HASIL PENELITIAN
Resistensi M. tuberculosis
terhadap Obat Anti Tuberkulosis
Bahan Baku dan Obat Generik
di Bagian Patologi Klinik
Fakultas Kedokteran
Unrversitas Padjadjaran/
RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
Hotman Sinaga, Idaningroem Sjahid, Nonang Siahaarv,ida Parwati Santoso
Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
Rumah Sakit Umum Dr. Hasan Sadikin Bandung
ABSTRAK
Pengobatan penderita TB yang tidak tepat dapat menyebabkan kuman M.
tuberculosis menjadi resisten dan sulit diobati. Pengobatan yang tepat antara lain dapat
dicapai dengan bantuan hasil uji kepekaan; sayangnya pemeriksaan uji kepekaan tidak
mudah dilakukan karena mahal. Oleh karena itu perlu diteliti uji kepekaan obat anti
tuberkulosis (OAT) yang murah dan mudah didapat.
Dari 50 isolat M. tuberculosis yang diteliti menggunakan OAT-bahan baku dan
OAT-obat generik pada media Ogawa 1% dengan metode proporsi secara tidak
langsung di Bagian Patologi Klinik FK UNPAD/RSHS Bandung didapatkan hasil uji
kepekaan dengan OAT-bahan baku dan OAT-obat generik adalah sama. Dua puluh
enam isolat (52%) sensitif dan 24 isolat (48%) resisten terhadap satu atau lebih OAT,
19 (38%) resisten terhadap streptomisin, 17 (34%) resisten terhadap pirazinamid, 13
(26%) resisten rifampisin, 4 (8%) resisten INH, 2 (4%) resisten terhadap etambutol, 8
(16%) resisten terhadap satu jenis OAT, 6 (12%) resisten terhadap dua jenis OAT, 7
(14%) resisten terhadap tiga jenis OAT, 1 (2%) resisten terhadap 4 jenis OAT, 2 (4%)
resisten terhadap 5 jenis OAT dan 16 (32%) resisten terhadap atau lebih OAT. Isolat
yang resisten terhadap satu jenis OAT, 4 (8%) resisten terhadap streptomisin, 3 (6%)
adalah MDR-TB. Uji kepekaan dengan bahan baku dan obat generik mempunyai
ketepatan 100% dan persentase resistensi isolat terhadap masing-masing OAT-bahan
baku dan OAT-obat generik tidak berbeda bermakna (p>0,05).
Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa OAT-obat generik dapat digunakan
untuk uji kepekaan M. tuberculosis.
Kata Kunci : Obat anti tuberkulosis bahan baku - obat generik - resistensi obat
PENDAHULUAN
Sejak ditemukannya Mycobacterium tuberculosis (M.
tuberculosis) 107 tahun yang lalu, telah banyak upaya yang
dilakukan untuk memberantas penyakit tuberkulosis. Namun
sampai saat ini penyakit tuberkulosis paru (TBP) masih men-
jadi masalah kesehatan baik di Indonesia maupun di dunia
(1-5)
.
Pada awal tahun 1990, dilaporkan terdapat 16 juta penduduk
dunia menderita TBP, 8 juta kasus baru pertahun dan 3 juta
kematian, sehingga pada tahun 2000 diperkirakan akan terjadi
kira-kira 90 juta penderita TBP dengan 30 juta kematian
(5-7)
.
Bila penanganan kasus-kasus TBP lidak ditingkatkan, maka
pada tahun 2020 diperkirakan hampir satu miliar penduduk
dunia akan terinfeksi, 200 juta akan menderita TBP dan 70 juta
akan meninggal
(8)
. Di negara sedang berkembang diperkirakan
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 49
terjadi sekitar 7 juta kasus TB baru dan 2-3 juta akan meninggal
tiap tahunnya
(9)
. Di Indonesia, Survei Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 1992 me-
nunjukkan, penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor
2 setelah penyakit kardiovaskuler atau urutan pertama pada
kelompok penyakit infeksi
(10)
. Dari hasil evaluasi bersama
Indonesia - WHO pada tahun 1994, disimpulkan bahwa di
Indonesia terdapat 500.000 penderita TB-Paru-baru setiap
tahunnya dengan kematian 175.000 penderita per tahun dan
terdapat 260.000 penderita yang tidak terdiagnosis setiap tahun-
nya. Karena pengobatan yang tidak adekuat, diperkirakan ter-
dapat 560.000 penderita TBP kronik yang merupakan sumber
penularan di masyarakat
(11)
.
