background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Studi Manfaat Daun Katuk
(Sauropus androgynus)
Sriana Azis, S. R. Muktiningsih
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi,Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
ABSTRAK
Pada umumnya daun katuk digunakan sebagai sayuran. Di Indonesia daun katuk digunakan
untuk melancarkan air susu ibu, obat borok, bisul, demam, dan darah kotor. Daun katuk
diproduksi sebagai sediaan fitofarmaka yang berkhasiat untuk melancarkan ASI (air susu ibu).
Sepuluh sediaan fitofarmaka daun katuk sebagai pelancar ASI telah beredar di Indonesia pada
tahun 2000.
Masalah: Ada laporan kerusakan paru dalam 7 bulan setelah konsumsi daun katuk mentah
dengan dosis 150 g/hari dan setelah 22 bulan terjadi kerusakan paru yang parah serta
permanen.Bahan dan cara: Menggunakan buku rujukan, hasil penelitian dari dalam dan luar
negeri. Studi meliputi ekologi, ekonomi, khasiat, efeksamping, dan harapan masa depan.Data
dianalisis secara deskriptif.
Hasil: Tanaman katuk tumbuh dan menghasikan daun ranum yang beratnya meningkat bila
ditanam bersamaan dengan tanaman pelindung ketela pohon atau jagung. Hasil setiap panen per
50­60 hari 3000-6000 kg/ha dengan harga Rp 500,-/kg. Kandungan zat: daun katuk kaya vitamin
dan mineral. Khasiat: daun katuk sebagai pelancar air susu ibu dapat dibuktikan secara klinis dan
preklinis. Efek samping: Jus daun katuk mentah dengan dosis 150 mg /hari sebagai obat obesitas
setelah 2 minggu - 7 bulan menimbulkan gejala sukar tidur, makan tidak enak, sesak nafas dan
batuk. Penggunaan lebih lama menimbulkan bronkiolitis konstriksi dan setelah 22 bulan terjadi
bronkiolitis obliterasi permanen. Oleh karena itu penting diteliti lebih lanjut efek samping sediaan
pelancar ASI daun katuk terhadap ibu dan bayinya.
PENDAHULUAN
Daun katuk adalah daun dari tanaman Sauropus
adrogynus(L)Merr, famili Euphorbiaceae. Nama daerah:
Memata (Melayu), Simani (Minangkabau), Katuk (Sunda),
Kebing dan Katukan (Jawa), Kerakur (Madura).
(1)
Terdapat di
berbagai daerah di India, Malaysia dan Indonesia. Di Indonesia
tumbuh di dataran dengan ketinggian 0-2100 m di atas
permukaan laut. Tanaman ini berbentuk perdu. Tingginya
mencapai 2-3 m. Cabang-cabang agak lunak dan terbagi Daun
tersusun selang-seling pada satu tangkai, berbentuk lonjong
sampai bundar dengan panjang 2,5 cm dan lebar 1,25-3 cm.
Bunga tunggal atau berkelompok tiga. Buah bertangkai panjang
1,25 cm.
(2)
Tanaman katuk dapat diperbanyak dengan stek dari
batang yang sudah berkayu, panjang lebih kurang 20 cm
disemaikan terlebih dahulu. Setelah berakar sekitar 2 minggu
dapat dipindahkan ke kebun. Jarak tanam panjang 30 cm dan
lebar 30 cm. Setelah tinggi mencapai 50-60 cm dilakukan
pemangkasan agar selalu didapatkan daun muda dan segar. Di
Kabupaten Bogor telah dibudidayakan untuk meningkatkan
pendapatan penduduk.
(2)
Pada umumnya daun katuk digunakan
sebagai sayuran. Di Indonesia daun katuk digunakan untuk
melancarkan air susu ibu, obat borok, bisul, demam, dan darah
kotor. Daun katuk sudah diproduksi sebagai sediaan
fitofarmaka yang berkhasiat untuk melancarkan ASI. Sepuluh
pelancar ASI yang mengandung daun katuk telah beredar di
Indonesia pada tahun 2000.
DATA
Ekologi dan ekonomi
Tanaman katuk dibudidayakan di tiga desa kecamatan
Semplak kabupaten Bogor dengan ketinggian 180-220m dpl,
tanah latosol, tipe curah hujan A (Schmidt &Ferguson,) dan
jumlah petani sekitar 100 orang. Pemeliharaan intensif dapat
meningkatkan umur produktif dari 5-7 tahun menjadi 11-12
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006
48
background image
tahun. Hasil panen pertama berkisar 3-4 ton/ ha, selanjutnya
meningkat mencapai 21-40 ton tergantung kesuburan
tanahnya.
