background image
Distribusi Geografis Pola Resistensi
Salmonella terhadap Khloramfenikol
dan Antibiotik Pilihan Lainnya
di Daerah Jakarta dan Palembang
Pudjarwoto Triatmodjo
Pusat Penelitian Penyakit Menular Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
RINGKASAN
Untuk mengethui pola resistensi Salmonella di berbagai daerah terhadap antibiotik,
telah dilakukan uji resistensi isolat Salmonella yang berasal dari pendefita gastroenteritis
di Jakarta dan Salmonella dari penderita demam typhoid di Palembang terhadap 5 jenis
antibiotik yaitu Khloramphenikol dengan potensi disk sebesaz 30 µg, Kanamisin 30 µg,
Ampisilin 10 µg, Tetrasiklin 30µg dan Kotrimoxazol 25 µg. Uji resistensi ini dilakukan
secara in-vitro dengan cara Disk Diffusion (Kirby-Bauer, 1966).
Hasil pengujian menunjukkan, untuk daerah Jakarta tingkat resistensi Salmonella
paling rendah terjadi pada antibiotik Kotrimoxazol sebesar 5,0% dan Kanamisin 12,5%.
Terhadap 3 jenis antibiotik yang lain yaitu Khloramphenikol, Ampisilin dan Tetrasiklin
tingkat resistensi Salmonella mencapai 20,0% ke atas. Ini berarti Kotrimoxazol dan
Kanamisin adalah dua jeni
g
antibiotik yang paling efektif untuk Salmonella khususnya di
Jakarta. Untuk daerah Palembang umumnya ke lima jenis antibiotik yang diujikan di sini
masih cukup efektif terhadap Salmonella. Namun di antara ke lima jenis antibiotik
tersebut yang paling efektif adalah Kanamisin dan Ampisilin karena tingkat resistensi
Salmonella terhadap kedua jenis antibiotik masih 0,0%. Sedangkan terhadap Kotri-
moxazol, Khloramphenikol dan Tetrasiklin tingkat resistensinya antara 5,0% -- 6,6%.
Kejadian multiresisten dalam pengujian ini menunjukkan bahwa 5,0% isolat Sal-
monella di Jakarta bersifat multiresisten terhadap 5 jenis antibiotik yaitu terhadap
Khloramphenikol, Tetrasiklin, Ampisilin, Kanamisin dan Kotrimoxazol. Di Palembang
5,0% isolat Salmonella bersifat multiresisten terhadap dua jenis antibiotik yaitu terha-
dap Khloramphenikol dan Kotrimoxazol,1,696 multiresisten terhadap Khloramphenikol
dan Tetrasiklin.
PENDAHULUAN
Infeksi Salmonella dapat muncul sebagai gastroenteritis,
typhus abdominalis dan septikemia
(1)
. Pada gastroenteritis
prevalensi Salmonella bervariasi antara satu daerah dengan daerah
lainnya dan lebih banyak disebabkan oleh infeksi Salmonella
oranienburg, S. krefeld dan S. paratyphi B. Typhus abdomi-
nalis umumnya disebabkan oleh infeksi Salmonella typhi, tapi
dapat juga disebabkan oleh S. paratyphi A, B dan C
(3)
.
Resistensi S. typhi terhadap Khloramphenikol dilaporkan
secara sporadik di beberapa daerah di Indonesia, tetapi persen-
tasenya antara tahun 1975 sampai dengan tahun 1983 tidak
meningkat, dengan derajat sensitivitas terhadap Khloramphe-
nikol sebesar 97,8%, Sulfametaxazol-Trimetoprim 99,0%,
meskipun terhadap Ampisilin sudah menunjukkan resistensi
yang cukup tinggi
(1)
.
Gambaran meningkatnya resistensi suatu mikroba terhadap
background image
antibiotik adalah sejalan dengan usia penggunaan antibiotik
(4)
,
peningkatan resistensi ini dipercepat akibat penggunaan anti-
biotik yang tidak tepat dalam hal indikasi, dosis, dan lama terapi.
