TEKNIK BARU
Perkembangan Teknik Hibridoma
Agus Sjahrurachman
Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Dalam kurun waktu puluhan tahun sejak Metchnikoff dan
Erhlich mengemukakan teori imunologi sehingga mendapatkan
hadiah Nobel 1908, banyak kemajuan yang telah dicapai baik
pada imunologi seluler maupun humoral
(1)
..
Sampai tahun 1975 walaupun imunologi khususnya imuno-
kimia telah cukup maju, antibodi yang digunakan untuk meng-
ikat atau mengenali suatu antigen masih dibuat dengan cara yang
konvensional yaitu mengimunisasi hewan percobaan, meng-
ambil darahnya dan mengisolasi antibodi dan serum sehingga
menghasilkan antibodi polikional. Dalani antibodi poliktonal
jumlah antibodi yang spesifik sangat sedikit, sangat heterogen
karena dapat mengikat bermacam-macam epitop dan antigen
yang diimunisasikan. Juga pembuatannya, dan awal pemurnian
antigen sampai menghilangkan antibodi yang tidak diinginkan
sangat memakan waktu dan su1it
(2)
.
Kohier dan Milstein (1975) memperkenatkan cara baru
membuat antibodi dengan mengimunisasi hewan percobaan, ke-
mudian sel limfositnya dihibridisasikan dengan biakan sel ter-
tentu sehingga hibrid dapat dibiakkan terus menerus (immortal)
dan membuat antibodi monoklonal
(2,3)
. Antibodi monokional
yang dibuat oleh sd hibrid mempunyai sifat tebih baik dan
antibodi polikionat karena hanya mengikat 1 epitop serta dapat
dibuat dalam jumlah tak terbatas
(2)
. Terobosan teknik hibnidoma
yang menghasilkan antibodi monoktonal terhadap antigen, mem-
buka era baru cara identifikasi dan niemurnikan suatu motekul
pada berbagai disiptin ilmu, juga membuka cakrawata dalam
prosedur diagnostik dan pengobatan dan pencegahan atternatif
pada keganasan dan berbagai penyakit lain
(4,5,6,7,8)
.
PRINSIP PEMBUATAN ANTIBODI MONOKLONAL
Tujuannya ialah menciptakan sel pembuat antibody homo-
gen yang dapat dibiakkan terus menerus (immortal), melalui :
1) Fusi sel limpa kebal dan sel mieloma
Pada kondisi biakanjaringan biasa, sel limpa yang
membuat antibodi akan cepat mati sedangkan sel mieloma
dapat dibiakkan terus menerus. Fusi sel dapat menciptakan sel
hibnd yang membuat antibodi seperti sel timpa dan dapat
dibiakkan terus menerus seperti sel mieloma
(9,10,11)
.
2) Eliminasi sel induk yang tidak fusi
Frekuensi terjadinya hibrid sel timpa-sel mieloma biasanya
rendah, karena itu penting untuk mematikan sel yang tidak fusi
yang jumlahnya lebih banyak agar sel hibrid mempunyai ke-
sempatan untuk tumbuh, dengan cara menggunakan:
(i) Sel mieloma mutan yang mempunyai kelainan (defect)
sintesis nukleotida yaitu sel mieloma yang tidak mempunyai
enzim timidin kinase (TK) atau hypoxanthine phosphoribosyt
transferase (HGPRT) sehingga dalam sintesis nukleotida tidak
dapat menggunakan salvage pathway dan
(ii)
Media selektif yang dikembangkan oleh Littlefield, me-
ngandung hypoxanthine, aminopterin dan thymidine (HAT).
Aminopteninmenghambatjalan biasa biosintesis purin dan piri-
midin sehingga memaksa sel menggunakan salvage pathway.
Sel yang tidak fusi karena tidak mempunyai enzim timidin kinase
atau hypoxanthine phosphonibosyttransferase akan mati, se-
dangkan sel hibrid karena mendapatkan enzim tersebut dan sel
mamalia yang difusikan dapat menggunakan salvage pathway
sehingga tetap hidup dan berkembang
(10,12)
.
