background image
HASIL PENELITIAN
Reaksi Imunologis dan Reaksi Samping
Vaksin Polio Oral Buatan Bio Farma
Gendrowahyuhono*, Suharyono Wuryadi*, Mulyati Priyanto*, Yulitasari**, Sinta Purnamasari*, Klino *
*) Badan Penelitian dan Pengetnbangan Kesehatan, Departemen Kesehatan Ri, Jakarta
**) SubDit. Imunisasi, Ditjen PPM & PLP, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Dalam usaha memenuhi kebutuhan vaksin polio yang cukup
banyak untuk program eradikasi polio di Indonesia, maka Perum
Bio Farma telah memproduksi vaksin polio oral menggunakan
strain standar Sabin; strain vaksin tersebut sudah dipakai secara
luas di dunia, termasuk Indonesia, dan telah terbukti mempunyai
reaksi imunologis (imunogenisitas) yang baik dan reaksi sam-
ping (reaktogenisitas) yang rendah. Teknologi yang digunakan
dalam pembuatan vaksin tersebut berasal dari salah satu pabrik
vaksin terbesar di Jepang yaitu JPRI (Japan Poliomyelitis
Research institute) di Tokyo.
Sebelum dapat dipasarkan di Indonesia, maka vaksin ter-
sebut perlu diuji coba pemberiannya pada anak-anak yang ber-
umur 2­3 bulan, dengan tujuan untuk mengetahui reaksi imu-
nologis dan reaksi samping vaksin. Dipakainya batasan umur
2­3 bulan, adalah karena disesuaikan dengan batasan umur
anak dalam program imunisasi yang selama ini dilaksanakan di
Indonesia.
ABSTRAK
Penelitian reaksi imunologis dan reaksi samping vaksin polio oral buatan Bio Farma
telah dilakukan di Yogyakarta pada tahun 1994, dengan tujuan untuk mengetahui apakah
imunogenisitas dan reaktogenisitas vaksin tersebut pada anak-anak berumur 2­3 bulan
cukup baik, sehingga vaksin tersebut dapat dipasarkan di Indonesia.
Hasil pemeriksaan serologi menunjukkan bahwa seroconversion rate masing-masing
tipe 1, 2 dan 3 adalah 98%, 98% dan 94%, demikian juga seroconversion rate terhadap
ketiga tipe adalah 93%. Pada pengamatan selama 8 hari setelah vaksinasi pertama, kedua
dan ketiga, tidak dijumpai adanya reaksi samping. Hasil isolasi virus hanya menemukan
satu polio tipe-2 sebelum anak mendapat imunisasi, satu Coxsackie-B group dan satu
polio tipe 2 setelah anak mendapat imunisasi.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa vaksin tersebut memberikan sero-
conversion rate yang cukup tinggi, baik terhadap masing-masing tipe maupun terhadap
ketiga tipe virus polio, dan tidak ada reaksi samping bila diberikan kepada anak-anak
yang berumur 2­3 bulan.
Disarankan, program imunisasi di Indonesia dapat menggunakan vaksin polio buatan
Bio Farma, karena ternyata kualitasnya tidak berbeda dengan vaksin yang sekarang di-
gunakan untuk program yaitu buatab dari SK&F atau Pasteur Merieux.
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997
52
background image
BAHAN DAN CARA KERJA
1) Lokasi
Penelitian dilakukan di Yogyakarta, dengan pertimbangan
bahwa dengan Dinas Kesehatan Yogyakarta telah terjalin kerja-
sama yang baik dalam melaksanakan beberapa penelitian se-
belumnya dan sudah tersedia tenaga yang terlatih untuk melaku-
kan pengambilan spesimen darah bayi dan balita, selain itu juga
partisipasi masyarakatnya cukup baik.
2) Sampel
Sejumlah 100 anak sehat yang berumur 2­3 bulan, belum
pernah sakit polio, belum pernah mendapat vaksin polio dan
berat badan normal, digunakan sebagai sampel dalam penelitian
ini
Anak-anak tersebut diberi OPV buatan Bio Farma sebanyak
tiga kali dengan selang waktu 4­6 minggu di antara masing-
masing pemberian.
3) Vaksin
Vaksin yang diberikan adalah No. Batch 270063, dengan
dosis 2 tetes, dimasukkan ke dalam mulut.
Titer vaksin yang digunakan adalah Polio-1 = 10
6,0
TCD
50
;
Polio-2 = 10
5,0
TCD
50
dan Polio-3 = 10
5,5
TCD
50
/dosis.
