Ekologi Kesehatan :
Air dan Kesehatan
lr. Sri Soewasti Soesanto
Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan Depkes RI.
Air mempunyai peranan penting dalam kehidupan dan
penghidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Air ter-
dapat di alam dalam berbagai bentuk dan mempunyai bcrbagai
kualitas: Meskipun air merupakan sumber daya alam yang
berada dalam siklus, namun jumlah yang langsung dapat di-
manfaatkan manusia sering sangat terbatas. Hal ini antara
lain karena manusia belum memanfaatkan sumber daya air
sebaik-baiknya dan bahkan sering menimbulkan hal-hal yang
mengganggu kelestarian dan mencemarinya.
Banyak penyakit menular dan tidak menular yang ada
hubungannya dengan air, sehingga perlu dilakukan tindakan
pencegahan: Untuk menjaga kelestarian sumber daya air
dan mencegah hal-hal negatif yang dapat timbul melalui air,
pemerintah bersama masyarakat perlu mengambil langkah-
langkah baik yang bersifat preventif, kuratif, rehabilitatif,
represif maupun promotif.
AIR PADA TUBUH MAKHLUK HIDUP
Banyaknya air dalam tubuh manusia rata-rata 65% dari
berat tubuhnya, dan sangat bervariasi antara masing-masing
orang, bahkan juga bervariasi antara bagian-bagian tubuh
dari seseorang: Seorang yang kurus 70% dari berat badannya
terdiri dari air, sedangkan pada wanita yang lebih banyak me-
miliki jaringan lemak (yang hanya sedikit mengandung air),
mungkin hanya 52% saja dari berat badannya berupa air:
Dalam organ tubuh manusia banyaknya air berturut-
turut adalah sebagai berikut. dalam otak 74,5%, tulang 22%,
ginjal 82,7%, otot 75,6% sedangkan dalam darah 83%.
Lebih menarik lagi kalau kita bandingkan banyaknya
air dalam tubuh berbagai jenis binatang: Cacing tanah ternyata
mengandung lebih banyak air dibandingkan dengan udang
laut dan katak yang banyak berada dalam air: Banyaknya air
dalam tubuh kumbang 48%, tikus 65%, ikan 67%, ayam 74%,
katak 78%, udang laut 79%, caeing tanah 80% dan pada ubur-
ubur 95%.
Lebih lanjut akan kita bandingkan banyaknya air pada
sayuran dan buah-buahan, antara lain pada biji hunga mata-
hari hanya 5%, biji jagung 70%, nanas 87% dan tomat 95%:
Biji apel yang hanya mengandung 10% air, bila telah tumbuh
dan berbuah akan menjadi buah yang mengandung 80% air:
Orang yang berat badannya 80 kg, rata-rata mengandung
kurang lebih 55 liter air dalam tubuhnya dan tiap hari ia harus
mcngganti sekitar 3 liter air atau lebih tergantung keadaan
cuaca. Jumlah ini selain dari minuman juga diperoleh dari
makanannya.
Air yang keluar dari tubuh manusia sebagian besar
berupa urin yang 95%-nya terdiri dari air. Di samping itu juga
ada yang ke luar berupa keringat dan uap air pada waktu ber-
nafas. Dalam ginjal air mempunyai tugas yang amat vital
yaitu inembersihkan bahan buangan dari aliran darah. Lima
belas kali sejam, semua darah dalam badan melalui kedua gin-
jal. Tiap hari kurang lebih 2272 liter darah dicuci dan dari
padanya dikeluarkan 2,3 liter bahan buangan berupa urin.
Selebihnya diserap kembali masuk ke aliran darah. Meskipun
salah satu ginjal tidak bekerja, ginjal yang lain akan terus
bekerja mencuci darah. Akan tetapi bila kedua-duanya tidak
bekerja, terjadilah apa yang disebut uremia: Seorang tak dapat
hidup lebih dari tiga minggu dengan darah yang tidak dibersih-
kan. Air pada mata terus menerus mengalir ke luar melalui
kelenjar air mata, untuk memberi pelumas dan membersihkan
mata. Bahan buangan ini masuk ke hidung dan daiam keadaan
normal akan menguap dengan sendirinya: Kelenjar keringat
memakai kurang lebih 0,6 liter air tiap hari untuk mendingin-
kan permukaan kulit
dengan jalan penguapan. Pernafasan
pun niengeluarkan air berupa uap air dari paru-paru.
Dari uraian di atas jelaslah betapa pentingnya fungsi
air dalam tubuh manusia dan makhluk hidup lainnya.
AIR DI ALAM
Air merupakan senyawa kimia yang paling dikenal dan
paling berlimpah-limpah di antara senyawa-senyawa kimia
yang lain, serta terdapat dalam keadaan yang relatif murni
pada permukaan bumi. Oksigen, unsur kimia yang paling ba-
nyak terdapat di alam, bergabung dengan hidrogen sebanyak
89% dalam air.
