.
H. BEBERAPA JENIS
MAKANAN PADAT/CAIR
(1)
Makanan ini dapat dibuat dari bahan-bahan yang biasa dan
tersedia di Parado ataupun dari bahan yang banyak dijual di
pasaran; oleh karena itu peranan tenaga kesehatan sangat di-
perlukan untuk dapat memberikan nasehat kepada para orang tua
tentang makanan JAKIM tersebut.
1) Makanan lumat.
a)
Nasi jawawut pisang uleg.
b)
Bubur jawawut tepung susu.
c)
Nasi jawawut tim saring.
2) Makanan lembek.
a)
Bubur jawawut tirn.
b)
Pure campur.
3) Minuman cair.
lb) Bubur tepung susu jawawut.
Dibuat dari tepung beras dan jawawut yang sudah ditumbuk
halus dicampur dengan susu dan dimasak sampai matang;
Kalori yang dikandung setiap porsi 302,1 kal.
lc) Nasi jawawut tim saying.
Campuran lengkap/bubur tim saring.
Bahan yang dipakai beras, jawawut, ikan/daging/ayam/
hati, tahu/tempe dan sayur tomat/wortel/bayam/labu siam. Ba-
han-bahan tersebut dimasak bersama dengan air sampai matang
kemudian disaring.
Kalori yang dikandung setiap porsi 251,1 kal.
2a)
Bubur tim.
Bahan dan cara membuatnya sama dengan nasi jawawut
tim saring.
Kalori yang dikandung 251,1 kal.
2b)
Pure campur.
Bahannya kentang, jawawut, ikan/daging/ayam/hati, tahu,
sayur, margarine; cars membuatnya: kentang, jawawut, ikan,
tahu, sayur direbus, kemudian dicampur dan ditambah margarine
dan dihaluskan.
Kalori yang dikandung setiap porsi 387,5 kal.
3a) Air kacang ijo madu.
Bahannya kacang ijo dan madu dengan air secukupnya; cara
membuatnya: kacang hijau/ijo dimasak, kemudian dihidangkan
dengan diberi madu secukupnya (23 sendok teh).
Kalori yang dikandung setiap porsi 115,6 kal.
Cara menghidangkan
1.
Makanan lumat/lembek bisa dihidangkan 23 kali/lebih
perhari, pagi siang sore.
2.
Minuman cair dihidangkan 3 kali/lebih perhari, pagi
siang sore.
Dari tabel 4 tampak bahwa JAKIM mengandung kalori,
vitamin, elektrolit dan lain-lain sangat besar, sehingga layak
kalau disebut makanan yang bergizi.
I. SUPER VISI
Dalam 1 bulan supervisi dilakukan 8 kali (2 kali/minggu),
aa
Tabel 4. Komposisi Jakim
(7)
Bahan Kalori
Protein
Lemak
Karbo-
hidrat
Ca
P
Fe Vit.
A Vit.
B Vit.
C Air Ukuran
Jawawut 334
9,7
3,5
73 28
311
6 - 0,5 -
11,9
100
mg
Kacang ijo
345
22,2
1,2
62
125
320
7
157
0,6
6
10
100 mg
Madu
294 0,3 - 79 5 16 1 - - 4 20 100
ml
Salinan dari buku gizi DINKES DATI II BIMA N.T.B.1974
Pendidikan
Pekerjaan
Umur
Lama Tugas
Desa
SD SNIP SMA Tani Dagang Lain 20
th 20-29 30-40 1
th 1-2 2
th
P. Rato
1
3
1
2
1
2
2
2
1
1
4
-
P.
Wane - 4 1 1 1 3 1 2 2 1 4 -
Kuta -
2
1
.
1 1 2 1 2 1 1 3 -
Kanca - 1 2 - - 3 1 1 1 1 2 -
a) Air kacang ijo madu.
la) Nasi jawawut pisang uleg.