Oleh karena itu test sensitivitas organisme yang mempunyai
kecenderungan untuk resisten seperti halnya Salmonella sangat-
lah penting. Pola kuman dan sensitivitasnya dapat bervariasi
pada waktu dan tempat yang berbeda sehingga perlu dilakukan
surveilans resistensi secant berkala, baik dalam skala lokal,
nasional maupun internasional. Hal ini dimaksudkan untuk ber-
bagai kepentingan, antara lain ialah untuk meningkatkan kuali-
tas penulisan resep dokter, mempengaruhi kebijakan pengguna-
an antibiotik di Rumah Sakit, membantu pemerintah dan swasta
untuk membuat kebijakan dalam suplai dan promosi antibio-
tik
(4,5,6)
.
Untuk menambah
-
informasi mengenai pola resistensi Sal-
monella secara geognlfrs terhadap beberapa jenis antibiotik
pilihan, claim makalah ini disajilcan data basil penelitian uji
resistensi isolat Salmonella yang berasal dari daerah Jakarta dan
Palembang terhadap 5 jenis antibiotik pilihan untuk Salmonella
yaitu Khloramphenikol, Tetrasiklin, Ampisilin, Kanamisin dan
Kotrimaxazol (Sulfametaxazol-Trimetoprim). Uji resistensi ini
dilakukan secara Disk Diffusion (Kirby Bauer, 1966), sifatnya
Walsh in-vitro. Cara ini tidak memberi keterangan tentang kadar
that yang dibutuhkan in-vivo, tetapi memberikan petunjuk ter-
hadap pemilihan obat secara tepat.
BAHAN DAN CARA
1)
Cara mendapatkan isolat Salmonella
Isolat Salmonella yang akan diuji resistensinya terhadap
antibiotik diperoleh dari basil isolasi sampel rectal swab yang
berasal dari penderita gastroenteritis dan sampel darah vena (5
ml) dari penderita demam tifoid. Terhadap sampel-sampel ter-
sebut dilaakukan identifikasi Salmonella dengan melalui 3 cara
pemeriksaan yaitu plating media (penanaman sampel pada media
perbenihan), test biokimia dan test serologi. Isolat Salmonella
yang diperoleh dari penderita gastroenteritis (diare) merupakan
isolat Salmonella yang berasal dari penderita gastroenteritis yang
berobat ke beberapa rumah sakit di Jakarta. Isolat Salmonella
dari penderita demam tifoid berasal dari sampel darah dari
penderita demam tifoid yang berobat ke Rumah Sakit Pertamina
Plaju, Palembang.
2)
Uji resistensi Salmonella terhadap antibiotik
Lima jenis antibiotik (Product BBL) yang diujikan secara
disk diffusion dalam penelitian ini adalah khloramphenikol
dengan potensi disk sebesar 30 µg, ampisilin 10µg, kanamisin
30 µg, tetrasiklin 30 µg dan kotrimoxazol 25 µg.
Ketentuan mengenai resistensi dan sensitivitasnya didasar-
kan pads besarnya zona bebas bakteri di sekitar disk antibiotik
dengan berpedoman pads National Committee for Clinical
Laboratory Standards (NCCLS, 1976).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari daerah Jakarta telah dapat diperoleh 40 isolat Salmo-
nella dan dari daerah Palembang diperoleh cukup banyak isolat,
tetapi hanya 60 isolat yang dilakukan uji resistensinya terhadap
antibiotik. Distribusi spesies Salmonella untuk daerah Jakarta
meliputi Salmonella typhi , S. paratyphi B dan C serta Salmonella
Group D dan E. Untuk daerah Palembang ditemukan 2 spesies
yaitu Salmonella typhi dan S. paratyphi A (Tabel 1).