3) Isotasi Mon yang diinginkan
Sel hibrid dikembang biakkan sedemikian sehingga tiap sel
hibrid akan membentuk kotoni sendiri. Tiap koloni kemudian
dipelihara terpisah satu sama lain. Hibridoma yang terbentuk di-
pilih dengan cara mendeteks antibodi yang disekresikan dalam
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
52
medium. Kadarantibodi biasanyacukuptinggi(± 10100 u/ml),
sehingga banyak uji serologi yang dapat digunakan tergantung
jumlah antigen spesifik yang tersedia, tetapi yang paling sering
digunakan adalah radioimmunoassay (RIA) dan enzyme linked
immunosorbent assay (EL1SA)
(12)
.
4) Produksi antibodi monokional spesifik
Setelah klon hibridoma yang diinginkan dapat diisoiasi,
maka produksi antibodi monokional dapat dilakukan dengan
cara :
(i) in vitro, membiakkan pada medium biakan jaringan dan
antibodi dapat dipanen dan supernatan. Kadar pada umumnya
10100 ug/ml supernatan,
(ii) in vivo, mentranspiantasikan intraperitoneal pada binatang,
antibodi dipanen dan cairan asites. Kadar pada umumnya 1-25
mg/ml cairan asites
(10,12)
.
PERKEMBANGAN TEKNIK HIBRIDOMA
Sejak diperkenaikan, teknik hibridoma telah banyak
mengalami perkembangan untuk mendapatkan klon secara efisien
dan hibridoma yang hidup secara maksima
(13)
. Sejalan dengan
tujuan maka pengembangan timbul pada cara-cara:
1) Imunisasi
Hibridoma merupakan hasii fusi 2 sei yaitu sd mieioma dan
sel B penghasii antibodi. Karena itu supaya memperbanyak sel B
spesifik terhadap antigen yang diinginkan penting supaya popu-
lasi sel B pesifik jumlahnya lebih banyak sehingga hasil fusi
mencapai maksimal. Banyaknya sel B spesifik dipengaruhi anti-
gen baik caranya stimuiasi maupun sifat dan antigen sendiri, Se-
hingga untuk memperbanyak sel B spesifik, dilakukan berbagai
cara imunisasi, yaitu:
(i) Konvensional
Cara ini sebenarnya sama dengan cara imunisasi untuk
membuat antibodi poiikional. Antigen berupa protein atau poli-
sakanida dalam volume yang sama diemulsikan dengan complete
Freuncfs adjuvant, bila antigen seluier dibuat tanpa ajuvan.
Antigen disuntikkan subkutan pada beberapa tempat atau intra-
peritoneai, setelah 23 minggu disusul suntikan antigen tanpa
ajuvan secara intravena sekali atau beberapa kaii. Mencit dengan
tanggap kebal terbaik dipilih, 12 hari setelah suntikan terakhir
mencit dibunuh dan diambil sel limpanya
(11,12)
. Cara ini dianggap
cukup baik dan secara umum banyak dipakai, walaupun di-
pengaruhi sifat antigen berupa imunogen kuat atau lemah serta
tanggap kebal binatang yang berbeda-beda. Bila informasi anti-
gen yang iengkap tidak bisa didapatkan cara imunisasi ini ter-
bukti memberi hasil cukup baik
(11)
..
(ii) Imunisasi sekali suntik intralimpa (Single-shot intrasplenic
immunization)
Pada imunisasi konvensional, antigen dipengaruhi ber-
macam-macam faktor. Bila disuntikkan ke dalam darah sebagian
besar akan dibuang secaraaiami, sedangkan melalui kulit akan
tersaring kelenjar limfe regional, makrofag dan sel retikuler.
Hanya sebagian kecii antigen yang terlibat daiam proses tanggap
kebal. Pada hibridoma yang diperlukan adalah sel limpa, karena
itu untuk mencegah eiimin antigen oleh bagian lain dari tubuh
dilakukan suntikan imunisasi langsung pada limpa dan ternyata
hasilnya lebih baik dan cara konvensional
(14)
. Selain memberi-
kan hasil klon spesifik yang lebih banyak, imunisasi intraiimpa
ini memberi keuntungan yang lain : (1) Pemakaian antigen yang
sangat hemat, misalnya untuk imunisasi dengan 1gM manusia
hanya diperiukan 20 ug, sedangkan untuk antigen berupa sel
hanya diperlukan 200.000 sel, sehingga dapat dibuat hibridoma
dan antigen yang terbatas jumiahnya. Karena hampir semua
binatang percobaan membeni tanggap kebal yang baik, tidak di-
periukan binatang dalam jumlah yang besar
(14)
. (2) Fusi dapat
dilakukan dalam waktu 3 hari seteiah imunisasi
(14)
.
