background image
ABSTRAK
USIA IBU DAN KEMATIAN JANIN
Data dari Royal Victoria Hospital di
Montreal, Kanada digunakan untuk me-
nyelidiki pengaruh usia ibu terhadap
risiko kematian janin; data tersebut dari
tahun 1961­1974 dan dari tahun 1978­
1993 meliputi 94.346 persalinan.
Kematiañ janin turun dari 11,5 per-
1000 persalinan di tahun 1960an men-
jadi 3,2 per 1000 persalinan di tahun
1990­1993 (p <0,001); selama periode
tersebut usia rata-rata ibu saat bersalin
meningkat dari 27 tahun menjadi 30
tahun (p < 0,001) dan penyakit diabetes
melitus dan hipertensi selama kehamil-
an meningkat lima kali lipat (p <0,001).
Setelah faktor-faktor lain diperhitung-
kan, usia di atas 35 tahun menyebabkan
risiko keniatian janin yang lebih tinggi;
dibandingkan dengan usia ibu di bawah
30 tahun, usia ibu 35­39 tahun mem-
punyai odds ratio 1,9 (95%CI: 1,3­2,7),
sedangkan usia Iebih dan 40 tahun,
risikonya 2,4 (95%CI: 1,3­4,5).
Walaupun secara keseluruhan terda-
pat penurunan kematian janin sebesar
70%, usia ibu tetap merupakan faktor
risiko yang perlu diperhatikan.
N Engl. J. Med. 1995; 333: 953­7
Hk
ANTIBIOTIK PROFILAKTIK
UNTUK LUKA
Suatu meta analisis atas 7 percobaan
antibakterial sistemik pada kasus-kasus
luka biasa menghasilkan kesimpulan
bahwa penggunaan antibakterial sis-
temik justru meningkatkan risiko in-
feksi (odds ratio 1,16) bila dibanding-
kan dengan kontrol.
Analisis ini juga menunjukkan
bahwa jenis antibakterial, cara pem-
berian, jenis luka tidak mempengaruhi
kesimpulan di atas.
Am. J. Emerg. Med. 1995; 13: 396­400
Hk
ALPROSTADIL UNTUK IMPO-
TENSI
US FDA telah menyetujui peng-
gunaan alprostadil (Caverject®) untuk
mnengatasi masalah impotensi pria; obat
tersebut rnerupakan hormon prostaglan-
din E1, yang bila disuntikkan ke dalam
corpus cavernosum penis akan menye-
babkan ereksi dalam 5­20 menit. Obat
ini bekerja merelaksasi otot polos se-
hingga memperbesar aliran darah me-
nuju penis yang akan menghasilkan
ereksi.
Dalam berbagai studi klinis, hasil
yang memuaskan tercapai pada 70­80%
pasien. Dosis yang dianjurkan 20 ug,
disuntikkan oleh dokter atau yang telah
berpengalaman, tidak boleh diulang se-
belum 24 jam, dan/atau lebih dari tiga
kali seminggu.
Efek samping berupa nyeri di tempat
suntikan, terbentuknya jaringan ikat dan
ereksi yang berkepanjangan; nyeri ter-
jadi pada 37% pasien, 3% di antaranya
harus menghentikan pengobatan; jarin-
gan ikat terbentuk pada 3% pasien
sedangkan ereksi yang terlalu lama ­
sampai 4­6 jam­terjadi pada 4% pasien.
Seorang dokter mengingatkan bahaya
terbentuknya bekuan darah di penis yang
dapat menyebabkan emboli di jaringan
lain seperti di paru dan otak.
Carapengobatan ini tidak dianjurkan
pada orang-orang yang menderita anemi
sel sabit (sickle cell), mieloma multipel,
leukemia, kelainan bentuk penis atau
menggunakan implan penis. Selain itu
faktor-faktor yang dapat menyebabkan
impotensi juga harus ditangani, seperti
usia lanjut, arterioskierosis, hipertensi,
diabetes melitus atau hiperkhofestero-
lemi; faktor-faktor lain berupa diet yang
buruk, kurang olahraga, alkoholisme dan
merokok.
Pharm. Bus. News 995: 11(246/247): 9
Brw
PEMBEDAHAN UNTUK KASUS
EPILEPSI
Pembedahan menupakan salah satu
pilihan pengobatan epilepsi yang in-
tractable.
Selama tahun 1974­1990, sejumlah
202 pasien epilepsi telah menjalani
pembedahan di UCLA, AS karena re-
frakter terhadap pengobatan medika-
mentosa; hasilnya dibandingkan de-
ngan 46 pasien refrakter yang tidak
menjalani pembedahan. Ternyata ke-
lompok yang dibedah mengalami rata-
rata serangan 6,9 perbulan dibanding-
kan dengan 21,1 perbulan di kelompok
yang tidak dibedah; lebih dari 80%
pasien kelompok kontrol masih meng-
alami 1 kali atau lebih serangan tiap bu-
lan, dibandingkan dengan 25% di ka-
langan pasien yang dibedah; selain itu
mereka (kelompok yang dibedah)
cenderung menggunakan lebih sedikit
obat antiepilepsi [ rata-rata 1,4 vs. 2,0;
95%CI: ­0,67 (­0,94­0,40)].
Tetapi meskipun kualitas hidup di
kalangan pasien yang dibedah lebih baik
(p 0,05), tidak terdapat perbedaan yang
bermakna dalam hal status bekerja dan
dalam prospectively assisted quality of
life.
Lancet 1995; 346: 1445­49
Hk
PENVEBAB PENYAKIT HUN-
TINGTON
Para peneliti di AS telah menemukan
protein yang dianggap berkaitan dengan
perkembangan penyakit Huntington ­
suatu penyakit degeneratif susunan sa-
raf pusat.
