TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Migren
Diagnosis dan Penatalaksanaan
Budi Riyanto W.
Dokter Ahli Saraf, Bogor, Indonesia
PENDAHULUAN
Migren merupakan salah satu penyakit tertua yang telah
dideskripsikan oleh Gal en di tahun 200 M; dalam bukunya, di-
gambarkan nyeri kepala yang disebut hernicrania; dari istilah
tersebut muncul istilah migren (migraine) yang digunakan
sampai saat ini.
Dalam klasifikasi terdahulu, Inigren digambarkan mem-
punyai tiga sifat utama yaitu : adanya tanda peringatan (aura)
biasanya visual, nyeri kepala unilateral dan adanya mual/mun-
tah. Tetapi akhir-akhir ini telah mulai luas digunakan batasan
yang diperkenalkan oleh International Headache Society (1988)
yang membagi migren atas migren tanpa aura (migren biasa),
migren dengan aura (migren klasik) dan migren dengan kom-
plikasi lain (Tabel 1).
Table 1. Classification of migraine without aura
1.1 Migraine without aura
Previously used terms: common migraine, hemicrania simplex
Diagnostic
criteria
A. At least 5 attacks fulfilling B-D
B. Headache lasting 4 to 72 hours (untreated or unsuccessfully treated).
C. Headache has at least two of the following characteristics:
1.
Unilateral
location
2.
Pulsating
quality
3. Moderate or severe intensity (inhibits or prohibits daily activities)
4. Aggravation by walking stairs or similar routine physical activity
D. During headache at least one of the following:
1 . Nausea and/or vomiting
2. Photophobia and phonophobia
E. At least one of the following:
1. History, physical and neurological examinations do not suggest
one of the disorders listed in groups 5-11
2. History and/or physical and/or neurological examinations do suggest
such disorder, but it is ruled out by appropriate investigations
3. Such disorder is present, but migraine attacks do not occur for the
first time in close temporal relation to the disorder
Source : Headache Classification Committee of the international Headache
Society (1988).
Table 2. Classification of migraine with aura
1.2 Migraine with aura
Previously used terms: classic migraine, classical migraine, ophthalmic,
hemiparesthetic,
hemiplegic or aphasic migraine
Diagnostic
criteria
A. At least 2 attacks fulfilling B
B. At least 3 of the following 4 characteristics:
1. One or more fully reversible aura symptoms indicating focal cerebral
cortical
and/or
brain
stem
dysfunction
2. At least one aura symptom develops gradually over more than 4
minutes or 2 or more symptoms occur in succession
3. No aura symptom lasts more than 60 minutes. If more than one aura
symptom is present, accepted duration is proportionally increased
4. Headache follows aura with a free interval of less than 60 minutes.
(It may also begin before or simultaneously with the aura)
C. At least one of the following:
1. History, physical and neurological examinations do not suggest one
of the disorders listed in groups 5-11
2.
History
andlorphysical
and/or
neurological
examinations
do
suggest
such disorder, but it is ruled out by appropriate investigations
3. Such disorder is present, but migraine attacks do not occur for the
first time in close temporal relation to the disorder
2.1 Migraine with typical aura
Diagnostic
criteria
A. Fulfills criteria for 1.2 including all four criteria under B
B. One or more aura symptoms of the following types:
l.
Homonymous
visual
disturbance
2. Unilateral paresthesias and/or numbness
3.
Unilateral
weakness
4. Aphasia or unclassifiable speech difficulty
Source: Headache Classification Committee of' the international Headache
Society (1988).
GAMBARAN KLINIS
Umumnya migren mulai diderita pada usia tigapuluhan,
beberapa orang rnulai mengeluh nyeri kepala pada usia yang
lebih lanjut.
Blau (1980) membagi serangan migren atas lima fase:
prodroma yang terjadi beberapa jam atau beberapa hari se-
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995
50
belum serangan; aurayang dirasakan sesaat sebelum serangan;
nyeri kepalanya sendiri; fase terminasi dan fase postdromal.
Pada migren tanpa aura hanya ditemukan nyeri kepala, fase
terminasi dan postdromal; fase prodromal tidak selalu ada.
Prodroma
Gejala pendahuluan dapat timbul beberapa jam sampai
beberapa hari sebelum serangan migrennya; dapat terdiri dari
gejala mental, neurologik atau gejala umum. Gejala mental
berupa depresi, euforia, iritabilitas, gelisah, menjadi lamban atau
bahkan hiperaktif, rasa lelah atau mengantuk; sedangkan gejala
neurologik antara lain dapat berupa fotofobi, fonofobi atau
hiperosmia. Selain itu dapat juga dirasakan gejala umum lain
seperti rasa tegang di leher/tengkuk, rasa haus, lapar, anoreksia,
konstipasi atau diare. Gejala-gejala prodroma ini dapat timbul-
sarnpai 48 jam sebelum serangan (non evolutif) atau baru dirasa
kan menjelang (±6 jam sebelum) serangan (evolutif).