(iii) Imunisasi in vitro
Tidak ditemukannya antibodi monokional spesifik sering
karena kegagalan stimulasi limfosit B pada imunisasi in vivo. ini
mungkin disebabkan toleransi atau adanya antigen hierarchy
response (reaksi tanggap kebai hanya terhadap beberapa kom-
ponen antigen). Sering terjadi seteiah imunisasi dengan antigen
yang Iemah, wataupun titer antibodinya tinggi ternyata gagal
mendapatkan hibridoma spesifik karena rendahnya jumtah sel
B spesifik dalam limpa, maka untuk mengatasinya dilakukan
imunisasi in vitro
(15)
. Pada prinsipnya sel timpa belum imun
ditambah antigen dan TCM (thymocyte culture-conditioned
medium) yaitu medium biakan sel thymus setelah inkubasi 48
jam. Antigen dapat benupa antigen tertarut sebanyak 301000 ug
atau sel yang difiksasi aikohol atau yang diradiasi 4500 rad
dengan Cesium radioaktif. Setelah diinkubasikan 37°C selama 5
hari akan banyak dijumpai sel blast yang besar dan pada keadaan
ini sel siap untuk dilakukan fusi
(15)
.
Sebagai contoh kebenhasiian imunisasi in vitro : melalui
imunisasi in vitro dengan 107 sel acute myeloid leukemia (AML)
yang difiksasi alkohol, 31 dan 96 sumur biakan menghasilkan
hibridoma spesifik dan antibodi dan 6 dari klon ternyata sangat
spesifik karena tidak beneaksi dengan sel darah penifer maupun
sel sumsum tuiang. Hasil ini berbeda bila dibandingkan melalui
imunisasi in vivo, antibodi yang dihasiikan sebagian besar bereaksi
dengan major histocompatibility antigen atau major rnyeloid
differentiation antigen yang merupakan bagian terbanyak dari
permukaan sel
(15)
.
Perkembangan selanjutnya merupakan penyederhanaan kon-
disi imunisasi in vitro yaitu menggunakan medium yang biasa
untuk biakan jaringan yaltu RPMI (Roswell Park Memorial
Institute) atau DMEM (Dulbeco `s Mod Eagle's Medium) dan
ajuvan peptida yang mudah didapat, N-acetytmuramyl-L-alanyi-
D-isoglutamine. Cara ini terbukti telah meningkatkan jumlah
hibridoma pembuat antibodi sertajumlah hibridoma yang dapat
bertahan hidup. Pada pninsipnya cara ini sama dengan di atas,
yaitu sel limpa beium imun ditambah antigen dan 20 ug N-
acetylmuramyi-L-alanyi-D-iso- glutamine, diinkubasikan 37°C
dengan 5% CO
2
95% udara setama 4 hari
(16)
. Berhasilnya imu-
nisasi in vitro ini telah membuka petuang dilakukannya stimulasi
in vitro sel B manusia, karena imunisasi in vivo tidak dapat di-
jaiankan karena dibatasi etika, yang seianjutnya diikuti fusi
dengan sel mieloma manusia atau transformasi dengan virus
Epstein-Barr sehingga dapat dibuat antibodi monoktonat ma-
nusia
(16)
.
2) Pilihan sel mieloma
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995 53
Yang rnenjadi pertimbangan dalam memilih sel mieloma,
adalah:
a) Spesies
Sd mieloma yang berasal dari spesies yang sama dengan
binatang yang diimunisasi akan mengurangi segregasi kromo-
som pasca fusi. Contoh yang ekstrim ialah hibridoma sel mieloma
mencit dengan sel limpa manusia,kromosom sel manusia dengan
cepat mengalami segregasi sehingga hasil hibrid menjadi tidak
stabi1
(11,17)
. Dalam perkembangannya, pemilihan sel mieloma
yang berbeda spesies dapat dilakukan terutama untuk tujuan ter-
tentu. Hibrid sel mencit dengan tikus telah dibuat dan berhasil
baik, tetapi perbedaan spesies yang terlalu jauh dikatakan tidak
produktif
(18)
.