(3)
Di desa Cilebut Barat, kecamatan Semplak,
Kabupaten Bogor katuk ditanam secara tradisional, dipanen
setelah berumur 2-2,5 bulan, pemangkasan selanjutnya
dilakukan setiap 40-60 hari. Hasil panen berkisar antara 3-7
ton/ha, dengan harga Rp500,00/kg. Tanaman sela meliputi
jagung, singkong, dan papaya. Ternyata tumpang sari dengan
singkong hasilnya lebih baik dibandingkan monokultur.
(4)
Tingkat naungan 25% memberikan pengaruh yang tebaik
terhadap jumlah tunas, bobot basah daun, bobot kering daun,
bobot kering akar dan panjang akar.
(5)
Panjang setek 20 cm dan
pupuk nitrogen 5 g/pohon berpengaruh terbaik terhadap bobot
basah daun dan akar.
(5)
Kandungan zat
Hasil analisis GCMS pada ekstrak heksana menunjukkan
adanya beberapa senyawa alifatik . Pada ekstrak eter terdapat
komponen utama yang meliputi : monometil suksinat, asam
benzoat dan asam 2-fenilmalonat; serta komponen minor
meliputi : terbutol, 2-propagiloksan, 4H-piran-4-on, 2-metoksi-
6-metil, 3-peten-2-on, 3-(2-furanil), dan asam palmitat. Pada
ekstrak etil asetat terdapat komponen utama yang meliputi: sis-
2-metil-siklopentanol asetat. Kandungan daun katuk meliputi
protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B, dan C.
pirolidinon, dan metil piroglutamat serta p-dodesilfenol sebagai
komponen minor.
(6)
Dalam 100 g daun katuk terkandung: energi 59 kal, protein
6,4 g, lemak 1,0 g, hidrat arang 9,9 g, serat 1,5 g, abu 1,7 g,
kalsium 233 mg, fosfor 98 mg, besi 3,5 mg, karoten 10020 mcg
(vitamin A), B, dan C 164 mg, serta air 81 g.
(7)
Tanaman katuk
dapat meningkatkan produksi ASI diduga berdasarkan efek
hormonal dari kandungan kimia sterol yang bersifat
estrogenik.
(8)
Pada penelitian terdahulu daun katuk mengandung
efedrin.
(9)
Efek farmakologis
Daun katuk berkhasiat memperbanyak air susu, untuk
demam, bisul, borok dan darah kotor
(1,2)
. Tiga peneliti
menyatakan infus daun katuk dapat meningkatkan produksi air
susu pada mencit. Infus daun katuk dapat meningkatkan
jumlah asini tiap lobulus kelenjar susu mencit. Satu peneliti
menyatakan isolat fase eter dan ekstrak petroleum eter daun
katuk tidak menyebabkan peningkatan sekresi air susu yang
bermakna. Satu peneliti menyatakan bahwa dekok akar katuk
mempunyai efek antipiretik terhadap burung merpati.
(10)
Infus akar katuk mempunyai efek diuretik dengan dosis 72
mg/100 g bb.
(11)
Konsumsi sayur katuk oleh ibu menyusui dapat
memperlama waktu menyusui bayi perempuan secara nyata
dan untuk bayi pria hanya meningkatkan frekuensi dan lama
menyusui.
(12)
Proses perebusan daun katuk dapat
menghilangkan sifat anti protozoa.
(13)
Pemberian infus daun
katuk kadar 20 %, 40 %, dan 80 % pada mencit selama periode
organogenesis tidak menyebabkan cacat bawaan (teratogenik)
dan tidak menyebabkan resorbsi.
(14)
Jus daun katuk mentah
digunakan sebagai pelangsing di Taiwan.
(9,15)
Efek samping
Di Taiwan 44 orang mengkonsumsi jus daun katuk mentah
(150 g) selama 2 minggu - 7 bulan, terjadi efek samping
dengan gejala sukar tidur, tidak enak makan dan sesak nafas.
Gejala hilang setelah 40-44 hari menghentikan konsumsi jus
daun katuk. Hasil biopsi dari 12 pasien menunjukkan
bronkiolitis obliterasi.
(9)
Sejumlah 178 pasien mengkonsumsi
jus daun katuk mentah dengan dosis 150 g / hari (60,7 %),
digoreng (16,9 %), campuran (20.8 %), dan digodok (1,7 %),
selama 7 bulan - 24 bulan. Terdapat efek samping setelah
penggunaaan selama 7 bulan berupa gejala obstruksi
bronkiolitis sedang sampai parah, sedangkan konsumsi selama
22 bulan atau lebih menyebabkan gejala bronkiolitis obliterasi
yang permanen.