Tabel 1. Distribusi species Salmonella pads penderita Gastroenteritis di
Jakarta dan penderita Demam tifoid di Palembang tahun
1987­1989
Jakarta (n = 40)
Palembang (n = 60)
Species Salmonella
Jumlah % Jumlah %
Salmonella typhi
Salmonella paratyphi A
Salmonella paratyphi B
Salmonella paratyphi C
Salmonella Group D
Salmonella Group B
2
0
14
7
4
13
2,0
0,0
35,0
17,5
10,0
32,5
48
12
0
0
0
0
80,0
20,0
0,0
0,0
0,0
0,0
Keterangan : n = Jumlah isolat Salmonella
Di Jakarta prevalensi S. typhi pada gastroenteritis dalam
periode 10 tahun tidak banyak berubah. Tabun 1981/1982 di-
temukan S. typhi sebesar 1,2%, sedangkan penelitian ini men-
dapatkan 2,0%
(2)
. Pada gastroenteritis tidak ditemukan Sal-
monella paratyphi A, tetapi pada kasus-kasus demam tifoid
prevalensi S. paratyphi A cukup menonjol (di Palembang) se-
dangkan S. paratyphi B dan C damn pemeriksaan ini prevalensi-
nya sangat kecil sehingga tidak dilakulcan uji resistensi untuk
isolat tersebut.
Pola resi stensi Salmonella penyebab gastroenteritis di Jakarta dan
penyebab demam tifoid di Palembang dapat dilihat pada Tabel
2 dan 3. Dalam tabel 2 tampak bahwa dun jenis antibiotik yang
masih cukup efektif untuk Salmonella penyebab gastro-enteritis
di Jakarta adalah kanamisin dan kotrimoxazol karena
Tabel 2. Pola resistensi Salmonella penyebab Gastroenteritis di Jakarta
terhadap 5 jenis antibiotik pada pengujian dengan Disk Diffusion
Method, 1989 (n = 40).
Jumlah Isolat redden
Antibiotik/Potensi
n %
Khloramphenikol/30 µg
Tetrasiklird30 µg
Kanamisin/30 µg
Ampisilin/10 µg
Sulfametoxaavl-Trimetoprim/25 µg
8
10
5
7
2
20,0
25,0
12,5
17,5
5,0
Tabel 3. Pola resistensi Salmonella penyebab Demam tifoid di Palembang
terhadap 5 jenis antibiotik pads pengujian dengan Disk Diffusion
Methods, 1989 (n = 60)
Jumlah isolat resisten
Antibtotik/Potenal
n 96
Khloramphenikoy30 µg
Tetrariklird30 its
Kanamisin/30 µg
Ampisilin/10 µg
Sulfametoxazol-Trimetoprim/25 µg
4
3
0
0
3
6,6
5,0
0,0
0,0
5,0
background image
tingkat resistensi Salmonella terhadap kedua jenis antibiotik ter-
sebut masih cukup rendah yakni sebesar 12,5% dan 5,0%. Tiga
jenis antibiotik yang lain yaitu ampisilin, khloramphenikol dan
tetrasiklin efektivitasnya di bawah kanamisin dan kotrimoxazol.
Di sini terlihat bahwa tingkat resistensi Salmonella terhadap.
ampisilin sebesar 17,5%, khlorampheniko120,0% dan tetrasiklin
25,0%. Mengingat tingkat resistensi Salmonella terhadap khlo-
ramphenikol telah mencapai 20,0%, barangkali perlu dipertim-
bangkan kembali kedudukan khloramphenikol yang sampai saat
ini merupakan antibiotik pilihan utama untuk kasus infeksi
Salmonella. Bila dibandingkan dengan tahun 1983, terlihat
penurunan sensitivitas Salmonella terhadap khloramphenikol;
tahun 1983 sensitivitas Salmonella sebesar 97,8%, tetapi tahun
1989 sebesar 80,0%. Jadi telah terjadi penurunan sensitivitas
sebesar 17,8% dalam kurun waktu sekitar 6 tahun.
