background image
Kegiatan llmiah
Simposium Masalah Tuberkulosa
Ekstraparu dan Pengelolaannya
Penyakit tbc paru masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang cukup besar di Indonesia; sebagian besar pen-
deritanya masih dalam usia produktif; prevalensinya saat ini
diperkirakan 0,3% dan diharapkan menurun sampai 0,24%
pada akhir Pelita ini.
Meskipun demikian, harus disadari bahwa kuman tbc tidak
hanya menyerang jaringan paru, tetapi juga organ-organ tubuh
lainnya seperti pleura, kelenjar getah bening, peritoneum dan
selaput otak. Masalah tbc ekstra paru ini sebenamya tidak kalah
pentingnya dalam upaya pemberantasan tbc, apalagi ternyata
dari laporan beberapa rumah sakit, 40%dari seluruh kasus
tuberkulosis ialah tbc paru yang disertai tbc ekstrapani,
sedangkan 20% merupakan tbc ekstraparu mumi.
Untuk mempertajam kewaspadaan dan kemampuan diagnos-
tik tbc ekstraparu,Subunit Pulmonologi Lab/UPF Ilmu Penyakit
Dalam FK Universitas Padjadjaran/RS Hasan Sadikin,
Bandung pada tanggal 2 Desember 1989 telah menyelenggara-
kan Simposium Masalah Tuberkulosa Ekstraparu dan Pe-
ngelolaannya, Dalam simposium tersebut telah dibahas 8
makalah yang abstrak/ringkasannya kami sertakan berikut ini;
semoga bermanfaat.
Panggabean R. Pengenalan Tuberkulosis pada Susunan
Saraf Pusat dan Pengelolaannya.
Meningitis tuberkulosis intrakranial merupakan bentuk tuber-
kulosis susunan saraf yang paling sering ditemukan. Tuber-
kulosis daerah spinal dibagi dalam meningitis tuberkulosis
spinal dan paraplegia Pott akibat spondilitis tb.
Gambaran kliniknya mengambil pola berdasarkan perjalanan
penyakitnya.
Dahlan Z. Kejadian Tuberkulosa Ekstraparu di RS Hasan
Sadikin dan Beberapa Pusat Kesehatan di Jawa Barat.
1.
Tuberkulosa merupakan penyakit infeksi sistemik yang
pada dasarnya dapat mengenai seluruh organ tubuh.
2.
Tb ekstraparu tidak jarang terjadi. Pada setiap penderita
tuberkulosa perlu diingat kemungkinan adanya tb
ekstraparu secara tersendiri atau bersamaan dengan tb paru.
3.
Sering diperlukan usaha yang gigih atau kerjasama yang
baik dari berbagai disiplin ilmu kedokteran dalam usaha
penegakan diagnosa yang selengkap-lengkapnya demi
tercapainya pemberian terapi yang adekuat untuk tb paru
ataupun tb ekstraparu.
4.
Perlu dipikirkan pendataan tb ekstraparu yang lebih lengkap
hingga dapat menjadi bahan untuk pencegahan dan pem-
berantasan tb ekstraparu pada khususnya, dan penyakit
tuberkulosa pada umumnya.
Sabirin B, Noor IM. Aspek Patologi TB Ekstraparu dan
Peranan Biopsi Aspirasi dalam Menegakkan Diagnosa.
Telah dibicarakan tentang perubahan-perubahan jaringan
yang terjadi oleh karena infeksi M.Th. yang terlihat pada pe-
meriksaan histopatologi (PA) maupun pada sediaan sitologi
dari bahan yang diambil dengan cara Biopsi Aspirasi Jarum
Halus (BAJAH). Perubahan-perubahan tersebut dipakai sebagai
pegangan dalam menegakkan diagnosa TBE.
Peranan sitologi BAJAH yang merupakan metode
diagnostik yang sangat sederhana, tidak menyulitkan penderita,
dengan ketepatan diagnosa yang tinggi dan dapat diterima oleh
anggota masyarakat, sebaiknya dipakai sebagai 'tes skrining'
dalam pengelolaan penyakit-penyakit TBE (memastikan bahwa
suatu lesi adalah TBE atau bukan TBE), sehingga dapat
diberikan pengobatan yang sesuai dan adekuat.
