HASIL PENELITIAN
Tingkat Aktivitas Kholinesterase,
Pengetahuan dan Cara Pengelolaan
Pestisida pada Petani/Buruh
Penyemprot Apel di Desa Gubuk
Klakah, Jawa Timur
Sri Sugihati Slamet, Ni'mah Bawahab
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Dalam upaya meningkatkan produksi, petani menggunakan pestisida untuk me-
ngendalikan hama, penyakit tanaman serta jasad pengganggu lainnya. Penggunaan
pestisida terbesar yaitu pada tanaman holtikultura apel. Penyemprotan dan pengelolaan
yang tidak benar akan menyebabkan keracunan pestisida yang dapat ditunjukkan
dengan Pemeriksaan Aktifitas Kholinesterase; untuk mengetahui tingkat keracunannya,
dilakukan penelitian tentang tingkat aktivitas kholinesterase, pengetahuan dan cara
pengelolaan pestisida pada petani/buruh penyemprot apel di dua musim.
Pengukuran tingkat aktivitas kholinesterase darah petani/buruh penyemprot meng-
gunakan alat Tintometer kit. Pengumpulan data mengenai pengetahuan dan cara penge-
lolaan pestisida menggunakan instrumen kuesioner.
Hasil pemeriksaan menunjukkan penurunan aktivitas kholinesterase < 62,5% ter-
jadi pada 4% petani/buruh di musim kemarau dan 13% di musim hujan. Tingkat
pengetahuan pestisida > 64% petani/buruh baik dan pengelolaan pestisida > 78% baik,
walaupun yang mendapat penyuluhan hanya 55%. Frekuensi penyemprotan 3-4 kali/
minggu meningkat 32% dari musim kemarau ke musim penghujan.
PENDAHULUAN
Dalam upaya peningkatan produksi pertanian dan pengen-
dalian hama, penyakit tanaman serta jasad pengganggu lainnya,
petani menggunakan pestisida. Pestisida digunakan terutama
dalam proses tanam jenis tanaman holtikultura.
Berdasarkan data petugas penyuluh pertanian lapangan
(PPL) tanaman holtikultura yang paling banyak menggunakan
pestisida adalah tanaman apel; upaya untuk mempertahankan
buah apel dari serangan hama dilakukan penyemprotan pes-
tisida baik pada musim kemarau maupun pada musim peng-
hujan. Cara pengelolaan pestisida yang tidak baik dapat meng-
ganggu kesehatan manusia. Golongan pestisida organofosfat
dan karbamat dapat menghambat aktivitas kolinesterase, se-
hingga untuk mengetahui gambaran tentang paparan petani/
buruh penyemprot apel pada musim kemarau dan musim peng-
hujan serta tingkat pengetahuan dan pengelolaan pestisida,
dilakukan penelitian tingkat aktivitas kholinesterase dan
pengetahuan serta cara pengelolaan pestisida petani/buruh pe-
nyemprot apel di Desa Gubuk Klakah, Kecamatan Ponco-
kusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004
46
TUJUAN PENELITIAN
·
Menetapkan tingkat aktivitas kholinesterase darah petani
penyemprot apel pada musim kemarau dan musim penghujan.
·
Menetapkan pengetahuan dan perilaku petani penyemprot
apel dalam pengelolaan pestisida.
METODA PENELITIAN
·
Metoda penelitian cross-sectional
·
Sampel adalah petani apel atau buruh
penyemprot kebun apel di desa Gubuk Klakah Kabupaten
Malang Jawa Timur.
CARA PENELITIAN
I. Pengukuran tingkat aktivitas kholinesterase petani atau
buruh penyemprot.
Petani atau buruh penyemprot diambil sampel darahnya
sebanyak 0,01ml, kemudian diukur kadar kholinesterasenya
dengan menggunakan alat Tintometer Kit. Pengukuran dilaku-
kan yaitu pada musim kemarau dan musim penghujan.
II. Pengumpulan data mengenai pengetahuan, sikap dan
cara petani dalam pengelolaan pestisida.
Data diperoleh melalui wawancara menggunakan instru-
men kuesioner yang mencakup pengetahuan, bahaya, peng-
gunaan pakaian pelindung, cara penyemprotan, cara pe-
ngelolaan pestisida dan apakah pernah mendapat penyuluhan
mengenai pestisida.
