background image
51
Hernia Inguinalis Lateralis
pada Anak-anak
Made Kusala Girl, Farid Nur Mantu
Laboratorium Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang
PENDAHULUAN
Hernia adalah adanya penonjolan peritoneum yang berisi
alat visera dari rongga abdomen melalui suatu lokus minoris
resistensieae baik bawaan maupun didapat.
Hernia inguinalis pada anak tetap merupakan problem ke-
sehatan yang tidak bisa lepas dari problem sosial; banyak orang
tua membawa anaknya dengan tonjolan di lipat paha ke dukun
sebelum dibawa ke rumah sakit atau dokter; adapula sebahagian
masyarakat yang merasa malu bila anak mereka diketahui orang
lain sakit demikian, sehingga hal-hal inilah yang kadangkala
memperlambat penanganan penyakit dan khususnya hernia.
Problem kedokteran yang penting adalah bagaimana mengu-
rangi frekuensi timbulnya hernia inguinalis
(2,3)
.
Dalam sejarahnya pada 1552 sebelum Masehi di Mesir telah
dilaporkan pengobatan untuk hernia inguinalis dengan melaku-
kan suatu tekanan dari luar. Galen pada tahun 176 Masehi
melaporkan penurunan duktus testikularis melalui lubang kecil
pada lower abdomen, kemudian ia meneliti dari awal tentang
sebab terjadinya hernia inguinalis indirekta. (dikutip dari 4)
Susruta pada abad ke 5 sesudah Masehi pertama kali melapor-
Dipresentasikan pada Pertemuan Ilmiah Tahwran ke VIII IKABI Malang, Juli
1992.
kan pengobatan bedah terhadap hernia. Pada autopsi terhadap
anak yang menderita hernia sebanyak 500 orang pada abad ke
18 dan 19 didapatkan 56% adanya patensi dari prosesus
vaginalis peritonei. (dikutip dari 4)
Camper dengan kawan-kawan pada permulaan abad ke 19
telah mempelajari struktur anatomis dari kanalis inguinalis,
sedangkan Later pada abad ke 19 melakukan berbagai metode
pembedahan dalam mengatur kembali lapisan anatomis dari
kanalis inguinalis dengan memperhatikan hubungan sekitamya
seperti struktur dari funikulus spermatikus. (dikutip dari 4)
Bank pada tahun 1884 menyatakan bahwa pengobatan her-
nia yang definitif adalah dengan melakukan ikatan yang baik,
kegagalan daiam tindakan tersebut didapatkan akibat kelemahan
ikatannya. Selanjutnya dilaporkan pula pengangkatan lengkap
kantong hernia melalui cincin hernia eksterna. (dikutip dari 4)
Fergusson pada tahun 1899 menekankan ligasi tinggi dari
kantong hernia tanpa merusak struktur anatomis funikulus dan
lapisan anatomis dari kanalis inguinalis dengan melakukan
insisi aponeurosis otot obliquus externus. (dikutip dari 4)
Mc Lennan pada tahun 1914 menyatakan pengobatan bedah
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian retrospektif dengan analisis deskriptif terhadap 95 kasus
hernia inguinalis lateralis anak pada kurun waktu Januari 1988 sampai dengan Desember
1991.
Didapatkan 78,9% kasus laki-laki, 42,1% kelompok umur 0 -1 tahun; 52,6% hernia
inguinalis lateralis dekstra; 31,6% hernia inguinalis inkarserata, terbanyak pada ke-
lompok umur 0 ­ 1 tahun (50%); "reduksi konservatif' berhasil pada 72,7% dilanjutkan
dengan bedah elektif setelah 48 jam dan pada 8 kasus hernia inguinalis yang inkarserata
dilakukan bedah emergensi.