Nasi pisang (ambon) sering diberikan
pada bayi berumur lebih dari 30 hari.
Nasi, jawawut yang dihaluskan ditumbuk
dimasak bersama dan pisang diuleg sampai
halus;
Kalori yang dikandung setiap porsi
213,7 kal.
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991
52
Tabel 5. Komposisl bahan kandungan dan serat
(4,7)
Kandungan
Energi Protein Lemak Karbo- Vit. A
Fe
Serat
No. Makanan
tambahan
Komposisi
(kal) (g)
(g)
hidrat
(g)
(SI) (mg) (g)
A.
1
2
3
B.
1
2
C.
MAKANAN LUMAT
Nasi jawawut
pisang uleg
Bubur jawawut
tepung susu
Nasi jawawut
tim saring
MAKANAN LEMBEK
Bubur jawawut tim
(campur lengkap)
Pure Campur
Air kacang hijau
nasi
50 mg
pisang
25 mg
jawawut 25 mg
tepung
15 mg
susu
25mg
gula
10 mg
air
200 ml
beras
25 mg
daging
30 mg
jawawut 25 mg
tempe
15 mg
sayur
40 mg
air
300 ml
beras
25 mg
daging
20 mg
tempe
15 mg
jawawut 25 mg
sayur
40 mg
kentang 100 mg
jawawut 25 mg
tahu
25 mg
sayur
40 mg
k. hijau
25 mg
air
200 ml
madu
10 ml
gula
10 ml
213,7
302,1
251,1
251,1
385,5
115,6
4,9
9,5
12,4
12,4
12,4
5,58
1,24
8,47
4,77
4,77
9,77
0,3
50,75
48,75
63,55
63,55
40,45
23,6
73
-
249,6
249,6
351,5
39,25
1,95
1,45
10,15
10,15
0,15
4,50
7,75
0,01
8,66
8,66
8,66
7,41
pada saat diadakan posyandu di tempat yang bersangkutan.
Supervisi ini dikerjakan oleh dokter puskesmas/peneliti, dan
bertanggung jawab alas hasil penelitian di tiap posyandu.
Supervisi dilakukan terhadap cakupan sampel, ketelitian
pengumpulan data, kelancaran peneliti dan memecahkan masalah
yang ada dilakukan bersama kader dan petugas puskesmas.
J. PENGOLAHAN DATA
Semua data yang diperoleh diperilcsa lagi terhadap ke-
mungkinan salah, dirangkum berdasarkan tiap posyandu, kemu-
dian dirangkum lagi untuk tiap desa lalu dilakukan tabulasi,
analisis data maupun grafik secara terperinci dan jelas.
Tabel 6. Pengalaman Orang Tua terhadap JAKIM
Pengalaman Orang Tua
Mudah Sulit
Alasan Sulit
N 96 N %
Pengertian JAKIM
91 100
-
-
-
Pengolahan JAKIM
89
97,8
2
2,2 sarana kurang
Nafsu makan anak
82
90,1
9
9,9 kurang suka, anak
Bahan JAKIM
91
100
-
-
sedang sakit
-
Bermanfaat
89
97,8
2
2,2 sarana kurang
Kelanjutan
81 89
10 11
sarana, kesibukan
dan
lain-lain
Mean
95,78%
Tabel 7. Pengalaman Kader Mengisi Kolom Laporan
Pengalaman Kader
Mudah Sulit
Alasan Sulit
N % N %
Identitas
17
100 - -
-
Latar belakang
16
94
1
6
orangtua tidak tahu
Riwayat persalinan
17
100
-
-
persis umur anaknya
-
Riwayat penyakit
12
71
5
29
orangtua tidak tahu
Pengertian JAKIM
17
100
-
-
penyakit anaknya
-
Mean
93%
Tabel 8. Pengalaman Kader sebagal Pengumpul Data
Pengalaman Kader
Mudah Sulit
Alasan Sulit
N %
N
%
Mengumpulkan anak
66
73,5
25
26,5 rumah jauh & tersebar
Cara menimbang
91
100
-
-
datang tidak tepat jam
jadwal lupa dan belum
tahu manfaatnya
-
Cara mengukur TB
91
100
-
-
-
Cara penyuluhan
84
92,3
7
7,7 faktor pendidikan
Mean
91,45%
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991 53
Tabel 9. Kesan Petugas Gizi/Kesehatan
Kesan
Ringan Berat
Alasan Berat
N % N %
Beban kerja
Pengisian form
laporan
Pengiriman form
laporan
4
6
6
57,1
85,7
85,7
3
1
1
43,9
14,3
14,3
- adanya tambahan
tugas
- adanya kenaikan
kunjungan ke Pos-
yandu
laporan dari kader ter-
lambat.
