Proses Keputusan Terapi
dan Masalah dalam Pemakaian Obat
Abraham Simatupang
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta,
Peserta Program S-2 Ilmu Kedokteran Dasar, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
PENDAHULUAN
Setelah diagnosis ditegakkan, seorang dokter akan melang-
kah untuk menentukan terapi yang cocok, bukan hanya untuk
diagnosis tersebut namun untuk orang tersebut secara kese-
luruhan. Terapi merupakan salah satu mats rantai dalam upaya
pencegahan atau penyembuhan pasien (pribadi ataupun masya-
rakat) dari suatu penyakit. Proses pengambilan keputusan terapi
adalah suatu urutan langkah yang logis, sistematis dan mengikuti
kaidah ilmiah pads umumnya, seperti definisi di bawah ini
(1)
:
"The therapeutic decisions of clinical judgment require valid
evidence, logical analysis and demonstrable proof' dan "Their
scientific quality can be discerned, assessed and improved by
the same rational procedures used for any other act of experi-
mental science". (Feinsten, 1967)
PROSES KEPUTUSAN TERAPI
Beberapa tahapan dalam pengambilan keputusan terapi yang
memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus diuraikan se-
cara rinci seperti berikut :
1. Intervensi Farmakoterapi
Dalam hal penentuan perlunya terapi farmakologik atau
non-farmakologik, minimal ada lima kategori yang perlu diper-
hatikan
(2)
:
-
Yang mutlak memerlukan obat, misalnya keadaan-keadaan
infeksi bakterial yang serius, hipertensi berat dan sedang, asma,
penyakit Parkinson, dan lain-lain.
-
Yang mungkin memerlukan obat; hal ini lebih sulit karena
seringkali terjadi karena kekurang-pastian diagnosis maupun
patofisiologinya yang masih belum jelas, misalnya rasa sakit di
dada yang timbul berulang-ulang dengan gambaran EKG yang
normal, hipertensi ringan, dan lain-lain.
-
Yang mungkin dapat ditolong dengan bantuan obat atau
dengan pendekatan non-farmakologik, misalnya obesitas.
-
Yang tidak memerlukan obat, misalnya psikosomatis.
-
Yang tidak dapat tertolong lagi, misalnya stadium akhir
keganasan, koma akibat perdarahan intrakranial yang masif, dan
lain-lain.
Sebagai patokan pertama dalam penentuan perlunya tindak-
an intervensi, perlu adanya suatu diagnosis pasti; diagnosis kerja
atau sementara yang tidak hanya dilihat sebagai diagnosis per se
namun mencakup keadaan pasien secara menyeluruh yang
menyangkut faktor patofisiologi dan prognosis yang dinamis
dari penyakit tersebut. Misalkan perlu dipertimbangkan secara
seksama pemberian rifampisin pada penderita tuberkulosis paru
disertai hepatitis kronik persisten. Tidak semua keadaan harus
diintervensi secara fannakologik; misalnyapada keadaan psiko-
somatis atau reaksi konversi intervensi yang lebih diperlukan
adalah pendekatan psilcologis daripada farmakologis.
2.
Efek Farmakologik yang Diharapkan
Pada langkah ini telah terpikirkan bahwa efek farmakologi
obat yang akan diberikan diharapkan dapat mengubah keadaan
pasien ke arah yang lebih baik atau kesembuhan. Misalkan
pemberian nitrogliserin pada nyeri dada akibat serangan akut
angina pektoris diharapkan memberikan efek terapi berdasar-
kan patofisiologi penyakit dan efek farmakologi obat tersebut
yang bersifat melebarkan pembuluh darah koronaria, sedangkan
pemberian analgesia narkotik pada stadium akhir keganasan ber-
sifat paliatif-suportif terhadap rasa nyeri yang diderita pasien.
3.
Pemilihan Jenis Obat
Obat yang diberikan untuk memenuhi harapan di atas me-
rupakan hasil pilihan yang terbaik berdasarkan faktor-faktor
kemanfaatan, keamanan, biaya dan mutu obat.
·
Manfaat (benefit) :
Faktor manfaat menyangkut segi keterandalan atas bukti
ilmiah bahwa obat yang diberikan jelas diperlukan untuk ke-
Cermin Dunia Kedokteran No. 78, 1992 57
adaan atau penyakit yang diderita. Pemberian antibiotika pada
kasus diare akut pada anak yang biasanya disebabkan oleh virus
jelas tidak mempertimbangkan hal ini, bahkan bisa membuat
penderita suatu saat menjadi resisten.