Penelitian Blau (1980) menunjukkan bahwa prodroma ini
dirasakan oleh 28 dari 50 pasien migren yang ditelitinya, se-
dangkan Isler (1986) mendapatkan gejala ini pada 65 di antara
100 pasiennya; tidak ada perbedaan antara prodroma pada
migren dengan aura dengan prodroma pada migren tanpa aura.
Aura
Aura merupakan gejala neurologik fokal yang mendahului
serangan migren; umumnya timbul selama 520 menit, jarang
yang lebih dari 60 menit; gejalanya dapat berupa gejala visual,
sensorik atau motorik, kadang-kadang melibatkan fungsi batang
otak dan fungsi berbahasa. Kadang-kadang aura tidak diikuti
oleh serangan migren; dalam hal ini harus dibedakan dengan se-
rangan TIA (transient ischemic attack). Bila berlangsung lama
dapat menjadi migren hemiplegik atau migren komplikata.
Aura visual merupakan yang tersering, dapat berupa
fotopsia (sensasi kilatan cahaya) atau skotoma (hilangnya seba-
gian lapangan pandangan); yang paling khas pada migren ialah
teichopsia suatu sensasi penglihatan berupa pola-pola geo-
metrik yang dimulai/muncul dari titik fiksasi pandangan, kemu-
dian meluaslmenyebar ke seluruh lapangan pandangan dengan
pola zig-zag atau berkilat, kadang-kadang berwarna sambil ber-
kelap-kelip (scintillating). Kadang-kadang aura visual berupa
distorsi visual atau halusinasi (sindrom Alice in Wonderland)
yang umum ditemukan di kalangan anak-anak, berupa:
1) Gangguan visual kompleks metamorfosia, mikropsia,
makropsia, penglihatan mozaik.
2) Kesulitan persepsi dan menggunakan anggota gerak
apraksia, agnosia.
3) Gangguan berbicara dan berbahasa.
4) Keadaan perubahan kesadaran deja vu, jamais vu.
5) Keadaan seperti mimpi, delirium atau trance-like.
Gejala sensorik dapat berupa panestesi biasanya mulai dari
tangan menyebar ke siku lengan atas leher sampai ke lidah dan
bibir (cheilo-oral migraine).
Gejala motorik berupa rasa lelah, monoparesis atau hemiparesis;
selain itu dapat disertai dengan kesulitan berbahasa.
Dapat dijumpai keadaan aura yang timbiil tanpa disertai
nyeri kepala; keadaan ini harus dibedakan dari TIA atau ganggu-
an serebrovaskular lain. Diagnosis migren pada kasus ini hanya
dapat ditegakkan setelah masa follow-up yang cukup dengan
pemeriksaan lengkap untuk menyingkirkan kemungkinan
gangguan peredaran darah otak.
Gejala-gejala yang mirip tersebut dapat berupa gejala visual
(gangguan lapang penglihatan), skotoma, hemiparesis, parestesi
atau disartri, atau sekedar merasa kurang trampil menggunakan
anggota gerak (clumsiness). Serangan-serangan ini dapat ber-
ulang kali, berlangsung antara 1 menit sampai 72 jam.
Nyeri kepala
Nyeri kepala migren dapat terjadi setiap saat, paling sering
terjadi di pagi hari; mula timbulnya perlahan-lahan (graduil)
dan setelah sampai pada puncaknya, berangsur-angsur meng-
hilang. Umumnya berlangsung antara 472 jam pada dewasa
dan antara 248 jam pada anak-anak. Nyeri dirasakan di kedua
sisi (bilateral) pada 40% kasus, sisanya (60%) merasakan nyeri
hanya di salah satu sisi (unilateral); 20% kasus selalu
merasakan nyeri di sisi yang sama.
Intensitas nyeri dapat sangat bervariasi, dari yang sangat
ringan sampai paling berat sehingga pasiennya harus ber-
istirahat/berbaring; bersifat berdenyut (50%) atau mengikat
(50%); dapat diperberat oleh gerakan kepala atau aktifitas fisik.
Nyeri dapat menjalar ke leher dan/atau bahu, dapat berpindah
dari satu sisi ke sisi (kepala) yang lain. Nyeri kulit kepala
dirasakan pada 2/3 pasien migren. Pasien lebih senang tidur/
berbaring di ruangan yang tenang dan gelap.