Pengobatan penderita yang tidak adekuat dapat menyebab-
kan M. tuberculosis menjadi resisten terhadap satu atau lebih
OAT
(8)
. Kuman yang resisten atau resisten multipel sulit diobati
dengan kombinasi OAT biasa. Untuk penderita demikian kom-
binasi OAT sebaiknya didasarkan pada hasil uji kepekaan.
Dalam kepustakaan disebutkan, pemeriksaan uji kepekaan
harus menggunakan OAT-bahan baku, sayangnya OAT-bahan
baku selain sulit didapat harganya pun sangat mahal
(12-13)
. Ber-
dasarkan harga pembelian pada bulan September - Okfober
1998, untuk tiap mg OAT-bahan baku rifampisin lebih mahal
2208 kali, INH-baku lebih mahal 155 kali, etambutol-baku
lebih mahal 82 kali, pirazinamid-baku lebih mahal 76 kali dan
streptomisin-baku lebih mahal 73 kali dari OAT-generik. Oleh
karena itu, jika menggunakan OAT-bahan baku biaya peme-
riksaan uji kepekaan M. tuberculosis menjadi sangat mahal dan
sulit terjangkau. Mempertimbangkan bahwa pemeriksaan uji
kepekaan sangat penting dalam menentukan kombinasi OAT
yang akan diberikan, khususnya pada penderita yang pernah
mendapat pengobatan OAT, maka perlu dicari upaya agar biaya
pemeriksaan uji kepekaan menjadi terjangkau oleh penderita.
Karena OAT yang mudah didapat dan lebih murah adalah
OAT-generik, maka perlu diteliti apakah OAT-generik dapat
digunakan untuk uji kepekaan terhadap isolat M. tuberculosis.
BAHAN DAN CARA KERJA
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik, dilaku-
kan di Bagian Patologi Klinik FKUP/RSHS Bandung dari
bulan Agustus 1998 -April 1999. Dari isolat M. tuberculosis
yang berhasil diisolasi dari penderita yang melakukan peme-
riksaan biakan M. tuberculosis di Bagian Patologi Klinik
dilakukan uji kepekaan dengan metode proporsi menggunakan
OAT-bahan baku dan OAT-generik pada media Ogawa 1%.
Dari isolat M. tuberculosis dibuat suspensi kuman dalam
akuades steril, lalu kekeruhannya disamakan dengan kekeruhan
McFarland nomor 1; kemudian diencerkan 10
-2
kali dan 10
-4
kali dengan akuades steril sebagai inokulum kerja. Tiap inoku-
lum kerja diinokulasikan 0,1 mL pada media kontrol (tanpa
obat) dan media yang diuji yang mengandung OAT-bahan baku
dan OAT-generik. Kadar obat dalam media : INH 0,2 ug/mL;
streptomisin 2,0 ug/mL; etambutol 5,0 ug/mL; rifampisin 1,0
ug/ mL dan pirazinamid 25 ug/mL
(12)
. OAT-bahan baku yang
digunakan dari SIGMA, semua bentuk bubuk, potensi masing-
masing sebagai berikut; INH 980 ug/mg, streptomisin 746
ug/mg, etambutol 980 ug/mg, rifampisin 980 ug/mg dan
piramizamid 990 ug/mg. OAT-generik yang digunakan adalah
INH tablet, streptomisin bubuk, etambutol tablet, rifampisin
kapsul dan piramizamid tablet. Masing-masing OAT-generik
ditimbang berat aktualnya, lalu dihitung potensi dari masing-
masing OAT-generik, selanjutnya digerus dan disaring dengan
kain kasa. Hasil saringan ditimbang sesuai dengan yang di-
butuhkan untuk pembuatan larutan obat yang akan dicampur-
kan ke media Ogawa 1%. Media kontrol dan media uji yang
telah diinokulasi diinkubasi 3-6 minggu pada suhu 37°C, dilihat
ada tidaknya pertumbuhan (koloni), jika ada pertumbuhan,
jumlah koloni dihitung. Pertumbuhan pada media uji diban-
dingkan dengan pertumbuhan pada media kontrol dan
dinyatakan dalarn persen. Bila persentase pertumbuhan pada
media uji
1% disebut resisten dan jika < 1% atau tidak ada
pertumbuhan disebut sensitif
(12)
. Data yang telah dikumpulkan
diolah, untuk tingkat resistensi terhadap OAT dinyatakan dalam
persen, kesesuaian hasil uji kepekaan antara OAT-bahan baku
dengan OAT-obat generik dengan tabel kontingensi 2 x 2 dan
untuk mengetahui adanya perbedaan persentase resistensi
terhadap OAT-bahan baku dan OAT-obat generik dengan
Wilcoxon.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Selama masa penelitian telah berhasil dilakukan uji kepe-
kaan terhadap 51 isolat. Dari 51 isolat yang dilakukan uji kepe-
kaan, satu (1,96%) dikeluarkan dari analisis karena terkonta-
minasi dengan jamur. Jadi yang dinilai dan dianalisis lebih
lanjut adalah hasil uji kepekaan dari 50 isolat.