·
Aman (safety) :
Sebenarnya setiap obat adalah racun dan tidak ada satu
tindakan pengobatan apapun yang tanpa risiko; sehingga perlu
dipertimbangkan serta dipilih obat yang mempunyai tingkat
keamanan yang tinggi, terutama dalam memilih di antara sekian
banyak obat sejenis yang tersedia. Terdapat banyak preparat
antiinflamasi golongan non-steroid yang masing-masing mem-
punyai bates keamanan untuk situasi dan kondisi tertentu dari
pasien. Umpamanya, pemberian asam mefenamat relatif lebih
aman daripada asam salisilat untuk inflamasi yang disertai tukak
lambung.
·
Biaya (cost) :
Untuk kondisi negara berkembang dengan sistim penata-
layanan kesehatan masyarakat yang belum balk serta tingkat
pendapatan per kapita penduduk yang masih rendah dan se-
bagian besar biaya pelayanan kesehatan masih ditanggung oleh
masyarakat sendiri, maka faktor harga perlu dipikirkan, apalagi
untuk penyakit kronis yang memerlukan terapi jangka panjang
seperti diabetes atau epilepsi. Perlu diberikan pemahaman ke-
pada masyarakat bahwa tidak benar kalau obat murah adalah
obat yang tidak berhasilguna atau sebaliknya bahwa obat yang
mahal pasti manjur.
·
Mute (quality) :
Menyangkut soal bioekuivalen dari suatu obat; meskipun
mengandung zat berkhasiat sama namun dua atau lebih obat dari
buatan pabrik yang berbeda dapat memberikan efek yang ber-
beda. Hal ini menyangkut perlakuan dan tata-cara proses pem-
buatan obat tersebut yang tidak selalu sama pada tiap produsen
obat.
Dengan diberlakukannya peraturan Cara Pembuatan Obat
yang Baik (CPOB) bagi setiap produsen obat maka diharapkan
bahwa obat yang dihasilkan dan dipasarkan telah memenuhi
kriteria-kriteria yang digariskan dalam CPOB tersebut.
4. Dosis dan Cara Pemberian
Setelah memilih jenis obat yang paling tepat untuk diagno-
sis serta memperhitungkan faktor-faktor di atas, maka hal-hal
berikut tidak kalah pentingnya karena mencakup keberadaan
dan ketersediaan obat dalam kadar yang adekuat (dalam active
site atau sel sasaran) agar memberikan efek farmakologis yang
optimal. Hal ini menyangkut beberapa segi yaitu :
·
Bentuk sediaan :
Tersedianya berbagai macam bentuk sediaan obat berhu-
bungan dengan cara pemberian, jalur pemberian, sifat fisiko
kimia dan keadaan penyakit serta kemudahan-kenyamanan
(convenience) baik dari segi dokter maupun pasien.
Obat-obat yang digunakan untuk keadaan gawat-darurat
(mis. epinefrin, dopamin) biasanya dibuat dalam bentuk cairan
untuk suntik atau infus. Obat-obat untuk anak-anak biasanya
dalam bentuk sirup atau untuk menghindari reaksi antara obat
dengan asam lambung dibuat tablet dengan salut enterik (lihat
juga Tabel 1).
Tabel 1. Jalur Pemberian Obat dan Penggunaannya (dari Goodman &
Gilman,
1991,
hal
6)
Jalur Pula
Absorpsi
Penggunaan Catatan
Intravena
Subkutan
Intramuskuler
Oral
Tidak melalui
absorbsi
Efek cepat
Cepat bila dengan
larutan akua,
Lambat bila
dengan preparat
repository
Cepat, bila
dengan lanttan
akua,
lambs bila
dengan preparat
repository
Bervariasi ter-
gantung pada
berbagai faktor
Keadaan gawat
darurat
Dapat dititrasi
Cocok untuk
volume besar
atau zat iritatif
Cocak untuk
suspensi
tidak larut dan
untuk implantasi
pellet
Cocok untuk
volume sedang,
pelarut minyak
dan zat yang
iritatif
Menyenangkan,
mudah, murah
dan aman
Risiko efek samping
meningkat
Tidak cocok untuk
larutan benninyak
atau zat yang sukar
larat
Tidak cocok untuk
volume besar
Dapat menimbulkan
iritasi dan nekrosis
Tidak dianjurkan
bila diterapi anti-
koagulan
Dapat mengganggu
interpretasi up
diagnostik (mis.
kreatin kinase)
Membutuhkan
kooperasi pasien
Availabilitas erratic,
tidak sempurna, ka-
rena obat sukar larut,
sukar diabsorpsi,
tidak stabil
mengalami first
pass effect, dli.
