background image
Korespondensi
SARAN BUAT CDK
Red. Yth.-- Pertama saya harus mengucapkan syukur dengan
adanya CDK ini karena majalah ini lebih sesuai dengan kebutuhan
kami sebagai dokter daerah; bahasanya mudah, isinya lebih praktis dan
dapat digunakan langsung untuk kepentingan pengobatan terutama di
daerah yang fasilitasnya minim.
Di samping itu saya juga harus mengucapkan penghargaan
setinggi-tingginya kepada CDK ini, karena kita tahu bahwa majalah
kedokteran di negeri kita ini merupakan majalah yang mahal pokok-
nya, tapi tidak akan laku untuk dijual. Dengan sendirinya penerbit
majalah ini harus mengatasi seribu satu macam rintangan baru dapat
melahirkan dan memeliharanya; termasuk mencari naskah yang bermu-
tu, pengolahan, penyaluran dan sebagainya. Tanpa sponsor yang kuat
mustahil majalah itu akan berjalan, apa lagi berkembang. Karena itu
saya juga mengucapkan rasa terimakasih kepada PT Kalbe Farma yang
telah memberikan bantuan kepada majalah ini.
Yang saya khawatirkan ialah majalah yang telah lahir dengan
penuh harapan ini akan layu lagi dan hilang tanpa pamitan. Karena itu
sebagai seorang simpatisan saya ingin mencoba turut menelaah perso-
alannya.
Dengan perkembangan yang cepat dalam dunia kedokteran,
maka makin jauh ketinggalan pengetahuan dokter-dokter di negeri kita
ini, apalagi dokter-dokter di daerah. Coba bayangkan, berapa banyak
dokter yang berkapasitas internasional di antara teman sejawat kita
yang dapat membuat naskah berkaliber internasional? Berapa dokter
yang menjadi lambang di suatu bidang pengetahuan sehingga pendapat-
nya dapat dijadikan patokan untuk dokter-dokter lain? Terlalu sedikit,
dan parahnya bahwa dokter-dokter tersebut biasanya mempunyai ja-
batan yang merangkap-rangkap, di samping sebagai dokter yang terlalu
sibuk. Karena itu mengharapkan lahirnya naskah dari dokter-dokter
tersebut menjadi sulit sekali.
Apa yang diharapkan dari ahli-ahli lain walaupun belum terma-
suk tokoh? Saya rasa mereka merasa segan membuat naskah karena
kurangnya fasilitas untuk mencari maupun membuktikan kebenaran
dari suatu pemikiran baru. Sedangkan kalau membuat naskah hanya
suatu kumpulan perpustakaan, mereka juga segan karena rasanya
"tidak segar
"
(Ini hanya pendapat saya).
Bagaimana dengan dokter-dokter di luar fakultas (di daerah)?
Paling-paling menunggu untuk diberi makan (disuapi). Bagi dokter di
daerah jangankan memikirkan membuat naskah, untuk mencerna
naskah yang sudah adapun sulit, karena ilmunya berkurang dan fasili-
tas untuk mengikutinyapun tidak ada. Mungkin mereka dapat me-
ngajukan pengalaman-pengalaman yang pernah dilihat, dirasakan mau-
pun dicoba-coba, tapi itupun seperti menyajikan buah-buah mentah
yang belum dikupas dan diolah untuk siap dimakan. Dan beranikah
mereka menyajikannya?
Mengenai dana untuk pemeliharaan majalah, seharusnya kita
semua mempunyai kewajiban untuk memeliharanya. Tapi dokter-
dokter seperti kita ini sudah terbiasa dengan diberi cuma-cuma.
Bagaimana mencari jalan keluar untuk mengatasi semua ini?
Memang suatu masalah yang cukup berat.
Dokter adalah sekelompok manusia yang jumlahnya kecil sekali
dalam masyarakat. Yang lebih berat lagi bahwa kelompok manusia
ini adalah manusia paling sibuk, sangat sibuk sampai sering melupakan
dirinya sendiri. Kalau menginginkan ada majalah dari mereka dan
hanya untuk mereka saja, sudah barang tentu sulit. Satu-satunya jalan
adalah menggabungkan diri dengan masyarakat ramai lainnya, sehingga
majalah ini bukan lagi hanya milik dokter-dokter yang sibuk saja tapi
juga milik masyarakat umumnya, di mana naskahnya bisa didapat
dari orang bukan dokter dan isinya dapat juga dibaca oleh orang yang
bukan dokter.