laporan dari kader ter-
lambat.
Mean
76,16%
Tabel 10. Hasil Penggunaan JAKIM terhadap Beret Badan Balita
Penggunaan
JAKIM
Sebelum
Sesudah
Desa Balita
Tidak
Tidak
Normal
Normal
Normal
Normal
N
% N % N % N %
P. Rato
36
26
71
10
29
1
4
35
96
P. Wane
26
17
73
6
27
2
7
21
93
Kuta 18
12
68
6
32
1
6
17
94
Kanca 14
10
74
4
26
1
9
13
91
Mean
71,5%
28,5%
6,5%
93,6%
Keterangan :
Data tersebut menggunakan pembanding dari data standard.
1.
Direktorat Gizi, DEPKES R.I. 1973.
Tabel berat badan menurut tinggi badan, umur 0 -5 tahun, tidak dibedakan
jenis kelamin.
2.
Data HARVARD 1959.
Berat badan menurut panjang/tinggi badan dan umur untuk anak 0 - 5
tahun, tidak dibedakan jenis kelamin.
Tabel 11. Laporan Puskesmas Parado Periode Juni - Oktober 1988
Desa
Juni Juli Agustus
September Oktober
S 200 206 214 209
213
K 200 206 214 209 213
P.
Rato
D 107 116 117 111 118
N
37
49
67
85
101
N/S
18,5
23,7
31,3
40,6
47,4
D/S
53,5
56,3
54,6
53,1
55,3
S
170
172
175
179
173
K
170
172
175
179
173
P. Wane D
96
98
98
111
112
N
30
41
56
75
91
N/S
17,6
23,8
32
41,8
52,6
D/S
56,4
45,3
56
62
64,7
S 152 161 171 167
173
K 152 161 171 167 173
Kuta
D
90
94
98
91
101
N
29
34
40
46
56
N/S
19,1
21,1
23,4
27,5
32,4
D/S
59,2
58,4
57,3
54,5
58,4
.
S
152
161
171
167
173
K
152
161
171
167
173
Kanca
D
50
59
53
59
69
N
19
23
31
42
56
N/S
14,9 17,5
24,8
32,3
42,9
D/S
39,4
45
42,4
45,4
53
Keterangan :
S
: Semua balita yang ada di daerah kelompok penimbangan.
K
: Semua balita yang terdaftar dan mempunyai KMS bulan ini.
D
: Semua balita yang ditimbang bulan ini.
N
: Semua balita yang naik timbangannya mengikuti pita warna KMS pada
bulan ini.
N/S : Tingkat pencapaian program (T.P.P).
D/S : Peran serta masyarakat.
Tabel 12. Laporan Bulanan Kecamatan tentang Penimbangan Balita.
(F/IIUGizi/88)
Desa
Juni Juli Agustus
September Oktober
P. Rato
T
N
33
37
29
49
24
67
22
85
12
101
P. Wane
T
N
20
30
20
41
22
56
20
75
11
91
Kuta
T
N
22
29
20
34
16
40
10
46
10
56
Kanca
T
N
10
29
9
34
10
40
10
46
5
56
Keterangan :
T : Jumlah Balita yang tidak naik berat badannya bulan ini.
