background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996
50
LAPORAN KASUS
Pertorasi Divertikel Jejunum
Laporan kasus
Nawazir Bustami
Laboratorium./U.P.F Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang
Rumah Sakit Dr. Achmad Mochtar, Bukittinggi
PENDAHULUAN
Divertikel jejunum atau ileum adalah divertikel palsu yang
didapat, ditemukan pada sisi mesentenial dinding usus, tidak
ditutup oleh lapisan otot, dindingnya hanya terdini atas mukosa
dan sub mukosa
(1-3)
. Walaupun jarang, divertikel dapat ditemukan
pada sisi anti mesenterial, mungkin di tempat masuknya cabang
arteri sekunder dinding usus
(2)
. Divertikel usus halusjarang Se-
kali ditemukan
(3)
.
Selama 5 tahun terakhir (Juli 1990 - Juli 1994) ditemukan
2 kasus divertikel pada jejunum yang mengalami perforasi di
RSAM Bukittinggi yang mengenai masing-masing pria berumur
76 dan 42 tahun.
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Divertikel terbentuk karena lapisan otot tipis di tempat ma-
suknya pembuluh darah didorong oleh mukosa. Makin besar
mukosa yang mendorong,otot makin tipis,sehingga pada fundus
divertikel jarang sekali ditemukan serat otot.
Divertikel kadang-kadang ditemukan waktu operasi lapa-
ratomi secara kebetu1an
(3)
. Divertikel jejunum dan ileum terdapat
pada 1,3% pemeriksaan radio1ogi
(4)
. Edward menemukannya
pada 0,8% pemeriksaan radiologi dan 0,57% otopsi
(5)
.
Divertikel lebih banyak terdapat di proksimal jejunum
(6)
biasanya multipel dan jumlahnya berkurang ke arah distal. Dari
34 kasus, 9 di antaranya I buah divertikel dan 25 lainnya multipel
ABSTRAK
Dilaporkan dua kasus peritonitis akibat perforasi divertikel jejunum yang dirawat di
RSAM Bukittinggi selama 5 tahun terakhir (Juli 1989 ­ Juli 1994).
Kasus I, pria 76 tahun dengan peritonitis diffusa karena perforasi usus dan diabetes
melitus. Waktu operasi ditemukan perforasi divertikel jejunum 30 cm dan ligamentum
Treitz. Terdapat 11 divertikel di sepanjang 45 cm pada sisi mesentenial jejunum. Di-
lakukan penutupan sederhana. Pasca bedah berjalan baik.
Kasus II, seorang pria 42 tahun dengan peritonitis diffusa. Waktu operasi ditemukan
perforasi divertikel padasisi mesenterial jejunum satu buah denganperlengketan kira-kira
50 cm dan ligamentum Treitz. Dilakukan neseksi dan penyambungan kembali. Pasca
bedah berjalan baik.
* Dipersentasikan pada P.I.TX IKABI Bali 10­11 Maret 1995.
background image
(19 di jejunum dan 5 di ileum). Pada satu kasus, divertikel ter-
dapat pada seluruh usus halus. Pada 8 kasus divertikel multipel
dijejunum juga terdapat di duodenum
(3)
. Tiga puluh persen kasus
divertikel usus disertai divertikel pada kolon dan duodenum.
Lebar mulut divertikel biasanya 1 - 2,5 cm
(6)
.
Umur rata-rata penderita adalah 56 tahun dengan perban-
dingan antara pria: wanita adalah 5 3
(6)
. Williams melaporkan
selama 25 tahun sampai Desember 1978 ditemukan 34 kasus
divertikel jejunum dan ileum, terdiri atas 18 pria dan 16 wanita,
umur berkisar antara 26 dan 87 tahun, rata-rata 67 tahun
(3)
.
