background image
Perkembangan Va
ksin Dengue-2
Dr. Emiliana Tjit
Pu
yakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Keseha
Jakarta
ra, MSc.
sat Penelitian Pen
tan R.I.,
PE
Virus Dengue adalah jenis virus dari grup Flavivirus yang
mempunyai 4 serotipe Dengue­1, Dengue­2, Dengue­3, dan
Dengue­4. Bentuk infeksi virus Dengue dapat berupa Dengue
Fever (DF), Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) atau Demam
Berdarah Dengue (DBD), dan Dengue Shcok Syndrome (DSS).
Penyakit ini terutama menyerang anak-anak dengan gejala
demam tinggi mendadak, dapat disertai manifestasi perdarahan
dan bertendensi menimbulkan syok dan kematian (Depkes RI,
1986).
1
Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk terutama
Aedes aegypti, tetapi dapat juga melalui Aedes albopictus,
Aedes polynesiensis dan Aedes scutellaris (WHO, 1986).
2
A. aegypti
,
dan A. albopictus terdapat hampir di seluruh pe-
losok Indonesia sehingga memungkinkan seluruh daerah Indo-
nesia terjangkit infeksi Dengue, terlebih dengan semakin
majunya perhubungan: dan ramainya lalu lintas manusia
antara daerah. Sampai saat ini hanya pemberantasan vektor
yang dapat dilakukan untuk pencegahan infeksi virus Dengue,
di man cua tersebut kurang efektif (Eckels dkk, 1980).
3
Untuk itu diusahakan cars pencegahan lain yaitu dengan
vaksinasi.
Kekebalan manusia terhadap virus Dengue dengan jenis
antigen yang sama merupakan kekebalan seumur hidup. Oleh
sebab itu vaksin virus Dengue yang hidup diduga juga
menghas0kan kekebalan yang berlangsung lama. Seisms daya
lindung antara serotipe virus Dengue terbatas, maka penye-
liddcan vaksin setiap serotipe virus (monovalen) dibutuhkan
sebelum inelangkah ke vaksin multivalen.
Di Thailand dan Kuba, virus Dengue-2 adalah serotipe
yang utama menimbulkan wabah DHF/DSS dan banyak meng-
akibatkan kematian (WHO, 1986).
2
Oleh karena itu diharapkan
adanya vaksin virus ideal yang dapat memberi kkebalan
kepada semua orang, dan menghasilkan antibodi yang dapat
memberi daya lindung lama serta tanpa menimbulkan efek
samping bagi sipenerima.
VAKSIN DENGUE
­
2
Penelitian vaksin Dengue­2 hidup yang dilemahkan sudah
imulai sejak tahun 1971 di Walter Reed Army Institute of
Research dan Universitas Hawai (Halstead, 1980).
3
Virus
Dengue­ ini didapat dari seorang laki-laki di Puerto Rico pada
tahun 1969 dan di-inokulasikan pada sel PGMK (Primary
Green­Monkey Kidney) sebanyak 19 kali. Salah satu clone
yang terbentuk yaitu S­1 mempunyai sifat-sifat sebagai
berikut: menghasilkan plague kecil pada sel LLC­MK2, ke-
ganasan penyakitnya menurun pada tikus dan monyet, sensitif
terhadap perubahan suhu dan menunjukkan penurunan
pertumbuhan di dalam biakan monosit manusia (Eckels dkk,
1976).
5
Setelah pencucian, dilalui 4 kali pada DBS­FRhL­2
(sel diploid paru-paru dari janin rhesus). Vaksin virus Dengue-
2 tersedia dengan label DEN­2 (PR­159/S-1) lot no: 1 dalam
bentuk lyophilized, kemasan 3 ml, dengan cara pemberian
subkutan, pada legan atas kiri, hasil produksi Departement of
Biologics Research, Walter Reed Army Institute of Research,
Washington, D.C(Bancroft dkk, 1981)
6
PENELITIAN VAKSIN DENGUE­2 PADA "RHESUS
MONKEY " (SCOTT dkk, 1980)
7
Pada Tabel 1, 10 rhesus monkey (grup A) divaksinasi de-
ngan vaksin Dengue­2 dosis rendah yaitu 1,2 x 10
3
PFU per
0,5 ml dari AFRIMS, dan 5 rhesus.monkey (grup W) lainnya
dengan dosis tinggi yaitu 3,8 x 10
4
PFU per 0,5 ml dari WRAIR
secara subkutan. Setelah imiinisasi pertama ini, hanya 1 rhesus
monkey yang menderita viremia yaitu dari kelompok yang
divaksinasi dengan dosis tinggi. Ternyata virus yang diketemu-
kan pada rhesus monkey dengan viremia tersebut mempunyai
sifat-sifat pertumbuhan yang sama dengan strain virus vaksin.