N
: Jumlah Balita yang naik berat badannya bulan ini.
Tabel 13. Perbandingan Rata-rata (X) Berat Badan terhadap Umur
antara Standard Harvard, Uji dan Kontrol
Perempuan Laki-laki
Umur
(Tahun)
Standard Harvard
3
3
0
8
8
1
9,3
9,6
2
11 11,4
3
12,6
13
4
14,2
14,4
5
Uji
2,8
2,8
0
7,4
7,5
1
8,7
8,8
2
10,2
10,3
3
12,8
13
4
13,4
13,8
5
Kontrol
2,8
2,8
0
7,2
7,3
1
8,5
8,7
2
10
10
3
12,4
12,6
4
13,0
13,4
5
II. HASIL/PEMBAHASAN
JAKIM digunakan oleh 17 orang kader, masing-masing 5
orang dari desa Parado Rato, 5 orang dari desa Parado Wane,
4 orang dari desa Kuta dan 3 orang dari desa Kanca.
Dalam penelitian ini tidak disinggung hasil pengukuran
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991
54
antropometri Iainnya selain berat badan, karena tidak terdapat
peningkatan yang berarti dan belum ditemukan parameter yang
baku mengenai ukuran antropometri lainnya.
Pada Tabel 1 diuraikan mengenai anak teruji (sampel) yang
diambil berdasarkan distribusi umur dan jenis kelamin; distribusi
tersebut tidak merata pada ke 4 desa ini karena pemilihan di-
tujukan pada balita yang rutin/rajin datang ke posyandu tiap
bulan, seperti dilihat pada buku KMS yang lengkap penim-
bangannya, sehingga memudahkan monitoring.
Pada Tabel 2 mengenai lokasi dan jumlah kader, distribusi
kader juga tidak merata untuk tiap desa; hal ini disesuaikan
dengan banyaknya anak balita yang diteliti pada tiap desa/
posyandu. Sedangkan untuk pemilihan kader selanjutnya dilihat
latar belakangnya seperti pendidikan, pekerjaan, umur maupun
lama tugas sebagai kader kesehatan. Selain dasar-dasar pemilih-
an kader seperti tersebut di atas diutamakan juga yang mem-
punyai sifat sosial, berdedikasi tinggi, cekatan, semangat kerja,
kekuatan fisik/kesehatannya baik. Tidak ada hubungan antara
tingkat pendidikan kader dengan hasil pelaksanaan tugasnya.
Beberapa jenis makanan yang dapat dikombinasikan
dengan JAKIM sebenarnya tergantung dari kemampuan
improvisasi memasak, dengan harapan anak mau/suka makan
sehingga usaha kegiatan ini tercapai.
Pada Tabel 4 diuraikan lebih lanjut dan terperinci kom-
posisi JAKIM mengenai kandungan vitamin, mineral, karbo-
hidrat, protein, lemak dan lain-lain; karena kandungannya yang
tinggi itulah penulis berusaha mencobakan makanan tersebut
terutama pada balita dengan harapan meningkatkan program
UPGK. Demikian pula pada Tabel 5, diuraikan jenis makanan
yang dapat dibuat/dicampur dengan JAKIM sehingga menjadi
makanan yang bergizi tinggi dan tidak tertutup kemungkinan
untuk dikombinasikan dengan jenis makanan lain.
Tabel 6 menunjukkan pengalaman orang tua dari balita
yang dicoba dengan JAKIM. Dari beberapa pertanyaan didapat-
kan hasil rata-rata 95,87%; jadi kesimpulannya orang tua ter-
sebut sangat menguasai penggunaan JAKIM; program yang
mencapai 89% diharapkan bisa berkelanjutan meskipun pem-
berian bahan JAKIM sudah dihentikan karen masyarakat di-
harapkan bisa mencukupi kebutuhannya sendiri.
