ULASAN
Manfaat Peran Sakit di Masyarakat
Sudibyo Supardi
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Manusia sebagai makhluk sosial perlu berada bersama orang
lain untuk mempertahankan eksistensinya dan mengadakan
interaksi sosial di dalam kelompok. Misalnyasebagai kelompok
terkecil adalah keluarga, kemudian ada kelompok berdasarkan
profesi, kelompok berdasarkan kesukuan. Berbagai kelompok
dapat membentuk kelompok yang lebih besar, misalnya ma-
syarakat. Masyarakat adalah sekelompok orang yang memiliki
identitas sendiri dan mendiami wilayah atau daerah tertentu.
Sekelompok orang tersebut memiliki norma-norma, ketentuan
dan peraturan yang dipatuhi bersama sehagai suatu ikatan dan
dijadikan pedoman dalam memenuhi kebutuhan kelompok. Agar
kehidupan kelompok berjalan baik dan lancar, maka sering se-
seorang sebagai anggota masyarakat harus menyesuaikan ke-
inginan pribadinya dengan norma dan tuntutan kelompok
(11)
.
Peran adalah suatu pola tingkah laku, kepercayaan, nilai,
sikap yang diharapkan oleh masyarakat muncul dan menandai
sifat dan tindakan si pemegang kedudukan. Karakteristik peran
seringkali berbeda, tergantung dari budaya dan faktor sosial
ekonomi Iainnya. Oleh karena setiap orang berinteraksi dengan
lebih dari satu kelompok, maka masing-masing prang memiliki
peran dan kedudukan berganda. yang tidak jarang dalam keadaan
tertentu menimbulkan konflik peran
(1)
.
Anggota masyarakat yang tertekan selalu mencari cara yang
menyimpang untuk memenuhi kebutuhannya. bila melalui sa-
luran resmi mengalami jalan buntu
(2)
. Penyimpangan dari per-
aturan dan norma masyarakat akan selalu ada, dan merupakan
bagian dari keadaan masyarakat yang dapat membantu meme-
lihara sistem yang berlaku
(3)
. Peran sakit merupakan salah satu
bentuk penyimpangan terhadap ketegangan dalam sistem sosial
(4)
.
PERAN SAKIT
Masyarakat awam mengartikan sehat sebagai keadaan tu-
buh yang enak, nyaman. gembira, dan dapat melakukan kegiatan
sehari-hari, sedangkan sakit sebagai keadaan tubuh yang meng-
alami gangguan yang menimbulkan perasaan tidak enak, tidak
nyaman dan sebagainya. Konsep sehat-sakit ini berlaku sama
bagi anak-anak maupun prang dewasa, hanya gejalanya yang
mungkin berbeda
(5)
.
Sakit belum tentu karena penyakit, akan tetapi selalu mem-
punyai relevansi psikososial. Pengertian sakit (illness) berkaitan
dengan gangguan psikososial yang dirasakan manusia (bersifat
subyektif), berbeda dengan pengertian penyakit (disease) yang
berkaitan dengan gangguan pada organ manusia (bersifat obyek-
tif)
(6)
.
Perilaku sehat adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh
prang yang merasa sehat untuk mencegah penyakit atau mende-
teksi penyakit sebelum keluarnya gejala. Perilaku sakit adalah
setiap kegiatan yang dilakukan oleh prang yang merasa sakit
untuk menjelaskan keadaan kesehatannya dan mendapatkan
pengobatan yang sesuai. Sedangkan peran sakit adalah peran
yang harus dilakukan oleh orang sakit dan kaitannya dengan
upaya pencarian pengobatan. Hubungan antara perilaku sehat,
perilaku sakit, peran sakit dengan sakit dan penyakit dapat
digambarkan sebagai berikut
(4)
.
Perilaku
sehat
Perilaku
sakit
Peran
sakit
Performan/
aspek
sosial
Peran
sosial
biasa
Fungsi kurang
Dan persiapan
peran sakit
Memasuki
peran
sakit
Meninggalkan
Peran
sakit
Keadaan
tubuh
Sehat
Gejala penyakit
terdiagnosis
Pengobatan Sembuh
Apabila seseorang sakit, maka orang sakit tersebut bebas
dari langgung jawab peran sosialnya
(7)
; kemudian ia atau ke-
luarganya dituntut mencari pengobatan agar kembali menjadi
orang sehat. Dalam analisis Parsons, peran sakit digambarkan
sebagai masalah kontrol sosial. Dalam hal ini dokter dianggap
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999 43
sebagai agen kontrol sosial yang dapat memberikan kepada se-
seorang legalitas sakit atau membatasi untuk melakukan peran
sakit
(7)
.
Dokter sebagai agen kontrol sosial hams mengetahui orang
yang berpura-pura sakit dan dapat menolak menyatakan orang
itu dalam keadaan sakit, Namun dokter tetap menjalankan proses
pengobatan agar orang yang merasa sakit dapat kembali berperan
di masyarakat
(8)
.