·
Dosis dan frekuensi pemberian :
Hal ini menyangkut berapa banyak dan berapa kali obat
akan diberikan agar tercapai kadar yang adekuat untuk efek
terapi yang optimal. Keputusan berapa besarnya dosis yang
akan diberikan tergantung path :
Besarnya obat yang akan diberikan pada waktu tertentu
Jalur pemberian
Waktu antara tiap dosis
Waktu di mana pemberian obat akan diteruskan
Pola pemberian berdasarkan prinsip farmakokinetik terbagi
atas : (a) terus-menerus lewat cairan infus (atau cara lain yang
menyebabkan pelepasan obat dengan kecepatan yang tetap,
misal sediaan lepas lambat) dan (b) secara seri dengan jangka
waktu pemberian tertentu dan dosis yang sama.
Beberapa macam dosis
(3)
:
Loading dose : dosis ini diberikan bila diinginkan kadar
tunak yang cepat terutama untuk obat-obat dengan waktu paruh
yang panjang. Secara teori jumlah obat yang dibutuhkan untuk
mencapai kadar tunak di plasma adalah jumlah obat yang harus
ada di tubuh pada waktu keadaan kadar tunak tercapai (path
pemberian secara berseri jumlahnya adalah nilai rata-rata dari
konsentrasi).
Loading dose = jumlah obat di tubuh pada keadaan tunak
= C
p,ss
x Vd
Cermin Dunia Kedokteran No. 78, 1992
58
Keterangan : C
p,ss
= Kadar obat tunak dalam plasma
V
d
= volume distribusi
Dosis penunjang (Maintenance dose) : merupakan dosis
yang diberikan agar keadaan tunak terpelihara. Untuk meme-
lihara kadar tunak ini harus diketahui kecepatan ekskresi obat
sehingga ada keseimbangan antara obat yang masuk dan obat
yang keluar.
·
Lama pemberian :
Lamanya pemberian suatu obat tergantung patofisiologi
dan perjalanan penyakit serta tujuan pengobatan itu sendiri.
Lamanya pengobatan untuk tifus abdominalis minimal dua
minggu, untuk epilepsi minimal sampai dua tahun penderita
bebas kejang, antibiotika minimal lima hari. Pengobatan untuk
profilaksi berbeda dengan eradikasi.
5. Komunikasi, Informasi dan Edukasi
Meskipun diagnosis dan rencana terapi serta obat yang
dipilih sudah tepat namun seringkali pengobatan gagal karena
faktor komunikasi antara dokter dan pasien tidak terbina dengan
baik. Dokter harus menjelaskan kepada pasien tentang penyakit
yang dideritanya, prognosis maupun langkah terapi yang akan
diambil dengan sebijaksana mungkin, dengan melihat situasi
dan kondisi mental psikologis penderita maupun keluarganya.
la juga harus bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan oleh pasien berkenaan dengan penyakit dan terapi yang
akan dijalaninya.
Hal-hal yang perlu diinformasikan yang berkenaan dengan
pengobatan ialah :
·
Cara pemakaian dan dosis obat, termasuk hal-hal seperti
obat diminum sebelum atau sesudah makan, dihisap (chew),
dioleskan dengan tipis, dan lain-lain.
·
Efek samping yang mungkin timbul, misalnya mengantuk,
mual, gatal atau timbul kemerahan (skin rash), dan lain-lain.
Perlu juga diberitahukan tindakan terhadap efek samping yang
timbul, kalau perlu cepat melapor ke pada dokter atau fasilitas
kesehatan terdekat.
·
Pasien perlu diberitahu bahwa obat tidak boleh diberikan
kepada orang lain (anak, keluarga atau tetangga) meskipun
mungkin gejala atau penyakitnya mirip dengan penderita.