Pengalaman kader dalam mengisi kolom laporan seperti
tampak pada Tabel 7 memberikan gambaran mengenai ke-
mampuan kader dalam mengisi kolom-kolom berdasarkan per-
tanyaan yang diajukan oleh kader dan jawaban dari orang tua
balita tersebut. Pada umumnya, kader (> 93%) menyatakan
mudah mengisi kolom-kolom tersebut, kecuali kolom tentang
riwayat penyakit: 71% kader menyatakan mudah dan 29%
menyatakan sulit mengisinya. Kesulitan terutama mengenai
penyakit apa yang pernah diderita anak tersebut, karena baik
orang tua maupun kader kurang mengerti tentang penyakit; juga
tergantung pada pendidikan orang tua serta kesadaran berobat
pada Puskesmas.
Dari berbagai observasi di lapangan tampak bahwa kader
cukup bergairah kerjanya berkat adanya latihan-latihan, kader
merasa bangga karena kerjanya membuahkan hasil yang me-
muaskan dan lebih termotivasi untuk kerja lebih teliti/tekun
karena mengetahui, menyadari tujuan serta manfaat dari hasil
kerjanya ini.
Kader yang lebih pandai dan lebih trampil yang lebih dahulu
menguasai teknologi sederhana ini menerangkan pada kader lain
dengan cara/bahasa mereka sendiri, sehingga akhirnya semua
kader menguasai kemampuan ini dan melakukan kerja dengan
baik. Kader juga menguasai jawaban tentang pertanyaan per-
kembangan anak. Kader dapat memberikan nasehat yang praktis
kepada orang tua balita terutama tentang JAKIM. Karena gairah
kerja yang demikian besarnya maka kader berusaha semaksimal
mungkin untuk meningkatkan gizi anak di wilayah kerjanya.
Parado yang mempunyai ketinggian kurang lebih 1200 m dari
permukaan laut dengan udara yang cukup sejuk tidak meng-
halangi kerja siang hari. Beberapa ketrampilan baru juga mereka
dapatkan seperti cara menimbang balita, cara mengukur tinggi
badan, cara memberikan penyuluhan dan lain-lain.
Mengumpulkan anak balita untuik diperiksa kesehatannya
cukup menyulitkan karena pengantar seperti orang tua perlu
memiliki kesadaran kesehatan anaknya; selain itu anak tersebar
tempat tinggalnya, sehingga banyak di antara mereka terlalu jauh
dengan tempat pemeriksaan kesehatan/posyandu/puskesmas,
menyebabkan pengisian KMS tidak rutin setiap bulannya. Ada-
nya JAKIM (peragaan membuat makanan dengan JAKIM
maupun makanan langsung di tempat) merupakan daya tarik
untuk meningkatkan kunjungan di posyandu.
Pada tabel 9 diutarakan kesan petugas kesehatan dalam
menjalankan kegiatan; hal ini bertujuan untuk mengetahui ke-
sulitan/hambatan dalam bertugas, sehingga bila ada kegiatan
lain/serupa dapat lebih lancar. Dengan hasil jawaban 76,16%
secara keseluruhan pekerjaan ini dapat dianggap lancar. Se-
dangkan kesulitan hanya pada beban kerja dari petugas kese-
hatan (43,9%) karena sebagian dari mereka mempunyai pe-
kerjaan lain sepulang dari puskesmas (bertani, berdagang dan
lain-lain; dengan adanya tambahan tugas ini mereka merasa
cukup berat, tetapi secara keseluruhan menunjukkan semangat
yang tinggi.
Tabel 10 menunjukkan peningkatan berat badan pada garis
normal maupun di atas garis normal sebesar 93,5%. Pada balita
yang naik berat badannya tersebut dalam observasi selama 3
bulan itu didapatkan angka kesakitan 6,9%, artinya dari 86 balita
yang naik timbangannya hanya 6 orang anak yang menderita
sakit antara bulan 7 -10 (3 bulan) itupun hanya penyakit ringan.
