background image
Aspek Sosial Budaya
dalam Pemb
Penyakit Dema
Kot a Mady
erantasan
m
ah di
Berdar
a Pontiana
k, Kalimantan Barat
Kasnod
Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan
Departemen Kes
i
Pen
eh
hardjo
elitian dan Pengembangan Kesehatan,
atan RI, Jakarta
orang, 21 (9,1%) di antaranya meninggal. Pada tahun-tahun
berikutnya hingga tahun 1983 jumlah kasus maupun kematian
cenderung menurun. Namun pada tahun 1985 terjadi letusan
dengan jumlah kasus mencapai 160 penderita, 19 (11,8%) di
antaranya meninggal. Selanjutnya pada tahun 1986 ditemukan
kasus sebanyak 520 penderita, 46 (8,8%) di antaranya me-
ninggal. Kemudian pada tahun 1987 ditemukan kasus sebanyak
112 penderita, 5 (4,1%) di antaranya meninggal (Laporan
Ditjen PPM & PLP, Depkes RI).
Pada hakekatnya penularan dan pemberantasan penyakit
demam berdarah tidak terlepas dari aspek sosial budaya dari
masyarakat yang bersangkutan. Oleh karena itu tulisan ini
membahas masalah sosial budaya dalam kaitannya dengan
upaya pemberantasan penyakit demam berdarah di Kotamadya
Pontianak, Kalimantan Barat. Masalah dari aspek tersebut ter-
utama menyangkut sikap dan perilaku/kebiasaan masyarakat
yang erat kaitannya dengan penularan penyakit demam berdarah;
dengan perkataan lain sikap dan perilaku/kebiasaan masyarakat
yang kurang menunjang upaya pemberantasan penyakit demam
berdarah. Tulisan ini merupakan bagian dari hasil studi tentang
Pengembangan design tempat penampungan air hujan yang
besar rumah dan pekarangan berukuran relatif sedang. Strata
ini diwakili oleh Kelurahan Bangka Belitung, Kecamatan
Pontianak Selatan. Dari kelurahan ini secara proporsional
jumlah responden 33% dari sampel atau 109 orang.
3)
Strata III merupakan daerah pemukiman yang sebagian
besar rumah dan pekarangan berukuran relatif besar. Strata ini
diwakili oleh Kelurahan Sie Bangkong, Kecamatan Pontianak
Bazar.. Dan kelurahan ini secara proporsional jumlah respon-
den 22% dari sampel atau 75 orang.
4)
Strata IV merupakan daerah pertokoan dan pasaz. Strata
ini diwakili oleh Kelurahan Benua Melayu Darat, Kecamatan
Pontianak Selatan. Dan kelurahan ini secara proporsional
jumlah responden 11% dari sampel atau 39 orang.
Besarnya persentase (proporsi) tiap strata didasarkan pada
PENDAHULUAN
Demam berdarah adalah suatu penyakit menular yang di-
tandai demam mendadak, perdarahan baik di kulit maupun
bagian tubuh lainnya, serta dapat menimbulkan shock (renjatan)
dan kematian
(1)
. Penyakit ini terutama menyerang anak-anak
termasuk bayi dan angka kematiannya tergolong tinggi.
Penyebab penyakit demam berdarah adalah virus Dengue
yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau
Aedes albopictus. Penyakit ini biasanya berjangkit di daerah
perkotaan.
Di Kotamadya Pontianak, penyakit demam berdarah per-
tama kali ditemukan pada tahun 1977 yang menyerang 230
mosquito proof untuk mencegah demam berdarah dengue di
Kotamadya Pontianak, Kalimantan Barat tahun 1988.
BAHAN DAN CARA
Dalam studi ini data dikumpulkan melalui wawancara
menggunakan daftar pertanyaan. Wawancara dilakukan dengan
cara mengunjungi rumah responden. Sebagai responden adalah
kepala keluarga (KK) yang diasumsikan mengetahui kebiasaan
anggota keluarganya dan dapat memberikan penjelasan atau
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya.
