background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Proses Menua
Sendi Temporomandibula
pada Pemakai Gigitiruan Lengkap
Eri Hendra Jubhari
Bagian Prostodonsi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, Makassar
ABSTRAK
Proses menua adalah proses fisiologis yang dialami oleh semua manusia seiring
dengan bertambahnya usia. Meskipun proses ini berusaha dihindari, tetapi tetap harus
dijalani. Kemunduran fungsi merupakan salah satu akibat proses menua.
Sendi temporomadibula sebagai suatu sistem stomatognatik tidak berdiri sendiri
melainkan merupakan kesatuan dengan gigi dan otot, sehingga gangguan gigi dan atau
otot akan mengakibatkan gangguan sendi. Temporomandibula, sebagai sebuah sendi,
akibat proses menua dapat mengalami kemunduran pada otot, tulang ataupun
meniskusnya sehingga mengalami remodeling, artritis atau efek dari berkurangnya
dimensi vertikal. Osteoartritis menyebabkan berkurangrya kemampuan gerak sendi.
Remodeling merupakan proses resorpsi dan pembentukan tulang. Gigitiruan yang tidak
adekuat menyebabkan resorpsi tulang alveol,pengurangan dimensi vertikal sehingga
akan mempengaruhi sendi. Perawatan sendi dilakukan berupa suport dengan fisioterapi
dan terapi okupasional serta membuat gigitiruan yang baru.
Pada proses menua terjadi degenerasi, penipisan mukosa, hiposalivasi, penurunan
aktivitas dan massa otot. Sendi temporomandibula mengalami artritis dan osteoporosis
akibat beban berlebihan, usia pemakaian sendi dan pencabutan gigi dalam jumlah
banyak tanpa penggantian. Penggunaan gigitiruan harus disesuaikan dengan keadaan
pasien usia lanjut serta diikuti dengan pembuatan gigitiruan baru jika sudah tidak
cocok lagi.
Kata kunci : proses menua, sendi temporomandibula, pemakai gigitiruan lengkap.
PENDAHULUAN
Pada umumnya para dokter gigi kurang mempunyai per-
hatian khusus untuk populasi usia lanjut
(1)
, sedangkan mening-
katnya usia harapan hidup akan meningkatkan jumlah populasi
usia lanjut. Untuk itu pada tahun 1988, FDI
(2)
, telah membentuk
komisi kerja untuk pasien yang berusia lanjut.
Proses menua adalah suatu proses fisiologis pada kehidup-
an manusia. Pada proses menua, terjadi kemunduran banyak
fungsi tubuh. Salah satu di antaranya adalah fungsi sendi tem-
poromandibula (TM) untuk mengunyah, sehingga akan meng-
akibatkan berkurangnya asupan makanan sebagai sumber gizi
3
.
Kemampuan kunyah secara langsung diperankan oleh gigi.
Saat ini makin banyak individu yang dapat mempertahankan
giginya selama mungkin. Pada tahun 2001, diperkirakan jumlah
individu yang berusia lebih dari 75 tahun meningkat 22%, di
antaranya 10% edentulus (pada tahun 1983, 25% populasi
mengalami edentulus)
(4)
.
Penggunaan gigitiruan lengkap (GTL) sangat dianjurkan
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002
42
background image
kepada penderita edentulus karena akan mengembalikan fungsi
kunyah. Tetapi Raustia dkk
(5)
mendapatkan keadaan sendi yang
lebih parah pada pemakai GT. Menurut Drummond dkk
(6)
,
keadaan yang berhubungan dengan sendi TM sampai saat ini
tetap belum jelas. Sejumlah hal yang tidak normal termasuk
artritis dan proses kemunduran meniskus telah banyak dibahas.
Sebaliknya hubungan antara trauma lokal dan penyakit
sistemik, dengan usia masih belum dapat dipastikan. Sedangkan
Fredman
(7)
mengatakan bahwa perubahan degenerasi pada
maksila, mandibula, dan sendi TM mungkin sebagai akibat
adanya osteoporosis dan artritis.
Gangguan sendi TM pada populasi usia lanjut ini sering
membuat frustrasi para praktisi karena peryebabnya sangat
kompleks. Diagnosis dan perawatannya memerlukan perhatian
terhadap faktor-faktor fisiologis dan biokimia akibat perubahan
yang disebabkan bertambahnya usia.
