background image
Survai Poliomielitis Paralitik di Lokasi
Transmigrasi Kecamatan Tinanggea,
Kabupaten Kendari, Sulawesi Tenggara
(1985­1986)
Eko Rahardjo*, Suharyono Wuryadl*, Gendro Wahyuhono*, Bambang Basukl**, Nur Daini**
Badan Penelitian dan Pen gembangan Kesehatan*
Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman**
Departemen Kesehatan Rl, Jakarta
PENDAHULUAN
Poliomielitis adalah penyakit yang termasuk dalam daftar
penyakit wabah dan wajib dilaporkan (Undang-Undang No. 6
tahun 1962 tentang wabahr.
Wabah poliomielitis tidak hanya dilaporkan terjadi di daerah
perkotaan dan pedesaan namun belakangan ini juga terjadi di
lokasi pemukiman transmigrasi. Pada akhir tahun 1982
dilaporkan wabah poliomielitis di pemukiman transmigrasi
Kecamatan Nimbora, Kabupaten Jayapura, Irian Jaya. Tingkat
serangan (Attack Rate) di daerah tersebut sangat tinggi yaitu
1,86/100 balita atau 0,19/100 penduduk
(2)
, sedangkan tingkat
serangan rata-rata poliomielitis di Indonesia hanya 5,6/100.000
penduduk
(3)
.
Pada bulan Oktober tahun 1985 dilaporkan adanya kasus
poliomielitis paralitik (kelumpuhan) di lokasi pemukiman
transmigrasi Tinanggea I, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten
Kendari, Sulawesi Tenggara. Oleh karena itu pada bulan De-
sember tahun yang sama, dikirimkan team gabungan dari De-
partemen Transmigrasi dan Departemen Kesehatan, melakukan
survai kelumpuhan di lokasi tersebut. Tujuan survai adalah : 1.
Mencari penderita kelumpuhan dan menentukan tingkat se-
rangan poliomielitis, 2. Dengan bantuan analisa makmal (labora-
torium) ditetapkan penyebab kelumpuhan, 3. Menemukan virus
polio atau anggota enterovirus lainnya yang berpotensi sebagai
penyebab kelumpuhan, 4. Menentukan langkah-langkah yang
perlu diambil untuk penanggulangan dan pencegahan wabah.
CARA KERJA
Cara kerja pada penelitian ini meliputi : I. Cara kerja di
lapangan (merupakan survai), II. Cara kerja di makmal (labora-
torium).
I. Cara kerja di lapangan
Dilakukan kunjungan dari rumah ke rumah di 4 pemukiman
transmigrasi Tinanggea I (D.U./Andoolo Utama, D.K.B. IV/
Tirtomartani, D.K.B. II/Adaka Jaya, D.K.B. I/Asembu Mulia)
dan di 3 desa penduduk asli (Lolonggombu, Anese, Buke).
(Gambar 1 dan 2).
Gambar 1. Propinsi Sulawesi Tenggara pembagian wilayah Kabupaten
dan Kecamatan
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993
44
background image
Gambar 2. Kecamatan Tinanggea Kabupaten Kendari
Di semua rumah di lokasi survai dicatat jumlah kepala ke-
luarga, jumlah jiwa, dicatat pula ada tidaknya penderita polio,
baik yang sudah lama maupun yang baru saja terkena kelum-
puhan.
Setelah kunjungan dari rumah kerumah selesai dan ditemukan
sejumlah penderita kelumpuhan, dilakukan pengambilan darah
dan usapan rektum dari penderita dan saudara penderita. Darah
yang diambil sebanyak 5 mililiter berasal dari vena lengan alas.
Usapan rektum diambil memakai lidi kapas steril dan dimasuk-
kan ke dalam Iarutan garam seimbang Hanks (Hanks Balanced
Salt Solution
= BSS Hanks). Sampel serum dan usapan rektum
kemudian dibawa ke makmal virologi Pusat Penelitian Penyakit
Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Ja-
karta untuk pemeriksaan serologik dan virologik.
II. Cara kerja di makmal
Cara kerja di makmal dibedakan menjadi :
1.
Cara kerja pemeriksaan serum (test serologik)
2.
Cara kerja pemeriksaan usapan rektum (test virologi).
1) Cara kerja pemeriksaan serum
Pemeriksaan serum dilakukan untuk menentukan zat anti
polio dan tinggi rendahnya titer zat anti polio yang terdapat di
dalam tubuh penderita ataupun saudara penderita.