Protein tersebut dinamai HAP-I,
berinteraksi dengan huntingtin­protein
hasil produksi gen Huntington­sehingga
mengubah fungsinya yang berakibat
kematian sel neuron.
Scrip 1995; 2083: 27
Brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996
62
background image
ABSTRAK
VITAMIN A DOSIS TINGGI
Vitamin A dosis tinggi masih diper-
debatkan kegunaannya, apalagi karena
adanya sifat teratogenik seperti ternyata
pada percobaan binatang.
Selama Oktober 1984 sd. Juni 1987,
terdapat 22.748 wanita hamil di daerah
Boston, AS yang bisa dihubungi dan di-
wawancarai mengenai kebiasaan diet
dan obat/vitamin yang dimakan selama
hamil. Dari 22.748 kehamilan tersebut,
339 bayi dengan cacad lahir, 121 di
antaranya akibat gangguan cranial
neural crest.
Rasio prevalensi cacad lahir di ka-
langan wanita yang mengkonsumsi
lebih dari 15000 IU vitamin A dan ma-
kanan dan suplemen, dibandingkan de-
ngan yang mengkonsumsi kurang dari
5000 IU adalah sebesar 3,5 (95%CI:
1,7­7,3). Untuk kalangan yang meng-
konsumsi hanya dari suplemen vitamin
A, konsumsi Iebih dari 10000 IU ri-
sikonya sebesar 4,8 (95%CI: 2,2­10,5)
bila dibandingkan dengan mereka yang
konsumsinya kurang dari 5000 IU per-
hari.
Peningkatan frekuensi kelainan ter-
sebut terutama terkonsentrasi pada wa-
nita yang mengkonsumsi vitamin A dosis
tinggi sebelum usia gestasi 7 minggu.
Mereka menyimpulkan bahwa kon-
sumsi vitamin A dosis tinggi bersifat
teratogenik; di antara wanita yang
mengkonsumsi 10000 IU vitamin A
atau lebih dalam bentuk suplemen, 1
dari 57 kelainan yang diamati diper-
kirakan berkaitan dengan faktor suple-
mentasi tersebut.
N. Engl. J. Med. 1995; 333: 1369­73
Hk
EFEK SAMPING OMEPRAZOL
Majalah Australian Adverse Drug
Reactions Bulletin telah melaporkan 19
kasus gangguan muskuloskeletal yang
berkaitan dengan penggunaan omepra-
zol: 8 orang menderita pembengkakan
sendi termasuk 2 kasus gout, 9 orang
nyerilatrofi otot dan 2 orang menderita
keduanya sekaligus. Dari 16 pasien yang
dapat ditelusuni, 14 orang mengguna-
kan dosis 20 mg. dan 2 orang dosisnya
40 mg. Gejala mulai dirasakan antara
sehari sampai setahun setelah peng-
gunaan obat.
Selain itu omeprazol juga dikaitkan
dengan timbulnya nefritis interstitial
yang diderita oleh para pasien berusia
58­86 tahun dan gejalanya timbul dalam
beberapa minggu sampai 6 bulan sete-
lah penggunaan omeprazol.
Gejala/kemungkinan efek samping
tersebut harus diwaspadai terutama pada
bulan pertama pengobatan.
Scrip 1995; 2083: 27
Brw
CUKA APEL UNTUK ARTRITIS?
Cuka apel dipercaya dapat meng-
encerkan cairan tubuh sehingga da-
pat mengurangi kekakuan sendi seperti
pada pasien-pasien artritis. Meskipun
demikian, sampai saat ini tidak terdapat
cukup bukti bahwa cuka apel memang
bermanfaat untuk artritis.
Sampai saat ini pengobatan artritis
yang dianjurkan ialah berolahraga/
bergerak (exercise), kompres panas dan
dingin, istirahat dan relaksasi, obat-
obat antiinflamasi dan kadang-kadang
kortikosteroid dan tindakan bedah.
MCHL 1995; 13(12): 8
Hk
NSAID UNTUK OSTEOARTRITIS
LUTUT
Studi prospektif multisenter di UK
melibatkan 376 pasien ostreoartritis
lutut yang diobati dengan 3 dd 25 mg.
indometasin, atau 2 dd 300 mg. asam
tiaprofenat, atau plasebo selama sedi-
kitnya satu tahun.
Ternyata studi foto Rö yang dilaku-
kan tiap 6 bulan menunjukkan bahwa
kelompok indometasin menunjukkan
perburukan kartilago yang lebih berat
(47,05%) dibandingkan dengan kelom-
pok plasebo (22,35%); sedangkan di
kalangan asam tiaprofenat perbedaan
tersebut tidak bermakna (43,45% vs.
34,25%). Akibatnya para peneliti me-
mutuskan untuk menghentikan peng-
obatan dengan indometasin.
J. Rheumatol. 1995; 22: 1941-46
Brw
PIRACETAM UNTUK STROKE
Dalam kongres International Con-
ference on Stroke: Heart and Brain di
Praha baru-baru ini, dibicarakan peng-
obatan pirasetam untuk stroke iskemik
akut.
Dalam percobaan yang melibatkan
927 pasien stroke sedang/berat, pira-
setam diberikan dengan dosis bolus 12
g. iv selama 20 menit dalam 12 jam
pertama setelah serangan stroke, diikuti
dengan 3 dd 4 g. iv perhari selama 4
minggu. Kemudian disusul dengan 4,8
g. perhari selama 8 minggu.
Perbaikan dicapai oleh 25% pasien,
dan 2 dari 10 pasien (dibandingkan
dengan 1 dari 10 pasien yang mendapat
plasebo) pulih sempurna.
Scrip 1995; 2072: 30
Brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 110, 1996 63