H E PATOLOGI
PULMONOLOGI
ABSTRAK
-ABSTRAK
HUBUNGAN ANTARA TEST FUNGSI HEPAR DENGAN KELAINAN HEPAR
Dalam klinik hampir selalu dimintakan pemeriksaan test fungsi hepar untuk melihat
kelainan fungsi hepar sekaligus untuk menegakkan diagnosa kelainan pathologik hepar.
Akan tetapi test-test ini tidak dapat mengukur secara quantitative besarnya kelainan
fungsi hepar tersebut.
Hal tersebut dibuktikan oleh
GALAMBOS
dan W
IL
LS
yang meneliti 242 penderi-
ta obesitas terhadap empat pemeriksaan fungsi hepar yang biasa dilakukan diikuti
dengan biopsy hepar. Pemeriksaan fungsi hepar yang dipakai adalah SGOT, alka-
line phosphatase, bilirubin dan albumin.
GALAMBOS
dan
WILLS
mendapatkan bahwa 60--89% dari penderita dengan
kelainan biopsy hepar mempunyai satu atau lebih test fungsi hepar yang abnormal.
Makin berat kelainan test fungsi hepar juga didapatkan kelainan biopsy yang lebih
berat. Tetapi dari seluruh penderita didapatkan 12% pemeriksaan fungsi hepar yang
normal dengan hasil biopsy yang abnormal.
GALAMBOS WILLS, Gastroenterology 74 : 1191 -- 1195, 1978.
PERBANDINGAN BEBERAPA CARA PENGOBATAN TBC
Oleh East African British Medical Research Council telah dilakukan perbanding-
an pengobatan tbc dalam lima cara pemberian selama empat bulan. Cara pemberian
dan obat-obat yang diberikan adalah sebagai berikut :
1.
Streptomycin, INH, rifampicin dan pyrazinamide diberikan setiap hari se-
lama delapan minggu kemudian diteruskan dengan INH, rifampicin dan pyra-
zinamide setiap hari untuk sembilan minggu.
II.
Seperti I selama delapan minggu kemudian diteruskan dengan INH dan rifam-
picin setiap hari selama sembilan minggu.
III.
Seperti I untuk delapan minggu diikuti INH dan pyrazinamide tiap hari
selama sembilan minggu.
IV.
Keempat jenis obat diberikan selama delapan minggu kemudian diteruskan
dengan INH saja selama sembilan minggu.
V.
INH, rifampicin dan pyrazinamide tiap hari selama delapan minggu diterus-
kan dengan INH saja tiap hari selama sembilan minggu.
Dosis obat yang diberikan adalah :
· Streptomycin lg/hari.
· INH 300 mg/hari.
· Rifampicin 450 mg/hari untuk penderita dengan berat badan < 50 kg dan
600 mg/hari untuk penderita dengan berat badan > 50 kg.
· Pyrazinamide diberikan 1,5 g/hari untuk penderita dengan berat badan
< 50 kg serta dan 2 g/hari untuk penderita dengan berat badan > 50 kg.
Dari cara-cara yang tersebut diatas dimana rifampicin diberikan terus menerus
selama empat bulan, didapatkan relaps bakteriologik sebesar 8% dalam enaln bulan
pertama sesudah pengobatan dihentikan. Tetapi pada tiga cara pemberian yang lain
dimana rifampicin diberikan hanya dalam waktu dua bulan dijumpai relaps bakterio-
logik sebesar 24 -- 34%. Tidak dijumpai adanya efek yang nyata pada penambahan
pyrazinamide dalam pengobatan terhadap relaps bakteriologik..
Penghentian pemberian streptomycin pada dua bulan pertama pengobatan menun-
jukan terjadinya penurunan efek bakterisid dari chemotherapy yang dipakai, tetapi
perbedaannya dikatakan kurang bermakna.
Lancet II : 334 -- 338, 1978.
Cermin Dunia Kcdokteran No. 13. 1978
43
ANTIBIOTIKA
HEPATOLOGI
ONCOLOGI
ANTIBIOTIKA
vs
BATUK PILEK
Dalam praktek sehari-hari sering kita menghadapi anak-anak dengan infeksi saluran
pernafasan bagian atas, dengan gejala batuk pilek dan panas. Pada keadaan tersebut
sering timbul keraguan dalam penggunaan antibiotika. Keadaan ini juga menimbul-
kan kebingungan pada para orang tua, lebih-lebih bila disertai dengan panas dan me-
nurunnya nafsu makan.