Pasien dapat merasakan nyeri kepala yang sifatnya tidak
khas di antara serangan migrennya; nyeri tersebut dirasakan
lebih singkat, lebih ringan dan serupa dengan nyeri kepala tipe
tegang; beberapa pasien merasakan bahwa rasa nyeri ini dapat
berangsur-angsur berubah menjadi serangan migren. Ada juga
yang menderita nyeri kepala khronik yang kadang-kadang di-
tambah (superimposed) dengan serangan-serangan migren
(combination headache). Pasien migren juga dapat merasakan
nyeri kepala yang singkat, seperti ditusuk/disentak; keluhan ini
dapat ditemukan pada 40% pasien migren.
Gejala penyerta
Selain nyeri kepala, pasienjuga sering merasakan gejala
lain yang timbul bersamaan, yang mungkin dapat sama
beratnya dengan gejala nyeri kepalanya.
Gastrointestinal
Paling sering dijumpai anoreksia, atau justru rasa ingin
makan sesuatu; selain itu juga umum dirasakan mual (nausea)
yang sering diikuti muntah. Diare diderita oleh ± 16% pasien.
Gejala gastrointestinal ini dapat mempengaruhi absorpsi obat
sehingga mengurangi efektivitasnya.
Neuropsikologik
Kebanyakan pasien merasa terganggu dengan adanya suara-
suara (fonofobia). cahaya (fotofobia) sehingga lebih senang ber-
ada di ruangan yang gelap dan tenang. Kadang-kadang nyeri
kepala disertai dengan vertigo.
Gangguan psikologik seperti agitasi. rasa lelah, letargi.
disorientasi, rasa marah atau depresi dapat dirasakan sejak fase
prodroma.
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995 51
Gejala lain
Retensi air sampai edema kadang-kadang dijumpai sebelum
serangan nyeri kepala, disusul dengan bertambahnya cairan
hidung sehingga seperti pilek di saat akhir serangan.
Postdroma
Setelah nyeri kepala mereda, pasien rnerasa lelah, iritabel,
gelisah dan sulit berkonsentrasi; dapat disertai dengan pegal-
pegal otot, anoreksia atau justru ingin makan sesuatu.
BENTUK MIGREN YANG KHUSUS
Migren basiler
Disebut juga migren arteri basiler atau migren Bickerstaff;
mula-mula disangka hanya diderita oleh remaja putri, tetapi ter-
nyata kemudian didapatkan pada semua usia dengan predomi-
nasi di kalangan wanita.
Didahului dengan aura yang umumnya kurang dari 1 jam
dan biasanya disusul dengan serangan nyeri kepala; aura visual
berupa hemianopsia (kehilangan separuh lapangan pandangan)
yang dengan cepat meluas ke seluruh lapangan pandangan
kedua mata sehingga mengakibatkan kebutaan sementara.
Aura visual ini biasanya disertai ataksia, disartri, vertigo,
tinitus, parestesi bilateral, mual, muntah dan perubahan kesa-
daran. Bila perubahan kesadarannya menonjol, dapat berubah
menjadi confusional migraine.
Confusional migraine
Jenis ini lebih sering ditemukan di kalangan anak laki-laki
dengan angka kejadian ± 5%, dimulai dengan aura yang khas,
nyeri kepala yang mungkin ringan dan kebingungan (confusion)
yang mungkin mendahului, atau muncul segera setelah serangan
nyeri kepala. Kebingungan tersebut bisa bermanifestasi sebagai
kurangnyaperhatian, mudah teralih dan kesulitan mempertahan-
kan pembicaraan atau gerakan; EEGnya bisa abnormal selama
serangan. Selain itu dapat dijumpai keadaan agitasi, gangguan
ingatan, kekacauan berbicara dan tingkah laku yang agresif.
Umumnya berupa serangan tunggal, dapat dicetuskan oleh
trauma kepala yang ringan. Bila berlangsung lama, disebut
migraine stupor, yang dapat berlangsung beberapa hari lamanya.
Gangguan ini harus dibedakan dari keadaan keracunan
obat, ensefalopati metabolik, ensefalitis virus, keadaan pasca
kejang atau psikosis akut.
Migren oftalmoplegik
Pada jenis ini, serangan migren disertai dengan kelumpuh-
an, okulomotorius yang menyebabkan gangguan gerak bola mata
dan dilatasi pupil; kadang-kadang melibatkan n. trokhlearis dan
n. abdusens. Kelumpuhan gerak ini bisa berlangsung lebih lama
daripada nyeri kepalanya, bervariasi antara beberapa jam
sampai beberapa bulan.
Kelainan ini perlu dibedakan dari aneurisma, atau sinusitis
khronik dengan mucocele.
