TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Imunologi Kanker
Binarwan Halim, M. Fauzie Sahil
Sub Bagian Onkologi Ginekologi, Bagian Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, RSHAM-RSPM, Medan
ABSTRAK
Sel kanker dikenal oleh tubuh sebagai bahan asing, sehingga mekanisme
imunologi tubuh akan bereaksi secara humoral maupun seluler. Tubuh mempunyai
kemampuan immunosurveillance terhadap semua sel kanker maupun sel yang
bermutasi untuk mencegah perkembangan sel kanker tersebut, namun terkadang terjadi
immunological escape yaitu sel kanker luput dari pengawasan sistem imun, sehingga
terjadilah kanker. Penderita kanker sendiri juga mengalami supresi imun dan modalitas
tetapi kanker juga mempengaruhi sistem imun itu sendiri.
PENDAHULUAN
Selama dekade terakhir ini perkembangan imunologi
berjalan sangat pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Segala
sesuatu yang tidak dapat diterangkan dalam dunia kedokteran
sekarang dicoba untuk dihubungkan dengan gangguan sistem
imun manusia. Dugaan ini menyebabkan dilakukannya
berbagai penelitian di bidang imunologi yang menghasilkan
banyak temuan yang menyokong adanya keterlibatan sistem
imun dan etiologi dan patogenesis berbagai kelainan yang
terjadi.
Dalam onkologi telah pula dikembangkan cabang ilmu
imunologi kanker. Sebenarnya ilmu ini mulai berkembang
sejalan dengan berkembangnya imunologi transplantasi, yang
menganggap sel kanker sebagai benda asing yang
berimplantasi ke tubuh dan menimbulkan reaksi imunologis.
Sesuai dengan apa yang dinyatakan Paul Ehrlich dalam
hipotesanya yang menyebutkan bahwa neoplasma ganas adalah
bersifat antigenik yang dikenal sebagai benda asing oleh
pejamu, sel kanker dikenal sebagai nonself dan sel normal
dikenal sebagai self
(1)
.
Beberapa dugaan adanya keterlibatan sistim imun dalam
kanker antara lain sebagai berikut: Regresi spontan kanker,
melanoma yang sembuh sendiri, regresi metastasis setelah
reseksi neoplasma primer, regresi kanker setelah dosis
nonsitotoksik kemoterapi, munculnya kembali metastasis
setelah periode laten yang lama, kegagalan sel kanker yang
bersirkulasi dalam darah untuk membentuk daerah metastasis,
infiltrasi kanker oleh sel mononuklear, insidensi kanker yang
lebih tinggi pada penderita imunodefisiensi, setelah
imunosupresi klinis, dan peningkatan kejadian keganasan pada
usia tua. Sedangkan pembuktian secara klinis pada hewan
dilakukan oleh Gross (dikutip dari
(2)
) yang mendapatkan
bahwa tikus yang mendapat imunisasi bahan sel kanker
ternyata menolak menerima transplantasi sel kanker yang sama
sedangkan yang tidak mendapat imunisasi mengalami
pertumbuhan kanker. Sedang Prehn dan Main (dikutip dari
(2)
)
melaporkan pengguna Methylcholantrene untuk merangsang
terjadinya fibrosarcoma. Mereka mengamati tikus yang
diimunisasi dengan sel kanker yang ditransplantasikan lagi
ternyata tidak dapat tumbuh, sedangkan bila dilakukan
imunisasi dengan sel normal ternyata tidak menimbulkan
kekebalan terhadap kanker tersebut.
A. RESPONS SISTEM IMUN TERHADAP SEL
KANKER
Sel kanker dikenal sebagai nonself yang bersifat antigenik
pada sistem imunitas tubuh manusia sehingga ia akan
menimbulkan respons imun secara seluler maupun humoral.
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001 47
Respons sistem imun terhadap sel kanker dapat dibagi dua
yaitu humoral dan seluler.
1)
Peranan sistem imun humoral terhadap sel kanker
Imunitas humoral lebih sedikit berperan daripada imunitas
seluler dalam proses penghancuran sel kanker, tetapi tubuh
tetap membentuk antibodi terhadap antigen tumor.