background image
52
merupakan tindakan definitif untuk suatu hernia inguinalis (di-
kutip dari 4). Botts, Riker dan Lewis pada tahun 1950 men-
dukung untuk dilakukan ligasi tinggi dan pengangkatan
kantong hernia sebagai hal yang rutin dikerjakan pada
pembedahan hernia inguinalis pada anak-anak. (dikutip dari 4)
Secara embriologi penurunan processus vaginalis bersama-
sama testis terjadi pada bulan ke 3 kehidupan foetus. Testis
turun dari dinding belakang abdomen melalui canalis inguinalis
menuju kantong scrotum; hal ini amat erat hubungannya
dengan kejadian hernia inguinalis lateralis dan hydrocele pada
anakanak. Pada waktu perkembangan lebih lanjut bagian distal
prosessus vaginalis bersatu dan menutupi testis yang disebut
sebagai procesus vaginalis peritonei sedangkan bagian
proximal berobliterasi. Apabila bagian proximal processus
vaginalis peritonei tidak menutup sempurna, dapat terjadi
hernia dengan atau tanpa hydrocele
(2,3)
.
Prosentase kejadian hernia inguinalis lateralis kanan kira-
kira dua kali Iipat daripada yang kiri, hal ini disebabkan karena
adanya keterlambatan descensus testicularis kanan daripada
yang kiri, sesuai dengan oblitersi yang lambat dari processus
peritonei yang kanan
(2)
.
Diagnosis hernia umumnya tidak sulit, keluhan utama be-
rupa benjolan yang timbul pada lokasi hernia pada waktu me-
nangis dan berlari-lari kemudian hilang pada saat istirahat ba-
ring.
Pemeriksaan hernia inguinalis sebaiknya dilakukan pada
waktu anak berdiri, bila tidak tampak diusahakan anak
mengedan atau menangis dan bilamana sudah muncul anak
ditenangkan kembali serta dibaringkan bila benjolan
menghilang maka diagnosis hernia inguinalis sudah dapat
ditegakkan. Bila tidak timbul benjolan, cara pemeriksaan lain
adanya silk sign akan membantu menegakkan diagnosis
(2,3)
.
Komplikasi yang paling sering terjadi pada hernia inguinalis
adalah inkarserasi, di mana usus/alat-alat viscera terjepit dan
tidak bisa masuk kembali ke rongga abdomen, mengakibatkan
gangguan pasase usus berupa penyumbatan saluran cerna, atau
terjadi nekrosis sampai perforasi. Akibat penyumbatan usus
terjadi aliran balik berupa muntah-muntah sampai dehidrasi
dan shock dengan berbagai macam akibat lain.
Indikasi operasi pada hernia inguinalis lateralis yaitu pada
saat hernia terdiagnosis. Pertimbangan lain adalah keadaan
umum penderita, gizi, penyakit lain yang menyertai. Operasi
dilakukan anestesi umum dan bila Hb kurang dan 10 g% bisa
dilakukan anestesi lokal
(1,2,3,5,6)
.
Pada hernia inguinalis inkarserata tanpa gejala strangulasi
atau nekrosis dapat dilakukan reduksi isi kantong hernia secara
konservatif dengan pertimbangan bahwa :
1) Pembedahan elektif lebih aman karena persiapan lebih
baik.
2) Pada hernia inguinalis inkarserata daerah yang akan di-
operasi oedem dan rapuh.
Apabila "reduksi konservatif" pada hernia inguinalis inkar-
serata dilaksanakan secara adekuat, kira-kira 80% tereduksi
(jepitan terlepas) sehingga pembedahan definitif dapat ditunda
sampai 48 jam untuk memperbaiki keadaan anak dan me-
mungkinkan teknik operasi yang lebih mudah
o.
'
.8
).
Secara garis besar cara "reduksi konservatif" yang dianjur-
kan adalah metode dari Pieter dan Syamsuhidayat sebagai ber-
ikut
(8)
:
1) Keadaan umum penderita diperhatikan, dehidrasi hams
diatasi selama dilakukan "reduksi konservatif'. Isi lambung
dikosongkan bila ada tanda-tanda gejala obstruksi usus dan
dilatasi lambung.
2) Penderita dirawat dalam posisi Trendelenburg 20° dengan
fleksi pada articulatio coxae dan articulatio genu. Sedatif diberi-
kan sampai penderita tidur. Di atas hernia diletakkan kantong
berisi es untuk mengurangi atau menghilangkan edema jaringan.
3) Batas waktu konservatif, bila dalam jangka waktu 4 ­ 5
jam usaha konservatif tidak berhasil hams segera diambil
tindakan pembedahan, jangan sekali-kali memaksakan reposisi.