HASIL PENELITIAN
1)
Sebanyak 100 orang petani apel dan buruh penyemprot
kebun apel berhasil terkumpul di desa Gubuk Klakah, Keca-
matan Poncokusumo Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Hasil pengukuran kholinesterase darah mereka dengan
menggunakan Tintometer Kit pada kedua musim yaitu musim
kemarau dan musim penghujan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel
1.
Tingkat Aktivitas Kholinesterase darah petani/buruh
penyemprot Apel di desa Gubuk Klakah, Jawa Timur
Jumlah Petani/buruh (N : 100)
Aktivitas Kholinesterase
darah (%)
Musim Kemarau
(%)
Musim Penghujan
(%)
100
87,5
75
62,5
50
33
47
16
3
1
10
43
32
11
2
Tingkat aktivitas kholinesterase darah pada 70% merupa-
kan batas, bahwa seseorang mulai keracunan pestisida dan me-
merlukan istirahat. Namun alat ini hanya bisa mendeteksi
tingkat aktivitas kholinesterase pada 75% dan 62,5%. Sehingga
yang diduga beracun adalah tingkat aktivitas kholinesterase
<62,5%.
Pada musim kemarau 4% petani/buruh tingkat aktivitas
kholinesterasenya < 62,5%, sedangkan pada musim hujan men-
capai 13% petani/buruh penyemprot.
2) Hasil wawancara terhadap responden petani/buruh pe-
nyemprot apel dengan menggunakan instrumen kuesioner yang
sama, dan dilakukan 2 kali yakni pada musim kemarau dan
musim penghujan dengan tehnik bertanya berbeda. Adapun
data mengenai pengetahuan pestisida, baik mencakup jenis
pestisida yang digunakan, bahaya pestisida, manfaat pakaian
pelindung, bahaya makan, minum dan merokok waktu me-
nyemprot, dapat diketahui pada Tabel 2.
Tabel 2. Pengetahuan Responden tentang Pestisida di Desa Gubuk
Klakah, Jawa Timur
Jumlah Responden (N = 100)
No. Pengetahuan
Pestisida
Musim
Kemarau (%)
Musim
Penghujan (%)
1.
2.
3.
4.
Jenis Pestisida
Tahu < 4 jenis pestisida
Tahu > 4 jenis pestisida
Tidak tahu
Bahaya Pestisida
Beracun
Tidak beracun
Manfaat pakaian pelindung
- Melindungi tubuh dari
keracunan pestisida
- Melindungi tubuh dari
panas dan hujan
- Tidak tahu
Bahaya merokok, makan
dan minum sewaktu
menyemprot
- Menyebabkan keracunan
- Menghambat pekerjaan
- Tidak tahu
16
71
13
83
17
64
11
25
83
8
9
13
75
12
84
16
65
11
24
90
5
5
Baik mengenai jenis pestisida, bahaya pestisida, manfaat
pakaian pelindung dan bahaya makan-minum atau merokok
selama penyemprotan, pengetahuan responden > 64% adalah
baik. Jawaban tidak tahu terbanyak (24%-25% responden)
adalah tentang manfaat pakaian pelindung.
Data pengetahuan responden mengenai cara penyimpanan,
cara penyemprotan, frekuensi penyemprotan dan cara member-
sihkan bekas percikan/tumpahan pestisida dapat dilihat pada
Tabel 3.
Sebagian besar responden memahami cara pengelolaan
pestisida seperti yang ditunjukkan >79% responden dan kedua
jawaban antara kedua musim cukup konsisten, frekuensi pe-
nyemprotan pada musim hujan meningkat 32% dari musim
kemarau untuk penyemprotan 3-4 kali per minggu.
Data responden yang pernah maupun tidak pernah men-
dapat penyuluhan tentang pestisida dapat dilihat pada Tabel 4.
DISKUSI
Tingkat aktivitas kholinesterase darah petani/buruh pe-
nyemprot apel < 62,5% pada musim kemarau 4% dan mening-
kat pada musim hujan yang mencapai 13%.
