background image
Gambar dari dalam tubuh ? Sekarang dapat dilakukan dengan sebuah kamera mini yang harus ditelan
oleh pasien. Pil kamera ini tidak lebih besar dari sebuah permen. Dokter mengendalikannya melalui
esofagus dan lambung dengan alat magnet yang sekaligus dapat mengarahkan dan menghentikan
saat dibutuhkan dan mengirimkan gambar.
Hal ini membuat pengujian yang lebih akurat pada sambungan
antara esofagus dan lambung, untuk mendeteksi kerja sfingter
kardiak, keluarnya asam lambung ke dalam esofagus dan penye-
bab heartburn yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan
kanker esofagus. Para peneliti telah mengembangkan peralatan
magnetik sebesar batang coklat yang dapat digunakan dokter
dari luar tubuh untuk mengendalikan gerak kamera.
Pil kamera terdiri dari kamera, sebuah transmiter yang me-
ngirimkan gambar ke penerima, sebuah baterai dan beberapa
dioda dingin yang menyala seperti lampu kilat setiap kali
gambar diambil. Pil kamera prototipe telah lolos uji pertama
dalam tubuh manusia. Para ilmuwan telah menunjukkan bahwa
kamera dapat tinggal di dalam esofagus selama 10 menit,
walaupun pasien duduk tegak.
(NFA)
Sumber :
1. www.fraunhofer.de
2. www.medicineworld.org/cancer/lead/6-2008/magnet-controlled-camera-
in-the-body.html
BERITA TERKINI
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
422
CDK 166/vol.35 no.7/November - Desember 2008
423
BERITA TERKINI
Obat-obat golongan statin digunakan secara luas untuk menurunkan kadar kolesterol dalam
darah. Penelitian-penelitian besar memperlihatkan kemampuan statin dalam menurunkan
risiko kematian karena kardiovaskular, infark miokard nonfatal, stroke dan menurunkan perlunya
tindakan revaskularisasi. Semua pengaruh menguntungkan ini karena kemampuan statin
dalam menurunkan kadar LDL (low-density lipoprotein).
B
ahkan dalam sebuah penelitian pada pasien anak dan remaja
dengan hiperkolesterolemi familial, terapi statin menghambat
progresifitas penebalan intima pembuluh darah, sehingga dapat
mencegah arterosklerosis pada masa dewasa.
Enam obat statin sekarang tersedia di pasaran dunia: lovastatin,
simvastatin, pravastatin, fluvastatin, atorvastatin, and rosuvastatin,
sedangkan pitavastatin tersedia di India dan Jepang. Mengingat
penggunaan statin diperkirakan akan terus meningkat karena
peningkatan kejadian hiperlipidemi dan efek pleiotropik yang
menguntungkan, maka keamanan dan tolerabilitas pasien
sangatlah penting.
Sebuah penelitian meta analisis dilakukan untuk mengetahui
efek statin terhadap kematian, kejadian vaskular serta keama-
nan statin pada pasien usia lanjut. Hasilnya memperlihatkan
bahwa terapi menggunakan statin bermakna menurunkan
kematian karena semua sebab dan kematian karena kardio-
vaskular, dan relatif aman diberikan pada pasien usia lanjut.
Penelitian lain dilakukan oleh Dr Jane Armitage dari University
of Oxford, Inggris untuk menguji keamanan obat-obat golon-
gan statin. Kesimpulannya adalah bahwa obat-obat golongan
statin ditoleransi dengan baik. Efek samping yang sering di-
bicarakan seperti miopati dan rabdomiolisis jarang terjadi bila
digunakan dosis standar yang dianjurkan. Dr Jane mengatakan
bahwa walaupun ada beberapa keberatan mengenai pernya-
taan ini, jika dosis diberikan sesuai anjuran, obat-obat golongan
statin merupakan obat yang relatif aman. Hasil penelitian ini
dipublikasikan dalam The Lancet Juni 2008.
Dr Jane Armitage dan rekan melakukan penelitian terhadap
data penelitian yang dipublikasikan dari tahun 1985 hingga
2006 mengenai efektifitas, efek samping dan keamanan obat
golongan statin. Hasilnya memperlihatkan efektifitas statin dalam
menurunkan angka kejadian kematian karena kardiovaskular,
infark miokard tidak fatal, stroke dan menurunkan perlunya
revaskularisasi. Sedangkan efek samping yang sering terjadi
adalah toksisitas pada otot, di antaranya miopati dan rabdomio-
lisis, dan gangguan enzim pencernaan. Semua obat golongan
statin dapat menyebabkan miopati, yang dapat berkembang
menjadi rabdomiolisis. Namun angka kejadian miopati kurang
dari 1 per 10.000 pasien dengan penggunaan dosis standar
statin. Risiko miopati meningkat seiring dengan peningkatan
dosis, namun tetap rendah dengan atorvastatin 80 mg. Selain
itu diketahui bahwa miopati dan rabdomiolisis ini biasanya
terjadi bila obat-obat statin digunakan bersamaan dengan obat
lainnya, seperti golongan fibrat.