Air meliputi kurang lebih tiga perempat permukaan
bumi dan merembes masuk celah-celah dan retak-retak tanah:
Daerah kutub tertutup dengan massa es yang luar biasa
jumlahnya, sedangkan atmosfir bumi mcmbawa uap air dalam
jumlah antara 0,1 sampai 2% berat.
Di bumi dan sekitarnya (atmosfir) air dapat dibagi dalam
tiga golongan, yaitu:
(1). Air angkasa (air hujan);
(2)
Air permukaan (sungai, laut, danau, telaga, rawa,
waduk);
(3). Air tanah (air tanah tertekan dan air tanah yang
tidak tertekan);
Air tanah tertekan, yalah air tanah yang dibatasi oleh
dua lapisan kedap air dan mempunyai tekanan naik ke atas, mi-
Cermin Dunia Kedokteran No.19, 1980 47
salnya air sumur artesis dan air bron (spring): Sumur artesis
ada yang positif (airnya menyembur ke atas permukaan tanah)
dan ada pula yang negatif (airnya dapat naik tetapi tidak
sampai mencapai permukaan tanah):
Air tanah tak tertekan, yalah air tanah yang dekat per-
mukaan tanah yang tidak mempunyai tekanan untuk naik,
sehingga harus dipompa atau ditimba, misalnya sumur pompa
dangkal, sumur pompa dalam dan sumur gali:
Dalamnya air tanah tertekan tergantung pada letak la-
pisan kedap air yang membatasinya, dapat sedangkal 30 m
maupun sedalam ratusan meter: Air bron (spring) sebenarnya
juga air tanah tertekan yang muncul ke permukaan tanah:
Air merupakan sumber daya alam yang berada dalam
siklus hidrologis, artinya selalu dapat diperbaharui (renewab-
le): Akan tetapi tidak selalu dalam bentuk dan tidak selalu
mempunyai kualitas yang dapat dipakai manusia secara lang-
sung: Misalnya gunung es di Antartika yang merupakan ca-
dangan air dalam jumlah besar, sangat dibutuhkan oleh pendu-
duk kota-kota yang kekurangan air: Tetapi tentu tidak dalam
bentuk es dan tidak pada letaknya yang sekarang: Air Iaut
yang mengelilingi kepulauan seperti Indonesia berlimpah-
limpah jumlahnya, tetapi rasanya asin dan tidak dapat dipakai
untuk minum maupun pengairan sawah tanpa pengolahan
yang mahal: Air hujan yang sebenarnya merupakan cadangan
air tawar belum sepenuhnya dimanfaatkan manusia, karena
banyak yang dibiarkan
mengalir ke laut dan menjadi asin.
Di Indonesia aliran mantap hanya sebesar 25%-30%, berarti
selebihnya mengalir ke laut sebelum dapat dimanfaatkan:
Pada musim hujan dapat menimbulkan banjir, sedangkan un-
tuk cadangan musim kemarau yang kering masih terlalu sedi-
kit yang ditampung:
Air sungai di daerah tropis umumnya keruh, lebih-lebih
apabila hutan-hutan di daerah hulu sungai banyak yang di-
tebang dan menimbulkan erosi: Sungai yang keruh ini apabila
melintasi daerah pemukiman, pertanian, pertambangan dan
perindustrian akan mendapat pencemaran biologik, kimiawi
maupun fisik dari bahan buangan rumah tangga, limbah per-
tanian, buangan pertambangan dan perindustrian. Walaupun
demikian air sungai masih dipergunakan sebagai sumber
air baku air minum untuk kota-kota besar, karena jumlahnya
relatif banyak dan umumnya tidak asin: Beberapa sungai air-
nya menjadi anta (brackish), karena adanya intrusi air asin:
Demikian pula dengan air tanah di daerah pantai sering
menjadi anta karena intrusi air laut:
Air bron (spring) merupakan sumber air minum yang
paling baik mutunya, karena bebas kuman dan tidak asin:
Kandungan kimiawi yang mungkin kurang menguntungkan
biasanya berupa CO
2
agresif yang bersifat korosif terhadap
logam. Bron harus dilindungi terhadap segala macam kemung-
kinan pencemaran, demikian pula bron dijaga jangan sampai
pindah tempat.
Air sumur artesis suhunya agak hangat dan mengandung
garam-garam mineral yang menyebabkan rasanya agak asin.
Tetapi apabila tidak mendapat pencemaran dari permukaan,
airnya bebas kuman dan kapasitasnya cukup besar untuk mem-
beri penyediaan air bagi ribuan orang atau suatu pabrik/hotel.