BAHAN DAN CARA
Dikumpulkan kasus-kasus hernia inguinalis pada anak di
RSU Dadi Ujung Pandang secara retrospektif selama 4 tahun
terhitung mulai 1 Januari 1988 sampai dengan 31 Desember
1991, sebanyak 95 kasus melalui data pencatatan penderita di
Unit Gawat Darurat dan rawat nginap di ruangan. Populasi
adalah semua penderita hernia inguinalis lateralis yang
berumur sampai 14 tahun. Analisa hasilnya dilakukan secara
deskriptif dengan mendeskripsikan vanabel-variabel yang
diteliti dalam naskah dan tabel.
Diagnosis ditegakkan oleh Asisten Ahli Bedah dan/atau
Spesialis Bedah Anak di RSU Dadi berdasarkan gejala klinik
dan atau penemuan pada saat operatif. Variabel yang diteliti
adalah; jumlah penderita pertahun berdasarkan jenis kelamin,
distribusi penderita hernia inguinalis lateralis berdnsarkan umur
dan jenis kelaminnya, lokalisasinya, reponibilitasnya, lamanya
inkarserasi sebelum masuk rumah sakit, jenis terapinya dan
lama perawatan serta isi kantong hernia.
HASIL
Secara keseluruhan dari 95 kasus hernia inguinalis lateralis
yang diteliti di RSU Dadi dari bulan Januari 1988 sampai bulan
Desember 1991 pada penderita yang berumur sampai 14 tahun,
terdapat 75 laki-laki dan 20 perempuan. Dan jumlah ini di-
dapatkan :
1) Jumlah penderita pertahun berdasarkan jenis kelamin
Jumlah penderita hernia pada anak pertahun adalah rata-rata
24 orang yang terdiri atas 19 orang laki-laki dan 5 orang perem-
puan. Jadi perbandingan penderita hernia yang dirawat di rumah
sakit antara laki-laki dan perempuan adalah 4 : 1 (Tabel 1).
2) Distribusi berdasarkan umur dan jenis kelamin
Didapatkan bahwa hernia pada anak yang datang ke RS
paling banyak pada umur 0 ­ 1 tahun (42,1%), bila ditinjau
berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 2.
background image
53
Tabel 1. Jumlah penderita pertahun berdasarkan jenis kelamin yang
dirawat
di
RSU
Dadi
(1988
-1991)
Tahun
Jenis kelamin
88 89 90 91
Jumlah
%
Laki-laki
Perempuan
24
5
15
4
16
4
20
7
75
20
19
5
78,9
21,1
Jumlah
29 19 20 27 95 24 100
Sumber : Data sekunder yang diolah
Keterangan :
rata-rata
3) Distribusi berdasarkan lokalisasi
Lokalisasi hernia yang paling sering di daerah inguinal
dengan perincian; inguinalis lateralis dekstra (52,6%), sinistra
(36,8%) dan bilateral (10,6%) (Tabel 3).
Tabel 2. Distribusi jumlah penderita hernia inguinalis lateralis pada
anak di RSU Dadi berdasarkan umur dan Janis kelamin (1988 -1991)
Janis Kelamin
Umur (Tahun)
Laki-laki Perempuan
Jumiah %
0 ­ 1
Lebih 1 ­ 3
Lebih 3 ­ 5
Lebih 5 ­ 7
Lebih 7 ­ 9
Lebih 9 ­ 11
Lebih 11 ­ 13
14 tahun
35
19
11
3
3
1
3
­
5
4
3
4
­
2
­
2
40
23
14
7
3
3
3
2
42,1
24,2
14,7
7,4
3,2
3,2
3,2
2,0
Jumlah 75
20
95
100
Sumber : Data sekunder yang diolah
Tabel 3. Distribusi jumlah kasus hernia inguinalis pada anak di RSU di
berdasarkan
lokalisasi
(1988
­
1991)
Hernia Jumiah
%
H. Inguinalis lateralis dekstra
H. Inguinalis lateralis sinistra
H. Inguinalis lateralis bilateral
50
35
10
52,6
36,8
10,6
Jumlah 95
100
Sumber : Data sekunder yang diolah
4) Distribusi berdasarkan reponibilitas Didapatkan 65
kasus (68,4%) hernia inguinalis reponibilis dan 30 kasus
(31,6%) hernia inguinalis inkarserata (Tabel 4).
