background image
B E R I T A T E R K I N I
B E R I T A T E R K I N I
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
42
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
43
W
alaupun demam merupakan reaksi normal tubuh terhadap adanya
infeksi dan sebenarnya tidak perlu ditangani, namun masyarakat telah
menggunakan obat-obat antipiretik secara luas. Alasan penggunaan
obat-obat antipiretik adalah untuk mengurangi ketidaknyamanan,
mengontrol demam, dan mencegah timbulnya kejang demam.
Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk menangani demam
adalah dengan menggunakan obat-obat antipiretik parasetamol dan
ibuprofen. Parasetamol dan ibuprofen telah memperlihatkan efek
antipiretik yang lebih unggul dibandingkan dengan plasebo; ibuprofen
lebih unggul dibandingkan parasetamol. Karena mekanisme kerja
kedua obat tersebut berbeda, terdapat kemungkinan keduanya lebih
efektif bila diberikan secara kombinasi dibandingkan jika digunakan
sendiri-sendiri. Namun, bukti yang mendukung penggunaan kedua
obat tersebut secara kombinasi masih sangat sedikit dan kontradiktif.
Panduan NICE yang terakhir menganjurkan penggunaan ibuprofen
atau parasetamol untuk anak-anak yang mengalami demam dan tidak
menganjurkan penggunaan kedua obat tersebut sebagai kombinasi
ataupun digunakan secara bergantian karena masih sedikitnya bukti
yang mendukung penggunaan keduanya sebagai kombinasi.
Untuk mengetahui apakah penggunaan kombinasi parasetamol dan
ibuprofen lebih unggul dibandingkan jika digunakan sendiri-sendiri
untuk memperpanjang waktu bebas demam dan mempercepat
penurunan demam pada anak saat di rumah dilakukan uji klinik
individually randomized, blinded, three arm trial melibatkan 156
anak-anak usia 6 bulan-6 tahun dengan suhu aksila 37,8°C-41,0°C.
Partisipan dibagi dalam 3 kelompok yaitu: kelompok yang mendapatkan
parasetamol + ibuprofen (n=52), hanya parasetamol saja (n=52), dan
hanya ibuprofen saja (n=52). Dosis parasetamol adalah 15 mg/kg/dosis
dan dosis ibuprofen adalah 10 mg/kg/dosis. Parasetamol diberikan
setiap 4-6 jam (maksimum 4 kali pemberian dalam 24 jam) sedangkan
ibuprofen diberikan setiap 6-8 jam (maksimum 3 kali pemberian
dalam 24 jam). Semua obat diberikan hingga jam ke-48.
Parameter yang dinilai: Primer: waktu bebas demam (<37,2°C) dalam
4 jam pertama setelah pemberian dosis pertama dan proporsi anak-
anak yang kembali pada keadaan normal pada jam ke-48. Sekunder:
waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu normal, waktu bebas
demam dalam 24 jam, gejala-gejala lain yang menyertai demam, dan
timbulnya efek samping.
Hasil:
Parasetamol + ibuprofen lebih unggul dibandingkan dengan para-
setamol saja dalam waktu bebas demam dalam 4 jam pertama
(adjusted difference 55 menit, 95% CI 33-77; p<0,001) dan
sebanding dengan ibuprofen saja (adjusted difference 16 menit,
95% CI -7-39; p=0,2).
Parasetamol + ibuprofen lebih unggul dibandingkan dengan para-
setamol saja dalam waktu bebas demam dalam 24 jam (adjusted
difference 4,4 jam; 95% CI 2,4-6,3; p<0,001) dan juga dengan
ibuprofen saja (adjusted difference 2,5 jam; 95% CI 0,6-4,4; p=0,008).
Terapi kombinasi parasetamol + ibuprofen menurunkan demam
23 menit lebih cepat (95% CI 2-45; p=0,025) dibandingkan dengan
parasetamol saja namun tidak lebih cepat dibandingkan dengan
ibuprofen saja (adjusted difference -3 menit; 95% CI 18-[-24]; p=0,8).
Tidak ada keuntungan yang ditemukan dalam studi ini terhadap gejala-
gejala lainnya yang menyertai demam.
Tidak ada perbedaan efek samping antara ketiga kelompok studi.
Kesimpulan: Pada anak-anak yang mengalami demam dianjurkan
penggunaan ibuprofen terlebih dahulu; kombinasi parasetamol +
ibuprofen dapat dipertimbangkan untuk memperpanjang waktu bebas
demam dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian.