Dua mekanisme antibodi diketahui dapat menghancurkan
target kanker yaitu :
a)
Antibody dependent cell mediated cytotoxicity (ADCC)
Pada ADCC antibodi IgG spesifik berikatan terhadap
Tumor Associated Antigen (TAA) dan sel efektor yang
membawa reseptor untuk bagian Fc dari molekul Ig. Antibodi
bertindak sebagai jembatan antara efektor dan target. Antibodi
yang terikat dapat merangsang pelepasan superoksida atau
peroksida dari sel efektor. Sel yang dapat bertindak sebagai
efektor di sini adalah limfosit null (sel K), monosit, makrofag,
Lekosit PMN (polimorfonuklear) dan fragmen trombosit. Ini
akan mengalami lisis optimal dalam 4 sampai 6 jam
(1,2)
.
b) Complement
Dependent
Cytotoxicity
Di sini pengikatan antibodi ke permukaan sel tumor
menyebabkan rangkaian peristiwa komplemen klasik dari C'
1,4,2,3,5,6,7,8,9. Komponen C' akhir menciptakan saluran atau
kebocoran pada permukaan sel tumor. IgM lebih efisien
dibanding IgM dalam merangsang proses complement
dependent citotoxicity
(3,4)
.
2) Peranan sistem imun seluler sel kanker
Pada pemeriksaan patologi-anatomik tumor, sering
ditemukan infiltrat sel-sel yang terdiri atas sel fagosit
mononuklear, limfosit, sedikit sel plasma dan sel mastosit.
Meskipun pada beberapa neoplasma, infiltrasi sel mononuklear
merupakan indikator untuk prognosis yang baik, pada
umumnya tidak ada hubungan antara infiltrasi sel dengan
prognosis. Sistem imun yang nonspesifik dapat langsung
menghancurkan sel tumor tanpa sensitisasi sebelumnya.
Efektor sistem imun tersebut adalah sel Tc, fagosit
mononuklear, polinuklear, Sel NK
(3,5)
. Aktivasi sel T
melibatkan sel Th dan Tc. Sel Th penting pada pengerahan dan
aktivasi makrofag dan sel NK.
a) Sitotoksitas melalui sel T
Kontak langsung antara sel target dan limfosit T
menyebabkan interaksi antara reseptor spesifik pada
permukaan sel T dengan antigen membran sel target yang
mencetuskan induksi kerusakan membran yang bersifat lethal.
Peningkatan kadar cyclic Adenosine Monophosphate (cAMP)
dalam sel T dapat menghambat sitotoksisitas dan efek inhibisi
Prostaglandin (PG) E 1 dan PGE2 terhadap sitotoksisitas
mungkin diperantarai cAMP. Mekanisme penghancuran sel
tumor yang pasti masih belum diketahui walaupun pengrusakan
membran sel target dengan hilangnya integritas osmotik
merupakan peristiwa akhir. Pelepasan Limfotoksin (LT),
interaksi membran-membran langsung dan aktifitas T cell
associated enzyme seperti phospholipase diperkirakan
merupakan penyebab rusaknya membran
(1,6)
.
Interleukin (IL), interferon (IFN) dan sel T mengaktifkan
pul asel Natural Killer (NK). Sel ini berbentuk large
granulocytic lymphocyte (LGL). Kebanyakan sel ini
mengandung reseptor Fc dan banyak yang mengekspresikan
antigen sel T. Lisis sel target dapat terjadi tanpa paparan
pendahuluan dan target dapat dibunuh langsung. Sel NK
menunjukkan beberapa spesifisitas yang lebih luas terhadap
target tumor yang biasanya dibunuh lebih cepat dibanding sel
normal
(1,2)
. Kematian sel tumor dapat sebagai akibat paparan
terhadap toxin yang terdapat dalam granula LGL, produksi
superoksida atau aktivitas protease serine pada permukaan sel
efektor. Sel NK diaktivasi IFN dan II-2 in vitro. Aktivitas NK
dapat dirangsang secara in vitro dengan pemberian IFN,
inducer atau imunostimulan seperti Bacille Calmette Guerin
(BCG) dan Corynebacterium (C) parvum. Penghambatan
aktivasi sel NK terlihat pada beberapa PG (PGE1, PGE2,
PGA1 dan PGA2), phorbol ester, glukokortikoid dan
siklofosfamid. Pada banyak kasus, agen ini langsung
mempengaruhi aktivitas NK, sel supresor juga dapat
mempengaruhi sel NK. Sel NC (Natural Cytotoxic) juga
teridentifikasi menghancurkan sel tumor. Berbeda dengan sel
NK, sel NC kelihatannya distimulasi oleh IL-3 dan relatif tahan
terhadap glukokortikoid dan siklofosfamid. Populasi LAK
(lymphocyte activated killer) cell dapat tumbuh di bawah
pengaruh IL-2
(7,8)
.
