TEKNIK
Teknik lmunodiagnostik
dalam Masyarakat
I. Prinsip-prinsip dasar teknik imunodiagnostik
Iwan H. Utama, I Nym. Suarsana
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Jimbaran-Bali
RINGKASAN
Teknik imunodiagnostik berdasarkan reaksi antigen dan antibodi banyak
digunakan dalam bidang pertanian, kesehatan dan pengawasan lingkungan. Dalam
tulisan ini dibahas prinsip-prinsip dasar teknik imunodiagnostik, terutarna aspek
kimiawinya. Selain itu juga dibahas faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil
reaksi tersebut.
PENDAHULUAN
Salah satu teknik yang banyak digunakan dalam bidang
kesehatan serta pengawasan mutu bahan pangan dan hasil
olahannya ialah teknik imunodiagnostik. Teknik imunodiag-
nostik cukup luas dan bervariasi, semuanya berdasarkan reaksi
sistim kekebalan dalam tubuh manusia yang diaplikasikan
secara in vitro
(1)
. Imunoassay merupakan salah satu teknik
imunodiagnostik paling banyak digunakan. Teknik ini ber-
dasarkan reaksi kimia antara dua jenis analit (antigen dan anti
bodi) yang dapat rnemberi hasil bervariasi bergantung indi-
katornya. Sebagai indikator biasanya digunakan bahan
radioaktif biasanya yodium 125 (radioimmunoassay/RIA),
sistim enzim -substrat tertentu seperti peroksidase-kloronaftol,
fosfatase-bromo-kloro-indolinfosfat, zat golongan fuorokrom
atau fluoresen don lain-lain
(3)
.
Reaksi antigen dan antibodi in vitro
Reaksi antigen (Ag) don antibodi (Ab) dapat dinyatakan
sebagai berikut :
Ag-Ab
Ag + Ab <--> Ag-Ab (kompleks antigen-antibodi) dengan K =
(Ag) x (Ab)
Berdasarkan prinsip ini, sistim reaksi dapat dikategorikan
menjadi reaksi dengan antibodi berlebih (tipe 1): Ag+Ab <-->
Ag-Ab+Ab berlebih; dan reaksi dengan antigen berlebih (tipe
2), yaitu: Ag + Ab <--> Ag - Ab + Ag berlebih
(2)
. Reaksi tipe
1 kurang dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang depat mem-
pengaruhi kinetika reaksi seperti jarum dan urea, selain itu
lebih sensitif jika dibandingkan dengan reaksi tipe 2. Reaksi
tipe 2 dipengaruhi oleh pelabelan antigen; karena umumnya
antigen terdapat dalam jumlah sedikit dalam bahan yang diuji,
maka tipe 2 kurang populer jika dibanding dengan tipe 1
(4)
.
Selain prinsip reaksi kimianya, sistim imunoassay juga
dapat dilakukan (diformat) dalam dua sistim, yaitu sistim
heterogen yang memerlukan pemisahan dan sistim homogen
yang tidak memerlukan pemisahan reaktan pasta reaksi. Pada
sistim heterogen, sifat label sebelum dan sesudah reaksi tetap
sama, jadi perlu pemisahan komponen reaktan yang berlebih
dengan kompleks Ag-Ab yang terbentuk, sebab kuantitas
kompleks ini yang akan dihitung. Pada sistim homogen, sifat
label sebelum dan sesudah reaksi sangat berbeda, jadi tidak
perlu lagi pemisahan komponen reaktan secara fisis
(5)
.
Berdasarkan mekanisme reaksinya, sistim imunoassay
dapat dikategorikan menjadi assay kompetitif dan non kom-
petitif, sistim terakhir ini prinsip dasarnya sama dengan prinsip
peran substrat-inhibitor dalam reaksi enzimatis
(6)
. Gabungan
dari sistim di etas menghasilkan produk-produk imunodiag-
nostik komersial dengan enam model reaksi dasar
(7)
.