Walaupun pembuatan antibodi monokional mencitdan tikus
sudah berhasil baik, gunanya secara klinis sangat terbatas karena
tetap merupakan protein asing untuk manusia. Karena itu dikem-
bangkan hibrid manusia dengan mengembangkan sel mieloma
manusia yang sensitif terhadap hypoxanthinc-aminopterin-
thymidine. Tim dari Stanford University telah berhasil membuat
galur sel mieloma tersebut yaitu U-266 AR1 dengan nomor
registrasi SKO-007. Sayangnya galur ini masih membuat sendiri
IgE
(19)
.
b) Sintesis imunoglobulin
Sel hibridoma mengekspresikan rantai imunoglobulin se-
cara codominant, sehingga imunoglobulin dan sel mieloma akan
diekspresikan bersama imunoglobulin dan sel limpa dengan
kombinasi secara acak
(19)
. Sebagai contoh, bila sel mieloma
membentuk rantai berat dan rantai ringan imunoglobulin, seperti
juga halnya dengan sel limpa, maka imunoglobulin dan sel hibrid
merupakan kombinasi acak dari ke-4 rantai dan antibodi spesifik
hanya terdapat 1/16 dari seluruh imunoglobutin yang terben-
tuk
(20)
. Karena itu pengembangan diarahkan untuk membuat sel
mieloma yang tidak membuat rantai imunoglobulin tetapi tetap
dapat fusi dengan baik. Gatur sel mieloma mencit SP2/O-Ag14
yang merupakan hasil reclone SP2/HI-Ag adalah sel mieloma
pertama yang tidak membentuk rantai imunogtobutin
(20)
. Ber-
bagai jenis mieloma dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Galur sel mieloma
Galur
Spesies asal
Produksi Ig
P3-x63-Ag8 Mencit IgG
I
P3-NSI/I-A4-I Mencit Kappa
P3-x63-Ag8.653 Mencit
SP2/O-Ag 14
FO
Fl0-RCY3-Agl
Mencit
Mencit
Tikus
Kappa
Sumber 18.
3) Medium biakan
Medium biakan umumnya DMEM atau RPMI 1640 dengan
tambahan fetal calfserum (FCS) dan aditif lainnya. Yang menjadi
masalah adalah FCS harganya mahal, sutit didapat dan kuali-
tasnya sangat bervariasi tergantung sumbernya bahkan juga
bervariasi untuk tiap batch. Penambahan FCS sangat penting,
bahkan pada waktu fusi, seleksi dan cloning kadar FCS dalam
medium sering dinaikkan. Dipilih FCS karena kandungan
imunogtobulinnya rendah sehingga tidak mempengaruhi assay
serta sangat mendukung tumbuh dan kembang biak sel
(11)
.
Usaha pengembangan dilakukan untuk mendapatkan me-
dium tanpa serum karena memberi keuntungan:
·
memungkinkan penetitian yang tak memperbotehkan adanya
protein serum atau bahan-bahan dan serum misatnya hormon,
antibodi.
·
ekonomis, terutama untuk menumbuhkan sel dalam skala
besar.
·
mempermudah pemurnian antibodi monokional, bahkan
pada beberapa keadaan, antibodi monokional dapat langsung
digunakan tanpa pemurnian
(21)
. Salah satu dari medium tanpa
serum adalah Serum-free KSLM medium yang menggunakan
medium dasar RPMI 1640 + DMEM + Hams F-12 medium
dengan perbandingan 2: 1: 1, ditambah insulin, 2-amino etanol,
2-merkaptoetanot, natrium selenit, LDL manusia, asam oleat
dalam kompleks dengan albumin serum sapi (BSA)
(22)
. Serum-
free KSLM medium terbukti sama baiknya untuk menumbuhkan
sel mieloma NS- 1 dan sel hibnidoma (Tabet 2), dibandingkan
medium dengan 10% FCS. Harus menjadi perhatian bahwa tidak
semuajenis sel mieloma atau hibridoma cocok dengan medium
tanpa serum
(21)
.