Jumlah sampel 340 orang, berasal dari 4 daerah strata, yaitu :
1)
Strata I merupakan daerah pemukiman yang sebagian
besar rumah dan pekarangan berukuran relatif kecil. Strata ini
diwakili oleh Kelurahan Benua Melayu, Kecamatan Pontianak
Selatan. Dari kelurahan ini secara proporsional jumlah respon-
den 34% dari sampel atau 117 orang.
2)
Strata II merupalcan daerah pemukiman yang sebagian
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993
58
background image
perhitungan dengan rumus sebagai berikut :
sebagian besar responden (penduduk) kurang sempurna. Arti-
udah ditutup atau dalam keada-
sih bisa masuk dan selanjutnya
al ini terbukti dengan banyak
sarana penampungan air yang
an maupun tempat-
100%
X
sampel
erah
atax
AHASAN
n yang berhasil diwawancarai 340 orang.
mlah ini diharapkan dapat mewakili dan memberikan gam-
ran mengenai aspek sosial budaya masyarakat Kotamadya
ntianak, terutama mengenai sikap dan perilaku/kebiasaan
da
seluruh
KK
Jumlah
str
KK tiap
Jumlah
HASIL DAN PEMB
Jumlah responde
Ju
ba
Po
ang ada kaftan dengan upaya pemberantasan penyakit demam
berdarah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 7,3%
luruh responden bias
air hanya seminggu sekali. Sedangkan 29,8% b
kan sarana penampungan air 2 minggu sekali dan 62,9% biasa
embersihkan sarana tersebut lebih dari 2 minggu sekali
bel 1).
abel 1. Kebiasaan (frekuensi) menguras/membersihkan sarana penam
pungan air
No. Frekuensi
pengurasan
Jumlah
%
y
dari se-
anya membersihkan sarana penampungan
iasa membersih-
m
(ta
T
1
2
1 minggu sekali
2 minggu sekali
ali
24
97
205
7,3
29,8
62,9
3
> 2 minggu sek
Jumlah
326
100,0
Missing data = 14
Gambaran di atas mengenai kebiasaan menguras/member-
sihkan sarana penampungan air menunjukkan bahwa sebagian
besar penduduk belum menunjang upaya pemberantasan pe-
nyakit demam berdarah. Hal ini tentunya akan membantu ber-
kembang biaknya nyamuk Aedes aegypti yang berperan me-
nyebarluaskan virus dengue di dalam masyarakat.
Berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti tidak hanya
karena frekuensi pengurasan sarana penampungan air relatif
kurang, akan tetapi juga disebabkan sarana tersebut tidak kedap
nyamuk. Keadaan demikian boleh jadi karena kondisi sarana
penampungan air kurang sempurna, sehingga nyamuk mudah
masuk. Dengan demikian meskipun sarana penampungan air
selalu dalam keadaan tertutup, akan tetapi nyamuk masih tetap
bisa masuk dan berkembang biak di dalam sarana tersebut.
Nyamuk tidak akan mempunyai kesempatan untuk berkembang
biak jika saranapenampungan air sering dikuras/dibersihkan
dan kedap nyamuk. Kedap nyamuk artinya selalu dalam
keadaan tertutup dan kondisinya sempuma yaitu tidak adacelah
sedikitpun untuk jalan nyamuk.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar
responden (86,0%) selalu menutup sarana penampungan air.
Tabel 2 menggambarkan kebiasaan dalam menutup sarana
penampungan air.
Walaupun sebagian besar menyatakan selalu menutup
sarana penampungan air, namun menutupnya tidak selalu rapat.
Di samping itu, sarana penampungan air yang digunakan oleh
nya, meskipun sarana tersebut s
an tertutup, namun nyamuk ma
berkembang biak di dalamnya. H
ditemukan jentik nyamuk di dalam
dimiliki penduduk, balk di daerah pemukim
tempat umum.
Tabel 2. Kebiasaan menutup sarana penampungan air
No. Kebiasaan
menutup
Jumlah
%
1
Tidak pemah
Tidak selalu
­
48
­
14,0
86,0
2
3
Selalu
292
Jumlah
340
100,0
Hasil survai tentang tempat-tempat perindukan nyamuk
yang dilakukan Direktorat Jenderal PPM & PLP Depkes RI
pada tahun 1986 menunjukkan bahwa Aedes aegypti tersebar
luas dengan densitas tinggi balk di daerah pemukiman maupun
tempat-tempat umum. Tempat umum yang dimaksud dalam
kaitan ini adalah pasar, daerah pertokoan dan sejenisnya. Dan
survai tersebut diketahui bahwa 1 dan 2 rumah penduduk ter-
dapat jentik Aedes aegypti dengan Population Index (PI) = 58,9%
tikAedes
gan yang digunakan oleh penduduk
dan Container Index (CI) = 32,9%; CI di tempat umum = 31,8%.
Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa rata-rata setiap
rumah mempunyai 5 sarana penampungan air. Sarana penam-
ungan air hujan paling banyak mengandung jen
p
aegypti. Bentuk penampun
pada umumnya drum dan tempayan. Sedangkan di tempat
umum adalah bak yang dibuat dari semen. Dan 3 sarana
penampungan air yang menggunakan tutup, ditemukan satu
mengandung jentik Aedes aegypti (CI penampungan air yang
menggunakan tutup = 32,7%).
Untuk segala surat-surat, pergunakan alamat :
Redaksi
Majalah Cermin Dunia Kedokteran
P.O. Box 3105, Jakarta 10002
dan cantumkan
kodepos pada alamat lengkap anda
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993 59
background image
60
ir oleh penduduk
masa penggunaannya relatif cukup lama. Rata-rata digunakan
lebih dari 3 tahun. Berdasarrkan hasil pengamatan dapat dikata-
kan bahwa pada umumnya sarana penampungan air kondisinya
udah tidak sempurna. Hasil wawancara menunjukkan bahwa
ngin mengganti sarana
pena
tersebut, diharapkan tumbuhnya
pera
pa yang telah diuraikan maka dapat disimpulkan
ahwa di Kotamadya Pontianak, Kalimantan Barat sebagian
kaitannya dengan upaya pemberantasan
p
kit d
yak di an
pen-
du k
biasaan mengura
embersihkan sarana
frekuensi pengurasan kurang, pada umumnya
arana penampungan air yang dimiliki oleh penduduk kondisi-
dah tidak sem-
p
lagi
na pen
an air d
kapi
den n tut
m keadaa
utup, keny
a
ny
uk
t masuk dan berkem ng biak di
mnya.
H
ini
inkan penularan pe
it demam
darah
akan terus berlangsung di dalam masyarakat.
Pada umumnya sarana penampungan a
penampungan air lebih dari 2 minggu sekali. Hal ini tentunya
menunjang berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti yang
berperan menularkan penyakit demam berdarah. Kurangnya
frekuensi pengurasan tempat penampungan air memberi ke-
sempatan nyamuk jenis Aedes aegypti berkembang biak di
dalam sarana tersebut.
Di samping
s
sekitar 40% responden menyatakan i
mpungan air yang mereka miliki/gunakan. Kelompok
responden ini menginginkan suatu contoh sarana penampungan
air yang tidak mudah bocor dan kedap nyamuk.
Adanya keinginan tersebut menunjukkan sikap yang positip
terutama terhadap upaya pemberantasan penyakit demam ber-
darah. Dengan sikap positip
s
nya tidak memenuhi syarat kesehatan, karena su
urna
ga
. Meskipun sara
up dan selalu dala
ampung
n tert
ileng
ataanny
am masih dapa
ba
dala
al memungk
nyak
ber
n serta mereka dalam upaya pemberantasan penyakit demam
berdarah, karena secara potensial kecenderungan bertindak/
berperilaku dui seseorang terkandung dalam sikapnya.
KESIMPULAN
Dan a
KEPUSTAKAAN
1.
Suroso T. Demam Berdarah Pencegahan dan Pemberantasannya di Indo-
nesia, Maj. Kes. Mas. Indon. 1984; 15(4).
2.
Departemen Kesehatan RI, Ditjen PPM & PLP, Survai Tempat Perindukan
Aedes aegypti dan Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Masyarakat terhadap
Demam Berdarah dan Pencegahannya di Kodya Pontianak, 1986.
b
besarpenduduknya masih melakukan kebiasaan-kebiasaan yang
kurang positif dalam
enya
emam berdarah. Relatif masih ban
tara
du melakukan ke
s/m
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993