(15)
Di Amerika, sejak tahun 1995 daun katuk goreng, salad
daun katuk, dan minuman banyak dikonsumsi oleh masyarakat
sebagai obat antiobesitas (pelangsing tubuh). Penelitian
dilakukan terhadap 115 kasus bronkiolitis obliterasi (110
perempuan dan 5 pria), berumur antara 22-66 tahun yang
sebelumnya mengkonsumsi daun katuk. Pada uji fungsi paru
terlihat obstruksi sedang sampai parah. Pengobatan dengan
campuran kortikosteroid, bronkodilatasi, eritromisin, dan zat
imunosupresi hampir tidak berkhasiat. Setelah 2 tahun
bronkiolitis obliterasi berkembang menjadi parah dan terjadi
kematian pada 6 pasien (6,1 %).
(16)
Proses perebusan daun katuk dapat menghilangkan sifat
anti protozoa
(13)
. Jadi dapat disimpulkan pemanasan dapat
mengurangi sampai meniadakan sifat racun daun katuk.
Jenis sediaan daun katuk
Dari 213 jenis jamu yang berasal dari 9 pabrik jamu, hanya
ditemukan 6 jenis jamu (2,8 %) yang mengandung daun katuk.
Dari 6 jenis tersebut, 4 jenis di antaranya mempunyai indikasi
sebagai pelancar ASI.
(13)
Data tahun 2000 menunjukkan 10 jenis sediaan
fitofarmaka daun katuk sebagai pelancar ASI telah beredar di
Indonesia
KESIMPULAN
Pemanfaatan daun katuk sebagai jamu atau sediaan
fitofarmaka adalah sebagai pelancar ASI. Efek samping utama
daun katuk adalah konstriksi bronkiolitis yang permanen.
Penelitian efek samping pelancar ASI terhadap ibu dan
anak belum penah dilakukan di Indonesia. Penelitian ini perlu
dilakukan, dan jika telah terbukti keamanannya maka sediaan
fitofarmaka daun katuk mempunyai peluang untuk dianjurkan
agar digunakan.
KEPUSTAKAAN
1.
Departemen Kesehatan RI. Vademekum Bahan Obat Alam, Direktorat
Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta, 1989. hal. 53 ­4..
2.
Departemen Kesehatan RI. Inventaris Tanaman Obat Indonesia, jilid I.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Jakarta, 1991. hal. 516 ­
17.
3.
Sudiarto dkk. Studi aspek tehnis budidaya Katuk di lahan petani
Kecamatan Semplak Bogor. Warta Tumbuhan Obat Indonesia 1997;3(3):
8-9.
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006
49
background image
4.
Puspitaningsih DM dkk. Usaha Tani Katuk di Desa Cilebut Barat
Kabupaten Bogor. Warta Tumbuhan Obat Indonesia 1997;3( 3): 9 ­ 10.
10.
Sa'roni dkk. Tinjauan Penelitian Katuk yang telah Dilakukan di
Indonesia. Warta Tumbuhan Obat Indonesia 1997; 3(3): 44-5.
5.
Joko Pitono dkk. Tanggap Tanaman Katuk pada Berbagai Dosis Pupuk
NPK dan Tingkat Naungan. Warta Tumbuhan Obat Indonesia 1997; 3(3):
13 ­4.
11.
Yun Astuti N. dkk.. Efek Diuretik Infus Akar Katuk terhadap Tikus Putih,
Warta Tumbuhan Obat Indonesia 1997;3(3): 42 -3.
12.
Elmy Yasril. Penelitian Pengaruh Daun Katuk terhadap Frekuensi dan
Lama Menyusui Bayi, Warta Tumbuhan Obat Indonesia 1997;3(3): 41-2.
6.
Yunawati M. dkk.. Pengaruh Panjang Setek dan Dosis Pupuk Nitrogen
terhadap Pertumbuhan Tanaman Katuk. Warta Tumbuhan Obat Indonesia
1997; 3(3):15 ­ 6.
13.
Sutedja L. dkk. Sifat Anti Protozoa Daun Katuk, Warta Tumbuhan Obat
Indonesia 1997; 3(3): 47 ­ 49.
7.
Anoria Agustal dkk. Analisis Kimia Ekstrak Daun Katuk ( Sauropus
androgynus (L) Merr.) dengan GCMS. Warta Tumbuhan Obat Indonesia
1997; 3(3): 31-2.
14.