b) Sitotoksisitas melalui makrofag
Makrofag yang teraktivasi berikatan dengan sel neoplastik
lebih cepat dibanding dengan sel normal. Pengikatan khusus
makrofag yang teraktivasi ke membran sel tumor adalah
melalui struktur yang sensitif terhadap tripsin. Pengikatan akan
bertambah kuat dan erat dalam 1 sampai 3 jam dan ikatan ini
akan mematikan sel. Sekali pengikatan terjadi, mekanisme
sitotoksisitas melalui makrofag berlanjut dengan transfer enzim
lisosim, superoksida, protease, faktor sitotoksis yang resisten
terhadap inhibitor protease dan yang menyerupai LT
(1,3)
. Sekali
teraktivasi, makrofag dapat menghasilkan PG yang dapat
membatasi aktivasinya sendiri. Makrofag yang teraktivasi
dapat menekan proliferasi limfosit, aktivitas NK dan produksi
mediator. Aktivasi supresi dapat berhubungan dengan
pelepasan PG atau produksi superoksida. Sebagai tambahan,
makrofag dapat merangsang dan juga menghambat
pertumbuhan sel tumor, yang bergantung dengan bagian yang
rentan dari sel tumor, ratio makrofag dengan sel target dan
status fungsional makrofag. Indometasin dapat menghambat
efek perangsangan makrofag pada pertumbuhan tumor ovarium
yang diperkirakan prostaglandin mungkin berperan sebagai
mediatornya
(2)
. Macrophage derived factor dapat merangsang
pertumbuhan tumor dan menekan imunitas sel T. Akumulasi
makrofag dalam tumor mungkin menggambarkan interaksi
makrofag kompleks dari beberapa faktor dan juga kinetik
produksi monosit oleh sumsum tulang. Jadi status fungsional
makrofag dalam tumor juga berperan selain jumlahnya
(5,9)
.
Makrofag bila diaktifkan oleh limfokin, endotoksin, RNA
dan IFN akan menunjukkan aktivasi berupa adanya perubahan
morfologik, biokimiawi dan fungsi sel. Makrofag yang
diaktifkan biasanya menjadi sitotoksik nonspesifik terhadap sel
tumor in vitro. Makrofag dapat pula berfungsi sebagai efektor
pada ADCC terhadap tumor. Di samping itu makrofag dapat
menimbulkan efek negatif berupa supresi yang disebut
makrofag supresor. Hal tersebut dapat disebabkan oleh tumor
itu sendiri atau akibat pengobatan
(2,10)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001
48
B. IMMUNOSURVEILLANCE
KANKER
Immunosurveillance adalah suatu mekanisme yang
digunakan oleh tubuh untuk bereaksi melawan setiap antigen
yang diekspresikan oleh neoplasma.
Fungsi primer dari sistem imun adalah untuk mengenal
dan mendegradasi antigen asing (nonself) yang timbul dalam
tubuh. Dalam immunosurveillance, sel mutan dianggap akan
mengekspresikan satu atau lebih antigen yang dapat dikenal
sebagai nonself. Sel mutan dianggap sering timbul dalam tubuh
manusia dan tetapi secara cepat dihancurkan oleh mekanisme
imunologis. Pada tikus yang kehilangan imunitas seluler dan
terpapar agen onkogenik akan lebih cepat timbul tumor. Ini
dianggap merupakan bukti mekanisme immunosurveillance.
Pasien dengan stadium lanjut lebih sering dalam keadaan
imunosupresi dibanding pasien stadium awal. Pasien yang
memakan obat imunosupresif setelah transplantasi renal
mengalami peningkatan insidensi keganasan (100 kali lebih
besar dari kontrol). Hampir 50% tumor pada pasien
imunosupresi berasal dari jaringan mesenkim, contohnya
sarkoma sel retikulum, tapi insiden neoplasia intraepitelial
seperti CIN (Cervical Intraepithelial Neoplasia)
(1,2)
juga lebih
banyak dilaporkan.
