Pencemaran Khlorin
di Daerah Karet Kuningan, Jakarta
Sukar
Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Penggunaan kaporit secara tidak tepat sebagai bahan pemu-
tih (bleaching agent) pada industri rumah tangga seperti tekstil
dan batik, akan melepaskan gas khlorin kc udara ambien. Gas
khlorin (Cl
2
) adalah gas yang berwarna hi jau dengan bau yang
sangat menyengat. Berat jenis gas khlorin 2,47 kali bcrat udara
dan 20kali berat gas toksik hidrogen khlorida. Gas khlorin sangat
terkenal sebagai gas beracun yang digunakan pada Perang Dunia
ke I . Penelitian di negara maju menunjukkan bahwa l ppm
(1)
gas
khlorin sudah mempengaruhi kesehatan. Selain bau yang me-
nyengat gas khlorin juga dapat menyebabkan iritasi pada mata
dan menyebabkan penyakit saluran pernafasan
(1,2)
. Gas khlorin
yang masuk ke dalam jaringan paru akan bereaksi dengan hidro-
gen dari uap air membentuk gas hidrogen khlorida yang toksik
dan sangat mengiritasi. Pada kadar antara 36 ppm (918 µg/m
3
)
gas khlorin terasa pedas dan memerahkan maw, dan bila terpapar
dengan kadar sebesar 1421 ppm selama 30-60 menit dapat
menyebabkan penyakit paru (pulmonary oedema) dan bisa
menyebabkan emfisema dan radang paru
(1,3,4)
.
Sejumlah 225 industri batik yang ada di Kelurahan Karet
Kuningan Jakarta Selatan, semuanya menggunakan kaporit
sebagai bahan pemutih. Gas khlorin yang terlepas ke udara
ambien akibat proses pemutihan tersebut dapat mencemari udara
dan penduduk di sekitarnya akan merupakan penerima risiko
tinggi pencemaran
(5)
.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pen-
cemaran gas khlorin di daerah industri rumah tangga (batik dan
tekstil) di Kelurahan Karet Kuningan Jakarta Selatan, dan hasil
peneGtian ini diharapkan dapat membantu Pemerintah dalam
pengawasan pencemaran khlorin dari industri yang memakai
kaporit sebagai bahan pemutih kain.
BAHAN DAN CARA PENELITIAN
1) Pemilihan Lokasi
Lokasi penelitian yang dipilih adalah Kelurahan Karet
Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan. Sebagian dari
lokasi ini merupakan daerah yang padat dengan industri batik
sebagai industri rumah tangga/kecil. Lokasi studi yang dipilih
adalah RW 04, 06 dan 07. Sedangkan sebagai kontrol dipilih
daerah yang tidak mempunyai industri batik yaitu RW 10.
Pelaksanaan pengukuran gas khlorin dilakukan selama bu-
lan September 1990 sampai dengan Februari 1991
(6.7)
.
2) Pengukuran Kadar Khlorin di Udara Ambien
Pengukuran khlorin (Cl
2
) di udara ambien diambil dengan
cara melewatkan udara ke dalam larutan absorben metil oranye
menggunakan bubbler sampler. Prinsip cara ini adalah reaksi
antara gas khlorin dengan indikator metil oranye dalam larutan
sehingga warna otanye larutan berubah menjadi pucat (tidak
berwarna). Perubahan wama tersebut sebanding dengan jumlah
gas khlorin dalam larutan absorben. Perubahan intensitas warna
yang terjadi diukur dengan spektrofotometer pada panjangge-
lombang 505 nm. Kecepatan reaksi antara khlorin dengan metil
oranye dipengaruhi oleh pH larutan absorben. Pada pH mendekati
nilai 3, wama larutan metil oranye akan berubah sebanding
dengan kondisi keasamannya. Pada suhu 25°C dan tekanan 1
atmosfer absorpsi gas khlorin antara 0,051 ppm (1452.900 µg/
m
3
). Prosedur yang digunakan dalam pengukuran ini ditetapkan
untuk pengukuran kadar khlorin antara 5100 µg setiap 25 ml
larutan absorbeit. Dengan menggunakan larutan absorben metil
oranye yang lebih encer, kadar Cl
2
di bawah kadar optimum dapat
diukur, namun dapat mengalami kesulitan karma gangguan gas
ammonia, belerang dioksida, dan nitrit yang berasal dari ling-
48
Cermin Dunia Kedokteran
No. 100, .1995
kungan
(8,9,10)
.