Migren hemiplegik
Serangan hemiplegi dapat merupakan bagian dari aura dan
berlangsung singkat (kurang dari 1 jam), sedangkan nyeri
kepalanya dapat berlangsung sebelumnya, atau bahkan absen.
Serangan hemiplegi tersebut dapat mendadak, berlangsung
beberapa hari sampai beberapa minggu; selain itu juga disertai
dengan parestesi, aura visual dan gangguan berbicara; perubah-
an kesadaran terutama ditemui pada anak-anak. Nyeri kepalanya
dapat bersifat umum (29%), kontralateral (47%) atau ipsilateral
(22%) terhadap hemiparesisnya.
Jenis migren ini harus dibedakan dari gangguan peredaran
darah otak dan serangan (kejang) fokal.
PENATALAKSANAAN
Suatu penanganan yang efektif meliputi diagnosis yang
tepat, meminta pemeriksaan tambahan yang tepat, dan selain
pemberian obat, juga mengenali efek psikologik dan nyeri ke-
pala itu sendiri. Para pasien nyeri kepala sening kuatir bahwa
kelainan yang dirasakannya merupakan gejala dan penyakit
yang berbahaya seperti tumor, selain itu mereka juga ingin
merasa pasti bahwa dokternya benar-benar serius dalam me-
nanggapi keluhan mereka.
Bila diagnosis migren telah dipastikan, pasien harus segera
diyakinkan dan diberi penjelasan mengenai kemungkinan pato-
fisiologi terjadinya nyeri kepala dan beberapa faktor presipitasi
umum yang dapat mencetuskan serangan nyeri kepalanya.
Penggunaan semacam catatan hanian sangat berguna untuk
mendeteksi faktor (-faktor) pencetus; selain itu juga untuk
mencatat dengan teliti frekuensi, berat dan lamanya nyeri
kepala dirasakan. Faktor-faktor pencetus tadi dapat berupa
menstruasi, terlambat makan, makan makanan tertentu, kurang
tidur/istirahat atau keadaan cuaca tertentu. Catatan ini juga
berguna untuk mengevaluasi pengobatan.
Suatu pengobatan nyeri kepala seyogyanya terdiri dari:
1) Menghindari/menghilangkan faktor (-faktor) pencetus.
2) Penggunaan cara-cara non obat seperti relaksasi, biofeed
back, akupunktur.
3) Pengobatan saat serangan.
4) Pengobatan pencegahan.
Metode pengobatan harus selalu dievaluasi dari waktu ke
waktu agar tepat sesuai dengan keadaan penyakitnya.
1) Menghindari faktor pencetus
Pasien-pasien migren cenderung lebih sensitif terhadap per-
ubahan-perubahan, baik internal seperti perubahan hormonal,
maupun eksternal seperti faktor diet, stres, perubahan cuaca/
lingkungan.
Tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit, terlambat makan,
menstruasi, alkohol, makanan tertentu, cahaya silau dan bau-
bauan tertentu semuanya pernah dilaponkan dapat mencetuskan
serangan mignen.
Diet
Beberapa zat yang terkandung dalam makanan yang pernah
dikaitkan dengan serangan migren antara lain ialah laktosa, nitrit,
monosodium glutamat, selain itu ada laporan yang menghubung-
kannya dengan aspartam, anggur merah (red wine) dan alkohol.
Mengingat sampai saat ini belum ada bukti kuat, sebaiknya
pasien tidak diberi nasihat diet kh atau tenlalu ketat; beberapa
zat tertentu yang mempunyai efek dilatasi seperti anggur merah,
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995
52
monosodium glutamat atau nitrit (yang biasa terdapat dalam
daging yang diawetkan) mungkin sebaiknya dihindari. Perlu di-
perhatikan juga keteraturan jadual makan.
Tidur
Tidur terlalu banyak atau kurang tidur dapat mencetuskan
migren, seperti juga jet lag dan perubahan shift dalam pekerjaan.
Pasien migren sebaiknya memelihara waktu tidur yang teratur
dan tidak terlalu banyak tidur di akhir minggu.
Faktor hormonal
Sekitar 60% pasien wanita mengalami serangan migren
yang berkaitan dengan periode menstruasi tertentu, sedang 14%
hanya menderita serangan migren di saat menstruasi. Serangan
nyeri kepala tersebut dapat timbul sebelum, selama atau sesudah
periode menstruasi; bila terjadi sebelum menstruasi sering di-
ikuti dengan gejala premenstruasi lain seperti perubahan suasana
hati, nyeri pinggang, payudara tegang dan mual. Migren di saat
menstruasi biasanya berkaitan dengan dismenore, sering re
frakter terhadap pengobatan yang biasanya efektif di saat-saat
`biasa'.