Pada tabel 1 diperlihatkan hasil uji kepakaan 50 isolat M.
tuberculosis terhadap 5 jenis OAT-bahan baku dan OAT-obat
generik. Dari penelitian ini didapatkan, isolat M. tuberculosis
yang sensitif terhadap OAT-bahan baku juga sensitif terhadap
OAT-obat generik, sebaliknya isolat yang resisten terhadap
OAT-bahan baku juga resisten terhadap OAT generik. Dari 50
isolat yang diuji, 26 (52%) masih sensitif terhadap semua OAT
yang diuji dan 24 (48%) telah resisten terhadap salah satu atau
lebih OAT yang diuji. Persentase isolat yang resisten pada
penelitian ini lebih tinggi dibanding dengan penelitian Bloch
dkk. di 50 negara bagian Amerika Serikat tahun 1991 dan
penelitian Wahid dkk. di Bagian Mikrobiologi FKUI tahun
1995.
Tabel 1. Hasil uji kepekaan 50 isolat M. tuberculosis terhadap OAT
bahan baku dan OAT obat generik.
Obat Anti Tuberkulosis
Baku Generik
Hasil
Jumlah % Jumlah %
Sensitif
Resisten
Jumlah
26
24
50
52
48
100
26
24
50
52
48
100
Pada penelitian Bloch dkk. mendapatkan yang resisten 472
isolat (14,2%) dan Wahid dkk. mendapatkan yang resisten 25
isolat (15,92%) terhadap salah satu atau lebih OAT
(14-15)
. Angka
resisten yang tinggi pada penelitian ini mungkin disebabkan
oleh isolat yang diuji berasal dari penderita yang sudah pernah
mendapat pengobatan OAT (resistensi sekunder). Penelitian di
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000
50
RS Persahabatan pada tahun 1994 mendapatkan, angka resis-
tensi sekunder hampir sama dengan penelitian ini yakni
44,89%
(16)
.
Uji kepekaan terhadap masing-masing OAT mendapatkan,
yang resisten terhadap INH mungkin juga resisten terhadap
OAT lain 4 (8%), terhadap streptomisin (mungkin juga resisten
terhadap OAT lain) 19 (38%), terhadap etambutol (mungkin
juga resisten terhadap OAT lain) dua (4%) (Tabel 2).
Tabel
2. Hasil uji kepekaan 50 isolat M. tuberculosis terhadap
OAT-bahan baku dan obat generik.
Sensitif Resisten
OAT
Jumlah % Jumlah %
INH
Baku
46
92
4
8
Generik
46
92
4
8
Streptomisin
Baku
31
62
19
38
Generik
31
62
19
38
Etambutol
Baku
48
96
2
4
Generik
48
96
2
4
Rifampisin
Baku
37
74
13
26
Generik
37
74
13
26
Pirazinamid
Baku
33
66
17
34
Generik
33
66
17
34
Isolat yang resisten terhadap rifampisin (mungkin juga
resisten terhadap OAT lain) 17 (34%). Angka resistensi ter-
tinggi pada penelitian ini, adalah terhadap streptomisin ke-
mudian pirazinamid dan rifampisin.