Dalam tulisan ini juga dikemukakan beberapa penderita
sebagai contoh dari sekian banyak penderita lainnya yang di-
tangani dengan cara yang tidak sesuai dengan penyakitnya
dan memperlihatkan peranan BAJAH dalam menegakkan
diagnosa.
Diharapkan di masa-masa mendatang penggunaan pe-
meriksaan sitologi BAJAH akan lebih memasyarakat, dapat di-
percaya oleh ahli klinik dalam menegakkan diagnosa dan pe-
ngelolaan selanjutnya penyakit-penyakit TBE, sehingga ikut
meringankan beban penderita serta pemerintah dalam usaha
memberantas penyakit tuberkulosa.
Rahayoe NN. Masalah Tuberkulosa Ekstraparu pada Anak
dan Pengelolaannya.
Sebagian besar tb ekstraparu merupakan komplikasi dari tb
primer di paru karena lebih dari 95% fokus primer terdapat di
paru.
Pengobatan tb ekstraparu biasanya cukup dengan kombinasi
obat-obat anti TB dan tindakan-tindakan tertentu dilakukan atas
indikasi khusus.
Pada tb paru biasanya dapat diberikan obat anti tb jangka
pendek. Tetapi kalau ditemukan tb ekstraparu, INH sebaiknya
ditemukan sampai 1 tahun atau lebih.
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990
54
background image
Ruchiyat Y, Suradinata S. Tuberkulosis Intraabdominal. Per-
masalahan dan Pengelolaannya
1.
Tbc intraabdominal merupakan penyakit yang masih jarang
kejadiannya dibandingkan dengan tbc paru, walaupun akhir-
akhir ini kasus tbc intraabdominal banyak ditemukan.
2.
Manifestasi klinis umumnya berbentuk sebagai tbc peritoneal,
tbc kelenjar (mesenterial), tbc usus, atau campuran.
3.
Diagnostik klinis sangat sulit ditegakkan oleh karena manifes-
tasi Minis sangat bervariasi. Diagnosis pasti ditentukan
dengan
pemeriksaan :
Histopatologi : ­ mikroskopik.
­ makroskopik.
Mikrobiologi : ­ BTA (+)
­ kultur (+)
­ percobaan binatang (+)
4. Tbc intraabdominal merupakan penyakit yang dapat diobati
secara sempurna terutama dalam stadium awal baik dengan
OAT atau dengan operasi dan OAT.
Darmadji Ismono. Pengelolaan Tbc Tulang di Lab-UPF
Orthopaedi Fakultas Kedokteran Unpad-RS Hasan Sadikin
Bandung, 1984­1988.
Telah dilakukan penelitian retrospektifpada penderita skeletal
tuberkulosis di Lab/UPF Ilmu Bedah Orthopaedi RSHS/FKUP
selama 1984 ­ 1988.
Didapatkan sebanyak 127 penderita skeletal tuberkulosis
(101 penderita spondilitis tb, 26 penderita coxitis tb).
Sangat penting untuk menghindari dari operasi yang berat
dalam pengobatannya.
Soekrawinata RT. Masalah Penyakit Tuberkulosa dalam
Bidang THT.
1.
Telah dibicarakan beberapa segi penyakit tuberkulosis yang
biasa bermanifestasi di bidang THT. Pembicaraan lebih di-
tekankan pada tb taring, mengingat lebih banyak
komplikasi serius yang dapat timbul.
2.
Disertakan catatan tentang insidensi penyakit tb taring yang
didapat dari basil penelitian laringitis kronis rawat jalan
Lab/UPF IP THT FKUP/RSHS.
3.
Dalam usaha memberantas penyakit tb baik pulmonal mau-
pun ekstrapulmonal, perlu kerjasama yang lebih baik dari
semua bidang/disiplin kesehatan.
Soeria Soemantri E. Tuberkulosa Ekstraparu di bidang
Ilmu Penyakit Dalam dan Pengelolaan TB pada Umumnya.
1.
TBE harus lebih banyak kita perhatikan karena tidak jarang
didapat di klinik.
2.
Pengobatan yang diajukan IUAT dan American Thoracic
Society adalah 2R7H7Z7/4R7H7, tetapi para klinisi
memberikan regimen sama selama 9 bulan.
3.
Di Sub Unit Pulmonologi Lab/UPF ilmu Penyakit Dalam
FK Unpad/RS Hasan Sadikin diberikan 1R7H7E7 atau
8R2H2 atau 1R7H7Z7/8R2H2.
Brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990 55