Wanita yang serangan migrennya berkaitan dengan periode
menstruasi biasanya sembuh bila hamil, mungkin akibat penga-
ruh kadar estrogen dalam darah; ada penelitian yang mendeteksi
bahwa serangan migren berkaitan dengan turunnya kadar estro-
gen dalam darah. Pengaruh kontrasepsi hormonal belum dapat
dipastikan; data menunjukkan adanya peningkatan frekuensi dan
beratnya serangan migren di antara pengguna kontrasepsi ter-
sebut, meskipun demikian studi terkontrol tidak menunjukkan
perbedaan frekuensi nyeri kepala, baik di kalangan pengguna
kontrasepsi maupun di kalangan pengguna plasebo.
Faktor lain
Beberapa faktor yang pernah dikaitkan dengan serangan
migren antara lain: perubahan cuaca, cahaya silau, bau-bauan
yang menusuk dan ketinggian. Selain itu juga pengaruh exercise,
aktivitas seksual, stres dan anxietas, dan trauma kepala pernah
disebut sebagai pencetus serangan nyeri kepala.
2) Terapi non obat
Cara-cara umum yang dianjurkan bagi penderita migren
meliputi exercise yang teratur, cara hidup yang teratur, cukup
tidur dan saat makan yang teratur pula; pasien-pasien migren
cenderung lebih sulit beradaptasi terhadap perubahan lingkung-
an. Teknik relaksasi, biofeedback, hipnosis dan psikoterapi
mungkin dapat berguna pada pasien-pasien tertentu.
Di saat serangan akut, rangsang sensorik diusahakan semini-
mal mungkin dengan istirahat di tempat yang tenang dan gelap;
kompres hangat atau dingin dapat membantu menngankan.
3) Terapi obat
Pada prinsipnya, pengobatan migren terdiri dari dua cara/
pendekatan, yaitu: pengobatan simtomatik di saat serangan dan
pengobatan pencegahan/profilaktik untuk mencegah dan/atau
mengurangi frekuensi dan beratnya serangan. Pasien-pasien
dengan keluhan yang berat dan berulang memerlukan kedua
cara pengobatan tersebut.
Pengobatan simtomatik diberikan tidak lebih dari 23 hari
dalam seminggu. Sedangkan pengobatan profilaktik dipertim-
bangkan bila frekuensi serangan lebih dari 34 kali sebulan;
meskipun demikian, kadang-kadang diperlukan juga bila se-
rangan nyerinya sangat berat, atau bila pengobatan simtomatik
tidak efektif.
Pengobatan prodroma
Gejala-gejala prodroma seperti perubahan suasana hati,
lapar, haus atau mengantuk yang mungkin dirasakan sampai 24
jam sebelum serangan mungkin disebabkan oleh gangguan
hipotalamus akibat perubahan kadar serotonin dan dopamin.
Percobaan menggunakan domperidon 30mg. yang diminum
segera setelah gejala prodroma muncul dilaporkan dapat men-
cegah serangan pada 66% pasien; selain domperidon, dapat di-
coba metokiopramid. Obat-obat tersebut harus digunakan sediri
mungkin, segera setelah gejala prodroma muncul.
Pengobatan aura
Gejala-gejala aura muncul sesuai dengan gelombang oli-
gemia korteks yang dimulai dari oksipital; gelombang oligemia
ini sesuai dengan penyebaran gelombang penurunan aktivitas
histnik yang diamati oleh Leao pada percobaannya atas kelinci;
studi yang dilakukan setelah itu menunjukkan bahwa penurunan
yang sama juga dapat terjadi pada otak manusia. Wolff meng-
anggap bahwa aura disebabkan oleh vasokonstriksi yang dapat
diatasi dengan inhalasi CO
2
; selain itu inhalasi amilnitrit dan
isoproterenol pernah dicoba untuk mengatasi gejala aura dengan
hasil yang tidak konsisten.
Pengobatan fase akut
Pasien-pasien migren sedang sampai berat yang tidak
responsif terhadap cara-cana non obat dapat menggunakan obat
di saat serangan; pengobatan simtomatik ini juga dapat diman-
faatkan di kalangan yang menggunakan pengobatan profilaktik.
Kadang-kadang gejala awal yang muncul menyerupai nyen
kepala tipe tegang, kemudian memberat dan disertai gejala-
gejala migren; pada kasus-kasus semacam ini, selain pengobatan
migren, juga perlu diberikan pengobatan untuk nyeri kepala tipe
tegangnya. Pasien harus segera menghindari stimulasi sensorik
yang berlebihan, bila mungkin di ruangan yang tenang dan
gelap, menggunakan kompres dingin atau es dan menggunakan
obat-obat simtomatik.