Keenarn model tersebut ialah :
1) Assay kornhetitif meuggoncrkan antigen terlabel
(Gambar 1) bertujuan mendeteksi antigen dengan konsentrasi
antibodi yang terbatas dan mengunakan antigen serupa yang
dilabel sebagai kompetitornya. Nilai yang diukur biasanya
kompleks Ag-Ab. Karena sifatnya kompetitif maka antibodi
yang sudah mengikat antigen alami tidak mampu lagi meng-
ikat antigen terlabel. Dengan menggunakan antibodi yang
spesifisitasnya tinggi, assay ini dapat mendeteksi 210
-15
Mol.
antigen dalam contoh bahan.
Gambar 1. Reaksi model 1: Suatu assay kompetitif dengan antigen
(E-L) terlabel enzim dan antigen tidak terlabel (L)
berkompetisi untuk mendapat tempat di molekul antibodi
yang terbatas dan terikat (immobilized) pada suatu fasa
padat.
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001 55
2) Assay kompetitif menggunakan antibodi berlabel (Gambar
2) dengan tujuan sama seperti point 1 di atas. Assay ini biasa-
nya digunakan jika sifat antigen dapat mempengaruhi label
yang digunakan.
Gambar 2. Reaksi model 2: Assay kompetitif dengan antibodi terlabel
enzim (E-AB). Antigen (L) terikat pada suatu fasa padat dan
antigen dari contoh berkompetisi untuk mendapat tempat
pada molekul antibodi terlabel enzim yang terbatas.
3)
Assay kompleks Ag-Ab (Gambar 3) bertujuan mendeteksi
antigen atau antibodi; cara ini paling banyak digunakan di
bidangdiagnostik atau biomedis. Secara teknis relatif seder-
hana dan murah. Prosedur seperti reaksi aglutinasi, imuno-
difusi ganda dan presipitasi berazaskan model ini. Biasanya
dalam model ini tidak menggunakan label dan kepekaannya
terbatas, meskipun demikian reaksi imunodifusi dapat men-
deteksi 0,005 µg protein/ml suspensi
(8)
.
Gambar 3. Reaksi model 3: Assay kompleks antigen-antibodi. Antibodi
(Y) yang diikatkan pada suatu partikel akan beragregasi
jika bereaksi dengan suatu antigen homolog yang multivalen
(MVA).
4) . Sandwich assay (Gambar 4) merupakan metode yang
lebih modern dan luas penggunaannya. Prinsipnya hampir
sama dengan model 3, tapi antigen yang digunakan biasanya
dapat berikatan dengan dua atau lebih antibodi yang berbeda
spesifisitasnya. Salah satu reaktan (biasanya antibodi) terikat
(immobilized) pada matrix tertentu seperti polistirene
(9)
dan
pada antibodi lainnya diberi label. Sandwich assay inipun
bermacam-macam prinsipnya
(9)
. Enzyme Linked Immuno
Sorbent Assay (ELISA) termasuk dalam model ini. Model ini
lebih peka dari model 1, dapat mendeteksi 10
-18
Mol. antigen
dalam bahan yang diuji.
Gambar 4. Reaksi model 4: Imunoassay "sandwich" dimana suatu
antigen multivalen (L) pertama-tama diikatkan pada suatu
antibodi poliklonal (AB-1) yang telah diimobilisasi. Antigen
tersebut kemudian dideteksi dengan antibodi ke dua (AB-2)
yang telah diberi label enzim.
4)
Assay non kompetitif (Gambar 5) dengan tujuan men-
deteksi antibodi dalam serum (berbeda dengan model sebe-
lumnya). Antigen yang digunakan biasanya berlebih dan
terikat pada matrix tertentu, serum yang akan dideteksi jenis
antibodinya (antibodi primer) direaksikan dengan antigen
tersebut. Reaksi ini memerlukan suatu anti-antibodi (antibodi
sekunder) terhadap antibodi yang akan dideteksi tadi. Antibodi
sekunder inilah yang biasanya dilabel dan dapat bereaksi
dengan bagian Fc dari molekul antibodi primer, sehingga
kandungan antibodi dalam serum dapat ditentukan.