CERMLN DUNIA KEDOKTERAN, yah, suatu juaul yang betul-
betul ideal untuk majalah umum tapi berbau dokter. CERMIN berarti
suatu benda yang dapat memantulkan bayangan kita sendiri dan alam
sekitarnya. Cermin dunia kedokteran berarti sesuatu benda yang dapat
memperlihatkan kepada kita dan kepada orang lain segala sesuatu yang
timbul dan bersangkutan dengan dokter-dokter. Cermin tersebut tidak
selalu harus memperlihatkan keagungan, kecakapan, kemahiran sang
dokter, Tapi justeru sangat penting juga untuk menunjukkan kesa-
lahan, kelemahan dan kejelekan kita sendiri yang harus segera dikoreksi.
Dokter bukan orang yang hidup menyendiri di tengah hutan seperti
Tarsan atau di tengah lautan seperti Robinson Croesoe. Dokter hidup
di tengah-tengah masyarakat dan bergaul sehari-hari dengan orang-
orang yang bukan dokter. Wajarlah kalau cermin dunia kedokteran itu
tidak hanya mencermiakan ilmu yang monoton saja, tapi juga segala
macam suka duka, warna warni si dokter itu yang tidak luput akan
terbawa orang sekitarnya. Wajarlah kalau cermin dunia kedokteran itu
juga dapat mengikut-sertakan suara-suara dari orang yang bukan dokter
dan dapat juga dimengerti oleh masyarakat umum.
Gambaran seorang dokter dalam mata masyarakat itu begitu
beraneka ragam dan penuh misteri. Ada yang senang kepada dokter
karena dianggap sebagai dewa penolong orang sewaktu menderita
sakit. Tapi ada juga yang benci kepada dokter seperti melihat setan
yang menghisap darah orang yang sedang tertimpa musibah (sakit).
Sebaliknya dokter-dokterpun hidup dalam dunia yang serba aneka
ragam; ada
yang
senang-senang karena kedudukan dan uangnya, ada
juga yang melarat karena nasibnya. Ada yang mati-matian mengejar
ilmu yang sedang berkembang pesat dan ada yang mati-matian menge-
jar uang yang datang berlimpah-limpah, tapi banyak juga yang tiap hari
memanchtg di tepi pantai menghabiskan waktu dan umur. Dokter
hidup dalam kebanggaan campur dengan kekecewaan, kesukaan yang
berbelit dengan duka nestapa. Dokter berada di tengah-tengah pujaan
dan kutukan, di tengah tengah kegembiraan dan kesedihan orang lain.
Kalau semuanya ini kita lukiskan dalam suatu cermht, suatu gambar
yang dapat kita lihat dan dapat juga dinikmati oleh masyarakat lain-
nya, maka saya yakin majalah ini akan menjadi populer seperti cerita
dr. Kilder dalam layar televisi. Dokter akan tertarik karena ilmunya
dan masyarakat akan terkesan karena ceritanya. Apakah CDK akan
mengambil jalan sesuai dengan judulnya ini? Semoga karunia Tuhan
akan menyertai majalah ini dengan pencintanya.
Beberapa usul yang mungkin masih mentah dari saya:
Perluasan naskah
-- Terjemahan dari majalah lain yang baik dan praktis.
-- Ruang diskusi untuk berdialog, berdebat, tanya jawab.
-- Ruangan khusus untuk orang awam dengan isinya yang singkat,
mudah dimengerti dan berguna untuk orang awam.
-- Cerita-cerita yang menarik walaupun didapat dari orang bukan
dokter (pengarang-pengarang langsung maupun terjemahan)
seperti dr. Kilder tadi.
Masalah Dana.
-- Mencari sponsor lain asal tidak ada kontradiksi dengan sponsor
utamanya.
-- Perluasan iklan seperti alamat apotik, alat-alat kedokteran dll.
-- Adanya ruang cerpen dan ruang kesehatan untuk orang bukan
dokter akan menarik peminat-peminat di luaz kedokteran.
Atau pendeknya dapat laku dijual.
Sekian usul dari saya, mudah-mudahan ada manfaatnya walau-
pun tidak terpakai.
dr. Rom H. Pangayoman
Puskesrnas Salawu
Tasikrnalaya
Cermin Dunia Kedokteran
No.18, 1980
51
background image
Surat diatas sebenarnya kami terima dua tahun yang lalu. Namun ada
beberapa titik penting yang masih relevan sampai saat ini yang cukup
menarjk untuk dibahas. ­Red.
Komentar redaksi :
QUO VADIS CDK ?