Berbeda dengan Jakarta, di Palembang antibiotik ampisilin
dankanamisin efektivitasnya terhadap Salmonella paling tinggi
dibandingkan dengan kotrimoxazol, tetrasildin dan khloramphe-
nikol. Dalam uji resistensi ini derajat efektivitas kanamisin dan
ampisilin terhadap Salmonella masih mencapai 100%, sedangkan
kotrimoxazol sebesar 95% (Gambar 1).
Umumnya efektivitas kotrimoxazol terhadap golongan
enterobakteri patogen lebih baik daripada ampisilin seperti hal-
nya di Jakarta dan daerah lain. Tetapi di Palembang terjadi hal
yang sebaliknya, efektivitas ampisilin lebih tinggi daripada
kotrimoxazol. Hal ini diduga disebabkan oleh penggunaan anti-
biotik kotrimoxazol lebih menonjol secara tidak terarah, se-
hingga mempercepat timbulnya resistensi
(7)
.
Kejadian multiresisten yang timbul pada isolat Salmonella
untuk daerah Jakarta dan Palembang tertera pada tabel 4 (untuk
daerah Jakarta) dan tabel 5 (untuk daerah Palembang). Dalam
tabel 4 terlihat bahwa di Jakarta 5,0% isolat Salmonella dalam
pengujian ini bersifat multiresisten terhadap 5 jenis antibiotik
yaitu tetrasildin, ampisilin, kanamisin, khloramphenikol dan
kotrimoxazol. Keadaan ini dapat merisaukan kalangan medis/
klinisi karena bila terjadi outbreak yang disebabkan oleh kuman
tersebut maka tidak ada lagi obat pilihan yang mampu mem-
bunuh kuman secara sempurna sehingga penderita bisa terancam
jiwanya. Kejadian multiresisten pada isolat Salmonella dari
daerah Palembang (tabel 5) belum begitu complicated. Di sini
terlihat bahwa 5,0% isolat Salmonella bersifat multiresisten
terhadap dua jenis antibiotik yaitu terhadap khloramphenikol dan
kotrimoxazol dan 3,3% multiresisten terhadap khloramphenikol
dan tetrasiklin.
Timbulnya resistensi kuman terhadap berbagai jenis antibiotika
terjadi karena adanya superinfeksi akibat penggunaan
Tabel 4. Pola Resistensi Isolat Salmonella yang diperoleh dari penderita
diare di Jakarta terhadap 5 jenis antibiotik dengan cara Disk
Diffusion (Kirby Bauer, 1966) (n = 40)
Multi antlbiotik
Jumlah isolat resisten
96
C, Te, K, Am, SxT
C,Te,K,Am
C, Te, Am
2
1
4
5,0
2,5
10,0
Gambar 1. Diagram resistensi isolat Salmonella (dalam %) yang berasal dari Jakarta dan Palembang
terhadap
5
jenis
antibiotik
tahun
1989
background image
Tabel 5. Pula Resistensi Isolat Salmonella yang berasal dari penderita
demam tifold dl Palembang terhadap 5 jenis antibiotik dengan
cara Disk Diffusion (Kirby Bauer, 1966) (n = 60)
Multi antlbiotlk
Jumiah isolat resisten
96
C, SxT
C, Te
3
1
5,0
1,6
Keterangan : C = Chloramphenieol
Te
=
Tetracyclin
X
=
Kanamrycin
Am
=
Ampicillin
SxT = Sulfametoxazol-Trimetoprim (Kotrimoxazol)
antibiotik secara berlebihan
(5)
. Mekanisme multiresistensi ini
telah dapat diungkapkan oleh beberapa ahli pada tahun 1970
(7)
yang ternyata berlangsung secara genetik, di mana terdapat suatu
segmen DNA bersifat mobil yang disebut R-Plasmid yang dapat
berpindah dari plasmid yang satu ke plasmid yang lain atau dari
plasmid ke khromosom. R-Plasmid sebagai faktor pembawa
sifat resisten mengkode resistensi kuman terhadap antibiotika.