Obat harus disimpan dengan baik agar terhindar dari pe-
makaian talc sengaja atau sengaja oleh orang lain.
6. Evaluasi
Efek terapi :
Tindakan ini merupakan hal yang penting dalam rangka
menilai keberhasilan atau kegagalan tindakan terapi yang di-
berikan; yang perlu dinilai pertama-tama apakah ada perubahan
keadaan penyakit atau kelainan yang bermakna pada penderita
baik secara klinis maupun laboratoris. Kalau ada, apakah peng-
obatan diteruskan atau dihentikan?
Efek samping :
Apakah ada efek samping yang timbul, dan bila timbul
apakah berbahaya? Apakah perlu dipikirkan penghentian atau
penggantian obat?
Dengan mengetahui efek-efek lain selain dari efek terapi
dari obat yang diberikan, kita dapat mengantisipasi apabila efek
efek tersebut membahayakan pasien; misalnya efek
hipokalemia yang disebabkan oleh diuretik dapat
mempengaruhi kerja listrik jantung terlebih bila bersamaan
pemakaiannya dengan digitalis.
Pemantauan Kadar Obat (Therapeutic Drug Monitoring) :
Untuk obat dengan Indeks Terapeutik yang sempit, pema-
kaian yang lama, adanya gangguan organ-organ pemetabolisme
dan ekskresi, kadar optimal hams tetap dipertahankan agar
terhindar dari gejala keracunan dan agar ada korelasi yang kuat
antara konsentrasi obat dalam darah dengan respons terapi yang
terjadi.
Menghentikan pemberian :
Kapan dan bagaimana cara penghentian obat juga meru-
pakan salah satu hal yang penting untuk menghindarkan pasien
dari bahaya keracunan akibat pemaparan tubuh dengan obat serta
dari pengeluaran biaya pengobatan yang berlebihan; misalnya
penghentian kortikosteroid dilakukan secara berangsur-angsur
(tapering-off), antibiotika minimal diberikan selama lima hari,
dan lain-lain.
Penggantian terapi :
Biasanya dilakukan bila efek terapi yang diharapkan tidak
terjadi atau terjadi reaksi efek samping obat yang tidak dapat
ditoleransi lagi oleh pasien. Keputusan penggantian terapi ini
tidak sederhana karena mempertimbangkan berbagai faktor,
a.l. wash-out period dari obat yang akan diganti, adanya feno-
mena resistensi silang, toleransi silang, (cross-resistance, cross-
tolerance) dari obat yang sejenis atau sekelas.
Selain pertanyaan-pertanyaan di atas, pengetahuan (know-
ledge), penilaian (judgement), keahlian (skill), kebijaksanaan
(wisdom) dan rasa tanggung jawab (responsibility) juga harus
menyertai setiap keputusan terapi yang akan diambil oleh se-
orang dokter.
PEMILIHAN PENGOBATAN SECARA RASIONAL
Dasar ideal dalam pemilihan obat adalah rasional serta
efeknya yang telah teruji secara klinis, namun dalam kenyataan
hal ini tidak selamanya mudah dilaksanakan. Pemilihan peng-
obatan secara rasional didasarkan pada :
1.
Diagnosis yang tepat.
2.
Data (anamnesis, gejala dan tanda klinis, pemeriksaan pe-
nunjang lainnya dan laboratorium) yang cukup dan akurat
dihubungkan dengan patofisiologi penyakit.
3.
Pengetahuan tentang farmakologi dan biokimiawi dari obat
dan metabolitnya serta sifat farmakokinetik bat tersebut baik
pada orang sehat atau sakit.
4.
Kemampuan untuk menterjemahkan pengetahuan di atas
dengan situasi klinis yang dihadapi.
5.
Prakiraan efek obat yang terjadi berhubungan dengan
patofisiologi dan farmakologi obat.
6.
Perencanaan melakukan pengukuran-pengukuran untuk
memantau efikasi dan efek samping yang mungkin terjadi.
Meskipun langkah-langkah di atas tampaknya bertele-tele
namun apabila prinsip-prinsip ini telah dipahami dan dipraktek-
kan secara terus menerus maka proses tersebut akan berjalan
dengan sendirinya.