Sedangkan imunisasi yang dilakukan tidak menimbulkan gejala
penyakit apapun pada rhesus monkey tersebut. Seluruh rhesus
monkey yang menerima vaksin dengan dosis ti gi (W), dan 5
dari 10 penerima vaksin dosis rendah (A) membentuk antibodi
(neutralizing antibodies). Sifat antibodi vane terbentuk tidak
menetap dan timbul pada hari ke 30.
Setelah 4-
.
6 bulan dari vaksinasi I, 9 rhesus monkey (4A
dan 5W) tersebut diberi 0,5 ml virus Dengue­2 ganas (BM 50­
76 : 1,1 x 10
5
PFU; 21868 : 6 x 10
5
PFU; PR 159 : 3 x 10
5
PFU), ternyata antibodi yang sudah terbentuk tidak
melindungi atau membebaskan timbulnya viremia. Walaupun
NDAHULUAN
d
2
ng
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988
48
background image
Tabel 1 : Hasil NA (Neutralizing Antibody) terhadap pemberian vaksin/virus
DEN­2 pada rhesus monkey (Scott dikk, 1980)
7
.
ng kebal terhadap
croft dkk, 1981)
* viremia pada hari ke 7.
Tabel 2: Hasil klinis, virologi, dan imunologi dari 6 sukarelawan y
yellow fever setelah pemberian vaksin DEN­2 (PR­159/S­1). (Ba
a
n
6
terhadap manusia yang sebelumnya
sudah atau belum mendapat infeksi
terhadap Flavivirus (vaksinasi
yellow fever). · Penelitian virologi,
imunologi, dan klinik dari 6
sukarelawan dewasa yang kebal
terhadap yellow fever (Bancroft
dkk, 1981)
GMT (geometric mean titer) DEN-2 pada hari ke 30 = 180.
titer rendah, tetapi menetap dan
dapat melindungi rhesus monkey
tersebut pada pemberian virus
-76, 2 X
ah vaksi-
Sedangkan nyamuk Aedes
aegypti yang diberi darah rhesus
monkey yang sudah divaksinasi
dengan Dengue-2 dosis rendah
nfektif.
Dengan tidak adanya efek sam-
ping dan gejala-gejala penyakit,
kemungkinan kecil vektor menjadi
infektif, dan peningkatan kekebal-
an setelah imunisasi II, maka
vaksin Dengue-2 (PR-159/8-1) da-
pat dicoba pada manusia.
n dengan infeksi yang
egitu rhesus monkey yang diimunisasi membentuk antibodi
s Dengue-2 ganas tersebut dan tidak
satu
S
hadap 3 Rhesus lainnya (grup A) dengan 0,5 ml virus Dengue-
2 (1,2 X 10
3
PFU). Antibodi yang terbentuk walaupun dengan
wan menderita viremia pada hari ice 8-9 setelah vaksinasi yang
berlangsung selama 1­10 hari. Timbulnya viremia disertai
Dengue-2 ganas (BM 50
10
6
PFU) 10 bulan setel
nasi ulangan tersebut.
tidak menjadi i
PENELITIAN VAKSIN DENGUE
2 PADA MANUSIA
Menurut Schlesinger dkk
(1956)
8
, manusia yang mendapat
kekebalan dari vaksinasi yellow
fever lebih tinggi antibodi neutra-
lizingnya dibandingkan dengan
yang tidak divaksinasi yellow
fever. Juga infeksi Dengue alami-
ah menghasilkan titer antibodi
yang lebih tinggi pada penderita
yang sebelumnya mendapat infeksi
Flavivirus lainnya (Scott dkk
1972)
9
. Sedangkan menurut Rus-
sell dkk (1973)
10
, infeksi Dengue
yang kedua lebih berat penyakitnya
dibandingka
pun menunjukkan gejala-gejala penyakit Dengue.
etelah 4 bulan vaksinasi I, dilakukan vaksinasi ulangan ter-
pertama. Oleh sebab itu perlu
dilakukan penelitian vaksin DEN-2
6
.
