TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Efek Akupunktur
pada Osteoartritis Lutut
Dr. Mitzy Dharmawirya
KSMF Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
ABSTRAK
Osteoartritis merupakan kelainan sendi yang paling banyak dijumpai. Selain
menyebabkan nyeri pada lutut juga menghambat aktivitas sehari-hari. Beberapa upaya
telah dilakukan untuk mengatasi keadaan ini yaitu dengan diet, pemberian obat-obatan,
terapi fisik dan pembedahan. Tetapi hasil yang didapat kurang memuaskan. Dari
berbagai laporan didapatkan bahwa pengobatan osteoartritis lutut dengan akupunktur
memberi hasil yang cukup memuaskan.
PENDAHULUAN
Osteoartritis merupakan kelainan sendi non inflamasi me-
ngenai sendi yang dapat digerakkan, terutama sendi penumpu
berat badan. Kelainan ini bersifat progresif lambat dan tidak
diketahui penyebabnya
(1,2)
.
Dari beberapa kelainan sendi, osteoartritis merupakan
kelainan sendi yang paling banyak dijumpai. Di Bagian Rema-
tologi RSCM prevalensinya 56,7%. Dengan meningkatnya
usia prevalensi kelainan ini meningkat pula.
Osteoatritis lutut menyebabkan nyeri pada sendi lutut dan
daerah sekitarnya
(3,4,5)
. Nyeri akan bertambah jika melakukan
kegiatan yang membebani lutut seperti berjalan, naik turun
tangga, berdiri lama. Gangguan tersebut mulai dari yang paling
ringan sampai yang paling berat sehingga penderita tidak bisa
berjalan
(2,4)
.
Penatalaksanaan osteoartritis lutut meliputi diet, pem-
berian obat-obat analgetik dan anti inflamasi non steroid,
kortikosteroid, terapi fisik dan pembedahan
(6,7)
. Terapi fisik
bertujuan untuk memperbaiki gangguan fungsional penderita,
mengurangi ketergantungannya pada orang lain dan me-
ngurangi nyeri. Perbaikan pada terapi tersebut dapat mencapai
10-25% pada rehabilitasi selama 2-4 bulan dan bertahan
sampai 8 bulan setelah rehabilitasi
(2)
. Obat-obatan umumnya
hanya bersifat simptomatis untuk mengurangi nyeri dan
inflamasi, jika pemberian obat dihentikan keluhan akan timbul
kembali
(8)
.
Menurut ilmu akupunktur, osteoartritis lutut dapat di-
golongkan dalam sindroma Pi. Pengobatan berupa penjaruman
dan pemanasan dengan moksa sehingga aran Ci dan Sie
menjadi lancar kembali
(9,10)
.
Angka keberhasilan akupunktur berkisar antara
79,04%-93,92%.
TINJAUAN SECARA ILMU KEDOKTERAN BARAT
Definisi
Osteoartritis merupakan kelainan sendi non inflamasi me-
ngenai sendi yang dapat digerakkan terutama sendi penumpu
berat badan dengan gambaran patologis karakteristik berupa
memburuknya rawan sendi, sebagai hasil akhir perubahan bio-
kimiawi, metabolisme, fisiologis dan patologis secara serentak
pada jaringan hialin rawan, jaringan subkondral dan jaringan
tulang yang membentuk persendian
(1,5)
.
Klasifikasi
Menurut penyebabnya dibagi atas :
1) Osteoartritis Primer jika penyebabnya tidak diketahui
2) Osteoartritis Sekunder, dapat disebabkan karena kelainan
kongenital, penyakit metabolik, trauma, inflamasi, penyakit
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000 45
endokrin dan degenerasi
(5,11)
.
Menurut distribusinya dibagi atas :
1) Osteoartritis Perifer, dapat terjadi bilateral (85%) atau
monoartikuler (10%). Biasanya mengenai sendi lutut (75%),
tangan dan jari-jari (60%), kaki (40%), panggul (25%), bahu
(15%)
(5,11)
.
2) Osteoartritis Spinal : Biasanya mengenai daerah lumbal
(30%) dan cervical (20%)
(5,11)
.
Faktor Predisposisi
1) Umur
Prevalensi osteoartritis makin meningkat dengan ber-
tambahnya umur
(2,12)
.