HASIL
1. Dispersi Polutan Khlorin di Udara Ambien Daerah
Karet Kuningan
Pencemaran umumnya dipengaruhi oleh sifat fisika dan
kimia daerah sekitarnya. Sifat fisika-kimia tersebut meliputi
kecepatan angin, tekanan udara setempat, kelembaban, suhu
udara, topografi, presipitasi dan sifat polutan. Pengukuran sifat-
sifat fisik daerah Karet Kuningan-Jakarta Selatan disajikan pada
Tabel 1, yaitu meliputi suhu, kelembaban dan kecepatan angin.
Pada saat penelitian dilakukan suhu berkisar antara 26°36°C,
kelembaban anima 6085% dan kecepatan angin antara 02,1
meter/detik.
Tabel 1. Sifat-sifat Fisik Daerah Karet Kuningan Jakarta Selatan
Parameter
No. Bulan
Suhu
(°C)
Kelembaban
(%)
Kecepatan angin
(m/detik)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
September 1990
Oktober 1990
November 1990
Desember 1990
Januari 1991
Febmari 1991
34 36
33 36
26 36
26 34
26 33
28 36
60 75
65 75
80 85
80 85
81 86
81 86
0 2,1
0 1,8
0 1,7
0 1,7
0 1,8
0 1,8
2) Kadar Khlorin di Udara Ambien di Karet Kuningan
Hasil pengukuran kadar khlorin di udara ambien di Kelurah-
an Karet Kuningan-Jakarta Selatan meliputi lokasi studi dan
lokasi kontrol disajikan dalam Tabel 2. Berdasarkan hasil
pengukuran didapat bahwa rata-rata kadar khlorin di lokasi studi
yang diukur pada bulan September 1990 sampai dengan bulan
Februari 1991 adalah 0,0293 ppm. Sedang di lokasi kontrol tidak
terdeteksi adanya gas khlorin di udara ambien.
Tabel 2. Kisaran kadar Gas Khlorin (ppm) di udara ambien Daerah
Karet
Kuningan-Jakarta
Selatan
(September
1990
s/d
Februari
1991)
Lokasi
Sep. 1990
(ppm)
Okt.1990
(ppm)
Nov.1990
(ppm)
Des. 1990
(ppm)
Jan. 1991
(ppm)
Feb.1991
(ppm)
RW 04
RW 06
RW 07
RW 10
ttd-0.17
ttd-0,24
ttd-0,32
ttd
ttd-0,018
ttd-0,15
ad-0,20
ttd
ttd-0,35
ttd-0,36
ttd-0,25
ttd
ttd-0,20
ttd-0,18
ttd-0,05
ttd
ttd-0,20
ttd-0,50
ttd-0,20
ttd
tut-0,38
ttd-0,30
ttd-0,18
ttd
Keterangan : ttd : tidak terdeteksi
Dalam Tabel 2 ditunjukkan bahwa kadar maksimum gas
khlorin di udara ambien lokasi RW 04 ditemukan pada bulan
Februari 1991, lokasiRW 06 padabulan Januari 1991 dan RW 07
pada bulan September 1990. Pada lokasi kontrol (RW 10) tidak
terdeteksi adanya gas khlorin di udara ambien.