Gejala divertikel biasanya tidak khas
(7)
, dapat tertutup oleh
kelainan lain
(6)
, dan dapat tanpa gejala. Divertikel biasanya
terdapat pada orang tua
(7)
; tanpa gejala. Keluhan timbul kalau
sudah terjadi komplikasi.
Dibedakan tiga macam gejala divertikel; pertama: asimpto-
matik, ke dua: nyeri, flatulen dan borborigmi dan ke tiga:
sindrom malabsorbsi
(3)
, anemi, steatorrhe, hipoproteinemi dan
avitaminosis
(8)
.
Salah satu komplikasi divertikel adalah perdarahan
(2,4,6,7)
.
Pernah dilaporkan satu kasus dengan perdarahan masif; setelah
dioperasi ditemukan 12 divertikel, 6 di antaranya berulkus dan
bekuan darah; dilakukan reseksi jejunum sepanjang 51 cm
(6)
.
Juga pernah ditemukan kasus dengan obstruksi parsial atau
total. Obstruksi dapat disebabkan perlengketan karena radang
atau karena diskinesia jejunum; yaitu kelainan motilitas usus
halus, berupa gerakan isi usus yang tidak ke arah distal tapi bolak-
balik antara lumen usus dan rongga divertikel; dalam hal ini
bukanlah obstruksi mekanik
(3,6)
. Selain itu terdapat kasus diver-
tikulitis dengan atau tanpa perforasi
(6)
. Terdapat juga kasus
divertikel yang mengalarni strangulasi dan gangren.
Pernah dilaporkan kasus karsinoma pada mulut divertike1
(6)
.
Diagnosis divertikel jejunum dan ileum hanya dapat di-
tegakkan dengan pemeriksaan radiologi memakai bubur barium
peroral
(3,4,6)
. Divertikel terlihat sebagai penonjolan dan dinding
usus
(6)
.
Divertikel tanpa keluhan tidak memerlukan pengobatan
(4,6)
.
tindak bedah dilakukan bila terjadi keluhan atau komplikasi
dengan melakukan reseksi usus dan penyambungan kembali.
KASUS I
Seorang penderita pria 73 tahun, suku Minang dirawat
dengan keluhan nyeri seluruh perut terus menerus, sejak 2 hari
sebelumnya disertai muntah dan perut kembung. Buang air
besar dan flatus tidak ada.
Lima tahun yang lalu pernah dirawat dengan melena, mun-
tah darah tidak pernah. Sejak itu penderita sering sakit perut.
Kira-kira dua kali setahun mengalarni berak darah hitarn; ka-
dang-kadang darah saja. Penderita juga menderita diabetes melitus
sejak 1 tahun sebelumnya. .
Pada pemeriksaan ditemukan keadaan umum sakit berat,
sadar, kooperatif, gizi sedang dan tidak anemi. Tekanan darah
120/80 mmHg, nadi 90 X/menit, nafas 22 X/menit, temperatur
37,5°C. Jantung dan paru dalam batas normal. Abdomen kem-
bung dengan tanda-tanda peritonitis diffusa.
Pada foto abdomen tampak udara bebas dan tanda perito-
nitis.
Pemeriksaan laboratorium rutin dalam batas normal kecuali
reduksi urine (++) dan lekosit darah 10.000/mm
2
Diagnosis : peritonitis diffusa karena perforasi usus.
Penderita disiapkan untuk operasi.
Waktu operasi ditemukan perforasi divertikel di jejunum
± 30 cm. dan ligamentum Treitz pada sisi mesenterial dengan
penampang 2-3 cm di sepanjang ± 45cm usus. Dilakukan eksisi
pinggir perforasi dan penutupan sederhana. Tindakan reseksi
tidak dilakukan dengan pertimbangan umur tua, keadaan umum
kurang baik dan menderita diabetes melitus.
Pasca bedah berjalan baik dan luka sembuh.
Laporan patologi anatomi adalah divertikulum dengan per-
forasi.