Transfer R-Plasmid di dalam tubuh manusia terjadi karena hi-
langnya flora normal usus akibat penggunaan antibiotik secara
berlebihan. Dalam hubungan ini apakah proporsi penggunaan
antibiotik secara berlebihan di Jakarta lebih besar daripada di
Palembang sehingga multiresistensi yang timbul di Jakarta
menjadi lebih complicated merupakan suatu hal yang sangat
menarik untuk diteliti lebih lanjut.
KESIMPULAN
Distribusi spesies Salmonella untuk penyebab diare di Jakarta
meliputi Salmonella typhi, S. paratyphi B dan C, S. Group D dan
E. Untuk penyebab demam tifoid di Palembang ditemukan
Salmonella typhi dan S. paratyphi A.
Di Jakarta 2 jenis antibiotik yang paling efektif untuk Sal-
monella adalah kotrimoxazol (sulfametoxazol-trimetoprim) dan
kanamisin, sedangkan di Palembang adalah ampisilin dan
kanamisin. Multiresistensi isolat Salmonella di Jakarta lebih
complicated daripada multiresistensi di Palembang. Di Jakarta
multiresistensi isolat Salmonella mencapai 5 jenis antibiotik
yaitu khloramphenikol, kanamisin, ampisilin, tetrasiklin dan
kotrimoxazol, sedangkan di Palembang hanya dua jenis anti-
biotik yaitu terhadap khloramphenikol dan kotrimoxazol.
KEPUSTAKAAN
1.
Anonimous. Performance Standards for Antimicrobial Disk Susceptibility
Test. National Committee for Clinical Laboratory Standards, 1976.
2.
Simanjuntak CH. Aspek mikrobiologi penyakit diare (Review). Proc
Patemuan British Penelitian Penyakit Dice di Indonesia. Badan Penelitian
dan Pergembangan Kesehatan Dep Kes RI. Jakarta. 21­23 Oktober 1982.
Hal: 199-208.
3.
Haeruddin Pagam, Ch. Makaliwy. Demam Tifoid pads Antic di RSU
Ujung Pandang. Medika (Jull)1986;12(7): 622-6.
4.
Gan, R. Setiabudy. Antimikroba. Fannakologi dan Terapi, Edisi III. Pe-
nerbit: Bagian Farmakologi FKUI 1987. Hal: 514-526.
5.
Sudannato P. Kebijakan pemakaian antibiotika dalam kaitannya dengan
resistensi kuman. Mikrobiologi Klinik Indonesia 1986; I: 22-7.
6.
Anonimous. Pilihan antimikroba pads berbagai infeksi. Infornatorium
Obat Generik. Direktorat Jenderal POM, Dep Kes RI, 1989.
7.
Muhario LH. Aspek genetik resistensi kuman. Kumpulan Makalah Sim-
posium Perkembangan Antibiotika pads Penanggulangan Infeksi dan
Resistensi Kuman. Jakarta, 6 September 1986.
8.
WHO. CDD Program for Control Diarrhoeal Diseases. Manual for Labo-
ratory Investigation of Acute Enteric Infection, 1987.
9.
Suparnan dkk. Ilmu Penyakit. Dalam. Jilid I, Edisi II. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI 1987. hal: 32-48.
10.
Rianto Setiabudi. Pemilihan antibiotik secara rational. Maj Farmakol dan
Terapi Indon 1988; 5(1): 29­36.
Kegiatan Ilmiah
October 9­14, 1994 ­ 20th International Congress of the International Academy
of Pathology & 11th World Congress of Academic and
Environmental Pathology
Hong Kong
Information : Congress Coordinator,
Department of Anatomical and Cellular Patho-
logy, The Chinese University of Hong Kong,
Room 38019, 1/F, Prince of Wales Hospital,
Shatin, Hong Kong.