PEMBAHASAN
Senyawa khlorin adalah zat kimia mengandung khlor yang
dapat mereduksi atau mengkonversi zat inert/zat kurang aktif
dalam air. Yang termasuk senyawa khlorin adalah asam
hipokhlorit (HOCl) dan garam hipokhlorit (OCl
-
). Senyawa
khlorin merupakan bahan kimia penting untuk khlorinasi pada
proses produksi yang menghasilkan produk organik sintetik
seperti plastik (khususnya polivinil khlorida), insektisida (DDT,
lindan dan aldrin), dan herbisida (2,4 di khloropenoksi asetat).
Selain itu juga digunakan sebagai pemutih (bleaching agent)
dalam pemrosesan selulosa, industri kertas, pabrik pencucian
(tekstil) dan disinfektan untuk air minum dan kolam renang
(9,10,12)
.
Terbentuknya gas khlorin di udara ambien merupakan efek
samping dari proses pemutihan (bleaching) dan produksi zat/
senyawa organik yang mengandung khlor. Penggunaan
senyawa khlor di lapangan atau industri dalam dosis berlebihan
sering mengakibatkan pelepasan gas khlorin akibat penggunaan
yang kurang efektif; hal ini dapat menyebabkan terdapatnya
gas pencemar gas khlorin dalam kadar yang tinggi di udara
ambien. Apabila gas khlorin masuk ke dalam jaringan paru dan
bereaksi dengan ion hidrogen akan terbentuk asam khlorida
yang bersifat sangat korosif dan menyebabkan iritasi. Di udara
ambien, gas khlorin dapat mengalami proses ozonisasi dan
membebaskan oksigen, seperti terlihat dalam reaksi di bawah
ini :
C1
2
+ H
2
O > HCl + HOCl
8 HOCI > 6 HCl + 2 HClO
3
+ O
2
Dengan adanya sinar matahari atau sinar terang HOCl
yang terbentuk akan terdekomposisi menjadi asam khlorida dan
oksigen.
Gas khlorin dapat menyebabkan iritasi, walaupun kadarnya
rendah. Selain itu gas khlorin juga dapat mencemari atmosfer.
Pada kadar antara 0,010,1 ppm sudah dapat tercium baunya
yang spesifik menyengat hidung. Iritasi pads umumnya terjadi
pada kadar di bawah 1 ppm dan akan membahayakan manusia
pada kadar 3 ppm. Nilai ambang yang bisa menyebabkan ru-
saknya tumbuh-tumbuhan adalah sekitar 0,11 ppm
(1,13,14,15)
.
Hasil pengukuran dispersi polutan khlorin meliputi para-
meter kecepatan angin, suhu dan kelembaban. Kecepatan angin
tergolong rendah yaitu berkisar antara 02,1 meter/detik. Hal
ini kaiena di daerah Karet Kuningan masih banyak tumbuhan
besar yang memperlambat kecepatan angin. Kecepatan angin
berpengaruh terhadap tinggi rendahnya beban pencemaran
karena angin akan membawa polutan ke daerah lain sehingga
terjadi pengencerart; sedang suhu akan bexpengaruh terhadap
penguapan kaporit. Makin tinggi suhu larutan, kaporit akan
banyak yang menguap sehingga beban pencemaran akan
bertambah. Begitu juga kelembaban, juga akan buxpertgaruh
terhadap beban pencemaran khlorin. Tingginya kelembaban
yaitu antara 6085% menunjukkan bahwa kandungan uap air
dalam udara cukup tinggi, sehingga akan bereaksi dengan
khlorin membentuk HCl dan HOCI yang selanjutnya
mengendap bersama-sama uap air menjadi embun sehingga
mempengaruhi tumbuhan dan keasaman tanah.
Perlgukuran kadar gas khlorin di Kelurahan Karet Kuningan
Jakarta Selatan menunjukkan bahwa telah terdapat kandungan
gas khlorin di udara ambien lokasi studi (RW 04, 06 dan 07).