KASUS II
Seorang pria 42 tahun suku Minang dirawat dengan keluh-
an sakit perut dan tegang sejak 3 hari sebelumnya. Nyeri terus
menerus disertai mual dan kadang-kadang muntah. Buang air
besar dua hari ini tidak ada, buang air kecil biasa. Pernah sakit
perut 3 tahun yang lalu, tapi tidak begitu berat, sembuh sendiri
tanpa pengobatan.
Pada pemeriksaan ditemukan keadaan umum tampak sakit
berat, sadar, kooperatif dan tidak anemi. Tekanan darah 110/80
mmHg, nadi 80 Xfmenit, temperatur 37,5°C dan nafas 24 X/
menit. Jantung dan paru dalarn batas normal. Ekstremitas tak ada
kelainan. Abdomen agak kembung dengan tanda-tanda perito-
nitis diffusa. Pada pemeriksaan rektum ampulla melebar dan
nyeri di bagian depan.
Diagnosis : peritonitis diffusa penyebabnya belum diketahui.
Dari pemeriksaan radiologi ditemukan tanda-tanda perito-
nitis.
Pemeriksaan laboratorium : Hb 12g%,leukosit darah 12.000/
mm
3
Urine dalam batas normal.
Penderita disiapkan untuk operasi laparatomi. Waktu ope-
rasi ditemukan perlengketan usus lama dan baru, cairan infeksi
dalam rongga abdomen dan perforasi divertikel jejunum. Di-
vertikel hanya 1 buah pada sisi mesenterial, kira-kira 50cm dan
ligamentum Treitz disertai perlengketan dengan kolon transfer-
sum Dilakukan reseksi jejunum sepanjang 8 cm dan disambung
kembali.
Pasca bedah berjalan baik dan luka sembuh.
Laporan patologi anatorni adalah divertikulitis dengan per-
forasi.
PEMBICARAAN
Kedua kasus di atas adalah pria; sesuai dengan kepustakaan
yang menyebutkan divertikel lebih banyak diternukan pada pria.
Gejala yang menonjol adalah nyeri perut, perdarahan dan
perforasi. Penyebab rnelena pada kasus pertama tidak terdiagnosis
waktu dirawat sebelumnya, mungkin perdarahan dan divertikel.
Kedua penderita datang berobat seteiah timbul komplikasi.
Diagnosis divertikel diketahui waktu operasi.
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996 51
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996
52
KESIMPULAN
Dilaporkan dua kasus perforasi divertikel jejunum yang
dirawat di RSAM Bukittinggi selama jima tahun terakhir disertai
tinjauan kepustakaan.
KEPUSTAKAAN
1. Mason GR. Tumors of the duodenum and small intestine. Dalam: Textbook
of Surgery, Sabiston. Vol. 1. WB. Saunders & Co. 1986. hal. 869-70.
2. Townsend JR. CM, Thomson JC. Small intestine. Dalam: Principles of
Surgery. 5th. ed, Schwartz dkk (eds). Vol. 1. McGraw-Hill, 1988. hal.
1210-12.
3. Williams RA dkk. Surgical Problems of Diverticula of The Small Intestine.
Surg Gynecol & Obstetr 1981; 152: 622.
4. Shrock TR. Small intestine. Dalam: Surgical Diagnosis and Treatment, 4
th
ed. Dunphy JE, Way LW. (eds.). California: Lange Medical PubI. 1979.
hal, 613.
5. Edward, dikutip oleh Shackelford.
6. Shackelford RT. Surgery of the alimentary tracts. Vol. II, WB Saunders &
Co. 1964. hal. 1017-19.
7. Cuschieri A, Bouchier AD. The small intestine and vermiform appendix.
Dalam: Essential Surgical Practice. Cuschieri A, Wright PSG (eds.). Bristol
1982. hal. 937.
8. Rains AJH, Richie HD. Bailey and Love's Short Practice of Surgery. 9th ed.
London: ELWS, H.K. Lewis & Co. 1984. hal. 952.