Jika dibandingkan dengan penelitian lain, hasil penelitian
ini berbeda dalam urutan resistensi tertinggi terhadap OAT
yang diteliti. Wahid dkk. tahun 1995 mendapatkan, yang resis-
ten terhadap rifampisin 14,0%; terhadap INH 10,2%; strepto-
misin 8,9% dan terhadap etambutol 7,0%. Aditama dan
Wijanarko tahun 1994 mendapatkan, yang resisten terhadap
INH 23,35%; terhadap rifampisin 16,83%; terhadap strepto-
misin 11,75% dan terhadap etambutol 1,39
(15,16)
. Pada peneliti-
an Burns dkk di Kazakstan tahun 1993 didapatkan, angka
resistensi terhadap streptomisin 66%; terhadap etambutol 45%;
terhadap INH 20% dan terhadap rifampisin 19%
(17)
. Pada
penelitian Aditama dkk tahun 1992 didapatkan, angka resistensi
terhadap INH 5,98%; terhadap rifampisin 3,96%; terhadap
streptomisin 3,87%; terhadap pirazinamid 0,3% dan terhadap
etambutol 0,15%
(18)
. Resistensi terhadap streptomisin pada
penelitian Burns dkk sejalan dengan penelitian ini, namun
angka resistensi untuk jenis OAT lain berbeda. Adanya per-
bedaan ini mungkin disebabkan oleh perbedaan dalam jenis dan
ukuran sampel, metode dan cara pemeriksaan uji kepekaan.
Gambaran resistensi M. tuberculosis berdasarkan jumlah
OAT dari 5 macam OAT yang diuji diperlihatkan pada tabel 3.
Isolat yang resisten terhadap satu satu jenis OAT saja secara
berturut-turut adalah, terhadap streptomisin 4 isolat (8%),
terhadap pirazinamid 3 isolat (6%), terhadap INH satu isolat
(2%), sedangkan terhadap etambutol dan rifampisin tidak ada
(0%). Hasil penelitian ini tidak begitu berbeda dengan hasil
penelitian lain baik di negara maju maupun di daerah lain di
Indonesia (Tabel 4). Pada penelitian Bloch dkk didapatkan
angka resistensi terhadap INH 3,77%; terhadap streptomisin
2,4%; lalu terhadap etambutol 0,39%; terhadap pirazinamid
0,27% dan terhadap rifampisin 0,24%
(14)
. Penelitian Tanjung
dan Keliat mendapatkan angka resistensi terhadap etambutol
13,33%; terhadap rifampisin 6,6%; terhadap streptomisin
3,33% dan terhadap INH 0%
(19)
.
Tabel 3. Gambaran resistensi isolat M. tuberculosis terhadap OAT
berdasarkan jumlah OAT yang digunakan.
Resistensi terhadap
Obat
Jumlah isolat
%
1 macam obat
H
S
E
R
Z
1
4
0
0
3
2
8
0
0
6
Total
8
16
2 macam obat
S dan R
S dan Z
R dan Z
2
3
1
4
6
2
Total
6
12
3 macam obat
4 macam obat
5 macam obat
S, R dan Z
H, S, R dan Z
H, S, E, R dan Z
7
1
2
14
2
4
Keterangan :
H : INH, S : streptomisin, E : etambutol, R : rifampisin, Z : pirazinamid.
Tabel 4. Hasil penelitian M. tuberculosis terhadap satu jenis OAT oleh
beberapa peneliti.
Resisten terhadap (%)
Peneliti
H S E R Z
Keterangan
Aditama dan Wijanarko 7,3
2,38 0
3,1
-
RP & RS
Aditama dkk
1,62 0,59 0
0,57 0,057 RP & RS
Bloch dkk
3,77 2,4
0,39 0,24 0,27
RP & RS
Tanjung dan Keliat
0
3,33 13,33 6,67 -
RS
Penulis
2 8 0 0 6 RP
&
RS
Keterangan :
H : INH, S : streptomisin, E :etambutol, R : rifampisin, Z : pirazinamid RP :
resistensi primer, RS : resistensi sekunder.