Walaupun ada penjelasan bagaimana immunosurveillance
mengatasi kanker, tapi kurang bukti bahwa mekanisme imun
dapat menghalangi pertumbuhan kanker. Sel NK ternyata
paling berperan dalam immunosurveillance tumor, ia dapat
membunuh sel tumor langsung tanpa perlu disensitisasi terlebih
dahulu. Dalam immunosurveillance dianggap ada keadaan
imunosupresi yang menyertai keadaan tumbuhnya tumor,
terutama depresi sel NK. Salah satu syarat induksi tumor
dengan bahan karsinogenik pada hewan percobaan adalah
adanya gangguan pada sistim imun terutama sel NK
(3,6,10)
.
C. IMMUNOLOGICAL
ESCAPE
Walaupun ada sistim immunosurveillance, kanker dapat
luput dari pengawasan sistem imun tubuh bila faktor-faktor
yang menunjang pertumbuhan tumor lebih berpengaruh
dibanding dengan faktor-faktor yang menekan tumor, sehingga
terjadi apa yang dinamakan immunological escape kanker
(6)
.
Faktor-faktor yang mempengaruhi luputnya tumor dari
pengawasan sistem imun tubuh sebagai berikut:
1) Tidak adanya antigen yang sesuai
Antigen baru mungkin tidak disintesis oleh semua tumor,
mungkin tidak diekspresikan pada semua permukaan sel atau
tidak dipresentasikan dalam bentuk yang sesuai sehingga
respon imun gagal mengenal antigen tersebut(1).
2) Kinetik tumor (sneaking through)
Pada binatang yang diimunisasi, pemberian sel tumor
dalam dosis kecil akan menyebabkan tumor tersebut dapat
menyelinap (sneak through) yang tidak diketahui tubuh dan
baru diketahui bila tumor sudah berkembang lanjut dan di luar
kemampuan sistem imun untuk menghancurkannya.
Mekanisme terjadinya tidak diketahui tapi diduga berhubungan
dengan vaskularisasi neoplasme tersebut
(6)
.
3) Modulasi
antigenik
Antibodi dapat mengubah atau memodulasi permukaan sel
tanpa menghilangkan determinan permukaan
(10)
.
4) Masking antigen
Molekul tertentu, seperti sialomucin, yang sering diikat
permukaan sel tumor dapat menutupi antigen dan mencegah
ikatan dengan limfosit
(6)
.
5) Shedding antigen/pelepasan antigen
Antigen tumor yang dilepas dan larut dalam sirkulasi,
dapat mengganggu fungsi sel T dengan mengambil tempat pada
reseptor antigen. Hal itu dapat pula terjadi dengan kompleks
imun antigen antibodi
(6)
.
6) Toleransi
Virus kanker mammae pada tikus disekresi dalam air
susunya, tetapi bayi tikus yang disusuinya toleran terhadap
tumor tersebut. Infeksi kongenital oleh virus yang terjadi pada
tikus-tikus tersebut akan menimbulkan toleransi terhadap virus
tersebut dan virus sejenis
(6)
.
7) Limfosit
yang
terperangkap
Limfosit spesifik terhadap tumor dapat terperangkap di
dalam kelenjar limfe. Antigen tumor yang terkumpul dalam
kelenjar limfe yang letaknya berdekatan dengan lokasi tumor,
dapat menjadi toleran terhadap limfosit setempat, tetapi tidak
terhadap limfosit kelenjar limfe yang letaknya jauh dari
tumor
(6)
.
8) Faktor
genetik
Kegagalan untuk mengaktifkan sel efektor T dapat
disebabkan oleh karena faktor genetik
(3)
.
9) Faktor
penyekat
Antigen tumor yang dilepas oleh sel dapat membentuk
kompleks dengan antibodi spesifik yang membentuk pejamu.
Kompleks tersebut dapat menghambat efek sitotoksitas limfosit
pejamu melalui dua cara, yaitu dengan mengikat sel Th
sehingga sel tersebut tidak dapat mengenal sel tumor dan
memberikan pertolongan kepada sel Tc.
