background image
Informasi Produk
Hepasil
®
Menurunkan Enzim Hati
dan Meningkatkan Respon Imun
pada Penderita Hepatitis Virus Kronik
Penyakit hati kronik masih menjadi masalah besar pada banyak
negara di dunia ini, termasuk juga di Indonesia. Berbagai faktor dapat
berperan sebagai penyebab hepatitis kronik, seperti virus hepatitis, kon-
sumsi alkohol, obat-obatan, penyakit hati bawaan maupun perlemakan hati
yang tidak disebabkan alcohol.
Dari berbagai penyebab hepatitis kronik, yang cukup penting di-
antaranya adalah virus hepatitis B dan C. Virus hepatitis B diperkirakan
telah menginfeksi 2 miliar manusia di dunia, dan lebih dari 300 juta
peduduk dunia menderita infeksi kronik. Di Indonesia prevalensi HbsAg
positif berkisar antara 3,5% sampai dengan 9,1%, atau rata-rata 5,5%. Di
beberapa tempat bahkan dilaporkan angka yang sangat tinggi, yaitu
mencapai 17%.
Hepatitis C saat ini masih berada di tempat kedua sebagai
penyebab hepatitis virus kronik di Indonesia, dengan prevalensi 2,1% .
Di Indonesia, hanya sebagian kecil penderita hepatitis B dan C yang
bisa menjalani pengobatan, karena biaya pengobatan yang tidak terjangkau
dan ketatnya syarat pengobatan. Untuk pengobatan hepatitis B dapat di-
berikan lamivudine per-oral atau interferon injeksi. Sedangkan untuk
hepatitis C biasanya diberikan kombinasi interferon injeksi dan ribavirin
peroral. Pasien harus memenuhi beberapa kriteria sebelum mendapat
pengobatan. Misalnya syarat untuk hepatitis B kronik yang akan mendapat
terapi lamivudine adalah peningkatan SGPT > 2 kali batas normal dan
HBV DNA positif untuk. Sedangkan syarat terapi interferon dan ribavirin
adalah: peningkatan SGOT dan SGPT, HCV RNA positif, tidak ada
masalah kejiwaan, tiroid, anemia dan beberapa keadaan lain yang bisa
memburuk karena pemberian interferon. Selain itu, genotipe virus, disiplin
dan keteraturan dalam menjalani pengobatan, kesiapan untuk menerima
efek samping pengobatan juga mempengaruhi keberhasilan terapi. Data di
Poliklinik Hepatologi RSCM sepanjang tahun 2001, dari 62 penderita
hepatitis C yang berkunjung hanya 2 orang yang memenuhi syarat dan
sanggup menjalani terapi interferon.
Masalah berikutnya yang harus dihadapi adalah kegagalan peng-
obatan. Terapi interferon selama 6-12 bulan pada hepatitis B dengan
kenaikan SGPT lebih dari 3 x batas normal hanya memberikan kesembuh-
an sekitar 30-40% atau lebih rendah dari kelompok dengan kenaikan
SGPT 1,3-3 x batas normal. Pemberian Lamivudine 100 mg perhari se-
lama 1 tahun hanya menghasilkan serokonversi 65% (SGPT sebelum te-
rapi > 5x batas normal), 25% (SGPT sebelum terapi >2-5 x batas normal),
dan turun menjadi 5% jika SGPT sebelum terapi <2x batas normal.
Pengobatan hepatitis C juga belum memberikan hasil yang memuas-
kan. Pada awalnya interferon merupakan satu-satunya pilihan dengan
keberhasilan terapi (sustained virological responses) antara 6-16%. Se-
lanjutnya monoterapi dengan interferon mulai ditinggalkan. Kesembuhan
yang dicapai meningkat, yaitu 33-41%, namun jelas belum memenuhi
kriteria sempurna, karena setelah pengobatan masih ada kelompok yang
tetap mengidap virus Hepatitis C.
Kegagalan terapi dan besarnya kelompok yang tidak memenuhi
syarat untuk mendapatkan obat anti virus membuat para ahli tertarik untuk
menggunakan apa yang selama ini disebut sebagai terapi alternatif (com-
plementary and alternative medicine = CAM). Preparat herbal yang paling
sering dipakai untuk penyakit hati adalah Sylimarin.
Saat ini PT. Kalbe Farma Tbk. telah memasarkan Hepasil
®
suatu
hepatoprotektor dengan komposisi: Echinacea 150 mg, Sylibum marianum
extrac sicc (setara dengan 35 mg Sylimarin), Curcuma xanthorrhizae
extrac sicc (setara dengan 20 mg Oleum xanthorrizae), dan Curcuma
extrac sicc soluble 10 mg.