2) Jenis kelamin
Di bawah umur 45 tahun frekuensi timbulnya osteoartritis
pada ke dua jenis kelamin sama, sedangkan di atas 50 tahun
lebih banyak dijumpai pada wanita. Wanita dua kali lebih
banyak terkena osteoartritis lutut daripada laki-laki
(1,13)
.
3) Kegemukan
Sebagian besar pasien osteoartritis mempunyai berat rata-
rata di atas normal
(2)
.
4) Trauma
Pekerja yang banyak membebani sendi lutut akan mem-
punyai risiko terserang osteoartritis lebih besar dibandingkan
dengan pekerja yang tidak banyak membebani lutut
(2)
.
5) Genetik
6) Penyakit endokrin
Hipotiroidisme dan diabetes melitus dapat menyebabkan
timbulnya osteoartritis
(1,13)
.
7) Deposit pada rawan sendi
Seperti pada hemokromtatosis, penyakit Wilson,
okronosis
(1)
.
Patogenesis
Sampai saat ini masih belum jelas, karena banyak faktor-
faktor penyebab atau faktor-faktor predisposisi yang mem-
pengaruhinya.
Perubahan-perubahan yang terjadi yaitu :
a) Kerusakan tulang rawan sendi
Dalam keadaan normal matrix tulang rawan berisi lebih
kurang 80% air, 3,6% proteoglikan, 15% kolagen dan sisanya
mineral dan zat-zat organik lain serta kondrosit yang berfungsi
membentuk kolagen dan proteoglikan
(12)
. Kadar kolagen dan
proteoglikan ini yang menentukan agar matrix tulang rawan
berfungsi baik yaitu sebagai penahan beban dan peredam
kejut.
Pada tahap awal kerusakan tulang rawan, terjadi pe-
nurunan kadar proteoglikan sedangkan kadar kolagen masih
normal. Hal ini terjadi karena proses destruksi melebihi proses
produksinya sehingga permukaan tulang rawan menjadi lunak
secara lokal. Juga kadar air menurun sehingga warna matrix
menjadi kekuningan dan timbul retakan dan mulai terbentuk
celah
(1,13)
.
Tahap kedua, celah makin dalam tetapi belum sampai ke
perbatasan daerah subkondral. Jumlah sel rawan mulai me-
nurun, begitu juga kadar kolagen.
Tahap ketiga, celah makin dalam sampai ke daerah sub-
kondral. Kista dapat menjadi sangat besar dan pecah sehingga
permukaannya menjadi tidak teratur.
Tahap keempat, serpihan rawan sendi yang terapung
dalam cairan sendi akan difagosit oleh sel-sel membran sinovia
dan terjadilah reaksi radang. Sementara itu kondrosit mati,
proteoglikan dan kolagen tidak diproduksi lagi.
b) Pembentukan
osteofit
Ada beberapa hipotesis mengenai pembentukan osteofit :
1) Akibat proliferasi pembuluh darah di tempat rawan sendi
berdegenerasi.
2) Akibat kongesti vena yang disebabkan perubahan sinusoid
sumsum yang tertekan oleh kista subkondral.
3) Akibat rangsangan serpihan rawan sendi, maka akan tim-
bul sinovitis sehingga tumbuh osteofit pada tepi sendi, pada
perlekatan ligamen atau tendon dengan tulang
(1,2)
.
Gambaran klinik dan radiologik
Gejala klinik yang paling menonjol adalah nyeri yang
menghebat pada saat bangun tidur dan sore hari juga bila
banyak berjalan, naik dan turun tangga atau bergerak tiba-tiba.
Gejala lain adalah kaku sendi yang biasanya timbul pagi
hari atau setelah istirahat, lamanya tidak lebih dari 30
menit
(1,2,13)
. Selain itu juga ditemukan krepitus, pembengkakan
sendi, nyeri tekan, rasa panas lokal, terbatasnya pergerakan
dan pada keadaan yang lanjut dapat terjadi deformitas sendi.
Gambaran radiologik osteoartritis dapat berupa :
·
Pembentukan osteofit pada tepi sendi
·
Penyempitan celah sendi akibat penipisan rawan sendi
·
Kista dengan dinding sklerotik pada daerah sunkondral
·
Perubahan bentuk ujung tulang
Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan osteoartritis lutut adalah untuk
menghilangkan nyeri dan radang menstabilkan sendi lutut dan
meringankan beban sendi lutut. Penatalaksanaan sebaiknya di-
lakukan pada stadium dini, terutama sebelum terjadi defor-
mitas sendi
(1,2)
.