Lucia E. Wuryaningsih dkk. Uji Teratogenik Infusa Daun Katuk pada
Mencit Hamil, Warta Tumbuhan Obat Indonesia 1997;3(3): 50-51.
15.
Nurendah PS. dkk. Penggunaan Katuk dalam Jamu Berbungkus, Warta
Tumbuhan Obat Indonesia 1997, 3(3): 45-6.
8.
Departemen Kesehatan RI. Daftar Komposisi Bahan Makanan, Pusat Pe -
nelitian Gizi, Bogor, 1992:hal. 100.
9.
Amarila Malik. Tinjauan Fitokimia, Indikasi Penggunaan dan Bioaktivitas
Daun Katuk dan Buah Trengguli. Warta Tumbuhan Obat Indomesia 1997;
3( 3): 39-40.
16.
Lung Transplantation in Bronchiolitis Obliterans Associated with
Vegetable Consumption (Research Letters). Lancet Website. 1998.
KALENDER KEGIATAN ILMIAH PERIODE BULAN MEI ­ AGUSTUS 2006
Bulan
Tanggal
Kegiatan
Tempat dan Informasi Acara
20 ­ 21
The 1st National Congress of Indonesian Medical
Society for Oriental Medicine & Expo (KONAS I
Perhimpunan Kedokteran Timur Indonesia) - PDPKT
Borobudur Hotel, Jakarta
Tlp. : 021-30041026 ; 4532202
Fax. : 021-30041027
E-mail : globalmedica@cbn.net.id
Mei
20 ­ 23
The 6th Asian & Oceanian Epilepsy Congress
Kuala Lumpur, Malaysia
Tlp. : +353 1 4097796, Fax. : +353 1 4291290
16 ­ 18
The 1st Anti-aging International Symposium
& Exposition Tokyo ( AISET 2006 )
On Anti-aging Medicine
Le Meridien Grand Pacific Tokyo Hotel
Tokyo, Japan , Tlp. : +81-3-3350-1806
Fax. : +81-3-3350-1906 , E-mail : info@aiset.jp
http://www.imagine.jp/aiset/english
Juni
28 ­ 01/07
Pertemuan Ilmiah Khusus XI - 2006
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
Hotel Planet Holiday, Batam
Tlp. : 0778-325 121 ext. 304, 324
Fax. : 0778-327 629
E-mail : pik2006_batam@yahoo.com
01 ­ 04
19th Meeting of the
European Association for Cancer Research (EACR)
Novotel Budapest Congress Centre, Hungary
Tlp. : +32 (0)2 775 02 01
Fax. : +32 (0) 775 02 00
E-mail : EACR19@fecs.be
http://www.fecs.be ; http://www.bcc.hu
08 ­ 12
Kongres Nasional XIII Perhimpunan
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI)
Palembang, Sumatera Selatan
Tlp./Fax. : 0711-378011 ; 318244
15
Seminar & Workshop PASTI
(Perkumpulan Awet Sehat Indonesia) :
Body On Fire `Silent Inflammation'
Hotel Borobudur, Jakarta
Tlp. : 021-729 0623
Fax. : 021-7289 5871
Juli
28 ­ 30
Liver Update 2006
Hotel Borobudur, Jakarta
Tlp. : 021-30041026 , Fax. : 021-30041027
E-mail : globalmedica@cbn.net.id
01 ­ 05
12th Asia-Pacific League of Associations for
Rheumatology: Congress of Rheumatology
Kuala Lumpur, Malaysia
Tlp. : 603-4252 9100, Fax. : 603-4252 9800
http://www.aplar2006.com
10 ­ 13
Collegium Internationale Geronto Pharmacologicum
Congress 2006 :
From Traditional Through Bio-Molecular To Nano-
Technology Medication
Balai Sidang / Jakarta Convention Center
Tlp. : +62-21-55960180
Fax. : +62-21-55960179
E-mail: cigp@cigp.org / pharmapro@cbn.net.id
http://www.cigp.org
22 - 26
8th Asian Congress of Urology
of The Urological Association of Asia
BICC The Westin Resort, Nusa Dua, Bali
Tlp. : 62-21-4532202 ; 30041026
Fax. : 62-21-4535833 ; 30041027
E-mail : acu2006@cbn.net.id
http://www.acu2006.com
Agustus
26 ­ 29
The 14th Congress of Asia-Pacific Association of
Critical Care Medicine (APACCM 2006)
Beijing, China, Fax. : +86 10 65124875
E-mail : dubin@apaccm2006.org.cn
Informasi terkini, detail dan lengkap (jadwal acara/pembicara) bisa diakses di http://www.kalbefarma.com/calendar
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006
50

Document Outline