background image
HASIL PENELITIAN
Prevalensi Anemia pada Ibu Hamil
di Puskesmas Bualemo,
Sulawesi Tengah
I Wayan Suartika
Puskesmas Bualemo, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah
PENDAHULUAN
Anemia merupakan penyakit yang masih cukup tinggi
prevalensinya di negara berkembang terutama kelompok risiko
tinggi seperti : ibu hamil dan menyusui, anak sekolah dan pra
sekolah dan pekerja fisik berpenghasilan rendah yang pe-
nyebabnya oleh karena faktor gizi dan kecacingan
(1,2)
. Gejala
umum anemia seperti: lesu, letih, pucat, cepat lelah, berkunang-
kunang dan gampang mengantuk merupakan gejala klinis yang
mudah diketahui. Di daerah endemis malaria, penyakit ini
merupakan salah satu penyebab anemia.
Anemia zat besi merupakan anemia gizi yang prevalensi-
nya masih cukup tinggi di masyarakat terutama pada ibu hamil
yang bermukim di daerah pedesaan. Diperkirakan 70% wanita
hamil di Indonesia menderita anemia kurang zat besi dan
menurut hasil SKRT 1986 kadar Hb rata-rata ibu hamil di
Indonesia adalah 8,7 g/d1
(2)
. Batas normal kadar Hb pada
wanita dewasa adalah 12-14 g/dl, sedang pada wanita hamil
dengan kadar Hb 11 g/dl masih dianggap normal. Bila kurang
dari 11 g/dl dinyatakan sebagai anemia.
Menurut WHO, kadar Hb wanita hamil dibagi menjadi 3
katagori :
- Normal
: 11 g/dl atau lebih,
- Anemia ringan : 8 - < 11 g/dl dan
- Anemia berat : < 8 g/dl.
Anemia pada ibu hamil dapat mengganggu pertumbuhan
janin dalam kandungan. Ibu hamil dengan anemia bisa melahir-
kan bayi prematur dan bayi BBLR. Sedang pada anak sekolah
bisa mempengaruhi fungsi kognitif seperti konsentrasi belajar
dan kemampuan akademik menjadi rendah
(2)
.
Intervensi yang paling mudah dan paling luas jangkauan-
nya adalah melalui institusi Posyandu dan Puskesmas.
Kebijaksanaan pemerintah adalah memberikan tablet Fe (Fe
sulfat 320 mg dan asam folat 0,5 mg) untuk semua ibu hamil
sebanyak satu kali satu tablet selama 90 hari. Diperkirakan
jumlah tersebut mencukupi kebutuhan tambahan zat besi
selama kehamilan yaitu 1000 mg di samping yang berasal dari
makanan
(3)
.
BAHAN DAN CARA KERJA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi
anemia pada ibu hamil yang ada di wilayah Puskesmas
Bualemo.
1) Data diambil mulai tanggal 3 Nopember s/d 10 Nopember
1997 saat jadual Posyandu di tiap desa.
2) Data diambil dari ibu hamil yang hadir di Posyandu bulan
tersebut; dari 112 orang ibu hamil yang terdaftar bulan
Nopember 1997 hadir sebanyak 88 orang ibu hamil.
3) Pemeriksaan Hb dilakukan dengan metode Sahli (Sahli-
meter) sesuai dengan fasilitas yang ada di Puskesmas dan darah
diambil dari darah kapiler ujung jari tangan.
HASIL PENELITIAN DAN DESKRIPSI
Dari 88 orang ibu hamil yang hadir di Posyandu semua
darahnya diambil untuk obyek penelitian. Dan hasilnya disaji-
kan dalam Tabel 1 sd. 4.
Dari deskripsi tabel di atas secara keseluruhan menunjuk-
kan bahwa ibu hamil yang diperiksa kadar Hb-nya menunjuk-
kan 55,7% (49 orang) memiliki kadar Hb normal, 42,1% (37
orang) anemia ringan dan 2,2% (2 orang) dengan anemia berat.
Menurut golongan umur prevalensi anemia tertinggi di
temukan pada kelompok umur 20-24 tahun yaitu sebanyal
53,3% (14 orang dari 30 orang ibu hamil dalam kelompok ini)
menyusul berikutnya pada kelompok umur 25-29 tahun: 52,6%
kelompok umur 19 tahun: 40,9%, kelompok umur 30-34 tahut
26,7% serta kelompok umur lebih dari 35 tahun dari 2 orang
yang ada dalam kelompok ini keduanya mempunyai kadar Hb
normal.
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999
44
background image
Tabel 1. Prosentase ibu hamil menurut golongan umur.
