background image
Produksi Antibodi Klon Tunggal dan
Aplikasinya dalam Bidang
Kedokteran Nuklir
Rochestri Sofyan
Pusat Pengkajian Teknologi Nuklir ­ BATAN, Jakarta
PENDAHULUAN
Kemajuan dalam bidang bioteknologi yaitu ditemukannya
teknologi hibridoma untuk memproduksi antibodi klon tunggal,
merupakan salah satu terobosan yang sangat berharga dalam
biomedik. Dengan ditemukannya antibodi klon tunggal berarti
bahwa gagasan penggunaan antibodi dalam pencarian sasaran
tumor sekaligus sebagai penyembuh tumor, segera menjadi ke-
nyataan. Memang akhir-akhir ini antibodi klon tunggal sangat
populer terutama dalam dunia kedokteran.
Dalam kedokteran nuklir, telah diaplikasikan beberapa jenis
antibodi klon tunggal yang dikaitkan dengan penggunaan teknik
radioimmunoassay (RIA) dan immunoradiometric assay (IRMA)
serta untuk diagnosis in vivo melalui teknik imaging. Oleh
karena antibodi klon tunggal ini bekerjanya sangat spesifik
(unik), maka sangat menguntungkan baik dalam diagnosis mau-
pun terapi. Dalam RIA dan IRMA, penggunaan antibodi klon
tunggal dapat mengatasi masalah reaksi silang (cross reaction).
Penelitian dan pengembangan masih terus berlangsung untuk
memecahkan berbagai masalah. Usaha dan uji coba yang sedang
banyak dilaksanakan antara lain adalah pencarian pembuatan
antibodi klon tunggal yang benar-benar murni dalam skala pro-
duksi, pemilihan radionuklida dan teknik penandaan yang cocok,
pemilihan antigen yang sesuai, serta pemilihan metode pemasuk-
an ke dalam tubuh pasien yang cfektif.
PRODUKSI ANTIBODI KLON TUNGGAL
Dalam tubuh hewan tingkat unggi terdapat limfosit B yang
menghasilkan protein spesifik yang beredar dalam plasma yang
disebut antibodi atau immunoglobulin (Ig). Bila zat asing yang
bermolekul besar dengan bobot molekul 1000 ­ 10000 seperti
protein dan polisakarida masuk ke dalam tubuh, maka akan
dihasilkan antibodi terhadap antigen tersebut. Antigen dapat pula
berupa molekul kecil yang disebut hapten misalnya suatu toksin
yang bersenyawa dengan senyawa bermolekul besar seperti
serum albumin. Ig mempunyai daerah pengikatan atau binding
site yang spesifik terhadap suatu determinan pada antigen.
Setiap limfosit B menghasilkan Ig tunggal yang spesifik hanya
untuk satu determinan pada antigen.
Cara konvensional untuk memperoleh antibodi adalah
dengan menyuntikkan vaksin pada hewan percobaan. Setelah
beberapa waktu dan hewan tersebut cukup banyak mengandung
antibodi, darah hewan diambil lalu antibodinya diisolasi. Anti-
bodi yang dihasilkan dengan tara konvensional ini tidak murni,
karena ternyata antigen yang paling murni sekalipun masih
mengandung lebih dari satu determinan. Oleh sebab itu, walau-
pun imunisasi dilakukan dengan menggunakan antigen yang
murni, tetap akan dihasilkan antibodi yang poliklonal yang
terdiri dari campuran berbagai macam antibodi yang mempunyai
binding site berbeda-beda. Seandainya limfosit B dapat diambil
dan dapat diklonisasi dalam kultur jaringan, maka dapat dihasil-
kan molekul antibodi yang mempunyai satu spesifisitas (mono-
spesifik) yang popular disebut antibodi klon tunggal. Sayang-
nya sel yang dapat memproduksi antibodi ini tidak dapat tumbuh
atau hidup dalam kultur jaringan. Kemungkinan untuk mem-
produksi antibodi klon tunggal baru terbuka setelah ditemukan-
nya teori hibridoma.