SALIN
SK
Y
mengadakan penelitian pada 30 anak yang berumur antara satu sampai
sepuluh tahun dengan infeksi saluran pernafasan bagian atas. Ke 30 anak tersebut
dibagi dalam dua kelompok. Kelompok I hanya diberikan campuran tripolidone,
pseudoephedrin dan codein sebagai pengobatan symtomatik, sedang kelompok II
diberikan erythromycin. Para orang tua diminta membantu mencatat keadaan anak
selama lima hari.
Sesudah lima hari
SA L IN S KY
mendapatkan bahwa pada kelompok anak yang
diberikan antibiotika terjadi dua komplikasi, satu anak menderita otitis media dan
satu anak menderita infeksi saluran pernafasan bagian bawah disertai bronchospasme.
Pada kelompok nonantibiotika dijumpai tiga komplikasi, dua anak menderita otitis
media dan satu anak menderita infeksi saluran pernafasan bagian bawah.
Gejala panas menghilang sesudah 2,2 hari pada kelompok antibiotika sedang pada
kelompok nonantibiotika adalah 3,5 hari.
Dari 30 anak-anak tersebut dijumpai empat biakan hapusan tenggorok yang positif
terhadap beta hemolityc Streptococcus, dua dari masing-masing kelompok.
SALINSKY
berkesimpulan bahwa pemberian antibiotika dapat memperingan gejala
tetapi tidak dapat secara mutlak mencegah komplikasi.
Clinical Trial J 15 (3): 76
81, 1978.
ARTERIOPORTAL FISTULA AKIBAT CHOLANGIOGRAPHY/BIOPSY HATI
Pemeriksaan biopsy jarum pada hepar, percutaneus transhepatic cholangiography
dan catheterisasi transhepatic dari saluran empedu intra hepatic atau vena porta se-
makin sering dilakukan akhir-akhir ini.
Cara-cara pemeriksaan tersebut sangat membantu dalam menegakan diagnosa
kelainan hati dan saluran empedu. Akan tetapi tindakan-tindakan tersebut diatas
juga mempunyai resiko antara lain terjadinya arterioportal fistula.
KUNIO OKUDA
et al meneliti penderita-penderita yang telah mengalami pemerik-
saan tersebut diatas. Satu bulan sesudah tindakan dilakukan,
OKUDA
melakukan
hepatic arteriogram. Ia menemukan terjadinya fistula arterioportal pada lima (5,4%)
dari 93 penderita sesudah biopsy hati ; tiga (3,8%) dari 79 penderita sesudah per-
cutaneus transhepatic cholangiography dan tujuh (26,2%) dari 26 penderita sesudah
catheterisasi saluran empedu intra hepatic.
Fistula yang terjadi tidak terlalu besar dan umumnya tertutup terhadap porta
hepatis. Dalam observasi ternyata fistula tersebut dapat menutup secara spontan
sesudah beberapa bulan.
K OKUDA
Gastroenterology 74 : 1204 1207, 1978.
PENGARUH BROMOACETYLCHOLINE PADA NEUROBLASTOMA
Neuroblastoma merupakan tumor yang sering terjadi pada anak-anak dan dewasa,
penyakit ini mempunyai prognosa yang buruk. Suatu penelitian yang cukup menarik
telah dilakukan oleh C Y
CHIOU
di University of Florida.
C Y
CHIOU
melakukan penelitian pada tikus-tikus yang telah diinokulasi dengan
neuroblastoma, dengan memberikan 30 mg/kg Bromoacetylcholine intra tumor satu
sampai tiga kali sehari dan Bromoacetat 12 mg/kg intra tumor dua kali sehari. la men-
dapatkan bahwa hidup tikus-tikus percobaan tersebut dapat diperpanjang sampai
200 %. Dikatakan mungkin efek cytolytic dari Bromoacetylcholine dan Bromoacetat
pada neuroblastoma dapat merupakan titik terang terhadap pengobatan penderita
dengan neuroblastoma.
C Y. CHIOU.
J
of Pharm Sciences 67 (3): 331 33, 1978.
44
Cermin Dunia Kedokteran No. 13.
1978