Golongan umur (tahun)
Jumlah
< 19
20-24
25-29
30-34
> 35
Tingkat anemia
n % n % n % n % n % n %
Normal
Anemia ringan
Anemia berat
13
9
0
59,1
40,9
0
14
14
2
46,7
46,7
6,6
9
10
0
47,4
52,6
0
11
4
0
73,3
26,7
0
2
0
0
100
0
0
49
37
2
55,7
42,1
2,2
Jumlah
22 100 30 100 19 100 15 100 2 100 88 100
Tabel 2. Prosentase ibu hamil menurut umur kehamilan.
Umur kehamilan (trimester)
Trimester I Trimester II Trimester III
Jumlah
Tingkat anemia
n % n % n % n %
Normal
Anemia ringan
Anemia berat
3
1
0
75,0
25,0
0
21
13
1
60,0
37,1
2,9
25
23
1
50,0
49,9
2,1
49
37
2
55,7
42,1
2,2
Jumlah
4 100 35 100 49 100 88 100
Tabel 3. Prosentase Ibu hamil anemia menurut paritas.
Jumlah paritas
P=0 P
=1-4
Jumlah
Tingkat anemia
n % n % n %
Normal
Anemia ringan
Anemia berat
18
19
2
46,2
48,7
5,1
31
18
0
63,3
36,7
0
49
37
2
55,7
42,1
2,2
Jumlah 39
100
49
100
88
100
Tabel 4. Prosentase ibu hamil anemia dan pemberian tablet Fe.
Jumlah pemberian tablet Fe (kali)
Belum pernah 1 kali
2 kali
> 3 kali
Jumlah
Tingkat anemia
n % n % n % n % n %
Normal
Anemia
ringan
Anemia berat
10
8
2
50,0
40,0
10,0
21
10
0
67,7
32,3
0
14
9
0
60,9
39,1
0
4
10
0
28,6
71,4
0
49
37
2
55,7
42,1
2,2
Jumlah
20 100 31 100 23 100 14 100 88 100
Menurut umur kehamilan anemia terbanyak ditemukan
pada kelompok ibu hamil trimester III yaitu : 50%, menyusul
umur kehamilan trimester II dan I masing-masing 40% dan
25%.
Berdasarkan paritas ditemukan anemia pada ibu hamil
dengan P = 0 sebesar 36,7% dan P = 1-4 sebesar 36,7%.
Prevalensi ibu hamil anemia menurut pemberian tablet Fe
terbanyak didapatkan pada pemberian > 3 kali yaitu 71,4%,
menyusul pada ibu hamil yang belum pernah diberikan tablet
Fe sebanyak 50% dan pada ibu hamil dengan pemberian tablet
Fe 2 kali dan satu kali masing-masing 39,1% dan 32,3%.
PEMBAHASAN
Pada Pelita VI pemerintah secara nasional menargetkan
penurunan prevalensi anemia pada ibu hamil dari 63,5% men-
jadi 40%. Dari penelitian kami ditemukan prevalensi anemia
ibu hamil sebesar 44,3%, ini hampir mendekati target yang
ditetapkan pemerintah.
Kanwil Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah tahun 1993
melaporkan prevalensi ibu hamil dengan anemia sebesar
36,68%. Angka ini jauh lebih rendah dari laporan-laporan lain
seperti SKRT 1992 melaporkan prevalensi anemia sebesar
63,3% atau prevalensi di Sumatera Utara sebesar 77.9%
(5)
.
Perbedaan tersebut di atas dipengaruhi oleh banyak faktor
seperti: sosial ekonomi, geografis, budaya dan faktor yang
berhubungan langsung dengan penelitiannya seperti : teknik
pemeriksaan yang dipakai, jumlah sampel, yang melaksanakan
penelitian dan faktor lainnya.
PENUTUP
Saat ini metode Sahli (Sahlimeter) disinyalir bukan metode
yang dapat diandalkan kesahihannya untuk mengukur kadar Hb
dibandingkan alat-alat sejenis yang lebih canggih. Namun
Sahlimeter merupakan satu-satunya alat pengukur kadar Hb
(dan harus diakui) yang paling canggih di daerah terpencil.
Semoga penelitian sederhana ini ada manfaatnya.
KEPUSTAKAAN
1. Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Depkes RI. Informasi
Tentang Ibu. Penerbitan tanpa tahun.
2. Bakta IM. Diagnostik Anemia Defisiensi Besi. Maj Dokter Keluarga,
(Nopember)1992; II (11).
3. Departemen Kesehatan RI. Modul 2 PKK-DON, Penilaian Risiko
Antenatal dan Pengobatan, 1994.
4. Kanwil Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah. Profil Kesehatan
Propinsi Sulawesi Tengah Tahun 1993.
5. Sihadi, Suryana P. Beberapa Metoda Penetapan Kadar Hemoglobin
Darah. Cermin Dunia Kedokt 1995; 103: 32-4.
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999
45