Cermin Dunia Kedokteran No. 78, 1992 59
MASALAH-MASALAH DALAM PEMAKAIAN OBAT
Setelah mempertimbangkan faktor-faktor di atas masalah-
masalah lain yang turut mempengaruhi keberhasilan terapi ialah
faktor psiko-sosial-ekonomi dari pasien. Pada pasien-pasien
psikiatrik atau lanjut usia dan pemakaian yang lama, masalah
compliance yaitu kepatuhan dan keajegan pemakaian obat oleh
pasien merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan
kegagalan maupun keberhasilan terapi. Faktor non-compliance
dapat terjadi karena
(4)
:
1.
Penyakit : psikiatrik atau depresi
2.
Dosis dan aturan pemakaian :
rumit, lebih dari dua macam obat dan pemakaian mi-
salnya ada yang dimakan 3 kali 1/2 tablet, ada yang dihisap,
dioleskan, dan lain-lain.
pemakaian yang lama, misalnya antihipertensi, anti-
epilepsi.
3.
Pengadaan obat yang sulit didapat karena jarang, mahal, dan
lain-lain.
4.
Hubungan dokter-pasien yang tidak harmonis sehingga
pasien tidak mengacuhkan petunjuk pengobatan dari dokter.
5.
Pasien :
ketidakpercayaan pasien pada upaya pengobatan
lingkungan dan suasana yang tidak mendukung
6.
Efek samping obat, misalnya efek sedasi karena antihis-
tamin atau efek nausea karena sulfas ferosus, dan lain-lain.
Dari segi ekonomi, pembelian obat yang tidak lengkap
karena harga yang tidak terjangkau dapat juga mempengaruhi
keberhasilan terapi. Di daerah perifer seringkali ketersediaan
baik dari segi jumlah maupun ragam obat sangat terbatas se-
hingga dokter terpaksa memberikan pengobatan yang kurang
adekuat.
Masalah lain ialah interaksi obat, lebih-lebih bila dokter
terpaksa memberikan , polifarmasi dan reaksi idiosinkrasi yang
dapat terjadi secara tak terduga. Meskipun pemilihan dari setiap
jenis obat telah dilakukan secara rasional namun bila diberikan
secara bersama-sama dapat saja timbul interaksi yang bisa
mengurangi efek farmakologis obat atau bahkan berakibat fatal
bagi penderita.
PENUTUP
Penyakit merupakan suatu keadaan yang dinamis, ia bukan
hanya suatu diagnosis yang berasal dari sekian banyak kumpul-
an gejala dan tanda namun suatu hasil interaksi dari berbagai hal
yang kompleks sehingga perlu pendekatan yang tidak terpaku
hanya pada diagnosis saja. Setiap saat perlu dilakukan penilaian
ulang atas perubahan-perubahan yang terjadi (hasil laborato-
rium, perjalanan penyakit, tanda-tanda klinis) serta trhadap
terapi yang diberikan. Proses keputusan terapi merupakan
bagian dari proses problem solving cycle, sehingga setiap hasil
atau efek atau masalah yang terjadi akibat keputusan tersebut
harus dikaji ulang kembali dan dibuat keputusan-keputusan
baru guna mendapatkan hasil yang maksimal.
KEPUSTAKAAN
1.
Peck CC. Qualitative Aspects of Therapeutic Decision Making in Clinical
Pharmacology, 2nd ed., Memun LK, Morelli HE (Eds.). New York: Mac-
millan Publ Co., Inc., 1978, 1063-83.
2.
Reid LJ, Rubin PC, Whiting B. Lecture Notes on Clinical Pharmacology
2nd ed., Oxford: Blackwell Scient Publ, 1985, 27985.
3.
Benet LZ, Mitchell JR, Sheiner LB. Pharmacolrinetics: The dynamics of
drug absorption, distribution and elimination. Dalam: Goodman & Gil-
man's: The Pharmacological Basis of Therapeutics, Gilman, A.G. dick,
(Eds.) edisi 8, New York: Maxwell Macmillan International Ed. 1991.
4.
Laurence DR, Bennet PM. Clinical Pharmacology, 6th ed., Edinburgh:
Churchill-Livingstone, 1987, 129.
5.
Benet LZ. Phannacokinetics: L absorption, distribution, and excretion.
Dalam: Basic & Clinical Pharmacology, Katzung BG. (Ed.) edisi 3,
Norwalk: Appleton Lange, 1987, hal 2335.
LAMPIRAN
PROSES KEPUTUSAN TERAPI