·
Kemanakah arah tujuan majalah CDK ini ? dr. Rom dengan argu-
mentasinya menganjurkan agar majalah ini tidak hanya ditujukan pada
kalangan kedokteran, tetapi juga untuk masyazakat umum. Namun
kami berpendapat bahwa menginjakkan kaki pada dua perahu sulit
dilakukan. Maka harus ada pilihan : untuk kalangan kedokteran saja,
atau untuk masyarakat umum. Majalah kedokteran untuk masyarakat
umum, atau dapat kita sebut majalah ilmiah populer, kini telah berkem-
bang di Indonesia dengan munculnya Media Hospitalia, Higina, dan
Keluarga. Mungkin sekali, sesuai dengan argumentasi dr. Rom, majalah
itu akan lebih cepat berkembang, kazena modal utama suatu pener-
bitan ­ naskah dana ­ lebih mudah diperoleh. Semoga pendapat ini
benar.
Namun bagaimana dengan majalah khusus untuk kedokteran ? Se-
bagian besar penerbitan demikian masih "bernafas dalam lumpur,"
demikian sinyalemen Media Aesculapius bulan Juli 19T9 yang lalu.
Banyak yang jatuh bangun. Di sinilah letak locus minoris resistants.
Apakah CDK sebaiknya meninggalkan arena tersebut ? Justru karena
disitulah titik lemah kalangan kedokteran Indonesia, CDK harus ikut
menyumbangkan seluruh dana daya upaya untuk memperbaiki ke-
lemahan itu.
·
Secara umum majalah kedokteran terbagi dalam golongan majalah
spesialistis dan majalah kedokteran umum. Yang belakangan inipun
mempunyai corak sendiri-sendiri. MKI dan Medika, umpamanya, dapat
diandaikan sebagai JAMA dan the Lancet di luaz negeri; memuat berba-
gai jenis artikel, opini berita dan sebagainya. Sebaliknya CDK lebih
mirip majalah The Practitioner yang terbit di Inggris. Majalah ini ditu-
jukan untuk dokter umum, tiap terbitan memuat suatu tema utama,
sebagian besar artikel utama berupa artikel penyegar (review article),
namun memuat juga tulisan-tulisan hasil penelitian di luar tema se-
bagai pelengkap. Apakah majalah jenis CDK ini dapat bertahan hidup
dengan perkembangan ilmu kedokteran sekazang ini? Kami yakin da-
pat ! Kalaupun penerbitan-penerbitan di Indonesia ini masih tersendat-
sendat langkahnya, yang hazus diingat adalah usia majalah itu sendiri.
Kecuali MKL, hampir semua majalah yang ada belum berusia 20 tahun;
banyak yang belum berumur 10 tahun (CDK lahir tahun 19T4).
Bandingkan hal ini dengan the Practitioner yang berusia 112 tahun,
the Lancet yang berusia lebih dari 150 tahun dan the New England
Journal of Medicine yang umurnya 168 tahun. Jelas penerbitan-pener-
bitan di Indonesia dapat diibaratkan bayi yang baru belajar berdiri dan
berjalan terlatih-latih.
DANA PENERBITAN
INTEGRITAS ILMIAH
Bagaimana dengan masalah dana? Memang soal ini maha sulit.
Majalah MOGI dapat lancar terutama berkat sumbangan ahli-ahli ke-
bidanan. Majalah Jiwa setiap kali terbit harus merugi empat juta rupiah,
yang ditutup dengan sumbangan Yayasan Dharmawangsa. Bagaimana
CDK ? Kalaupun iklan yang dipasang diperhitungkan, PT Kalbe
Farma
yang merupakan sponsor tunggalnya tetap merugi berjuta-juta rupiah.
Ini dimungkinkan oleh kerja sama antara kalangan kedokteran PT
Kalbe Farma. Kepercayaan yang diberikan oleh paza dokter terhadap
produk-produk Kalbe memberi keuntungan pada perusahaan, secara
timbal balik perusahaan farmasi ini menyisihkan sebagian keuntungan
tersebut untuk kepentingan kalangan kedokteran (dan secara tak lang-
sung untuk masyarakat) antara lain dalam bentuk CDK ini.