Tabel 4. Distribusi jumlah kasus hernia inguinalis lateralis pada anak di
RSU
Dadi
berdasarkan
reponibilitasnya (1988 ­ 1991)
No. Hernia
Jumlah
%
1.
2.
Reponibilis
Inkarserata**
65
30
68,4
31,6
Jumlah
95
100
Sumber : Data sekunder yang diolah
** Irreponibilis yang inkarserata
5) Distribusi hernia inguinalis lateralis inkarserata ber-
dasarkan umur
Hernia inguinalis lateralis inkarserata juga terbanyak
ditemukan pada umur 1 tahun pertama yaitu 15 kasus (50%)
dan relatif menurun di atas satu tahun (Tabel 5).
Tabel 5. Distribusi hernia inguinalis lateralis inkarserata di RSU Dadi
berdasarkan
umur,
1988
-1991
Umur (tahun)
Jumlah
%
0
­
1
Lebih 1 ­ 3
Lebih 3 ­ 5
Lebih 5 ­ 7
Lebih 7 ­ 9
Lebih 9 ­ 11
Lebih 11 ­ 13
14 tahun
15
8
2
1
­
1
1
2
50
26,7
6,7
3,3
­
3,3
3,3
6,7
Jumlah 30
100
Sumber : Data sekunder yang diolah
6) Distribusi berdasarkan lamanya inkarserasi
Umumnya penderita hernia inguinalis lateralis inkarserata
mencari pertolongan dokter setelah mengalami inkarserata
selama 1 sampai 2 hari (Tabel 6).
Tabel 6. Distribusi penderita hernia inguinalis lateralis yang mencari
pertolongan dokter berdasarkan Iamanya inkarserasi di RSU
Dadi
(1988
­
1991)
Lamanya inkarserasi
Jumlah
%
1 hari*)
2 hari
3 hari
4 hari
Tidak ada keterangan
13
7
3
1
6
43,4
23,3
10
3,3
20
Jumlah 30
100
Sumber : Data sekunder yang diolah
Keterangan : *) 1 hari, paling cepat 1 jam dan paling lama 24 jam
7) Distribusi hernia inguinalis lateralis inkarserata ber-
dasarkan terapi "reduksi konservatif"
Di antara 30 kasus hernia inguinalis lateralis inkarserata,
22 dilakukan "reduksi konservatif' dengan hasi116 kasus
(72,7%) berhasil dan 6 kasus (27,3%) tidak berhasil, sedangkan
8 kasus langsung dilakukan tindakan operatif tanpa "reduksi
konservatif.
Tabel7. Distribusi hernia inguinalis lateralis inkarserata di RSU Dadi
berdasarkan
keberhasilan
terapi
"reduksi
konservatir"
(1988
­
1991)
Tahun
"Reduksi konservatir'*
88 89 90 91
Jumlah %
Berhasil
Tidak berhasil
4
2
3
2
4
1
5
1
16
6
72,7
27,3
Jumlah 6
5
5
6
22
100
Sumber : Data sekunder yang diolah
* Redukri konservatif dengan cara Pieter dan Syamsuhidayat
background image
54
8) Distribusi hernia inguinalis lateralis inkarserata ber-
asarkan lamanya terapi "reduksi konservatif'
Lamanya "reduksi konservatif' umumnya adalah 4 ­ 6 jam
(56,3%).
Tabel 8. Distribusi lamanya "reduksi konservatir' pada hernia inguinalis
lateralis inkarserata di RSU Dadi (1988 ­ 1991)
Lamanya "reduksl konservatir'
Jumlah
%
2 ­ 4jam
4 ­ 6 jam
6 ­ 8 jam
4
9
3
25
56,3
18,7
Jumlah 16
100
Sumber : Data sekunder yang diolah
Tabel 9. Hubungan antara lama perawatan dengan Jails tindakan pada
hernia
ingulnalis
lateralis inkarserata di RSU Dadi (1988­1991)
Hernia inkarserata
Lamanya perawatan
"Reduksi konservatir' berhasil
Operasi
7­ 14 hari
> 14 hari
6
10
7
1
Jumlah 16
8
Sumber : Data sekunder yang diolah
Pada Tabel 9 terlihat bahwa tidak ada hubungan antara
lamanya perawatan dengan tindakan operasi yang dilakukan.