Serum diinaktifkan dengan cara dimasukkan ke dalam tempat
air hangat (water bath) suhu 56°C selama 30 menit. Diencerkan
dengan garam penyangga fosfat (phosphate buffer saline = PBS),
tiap bagian serum dicampur 3 bagian PBS. Virus polio 1, 2, 3
diencerkan 100 TCID
so
dengan pengencer PBS pula. Tiap
pengenceran serum dicampur dengan tiap tipe virus yang sudah
diencerkan dan diinkubasi selama 2 jam pada inkubator suhu
37°C. Campuran virus dan serum kemudian dimasukkan pada
tabung-tabung biakan jaringan yang pada sisi bawahnya telah
ditumbuhi oleh biak sel lestari ginjal monyet hijau (set vero),
kemudian diinkubasi pada suhu 37°C. Selama 7 hari diamati di
atas mikroskop batik (inverted microscope), bila tidak timbul
efek sitopatogenik (cytopathogenic effect = CPE), artinya
serum mengandung zat anti polio (positif).
Cara yang sama juga dilakukan untuk menentukan tinggi
rendahnya titer zat anti yang terkandung dalam serum penderita,
hanya saja serum diencerkan dahulu tidak hanya 1: 4 namun
juga diencerkan sampai 1 : 256.
2) Cara kerja pemeriksaan usapan rektum
Usapan rektum ditambah fluorokarbon, setelah mengalami
pemusingan 1060 g selama 2 jam, suspensi larutan bagian alas
diambil dan diinokulasikan ke dalam biak jaringan vero, ke-
mudian diinkubasi pada suhu 37°C. Setiap hari diamati di atas
mikroskop batik selama 3 ­ 15 hari; bila timbul efek sitopato-
genik (CPE) artinya usapan rektum mengandung virus.
Virus isolat yang ditemukan diidentifikasi, caranya dengan
mencampurkan virus isolat diencerkan 100 TCID
50
(sudah di-
titrasi) dengan kelompok sera dari Schmith (Schmith pool
sera).
Setelah masa inkubasi selama 2 jam suhu 37°C,
campuran virus-sera dimasukkan ke dalam tabung-tabung yang
telah ditumbuhi selapis jaringan sel vero. Bila sampai hari ke 7
tidak timbul CPE, artinya virus teridentifikasi. Cara pembacaan
hasil identifikasi dapat dilihat pada bagan kartu dari Schmith
(4)
.
HASIL DAN PEMBAHASAN
I. Hasil survai di lapangan
Dari kunjungan rumah di lokasi transmigrasi Tinanggea I,
didapati 16 penderita kelumpuhan sedangkan di 3 desa
pemukiman penduduk asli dijumpai 2 penderita. Pada Tabel 1
dan Tabel 2 berikut, diperlihatkan hasil survai di lapangan yang
meliputi nama desa yang disurvai, jumlah kepala keluarga,
jumlah keluarga, jumlah anak usia 0 ­ 14 tahun dan jumlah
penderita kelumpuhan (paralitik).
Dad 16 penderita kelumpuhan di empat pemukiman trans-
migrasi TinanggeaI, 7 di antaranya diperoleh di lokasi
sedangkan sisanya diperoleh dari daerah asal. Dad 7 penderita
kelumpuhan itu, 2 anak mengalami kelumpuhan pada tahun
1983 (tingkat serangan 71,99/100 ribu penduduk), 2 anak pada
tahun 1984 (tingkat serangan 71,99/100 ribu penduduk) dan 3
anak pada tahun 1985 (tingkat serangan 107,99/100 penduduk).
Penderita kelumpuhan penduduk asli ada dua, namun
karena tidak diketahui kejadiannya maka tidak dapat ditetapkan
tingkat serangan di ketiga pemukiman penduduk asli tersebut.
Rata-rata tingkat serangan poliomielitis paralitik di Indo-
nesia adalah 5,6/100 ribu penduduk(
3
), sedangkan paralitik di
pemukiman Tinanggea I, tingkat serangannya lebih dari 12 kali
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993 45
background image
Tabel 1. Hasil survai kelumpuhan di lokasi pemukiman transmigrasi
Tinanggea
I,
Kabupaten
Kendari,
Sultra
Jumlah
Kelumpuhan didapat
Desa
Kepala
keluarga
Jiwa
0 -14
tahun
di daerah
asal
di lokasi
D.K.B.I
D.K.B.II
D.U.