Makin tingginya tingkat keracunan pada musim hujan karena
frekuensi penyemprotan meningkat, frekuensi penyemprotan 3-
4 kali per minggu meningkat sampai 32% (Tabel 3) karena
pada musim hujan pestisida yang telah disemprotkan akan
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004 47
cepat hilang dan terbawa air hujan, sehingga perlu penambahan
frekuensi penyemprotan agar dihasilkan tanaman yang bebas
hama penyakit.
Tingkat aktivitas kholinesterase <70% merupakan batas bahwa
seseorang sudah mencapai tahap keracunan pestisida
(7)
.
Pengetahuan > 64% petani/buruh penyemprot tentang pes-
tisida baik, dan perlakuan terhadap pengelolaan pestisida >78%
petani/buruh baik, walaupun hanya 55% petani/buruh yang
mendapat penyuluhan.
Frekuensi penyemprotan pada musim hujan meningkat
32% untuk 3-4 kali per minggu,
Tabel 3. Pengetahuan Responden tentang Pengelolaan Pestisida.
Jumlah Responden (N = 100)
No.
Pengetahuan Cara
Pengelolaan Pestisida
Musim
Kemarau (%)
Musim
Penghujan (%)
1.
2.
3.
4.
Cara penyimpanan pestisida :
- Dalam botol khusus
pestisida
- Dalam tas plastik
- Lain-lain
Cara penyemprotan :
- Tidak berlawanan arah
angin
- Tidak menyemprot pada
waktu panas terik
- Tidak tahu
Frekuensi penyemprotan rata-
rata per minggu :
1 - 2 kali
3 - 4 kali
5 - 6 kali
Cara membersihkan bekas
percikan :
- Dicuci dengan kain
- Dicuci dengan air bersih
- Dicuci dengan sabun + air
91
9
-
79
10
11
78
19
3
1
9
90
95
5
-
88
6
6
38
51
11
1
8
91
Tabel 4. Responden yang pernah mendapat penyuluhan pestisida.
Jumlah Responden (N = 100)
No. Dapat Penyuluhan
Musim Kemarau
(%)
Musim Penghujan
(%)
1.
2.
Pernah
Tidak pernah
55
45
58
42
KESIMPULAN
1) Tingkat aktivitas kholinesterase yang menunjukkan batas
keracunan < 62,5% ditemukan 4% petani/buruh penyemprot
pada musim kemarau dan pada musim hujan mencapai 13%
petani/buruh penyemprot.
2) Pengetahuan > 64% petani/buruh penyemprot tentang pes-
tisida baik, sedangkan perlakuan terhadap pengelolaan pesti-
sida > 78% baik, walaupun hanya 55% yang mendapat penyu-
luhan.
Frekuensi penyemprotan pada musim hujan meningkat 32%
untuk 3-4 kali penyemprotan per 4 mingguan.
KEPUSTAKAAN
1.
Fahmi. Pencemaran Pestisida di Indonesia, Bahan penataran Pestisida
Regional bagi Petugas Hygiene & Sanitasi Tingkat Kabupaten dan
Propinsi, Sub Dit. P3M Pestisida Dit.Jen. P3M Dep.Kes. RI, 1982.
2.
Sub Dit. Pestisida. Peraturan-Peraturan tentang Pestisida, Direktorat
Perlindungan Tanaman Pangan, Jakarta. 1978.
3.
KOMPES. Pengembangan Industri Pestisida di Indonesia. Media Pesti-
sida 1983;.6:8.
4.
Dit.Jen. P3M Dep.Kes. RI. Usulan Pengendalian Pencemaran dan Kera-
cunan Pestisida, Sub Dit. P2 Pestisida Dit.Jen. Pengendalian Pencemaran
dan Keracunan Pestisida, Jakarta, 1985; 3.
5.
Thomas LC. Colorimetric Chemical Analytical Method. Sansbury
England, The Thintometer Ltd., 1974.
6.
Untuk, K. Pengendalian Hama Terpadu dan Masalah Penggunaan Pes-
tisida, WALHI, Jakarta. 1982.
7.
WHO. Organophosphorus Insecticide : A General Introduction Environ-
mental Health Criteria, 63 WHO Geneva, 1986.
Cermin Dunia Kedokteran No. 142, 2004
48