10) Produk tumor
PG yang dihasilkan tumor sendiri dapat mengganggu
fungsi sel NK dan sel K. Faktor humoral lain dapat
mengganggu respons inflamasi, kemotaksis, aktivasi
komplemen secara nonspesifik dan menambah kebutuhan darah
yang diperlukan tumor padat
(3)
.
11) Faktor pertumbuhan
Respons sel T bergantung pada IL. Gangguan makrofag
untuk memproduksi IL-1, kurangnya kerjasama di antara
subset-subset sel T dan produksi IL-2 yang menurun akan
mengurangi respons imun terhadap tumor
(1)
.
12) Vaskularisasi
Tumor mungkin mencapai diameter 1-2 mm sebelum
terbentuk vaskularisasi. Pertumbuhan vaskuler merupakan
pertumbuhan sel pejamu sendiri, sehingga endotel tumor
dikenal sebagai self dan tidak ditolak, sehingga pada beberapa
keganasan terus berproliferasi dengan antigen tersembunyi
dibalik endotel vaskuler
(11)
.
D.
IMUNOKOMPETENSI PADA PENDERITA
KANKER
Kelainan imunokompetensi terlihat pada penderita
keganasan limforetikuler maupun tumor solid. Pada gangguan
keganasan sel B seperti mieloma multipel dan leukemia
mielositik kronik dijumpai gangguan sel B poliklonal,
defisiensi sel Th, kelebihan sel Ts dan penurunan rasio sel T4 :
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001 49
T8 pada tumor solid seperti Ca (Carcinoma) ovarium jarang
dijumpai kelainan sel B. Kelainan monosit dan sel T telah
terlihat pada penderita karsinoma metastatik dan sarkoma,
terutama stadium lanjut. Parahnya gangguan sel T bervariasi
dari berbagai jenis tumor sesuai asalnya. Walaupun gangguan
sistem imunitas lebih berat pada kasus lanjut dan pada pasien
yang diperkirakan tumornya akan kambuh kembali, namun
korelasinya tidak pasti untuk digunakan dalam penanganan
klinis pasien
(2,3)
.
1) Imunokompetensi pada penderita kanker dengan
pembedahan
Depresi sel T dan B sementara terlihat pada kasus
postoperatif. Gangguan imunitas maksimal terjadi selama
minggu pertama setelah pembedahan, biasanya fungsi sel T
akan kembali normal 1 bulan. Lama dan intensitas
imunosupresi berhubungan dengan jumlah trauma operasi,
lama prosedur dan imunokompetensi sebelum operasi. Dari
penelitian hewan ternyata bahwa prosedur pembedahan dan
anestesia mempengaruhi sistem imun. Stress anestesia dan
pembedahan dapat merangsang pelepasan hormon termasuk
glukokortikoid. Sel supresor juga dapat dirangsang, mungkin
sebagai respons terhadap produk nekrosis jaringan
(2,3)
.
Pembuangan jaringan limforetikuler dapat mengganggu
fungsi imun. Penelitian pada pasien kanker menunjukkan
bahwa, splenektomi dapat mempermudah timbulnya sepsis
fulminan akibat bakteri. Peningkatan kerentanan terhadap
infeksi ini berhubungan dengan umur, penyakit penyerta dan
modalitas pengobatan kankernya. Tambahan radiasi kelenjar
getah bening dan kemoterapi akan menyebabkan gangguan
lebih besar terhadap fungsi sel B. Beberapa peneliti bahkan
menggunakan injeksi Penisilin profilaksis, vaksin
pneumokokus pada pasien post splenektomi sebelum diberi
kemoterapi atau radioterapi. Kerentanan ini disebabkan oleh
menurunnya kemampuan fagositosis dan gangguan
pembentukan antibodi dini. Namun splenektomi pada model
hewan meningkatkan ketahanan terhadap pertumbuhan tumor,
mungkin dengan gangguan terhadap produksi antibodi
antitumor spesifik atau dengan menghilangkan sumber utama
sel T supresor
(1,3)
.
2) Imunokompetensi pada penderita kanker dengan
radioterapi
Radiasi berpengaruh terhadap limfosit, sehingga akan
mengalami kematian interfase dalam beberapa jam tanpa
terjadinya mitosis. Sebelum rangsangan, antigen limfosit hanya
menunjukkan kemampuan yang terbatas untuk memperbaiki
kerusakan DNA akibat Radiasi. Setelah rangsangan antigen, sel
plasma maupun sel reflektor menjadi lebih radioresisten.