(8)
Makalah ini adalah studi pustaka tentang keadaan fisio-
logis mukosa mulut dan sendi TM, proses menua pada mukosa
mulut dan sendi TM, beberapa gangguan pada sendi TM akibat
proses menua, dan penggunaan GTL pada pasien usia lanjut.
TINJAUAN KEPUSTAKAA N
Telah banyak perhatian ditujukan pada pentingnya sistem
kunyah yang sehat pada kelompok masyarakat usia lanjut,
Gerodontologi sebagai ilmu mengenai pengaruh usia pada
jaringan gigi dan mulut berkembang pesat dalam beberapa
tahun terakhir. Walls & Barnes
(9)
, mengatakan bahwa seiring
dengan meningkatnya usia harapan hidup, gigi relatif dapat
bertahan lebih lama. Untuk itu diperlukan penanganan khusus
atas jaringan mulut bagi individu usia lanjut.
(1)
Activity of daily living (ADL) memilih 4 pokok parameter
untuk mengevaluasi ADL mulut, yaitu jumlah gigi yang masih
ada, penggunaan gigitiruan (GT), kemampuan mengunyah, dan
perawatan kesehatan mulut. Melalui ADL, digambarkan tingkat
ketidakmampuan umum pasien usia lanjut.
(3)
Fisiologi dan biokimia jaringan lunak dan keras
Tulang sebagai pendukung gigi dan GT, sangat dinamis
dan aktif secara fisiologis. Matriks tulang terdiri dari bagian
organik dan bagian anorganik. Bagian organik disusun oleh
matriks kolagen dan bagian anorganik disusun oleh kristal
hidroksi apatit
(10)
.
Pembentukan dan resorpsi tulang (homeostasis) terjadi
maksimal pada masa remaja dan menurun bertahap selama
masa dewasa. Penurunan ini dipercepat oleh proses menua
(11)
.
Tulang diliputi oleh mukosa gingiva. Selama proses me-
nua, kelenjar lemak meningkat dan permukaan mukosa tampak
halus serta pembuluh darah lingual menonjol; ini mungkin ber-
hubungan dengan menipisnya epitel mukosa karena menurun-
nya proliferasi sel
(6)
, Selain itu, mukosa mengalami pengasaran
serabut kolagen dan kemunduran elastisitas
(12)
. Mukosa men-
jadi peka akibat penurunan drastis produksi saliva (hipo-
saliva).
(10,13)
Otot dan sendi temporomandibula
Sendi TM adalah sendi antara rahang bawah dan kranium.
Sendi ini dibentuk oleh kondil mandibula dan fossa glenoid,
kiri dan kanan. Kedua komponen tersebut dipisahkan oleh
meniskus sendi, yang merupakan jaringan fibrosa padat, men-
jadi ruang sendi atas dan bawah. Di ruang sendi atas terjadi
gerakan meluncur dan bagian bawah berfungsi sebagai sendi
engsel. Selain itu juga terdapat kapsul dan ligamen sendi yang
membatasi pergerakan sendi ke depan dan ke bawah. Per-
mukaan sendi ini dilapisi oleh jaringan ikat fibrosa padat dan
avaskuler. Hal ini menyebabkan sendi tidak dapat memikul
beban karena tidak dilapisi oleh kartilago hialin
(14,15)
.
Ada empat otot kunyah utama, yaitu masseter, temporalis,
dan otot pterigoideus lateral dan medial. Saat berfungsi,
komponen-komponen sendi saling bekerja sama. Misalnya
gerakan protrusi diawali kontraksi otot yang akan manarik
kondil dan meniskus ke depan dan ke bawah mengikuti emi-
nensia sendi
(15)
.
Perubahan fisiologis pada proses menua
Umumnya individu usia lanjut akan mengalami pengurang-
an jumlah gigi. Berkurangnya gigi, terutama gigi posterior telah
diindikasikan sebagai penyebab gangguan sendi TM karena
kondil mandibula akan mencari posisi yang nyaman pada saat
menutup mulut. Hal inil memicu perubahan letak kondilus pada
fossa glenoid dan menyebabkan kelainan pada sendi TM
(16,17)
.