Untuk meringankan beban sendi lutut, maka dalam
aktivitas sehari-hari ada beberapa hal harus diperhatikan antara
lain jangan memilih olahraga berjalan atau jogging tetapi
berenang atau bersepeda. Hindari naik atau turun tangga bila
mungkin, duduk lebih baik daripada berdiri, duduk di kursi
yang lebih tinggi lebih baik daripada kursi yang rendah,
hindari berlutut atau berjongkok
(2)
.
Terapi fisik memegang peranan sangat penting. Latihan
otot yang teratur akan memperbaiki gangguan fungsional
penderita, mengurangi ketergantungan pada orang lain dan
mengurangi nyeri. Terapi pemanasan dapat dilakukan dengan
cara : diatermi, ultra sound, sinar infra merah dan sebagainya.
Pemanasan selama 15-20 menit dikatakan cukup efektif untuk
mengurangi nyeri dan kaku sendi
(2)
.
Obat-obatan umumnya hanya bersifat simptomatik untuk
mengurangi nyeri. Pada tahap awal dapat dicoba dengan
analgetik sederhana, bila tak ada perbaikan dapat diberikan
anti inflamasi non steroid.
Pada keadaan lanjut dengan nyeri yang persisten, ganggu-
an tangan yang berat dan deformitas sendi maka tindakan
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000
46
pembedahan dapat dipertimbangkan yaitu dapat hanya osteo-
tomi sampai tindakan artroplasti maupun artrodesis.
(2,14)
TINJAUAN MENURUT ILMU AKUPUNKTUR
Menurut Ilmu Kedokteran Cina semua jenis artritis
digolongkan dalam sindrom Pi. Yang dimaksud dengan
sindrom Pi adalah suatu keadaan obstruksi Ci dan Sie dalam
meridian dan kolateral-kolateralnya yang disebabkan oleh
invasi faktor-faktor patogen seperti angin, dingin dan lembab
sehingga menimbulkan keluhan nyeri, rasa tebal, rasa berat
pada anggota gerak dan sendi dan terbatasnya gerak.
(10,15-18)
Etiologi dan Patofissiologi
Jika daya tahan tubuh menurun maka faktor-faktor luar
akan menjadi patogen dan bila masuk ke dalam tubuh maka
akan menyebabkan obstruksi aliran Ci dan Sie dalam meridian
dan kolateral-kolateralnya.
(1,10,15)
Bila faktor angin lebih
dominan dari faktor-faktor lain maka akan mengikuti sifat
angin yang bergerak, penyumbatan dalam meridian berpindah-
pindah, sehingga terjadi Pi bergerak. Jika faktor penyebab
lebih dominan maka akan mengikut sifat lembab, yaitu berat
dan mengendap, penyumbatan dalam meridian tertentu dan
menetap sehingga terjadi Pi menetap. Bila faktor dingin lebih
dominan maka penyumbatan meridian akan disertai pembeku-
an Ci dan Sie dan meridian akan mengerut, sehingga timbul
rasa nyeri yang hebat dan terjadi Pi nyeri.
(9,10,15)
Kondisi tubuh manusia juga berbeda-beda, ada tubuh yang
memiliki Ci yang tinggi serta adanya akumulasi panas dalam
tubuh. Jika terjadi invasi faktor-faktor angin, dingin, dan
lembab maka faktor-faktor patogen tersebut di dalam tubuh
akan berubah menjadi panas, sehingga terjadi Pi panas.
(9,10)
Atau panas dari luar bersama faktor-faktor patogen lain masuk
ke dalam tubuh juga menyebabkan terjadinya Pi panas.
(9,15)
Klasifikasi
1) Berdasarkan etiologinya, dibagi atas : Pi angin, Pi dingin,
Pi lembab, Pi panas.
(9,15,16)
2) Berdasarkan manifestasinya dibagi atas : Pi bergerak, Pi
nyeri, Pi menetap.
3) Berdasarkan jaringan yang terkena dibagi atas: Pi kulit, Pi
tendon; Pi otot, Pi pembuluh darah, dan Pi tulang.
(1,15)
Gejala
Gejala utama pada sindrom Pi adalah nyeri, nyeri yang
terjadi bermacam-macam tergantung dari penyebabnya, rasa
baal, terbatasnya gerak fleksi dan ekstensi, pembengkakan dan
perubahan bentuk persendian serta kulit menebal dan berubah
warna
(18)
.