Limfopenia terjadi bukan hanya akibat radiasi terhadap
jaringan limfoid, tapi juga akibat destruksi limfosit pada daerah
tepi. Level sel T dan B dapat berkurang, tergantung bagian
yang diradiasi. Walaupun terjadi penurunan kadar sel B,
respons humoral biasanya tetap. Radiasi limfoid total dapat
menyebabkan penurunan yang menetap pada kadar sel T.
Respons proliferatif sel T terhadap mitogen atau antigen
histokompatibilitas dapat tertekan selama bertahun-tahun.
Radiasi total badan dengan dosis besar dapat menyebabkan
penurunan yang hebat dari seluruh sel limforetikuler, sel I CD
3, sel T CD 8, pada daerah tepi dalam 1-2 minggu, tapi untuk
mencapai kembali rasio normal T4 : T8 perlu lebih dari
setahun. Level monosit tidak menurun secara bermakna selama
radioterapi dan kebanyakan makrofag resisten terhadap
radiasi
(1,3,5)
.
3) Imunokompetensi pada penderita kanker dengan
kemoterapi
Kebanyakan sitostatika bersifat imunosupresif terkecuali
Bleomisin dan Vincristin dalam dosis terapeutik. Kemoterapi
intermiten biasanya kurang imunosupresif dibanding dengan
tipe kontinu. Fungsi sel T dan B dapat kembali di antara seri
pengobatan walaupun gangguan menetap dapat terlihat setelah
pengobatan yang lama atau bila kemoterapi dan radiasi
digabung
(1)
.
Glukokortikoid mempengaruhi fungsi dan resirkulasi pada
darah tepi, level limfosit lebih dipengaruhi dibanding monosit.
Level sel T lebih dipengaruhi dibanding sel B dan sel T CD 4
lebih terpengaruh dibanding sel T CD 8. Pada kemoterapi dosis
tinggi glukokortikoid dapat menghambat setiap fungsi sel
limforetikuler, namun faktor inhibisi makrofag tetap dihasilkan.
Induksi sel supresor dapat dihambat glukokortikoid tapi sekali
terpapar biasanya sel supresor akan relatif resisten terhadap
steroid. Sel NK sensitif terhadap glukokortikoid, namun sel K
resisten. Kemampuan respon makrofag dan monosit terhadap
mediator terhambat jelas. Kemampuan fagositosis monosit
dipertahankan sedangkan fungsi bakterisidalnya dihambat
(1,12)
.
Siklosfosfamid mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap
sel B dibanding sel T, dalam dosis rendah menghambat sel
supresor dan meningkatkan efek sel T CD 8 daripada sel T CD
4, pada dosis lebih tinggi sel T CD 8 dan sel T CD 4
menurun
(13)
.
Efek imunosupresif bahan pangalkil dan antimetabolit
berhubungan sebagian dengan toksisitas terhadap sel yang
berproliferasi. Bahan pengalkil seperti siklofosfamid dapat
menekan produksi antibodi, sedangkan antimetabolit seperti 5
Fluorourasil, 6 Merkaptopurin dan Sitarabin, Metotreksat akan
efektif setelah pemberian antigen dan bila sel B sedang
berproliferasi. Bila sel telah berhenti berproliferasi dan limfosit
sudah matur maka respons seluler maupun humoral menjadi
resisten terhadap agen sitotoksik
(10)
.
KEPUSTAKAAN
1.
Bast CR. Principles of Cancer Biology : Tumor Immunology. Dalam :
Devita VT, Rosenberg SA, Hellman W. eds. Cancer Principles and
Practice of Oncology, Ed V, Philadelphia : Lippincett-Reven, 1997; 267-
83.
2.
Disaia PJ, Creasman WT, Tumor Immunology, Host Defense Mechanism
and Biologic Therapy. Dalam : Disaia JP. Creasman WT. Eds. Clinical
Gynecology Oncology, Ed IV, Philadelphia L: Mosby 1997; 534-75.
3.
Bast RC, Bookman MA, Knapp RC, Gynecology Tumor Immunology.
Dalam Knapp RC, Bast RC, Bookman MA, eds. Gynecology Oncology.