D.K.B.IV
181
240
420
224
830
1193
1535
1020
206
566
963
291
1
2
4
2
1
1
4
1
Total 1065
4578
2026 9 7
Keterangan :
DXB.1 = Desa Kecil Binaan 1 sekarang Asembu Mulia
DXB.II = Desa Kecil Binaan 11 sekarang Adaka Jaya
D.U. =
Desa
Mama
sekarang
Andoolo
Utama
D.K.B. IV = Desa Kecil Binaan IV sekarang Tirtomartani
Tabel 2. Hasil survai kelumpuhan di desa sekitar pemukiman trans
migrasi,
Tinanggea
I,
Kendari,
Sultra
Jumlah
Desa
Kepala keluarga
Jiwa 0­14 tahun Kelumpuhan
Anese
Lolonggombu
Buke
59
84
117
457
698
460
147
197
338
­
1
1
Total 260
1615
682
2
pada tahun 1983 dan 1984 serta lebih dari 18 kali pada tahun
1985, oleh karena itu sebenarnya sejak tahun 1983,
poliomielitis paralitik sudah merupakan kejadian luar biasa
(KLB) yang perlu ditangani secara serius.
Pada Tabel 3 berikut ini disajikan nama-nama penderita,
daerah asal penderita, umur dan jenis kelamin serta tahun ke-
jadian.
Tabel 3. Daftar nama penderita kelumpuhan yang ditemukan di lokasi
pemukiman
transmigrasi
Tinanggea
I,
Kendari,
Sultra
No. Nama Daerah
asal Umur Jenis
kelamin Tahun
keJadian
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15
16
Samin
Tulus S.
Sriatin
'Cade U.
Miswanto
Slamet
Nuryani
Misno
Nuryanti
Kaswadi
Komang S.
M. Hamim
S. Yadi
Ika R.
Made S.
Ig.Tranang
-gara
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
Bali
Jawa Tengah
Yogyakarta
Jawa Tengah
Jawa Timur
Jawa Tengah
Jawa Tengah
Bali
Jawa Timur
Yogyakarta
Jawa Tengah
Bali
Yogyakarta
13 th
9 th
10 th
10 th
6 th
11 th
7 th
5 th
3,5 th
3 th
2,5 th
2 th
10 th
5 th
3 th
3 th
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Laki-laki
1972
1976
1977
1978
1979
1980
1981
1981
1982
1983
1983
1984
1984
1985
1985
1985
Penderita No. 01 ­ 08 mendapatkan kelumpuhan di daerah
asal sedangkan penderita No. 9, sepuluh hari menjelang be-
rangkat menderita panas tinggi dan kejang-kejang kemudian
mengalami kelumpuhan. Apakah penderita No. 9 ini sebagai
penyebar virus polio perlu penguatan atau peneguhan pemeriksa-
an di makmal.
H. Hasil pemeriksaan di makmal
1) Hasil pemeriksaan serum
Dari 16 penderita kelumpuhan,13 diantaranya bisa diperiksa
serumnya di makmal, sedangkan yang 3 tidak bisa karena darah
lisis, serum terlalu sedikit dan lari waktu hendak diambil darah.
Serum saudara penderita ada 6 yang bisa diperiksa (Tabel 4).
Tabel 4. Hasil pemeriksaan Zat Anti Polio pada serum penderita dan
saudara penderita kelumpuhan di lokasl pemukiman transmi
grasi
Tinanggea
I,
Kendarl,
Sultra
Zat anti
No.
Nama
Daerah asal Umur Jenis kelamin
P1 P2 P3
01 Samin
Jawa
Barat 13
th Laki-laki
+ + +
0la Wartinah Jawa
Barat 10
th Perempuan*
+ + +
02
Tulus S.
Jawa Tengah 9 th
Laki-laki
+
+
+
02a Joko S.