Air sumur dangkal relatif mudah didapat baik dengan
menggali maupun mengebor tidak terlalu dalam. Akan tetapi
umumnya mendapat pencemaran biologik, kimiawi dan fisik
dari buangan rumah tangga, pertanian, pertambangan dan
industri melalui tanah.
AIR SEBAGAI SUMBER DAN PEMBAWA PENYAKIT.
Air memang serba guna baik untuk keperluan rumah-
tangga, pertanian, perindustrian, perhubungan, rekreasi, olah
raga maupun pertambangan. Dengan makin bertambahnya
penduduk dunia, cadangan air pun makin langka, sehingga di
tempat-tempat tertentu mulai terasa adanya persaingan antara
berbagai kegunaan. Meskipun dalam Undang-undang No. 11
tahun 1974 tentang Pengairan disebutkan bahwa keperluan
rumah tanggalah yang harus didahulukan, artinya prioritas
diberikan untuk keperluan air minum. Namun dalam kenyata-
an sumber-sumber air baku air minum terutama di kota-kota
besar mendapat berbagai penccmaran karena juga berfungsi
sebagai air penerima segala macam bahan buangan. Tingkat
pencemarannya kadang-kadang melampaui batas kemampuan
instalasi pengolahan air untuk dapat membersihkannya sampai
memenuhi syarat air minum.
Penyakit-penyakit yang bersumber atau dapat dibawa air
ada dua golongan yaitu: Penyakit menular (infeksi) dan Pe-
nyakit tidak menular (non-infeksi).
1. Penyakit infeksi:
Penyakit ini dapat timbul karena dipergunakannya air
yang tercemar oleh kuman penyakit dan atau parasit untuk
mandi, mencuci, minum dan lain-lain keperluan rumah tangga:
Misalnya penyakit kulit, mata, kolera/gastroenteritis, tifus,
para-tifus, disenteri, hepatitis infeksiosa, leptospirosis dan
penyakit cacing: Sedangkan penyakit-penyakit menular lain
seperti malaria, filariasis, demam berdarah dan schistosomiasis
timbul karena berkembang biaknya dan tersebarnya vektor
penyakit tersebut melalui air.
2. Penyakit
non-infeksi
Air yang mengandung unsur/senyawa beracun, logam
berat dan senyawa yang tidak boleh dikonsumir oleh orang-
orang yang mengidap penyakit tertentu dapat menimbulkan
penyakit yang tergolong tidak menular, apabila kadarnya
melampaui batas. Penyakit ini ada yang bersifat akut, ada
pula yang reaksinya baru tampak setelah beberapa tahun:
Akibatnya ada yang fatal ada pula yang menimbulkan cacat,
keturunan dan sebagainya.
Keracunan, hipertensi dan sebagainya merupakan con-
toh dari penyakit tidak menular yang sering cukup mencemas-
kan.
PROGRAM PEMERINTAH DAN PERAN SERTA MASYA-
RAT.
Untuk dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya dari
sumber daya air untuk kepentingan manusia tanpa membaha-
yakan kelestarian dan kualitasnya, maka pemerintah bersama
masyarakat lndonesia telah, sedang dan akan terus menjalan-
kan program berikut:
1.
Pelestarian hutan sebagai cadangan air tawar dan pen-
cegah erosi;
48
Cermin Dunia Kedokteran No. 19, 1980
2. Pencegahan peneemaran ke dalam air baik dari buangan
rumah tangga, limbah pertanian, buangan pertambangan
maupun buangan industri;
3. Memperbaiki keadaan badan-badan air yang sudah ter-
lanjur tercemar;
4. Memperbaiki cara pembuangan dan pengolahan bahan
buangan dari berbagai sumber;
5:
Mengadakan
Analisa Dampak Lingkungan terhadap
semua proyek dan kegiatan yang diperkirakan mempu-
nyai dampak besar terhadap lingkungan;
6.
Menyusun dan menerapkan peraturan
perundang-
undangan mengenai pengelolaan lingkungan termasuk
peneegahan pencemaran lingkungan;
7. Menggalakkan pendidikan/penyuluhan lingkungan dan
pendidikan/penyuluhan kesehatan, baik melalui saluran
formal maupun non-formal;
8. Mengadakan
monitoring kualitas
lingkungan pada
umumnya dan kualitas air pada khususnya;
9.
Mengadakan monitoring kuantitas air terutama air
tawar.
10. Mengadakan perbaikan kesehatan lingkungan pada u-
mumnya antara lain meliputi penyediaan air minum,
pembuangan kotoran, drainasi, pencegahan pencemaran
lingkungan, peningkatan higiene perorangan, higiene
dan sanitasi makanan dan minuman.
11.