Tabel 2. Hasil fusi mieloma dan sel limpa dalam medium KSLM dan
Medium
dasar
+
FCS
10%
(22)
Sumur (+) Ab terhadap A431
Induk mieloma
Kondisi
(%)
Koloni/sumur % sumur (+)
NS-I KSLM 54
12 25
NS-I
KSLM + FCS 10% 51
12
33
NS-I-503 KSLM
85
510 60
NS-1-503 MD+FCS
10%n
75 510 57
Keterangan :
KSLM
=
medium
tanpa
serum
MD
=
medium
dasar
N 1-503 = varian dan sel NS-1 yang telah diadaptasikan pada medium
tanpa
lipid.
4) Fusi sel
Fusi sel diawali dengan fusi membran plasma sehingga
menghasitkan sel besar dengan dua atau lebih inti yang berasal
dari kedua induk sel yang berbedajenis, disebut heterokaryon,
pada waktu tumbuh dan membelah diri terbentuk 1 inti yang me-
ngandung knomosom kedua induk disebut sebagai sel hybrid
(17)
.
Frekuensi fusi dipengaruhi bermacammacam faktor:
jenis medium.
perbandingan jumtah sel timpa dengan sel mieloma.
jenis sel mieloma yang digunakan.
bahan yang mendorong timbulnya fusi (fusogen), misainya
polyethylene glycol
(23)
.
Secara garis besar fusogen dibagi menjadi 2 kategori:
Virus berselubung. Yang sering digunakan adalah virus
Sendai
(17,24)
.
Reagensia tipofitik atau tipolitik, misal lysole cithin dan
polyethylene g1ycol
(17)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
54
Pada awal penelitiannya Kohier dan Milstein menggunakan
virus Sendai yang inaktif sebagai fusogen
(3)
, tetapi karena sulit
menyiapkannya, efisiensinya sangat bervariasi dan hanya men-
dorong fusi pada beberapa jenis sel saja, maka fusogen diganti
dengan polyethylene glycol yang lebih mudah didapat dan dapat
mendorong fusi pada sel dengan jenis yang lebih luas
(17)
. Pengem-
bangan fusi sel banyak diarahkan untuk menaikkan efisiensi fusi
yang dianggap masih rendah, antara lain dengan cara:
·
mengembangkan fusogen
Polyethyleneglycol (PEG) secara luas sudah digunakan se-
bagai fusogen, biasanya dengan berat molekul 10006000, kon-
sentrasi 50%. Penambahan PEG dengan DMSO (dimethylsul-
phoxide) ternyata dapat menaikkan efisiensi fusi
(17)
.
·
mengembangkan teknik fusi lain,yaitu menggunakan medan
listrik pada limfoblas
(25)
.
5) Penumbuhan hibndoma
Berdasarkan pengamatan Fazekas de St Groth dan Schei-
degger, penumbuhan hibrid pasca fusi yang dilakukan dengan
feeder cell (sel limpa tidak imun) memberi hasil yang lebih
konstan dibanding tanpa feeder cell
(18)
. Sebagai feeder system
dapat digunakan sel limpa tidak imun, thymocyte, makrofag
peritoneum, fibroblas manusia yang telah diradiasi
(18)
, lipopoli-
sakarida (LPS), supernatan makrofag, supernatan biakan endotel
manusia dan serum darah tali pusat manusia
(13)
. Dalam feeder
system terdapat faktor pendorong penumbuhan sel, sebagai con-
toh:
·
mitogen lipopolisakarida (LPS), efeknya diperkuat dengan
penambahan dextran sufat.
·
supernatan makrofag mengandung monokin (interleukin-1)
menimbulkan aktivasi limfosit.
·
supernatan biakan endotel pembuluh darah manusia dapat
mendorong proliferasi dan diferensiasi hibridoma sel B, faktor
mitogennya sampai sekarang betum diketahui. Demikian juga
dengan serum tali pusat manusia yang sampai saat ini belum
diketahui faktor yang mendorong tumbuhnya hibridoma
(13)
.
Penambahan feeder system terbukti menaikkan frekuensi sel
limpa pembentuk klon dan frekuensi terbentuknya klon yang
membuat antibodi setelah fusi (Tabel 3)
(13)
.