Lahirnya teknologi hibridoma dimulai dan pengamatan
Georges Köhler dan Cesar Milstein dari Cambridge, Inggris
pada tahun 1975. Sel mieloma tikus yang merupakan sel kan-
ker, dapat memproduksi Ig nonspesifik tapi identik dalam jumlah
banyak dalam kultur jaringan. Berdasarkan pengamatan ter-
sebut, lalu dicoba dilakukan penggabungan (fusi) sel mieloma
dengan limfosit B hewan yang telah dipaksa membuat antibodi
khusus karena hewannya telah diimunkan dengan penyuntikan
antigen. Hasil penggabungan ini ternyata dapat hidup dalam
kultur jaringan. Dalam media polietilen glikol (PEG), dapat
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 53
background image
menghasilkan klon yang mempunyai sifat sel limfosit sebagai
penghasil antibodi yang monospesifik dan sifat hidup tak ter-
batas dari sel mieloma. Selanjutnya sel-sel hibridoma diselidiki;
sel yang membentuk antibodi tertentu tadi diteruskan pem-
biakannya, maka dapat dihasilkan antibodi klon tunggal secara
terus menerus. Penemuan teknologi hibridoma ini dinilai se-
bagai suatu terobosan paling penting dalam perkembangan
biomedik pada dasawarsa tahun 1970-an. Berkat jasa dan
penemuannya tersebut, Georges Kbhler dan Cesar Milstein
memperoleh hadiah Nobel untuk bidang kedokteran pada tahun
1984. Produksi antibodi klon tunggal melalui teknik hibridoma
dapat dilihat pada gambar 1.
Bagan 1. Produksi Antibodi Rion Tunggal Melalui Teknik Hibridoma
Keterangan :
1 Hewan disuntik antigen (dibooster) secara intravena.
2. Pengaktifan limfosit B pada limpa, mencapai puncaknya setelah 3 -4 hari
dibooster.
3. Limfosit B (L) diambil dengan cara mengambil limpa lalu disuspensi.
4. Difusikan dengan sel mieloma (M) dihasilkan sel :
hornokaryon
heterokaryon
homokaryon
5. Dibiakkan dan skreening dalam media hipoxanfin aminophterin timidin
(HAT). Sel yang tidak mengandung enzim hipoxantin guanosil fosforibosil
transferase (HGPRT) sepeni sel mieloma tidak dapat tumbuh dalam media
HAT. Sel yang tinggal hidup adalah monokaryon limfosit (hidupnya pendek)
dan sel heterokaryon. Karena sel hibridoma memiliki enzim HGPRT yang
berasal dari sel limpa, maka dapat tumbuh dalam HAT; sehingga akhirnya
tinggal sel hibridoma saja yang dapat hidup. Dalam teknik ini sel mieloma
yang digunakan tidak boleh mengandung enzim HGPRT. Selain itu, sel
mieloma harus bebas antibodi artinya tidak membuat antibodi yang dibuat
oleh limfosit B akan dihibridisasilcan. Sel mieloma dapat diambil dari
mencit, tilais atau kelinci. Sebaiknya sel mieloma diambil dari spesies yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992
54
background image
sama dengan spesies dimana limfosit B-nya berasal. Karena hibrida hasil
fusi dari spesies yang lidak sama, tidak stabil.
6. Campuran fusi diseleksi, diambil klon tertentu yang mempu,yai keaktifan
antibodi tertentu yang diinginkan. Pada seleksi hibridorna ini, pertama-
tama sel hibridoma dipisah-pisahkan secara manual ke dalam kultur media,
kemudian diseleksi mana yang menghasilkan antibodi yang diinginkan.
Pada proses seleksi yailu untuk analisis titer, aviditas dan kespesifkan
antibodi yang dihasilkan, diperlukan antigen-antigen spesifik yang sesuai.
Penganalisisan dapat dikerjakan antara lain dengan melode "enzyme linked
immunosorbent assay (ELISA)", metode mikroskopi immunofluoresensi,
pewarnaan peroksidase di alas coupes beku, metode RIA dan IRMA.