Enam sukarelawan dewasa
yang mempunyai fIsik dan nilai
laboratorik normal serta sudah
mendapat vaksinasi yellow fever
sebelumnya, dan juga tidak mem-
punyai antibodi DEN-2, diberi
vaksinasi 0,5 ml DEN-2. (PR-159J
S-1) dengan dosis 4,5 X 10
5
PFU
terhadap sukarelawan I dan sedangkan ke 4 lainnya diberi:
2,5 X 10
b
setelah pemberian viru
5
PFU.
Semua sukarelawan menunjukkan gejala klinis dan yang
teringan pada sukarelawan ke 3 yang pemah menderita penya-
kit Dengue (DEN-4), 11 tahun yang lalu (Tabel 2). 5 sukarela-
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 49
C
D
i K d k
N
50 1988 49
background image
dengan dem
lekopenia yang sement
karelawan), dan rash (1 sukarela-
wan). Seorang sukarelawan men-
derita panas, sakit kepala, sakit
otot, lemah dan fotofobia yang
diduga menderita Demam De-
ngue (DF) ringan. Ke 5 sukarela-
wan yang viremik, meningkat
antibodi netralisingnya lebih dari
4 kali. Sedangkan sukarelawan
ke 3 mempunyai titer antibodi
netralising yang rendah (NA =
20) dan menetap, tetapi titer
(HIA (Hemagglutination Inhibi-
ting Antibody) meningkat dari
< 10 menjadi 40. Isolasi virus di-
ambil dari plasma dengan sifat-
sifat seperti virus vaksin. Ter-
Tabel 3: Jumlah sukarelawan yang viremia dan NA
DEN­2 (PR­159/S­1) dengan berbagai macam
am (3 sukarelawan),
ara (4 su-
> 10 Welsh pemberian vaksin
clods (Scott dkk, 1983)
11
* Yellow Fever Immune
** Yellow Fever Nonimmune
nyata vaksinasi yellow fever yang didapat terdahulu tidak
menghambat infeksi oleh vaksin DEN-2.
Jadi vaksin DEN-2 (PR-159/S-1) cukup aman, infeksius,
imupogenik, dan balk untuk menentukan dosis optimal serta
respon dari orang-orang dewasa yang belum mendapat
avivirus.
Dungue-2 . Respon dosis vaksin dalam
ubungannya dengan status kekebalan yellow fever dari suka-
lawan
Vaks
dewasa untuk dievaluasi keamanan, infektivitas, dan imunoge-
nisitas pada dosis 10
1
'
3
­ 10
5
'
5
PFU. Ke 38 sukarelawan ter-
sebut dikelompokkan dalam: kelompok Yellow Fever Immune/
WI (20 sukarelawan) yaitu yang mempunyai NA (Neutralizing
Antibody) terhadap yellow fever vaksin (YFV) lebih atau sama
dengan 10, dan kelompok Yellow Fever Nonimmune/YFN (18
sukarelawan) yaitu dengan NA terhadap YFV kurang dari 10.
Vaksin DEN-2 diberikan 0,5 ml, pada setiap sukarelawan
dengan dosis yang berbeda (Tabel3).
Ternyata kekebalan yang timbul berhubungan dengan
dosis van. diberikan (p < 0,001) pada kelompok YFI dan ID
50
(Immunizing Doses) yang dihitung dengan cara Reed dan
Muench
12
adalah 10
3,3
PFU. Sedangkan pada kelompok YFN
kekebalan yang timbul tak berhubungan dengan dosis vaksin,
dan ID
50
nya tak dapat diperkirakan.
Pada grafik 1 terlihat sukarelawan YFI membentuk NA
terhadap DEN-2 dengan titer yang
.
adekwat dan bertahan
sampai 3 tahun. Sedangkan sukarelawan YFN membentuk NA
lebih rendah dan menghilang dalam 6 bulan pada 9 orang
(50%) sukarelawan YFN. Lebih 40 isolasi virus dari 12 sukare-
lawan, tumbuh invitro dengan sifat-sifat yang sama dengan virus
vaksin. Hal ini menunjukkan bahwa virus vaksin tersebut stabil
ijumpai adalah
lekopenia (55%), macular rash (15%), dan demam (10%). .