Balita yang diperiksa kesehatannya oleh petugas kesehatan
diberikan imunisasi, dan semua balita yang teruji diharapkan
mendapat imunisasi yang teratur dan lengkap. Dengan demikian
JAKIM merupakan sarana yang tepat untuk mendorong balita
datang ke posyandu, sehingga selain meningkatkan gizi juga
meningkatkan target pencapaian imunisasi.
Tabel 13 merupakan perbandingan rata-rata (X) antara
standard Harvard uji (anak balita yang diberi JAKIM) dan
kontrol (anak balita yang tidak diberi JAKIM). Meskipun hasil-
nya cukup menggembirakan, namun masih ada beberapa balita
yang tidak naik timbangannya, hal ini disebabkan adanya be-
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991 55
berapa hambatan seperti :
1.
Kurangnya pengertian/kesadaran orang tua mengenai ma-
kanan 4 sehat 5 sempurna dan JAKIM sebagai makanan
tambahan.
2.
JAKIM yang diberikan cuma-cuma hanya untuk seorang anak
balita dibagikan oleh orang tuanya kepada saudaranya yang
lain, sehingga tidak tercapai target.
3.
Transport yang cukup jauh sehingga menyulitkan peme-
riksaan kesehatan maupun pengawasan makanan.
4.
Anggaran JAKIM yang terbatas.
5.
Masih adanya kesulitan/hambatan oleh kader.
6.
Pengertian orang tua mengenai kesehatan masih kurang.
7.
Kebersihan anak dan lingkungan bermain kurang diperhati-
kan orang tua.
8.
Dan beberapa hambatan lainnya.
KESIMPULAN
1. Penggunaan JAKIM sebagai makanan tambahan dapat
meningkatkan pencapaian program UPGK, terbukti dengan ke-
naikan berat badan sesudah pemberian JAKIM mencapai 93,5%.
Demikian juga dengan kunjungan ke posyandu yang meningkat
kurang lebih 10% sehingga meningkat pula jumlah anak yang
ditimbang maupun diimunisasi.
2. Lebih dari 93% jumlah kader tidak mengalami kesulitan
mengisi kolom identitas, latar belakang, riwayat persalinan,
pengertian tentang JAKIM. Sedangkan pada kolom riwayat
penyakit hanya 71% kader menyatakan mudah dan 29% kader
menyatakan sulit mengisinya. Hal ini disebabkan karena kader
kurang mengerti mengenai penyakit, juga informasi mengenai
penyebab dari orang tua si anak tidak jelas.
3. Lebih dari 92% jumlah kader tidak mengalami kesulitan
dalam mengukur tinggi badan, menimbang berat badan dan
memberikan penyuluhan serta mengisikan grafik berat pada
buku KMS, tetapi 26,5% kader mengalami kesulitan dalam hal
mengumpulkan anak balita untuk pemeriksaan.
Beberapa hambatan :
a.
Rumah tempat tinggal anak saling berjauhan, meskipun
sudah dibagi perposyandu dan dibagi lagi secara area dalam satu
posyandu.
b.
Orang tua/pengantar belum mempunyai kesadaran akan
perlunya datang ke posyandu.
c.
Pengantar lupa akan jadwal ke posyandu.
d.
Jadwal pemeriksaan kesehatan/posyandu berubah karena
suatu sebab seperti : musim tanam, musim panen dan lain-lain.
e.
Pemerintab desa kurang aktif dalam menggerakkan ma-
syarakat ke posyandu.
4. Pada umumnya kader bergairah kerjanya, karena telah
mendapatkan latihan yang menurut mereka sangat sesuai dengan
praktek di lapangan, menguasai cara menimbang berat badan,
mengukur tinggi badan, mengisi dan menginterpretasikan hasil
pencatatan dalam KMS dengan benar. Selain itu mengetahui
sedikit mengenai penyakit terutama penyakit anak, dapat meng-
identifikasikan anak balita mana yang perlu mendapat pelayanan
kesehatan lebih baik, dapat memberikan penyuluhan gizi dan
a
kesehatan kepada masyarakat, merasa bangga mendapat tugas
kemanusiaan tersebut.