Obat simtomatik yang dapat digunakan meliputi analgesik,
antiemetik, ergot, psikotropik dan akhir-akhir ini obat antagonis
serotonin selektif.
Kebanyakan pasien dapat ditolong dengan analgetik biasa
seperti aspirin atau asetaminofen/parasetamol, baik dalam preparat
tunggal atau kombinasi dengan kafein, seperti yang banyak
dijumpai di pasaran obat bebas. Ibuprofen juga efektif dan saat
ini sudah mulai dijual sebagai obat bebas terbatas. Penggunaan
aspirin atau parasetamol maksimum 1000 mg. perkali, 4000mg.
perhani, sebaiknya digunakan tidak lebih dari tiga kali sehani.
Selain ibuprofen, obat-obat antiinflamasi nonsteroid lain juga
bisa digunakan, seperti salisilat, naproksen, ketoprofen, indome-
tasin, diklofenak atau piroksikam. Obat-obat tersebut hampir
setara efektivitasnya; bila satu jenis tidak efektif, dapat dicoba
jenis lainnya dengan dosis yang adekuat. Efek samping yang
harus diamati ialah gangguan gastrointestinal, ulkus peptikum,
rasa pusing (dizziness, lightheadedness).
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995 53
Pengulangan dosis tergantung dan lama kerja masing-ma-
sing jenis obat, yang masa kerjanya pendek seperti naproksen
dan ibuprofen dapat diulang setelah 12 jam. Kombinasi dua
obat yang berbeda cara kerjanya dapat memperkuat efek
analgesik, demikian juga bila dikombinasi dengan kafein;
kafein dapat meningkatkan efek aspirin/asetaminofen sampai
140% dan efek ibuprofen sampai 240%, selain itu kafein
sendiri juga mem punyai efek analgesik.
Penggunaan barbiturat atau benzodiazepin dapat mengu-
rangi anxietas, mungkin melalui modulasi efek sentral, tetapi
menyebabkan efek samping mengantuk dan rasa pusing (dizzi-
ness). Beberapa kalangan menilai penggunaan benzodiazepin
justeru mendorong seseorang untuk menggunakan obat secara
berlebihan dan menderita ketergantungan, sedangkan efek
aditifnya tidak terlalu menonjol.
Obat analgesik narkotik hanya dipertimbangkan bila obat
analgesik biasa tidak efektif; penggunaannya harus diawasi
dengan ketat karena kemungkinan adiksi/ketergantungan; se-
baiknya tidak lebih dari dua kali seminggu.
Preparat ergot merupakan pilihan bila analgesik tidak efek-
tif; obat ini selain mempunyai efek vasokonstriksi, juga diduga
bekerja melalui efek neuralnya di susunan saraf pusat dan di
nerbus trigeminus. Preparat ini dalam bentuk ergotamin tartrat
dapat diberikan secara sublingual, oral atau rektal; kadar dalam
plasmanya tertinggi bila diberikan per rektal 2030 kali lebih
tinggi daripada bila diberikan per oral; lagipula penyerapannya
di saluran cerna tidak teratur. Dosis maksimum ergotamin
tartrat untuk tiap episode serangan migren ialah 6 tablet (6 x 1
mg.) atau dua (2 x 1 mg.) supositoria, atau enam kali (6 x 1
mg.) inhalasi, sedangkan dalam sebulan hendaknya tidak
melebihi 24 tablet, atau 12 supositoria, atau 24 kali inhalasi.
Perkecualian hanya pada kasus-kasus tertentu seperti nyeri
kepala klaster atau pada kasus intractable.
Efek samping utama preparat ergot ialah mual dan muntah
yang dapat dikurangi dengan pemberian metokiopramid; selain
itu hati-hati pada kemungkinan vasokonstriksi pembuluh darah
perifer/akral, hipertensi dan gangguan vaskular baik di koroner
maupun di serebral.
Selain nyeri kepala, pasien migrenjuga sering merasa mual
dan/atau muntah, yang bisa sama beratnya dengan keluhan
nyeri kepalanya; selain itu gangguan gastrointestinal tersebut
dapat memperlambat penyerapan obat-obat antimigren yang
diberikan per oral. Beberapa obat antimigren juga mempunyai
efek samping mual.
Untuk menghilangkan/mencegah keluhan-keluhan tersebut
biasa digunakan metokiopramid 1020 mg. per oral/enteral; se-
lain itu juga dapat digunakan prometazin 2550 mg. per oral/
enteral; obat-obat ini mempunyai efek samping ekstrapiramidal
yang harus diwaspadai. Obat lain yang dapat digunakan untuk
keluhan mual ialah hidroksizin 50100 mg. per oral khlorpro-
mazin 2550 mg. per oral atau 25100 mg. per rektal, atau
prokhlorperazin 10 mg. intramuskular atau per rektal. Ondanse-
tronobat anti emetik baru tanpa efek samping ekstrapiramidal
juga dapat dicoba denhgan dosis 0,15 mg/kgbb.