Setelah diperoleh sel hibridoma yang diinginkan, sel hi-
bridoma tersebut direklonisasi. Antibodi yang dihasilkan di-
seleksi kembali. Selanjutnya dilakukan reklonisasi, seleksi lagi,
demikian seterusnya sampai benar-benar yakin yang diperoleh
adalah sel klon tunggal yang diinginkan. Reklonisasi beberapa
kali penting, agar diperoleh sel klon tunggal yang stabil. Sel
klon tunggal diperbanyak, kemudian dibiakkan dalam jumlah
masal. Pembiakan dapat dilakukan melalui kultur jaringan atau
dalam tubuh mencit (mouse asciters). Pembiakan dengan cara
mouse asciters akan menghasilkan antibodi klon tunggal yang
lebih pekat daripada kultur jaringan, namun diperlukan mencit
dalam jumlah banyak dan tidak mungkin dibuat antibodi klon
tunggal manusia. Pada pembiakan dengan kultur jaringan
memang dihasilkan antibodi klon tunggal dengan konsentrasi
yang lebih rendah, akan tetapi metode ini mempunyai beberapa
kelebihan. Produksinya lebih praktis dan lebih efektif, serta
dapat dikembangkan ke pembuatan antibodi klon tunggal
manusia.
Umumnya pada pembuatan sel hibridoma digunakan sejenis
tikus yang disebut murine, menghasilkan antibodi klon tunggal
dari hibridoma manusia-murin yang disebut human anti murine
antibodies, (HAMA) untuk tujuan klinis. Pada saat ini telah
dikembangkan pembuatan antibodi klon tunggal dari hibridoma
manusia-manusia, karena antibodi dari murine merupakan benda
asing bagi tubuh manusia, sehingga akan menimbulkan reaksi
alergi bagi tubuh.manusia.
Sel hibridoma terutama menghasilkan IgG, yang mem-
punyai bobot molekul sekitar 15.000. Molekul IgG terdiri dari
2 rantai asam amino panjang yang disebut rantai H (heavy) dan
2 rantai asam amino pendek disebut rantai L (light). Kekompak-
an molekul terjadi karena adanya jembatan disulfida yang
mengikat kedua rantai tersebut. IgG terdiri dari 2 fragmen yaitu
fragmen F~ dan F
ab
.
Fragmen F
e
ini merupakan bagian dari IgG
yang tetap dan sama untuk semua molekul IgG dari subelass
tertentu, dan bagian ini yang mengaktifkan komponen-kom-
ponen sistem imun. Ragmen F
ab
mempunyai 2 tempat peng-
ikatan antigen atau antigenic binding site, disebut daerah
variabel, yang unik untuk setiap antibodi klon tunggal. Bagian
ini merupakan bagian yang menentukan kespesifikan suatu
antibodi (gambar 2).
Sel hibridoma mengandung kromosom dari sel mieloma
dan sel limfosit, setiap kromosom menghasilkan molekul anti-
bodi hibridoma dengan rantai H dan L dari sel induk yang
berbeda. Dalam seleksi pembuatan antibodi klon tunggal, harus
dicari klon hibridoma yang kromosomnya hanya mengandung
Gambar
2. Struktur
Antibodi
rantai H dan L dari limfosit yang diimunisasi. Oleh sebab itu,
pada pembuatan antibodi klon tunggal ini, sebaiknya sel mieloma
diambil dari spesies yang sama dengan spesies asal limfosit B.
Fragmen F~ dari molekul antibodi diduga merupakan penyebab
terjadinya reaksi alergi, fragmen ini harus dihilangkan yaitu
dengan cara hidrolisis dengan enzim pepsin, untuk memperoleh
fragmen F(ab)
2
. Bila digunakan enzim papain akan diperoleh 2
fragmen
Fab
yang monovalen yang mempunyai aviditas yang
lebih rendah dari F(ab)
2
yang divalen. Untuk mengatasi tim-
bulnya reaksi alergi pada pembuatan antibodi klon tunggal yang
berasal dari sel hibridoma hewan, dapat digunakan enzim pepsin
untuk memperoleh fragmen F(ab)
2
tanpa adanya fragmen F
c
.