Singapore : Mc Graw Hill, Inc, 1993; 56-82.
4.
Houskin WJ, Burke TW, Barnhill DR, Tumor Related Antigens in
Gynecology Cancers. Dalam Ghosh BC, Ghosh L, eds. Tumor Company,
Singapore 1987; 149-69.
5.
Haynes FB, Fauci AS. Disorders of the Immune System. Dalam : Fauci
AS, Braunwald E, Isselbacher KJ, eds. Harrison's Principles of Internal
Medicine, Ed XIV, New York : Mc Graw Hill, 1998; 1753-76.
6.
Baratawidjaja KG. Imunologi Dasar, Ed II, Jakarta : FKUI; 3-12.
7.
Herberman RB, Santoni A. Regulation of Natural Killer Cell Activity.
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001
50
Dalam : Mihich E, eds. Biological Respond in Cancer Progress Toward
Potential Application Vol 2, New York : Plenum Press, 1984; 121-37.
8.
Sinkovics JG. A Reappraisal of Cytotoxic Lymphocytes in Human Tumor
Immunology. Dalam : Cory JG, Andor S, eds. Cancer Biology and
Therapeutics, New York : Plenum Press, 1987; 225-45.
9.
Mitchell MS. Principles of Immunology and Immunotherapy. Dalam :
Morrow CP, Curtin JP, Townsend DE, eds. Synopsis of Gynecologic
Oncology. New York : Churchil Livingstone, 1993; 497-507.
10.
Miller FR, Kataoka T. Interaction on Antimetabolites with Tumor and the
Immune System. Dalam : Mihich E, ed. Biological Response in Cancer,
Vol 3. Immunomodulation by Anticancer Grugs. New York : Plenum
Press, 1986; 71-9.
11.
Ringenbach L, Boubot A, Tiberghien P, Oberling F, Feugeas O.
Polythylamine Mediated for Cancer Adoptive Immunotherapy. Gene
Ther, 1998; 1508-16.
12.
Mantovani A. Effects of Glucocorticoid Hormones on the Immune
System. Dalam : Mihich E, ed. Biological Response in cancer vol 3
Immunomodulation by Anticancer Drugs. New York : Plenum Press,
1986; 155-72.
13.
Ozer H. Effects of Ankylating Agent on Immune Regulatory Mechanism.
Dalam : Mihich E, ed. Biological Response in Cancer vol 3,
Immunomodulation by Anticancer Drugs. New York : Plenum Press,
1986; 33-59.
English Summary
Sambungan dari halaman 4.
MANAGEMENT OF EPISTAXIS
Mohammad Ichsan
Dept. of Otorhinolayngeology,
Faculty of Medicine, Syah Kuala
University/ Zainoel Abidin General
Hospital, Darussalam Banda Aceh,
Indonesia
Epistaxis is a term used to
describe nasal hemorrhage.
Causes can be local or
systemic. Bleeding can be mild
to serious, and if not managed
immediately, can be fatal.
Bleeding usually originates from
the anterior or posterior part in
the nasal cavity. Some methods
such as anterior tamponade,
cauterization, and posterior
tamponade can be used. The
complications of using anterior
tamponade are sinusitis,
bloodstained tears, and
septicaemia. The complications
of using posterior tamponade
are otitis media,
haemotympanum
and laceration of the mouth
commissures. If bleeding can
not be controlled by posterior
tamponade, arterial ligation
should be performed.
Cermin Dunia Kedokt. 2001; 132: 49-52
mi
ACUPUNCTURE FOR NECK PAIN
Beatrice Hakim, Elis T., Christina
S.
Dept. of Acupuncture, Cipto
Mangunkusumo General Hospital,
Jakarta, Indonesia
Neck pain is one of the most
frequent problems encountered
in clinical practice. With active
upper trapezius trigger points,
and additional invovement of
the levator scapulae or spenius
cervicis muscles, the patient
may develop an acute
stiffneck. Knowing the etiologic
factors of stiffneck will make its
treatment easier. So it is
necessary to discuss the
etiologic factors, symptoms and
signs, patho physiology and
treatment viewed from western
and eastern medical sciences.
Acupuncture therapy is quite
effective (100% effective rate)
and the result is instantaneous.
Cermin Dunia Kedokt. 2001; 132: 55-
60
bhe, cs
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001 51