Obat lain yang dapat digunakan untuk mencegah/menghen-
tikan serangan migren ialah propranolol dengan dosis 40-80mg,
sedangkan obat golongan antagonis kalsium tidak efektif. Obat
baru yang bekerja selektif terhadap serotonin sumatriptan
efektif mempersingkat serangan migren; digunakan segera sete-
lah nyeri dirasakan dengan dosis 250 mg. per oral atau 6 mg.
subkutan dosis tunggal, efek sampingnya berupa rasa hangat/
berat. Obat ini tidak dianjurkan untuk pasien-pasien dengan
riwayat penyakit jantung iskemik atau dengan hipertensi yang
belum terkontrol.
4) Pengobatan pencegahan
Pengobatan pencegahan (profilaktik) dipertimbangkan bila
serangan migren lebih dari 34 kali sebulan, bila pengobatan
simtomatik tidak efektif atau kontraindikasi, atau bila serangan
migren sangat berat.
Pengobatan umumnya dimulai dari dosis rendah, berangsur-
angsur ditingkatkan dan dicoba selama 26 bulan; selain itu
dihindari penggunaan obat-obat seperti vasodilator, estrogen
atau kontrasepsi oral, juga pemakaian analgetik dan/atau ergot
yang berlebihan. Bila keadaan telah membaik, dosis dapat ber-
angsur-angsur diturunkan sampai dihentikan.
Penyekat beta
Merupakan golongan obat yang paling banyak digunakan
sebagai profilaktik migren; dapat mengurangi serangan sampai
lebih dari 50% pada 6080% kasus.
Yang pertama ditemukan efektif terhadap migren ialah pro-
pranolol, tetapi penyekat beta lain seperti metoprolol, timolol,
nadolol dan atenolol juga pernah dilaporkan efektif, sebaliknya
pindolol, alprenolol, oxprenolol dan asebutolol dikatakan tidak
efektif, mungkin karena obat-obat ini mempunyai sifat intrinsic
symphatomimetic activity (ISA). Khasiat propranolol tidak ter-
gantung dosis, umumnya digunakan dosis 40400 mg./hari di-
bagi dua dosis (untuk yang long-acting) atau tiga-empat dosis
(untuk yang short acting).
Mekanisme kerja golongan penyekat beta masih belum
jelas; agaknya berhubungan dengan mekanisme hambatan ter-
hadap reseptor beta sentral, berinteraksi dengan reseptor 5HT
dan mempengaruhi (cross modulation) sistem serotonergik.
Semua jenis penyekat beta dapat menimbulkan efek sam-
ping berupa: mengantuk, rasa lelah, letargi, gangguan pola
tidur, mimpi buruk, depresi, gangguan daya ingat dan
halusinasi; pada binatang percobaan menurunkan aktivitas
motorik. Efek sentral tersebüt dapat dimanfaatkan untuk
mengurangi anxietas. Gejala lain yang mungkin dirasakan
berupa keluhan diberikan pada pasien penyakit jantung, asma
dan diabetes melitus yang memerlukan insulin.
Pemilihan jenis penyekat beta bersifat individual; bila ter-
nyata tidak efektif, dapat diganti dengan penyekat beta lainnya.
Penghentian penggunaan secara mendadak dapat menyebabkan
peningkatan nyeri kepala dan timbulnya takikardi dan rasa
gemetar.Propranolol digunakan dalam dosis 40400 mg./hari
dibagi dua sampai empat dosis; nadolol dapat diberikan satu/dua
kali sehari dengan dosis 20160 mg./hari, sedangkan atenolol
diberikan sekali sehari dengan dosis 50200 mg./hari. Timolol
dengan dosis 2060 mg./hari dan metoprolol 100200 mg/hari
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995
54
harus diberikan dalam dosis terbagi karena waktu paruhnya
pendek.
Antidepresan
Efektivitas obat antidepresan dalam mencegah nyeri
kepala tidak berkaitan dengan efek anti depresannya; obat
golongan m juga bermanfaat untuk mengatasi nyeri khronik
lain. Mekanisme kerjanya diduga melalui efek inhibisi 5-NT
reuptake atau efek antagonis terhadap reseptor 5HT2.
