background image
362
B
e
R
I
T
A
T
e
R
K
I
n
I
|
a g u s t u s 2 0 0 9
363
|
a g u s t u s 2 0 0 9
B
e
R
I
T
A
T
e
R
K
I
n
I
P
ara peneliti di A*STAR's In-
stitute of Molecular and Cell
Biology (IMCB) telah menjadi
yang pertama untuk mene-
mukan dan mengkarakterisa-
si protein manusia yang disebut Bax beta,
yang secara potensial menyebabkan ke-
matian sel-sel kanker dan mengarah pada
pendekatan baru dalam penanganan kan-
ker. Temuan ini dipublikasikan dalam Mo-
lecular Cell edisi 16 Januari 2009.
Deteksi Bax beta telah ditelaah lanjut
oleh para ilmuwan. Dr. Victor Yu, peneliti
utama tim riset IMCB mengatakan bahwa
temuan penelitian ini mengungkapkan
kadar protein BaxB secara normal dijaga
pada kadar yang tidak terdeteksi oleh `me-
sin' panghancur protein di dalam sel yang
dikenal dengan proteasom.
Proteasom adalah `mesin pencerna
protein' yang mengatur kadar seluler ber-
bagai protein, termasuk protein BaxB yang
mematikan, dengan cara memecahkannya
menjadi komponen lebih kecil. Adanya
proteasom menjaga Bax beta tetap ter-
kendali. Jika perusakan Bax beta yang di-
mediasi proteosom dapat dihambat secara
spesifik di dalam sel-sel kanker, dapat me-
nyebabkan apoptosis (kematian sel terpro-
gram) sel-sel kanker berbahaya.
Sebelum temuan Bax beta oleh tim
Dr. Yu, hanya dikenal satu macam protein
yang disebut Bax alfa yang telah dipelajari
mendalam. Bukti sebelumnya menjelaskan
lebih dari 1 protein dikode oleh gen Bax.
Namun demikian, hanya protein tung-
gal Bax alfa yang terdeteksi dan dipelajari
ekstensif di dalam sel. Bax dikenal sebagai
gen kunci yang diperlukan bagi tahapan
eksekusi apoptosis. Para peneliti juga me-
nemukan bahwa Bax beta dapat berhu-
bungan dan mempromosi aktivasi Bax alfa,
dan bentuk alami Bax beta 100 kali lebih
poten dibandingkan kembarannya Bax alfa
dalam memicu tahap kunci apoptosis.
Pengembangan senyawa baru masa
depan untuk secara selektif meningkatkan
kadar Bax beta atau menstimulasi interaksi
Identifikasi Protein
Kunci Penyebab Kematian
Sel-Sel Kanker
dengan Bax alfa; dapat mengarah pada
pendekatan obat kanker baru. Senyawa-
senyawa ini biasanya meningkatkan signal
apoptosis yang dipicu oleh obat-obat kan-
ker konvensional, sehingga dosis obat bisa
lebih rendah.
Dr David Andrew, Profesor dari Bio-
chemistry and Biomedical Sciences di Mc-
Master University Kanada menambahkan
bahwa Bax beta tersembunyi selama bebe-
rapa tahun. Walaupun awal penelitian telah
menguak keberadaannya, protein ini sangat
sulit dideteksi dan diuji fungsinya. Bahkan
usaha-usaha untuk memproduksi protein di
laboratorium secara besar-besaran telah ga-
gal. Tahun ini, kelompok Yu mengungkap-
kan isu dengan mendemonstrasikan bahwa
di dalam sel, Bax beta secara normal dirusak
sangat cepat dan dijaga dalam kadar rendah.
Jika tidak dirusak, akan bekerjasama har-
monis dengan Bax alfa.
Studi ini menghasilkan informasi yang
diperlukan bagi elusidasi Bax beta dalam
fisiologi sel. n
NFA
Barclay, Laurie.Red and Processed Meat Intake
1.
Linked to Mortality.2009.Medscape.www.
medscape.com
Sinha, R; et al.Meat Intake and Mortality.2009.
2.
Arch Intern Med.196(6).562-71
Referensi
H
asil penelitian yang di-
muat dalam Archives of
Internal Medicine mene-
mukan bahwa konsumsi
daging merah dan daging
olahan dapat meningkatkan mortalitas se-
cara keseluruhan, mortalitas terkait kan-
ker, dan mortalitas terkait penyakit kardio-
vaskular.
Penelitian The National Institute of
Health-AARP Diet and Healthy Study
yang melibatkan sekitar 500.000 peserta,
bertujuan menilai pengaruh konsumsi
daging merah, daging putih, dan daging
olahan terhadap mortalitas. Daging merah
yang dimaksud meliputi : daging sapi dan
babi (termasuk hamburger, hot dog, steak,
pizza, dsb). Daging putih yang dimaksud
meliputi : daging ayam, kalkun, dan ikan.
Sedangkan daging olahan yang dimaksud
meliputi : daging merah dan daging putih
dalam bentuk sandwich dan daging beku.
Hasilnya, selama 10 tahun ditemukan se-
bagai berikut :
Angka mortalitas keseluruhan, mor-
1.
talitas terkait kanker, dan mortalitas
terkait penyakit kardiovaskular men-
galami meningkat bermakna pada re-
sponden yang banyak mengkonsumsi
daging merah dan daging olahan
dibandingkan yang sedikit mengkon-
sumsi daging tersebut.
Tingginya konsumsi daging putih ber-
2.
hubungan dengan sedikit penurunan
mortalitas keseluruhan (HR : 0,92; 95%
CI, 0,89 ­ 0,94; p<0,001) dan mortali-
tas terkait kanker (HR : 0,84; 95% CI,
0,80 ­ 0,88; p<0,001).
SIMPULAN
Asupan daging merah dan daging ola-
han berhubungan dengan sedikit pening-
katan risiko mortalitas total, terkait kanker,
dan terkait penyakit kardiovaskular pada
pria dan wanita. Sebaliknya, asupan da ging
putih yang tinggi berhubungan dengan
sedikit penurunan risiko mortalitas total
Konsumsi Daging Merah
Dan Daging Olahan
Meningkatkan Mortalitas
HR Risiko Mortalitas : (95%
CI)
Pria
Wanita
Nilai p
Keseluruhan; Daging Merah
1,31 (1,27 ­ 1,35)
1,36 (1,30 ­ 1,43)
< 0,001
Keseluruhan; Daging Olahan
1,16 (1,12 ­ 1,20)
1,25 (1,20 ­ 1,31)
< 0,001
Terkait Kanker; Daging Merah
1,22 (1,16 ­ 1,29)
1,20 (1,12 ­ 1,30)
< 0,001
Terkait Kanker; Daging Olahan
1,12 (1,06 ­ 1,19)
1,11 (1,04 ­ 1,19)
0,001
Terkait Penyakit Kardiovaskular
; Daging Merah
1,27 (1,20 ­ 1,35)
1,50 (1,37 ­ 1,65)
< 0,001
Terkait Penyakit Kardiovaskular
; Daging Olahan
1,09 (1,03 ­ 1,15)
1,38 (1,26 ­ 1,51)
< 0,001
Keterangan : HR : Hazard Ratio; CI : Confidence Interval
dan terkait kanker.
Hasil penelitian ini sejalan dengan
rekomendasi the American Institute for
Cancer Research dan the World Cancer
Research Fund untuk membatasi konsum-
si daging merah dan daging olahan untuk
menurunkan insiden timbulnya penyakit
kanker. n
LHS