Studi lain mengenai kombinasi penggunaan parasetamol dan ibu-
profen bertujuan membandingkan efek antipiretik monoterapi para-
setamol atau ibuprofen dengan terapi kombinasi ibuprofen + parase-
tamol pada anak-anak usia 6-36 bulan. Merupakan uji klinik secara
acak, tersamar ganda, dan paralel melibatkan 464 anak-anak usia 6-
36 bulan yang mengalami demam. Partisipan dibagi dalam 3 kelompok:
kelompok I (n=154) mendapatkan parasetamol 12,5 mg/kg/kali
setiap 6 jam, kelompok II (n=155) mendapatkan ibuprofen 5 mg/kg/
kali setiap 8 jam, dan kelompok III (n=155) mendapatkan kombinasi
parasetamol + ibuprofen (setiap 4 jam) selama 3 hari setelah pemberian
dosis awal. Parameter yang dinilai: suhu, skor stress, jumlah antipiretik
yang digunakan, total absen orangtua di kantor, timbulnya demam
kembali, dan jumlah kunjungan ke UGD.
Hasil:
Kelompok III memperlihatkan suhu tubuh rata-rata yang lebih rendah,
penurunan suhu tubuh yang lebih cepat, jumlah obat antipiretik
yang dibutuhkan lebih sedikit, skor stres lebih rendah, dan total
absen orangtua lebih sedikit dibandingkan dengan 2 kelompok
yang lain; semua hasil tersebut berbeda bermakna (p<0,001).
Jumlah kunjungan ke UGD tidak berbeda bermakna antara ketiga
kelompok (p=0,65), begitu juga dengan jumlah komplikasi jangka
panjang yang serius (p=0,66).
Simpulan: kombinasi parasetamol + ibuprofen lebih efektif dibanding-
kan dengan monoterapi parasetamol atau ibuprofen dalam menurunkan
demam pada bayi dan anak-anak. (VKS)
Referensi :
1. Hay AD et al. Paracetamol plus ibuprofen for the treatment of fever in children (PITCH) : randomised
controlled
trial.
In:
BMJ. 2008; 337: a1302. Available from: http://www.bmj.com/cgi/content/full/337
2. Barclay L. Ibuprofen May Be Preferred First-Line Therapy for Children With Fever. 2008. Available from:
http://www.medscape.com/viewarticle/580157
3. Sarrell EM et al. Antipyretic Treatment in Young Children with Fever : Acetaminophen, Ibuprofen,
or Both Alternating in a Randomised Double-Blind Study. In : Arch Pediatr Adolesc Med. 2006;
160 : 197-202. Available from : http://archpedi.ama-assn.org/cgi/reprint/160/2/197
Demam merupakan salah satu gejala penyakit yang
paling sering dialami oleh anak-anak, 70% dialami
oleh anak-anak prasekolah setiap tahunnya.
Sebanyak 40% anak-anak prasekolah dibawa ke
dokter karena demam setiap tahunnya.
Saat ini banyak tumbuh-tumbuhan alami yang mulai di-
kembangkan untuk pengobatan kejiwaan, seperti Lavender
dan Saffron yang merupakan tumbuhan alami yang telah
banyak digunakan di industri kosmetik, makanan dan juga
sering digunakan sebagai aromaterapi.
Lavender dan Saffron
untuk Atasi Depresi
dan Cemas
L
avender dan Saffron telah dilaporkan mempunyai efek
ansiolitik atau anticemas atau bahkan sebagai antidepresan.
Meskipun data yang menunjukkan efek positif masih sangat
terbatas dan masih membutuhkan pembuktian, penelitian
fase I menunjukkan hasil yang cukup baik.
Pada penelitian fase I pada manusia menggunakan cairan
Lavender yang dilarutkan dengan alkohol perilil (POH), pada
pasien kanker memperlihatkan keamanan dan tolerabilitas
meskipun segi efikasinya belum diketahui.
Berikut adalah penelitian yang pernah dipublikasi terhadap
efektivitas Lavandula angustifolia (Lavender) :
Penelitian pada pasien demensia dengan gangguan agitasi
di Hong Kong, dilakukan secara acak buta ganda, silang ter-
hadap 70 pasien China usia lanjut dan mengalami demensia.