5. Petugas gizi/petugas kesehatan menyatakan mudah mengisi
kolom hasil pemeriksaan kesehatan. Kolom ini sengaja untuk
diisi oleh petugas kesehatan. Anak balita yang diuji coba
dinyatakan 100% baik kesehatannya. Hal ini tidak dimasukkan
dalam laporan karena hanya merupakan pemeriksaan kesehatan
umum.
7.
Semua petugas kesehatan menyatakan tidak mengalami
kesulitan dalam mengukur tinggi badan, berat badan anak balita,
menimbang dan memasukkan hasil penimbangan ke dalam
tabel/grafik.
8.
Sebanyak 43,9% petugas kesehatan/gizi menyatakan kegiatan
penelitian ini merupakan suatu beban kerja, terutama bagi
puskesmas Parado yang mempunyai tenaga sedikit; beban ini
lebih ringan bila petugas kesehatan ditambah.
9.
Lebih dari 85% jumlah petugas kesehatan menyatakan
mudah dan ringan dalam hal pengisian, pengiriman formulir
sebagai laporan.
SARAN
1.
Pelatihan kader seperti dilakukan dalam penelitian ini
sangat diperlukan untuk pelaksanaan PMT dengan JAKIM di
masyarakat. Jadi seandainya JAKIM akan diprogramkan ke
tingkat regional/nasional, maka pelatihan kader dan petugas
kesehatan harus termasuk pula di dalamnya.
2.
Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam hal
pengisian kolom pada formulir yang ada.
3.
Pemeriksaan pada kunjungan I, pengukuran antropometri
dan pengisian kolom oleh kader relatif memerlukan waktu lama,
sehingga sebaiknya petugas kesehatan/gizi menolong atau be-
kerjasama dengan kader mengisi kolom, tetapi pada kunjungan
berikutnya cukup kader saja yang melakukannya.
4.
Hubungan kerjasama kader dan petugas kesehatan perlu
ditingkatkan.
5.
Perlunya bantuan moril maupun materiil untuk meningkatkan
pencpaian program UPGK sehingga diharapkan mencapai
semua populasi anak balita dan bila memungkinkan semua anak
pra sekolah.
KEPUSTAKAAN
1.
Samsudin, Aryatmo T. Gizi dan Tumbuh Kembang, FKUI Jakarta 1985.
101-117.
2.
Sudiyanto. Corak pertumbuhan anak Indonesia dan lingkungan. Simposium
Anak dan Lingkungan 1979, 37.
3.
Sugianto M, Sudiyanto, Sularyo T, Sudjarwo R. Berat badan, Tmggi badan,
Lingkar lengan atas anak-anak SD di Kelurahan Utan Kayu, Kongres
Nasional Ilmu Kesehatan Anak (KONIKA) III, Surabaya 1974.
4.
Dwi Atmadji Soejoso. Penggunaan Kartu Menuju Sehat dan Denver
Developmental Screening test untuk monitoring tumbuh kembang anak.
Dalam Continuing Education XIII lmu Kesehatan Anak FK UNAIR R.S.U.D.
dr. Sutomo Surabaya, 1985. Hal 27-36.
5.
Palmer S, Horn S. Feeding problems in children. Pediatric nutrition in
developmental disorders. Springfield USA: Charles C Thomas publ 1978,
pp. 107-29.
6.
Agusman S, Samsudin. Kesulitan makan pada anak pra sekolah dan usaha
mengatasinya, KPPIK IX FKUI 1976.
7.
Daftar komposisi bahan makanan, Direktorat Gizi Masyarakat, Depkes RI
1973.