Lokasi studi merupakan daerah industri batik yang banyak meng-
gunakan senyawa khlor sebagai bahan pemutih. Sedangkan
pengukuran yang dilakukan pada lokasi kontrol, tidak mende-
teksi adanya gas khlorin di udara. Lokasi kontrol bukan merupa-
kan daerah industri batik atau industri lain yang menggunakan
senyawa khlor sehingga tidak mempunyai sumber pencemaran
gas khltxin. Pengukuran gas khlorin dilakukan sebanyak 5 kali
dalam sebulan pada hari Jum'at, Sabtu, Minggu, Senin dan Selasa
serta lama pengukuran 1 jam, 2 jam, 3 jam, 8 jam, 16 jam dan 24
jam. Setiap pengambilan sampel dimulai pada pukul 9.00 pagi.
Pemilihan hari-hari tersebut dimaksudkan untuk mewakili hari-
hari pendek (Jum'at dan Sabtu), hari libur (Minggu) dan hari kerja
(Senin dan Selasa). Sedang lama pengukuran untuk mengetahui
sampai berapa jam gas khlorin mampu terikat oleh absorben.
Perbedaan kadar gas khlorin pada lokasi studi dan lokasi
kontrol sangat nyata. Kadar gas khlorin yang diukur selama bulan
September 1990 sampai dengan bulan Februari 1991 di lokasi
studi mendapatkan kisaran kadar dari tidak terdeteksi sampai
0,50 ppm. Dari seluruh contoh udara yang diperiksa (540) hanya
terdeteksi gas khlorin pada 107 (19,896) contoh udara. Dari 107
contoh udara yang mengandung gas khlorin terdapat 102 (95,3%)
contoh udara yang mengandung gas khlorin > 0,01 ppm (tercium
bau menyengat) dan 49 (45,896) contoh udara mengandung gas
khlorin > 0,1 ppm (dapat merusak tumbuhan).
Baku mutu untuk parameter gas khlorin secara nasional di
Indonesia belum ditetapkan. Untuk melihat dampaknya terhadap
lingkungan, kadar gas khlorin yang didapat di contoh udara di-
bandingkan dengan baku mutu gas khlorin di udara ambien dari
2 negara maju yang telah mempunyai baku mutu yaitu 0,34 ppm
(Uni Soviet) dan 1 ppm (Amerika Serikat); dari 107 contoh udara
tersebut maka terdapat 6 (5,696) contoh udara dengan kadar gas
khlorin > 0,34 ppm dan tidak terdapat satupun contoh udara
dengan kadar gas khlorin > 1 ppm. Walaupun kondisi suhu dan
tekanan udara yang berbeda dari kedua negara tersebut perlu
dipertimbangkan, secara garis besar dapat dikatakan bahwa
kualitas udara di lokasi studi dilihat dari kadar gas khlorin masih
belum melampaui ambang batas. Setelah dilakukan pengamatan
lebih cermat, ternyata banyak industri batik yang hanya meru-
pakan industri pakaian jadi yang tidak lagi melakukan proses
pemutihan kain di tempat tersebut.
Walaupun jumlah contoh udara yang mengandung gas
khlorin > 0,01 ppm cukup banyak, tetapi hasil wawancara menun-
jukkan bahwa responden yang menyadari adanya pencemaran
gas khlorin masih rendah yaitu hanya 26,7%. Hal ini dapat
dimengerti karena pengetahuan penduduk Karet Kuningan
khususnya dan Indone,cia umumnya tentang pencemaran gas
khlorin masih rendah; hal ini terlihat dengan belum adanya
penelitian untuk mengetahui derajat pencemaran gas khlorin di
daerah industri batik, khususnya di daerah perkotaan di Indo-
nesia. Di samping itu baku mutu dari bah= pencemar gas
khlerin di udara di Indonesia juga belum ads. Oleh karena itu
dalam membahas dampaknya terhadap lingkungan dilakukan
dengan membandingkannya dengan baku mute luar negeri.