MANFAAT PERAN SAKIT
Pada umumnya anggota masyarakat ingin menjadi orang
sehat, atau lebih menyukai sehat daripada sakit Di pihak lain,
peran sakit sebagai "penyimpangan", merupakan bentuk peri-
laku adaptif yang dapat diterima masyarakat. Sebagian anggota
masyarakat memanfaatkan peran sakit untuk mengurangi kon-
flik antara kebutuhan pribadi dengan tuntutan peran, seperti
contoh berikut ini
(8,9)
:
a)
Sakit sehagai upaya untuk menghindari tekanan
Sebuah keluarga dengan 6 anak tinggal di rumah sempit
yang kumuh. Suatu hari datang adik-adik suaminya dan ikut
tinggal bersamanya untuk mencari pekerjaan. Isteri merasa wajib
memberi makan dan tempat tidur yang layak bagi mereka.
Namun pada saat yang lama is merasakan keterbatasan uang dan
ruang, serta perlu lebih memperhatikan anaknya. Beberapa hari
kemudian ia terbaring sakit di rumahnya. Atas anjuran para
saudaranya, maka adik-adik suaminya pindah. Setelah diobati,
is sembuh kembali. Melalui peran sakit isteri, maka keluarga
rersebut dapat terhindar dari ketegangan yang dapat merusak
lembaga keluarga.
b)
Sakit sebagai upaya untuk mendapat perhatian
Masyarakat menekankan pentingnya orang sakit mendapat
perhatian khusus, tempat khusus, makanan khusus dan sebagai-
nya. Bagi orang yang merasa kesepian, tersisih, atau tidak yakin
penerimaan orang lain atas dirinya, maka salah satu cara pele-
pasan dilakukan dengan melalui peran sakit. Melaporkan sakit
kepada pelayanan medis merupakan kebutuhan psikologis untuk
mendapat perhatian dan kasih sayang dokter serta lingkungan
sosialnya.
c)
Sakit sehagai kesempatan untuk istirahat
Bagi orang yang banyak mengalami ketegangan di kantor
atau di rumah, peran sakit merupakan salah satu pilihan. Bebe-
rapa orang dapat menikmati masa istirahat beberapa hari. berikut
makan yang baik dan bebas dari ketegangan rutin melalui rawat
nginap di rumah sakit dengan biaya kantor.
d)
Sakit sebagai alasan kegagalan pribadi
Peran sakit juga digunakan sebagai alasan ketidak mampuan
menyelesaikan tugas yang harus dikerjakan. upaya menghindari
tanggungjawab atau upaya pembenaran diri. Seorang karyawan
yang diharuskan menyelesaikan ragas pada waktu tertentu, tiba-
tiba memilib peran sakit agar atasan atau orang lain dapat me-
maklumi tugasnya yang tidak selesai.
e)
Sakit sebagai penghapus dosa
Masyarakat tertentu percaya bahwa sakit merupakan akibat
dari dosa yang dilakukan sebelumnya. Sakit merupakan hukuman
Tuhan untuk menghapus dosa yang telah dibuat hamba-NYA.
Melalui peran sakit, Tuhan memberi kesempatan kepada seseorang
untuk menyesali atas dosa yang telah diperbuatnya.
f)
Sakit untuk mendapatkan alat tukar
Karyawan yang mendapat penggantian ongkos berobat,
sering mengumpulkan obat melalui peran sakit. Setelah men-
dapatkan sejumlah obat berikut aturan pakainya, ia menyimpan
obat tersebut untuk digunakan sebagai alat tukar dengan berbagai
keperluannya.
KESIMPULAN
Sakit belum tentu karena penyakit, akan tetapi selalu mem-
punyai relevansi psikososial. Dalam masyarakat, peran sakit
merupakan penyimpangan yang dibutuhkan untuk menjaga
stabilitas sistem sosial. Peran sakit oleh anggota masyarakat
dimanfaatkan sebagai upaya untuk menghindari tekanan, men-
dapat perhatian, kesempatan untuk istirahat, kegagalan pribadi.
penghapus dosa dan mendapatkan alat tukar.
KEPUSTAKAAN
1. Sarwono S. Sosiologi Kesehatan. beberapa konsep beserta
aplikasinya.
Gajahmada University Press, Yogyakarta. 1993.
2. Cloward R. Ohlin L. Delinquency and opportunity. New York. Free Press.
1960.
3. Durkheim E. The rules of sociological method. Clencoe III. Free Press, 1958.
4. Kasl S. Cobb S. Health behavior, illness behavior and sick role behavior.
Arch Environment Health 1966: 12.
5. Sudarti dkk. Perspsi masyarakat tentang sehat sakit dan posyandu. Pusat
Penelitian Kesehatan Lembaga Penelitian University Indonesia, Depok
1988.
6. Rosenstock IM. The health belief and preventive health behavior. Health
Education monograph 1924; 2(4).
7. Parsons T. Definitions of health and illness in the light of American values and
social structure. In: Patients. Physicians and Illness, New York. Free Press,
1958.
8. Waitzkin HB. Waterman B. Sosiologi kesehatanmengeksploitasi penyakit
mencari keuntungan. Prima Akrasa. Jakarta, 1993.
9. Foster G. Antropolagi Kesehatan. UI Press. Jakarta 1986.
Cermin Dunia Kedokteran No. 122, 1999
44