Tibet 3. Efek berbagai Feeder system pada hibridoma
Sumur dengan klon Klon Ab (+)
Stimulator
Jumlah
sumur
biakan
(jumlah
fusi)
% jumlah
biakan
membentuk
klon
Frekuensi
sel
limps
% jumlah
biakan
membentuk
klon
Frekuensi
set
limps
CS 384
(4)
65
1.05
12
1.3
LPS + D x S 384 (4)
99
4.61
33
4.0
p. Makrofag
384 (4)
98
3.91
42
5.4
S 288
(3)
99
4.61
34
4.2
CA 384
(4)
99
4.61
33
4.0
Keterangan :
FCS
=
fetal
ca/f
serum
LPS + D x S = lipopolisakaridu + dextran cu/fat
HECS
=
supernatan
biakan
endotel,
manusia
HUCA = serum darah tali pusat manusia
KESIMPULAN
Hibridoma merupakan fusi sel limfosit B dengan sel mieloma,
yang dapat dibiakkan terus menerus. Karena hibridoma sel
limfosit B tetap mempertahankan ekspresi gen imunoglobulin
maka dimanfaatkan untuk membuat antibodi monoklonal.
Frekuensi timbulnya hibrid setelah fusi sangat rendah, karena itu
pengembangannya banyak diarahkan untuk menaikkan frekuensi
fusi dan mendapatkan klon hidup secara maksimal.
Cara imunisasi konvensional memberi hasil cukup baik,
tetapi cara imunisasi sekali suntik intratimpa dan in vitro mem-
beri hasil lebih baik, lebih hemat antigen serta waktunya lebih
singkat, bahkan imunisasi in vitro membuka peluang dilakukan-
nya imunisasi limfosit B manusia, dimana imunisasi in vivo tidak
dapat dilakukan karena dibatasi etika.
Pilihan sel mieloma makin beragam, baik spesies (mencit,
tikus, manusia) maupun sifatnya, makin ideal untuk membuat
antibodi monokional dengan dikembangkannya galur sel mieloma
yang tidak membentuk rantai imunogtobulin. Medium dasar
ditambah FCS (fetal calf serum) secara umum cukup baik, tetapi
FCS merupakan hambatan karena harganya mahal, sulit di-
dapatkan serta hasilnya bervariasi. Karana itu dikembangkan
medium tanpa serum sehingga penelitian yang perlu keadaan
tanpa serum dapat dilakukan dan biaya pemeliharaan sd dalam
skala besar akan lebih murah.
Untuk mendorong timbulnya fusi sel banyak digunakan
polyethyleneglycol (PEG) yang mudah didapat dan cukup efek-
tif. Pengembangan dilakukan untuk memperbaiki frekuensi fusi
dengan menambahkan DMSO bersama PEG dan penggunaan
medan listnik. Penambahan bermacam-macam feeder system,
terbukti dapat mendorong penumbuhan hibridoma.
KEPUSTAKAAN
1. Abba.s AK, Lichtman AH, Parker IS. (eds). Cellular and Molecular Immu-
nology. New York: WB. Saunders Co. 1991.
2. Mason DY. Cordell JL, Pulford KAF. Production of Monoclonal Anti-
bodies for lmmunocytochemical Use. Dalam Techniques in Immuno-
chemistry. ed. W.R. Bullock, Vol. 2. London: Academic Press 1983: hal.
175.-I 80.
3. KohlerG. Milstein C. Continuous cultures of fused cells secreting antibody
of predifined specifity. Nature 1975; 256: 49597.
4. Di VT. Morrison SL. Chimeric antibodies. Biotechniques. 1986: 4(3):
21720.
5. Cotton RGH. Milstein C. Fusion of Two Immunoglobulin-producing
Myeloma cells. Nature 1973: 244: 423.
6. WinterG. Harris WI. Humanized antibodies. Immunology Today 1993: 14:
24346.
7. Waldman H, Colbold S. The use of monoclonal antibodies to achieve
immunological tolerance. Immunology Today 1993: 14: 2475 I.
8. Vitetta ES. Thorpe PE, UhrJW. Immunotoxins: Magic bullets or misguided
missiles. Immunology Today 1993: 14: 25259.