Jenis antidepresan trisiklik yang sering digunakan ialah
amitripitilin, doxepin dan protriptilin; selain itu juga pernah
dicoba trazodon dan fluoxetin; tetapi semuanya belum pernah
diuji secara terkontrol. Hanya amitriptilin yang pernah dilapor-
kan efektif pada percobaan silang buta ganda dengan pemban-
ding plasebo, sedangkan fluoxetin saat ini sedang dievaluasi
manfaatnya. Bila ingin menggunakan antidepresan sebagai pro-
filaksis migren, hendaknya dimulai dari dosis rendah saat men-
jelang tidur, nortriptilin dan protriptilin umumnya kurang me-
nyebabkan kantuk daripada amitriptilin atau doxepin.
Efek samping tersering berupa mulut kering, rasa metal di
lidah, gangguan saluran cerna konstipasi, rasa pusing, takikardi,
palpitasi, pandangan kabur dan retensi urin.
Amitriptilin mempunyai efek sedasi dan antimuskarinik,
dosis awal 1025 mg.malam hari, dapat ditingkatkan sampai 400
mgihari; doxepin juga mempunyai efek sedasi dengan dosis
antara 10300 mg./hari. Obat lain seperti nortriptilin kurang
menyebabkan kantuk, dimulal dari 1025 mg. sesaat sebelum
tidur sampai 150 mg./hari, sedangkan protriptilin digunakan
mulai dari 10150 mg./hari. Antidepresan barufluoxetinku-
rang menimbulkan efek samping, dapat menyebabkan anxietas,
insomnia, rasalelah, tremor, berkeringat, mual, anoreksia,
muntah dan rasa pusing.
Penyekat kalsium
Obat-obat golongan ini mempunyai struktur kimia yang
tidak seragam, mula-mula dikembangkan sebagai obat kardio-
vaskular. Ion kalsium yang berkombinasi dengan protein ber-
peran dalam kontraksi otot, pelepasan neuro transmiter dan
hormon, dan aktivitas beberapa enzim.
Obat ini dicoba sebagai profilaktik migren karena dianggap
dapat mencegah hipoksi, mencegah kontraksi otot polos dan
karena kemampuannya mencegah pelepasan 5-HT. Banyak pe-
neliti yang mencoba obat-obat golongan ini, antara lain nifedipin
dengan dosis 10120 mg/hari, nimodipin dengan dosis 4 dd
3060 mg./hari, flunarizin 510 mg./hari, verapamil 23 dd 80
m./hari dan diltiazem 23 dd 30 mg./hari sampai maksimum
360 mg./hari; efeknya kadang-kadang baru terlihat setelah be-
berapa minggu.
Efek samping yang harus diamati ialah pusing (dizziness),
nyeri kepala, depresi, tremor, gangguan saluran cerna, edema
perifer, hipotensi ortostatik dan bradikardi.
Obat lain
Obat lain yang pernah dicoba untuk mencegah migren me-
liputi obat-obat antikonvulsan fenobarbital, fenitoin dan asam
vaiproat, golongan antagonis serotonin metisergid, ergonovin,
siproheptadin dan berbagai obat lain seperti kionidin, kaptopril,
kalsitonin, papaverin, lithium.
Obat-obat seperti aspirin dan antiinflamasi nonsteroid juga
dapat digunakan untuk pencegahan, tetapi harus diamati ke-
mungkinan efek sampingnya terhadap sistim gastrointestinal
dan ginjal.
Obat golongan ergot tidak digunakan untuk pencegahan
karena efek sampingnya dan kemungkinan rekurensi (rebound
headache).
RINGKASAN
Migren merupakan salah satu penyakit tertua yang dikenal,
mempunyai gejala klinis khas berupa prodroma, aura, nyeri ke-
pala yang disusul fase terminasi dan postdromal. Penyakit ini
harus dibedakan dari penyakit/gangguan neurologik lain, ter-
utama pada dugaan migren komplikata.
Penatalaksanaan pasien meliputi: mengenali dan menghin-
dari faktor (-faktor) pencetus, menggunakan cana-cara non obat
dan penggunaan medikamentosa, baik di saat serangan maupun
untuk pencegahan.
KEPUSTAKAAN
1. International Headache Society. Classification and diagnostic criteria for
headache disorders, cranial neuralgias and facial pain. Cephalalgia 1988; 8
suppl. 7: 196.
2. Lance JW. The Pathophysiology of migraine. Dalam: Dalessio DJ, Silber
stein SD (eds.) Wolffs Headache and other head pain. 6th ed. Ocford
University Press, 1993; hal 5995.
3. Siberstein SD, Saper JR. Migraine: diagnosis and treatment. Dalam:
Dalessio DJ, Silberstein SD (eds.). Woiffs Headache and other head pain.
6th ed. Oxford University Press, 1993; hal 96170.
Patience is a remedy for every sorrow
Cermin Dunia Kedokteran No. 105, 1995 55