background image
ABSTRAK
RISIKO PAYAH JANTUNG DI
KALANGAN HIPERTENSI
Sebagian peserta Framingham
Study dipelajari untuk menilai risiko
penyakit jantung kongestif di kalang-
an pasien hipertensi.
Sejumlah 5143 orang diamati se-
lama 20,1 tahun (rata-rata 14,1 ta-
hun); dan 392 yang terkena payah
jantung, 91% di antaranya didahului
hipertensi.Setelah Variabel lain diper-
hatikan pasien hipertensi pria mem-
punyai risiko dua kali lebih besar
untuk menderita payah jantung
kongestif dibandingkan dengan yang
normotensif sedangkan d kalangan
wanita, risikonya tiga kah lebih be-
sar Selain itu adanya infark mio-
kard, diabetes, hipertrofi ventrikel
kiri dan penyakit katup jantung juga
meningkatkan nsiko payah jantung
kongestif.
Harapan hidup di kalangan pasien
payah jantung kongestif rendah,
hanya 24% pria dan 31% wanita
yang masih hidup selama 5 tahun.
JAMA 1996;275:1557-62
Brw
PERSALINAN BIDAN LEBIH ME-
MUASKAN?
Studi di Inggris membandingkan
pelayanan obstetri oleh bidan (midwife
managed care) dengan pelayanan oleh
dokter/RS (shared care).
Sejumlah 648 wanita ditangani oleh
bidan dan 651 ditangani bersama
(shared care). Persalinan yang ditangani
bidan lebih sedikit yang diinduksi (145-
23,9% vs. 199-33,3%, 95%CI: 4,4-
14,5), lebih sedikit yang diepisiotomi
dan lebih banyak yang perineumnya
tetap intak (p = 0,02) tanpa perbedaan
bermakna dalam hal robekan perineum,
Sejumlah 32,8% dirujuk oleh bidan­
8,7% karena alasan medis, 3,7% ka-
rena alasan lain. Mereka yang ditangani
bidan merasa lebih puas, baik pada pe-
layanan antenatal, persalinan maupun
postnatal ­ baik yang dilakukan di
rumahsakit maupun yang dilakukan di
rumah
Lancet 1996; 348: 213-18
Hk
PENGGUNAAN GH UNTUK TING-
GI BADAN
Sejumlah 16 anak pendek diberi r-h
GH (biosynthetic human growth hor-
mone) dengan dosis antara 12,2-21,0
U/m
2
permukaan tubuh/minggu selama
2 tahun pertama, kemudian dilanjutkan
dengan dosis 20 U/m
2
/minggu: pengo-
batan baru dihentikan bila tidak lagi
terdapat pertambahan atau kurang dari
½ cm dalam setahun dan epifisis telah
menutup (melalui pemeriksaan radi-
ologik).
Pemberian r-h GH meningkatkan
tinggi badan, sebanyak rata-rata 2,8 cm
pada pria dan 2,5 cm pada wanita, tetapi
tidak bermakna bila dibandigkan de-
ngan kontrol.
Lancet 1996: 348: 13-6
Hk
BRONCHIOLITIS OBLITERANS
AKIBAT KONSUMSI DAUN
KATUK
Juice daun katuk dipercaya dapat
menurunkan badan berat badan, tetapi
penggunaannya dikaitkan dengan gang-
guan pernafasan akut akibat bronchioli-
tis obliterans.
Setelah laporan pertama pada tahun
1995, para dokter di Taiwan kembali
melaporkan 23 kasus wanita berusia
antara 1-52 tahun (rata-rata 39 tahun)
yang meminum juice dan katuk selama
rata-rata 10 minggu; para pasien batuk
dan sesak napas progresif rata-rata 14
minggu setelah minum juice tersebut.
Prognosis penyakit ini belum jelas:
gejala masih menetap sekalipun me-
reka sudah berhenti minum juice ter-
sebut.
Lancet 1996: 348: 83-5
Hk
KLONAZEPAM UNTUK EPILEPSI
Dokter di California menggunakan
klonazepam terhadap 10 pasien spasme
infantil dan 10 pasien sindrom Lennox-
Gastaut yang telah refrakter terhadap
pengobatan sebelumnya dengan dosis 2
dd 1,25 mg/hari yang dapat dinaikkan
sampai maksimum 35 mg/kg bb/hari
Selama 6 minggu 25% bebas kejang
dan 40% mengalami pengurangan
frekuensi lebih dari 50%
J. Child Neurol 1996; 11: 31-4
Brw
ARTEMISININ UNTUK
MALARIA DEWASA
Artemisinin telah dicoba pada pen-
derita malaria falciparum dewasa di
Vietnam.
Sejumlah 276 pasien mendapat kina
HCl im. dengan dosis awal 20 mg./kg.
bb arthemeter diikuti dengan 10 mg./
kg.bb tiap 8 jam, sedangkan 284 lainnya
mendapat 4 mg./kg.bb arthemeter di-
ikuti dengan 2 mg./kg.bb tiap 8 jam.
Keduanya diberikan selama sedikitnya\
72 jam. Kematian dijumpai pada 36
(13%) di kalangan arthemeter dan pada
47 (17%) di kalangan kina (p = 0,16,
relative risk untuk arthemeter = 0,74,
95%CI: 0,5­1,11).
Parasitemia lebih cepat diatasi di
kalangan arthemeter (rata-rata 72 vs. 90
jam, p < 0,001), sekalipun demikian,
demam turun lebih lama (127 vs 90 jam,
p <0,001)dan lamanya coma juga lebih
lama (66 vs. 48 jam, p = 0,001) dan juga
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997
62
background image
ABSTRAK
lebih lama tinggal di rumah sakit (88 vs.
240 jam, p = 0,005).