Penelitian Aditama dan Wijanarko mendapatkan angka
resistensi terhadap INH 7,3%; terhadap rifampisin 3,1 %; ter-
hadap streptomisin 2,38% dan terhadap etambutol 0%
(16)
. Pada
penelitian Aditama dkk pada tahun 1992 didapatkan, angka
resistensi terhadap INH 1,62%; terhadap streptomisin 0,59%;
terhadap rifampisin 0,57%; terhadap pirazinamid 0,057% dan
terhadap etambutol 0%
(18)
.
Berdasarkan jumlah OAT, isolat M. tuberculosis yang
resisten terhadap 1 macam OAT menempati urutan pertama
dengan 8 isolat (16%), kemudian terhadap 3 macam OAT 7
isolat (14%), lalu terhadap 2 macam OAT 6 isolat (12%), se-
lanjutnya 5 dan 4 macam OAT masing-masing 2 isolat (4%)
dan 1 isolat (2%). Isolat yang resisten terhadap dua macam
OAT atau lebih ada 16 (32%). Hasil penelitian ini berbeda
dengan penelitian Tanjung dan Keliat yang mendapatkan,
angka resistensi terhadap 4 macam OAT 30%; terhadap 1 OAT
dan 2 OAT 22,33% dan terhadap 3 macam OAT 20%
(19)
.
Penelitian Aditama dan Wijanarko mendapatkan isolat M.
tuberculosis yang resisten terhadap 1 macam OAT 12,86%; lalu
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 51
terhadap 2 macam OAT 10,40%; diikuti terhadap 3, 4 dan 5
macam OAT masing-masing 4,92% den 0,15 %
(16)
. Pada pene-
litian Wahid dkk mendapatkan angka resistensi terhadap 1
macam OAT 5,73%; terhadap 4 macam OAT 5,10%; terhadap
3 macam OAT 3,82% dan terhadap 2 macam OAT 1,27%
(15)
.
Dari hasil survei WHO tahun 1994-1997 di Thailand didapat-
kan, resistensi primer terhadap 1 macam OAT 21,4%; terhadap
2 macam OAT 11,5%; terhadap 3 macam OAT 3,1 % den
terhadap 4 macam OAT 0,8%. Di Vietnam didapatkan angka
resistensi terhadap 1 macam OAT 19,1 %; terhadap. 2 macam
OAT 0,9%. Di Amerika Serikat didapatkan, angka resistensi
terhadap 1 macam OAT 8,2; dan 2 macam OAT 2,8%; terhadap
3 macam OAT 0,7% dan terhadap 4 macam OAT 0,6%
(20)
.
Persentase resistensi berdasarkan jumlah OAT pada penelitian
ini lebih rendah dibanding hasil penelitian Tanjung dan Keliat,
namun lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil penelitiap
Aditama dan Wijanarko, Wahid dkk dan hasil survei WHO di
Thailand, Vietnam den Amerika Serikat (Tabel 5). Resistensi
obat ganda (MDR-TB) adalah resistensi yang terjadi minimal
terhadap INH dan rifampisin pada penelitian ini MDR-TB
didapatkan 3 isolat (6%).
Tabel 5. Hasil penelitian resistensi M. tuberculosis berdasarkan jumlah
OAT oleh beberapa peneliti.
Resisten terhadap (%)
Peneliti
1 OAT 2 OAT 3 OAT 4 OAT 5 OAT
MDR-TB
(%)
Aditama dan
Wijanarko
(16)
12,86 10,40 4,92 1,27 0,15 13,02
Tanjung dan
Keliat
(19)
22,33 22,33 20
30
-
8,9
Wahid dkk
(15)
5,73 1,27 3,82 5,10 -
8,9
WHO
(20)
2,2
Thailand
21,4 11,5 3,1 0,8 -
Vietnam
19,1 11,6 0,9 0,9 -
United
States 8,2 2,8 0,7 0,6 -
Bloch dkk
(14)
- - - - - 9,5
Penulus 16
12
14
2
4
6
Angka NIDR-T ini lebih rendah dibanding hasil penelitian
Wahid dkk yang mendapat 8,9%, Bloch dkk mendapat 9,5%
serta Aditama dan Wijanarko mendapat angka MDR-TB
13,02%, namun lebih tinggi bila dibanding angka rata-rata
MDR-TB (primer dan sekunder) pada 28 negara yang disurvei
WHO (2,2%)
(14-16,20)
.