dan ber-
Grafik 1 : Geometric Mean Ti
penerima vaksin DEN
(Sco
kekebalan terhadap Fl
Penelitian vaksin
·
h
re
dewasa (Scott dkk, 1983)
11
in DEN-2 (PR-159/S-1) diteliti pada 38 sukarelawan
genetiknya. Tanda-tanda klinis yang sering d
Dari hasil penelitian di atas disimpulkan bahwa vaksin
DEN-2 (PR-159/S-1) aman, stabil dan dapat digunakan untuk
penelitian yang lebih luas. Perbedaan kekebalan yang disebab-
kan adanya infeksi Flavivirus sebelumnya, sesuai
hubungan dengan beratnya gejala dan timbulnya antibodi
terhadap Flavivirus, serta waktu diberikannya YFV. Oleh
sebab itu sudah saatnya dilakukan penelitian dengan kontrol-
ter (GMT) Neutralizing Antibody dari
­2(PR­159/S­i) selama 1 tahun
tt dkk, 1983).
Waktu
(bulan)
setelah
vaksinasi
g luas untuk menghindari data yang
a statistik.
ue-2 : Reaktogenisitas dan Imuno-
ra (Bancroft dkk, 1984)
plasebo : double-blind yan
valid dalam penilaian secar
·
Penelitian vaksin Deng
genisitas pada tentara-tenta
Penelitian klinik doubl
vaksin DEN-2 (PR-159/S
i
ti harus bebas dan tidak pernah menderita pe-
nyak
13
.
e-blind dengan kontrol plasebo dari
-1) dilakukan untuk mengetahu
reaktogenisitas dan imunogenisitas vaksin tersebut. Sukarela-
wan yang diteli
it Dengue serta tidak ada antibodi terhadap virus Dengue
(serotipe 1­4). Mereka dikelompokkan berdasarkan ada tidak-
nya antibodi terhadap yellow fever, dan vaksinasi dengan 0,5
ml vaksin DEN-2 (PR-159/S-1), dengan dosis : 10
4,1
­ 10
5,4
PFU/0,5 ml (GMD=iO
4,9
PFU).
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988
50
background image
Ternyata 90% dari 70 sukarela
yellow fever (NA lebih besar atau s
dari 21 sukarelawan yang tidak keb
menghasilkan serokonversi terhadap v
besar atau sama dengan 20) dalam
berbeda bermakna : p < 0,01 (Tabel
Tabel 4. Respon NA (Neutralizing Antibod
terhadap imunisasi DEN­2 (Bancr
Kelompok berdasarkan
adanya antibodi ter-
hadap yellow fever
Jumlah
Jum
dalam
wan yang k
ama dengan 20)
al terhadap yellow fever
aksin DEN-2 (NA lebih
waktu 6 bulan, dan ini
4).
y) dari penerima vaksin
oft dkk, 1984)
13
lah NA> 1 : 20
6 bulan (% )
P
ebal terhadap
dan 61%
1. Vaksin DEN­2
positip
negatip
2. Plasebo
positip
70
28
31
negatip
18
0
63 (90)
0
<0,01
17 (60,7)
Total
147
80
Pada Tabel 5 terlihat bahwa puncak titer NA terhadap
k
va sin DEN-2, lebih tinggi 3 kali pada kelompok yang kebal
terhadap yellow fever dibandingkan kelompok yang tidak
kebal, dan umumnya menetap' minimal selama 18 bulan.
Sukarelawan-sukarelawan yang menghasilkan serokonversi
terhadap vaksin DEN-2 lebih sering menderita gejala-gejala
sistemik (seperti: menggigil, sakit perut, sakit kepala, demam,
keringat pada malam hari, mual-mual, nafsu makan berkurang)
dibandingkan yang menerima plasebo (p < 0,05).
Tabel 5. Titer NA (Neutralizing Antibody) dari
80 penerima vaksin
DEN­2 (PR­159/S­1)*
Titer NA
Kelompok berdasarkan
adanya antibodi ter-
Jumlah
hadap yellow fever
Sebelum
vaksinasi
Sesudah
vaksinasi
1 bl
2 b1 3 bl
Positip
Negatip
63
17
<10
564
399
149
<10
117
72
<10
* Bancroft dkk, 1984.
Dari hasil-hasil penelitian diatas terlihat bahwa untuk men
-
dapatkan kekebalan dari vaksin DEN-2 masih diperlukan
imunisasi pendahuluan yellow fever, dan ada efek samping
yang berhubungan dengan dosis vaksin.