Pengobatan kina lebih berisiko hipo-
glikemi (RR: 2,7, 95%CI: 1,7­5,5, p <
0,001).
N. Engl. J. Med. 1996; 335: 76­83
Hk
ARTHEMETER UNTUK MALA-
RIA SEREBRAL
Selama ini kina merupakan satu-
satunya obat untuk malaria serebral.
Para peneliti di Gambia mencoba
arthemeter im. yang dibandingkan
dengan kina im. untuk pengobatan 576
anak Gambia yang menderita malaria
serebral.
Ternyata 59 dari 188 anak yang di-
obati dengan arthemeter meninggal
dunia (20,5%), sedangkan di kalangan
kina 62 di antara 288 anak meninggal
dunia (21,5%). Dan di antara 418 anak
yang diperiksa kembali setelah 5 bulan,
gejala sisa neurologik ditemukan pada
di antara 209 anak yang diobati dengan
arthemeter (3,3%) dan pada 11 di antara
209 anak yang menenima kina (5,2%,
p = 0,5).
Setelah memperhitungkan variabel
lain, odds-ratio untuk kematian di ke-
lompok arthemeter 0,84 (95%CI: 0,53­
1,32), sedangkan untuk gejala sisa
neurologik sebesar 0,51 (95%CI: 0,17­
1,47).
Reaksi lokal di tempat suntikan se-
besar 0,7% di kalangan arthemeter dan
5,9% di kalangan kina (p = 0,001).
Dari percobaan ini disimpulkan
bahwa arthemeter sama efektifnya
dengan kina, sedangkan dosis yang
digunakan ialah untuk arthemeter 3,2
mg/kg.bb dosis awal diikuti dengan 1,6
mg/kg.bb/hari selama 4 hari, sedang-
kan dosis kina sebesar 20 mg./kg.bb
dosis awal diikuti dengan 10 mg./kg.bb
tiap 12 jam selama 5 hari.
N. Engl. J. Med. 1996; 335: 69­75
Hk
PENGOBATAN MALARIA
Di antara 18124 pasien malaria
falsiparum yang diobati di Centre for
Tropical Diseases, Ho Chi Minh, Viet-
nam selama 4 tahun, 1176 di antaranya
menderita infeksi berat; 19 dewasa dan
3 anak menderita komplikasi post ma-
laria neurological syndromes (PMNS),
21 di antaranya setelah infeksi berat.
Insidens PMNS setelah malaria
falsiparum diperhitungkan sebesar 1,2
(0,7­1,8) per 1000 sedangkan risiko
relatif pada infeksi berat dibandingkan
dengan pada infeksi biasa adalah se-
besar 299 (40­2223). Kasus-kasus ter-
sebut terdiri dari 13 kasus acute confu-
sional states atau psikosis, 6 kasus kejang
umum tunggal/berulang 2 kasus kejang
umum diikuti kebingungan akut yang
berlarut dan 1 kasus tremor halus. Se-
muanya umumnya self-limiting dengan
median 60 jam (24­240 jam.
Kasus-kasus ini dikaitkan dengan
penggunaan meflokuin ­ kejadiannya
4,4% (10/228) dibandingkan dengan
yang menggunakan kina­0,3% (1/210);
risiko relatif 9,2 (1,2­71,3, p = 0,012).
Lancet 1996; 348: 417­21
Hk
TANAMAN OBAT UNTUK
DEPRESI
Ekstrak herba Hypericumperforatum
(St John's wort)-LI 160­sedang diteliti
manfaatnya untuk mengatasi depresi
ringan sampai sedang (Hamilton score
17­24).
Pada percobaan klinis di Inggris ter-
hadap 165 pasien 24­65 tahun selama 6
minggu, ekstrak ini diberikan dengan
dosis 3 dd 300 mg/hari (n=87) diban-
dingkan dengan amitriptilin 3 dd 25 mg/
hari(n=78);ternyata nilai HAM-D turun
dari rata-rata 20,8 menjadi 11,8 di ke-
lompok LI-160 dan dari rata-rata 20,8
menjadi 9,5 di kelompok amitriptilin
(p0,05). Sedangkan pada depresi berat,
ekstrak ini tidak berbeda bermakna bila
dibandingkan dengan imipramin.
Ekstrak ini juga sedang dicoba terhadap
seasonal affective disorder dan nyeri
kepala tipe tegang.
Salah satu efek samping ekstrak ini
ialah fotosensitivitas.
Percobaan farmakologik menunjuk-
kan bahwa ekstrak Hypericum meng-
hambat uptake noradrenalin, serotonin
dan GABA pada otak tikus.
Inpharma 1996; 1058: 4.
Brw
STREPTOKINASE UNTUK IN-
FARK OTAK
Pada Australian Streptokinase Trial,
pasien stroke iskemik akut yang di-
diagnosis dalam 4 jam sejak munculnya
gejala diberi 1,5 MU streptokinase iv
dalam 1 jam (n=174), dibandingkan
dengan plasebo(n=166),selain itu semua
pasien mendapat 100 mg. aspirin.
Ternyata setelah 3 bulan, penerima
streptokinase lebih banyak yang cacad
atau meninggal dunia (48,8%vs.44,6%);
analisis subgrup menunjukkan bahwa
pasien yang mendapat streptokinase da-
lam 3 jam berhasil baik pada 34.1% vs.
51.7% di kelompok plasebo. Perbedaan
di atas tidak bermakna, dan setelah 3
bulan perbaikan lebih banyak terjadi di
kelompok streptokinase.
Komplikasi hematoma terjadi pada
13,2% di kelompok streptokinase di-
bandingkan dengan 3% di kelompok
plasebo.
Inpharma 1996; 1057: 17
Brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997 63