5)
Gambar 5. Reaksi model 5: Assay nonkompetitif berdasarkan ikatan
antibodi-antibodi. Antigen diikatkan pada suatu fasa padat,
dan antibodi homolog (AB-1) akan berikatan dengannya.
Antiantibodi (AB-2) terhadap AB-1 yang telah terlabel
enzim akan berikatan dengan AB-1 dan jumlahnya dapat
ditentukan secara kuantitatif.
6). Assay bebas pemisahan pada reaksi (sistim homogen)
(Gambar 6) dengan tujuan sama seperti model 1, 2, dan 3, tapi
pembacaan hasil reaksi ditentukan oleh sifat label yang
memang berbeda sebelum dan sesudah reaksi; oleh sebab itu
sistim ini tidak memerlukan pemisahan pasca reaksi.
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001
56
Gambar 6. Reaksi model 6: Immunoassay bebas pemisahan. Aktivitas
enzim yang terikat pada antigen (E-L) akan dihambat,
dengan kata lain konversi substrat (S) menjadi produk (P)
akan dicegah jika antigen tersebut berikatan dengan
antibodi.
Teknik ini banyak digunakan dalam laboratorium klinik
dan forensik seperti kasus penyalahgunaan obat. Assay ini
biasanya kurang peka jika dibandingkan dengan yang sistim
homogen.
Tabel 1 memperlihatkan contoh-contoh teknik immuno-
assay dengan beberapa enzim atau senyawa tertentu sebagai
indikatornya. Dari Tabel 1 dapat dilihat penentuan kuantitatif
teknik ini tetap memerlukan prinsip-prinsip analitik modern.
Tabel
1. Contoh teknik immunoassay dengan bermacam-macam
indikator dan teknik pengukurannya
(5)
Macam-macam label
Prinsip analitik/cara pengukurannya
Immunoassay enzim heterogen :
1. Peroksidase
1. Fotometri, luminometri
2. Alkalin fosfatase
2. Fotometri, fluorimetri
Immunoassay enzim homogen :
1. Lysozyme
1. Turbidimetri
2.
-D Galaktosidase
2. Fotometri, turbidimetri
3. Glukosa 6 fosfat dehidrogenase 3. Fotometri, fluorimetri
Fluorescent :
I. Senyawa turunan koumarin
1. Fluorimetri
2. Rhodamin
2. Fluorimetri
Ligand :
I. Senyawa avidin-biotin dan
turunannya
1. Sistem enzim terbiotinilasi,
luminometri csteravidin-akridinium,
avidin enzim fotometri dan lain-lain.
Luminesen :
1. Ester akridinium
1. Luminometri
2. Senyawa turunan isoluminol
2. Luminometri
Partikel :
1. Latex
1. Nefelometri, turbidimetri, visual
2. Bakteri terwarnai
2. Visual
3. Eritrosit (uji hambat
hemaglutinasi)
3. Visual
Radioisotop :
1. Co
57
, I
125
, H
3
1. Perhitungan sintilasi padat
Vesikel :
1. Liposom
1. Pejeratan zat warna, fotometri enzim
Metal koloid :
1. Perak, emas dan senyawa-
senyawanya
1. Emisi absorbsi, spektroskopi
fluoresen, absorbsi atom,
2. Barium sulfat
nefelometri
Spin :
1. Radikal nitroxida
1. Spektroskopi resonansi spin elektron
Teknik imunodifusi ganda merupakan teknik yang luas
penggunaannya baik di bidang kesehatan maupun bidang
teknologi pangan, misalnya menguji keberadaan daging babi
atau ekstraknya dalam suatu produk makanan. Dengan mern-
buat antisera spesifik terhadap daging babi (antisera biasanya
dibuat pada kelinci), dapat dilacak keberadaan daging babi dan
ekstraknya dalam suatu produk makanan tertentu untuk men-
jamin kehalalannya. Prinsip teknik ini dengan mendifusikan
suatu ekstrak antigen terlarut (biasanya protein daging) dan
antibodinya (berupa serum) dalam suatu matrix agar atau gel
padat dengan arah 2 dimensi dan berhadapan
(10)
. Jika antibodi
tersebut sesuai dengan antigennya, maka terjadi reaksi yang
menimbulkan garis endapan putih, hal ini berarti contoh
produk positif mengandung ekstrak daging babi yang diuji.