Sindrom Pi angin
Menyebabkan terjadinya Pi bergerak. Nyeri sendi ber-
gerak ke atas ke bawah, ke kiri ke kanan mengikuti topografi
meridian yang terkena. Kualitas nyerinya juga berubah-ubah
kadang-kadang nyerinya tajam, kadang-kadang pedih, kadang-
kadang seperti tertekan dan sebagainya
(15)
. Juga disertai panas
dingin, selaput lidah tipis, lengket, nadi dangkal dan lambat.
Sindrom Pi dingin
Menyebabkan terjadinya nyeri karena faktor dingin
mengakibatkan meridian mengerut sehingga timbul nyeri yang
hebat. Nyeri akan bertambah jika kena dingin atau beristirahat,
dan berkurang jika dihangatkan atau digerakkan. Keadaan
lokal tidak merah dan tidak panas. Selaput lidah tipis, putih,
nadi tegang dan mengambang.
Sindrom Pi lembab
Menyebabkan terjadinya Pi menetap, rasa nyeri menetap
pada sendi tertentu dan disertai baal, perasaan berat pada
anggota gerak. Nyeri bertambah jika cuaca berawan dan hujan.
Selaput lidah putih lengket dan nadi halus.
Sindrom Pi panas
Menimbulkan nyeri yang disertai tanda-tanda radang
lainnya yaitu merah, bengkak, pada perabaan panas dan sukar
digerakkan. Demam, rasa haus, tendon dan tulang nyeri. Dapat
mengenai satu atau beberapa sendi. Selaput lidah kuning, nadi
cepat dan licin.
Sindrom Pi kulit :
Kulit terasa baal disertai sensasi dingin
Sindrom Pi otot :
Otot terasa nyeri, pegal yang hebat dan baal.
Sindrom Pi tendon :
Tendon terasa nyeri, kejang dan kaku.
Sindrom Pi pembuluh darah :
Timbul rasa nyeri akibat pembuluh darah mengerut.
Sindrom Pi tulang :
Nyeri, pegal pada tulang dan sendi, baal, terasa berat pada
anggota gerak, kaku sehingga sulit digerakkan.
Pengobatan
Prinsip pengobatan sindrom Pi menurut ilmu akupunktur
tradisional adalah untuk memperlancar aliran Ci dan Sie dan
menghilangkan obstruksi pada meridian dan kolateral-
kolateralnya. Pengobatan dapat dilakukan dengan penjaruman
dan moxibusi pada titik-titik di sekitar persendian yang tekena
atau titik ahse dan titik-titik pada meridian yang melalui
daerah nyeri
(15)
.
Pada osteoartritis lutut faktor yang lebih dominan adalah
faktor dingin dan lembab. Pada sindrom Pi dingin dilakukan
penjaruman dengan moksibusi, pada sindrom Pi menetap
dengan jarum penghangat atau moksibusi
(9,10)
. Pada sindrom
yang dibagi menurut jaringan yang terkena, osteoartritis lutut
termasuk dalam Pi tulang. Untuk Pi tulang dilakukan pen-
jaruman dan moksibusi atau dengan jarum panas atau dengan
jarum kulit dan kop
(10)
.
Titik-titik di sekitar lutut yang sering dipakai adalah Hao
Ting (extra), Tu Pi (III,35), Ci Yen medial (extra), Yang Ling
Cuen (XI,34), Yin Ling Cuen (IV,6), Sie Hai (IV, 10), Wei
Cung (VII,54). Untuk mennghilangkan faktor lembab dipakai
titik Yin Ling Cuen (IV,9) dan Fung Lung (III, 40). Untuk
nyeri umum pada tungkai bawah bagian medial dipakai San
Yin Ciao (IV,6) dan Sien Cung (XI, 39) untuk sebelah lateral.
Menurut Tse,dkk, untuk Pi nyeri dipakai titik tambahan
Sen Su (VII, 23) dan untuk Pi menetap Pi Su (VII, 20).
Menurut Cheng untuk Pi nyeri dipakai Sen Su (VII, 23) dan
Koan Yen (XIII,4), untuk Pi menetap dipakai Cu San Li (III,
36), Sang Ciu (IV,5), untuk Pi tulang dipakai Sien Cung
(XI,39) dan Ta Su (VII, 11).