APLIKASI DALAM KEDOKTERAN NUKLIR
Penggunaan antibodi klon tunggal dalam bidang kedokteran
khususnya 'kedokteran nuklir, tidak hanya terbatas untuk ke-
perluan terapi akan tetapi juga untuk diagnosis baik in vitro
maupun in vivo. Vaksin bioteknologi pertama yang diaplikasikan
secara luas, adalah vaksin untuk mencegah penyakit hepatitis B
yang dikenal dengan nama rekombivax. Kemudian muncul anti-
bodi klon tunggal yang diberi nama orthoclone OKT
3
untuk
mencegah reaksi penolakan pasca pencangkokan ginjal. Akhir-
akhir ini telah banyak dihasilkan antibodi klon tunggal terutama
untuk diagnosis dan terapi penyakit kanker.
Dalam penggunaannya di bidang kedokteran nuklir, ter-
utama untuk diagnosis dan terapi, antibodi klon tunggal harus
ditandai dengan isotop radioaktif. Prinsip penggunaan teknik ini
cukup sederhana. Antibodi klon tunggal terhadap tumor ganas
tertentu yang bertanda radioaktif pemancar sinar gamma (misal-
nya
123
I), bila disuntikkan ke dalam tubuh pasien yang diduga
menderita tumor tersebut, akan terbawa oleh aliran darah dan
akhirnya terakumulasi pada jaringan tumor. Dalam hal ini, anti-
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 55
background image
bodi anti tumor berikatan secara spesifik dengan jaringan tumor
yang berfungsi sebagai antigen. Oleh karena antibodi yang di-
gunakan monospesifik, maka antibodi yang disuntikkan hanya
akan terakumulasi pada jaringan tumor, tidak terjadi penyebaran
keradioaktifan pada jaringan lain. Dengan menggunakan suatu
alat (kamera gamma) yang diletakkan di luar tubuh, lokasi tumor
dengan metastasisnya dapat diamati secara jelas, tanpa harus
melakukan biopsi atau cara lain. Jika yang dikaitkan dengan
antibodi klon tunggal tadi suatu pemancar sinar alfa yang jarak
tempuhnya pendek dan dipilih yang mempunyai linear energy
transfer (LET) yang tinggi, maka pengumpulan antibodi selain
memberi kesempatan penyembuhan secara imunoterapi, juga
dibantu oleh penyembuhan lewat penyinaran (radioterapi). Se-
cara garis besar penggunaan antibodi klon tunggal untuk diagno-
sis dan terapi dalam kedokteran nuklir, dapat digambarkan se-
bagai berikut :
Jenis antibodi klon tunggal yang telah banyak beredar untuk
diagnosis dan terapi penyakit kanker antara lain adalah CEA, CA
19-9, CA 15-3 dan CA 125 untuk diagnosis kanker leher rahim.
Penggunaan antibodi klon tunggal untuk diagnosis dan terapi
penyakit kanker telah menarik banyak ahli dari Persatuan Ahli
Kanker Internasional. Para ahli berpendapat bahwa penemuan
monoklonal antibodi membuka harapan untuk diagnosis dan
penyembuhan penyakit kanker secara sempurna. Penelitian ke
arah diperolehnya penemuan-penemuan baru untuk memerangi
penyakit kanker, giat dikerjakan di berbagai pusat penelitian di
seluruh dunia. Para ahli meramalkan bahwa dalam beberapa
tahun mendatang akan ada gelombang baru dalam biomedik,
yaitu terapi kanker dengan menggunakan antibodi klon tunggal.
KEPUSTAKAAN
1. Keenan AM, Harbari JC, Larson SM. Monoclonal antibody in nuclear
medicine, J. Nucl. Med. 1985; 26: 531.
2. Zurawski JR. VR. Application of monoclonal antibodies to in vitro cancer
diagnosis, Int. J. Appi. Radiat. Isot. 1987; 37: 80.
3. Senekowitsch R, et al. New tumour markers and their monoclonal antibody,
4th Symposium on Tumour Markers, Hamburg, GSF Munchen, 1987.
4. Hurrell JGR. Monoclonal Hybridoma Antibodies: Techniques and Appli-
cation, Boca Raton, Florida: CRC Press. Inc. 1982. bal. 5.
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992
56