Kelainan oklusal akibat hilangnya gigi menghasilkan stres
melalui sendi dan menyebabkan ganguan fungsi sendi
(18)
.
Griffin (1979) sebagaimana yang dikutip oleh Soik-
konen
(19)
menulis bahwa degenerasi sendi TM berhubungan
dengan hilangnya gigi, terutama gigi-gigi molar; tetapi GT
tidak diperlukan jika masih ada sepuluh kontak oklusal. Mung-
kin ini benar dalam hal ada kestabilan oklusi, tetapi akan me-
nyebabkan stres pada sendi dan atrofi pada ridge alveol karena
kurang difungsikan.
Tulang alveol dipertahankan bentuknya karena adanya
tarikan ligamentum periodontal; oleh karena itu, setelah pen-
cabutan gigi, prosesus alveol akan mengalami resorpsi karena
kurang difungsikan. Penggunaan GT setelah pencabutan gigi,
lebih memiliki daya tekan daripada daya tarik, hal inilah yang
menyebabkan resorpsi tulang
(10)
.
Kekuatan dan massa otot mulut (jumlah unit motorik fung-
sional) menurun seiring dengan proses menua
(6,912)
. Dikatakan
pula bahwa proses menua mengakibatkan kontraksi otot ber-
tambah panjang saat menutup mulut. Hal ini menyebabkan
kerja sendi lebih kompleks
(6)
.
Perubahan sendi temporomandibula
Struktur dan fungsi jaringan konektif mengalami sintesis
dan degradasi makromolekul sel dan ekstraseluler secara kon-
tinyu. Proses remodeling ini adalah adaptasi biologis terhadap
lingkungan, yaitu respon stres biomekanis. Adaptasi morfologi
akan meminimalkan stres biomekanis
(19,20)
.
Sejak usia dewasa muda, tulang rahang terus mengalami
remodeling
(18)
. Remodeling dianggap menyebabkan penebalan
jaringan pada permukaan sendi, misalnya produksi osteosit,
sebagai respon terhadap perubahan lingkungan, misalnya seba-
gai kompensasi gigi yang telah dicabut
(21)
. Sedangkan menurut
Meikle
(20)
kegagalan menahan stres biomekanis menyebabkan
degenerasi prematur jaringan fibrosa sendi seperti resorpsi tu-
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002 43
background image
lang subartikular. Akibat proses menua, jaringan sendi meng-
alami reduksi sel yang progresif sehingga hanya tersisa sedikit
kondrosit dan fibroblas yang kemudian menjadi fibrokartilago.
Akibatnya terjadi penipisan meniskus sendi dan dapat meng-
alami artritis
(12)
.
Remodeling terjadi pada bagian anterior dan posterior kon-
dil, medial dan lateral eminensia sendi, dan atap fossa glenoid.
Derajat remodeling tidak berhubungan dengan usia tetapi
sangat berhubungan dengan kehilangan gigi
(18,20)
.
Soikkonen dkk
(19)
pada penelitiannya mendapatkan bah-
wa lebih dari 95% individu memberikan gambaran osteo-
artritis. Gambaran radiografik kondil yang utama adalah sklero-
sis subkondral sehingga permukaan sendi menjadi rata karena
erosi dan celah sendi menjadi sempit.
Secara histologis, terlihat bahwa stres mekanis menyebab-
kan pemanjangan ligamen posterior meniskus, diikuti pergeser-
an ventromedial yang menyebabkan tidak adekuatnya aliran
darah sehingga terjadi iskemia di daerah tersebut dan terjadi
resorpsi tulang
(19)
.
Gangguan sendi temporomandibula
Keadaan yang jamak ditemui adalah osteoartritis dan
osteoporosis terutama pada wanita menopause; hal ini me-
ningkatkan risiko fraktur. Pemberian estrogen dapat mencegah
atau mengurangi osteoporosis
(9)
. Manifestasi osteoartritis ada-
lah rasa nyeri, pembesaran sendi dan keterbatasan gerak.
Penanganan yang dilakukan berupa suport dengan fisioterapi
serta terapi okupasional. Pengobatan dapat dengan analgesik
dan anti-inflamasi non-steroid
(22)
.
Pada keadaan artritis, sering ditemukan nodul-nodul kalsi-
fikasi di permukaan artikular sendi. Selain itu, ukuran kondil
mandibula menjadi kecil dan permukaan artikular menjadi rata.