Jawa Tengah 2,5 th
Laki-laki*
+
­
+
03 Sriatin
Jawa
Timur 10
th Perempuan
+ + +
04 Kade
Usah Bali
10
th Laki-laki
+ + +
05 Miswanti Jawa
Tengah 6 th Laki-laki
+ + +
06 Slamet
Yogyakarta 11
th Perempuan
+ + +
07
Nuryani
Jawa Tengah 7 th
Perempuan
+
+
+
08 Misno
Jawa
Timur 5 th Laki-laki**
09
Nuryanti
Jawa Tengah 3,5 th
Perempuan**
10 Kaswadi Jawa
Tengah 3 th Laki-laki
­ ­ ­
11
Komang S. Bali
2,5 th
Laki-laki
+
+
­
1 la Kade D.
Bali
6,5 th
Perempuan*
+
+
+
12
M. Hamim Jawa Timur
2 th Laki-laki
­
+
+
13 Supriyadi Yogyakarta 10
th Laki-laki
+ + +
14
Ika R.
Jawa Tengah 5 th
Perempuan
+
+
+
15 Made
S. Bali
3 th Laki-]ski
+ + ­
15a Nyoman A. Bali
9 th
Perempuan
+
+
+
16 Ig.Tranang- Yogyakarta 3 th Laki-laki**
16a
gars
Winarsih
Yogyakarta
12 th
Perempuan*
+ + +
16b Verawati Yogyakarta 8
th Perempuan* + ­ +
Keterangan :
* =
Saudara
penderita
** = Penderita yang tidak bisa diperikra serumnya
P1, P2, P3 = Polio 1, Polio 2, Polio 3
+ = punya zat anti polio
­ = tidak punya rat anti polio
Serum penderita No. 9 (Nuryanti) temyata tidak bisa dipe-
riksa karena terlalu sedikit, jadi tidak dapat ditetapkan sebagai
sumber penularan. Penderita No. 10 walaupun terkena kelum-
puhan namun tidak punya kekebalan sama sekali terhadap virus
polio jadi penyebabnya bukanlah virus polio. Semua penderita
dan saudara penderita yang berusia lebih dari 5 tahun telah
punya zat anti terhadap virus polio, kecuali saudara penderita
No. 16 (No. 16b).
Tujuh penderita yang mendapatkan kelumpuhannya di lo-
kasi transmigrasi (No. 10 ­ No. 16), satu disebabkan bukan oleh
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993
46
background image
virus polio (No. 10) dan satu lagi (No. 16) tidak bisa diperiksa.
Penderita No. 11 dan No. 15 disebabkan oleh virus polio tipe 1
atau 2, sedangkan penderita No. 12 disebabkan oleh virus polio
tipe 2 atau virus polio ripe 3 (tidak punya kekebalan terhadap
virus polio tipe 1). Penderita No. 13, 14 karena sudah berusia
lebih dari 5 tahun dan 5 tahun jadi sudah punya kekebalan
terhadap 3 tipe virus polio; untuk penetapan penyebab kelum-
puhan harus ditentukan dengan titrasi zat anti polio yang ter-
kandung pada serum.
Dan titrasi serum penderita (5 anak) yang mendapat kelum-
puhan di lokasi transmigrasi, empat anak punya antibodi
tertinggi terhadap virus polio 1 sedangkan seorang anak punya
antibodi tertinggi terhadap virus polio 2. Karena antara virus
polio tidak ada reaksi silang (cross reaction) dan imunitas
silang (cross immunity), maka virus terakhir yang menyerang
seseorang, zat antibodi yang terbentuk punya titer paling tinggi.
Pada tabel 5 dapat dilihat hasil titrasi zat anti terhadap
virus polio 1, 2, 3 pada penderita kelumpuhan yang didapat di
pemukiman transmigrasi.
Tabel 5. Hasil titrasi zat anti polio pada anak-anak penderita kelumpuhan
yang didapat di pemukiman transmigrasi Tinanggea I, Kendari,
Sulawesi
Tenggara
Zat antibodi
No. Nama Daerah
asal Umur Kelamin
P1 P2 P3
11 Komang
S. Bali
2 th Laki-laki
256
64 ­
12 M Hamim Jawa Timur 2 th
Laki-laki
­
128
16
13 Supriyadi Yogyakarta 10
th Laki-laki
256
64 64
14 &a R.