Teknik imunodifusi memerlukan komposisi agar atau gel,
konsentrasi dan jenis garam dalam perbandingan tertentu
untuk jenis bahan yang diuji, untuk ini perlu penelitian pen-
dahuluan untuk menentukan komposisi tersebut. Dalam per-
kembangannya, antibodi monoklonal menambah aset dalam
spesifisitas dan sensitivitas teknik imunodiagnostik
(11)
.
Reaksi antigen dq antibodi merupakan reaksi yang sangat
peka terhadap pengaruh lingkungan seperti pH, suhu, kon-
sentrasi garam, konsentrasi antigen-antibodi itu sendiri, da
lain-lain
(12)
. Faktor seperti kepekaan dan spesifisitas yang ting-
gi, kemudahan teknis, ekonomis, dan biohazard yang rendah
tetap menjadi prioritas utama dalam pengembangan teknik
imunodiagnostik yang perjalanannya begitu cepat.
KESIMPULAN
Teknik imunodiagnostik yang beragam memerlukan
pengetahuan dasar imunologi atau imunokimia yang rnemadai
dalam pemilihan untuk aplikasinya, tampaknya teknik imuno-
difuasi masih tetap banyak dipakai karena sederhana, hasilnya
cukup cepat diketahui dan ekonomis.
KEPUSTAKAAN
1. Coates ARM. Immunocytochemistry of microorganisms. In
Immunocytochemistry 2
nd
. Ed. By JM. Polack and S. Van Noorden
(Eds). John Wright and Sons Ltd. Bristol, England 1986 : 650-63.
2. Harlow ED, Lane D. Antibodies; a laboratory manual. Cold Spring
Harbor Laboratory, USA. 1988 :554-612.
3.
Roitt IM. Essential immunology 7
th
. ed. Blackwell Scient Publ, London.
1991: 85-103.
4.
Gow IF, Williams BC. Immunoassays for antigens. Curr. Op. Immunol.
1989; 1: 940-47.
5. Deshpande SS. Immunodiagnostics in agricultural, food, and environ
mental quality control. Food Technol. 1994; 6: 136-41.
6. Stryer L. Biochemistry. WH. Freeman-San Francisco. USA. 1988:
192-9.
7.
Goshling JPA. A decade of development in immunoassay methodology.
Clin. Chem. 1990; 36: 1408-27.
8.
Silverstein AM, Thorbecke GJ, Kramer KL, Lukes KJ. Fetal response to
antigenic stimulus III.
-Globulin production in normal and stimulated
fetal lams. J. Immunol. 1963: 91: 384-95.
9.
Burgess GW. Basic principles of ELISA and variation in configuration.
In Burgess, G.W. (Ed.) ELISA technology in diagnosis and research.
Graduate School of Tropical Veterinary Science James Cook University
of North Queensland, Townsville Australia. 1988 : 27-36.
10. Crowle AJ. Immunodiffusion 2
nd
. Ed. Academic Press, London, 1973;
247-302.
11. Lane D, Koprowsky H. Molecular recognition and the future of
monoclonal antibodies. Nature 1982; 296: 34-8.
12. Johnstone A. Immunological techniques. Curr. Op. Immonul. 1989; I:
927-28.
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001 57