4) Cara pengambilan darah dan tinja
Darah diambil dari vena cubiti sebanyak 2 ml dengan meng-
gunakan syringe dan wing needle. Serum dipisahkan dengan cara
sentrifugasi, dimasukkan dalam vial, kemudian disimpan dalam
freezer (suhu beku) sampai saat dilakukan pemeriksaan.
Tinja diambil sebanyak 8 gram, dengan cara memasukkan
sonde ke dalam rektum. Tinja yang menyemprot keluar ditam-
pung dalam tabung khusus, kemudian disimpan sementara dalam
lemari es atau langsung disimpan dalam freezer.
Darah dan tinja diambil dua kali yaitu pada saat sebelum
vaksinasi dan 1 bulan setelah vaksinasi ke-3.
5) Pemeriksaan serologis
Semua pemeriksaan, serologis dan isolasi virus dilakukan di
Laboratorium Pusat Penelitian Penyakit Menular Jakarta.
Uji netralisasi dengan teknik mikro, sesuai dengan cara
WHO menggunakan sel HEp-2 Cincinnati dan WHO. Antigen
yang digunakan adalah virus polio Sabin 1, 2 dan 3 yang berasal
dari Bio Farma.
Serum yang akan diujiu diencenkan 1:8 dengan medium
MEM dan diinaktifkan pada suhu 56°C selama 30 menit. Dengan
volume yang sama, serum yang sudah diinaktifkan tensebut di-
campur dengan 100 TCID50 virus polio (tipe 1,2 dan 3), dikocok
perlahan-lahan, kemudian diinkubasi pada 37°C selama 2 jam.
Setelah inkubasi selesai, suspensi sel HEp-2 ditambahkan pada
campuran serum-virus tersebut dan diinkubasi lagi pada 37°C
selama 5 hari. Pengamatan ditakukan setiap hari, untuk melihat
adanya CPE (Cytopathogenic Effect).
Adanya netralisasi antara serum dan virus yang dicampur,
dapat diketahui dan pengamatan sel HEp-2 yang tidak menun-
jukkan adanya CPE. Sebaliknya, sel HEp-2 yang menunjukkan
CPE diartikan sebagai tidak ada reaksi netralisasi.
Serum yang mengadakan reaksi netralisasi, diartikan se-
bagai mernpunyai antibodi terhadap virus yang dicampurkan.
Sebaliknya, serum yang tidak menetralisasi virus yang dicam-
purkan diartikan sebagai tidak mempunyai antibodi terhadap
virus tersebut.
Bersamaan dengan setiap uji netralisasi dan serum yang
akan diuji, disertakan juga uji titrasi ulang (back titration) dan
virus yang digunakan, serta serum kontrol untuk melihat toksisi-
tasnya terhadap sel, dan reference homologous antisera yang
sudah diketahui titer antibodinya.
6) Pemeriksaan isolasi virus
Isolasi virus entero dan tinja dilakukan pada biakan sel
HEp-2 dan Vero. Isolasi yang menunjukkan CPE dilanjutkan
dengan identifikasi. Isolasi yang tidak menunjukkan CPE di-
lakukan pasase selama 2 kali, dan apabila sampai 2 kali pasase
tidak menunjukkan adanya CPE dinyatakan sebagai negatip
isolat.
Identifikasi terhadap isolat yang positip dilakukan dengan
menggunakan pool antisera yang didapatkan dan WHO. Pool
antisera tersebut terdiri dari pool antisera polio, Echo dan
Coxsackie virus group. Prosedur pemeriksaan identifikasi sesuai
dengan standard WHO
(1)
.
7) Test potensi vaksin
Potensi vaksin polio yang akan dipakai dan yang sudah
dipakai di lapangan diuji dengan pemeriksaan titrasi pada cell
HEp-2 yang ditumbuhkan dalam microplate dan tabung.
Vaksin yang diuji potensinya diambil secara random, se-
banyak 1 vial, dan sejumlah vaksin yang akan dipakai untuk
setiap jadual vaksinasi dan 1 vial sisa dan sejumlah vaksin
tersebut.
8) Pengamatan reaksi samping
Setiap kali sehabis vaksinasi, bayi diamati selama 8 hari
oleh petugas kesehatan setempat dengan supervisi peneliti pusat,
untuk melihat dan mencatat dalam formulir yang sudah disedia-
kan adanya gejala reaksi samping yang mungkin terjadi. Gejala
yang diamati adalah : panas, batuk, tenggorokan merah, pilek,
muntah, mencret, kaku kuduk, lumpuh satu kaki atau dua kaki
dan apabila ada kelumpuhan apakah jika dicubit masih ada rasa
atau tidak.