Sylimarin berasal dari ekstrak Sylibum marianum (milk thistle).
Sylimarin mempunyai aktivitas sebagai anti oksidan (pembersih radikal
bebas) serta memiliki kemampuan anti fibrosis melalui mekanisme yang
belum diketahui. Bahkan disebutkan bahwa potensi anti oksidan Sylimarin
10 kali lebih kuat dibandingkan vitamin E. Sylimarin juga mempunyai
sifat menghambat peroksidasi lipid di dalam membran sel, melindungi sel
Kupfer dan merangsang RNA untuk meningkatkan sintesa sel hati.
Sylimarin terbukti menurunkan kadar enzim SGPT dan SGOT pada pen-
derita hepatitis virus.
Curcuma xanthorrhizae atau lebih dikenal sebagai temulawak me-
miliki efek antiseptik, merangsang sekresi empedu dan berkhasiat sebagai
anti hepatotoksik.
Echinacea dikenal sebagai fitofarmaka yang mempunyai kemam-
puan imunostimulan.
Dari sebuah penelitian yang dilakukan di Bagian Hepatologi FKUI
RSCM, pada pasien hepatitis B dan C yang mendapat Hepasil
®
3 x 1
kapsul selama 12 minggu, diperoleh hasil:
1. Penurunanan kadar enzim transaminase.
Nilai rata-rata enzim transaminase yang pada awalnya lebih dari 2,5
kali batas atas normal menurun secara bermakna dengan cepat pada
minggu kedua dan selanjutnya mendekati kadar normal pada minggu ke-
empat atau minggu ke-enam.
Tabel 1. Penurunan kadar SGOT dan SGPT awal vs akhir, pasien
hepatitis B dan C yang mendapat Hepasil selama 12 minggu.
Nilai rata-rata SGOT
Nilai rata-rata SGPT
Awal terapi
Akhir terapi
Awal terapi
Akhir terapi
Hepasil
91,2
± 66,52
33,6
± 20,09
92,4
± 60,29
35,9
± 28,88
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
SGPT
SGOT
Grafik 1. Penurunan kadar SGOT dan SGPT pasien hepatitis B dan C
yang mendapat Hepasil selama 12 minggu.
Kesimpulan : (paired t-test)
-
SGPT awal vs akhir p < 0,001
-
SGOT awal vs akhir p < 0,001
Sumber:
Disarikan dari makalah "Efek Echinaceae pada Respons Imun Penderita Hepatitis Virus Kronik" yang disampaikan oleh Prof. Dr. Nurul Akbar, SpPD. KGEH.
Dalam PIN PAPDI ke-1, Jokjakarta, Mei 2003.
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003 55
background image
2. Peningkatan kadar rata-rata sel T dan sel NK pada pasien yang
mendapat Hepasil
®
seperti tampak pada tabel di bawah ini:
Terjadinya peningkatan kadar rata-rata sel T dan sel NK pada akhir
pengobatan Hepasil menunjukkan bahwa Hepasil
®
meningkatkan respon
imunologi pada penderita hepatitis walaupun peningkatan tersebut tidak
berbeda bermakna secara statistik.
Dari data di atas dapat disimpulkan, bahwa Hepasil
®
dapat menurun-
kan kadar rata-rata SGOT dan SGPT (bermakna) serta dapat meningkat-
kan sel T dan sel NK (tidak berbeda bermakna) sehingga Hepasil
®
sebagai
suatu hepatoprotektor merupakan salah satu alternatif yang dapat diberikan
pada penderita hepatitis B dan C kronik, khususnya bagi penderita
Indonesia yang menghadapi kendala untuk mendapatkan obat anti virus
dengan harga terjangkau.
Tabel 2. Peningkatan kadar sel T dan sel NK, awal vs akhir pasien
hepatitis B dan C yang mendapat Hepasil selama 12 minggu.
Nilai rata-rata sel T
Nilai rata-rata sel NK
Awal terapi
Akhir terapi
Awal terapi
Akhir terapi
Hepasil
1211,8
±
387,78
1257,7
±
403,05
369,5
± 179,93 402,5 ± 294,95
0
200
400
600
800
1000
1200
1400
A
B
Sel Nk Awal
Sel Nk Akhir
Sel T Awal
Sel T Akhir
1211,8
1257,7
368,5
402,5
Grafik 2. Peningkatan kadar sel T dan sel NK pasien hepatitis B dan C
yang mendapat Hepasil selama 12 minggu
Kesimpulan : (paired t-test)
- (A) Sel T awal vs akhir p = 0,46
- (B) Sel NK awal vs akhir p = 0,54
Cermin Dunia Kedokteran No. 140, 2003
56