Dr. Jane mengatakan bahwa nyeri otot sering terjadi pada
pasien paruh baya dan jika pasien tersebut diterapi dengan
statin, statinlah yang biasanya dipersalahkan menjadi penyebab
nyeri ini. Pemeriksaan kreatinin kinase pada pasien-pasien
tersebut dapat menyingkirkan adanya miopati dan terapi statin
dapat diteruskan.
Peningkatan enzim transaminase secara umum terlihat pada 6
bulan pertama terapi. Biasanya peningkatan enzim transaminase
tanpa gejala klinis dan reversibel bila terapi dihentikan atau
dosis dikurangi. Peningkatan enzim tergantung dosis dan tidak
ada bukti kuat mengenai hubungan antara peningkatan enzim
yang terjadi dengan kerusakan hati (hepatitis atau gagal hati).
Pemeriksaan hati rutin tidak lagi direkomendasikan pada peng-
gunaan simvastatin, pravastatin, atau lovastatin hingga dosis
40 mg sehari, namun tetap direkomendasikan pada penggu-
naan statin lainnya. Jika enzim pencernaan meningkat 3 kali
lipat dibandingkan dengan kadar enzim pada orang normal
yang tidak mengalami gangguan hati, enzim pencernaan harus
dipantau selama 1 minggu. Jika kadar enzim alanin transaminase
tetap tidak turun, statin harus dihentikan sementara. Peningkatan
enzim pencernaan 2-3 kali dari batas normal orang sehat me-
merlukan pemantauan, namun biasanya peningkatannya akan
berangsur berkurang selama terapi.
Dan walaupun statin diketahui relatif aman pada pasien usia
lanjut, penyesuaian dosis perlu dilakukan pada pasien usia
lanjut. Pada beberapa penelitian yang melibatkan pasien yang
lebih tua dari 80 tahun diperkirakan terjadi peningkatan risiko
miopati.Pasien yang menerima terapi warfarin perlu menye-
suaikan dosis warfarinnya pada awal dan akhir terapi statin.
Kesimpulan:
· Obat-obat golongan statin relatif aman pada dosis standar
yang
dianjurkan.
· Efek samping yang paling sering dijumpai adalah miopati,
rabdomiolisis
dan
peningkatan
enzim
transaminase.
· Kejadian miopati terjadi kurang dari 1 per 10.000 orang.
(YYA)
Referensi:
1. Armitage J. The safety of statins in clinical practice. Lancet 2007; 370:1781-90
2. Ballantyne CM., Corsini A, Davidson MH. et al. Risk for Myopathy with Statin Therapy
in High-Risk Patients. Arch Intern Med. 2003;163:553-64.
3. Hughes S. Statins Are "Remarkably Safe," Says New Review . http://www.medscape.com/
viewarticle/558019?src=mp&spon=17&uac=117092CG
4. Josan K, Majumdar SR, McAlister FA et al. The efficacy and safety of intensive statin
therapy: a meta-analysis of randomized trials. CMAJ 2008; 178 (5).
5. Roberts CGP, Guallar E, Rodriguez A. Efficacy and Safety of Statin Monotherapy inc
Older Adults: A Meta-Analysis. J. Gerontol. Series A: Biological Sciences and Medical
Sciences 2007; 62: 879-87.
6. Rodenburg J, Vissers MN, Wiegman A. et al. Statin Treatment in Children With Familial
Hypercholesterolemia. The Younger, the Better. Circulation 2007; 116: 664 - 8
Profil Keamanan Terapi Statin
Kamera terkontrol magnet
Kamera terkontrol magnet
di dalam tubuh
di dalam tubuh
Kamera terkontrol magnet
di dalam tubuh
G
ambar dari dalam usus halus juga dapat diperoleh. Kamera
ini dapat melalui usus halus dan mengirimkan gambar villi
intestinal ke penerima di luar yang dibawa diikat pinggang
pasien. Alat ini menyimpan data untuk kemudian dianalisis
dokter dan mengidentifikasi adanya perdarahan atau kista.
Namun, kamera tidak cocok untuk pengujian esofagus dan
lambung. Alasannya adalah karena kamera hanya sekitar 3-4
detik melalui esofagus, yang menghasilkan 2-4 gambar per
detik. Saat mencapai lambung, berat kamera yang berkisar 5
gram akan turun secara cepat ke dasar lambung sehingga
terlalu cepat untuk mengirimkan gambar-gambar yang baik.
Oleh karena itu, untuk pengujian esofagus dan lambung, tetap
harus melalui endoskopi.
Para ilmuwan dari the Fraunhofer Institute for Biomedical
Engineering berkolaborasi dengan insinyur dari pabrik Given
Imaging, Israelite Hospital di Hamburg dan the Royal Imperial
College di London telah mengembangkan sistem kontrol untuk
pil kamera. Menurut Dr. Frank Volke, pimpinan tim, di masa
depan dokter dapat menghentikan kamera di esofagus, menaik
turunkan dan mengatur sudut kamera yang diperlukan.