Jawa Tengah 5 th
Perempuan
128
16
42
15 Made
S. Bali
3 th Laki-laki
256
8 ­
Keterangan : P1, P2, P3 = Polio 1, Polio 2, Polio 3
Dari hasil pemeriksaan terhadap ada tidaknya zat anti polio
dan hasil pemeriksaan terhadap tinggi titer zat antibodi polio,
dapatlah ditentukan penyebab kelumpuhan di lokasi pemukiman
transmigrasi. Dari 7 anak penderita kelumpuhan, seorang anak
tidakdapatdiketahuipenyebab kelumpuhannya (No.16), seorang
anak lainnya bukan oleh virus polio (kemungkinan enterovirus)
yaitu penderita No. 10 dan seorang lainnya lagi oleh virus polio
2, sedangkan yang empat anak lainnya oleh virus polio 1 (No.
11, 13, 14, 15).
2) Hasil pemeriksaan usapan rektum
Usapan rektum penderita dan saudara penderita yang dapat
diperiksa ada 29 sampe1, 17 sampel di antaranya positif mengan-
dung enterovirus. Diperiksa pula 9 sampel air sumur dari rumah
penderita, 2 di antaranya positif (Tabel 6).
Survai kelumpuhan di lokasi transmigrasi ini terlambat 2
bulan (laporan kasus polio pada bulan Oktober, survai dilak-
sanakan bulan Desember) sehingga virus polio penyebab kelum-
puhan sebagaimana hasil pemeriksaan serum tidak sesuai dengan
virus yang ditemukan. Virus polio tipe 1 dan tipe 2 ternyata tidak
ditemui; hanya ditemui virus polio tipe 3, virus coxsackie tipe 1
dan tipe 5, virus ECHO tipe 4 dan 11; hal ini terjadi karena virus
entero (termasuk virus polio) paling lama hanya bertahan sekitar
Tabel 6. Hasil identifikasi virus darl usapan rektum penderita kelum-
puhan
dan
saudaranya
serta
sampd air sumur rumah penderita
di
pemukiman
transmigrasi
Tinanggea
I,
Kendari,
Sultra
No. Nama Umur
Kelamin Identifikasi
virus
02
Tullis S.
9 th
Laki-laki
Virus Coxsackie B tipe 5
02a*
Joko S.
2,5 th
Laki-laki
Virus Coxsadde B tipe 5
02b** ­
­
­
Virus Coxsackie B tipe 5
05
Miswanto
6 th
Laki-laki
Virus Coxsadde B tipe 1
05a*
Budi S.
5 th
Laki-laki
Virus Coxsackie B tipe 1
06 Slamet
11
th
Perempuan Tidak
teridentifikasi
06a*
Sunarto
7 th
Laki-laki
Virus Coxsackie B tipe 5
08
Misno
5 th
Laki-laki
Virus Polio tipe 3
10
Kaswadi
3 th
Laki-laki
Virus Polio tipe 3
l0a*
Jumono
1,5 th
Lalki-laki
Virus Polio tipe 3
11
Komang S.
2,5 th
Laki-laki
Virus Polio tipe 3
1 la*
Kade D.
6,5 th
Perempuan
Virus Polio tipe 3
13
Supriyadi
10 th
Laki-laki
Virus ECHO tipe 4
13a**
­
­
­
Viers ECHO tipe 4
14
Ika R.
5 th
Perempuan
Virus Coxsadde B tipe 5
15a*
Wayan S.
3 th
Perempuan
Virus Echo tipe 11
16
Trananggara
3 th
Laki-laki
Virus Echo tipe 11
16a*
Winarsih
12 th
Perempuan
Virus Echo tipe 11
16b*
Verawati
8 th
Perempuan
Virus Echo tipe 11
Keterangan : * = saudara penderita
** =
airsurnur
rumoh
penderita
15 hari setelah penderita terinfeksi
(5)
. Walaupun dilakukan
vaksinasi masal dan mencakup daerah yang luas, kadang-
kadang tidak dapat dicegah masuknya enterovirus liar (wild
enterovirus)
ke dalam tubuh seseorang untuk menggantikan
kedudukan virus polio galur vaksin, karena hal itu memang
merupakan peredaran (sirkulasi) secara alami
(6)
.
Di lokasi pemukiman transmigrasi Tinanggea I, belum di-
laksanakan vaksinasi polio secara intensif, jadi sirkulasi entero-
virus liar sedikit mendapat hambatan.
Persentase enterovirus yang ditemukan sangat tinggi (58,6%);
ini merupakan indikasi bahwa sanitasi di pemukiman transmi-
grasi sangat jelek. Penelitian di Purwakarta menunjukkan hasil
bahwa hanya 14,7% saja enterovirus yang ditemukan pada per-
tengahan musim penghujan (November­Januari)
(7)
.