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000 47
Cara lain yang dapat dipakai adalah akupunktur, dengan
menyuntikkan cairan Tan Kui 0,5-1 ml, atau prokain 0,5% 1-5
ml setiap kali, 5-10% glukosa atau garam fisiologis atau
vitamin B1. Suntikan diulang setiap 1-3 hari sekali, l seri peng-
obatan 10 kali suntikan.
6.
Herri S. Obat-obatan pada penyakit rematik Simposium Rematik, 1989;
49-59.
7. Isbagio H. Osteoartritis. Sub Bagian Rematologi Ilmu Penyakit Dalam
FKUI/RSCM, Jakarta: 1986 ; 1-13.
8.
Dessain PMD. Efficacy and Toleration of Piroxicam in General Practice
; 76-81.
Akupunktur telinga, pada daerah sendi lutut, simpatetik
dan shen men, 1-2 hari sekali, 1 seri terdiri dari 10 kali
pengobatan
(16,19)
.
9.
Tse CS, Wangsa S, Wiran S. et al. Ilmu Akupunktur. Edisi ke 2, Jakarta :
Bagian Akupunktur RSCM, 1983 ; 337-40.
10. Cheng XN (Ed). Chinese Acupuncture and Moxibustion, edisi pertama,
1987 ; 439-42.
Elektro akupunktur dengan frekuensi rendah selama 5-15
menit. Jarum kulit digunakan pada sekitar sendi yang terkena,
dengan bengkak merupakan simpton utama. Juga digunakan
pada daerah yang sesuai dengan segmen di kanan kiri kolumna
vertebralis, cara ini digunakan setiap 3 hari sebanyak 5 kali.
11. Rumawas RT. Osteoartritis dari Segi Neurologi. Dalam : Simposium
Current Issues And Future Prospects In Osteoarthritis. Sub Bagian
Rematologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSCM, 1993; 1-6.
12. Kalim H. Patogenesis den Diagnosis Osteoartritis. Dalam : Simposium
Current Issues And Future Prospect In Osteoarthritis. Sub Bagian
Rematologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSCM, 1993 ; 1-26.
Kop dipakai pada daerah lesi selama 5-10 menit, dapat
dikombinasi dengan jarum kulit setiap 2-4 hari selama 5 kali
pengobatan
(16)
.
13. Lipstate J, Ball GV. Osteoartritis. Dalam : Clinical Rheumatology.
Philadelphia, London, Toronto Mexico City, Rio de Janeiro, Sydney,
Tokyo, Hong Kong : WB Saunders, 1986 ; 304-14.
14. Hilmy CR. Current Trends In The Treatment of Osteoarthritis. Dalam :
Simposium Current Issues And Future Prospects In Osteoarthritis. Sub
Bagian Rematologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSCM, 1993 ; 1-17.
KEPUSTAKAAN
15. Luc V, Sun PL. Bi-Syndromes or Rheumatic Disorders Treated by
Traditional Chinese Medicine. Satas, 1994 ; 1-38, 121-52.
1. Isbagio H, Effendi AZ. Osteoartritis. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi
ke 2, Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 1987; 680-8.
16. Lee JF, Cheung CS. Current Acupuncture Therapy. Hongkong : Medical
Interflow Publ House 1978 ; 274-8.
2.
Setyohadi B. Osteoartritis sendi lutut; 4-16.
3.
Cushnaghan, Dieppe P. Study of 500 patients with limb joint
osteoartritis. Analysis by age, sex and distribution of symptomatic joint
sites, 1990; 8-13.
17. Lewith GT, Lewith NR. Modern Chinese Acupuncture. Thorsons Publ
Ltd, 1980 ; 52-4.
18. Low R. The Acupuncture Treatment of Musculo Skeletal Conditions.
Wellingborough, Northamptonshire, Thorsons Publishing Group, 1987 ;
15-25.
4.
Nasution AR, Isbagio H, Padang C. Osteoartritis, Sub bagian Rematologi
Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM; 7-22.
5. Moll JMH. Osteoartritis. Rhematology in Clinical Practice, Oxford
London Edinburg Boston, Palo Alto, Melbourne: Blackwell Scient Publ,
1987 ; 331-45.
19. Connor OJ, Bensky D (eds). Acupuncture, A Comprehensive Text. First
ed, Chicago Eastern Press, 1981; 606-8.
Di Spanyol (wilayah Selatan) tahun 1991-1995
Pernah tidak setetespun turun hujan !
Hingga keluar peraturan....."pembatasan mandi". Bayangkan......!
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000
48