Pada tabel 6 diperlihatkan ketepatan hasil uji kepekaan
antara OAT-bahan baku dengan OAT generik. Pada penelitian
ini didapatkan ketepatan hasil uji kepekaan antara OAT-bahan
baku dengan OAT-obat generik terhadap 5 jenis OAT yang
diuji semuanya 100%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
uji kepekaan menggunakan OAT-bahan baku sama baiknya
dengan uji kepekaan menggunakan OAT-obat generik.
Perbedaan persentase resistensi isolat M. tuberculosis
antara OAT-bahan baku dan OAT-obat generik dari 50 isolat
M. tuberculosis yang diuji terhadap masing-masing OAT-bahan
baku dan OAT-generik didapatkan sebagai berikut. Persentase
resistensi rata-rata isolat M. tuberculosis terhadap INH-bahan
baku dan INH-generik adalah 0,116% dan 0,11 % dengan
simpang baku
Tabel 6. Ketepatan hasil uji kepekaan isolat M. tuberculosis antara OAT
bahan baku dengan OAT-obat generik (n = 50).
Obat anti tuberkulosis
Bahan Baku
Obat generik
Jenis Obat
Sensitif Resisten Sensitif Resisten
Ketepatan
(%)
INH
46 (92%)
4 (8%)
46 (92%)
4 (8%)
100
Streptomisin
31 (62%)
19 (38%) 31 (62%) 19 (38%)
100
Etambutol
48 (96%)
2 (4%)
48 (96%) 19 (38%)
100
Rifampisin
37 (74%)
13 (26%) 37 (74%) 13 (26%)
100
Pirazinamid
33 (66%)
17 (34%) 33 (66%) 17 (34%)
100
masing-masing 0,413 dan 0,394. Hasil uji kepekaan antara
INH-bahan baku dengan INH-obat generik tidak berbeda
bermakna (Zw =1,095; p=0,273). Persentase resistensi rata-rata
isolat M. tuberculosis terhadap Streptomisin-bahan baku dan
Streptomisin generik adalah 0,625% dan 0,614% dengan
simpang baku masing-masing 0,706 dan 0,767. Hasil uji kepe-
kaan antara Streptomisin-bahan baku dengan Streptomisin-
generik tidak berbeda bermakna (Zw =1,769; p=0,077).
Persentase resistensi rata-rata isolat M. tuberculosis terhadap
Etambutol-bahan baku den Etambutol-generik adalah 0,091%
dan 0,93% dengan simpang baku masing-masing 0,364 dan
0,388. Hasil uji kepekaan antara Etambutol-bahan baku dengan
Etambutol-genetik tidak berbeda bermakna (Zw = 0,0; p=1,0).
Persentase resistensi ratarata isolat M. tuberculosis terhadap
Rifampisin-bahan baku dan Rifampisin-generik adalah 0,672%
dan 0,712% dengan simpang baku masing-masing 1,231 dan
1,23. Hasil uji kepekaan antara Rifampisin-bahan baku dengan
Rifampisin-generik tidak berbeda betmakna (Zw = 1,728;
p=0,084). Persentase resistensi rata-rata isolat M. tuberculosis
terhadap Pirazinamid-bahan baku dan Pirazinamid-generik
adalah 0,729% dan 0,896% dengan simpang baku masing-
masing 0,839 dan 1,549. Hasil uji kepekaan antara Pirazina-
mid-bahan baku dengan Pirazinamid-generik berbeda bermakna
(Zw = 0,409; p=0,682).
KESIMPULAN
1. Isolat
M. tuberculosis yang sensitif terhadap OAT-bahan
baku juga sensitif terhadap OAT-obat generik; sebaliknya isolat
yang resisten terhadap OAT-bahan baku juga resisten terhadap
OAT-obat generik dan hasil uji kepekaan antara OAT-bahan
baku dengan OAT generik tidak berbeda bermakna (p > 0,05).