Ditemukannya enterovirus pada air sumur juga menunjuk-
kan betapa masih jeleknya sanitasi di pemukiman transmigrasi.
Enterovirus yang didapati di air dan buangan lainnya juga ber-
sirkulasi dan pergantian dominasi dari satu periode ke periode
lainnya
(8)
.
Langkah-langkah yang perlu diambil agar tidak terjadi lagi
wabah poliomielitis paralitik setelah melihat hasil survai di la-
pangan maupun hasil pemeriksaan di makmal adalah sebagai
berikut .
1.
Perlu digalakkan vaksinasi polio, baik dalam luas daerah
cakupan, jumlah cakupan dan mutu pelayanan.
2.
Perluditanamkan pengertian pentingnya kebersihan
keluarga dan kebersihan lingkungan sehingga bisa mencegah
tersebarnya virus dan kumn.
KESIMPULAN
1) Telah terjadi kejadian luar biasa (KLB) kelumpuhan (para-
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993 47
background image
litik) di pemukiman transmigrasi Tinanggea I, selama 3 tahun
(tahun 1983, 1984, 1985).
2)
Penyebab paralitik ialah virus non polio, virus polio tipe 1
dan virus polio tipe 2.
3)
Persentase enterovirus yang ditemukan sangat tinggi
(58,6%), ini merupakan indikasi jeleknya sanitasi di daerah
tersebut.
4)
Perlu dilakukan penanggulangannya dengan cara peng-
galakan program imunisasi polio dan perbaikan sanitasi ling-
kungan.
KEPUSTAKAAN
1.
Poliomielitis ­ latar Waking penyakit dan pedan pengamatannya di
Indonesia. KumpulanMakalahSurveilansEpidaniologidanPedamanMalt -
main Surveilans Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi.
Direktorat Epidemiclogi dan Ixnunisasi, Direktorat Jendral PPM & PLP,
Departanen Kesehatan R.I., Jakarta, 1984. h. 127.
2.
Titi Indijati Soewarso. The situation analysis of poliomyelitis in Indonesia,
1971­1982. Directorate of Epidemiology and Immunization, Directorate
General of Communicable Disease Control and Environmental Health,
Ministry of Health, Republic of Indonesia, 1984. p. 25-26.
3.
Panantauan program imunisasi tahun 1986/1987 (cakupan dan mutu pela-
yanan sacra harapan). DirektoratJendral PPM & PLP, Departemen
Kesehatan R.L, Jakarta, 1987. h. 4.
4.
Eko Rahardjo. Penelitian virus entero dari anak-anak usia balita di Kota-
madya Banjannasin. Cermin Dunia Kedokt 1988; 50: 45.
5.
Melmdt JL, Wener HA. Enteroviruses. In: Diagnostic procedures for viral
and rickeusial infections. 4th edition, Lennette EH, Schmith NJ (eds),
Committee on Evaluation and Standards of the American Public Health
Association, 1971. p. 533.
6.
Riordan IT. Isolation of enterovintses from sewage before and after
vaccine administration. Yale. J. Bid. Med. 1962; 34: 512.
7.
Gendrowahyuhono, Suharyono Wuryadi. Preliminary study of
anteroviruses infection among children in Purwakarta, West Java,
Indonesia. Bull. Penelit Kes, 1981; 9(2): 25.
8.
Melnidc JL. Enteroviruses. In: Viral infection of human. 2nd edition,
Evans AS (ads). New York, London: Plenum Medical Book Company,
1984. p.192.
CATATAN
Survai di lapangan dan paneriksaan di malarial dilakukan atas pendanaan
dari Deprrtemen Transmigrasi. Survai dilakukan oleh team gabungan dari
Depattanen Transmigrasi (Ditjen Panlam, Kanvil Deptrans Propinsi Sultra,
Kandep Tranamigrasi Kabupaten Kendari dan UPT pemukiman Transmigrasi
Tinane ggea I) dan Departemen Kesehatan (Ditjen PPM & PI.P, Badan Litbang
Kes, Kanwil Depkes Propinsi Sulua, Puskesmas Kecamatan Tinanggea). Pe-
meriksaan di makmal dilakukan oleh staf PusLit Penyakit Menular, Badan
Litbang Kesehatan, Depkes R.I.
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993
48