KESIMPULAN
1) Sifat-sifat fisik daerah Karet Kuningan Jakarta Selatan masih
memenuhi syarat kualitas lingkungan yang baik, terbukti bahwa
suhu dan kelembaban masih normal dan kecepatan angin masih
dalam kategori sedang.
2) Secara garis besar dapat dikatakan bahwa pencemaran gas
khlorin pada lokasi studi masih belum melewati nilai batas baku
mutu yang ditetapkan Amerika Serikat dan Uni Soviet. Adanya
pencemaran gas khlorin terbukti dari terdeteksinya gas khlorin
hanya di daerah industri batik, sedangkan pada daerah kontrol
tidak terdeteksi.
SARAN
1) Adanya gas khlorin di udara ambien telah dapat dideteksi.
Karena pencemaran gas khlorin dapat membahayakan kesehat-
an masyarakat, disarankan kepada instansi yang berwajib agar
bisa melakukan pemantauan.
2) Instansi Pemerintah yang wajib melakukan pemantauan
adalah Pemerintah Daerah setempaL Pemantauan hendaknya
dilakukan di lokasi industri batik atau instalasi pengolahan air
minum, terutama yang menggunakan_kaporit/senyawa khlor
sebagai bahan pemutih (bleaching agent), disinfektan secara
berkala.
3) Untuk segera menetapkan nilai baku mutu dari parameter
gas khlorin di udara ambien terutama untuk daerah-daerah
industri rumah tangga menggunakan kaporit yang sering pula
merupakan daerah pemukiman.
KEPUSTAKAAN
1. Walboat GL. Health Effect of Environmental Pollutants. Saint Louis; W.
Mosby, Co. 1953.
2. Chlorine and Hidrogen Chloride. IRPTC-Bull. 1984 (Mar.); 6 (23): 257.
3. Jolley R. Water Chlorination Chemistry Environmental Impact and Health
Effect; Vol 5, Lewis Publ Inc, 1984.
4. Rustamadji H. Damp& Pencemaran Udara pada Kesehatan Masyarakat;
Bagian Emu Kedokteran Komunitas, LK-UI, 1991.
5. Sukar dkk. Evaluasi Penerapan Peraturan Pemerintab tentang Penanganan
Limbah Cair Industri (Batiit) di Kelurahan Karet Kuningan. Laporan Pe-
nelitian Penataran Metode Penelitian Biding IPTEK, Lembaga Penelitian
UI, Depok. 1984.
6. Neeri. Air Pollution Survey of Greater Bombay. Nawur, India; 19704 973.
7. WHO. Selected Methods of Measuring Air Pollutions. Geneva: WHO
Offset Publ 1976; No. 24.
8. Tares M. Colorization Determination of Free Chlorine With Methyl
Orange; Ambient, Halogen and Compound, Anal-Chem. 1947.
9. APHA, AWWA, WPCF. Standard Methods for Examination of Water and
Waste Water, 16th ed. Washington DC: 1985.
10. Leithe W. The Analysis of Air Pollutant; Ann Arbor Michigan: Science
Publ 1972.
11. Kaltz M. Methods of Air Sampling and Analysis; Second ed, APHA,
Intersoczety Community. 1947.
12. Budirahard jo E. Pencanaran Udara di DKI Jakarta; P4L-DKI 1991.
13. Purwana R. Khlorinasi Air. Jurusan Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan
Kerja, FKM-UL 1991.
14. Setiono R. Khlorinasi Air
;
Jurusan Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan
Kerja, FKM-UL 1981.
15. Yamamoto K, Fukushima M, Oda K. Effect of stirring on residual chlorine
during chlorination of sea water containing ammonia nitrogen; Osaka City
Institute of Public Health and Environmental Science, Japan: 1990.