Sebagian pasien diacak dan diberi inhalasi Lavender selama 3
minggu dan kemudian ditukar ke kelompok kontrolnya yang
diberi inhalasi bunga matahari 3 minggu kemudian. Respon
klinik dievaluasi dengan penilaian skala CMAI/Cohen- Mansfield
Agitation Inventory dan skala NPI/Neuropsychiatric Inventory
berbahasa China. Didapatkan skor total CMAI turun dari
24,68 ke 17,77 secara bermakna (p < 0.001). Skor NPI berubah
dari 63,17 (SD = 17.81) ke 58,77 (SD = 16.74) secara
bermakna (p < 0.001) setelah diterapi inhalasi Lavender.
Tidak ditemukan adanya efek periode dan efek sekuensial.
Kesimpulan akhir menyatakan bahwa Lavender efektif sebagai
terapi tambahan untuk memperbaiki tingkah laku pasien
demensia.
Pernah dilakukan pembandingan efikasi ekstrak Lavender
angustifolia dengan antidepresan trisiklik imipramin pada
depresi ringan sampai sedang selama 4 minggu. Pasien adalah
45 orang dewasa yang diacak secara buta ganda dan sebelum-
nya didiagnosis dengan DSM IV, skor depresi dari HAMD
(Hamilton Rating Scale for Depression) pada baseline 18.
Pasien diberisecara acak: untuk kelompok A > Lavandula
tincture (1:5 pada 50% alkohol) 60 tetes/hari ditambah tablet
plasebo, untuk kelompok B > tablet Imipramin 100
mg/hari ditambah plasebo tetes dan kelompok C > Imipra-
min tablet 100 mg/hari plus Lavandula tincture 60 tetes /hari.
Lamanya penelitian 4 minggu.
Studi awal menunjukkan bahwa Lavandula tincture ditemukan
sedikit efektif dibandingkan dengan Imipramin pada terapi
depresi ringan sampai sedang secara bermakna (P=.001).
Kelompok Imipramin merasakan efek antikolinergik yang sangat
menonjol, sedangkan pada semua kelompok Lavandula tincture
hanya menderita sakit kepala ringan. Kombinasi Imipramine
dan Lavandula tincture terlihat lebih baik dibandingkan dengan
pemberian Imipramine saja (P<.0001).
Selain Lavender, ada tumbuhan lain yang ternyata mempunyai
efek antidepresan yang baik yaitu Saffron atau Crocus sativus L.
yang sebenarnya sudah dikenal sebagai bumbu masa. Saat
ini Saffron telah diketahui manfaatnya sebagai pengobatan
depresi. Bahkan pernah dibandingkan antara Crocus sativus
(saffron) dengan antidepresan Imipramin pada pasien depresi
ringan sampai sedang pada 6 minggu pengobatan.
Sekitar 31 pasien yang rawat jalan dan mengalami depresi
yang ditegakkan diagnosisnya dengan criteria DSM IV dan
kemudian depresinya ditegakkan dengan skala HAMD/ Hamilton
Rating Scale for Depression yang nilai skornya adalah kurang
lebih 18. Pasien secara acak dan dibagi menjadi 2 kelompok,
kelompok A diberikan kapsul berisi Saffron 30 mg/hari 3 kali
sehari, dan kelompok ke 2 diberikan Imipramin kapsul 100
mg/hari 3 kali sehari selama 6 minggu.Dosis Saffron yang
diberikan terlihat sama efektifnya dengan Imipramin pada
terapi depresi ringan sampai sedang (P = 0.09). Efek samping
antikolinergik Imipramin ditemukan jauh lebih banyak jika
dibandingkan dengan Saffron yang tanpa efek samping serius.
Penelitian lain membandingkan ekstrak Saffron/Crocus sativus
dengan Fluoksetin pada 40 pasien depresi ; kelompok I diberi
kapsul Saffron 30 mg/hari 2 kali sehari dibandingkan dengan
kelompok 2 dengan Fluoksetin 20 mg/hari selama 6-minggu;
terlihat hasil yang sama di antara ke dua kelompok tersebut.
( P = 0.71). Efek samping juga terlihat ringan terlihat pada ke
dua kelompok. (IDS)
·
·
·
·
·
·
·
Kombinasi Ibuprofen
Kombinasi Ibuprofen
dengan Parasetamol
dengan Parasetamol
untuk Menurunkan
untuk Menurunkan
Demam pada Anak
Demam pada Anak
Kombinasi Ibuprofen
dengan Parasetamol
untuk Menurunkan
Demam pada Anak