9) Analisis data
Analisis data dan uji netralisasi meliputi:
a) Serokonversi tenhadap ke-3 tipe virus polio.
b) Serokonversi terhadap masing-masing senotipe.
c) Tidak ada serokonversi.
Analisis data dan isolasi virus meliputi:
a) Tinja pertama: semua enterovirus.
b) Tinja kedua: semua enterovirus.
HASIL
1) Pemeriksaan serologis
Pemeriksaan serologis dilakukan terhadap 100 sera dari
bayi-bayi yang mengikuti penelitian dari awal sampai akhir.
Hasil uji netralisasi untuk mengetahui status antibodi anak
dari 100 anak sebelum mendapatkan OPV dan sesudah men-
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997 53
background image
dapatkan OPV III dapat dilihat pada Tabel 1. Lima puluh empat
persen anak sebelum imunisasi adalah tripel negatip (tidak
mempunyai antibodi sama sekali), dan setelah anak diimunisasi
3 kali ternyata tidak ada lagi anak yang tripel negatip. Dari 100
anak sebelum imunisasi ternyata hanya 12% anak yang mem-
punyai antibodi terhadap ketiga tipe virus polio, akan tetapi
setelah anak mendapat imunisasi 3 kali, persentase anak yang
mempunyai antibodi terhadap ketigatipe virus meningkat menjadi
95%. Demikian juga, status antibodi anak terhadap masing-
masing tipe virus polio meningkat setelah anak mendapat imuni-
sasi 3 kali.
Tabel 1. Status antibodi polio pada 100 anak umur 2­3 bulan sebelum dan
sesudah mendapat OPV buatan Rio Farma, di Yogyakarta, 1994
Neutralizing antibody polio positip
Tipe-1 Tipe-2 Tipe-3
Tipe-1+2+3
Trppel
negatip
Status
Imunisasi
n % n % n % n % n %
Sebelum
mendapat 29 29 19 19 34 34 12 12 54 54
OPV
Sesudah mendapat
99
99
98
98
97
97
35
35
0
0
OPV
III
Hasil uji netralisasi dan 54 anak yang seronegatip sebelum
mendapat imunisasi menunjukkan bahwa serocon version rate
masing-masing tipe virus polio dan ketiga tipe virus polio, se-
telah anak mendapat imunisasi, cukup baik yaitu tipe- 1 98%,
tipe-2 98%, tipe-3 94% dan tipe-1+2+3 93% (Tabel 2).
Tabel 2. Serokonversi 54 bayi umur 2-3 bulan yang mendapat OPV III
buatan Bio Farma, terhadap masing-masing tipe polio, di
Yogyakarta,
1994
Tipe-1
Tipe-2
Tipe-3
Tipe-1+2+3
Jumlah sero negatip
sebelum diberi OPV
54 54 54 54
Jumlah sero positip
sesudah diberi OPV III
53 53 51 50
Conversion rate
98,1% 98,1% 94,4% 92,6%
4) Pemeriksaan isolasi virus
Pemeriksaan isolasi virus dari 100 tinja anak sebelum imu-
nisasi, hanya menemukan satu isolat positip, dan setelah diiden-
tifikasi ternyata virus polio tipe-2.
Hasil isolasi dan 100 tinja anak sesudah mendapat imunisasi
juga hanya menemukan 2 isolatpositip, dan setelah diidentifikasi
ternyata adalah virus polio tipe-2 dan Coxsackie-B group. Virus
polio tipe-2 diekskresi oleh anak yang sama pada saat sebelum
dan sesudah ia mendapat imunisasi.
5) Pemeriksaan potensi vaksin
Hasil pemeriksaan potensi vaksin menggunakan sel HEp-2
sesuai dengan anjuran WHO, yang diambil pada saat sebelum
dan sesudah digunakan di lapangan, menunjukkan hasil potensi
yang masih memenuhi syarat, yang berarti tidak terjadi penurun-
an potensi selama penggunaan di lapangan (Tabel 3).