10) Distribusi isi kantong hernia
Pada waktu operasi, kantong hernia sebagian besar kosong
(52,7%); sedangkan yang berisi, sebagian besar adalah usus
halus (29,4%) masih vital (Tabe110).
Tabel 10. Distribusi isi kantong hernia pada kasus-kasus hernia inguinalis
yang dioperasi di RSU Dadi (1988 -1991)
Isi kantong hernia
Jumlah
%
Usus halus
Omentum dan ileum
Ileum dan valvula iliocaecal
Caecum dan appendiks
Kosong
35
10
2
3
45
36,8
10,5
2,1
3,2
47,4
Jumlah 95
100
Sumber : Data sekunder yang diolah
DISKUSI
Hernia inguinalis merupakan kelainan bedah anak yang
paling sering dijumpai, terbanyak pada anak laki-laki; ada yang
melaporkan perbandingan laki-laki dan wanita 9 : 1
(7)
. Pieter dan
Syamsuhidayat menyimpulkan bahwa 93,4% hernia terdapat
pada laki-laki dan 6,6% pada wanita
o
). Beberapa penulis lain-
nya menuliskan antara 15­20% pada wanita dan 80­85% pada
laki-laki. Gambaran ini tampak dari hasil penelitian kami di-
mana 78,9% didapatkan pada laki-laki dan 21,1% pada wanita
(Tabel 1).
Hernia terutama terjadi pada tahun pertama kehidupan;
pada masa tersebut bayi bertambah besar dan kuat menangis
serta lebih sering mengejan. Sampai menjelang lebih satu tahun
angka ini relatif tinggi kemudian akan menurun
(8,9,10,11)
. Pada
penelitian ini kelompok umur 0 ­ 1 tahun jumlah kasus 40
(42,1%), pada kelompok umur 1 ­ 3 tahun 23 kasus (24,2%).
Perbandingan antara hernia inguinalis lateralis kanan, kiri
dan bilateral adalah 60% : 25% : 15%
(6,10,12)
.
Dan angka per-
bandingan tersebut dapat dilihat bahwa hernia inguinalis kanan
lebih banyak/sering terjadi, hal ini disebabkan karena adanya
kelambatan descensus testis yang kanan. Dalam penelitian ini
juga didapatkan 52,6% kasus hernia inguinalis dextra, 36,8%
pada yang kiri dan 10,6% bilateral (Tabel 3).
Kasus hernia inguinalis yang inkarserata terjadi kira-kira
10 -15% dari seluruh kasus hernia pada anak
(2,5,7)
, sedangkan di
RSCM, 39,7% dari 446 kasus hernia pada anak
(8)
. Dari Tabel 4
didapatkan bahwa 31,6% hernia inguinalis pada anak terjadi
inkarserasi, hal ini menunjukkan angka yang bervariasi.
Insidens inkarserasi tertinggi pada umur tahun pertama
kehidupan, hal ini sejalan dengan tingginya kasus hernia pada
umur tersebut
(2,8,9)
, dalam tabel 5 juga tampak hal yang sama
50% pada umur 0 ­ 1 tahun.
Pada penelitian di RSCM tentang hernia inkarserata dida-
patkan bahwa pada umumnya penderita mencari pertolongan
dokter setelah mengalami inkarserasi selama 1 hari
(8)
. Pada
penelitian ini juga didapatkan hal yang sama (tabel 6); dida-
patkan 66,7% telah inkarserasi selama 1­2 hari; perbedaan ini
mungkin karena faktor sosial ekonomi, tingkat pengetahuan
dan pendidikan orang tuanya.
Keberhasilan reduksi konservatif di RSU Dadi bagi pen-
derita hernia inguinalis inkarserata adalah 72,7% (tabel 7). Dan
kepustakaan yang ada batasan waktu "reduksi konservatif"
adalah 4 ­ 5 jam, pada penelitian ini 80% dapat dicapai antara
2 ­ 6 jam (tabel 8); bila tidak berhasil segera dilakukan
pembedahan mengingat safe period tidak dapat dijamin
(8,9,10)
.