9. Harlow E. Lane ED. (eds). Antibodies A Laboratory Manual. New York:
Cold Spring Harbor PubI. 1988; hal 139281.
10. Cuello AC. Milstein C. Galfre G. Preparation and Application of Mono-
clonal Antibodies for Immunohistochemistry and Immunocytochemistry.
Dalam Methods in the Neurosciences. IBRO handbook series. 1983: Vol.
2. hal. 215223.
11. Galfie G Milstein C. Preparation of Monoclonal Antibodies : Strategies
and Procedures. Paper presented at WHO training course. Singapore. 1981.
12. Kearney IF. Hybridomas and Monoclonal Antibodies. Dalam Fundamental
Immunology. ed. W.E. Paul. New York: Raven Press. 4th ed. 1986: hal
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995 55
751754.
1980; 44: 542931.
13. Westerwoudt Ri. Factors Affecting Production of Monoclonal Antibodies.
Dalam Methods in Enzymology, ed. J.J. Lanone, H.V. Vunakis, Vol. 121.
Orlando: Academic Press. 1986; hal. 318.
20. Shulman M, Wilde CD, Kohler. A better cell line for making hybridomas
secreting specific antibodies. Nature. 1978; 276: 26970.
21. Kovar J, Franek F. Serum-Free Medium for Hybridoma and Parental
Myeloma Cell Cultivation. Dalam Methods in Enzymology,ed. J.J. Lanone,
H.V. Vunakis, Vol. 121. Orlando: Academic Press. 1986; hal. 27792.
14. Spitz M. "Single-Shot" Intrasplenic Immunization for the Production of
Monoclonal Antibodies. Dalam Methods in Enzyrnology, ed. J.i. Lanonų,
H.V. Vunakis, Vol. 121. Orlando: Academic Press. 1986; hal. 3341.
22. Kawamoto T, Sato JD, McClure DB, SatoGH. Serum-Free Medium for the
Growth of NS-1 Mouse Myeloma Cells and the Isolation of NS- I Hybrid-
omas. Dalam Methods in Enzymology, ed. J.J. Lanone, H.V. Vunakis, Vol.
121. Orlando: Academic Press. 1986; hal. 266277.
15. Reading CL. In Vitro Immunization for the Production of Antigen-Specific
Lymphocyte Hybridomas. Dalam Methods in Enzymology,ed. J.J. Lanone,
H.V. Vunakis, Vol. 121. Orlando: Academic Press. 1986; hal. 1927.
16. Boss BD. An Improved In Vitro Immunization Procedure for the Pro-
duction of Monoclonal Antibodies. Dalam Methods in Enzymology, ed.
J.J. Lanone, H.V. Vunakis, Vol. 121. Orlando: Academic Press. 1986; hal.
2733.
23. Mourik PV, Zeijiemaker WP. Improved Hybridoma Technology: Spleen
Cell Separation and Soluble Growth Factors. Dalam Methods in Enzymo-
logy, ed. J.J. Lanone, H.V. Vunakis, Vol. 121. Orlando: Academic Press.
1986; hal. 174175.
17. Kennett RH. Cell fusion. Dalam Methods in Enzymology. ed. W.B. Jakoby.
Vol. LVIII. Orlando: Academic Press. 1979; hal. 34559.
24. Joklik WK, Willett HP, Amos DB. Zinsser Microbiology. New York:
Appleton-Century-Croft 18th. ed. 1984; hal. 895896.
18. Hurrel JGR. Monoclonal Hybridoma Antibodies : Techniques and Appli-
cations. Boca Raton: CRC Press Inc. 1985; 429.
25. Lane RD, Crissman RS, Ginn S. High Efficiency Fusion Procedure for
Producing Monoclonal Antibodies against Weak Immunogen. Dalam
Methods in Enzymology, ed. i.J. Lanone, H.V. Vunakis, Vol. 121.
Orlando: Academic Press. 1986; hal. 183184.
19. Olsson L, Kaplan HS. Human-human hybridomas producing monoctonal
antibodies of predefined antigenic specificity. Proc. Natl. Acad. Sci. USA.
Cermin Dunia Kedokteran No. 104, 1995
56