PENELITIAN VAKSIN DENGUE-2 PADA NYAMUK
AEDES AEGYPTI (Bancroft dkk, 1982)
14
:
Dari penelitian terdahulu pada manusia, 5 dari 6 penerima
vaksin DEN­2 menerita viremia. Mengingat hal itu dilakukan
penelitian untuk mengetahui apakah vektor utama Dengue:
Aedes aegypti dapat terinfeksi vaksin virus dengan menghisap
um pernah
terinfeksi Flavivirus, dan dapat menularkan secara invitro (cara
Gubler dan Rosen, 1976)1 S . Sifat-sifat pertumbuhan virus
hasil isolasi dari nyamuk juga dievaluasi. Antigen dari tubuh
nyamuk diketahui dengan cara Kuberski dan Rosen'
6
Dari Tabel 6 terlihat bahwa dari satu koloni nyamuk Aedes
aegypti yang dilepas menghisap darah penderita viremik, hanya
2 dari 14 nyamuk yang terinfeksi virus vaksin. Virus yang
diketemukan dari tubuh nyamuk dan darah penerima vaksin
mempunyai sifat yang sama dengan virus vaksin DEN­2.
Sedangkan antigen Dengue tak diketemukan pada bagian
kepala nyamuk dengan Direct Immunofluorescence, dan
penularan virus in vitro dengan droplet fedding tidak
diketemukan.
Tabel 6. Infeksi nyamuk Aedes aegypti dengan menghisap darah
penerima vaksin DEN­2 (PR­159/S­1) yang viremik
14
ah
penderita viremik dari penerima vaksin yang bel
(Bancroft dkk,1982)
yamuk menghisap dar
** Saat n
Penerima Dosis vaksin
Hari
Previremia
Selama viremis
vaksin PUF/0,5
ml
viremia
Kenyang
Infeksi Kenyans
Infeksl
A.
B.
C.
2,8 x 10
4
2,8 x 10
4
3,0
,
x 10
3
10­14
9­15
12,14,16
20
0
40
0
­
0
42
72
0*
0
2
­
Total
60
0
114
.
2
* nyamuk menghisap darah pada hari ke 13.
** jumlah nyamuk.
Dari hasil penelitian diatas ternyata vektor (A edes aegypti)
dapat terinfeksi dengan vaksin virus dengan menghisap darah
penerima vaksin yang viremik, sedangkan vektor tampaknya
tak dapat menularkan, dan virus vaksin berifat stabil.
KESIMPULAN DAN SARAN
Vaksin virus DEN­2 (PR-159/S­1) hanya memberi ke-
kebalan 61% pada orang dewasa yang tidak mempunyai ke
-
kebalan terhadap heterologos Flavivirus, kekebalannya hanya
berlangsung kurang dari 6 bulan dan tampak gejala-gejala
Dengue ringan pada penerima vaksin. Sedangkan nyamuk
Aedes aegypti walaupun dapat terinfeksi setelah menghisap
etapi tak dapat me
-
darah penerima vaksin yang viremik t
ularkan.
n
Jadi meskipun vaksin DEN­2 (PR
­
159/S­I) bukan me-
rupakan vaksin yang ideal tetapi masih dapat digunakan untuk
a
or ng dewasa yang besar kemungkinannya mendapat infeksi
virus Dengue­2. Sedangkan pada orang-orang yang tidak kebal
terhadap flavivirus, imunisasi yellow fever dapat diberikan
sebagai imunisasi pendahuluan untuk mendapatkan kekebalan
yang tnaksimal terhadap vaksinasi Dengue­2.
RINGKASAN
Penelitian vaksin virus DEN­2 (PR­159/S­1) telah di-
lakukan terhadap rhesus monkey, manusia dewasa yang kebal
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 51
background image
dan
lan dan tampak gejala-
ejala Dengue ringan (seperti: menggigil, demam, sakit kepala,
saki
in.
ngka
kebalan
t
Flavivirus memberi kekebalan 90%
(
n
g ta
heter
gos
Fla
01), kekebala
ukup lama
sampai lebih dari 18 bulan, titer antibodinya 3 kali lebih tinggi
g tidak k bal terhadap h erologos Flav irus
), dan han
beberapa
engeluh seperti
ue ringan.
ksin virus DEN­2 (PR­159 ­1) adalah vaksin
eal.
Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Ibu Dra. Hariyani
Marw
ak Drh Suharyono MPH atas bimbingan dan sarannya dalam
penu
andt WE. Immunopathologjc processes and viral
antigens associated with sequential dengue virus infections. Petspse Virol
1
11.