Pada bayi dan anak-anak isi kantong hernia yang
terbanyak ditemukan adalah usus halus, sedangkan omentum
jarang mengingat omentumnya masih pendek
(2,5,8,11)
. Hal ini
tampak pada tabel 10 dimana isi kantong 36,8% adalah usus
halus, sedangkan kantong hernia yang kosong terutama pada
kasus-kasus elektif.
Pengobatan hernia inguinalis lateralis pada anak-anak
adalah operasi. Pada hernia inguinalis lateralis inkarserata
dapat dilakukan tindakan konservatif sebellim operatif.
Lamanya perawatan penderita pre operatif dan postoperatif
berdasarkan indikasi medis. Kenyataannya masa perawatan
dapat pula memanjang karena masalah administratif.
Teknik operasi yang dilakukan adalah dengan melakukan
insisi kulit sesuai lipatan kulit dan di antara anulus externus dan
internus dengan insisi kira-kira 4 ­ 5 cm. Kemudian membuka
aponeurosis m. obliquus externus untuk membuka anulus exter-
nus sampai tampak canalis inguinalis dengan mengidentifikasi
n. ileo inguinalis, kemudian dengan memisahkan m. cremaster
background image
55
dan fascia spermaticus intema kemudian mencari kantong hernia
pada ventromedial dari funiculus spermaticus. Dilakukan ligasi
tinggi kantong hernia dengan 5­0 atau 4­0 vicryl, perdarahan
dikontrol dengan kauterisasi dan kulit dijahit dengan prolen
secara interrupted suture.
RINGKASAN
Telah dilakukan evaluasi kasus-kasus hernia inguinalis
lateralis pada anak yang dirawat di RSU Dadi Ujung Pandang
dengan hasil :
1) Terbanyak pada laki-laki.
2) Sering pada kelompok umur 0 ­ 1 tahun.
3) Lokasi
yang terserang adalah yang kanan.
4) Reponibilis
terbanyak
74,1%.
5) Inkarserata tersering antara umur 0 -1 tahun.
6) Reduksi konservatif cukup adekuat pada hernia inguinalis
yang inkarserata.
KEPUSTAKAAN
1. Nyhus LM, Bomheck CT. Hernia. Sabiston Textbook of Surgery, 13thed,
Igaku-Shoin/Saunders; 1986. hal 1231­1251.
2. RaffensplengerJG. Inguinal Hernia. Swenson
'
s Pediatrics Surgery 4th ed,
Appleton Century ­ Crofts Inc. 1980. hal. 108-119.
3. Read RC. The Development of Inguinal Herniorthrophy, Surg Clin North
Am 1984; 64: 185­95.
4. Wooley MM. Inguinal Hernia. In: Pediatrics Surgery 3rd ed. Chicago,
London: Year Book Medical Publ 1979 vol. 2; 815­825.
5. Rickhan PP. Incarcerated Inguinal Hernia. Neonatal surgery, 2nd ed.
London ­ Boston: Butterworths 1978.301­307.
6. Thorex P. Hernia, Surgical Diagnosis. 2nd ed. Philadelphia: J.B.
Lippincott Co 1962, 356-373.
7. Cox JA. Inguinal hernia of children. Surg Clin North Am 1985; 65: 1332­9.
8. PieterJ, Syamsuhidayat. Hernia Inkarserata, beberapa segi tentang reduksi
konservatif pada bayi dan anak, Ropanasuri, 1969; 1: 34-40.
9. Berliner SD. An approach to groin hernia. Surg Clin North Am 1984; 64:
197­213.
10. Madden JL. Hernia, Atlas of technics in surgery. 2nd ed, Appleton Century
Crofts Inc th 1964, Vol 1. hal 58­84 and 104-112.
11. White JJ, Hailer JA, Dorst JP. Congenital inguinal hernia and inguinal
hernioraphy, Surg Clin N Am 1970; 50: 823­37.
12. Gross RE. Inguinal Herniorhaphy, An atlas of children's surgery. Philadel-
phia, London, Toronto: W.B. Saunders Co 1970, hal 66-69.
More haste, less speed ­ to be in a hurry often delays work