6) Pengamatan reaksi samping
Pengamatan setelah pemberian OPV 3 kali dan wawancara
terhadap orang tua bayi yang ikut dalam penelitian, selama 8 hari
dan masing-masing tahap vaksinasi, menunjukkan tidak adanya
Tabel 3. Hasil pemeriksaan potensi vaksin polio oral Bio Farma, Batch
No. 270063
Tgl. Pengambilan
sampel di
lapangan
TgI. Pengiriman
sampel ke
Laboratorium
Tgl. Pemeriksaan
sampel
Titer
Trivalent
OPV
I I Januari 1994
12 Januari 1994
13 Januari 1994
25 Januari 1994
I I Februari 1994
12 Februari 1994
13 Februari 1994
25 Februari 1994
I Maret 1994
12 Maret 1994
13 Maret 1994
25 Maret 1994
25 Januari 1994
25 Januari 1994
25 Januari 1994
25 Januari 1994
26 Februari 1994
26 Februari 1994
26 Februari 1994
26 Februari 1994
25 April 1994
25 April 1994
25 April 1994
25 April 1994
3 Februari 1994
3 Februari 1994
3 Februari 1994
3 Februari 1994
4 Maret 1994
4 Maret 1994
4 Maret 1994
4 Maret 1994
2 April 1994
2 April 1994
2 April 1994
2 April 1994
10
­6.4
/ml
10
­6.4
/ml
10
­6.4
/ml
10
­6.4
/ml
10
­6.4
/ml
10
­6.4
/ml
10
­6.4
/ml
10
­6.4
/ml
10
­6.4
/ml
10
­6.4
/ml
10
­6.4
/ml
10
­6.4
/ml
gejala-gejala reaksi samping setelah pemberian vaksin oral polio
pada bayi-bayi kelompok studi, baik setelah pemberian yang
pertama, ke dua maupun yang ke tiga. Demikian juga dengan
pengukuran suhu badan anak, ternyata tidak ada kenaikan tem-
peratur badan di atas normal ataupun penurunan di bawah normal
(Tabel 4).
Tabel 4. Pengamatan reaksi samping pada penelitian vaksin polio oral
buatan
Bio
Farma,
di
Yogyakarta,
1994
Gejala yang diamati Ya (%) Tidak (%) 36,9°C
37°C
37,1°C
Suhu badan
Panas
Batuk
Tenggorokan merah
Pilek
Muntah
Mencret
Kaku kuduk
Lumpuh satu kaki
Lumpuh dua kaki
­
0
0
0
0
0
0
0
0
0
­
100
100
100
100
100
100
100
100
100
1
98
1
PEMBAHASAN
Dari pemeriksaan serum anak sebelum dan sesudah vaksi-
nasi dengan vaksin polio oral buatan Bio Farma, ternyata hasil
serokonversi terhadap masing-masing tipe dan ketiga tipe virus
polio sangat baik. Bila hasil uji coba ini dibandingkan dengan
hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan di Lampung
(2)
dan
Bandung
(3)
yang menggunakan vaksin sejenis buatan SK&F
Smith Kline atau Pasteur Merieux yang biasa dipakai dalam
program imunisasi, ternyata tidak berbeda (Gambar 1).
Demikian juga bila dibandingkan dengan hasil-hasil pene-
litian di beberapa negara di Asia (Tabel 5), maka hasil sero-
konversi penelitian ini lebih baik dari hasil penelitian di Oman,
Pakistan, Saudi Arabia dan Uganda. Sedangkan dengan hasil
penelitian di Cina, Korea, Zimbabwe dan Singapura hampir
sama meskipun lebih rendah sedikit. Dari hasil-hasil penelitian
tersebut di atas juga terlihat bahwa serokonversinya terhadap
tipe-2 lebih tinggi bila dibandingkan dengan tipe-1 dan 3. Me-
nurut beberapa ahli, hal ini mungkin disebabkan oleh adanya
interferensi dan tipe-2 dan virus entero lain terhadap tipe-1 dan
tipe-3
(6)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997
54
background image
Gambar 1. Seroconversion rate terhadap OPV III dan anak-anak di
Bandung
(1979)
dan
Lampung
(1984)
Gambar 2. Status antibodi polio anak setelah mendapat imunisasi lengkap
di Jakarta (1989) dan Palembang (1991)
vaksin oral polio buatan Bio Farma cukup tinggi dibandingkan
dengan status antibodi anak setelah mendapat imunisasi rutin
dan program (SK&F Smith Kline atau Pasteur Merieux).
Tabel 5. Serokonversi terhadap OPV setelah pemberian 3­4 kali dosis
pada anak-anak umur 2­7 tahun di beberapa negara Asia*)
Hasil isolasi virus polio tipe-2 dan satu anak sebelum diberi
vaksin tidak mempengaruhi pembentukan antibodi anak setelah
mendapat vaksinasi.