· Namun perlu sekali kami tekankan bahwa meskipun CDK disponsori
oleh PT Kalbe Farma, majalah ini bersifat netral. Jadi, sama sekali bu-
kan untuk menonjolkan produk-produk sponsor. Sebagai contoh dapat
dilihat CDK nomor 1T yang lalu, yang memuat penelitian "Pengobatan
Meningitis Tuberkulosa." Obat yang dipakai sama sekali bukan produk
Kalbe. Atau laporan kasus spasmofilia dalam nomor ini. Obat-obat
yang dipakai adalah Tegretol, Dilantin, Calcium Sandoz dan sebagai-
nya yang juga bukan produk Kalbe. Sebaliknya, bila ada penelitian
di Kalbe yang berbobot ilmiah, ini akan kami muat juga, seperti artikel
"Kombinasi Amoksisilin Dikloksasilin" dalam nomor ini. Dengan
demikian redaksi berusaha mempertahankan integritas ilmiah majalah
ini. Maka ucapan terima kasih dr. Rom pada Kalbe cukup beralasan.
Tidak banyak perusahaan yang mau menyumbang tanpa pamrih
.
· Soal iklan bagaimana ? Sampai saat ini iklan hanya menempati
23,02% jumlah halaman CDK. (Bandingkan dengan 30% seperti ditetap-
kan oleh PWI buat harian-harian). Sazan untuk memperluas iklan me-
mang ada baiknya; namun ada juga dokter yang bosan dengan iklan,
maka mau tak mau harus dicari suatu keseimbangan yang dapat diteri-
ma berbagai pihak. Yang penting ialah ­ senang atau tidak senang
dalam
kenyataannya iklan sering merupakan urat nadi penerbitan.
DIALOG vs FEODALISME
·
Usul untuk membuka ruang diskusi dialog kami terima
dengan
gembira.
Mulai
saat
ini
kami harapkan teman-teman
sejawat menggunakan ruang korespondensi untuk berdialog. Juga rubrik
tanya-jawab mulai kami buka. Namun salah satu kesulitan untuk
mempertahankan ruang korespondensi ini ialah "sifat pendiamnya"
kalangan kedokteran. Lihat saja majalah mana yang dapat membuka
ruang korespondensi secara kontinyu. Ada semacam kelembaman atau
ketidakacuhan pada dunia kedokteran di Indonesia.
· Salah satu faktor terpenting tampaknya ialah sistem masyarakat
kedokteran di Lndonesia yang masih berbau feodalistis. Contohnya,
misalkan ada suatu kesalahan (dan saya yakin ada) pada suatu tulisan
atau penelitian yang dipublikasikan dalam suatu majalah, seorang dosen
atau asisten pada suatu bagian biasanya enggan menuding kesalahan
itu dalam ruang korespondensi. Berbagai alasan yang mungkin dikemu-
kakan : rasa ketimuran, takut dicap ingin menonjolkan diri, khawatir
Kepala Bagiannya tersinggung kazena merasa dilewati, jangan-jangan
dianggap membawa nama. Bagian atau Fakultasnya sehingga menying-
gung Almamater orang lain dan seterusnya. Demikian juga halnya me-
reka yang merupakan mata rantai Dinas Kesehatan atau Badan-badan
lain. Semua bersumber pada sistem atau struktur masyarakat ini.
Jadi, rupa-rupanya harapan dr. Rom agaz ada dialog dalam suatu
penerbitan kedokteran masih berupa mimpi yang indah, setidak-tidak-
nya untuk sementara ini. Padahal hakekat suatu penerbitan adalah sa-
rana komunikasi antar pembacanya dan antara pembaca dan redaksi.
Komunikasi juga merupakan sarana kemajuan suatu ilmu. Maka kemaju-
an ilmu kedokteran di Indonesia pun tanpa disadari akan ikut terpenga-
ruh.
· Faktor lain ialah belum membudayanya kebiasaan menulis pada
masyarakat Indonesia
Kurang di-
sadari bahwa tulisan yang sederhana dan masih mentah kadang-kadang
membawa pada suatu penemuan ilmiah yang penting. Sebagai contoh
efek teratogenik talidomide tersebarluas setelah adanya laporan kasus
dalam ruang korespondensi (Mc. Bride WG : Teratogenic action of
thalidomide. Lancet 2 : 1358, 1961). Sebaliknya efek terapeutik
yang mengagumkan dari talidomide untuk eritema nodosum leprosum/
reaksi lepra juga ditemukan secaza kebetulan oleh J. Sheskin yang me-
laporkan hilangnya gejala-gejala ENL setelah menggunakan talidomide
pada enam kasus sebagai sedatif (Clin Pharmacol Ther 6 : 303 ­ 306,
1965). Bila dia tidak melaporkan pengalamannya ini, mungkin manfaat
obat penyebab tragedi itu belum diketahui sampai sekarang.
Akhirnya kepada dr. Rom redaksi mengucapkan terima kasih atas
umpan baliknya.
52
Cermin Dunia Kedokteran
No.18, 1980