Scott R
ine : Dose
response in volunteers
er immune status. J Infect
Dis 1983; 148 (6) : 1055­1060.
12.
Reed LJ, Muench HA. A si ple m
nd
points. Am J Hy 1938; 27 : 493­497.
13
M
ckels
Den
2
:
y
i
s
49 (
010.
14.
B
roft W
R
randt WE, a
L Dengue­2 vaccine:
I
tion of
gypt
itoes
*ant
cipien
m
J
p Med
; 3
9­1
.
15.
Gubler DJ, Rosen L. A si
hnique for demonstrating trans-m
of dengue virus by mosq
itho
e use
te
hosts.
J
ique for the detection of dengue
uitoes by immunofluorescence. Am J Trop Med Hyg 1977;
26 : 533­537
tidak kebal terhadap infeksi Flavivirus (yellow fever), serta
pada nyamuk Aedes aegypti. Dart penelitian-penelitian
tersebut, ternyata vaksin virus DEN­2 (PR-159/S­I) hanya
memberi kekebalan 61% pada orang dewasa yang tidak mem-
punyai antibodi (kekebalan) terhadap heterologos Flavivirus,
kekebalannya bertahan kurang dari 6 bu
g
t perut; mual-mual dan sebagainya) pada penerima vaks
n pada penerima vakrtn yang mempunyai ke
Seda
erhadap heterologos
be
e
rbeda bermakna d gan yan
k kebal terhadap
olo
vivirus, p < 0,
nnya bertahan c
dibandingkan yan
e
et
iv
(yellow fever
ya
yang m
pen akit D
y
eng
Jadi Va
/S
yang tidak id
Ucapan Terima Kasih
oto dan Bap
lisan ini
KEPUSTAKAAN
1.
Departemen Kesehatan R.I., Direktorat Jenderal PPM & PLP.
Demam Berdarah : Diangosa dan Pengeioiaan penderita 1986.
2.
WHO. Dengue Haemoorhagic Fever : Diagnosis, treatment and
control Geneva : 1986.
3.
Eckels KH, Harrison VR, Summers PL, Russell PK. Dengue­2 vaccine :
Preparation from a small-plaque virus clone. Imfect Immun 1980; 27 (1) :
175­180.
4.
Halstead SB. Dengue haemorrhagic fever ­ a public health problem
and a field for research. Bulletin of the WHO 1980; 58 : 14­45,
5.
Eckels KH, Brandt WE, Harmon VR, Wood JM. Russel PK.
Isolation of a teapesature-sensitive dengue­2 virus under con-
ditions suitable for vaccine development. Infect immun 1976;
14 : 1221­1227.
6.
Bancroft WH, Top FHJr, Eckds KH, Anderson JHJr, McCown JM,
Russeel PK. Dengue­2 vaccine : Virological, Imtaunci.gieal, and
Clinical Responses of Six Yellow Fever­Immune Recipients. infect
Immun,1981; 31 (2) : 698­703.
7.
Scott TMcN, Nisalak A, Eckels Kill, et aL Dengue­2 vaccine :
Viremia and Immune Responses in Rhesus Monkeys. Infect immun
1980;27(1):181­186.
8.
Schlesinger RW, Gordon I, Frankel JW, et 4 Clinical and serologis
response of man to immunization with attenuated dengue W yellow fever
virusses. Journal of Immunology 1956; 77 : 352­364.
9.
Scott RMcN, McCown JM, Russell PK. Hunan Imxnuneglobulin
specificity after group B arbo rtes infections. Infect linmun 1972;
6 : 277­281.
10.
Russell PK, Br
975; 7 : 263­277.
.McN, Eckels KH, Brancroft WH, at aL Dengue­2 vacc
in relation to yellow fev
m
ethod for estimating fifty percent e
g
.
Bancroft WH, Scott R cN, E
KH, et aL
gue Vifus Type
Vaccine
1984; 1
Reactogenicit
6) : 1005­1
and Imm
unogenicity in Sold ers. The J Infect Di
anc
H, Scott
McN, B
t a
nfec
Aedes ae
i mosqu
by feeding on
ic re
ts. A
Tro
Hyg 1982 1 (6) : 122
231
mple tec
uitoes w
ission
Am
ut th
of ver brate
Trop Med Hyg 1976; 25 : 146­150.
16.
Kuberski TT, Rosen L.. A simple techn
antigen in mosq