2. Secara umum dapat disimpulkan bahwa OAT-obat generik
dapat digunakan untuk pemeriksaan uji kepekaan M.
tuberculosis.
KEPUSTAKAAN
1. Aditama TY. Perkembangan mutakhir diagnosis tuberkulosis paru.
Ceermin Dunia Kedok. 1995; 99: 29-31.
2. Raviglione MC, Snider DE, Kochi A. Global epidemiology of
tuberculosis : Morbidity and mortality of a worldwide epidemic. JAMA
SEA 1995; 22-7.
3. Tanjung A, Puteh AG. Masalah resistensi kuman tuberkulosis paru;
beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Majalah Kedokteran
Bandung 1997; 29 : 123-32.
4. Weis SE, Slocum PC, Blais FX, et al. The effect of directly observed
therapy on the rates of drug resistance and relapse in tuberculosis. N Eng
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000
52
J Med 1994; 330 : 1179-84.
13. Inderlied CB, Salfinger M. Antimicrobial agents and susceptibility test:
Mycobacteria. In: Murray PR, ed. Manual of Clinical Microbiology, 6
th
ed. Washington DC: ASM. 1995; 1385-404.
5. WHO. Vaccine approaches to tuberculosis. World Health Organization
1996; 1-10.
14. Bloch AB, Cauthen GM, Onorato IM et al. Nationwide survey of drug
resistant tuberculosis in the United States. JAMA 1994; 271: 665-71.
6. Kent JH. The epodemiology of multidrug-resistant tuberculosis in the
United States. In: Bass JB, ed. The medical clinics of North America :
Tuberculosis. vol. 77. Philadelphia: WB Saunders Co. 1993.
15. Wahid MH, Harun BMH, Kiranasari A. Pemeriksaan mikrobiologik dan
pola resistensi Mycobacterium tuberculosis di bagian Mikrobiologi FK UI
selama tahun 1995. Maj Kedok Indon 1007; 47: 624-7.
7. Dropniewski F. Is death inevitable with multiresistant TB plus HIV
infection? Lancet 1997; 349: 71-2.
16. Aditama TY, Wijanarko P. Resistensi primer dan sekunder
Mycobacterium tuberculosis di RSU Persahabatan Tahun 1994. J Respi
Indo 1996; 16: 12-4.
8.
EHO. Tuberculosis. Fact sheet No. 104. World Health Organization 1998;
1-4.
9. Chowdhury AMR, Chowdhury S, Islam MN, Islam A, Vaughan JP.
Control of tuberculosis by community health workes in Bangladesh.
Lancet 1997; 350: 169-72.
17. Burns DN, Bellert GA, Crone RK. Tuberculosis in Europe and the former
Soviet Union: how concerned should we be ? Lancet 1994; 343: 1445-6.
18. Aditama TY, Chairil AS, Herry BW. Resistensi primer dan sekunder
Mikobakterium Tuberkulosis. Cermin Dunia Kedok. 1995; 101: 48-9.
10. Dep Kes RI. 1997. Profil Kesehatan Indonesia 1997. Jakarta.
11. Soemantri ES. Masalah penyakit TB (Tuberkulosis) di Indonesia dan
pemberantasannya. Makalah Hari TB Sedunia (World TB day) di RSUP
Dr. Hasan Sadikin Bandung. 1999.
19. Tanjung A, Keliat EN. Resistensi M. tuberculosis terhadap obat anti
tuberkulosis pada penderita tuberkulosis paru yang mendapat pengobatan.
Maj. Kedok. Indon. 1996; 46: 242-7.
12. Hawkins JE, Wallace RJ, Brown BA. Antibacterial susceptibility test:
Mycobacteria. In : Balows A, Hausler WJ, Herrmann KI, Isenberg HD,
Shadomy HJ, eds. Manual of Clinical Microbiology, 5
th
ed. Washington
DC. American Society for Microbiology, 1991.
20. Pablos-Mendez A, Raviglione MC, Laszlo A. et al. Global surveilance for
antituberculosis-drug resistance, 1994-1997. N Eng J Med 1998; 338:
1641-9.
Cermin Dunia Kedokteran No. 127, 2000 53