Neutralizing antibody (%)
Negara
Tipe-1 Tipe-2 Tipe-3
Jadual
Imunisasi
(bulan)
Jumlah
bayi
Enceran
serum
Cina
Korea
Oman
Pakistan
S. Arabia
Singapura
Uganda
Zimbabwe
99
100
97
89
77
100
90
100
100
100
97
92
84
100
98
100
99
100
74
94
72
100
62
100
2/3/4
2/4/6
3/5/7
0/3/5/7
3/4/5
3/4/5
3/4/5
3/4/5
92
26
35
36
64
30
60
28
1 : 8
1 : 8
1 : 8
1 : 8
1 : 8
1 : 8
1 : 8
1 : 8
Berdasarkan hasil penelitian ini maka vaksin polio oral
buatan Bio Farma memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam
program imunisasi, khususnya dalam rangka program eradikasi
polio di Indonesia.
­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada yang terhormat
Direktur Umum Perum Bio Farma dan Direktur Pengembangan Perum Bio
Farma, atas kepercayaan yang diberikan kepada Pusat Penelitian Penyakit
Menular untuk melakukan penelitian ini.
*) Dikutip dan WHO
(6)
Status antibodi anak setelah mendapat imunisasi dengan
vaksin Bio Farma, terhadap tipe-1+2+3 lebih tinggi dibandingkan
dengan status antibodi anak setelah mendapat imunisasi dengan
vaksin yang digunakan dalam program imunisasi (SK&F) di
Jakta dan Palembang (Gambar 2).
Demikian juga penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Kepala
Pusat Penelitian Penyakit Menular yang telah memberikan saran dan
petunjuknya dalam pelaksanaan penelitian ini kepada penulis.
Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada:
1 . Kepala Kan. Wil. Departemen Kesehatan Propinsi DI Yogyakarta,
2. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi DI Yogyakarta,
3. Kepala Dinas Kesehatan Kodya Yogyakarta,
Isolasi virus polio dan anak sebelum divaksinasi, ternyata
hanya menemukan satu anak yang mengekskresi virus polio pada
saat sebelum dan sesudah imunisasi, tetapi tidak mengganggu
pembentukan antibodi anak setelah mendapat vaksinasi. De-
mikian juga ditemukan ekskresi virus Coxsackie-B group dari
anak yang sudah mendapat imunisasi, tetapi tidak mengganggu
pembentukan antibodinya. Mungkin infeksi virus Coxsackie-B
tersebut terjadi sesudah imunisasi, sehingga tidak menghambat
pembentukan antibodi terhadap vaksin polio yang diberikan.
4. Kepala Puskesmas Kec. Wirobrajan, Mantrijeron, Tegalrejo dan Mergangsan.
5. Kepala RSU Kodya Yogyakarta,
6. Semua pihak yang terlibat dalam penelitian ini,
atas segala bantuan yang berupa pemberian izin penelitian, penyediaan tempat
dan fasilitas lainnya, serta bantuan dalam pengambilan spesimen, sehingga
penelitian ini dapat berjalan dengan lancar.
KEPUSTAKAAN
1. WHO. Manual for the Virological Investigation of Poliomyelitis. Global
Poliomyelitis Eradication By the Year 2000. EPIJPoIio/90. 1: 63­71.
Seperti halnya dengan vaksin yang selama ini dipergunakan
dalam program imunisasi di Indonesia, dan strain Sabin,maka
ternyata tidak dijumpai adanya reaksi samping yang memba-
hayakan bagi kesehatan anak penerima vaksin.
2. Gendrowahyuhono dkk. Tanggap kebal anakterhadap vaksinasi polio
dengan dua kali dosis dan tiga kali dosis. Medika 1987; 4: 369­88.
3. DepKes RI. Hasil trial imunisasi polio di lima kecamatan di Kodya Bandung
(survei sero-virologik) pada bayi sehat golongan umur 3­14 bulan, pada
tahun 1978­1979. Suatu kerjasama antara Dit. Jen. P3M. Dinas Kesehatan
Prop. Jawa Barat dan PN Bio Farma, 1981.
4. Gendrowahyuhono. Serokonversi terhadap vaksin polio oral di kalangan
anak-anak di daerah kumuk di Jakarta. Cermin Dunia Kedokt 1993; 83:
49­51.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa vaksin
polio oral buatan Bio Farma, yang diberikan pada bayi-bayi yang
berumur 2­3 bulan, tidak menimbulkan reaksi samping.
5. Bambang Heryanto, Gendrowahyuhono. Tanggap kebal terhadap vaksin
oral pada anak-anak di daerah kumuh di Palembang. Maj Kes Mas Indon
1994; XXII (10): 635­42.
Hasil serokonversinya terhadap masing-masing tipe dan
ketiga tipe virus polio, sangat baik.
6. Robertson SE. Poliomyelitis. The Immunological Ba for Immunication.
Expanded Programme on Immunization, World Health Organization, Geneva,
1993.
Status antibodi anak setelah mendapat imunisasi dengan
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997 55