Mengadakan koordinasi antara berbagai sektor yang
mempunyai kepentingan mengenai air, agar segala ke-
butuhan dapat dipenuhi tanpa harus merugikan satu
sama lain:
KEPUSTAKAAN
1.
Encyclopaedia Americana Volume 28, pp 432 434, 1973:
2.
Leopold, L:B:, Davis, K:S:, and the Editors of Time-Life Books
on "W a t e r
"
,
Life Science Library, Time-Life Books Alexan-
dria, Virginia, 1977:
3.
Soesanto, Sri Soewasti,
"
Air sebagai sumber kehidupan dan
sumber penyakit", Gema RIWPUTL No: 15, Th: ke V, 1977,
pp. 30, 31:
TERAPI STANDARD Edisi ke 2
Editor : M.W. Haznam. 301 Halaman. Bandung, Bagian Ilmu
Penyakit Dalam FKUP/RSHS, 1979
PEDOMAN PENGOBATAN.
Jilid II
Oleh : A. Munandar L. Tjandra Leksana. 570 halaman.
Jakarta, Medipress, 1980,
Rp. 4.500,
Kedua buku ini sama-sama membahas masalah pengobatan/
terapi, namun dengan cara yang berbeda.
Buku Terapi Standard diterbitkan karena "dokter umum
maupun seorang ahli tidak selalu bisa mengingat berbagai
jenis obat dengan berbagai-bagai dosisnya sehingga ia se-
waktu-waktu memerlukan juga suatu buku petunjuk untuk
tlipergunakan sehari-hari
"
. Untuk dapat dipergunakan se-
waktu-waktu, maka penyusunnya membuat buku ini serba
singkat dan ringkas, baik dalam formatnya yang mungil
menarik, maupun dalam isinya. Terapi yang dibahas meliputi
terapi dalam bidang endokrinologi, gastroenterologi, ginjal/
hipertensi , hematologi, infeksi, kardiovaskuler, onkologi, paru-
paru, rematologi , shock.
Setiap halaman buku ini dimulai dengan diagnosa, disusul
oleh etiologi dan komplikasi, baru kemudian terapi. Terapi
meliputi (i) tindakan yang harus dikerjakan, dan (ii) peng-
obatan dengan obat-obat terpilih, obat pengganti, serta obat
lain, lengkap dengan dosisnya. Setelah itu dicantumkan Bab
Pemeriksaan-pemeriksaan yang diperlukan untuk kontrol pe-
nyakit, disusul oleh Catatan-catatan pendek yang perlu di-
perhatikan dalam terapi:
Buku yang serba ringkas ini praktis untuk dibawa ke
mana-mana dan dipergunakan setiap saat. Namun tidak ada-
nya indeks pada buku mempersulit pembaca yang terburu-
buru mencari sesuatu. Penambahan indeks akan sangat ber-
manfaat. Di samping itu, karena tiap halaman (tiap diagnosa
terapinya) merupakan suatu kesatuan, ada baiknya bila
kalimat
"
vide halaman ..." dihilangkan agar pembaca tidak
usah membolak balik buku. Kecuali sedikit kelemahan ini,
buku ini dapat dikatakan cukup menarik dan bermanfaat
untuk dimiliki.
Berbeda dengan buku di atas,buku
"
Pedoman Pengobatan
"
tidak hanya membahas pengobatan saja, tetapi juga meng-
uraikan etiologi, gejala, komplikasi, prognosis secara panjang
lebar: Judul
"
Pedoman Pengobatan
"
ini dapat dengan leluasa
diubah menjadi
"
Buku Ilmu Penyakit Dalam
"
tanpa merubah
isinya, karena pembahasan gejala, komplikasi prognosis
mendapat bobot yang sama dengan pengobatan.
Buku jilid 11 ini merupakan lanjutan jilid l. Penyakit yang
dibahas ialah : penyakit kardiovaskuler, penyakit sistem
hemopoetik, penyakit saluran nafas, penyakit saluran cerna
dan penyakit saluran kemih:
Seperti halnya dengan buku pertama, kelemahan buku ini
terletak pada tidak adanya indeks. Banyaknya iklan obat
yang diselipkan dalam buku ini mungkin akan mengiritasi
pembaca yang "alergi
"
terhadap iklan: Namun di tengah
membubungnya harga kertas dan biaya-biaya lain untuk
memproduksi buku, tindakan penerbit ini dapat dimengerti.
Apakah yang patut dipuji mengenai kedua buku di atas ?
Tak lain ialah hasrat para penyusun untuk memperkaya
khazanah buku kedokteran dalam bahasa lndonesia. Di sana
sini masih ada kekurangan memang, namun lambat laun
pasti akan mendekat ke kesempurnaan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 19, 1980
4 9