Perubahan seluler sendi pada proses menua, disertai stres dan
trauma akan menyebabkan degenerasi seluler yang mem-
perberat pengaruh menua
(18)
. Hal ini menyebabkan remodeling
tulang pada daerah subkondral, yang dideteksi secara radiografi
dengan adanya peningkatan kepadatan tulang (sklerosis), seba-
gai awal dari osteoartritis. Tulang yang kaku ini tidak lagi
efektif menahan beban sehingga terjadi peningkatan tekanan
pada kartilago sendi
(21)
.
Artritis rematoid menyerang 2,5% populasi. Kartilago sen-
di mengalami erosi dan terjadi degenerasi struktur pendukung
sendi
(22)
. Penurunan kemampuan merupakan keadaan sekunder
artritis rematoid; yang paling sering terjadi sebagai bagian dari
proses menua berupa penurunan drastis kolagen pada permuka-
an sehingga kolagen tidak dapat menahan beban
(21)
.
Gigitiruan lengkap untuk pasien usia lanjut
Meskipun ada kecenderungan individu saat ini dapat mem-
pertahankan giginya sampai tua, tetapi kira-kira 10% populasi
tersebut mengalami edentulus
(1)
. Untuk mengantipasi edentulus
dianjurkan penggunaan GT.
Tetapi penggunaan GT dapat menyebabkan perubahan mu-
kosa, lesi hiperplastik, atau atrofi. Radang mukosa itu, misalnya
denture stomatitis dan angular cheilitis, umumnya disepakati
berhubungan dengan Candida albicans akibat gigitiruan yang
tidak adekuat pembersihannya. Angular cheilitis adalah lesi
radang sudut lipatan mulut yang berhubungan dengan ber-
kurangnya dimensi vertikal oklusi akibat overclosure sehingga
saliva mengalir keluar
(13)
. Berkurangnya dimensi vertikal ter-
jadi karena resorpsi ridge alveol. Hal ini menyebabkan GT
menjadi tidak stabil karena GT tidak cekat lagi pada tempatnya.
Ketidak cekatan ini menyebabkan kemunduran progresif ridge
alveol sehingga terbentuk lesi hiperplastik.
Atrofi terjadi pada lapisan epitel sehingga menjadi rata dan
papila jaringan ikat menghilang
(13)
. Keadaan ini menyebabkan
mukosa individu usia lanjut membutuhkan waktu yang lebih
lama untuk pemulihan komplit. Hal ini mungkin berhubungan
dengan pendapat bahwa individu usia lanjut berkurang res-
ponnya terhadap panas, mungkin karena berkurangnya aliran
darah. Oleh karena itu, setiap malam pemakai GT disarankan
mengistirahatkan mukosa mulutnya dari tekanan GT
(23)
.
Penting diwaspadai perubahan-perubahan yang dapat ter-
jadi di jaringan orofasial akibat proses menua. Tulang alveol
mulai berkurang sejak dicabutnya gigi sampai ridge alveol
menjadi rata, jika tidak menggunakan gigitiruan
(1,12,24)
. Yang
pasti, kehilangan kontak oklusal akan mengganggu kestabilan
lengkung gigi sehingga mengacaukan fungsi mengunyah
(14,24)
.
Dari 13 penelitian yang dilakukan oleh Oleson
(14)
, tercatat dua
kali lebih banyak yang menyatakan adanya hubungan antara
oklusi dengan gangguan sendi TM. Sependapat dengan itu,
hasil penelitian Ow dkk
(24)
memperlihatkan bahwa makin ba-
nyak gigi yang tersisa, makin baik kemampuannya untuk
mengunyah.
Beberapa pemakai GT mengalami tanda dan gejala yang
parah; ini mungkin berhubungan dengan kualitas GT baru yang
tidak adekuat ataupun GT lama yang sudah tidak cekat
sehingga mengubah dimensi vertikal. Karena itu perlu diingat
bahwa penggunaan GT hendaknya betul-betul disesuaikan
dengan kondisi mulut pasien agar sendi TM tidak menjadi lebih
parah sehubungan dengan proses menua, kalau perlu dengan
membuat GT yang baru
(5)
.
Individu pengguna GT diharapkan tidak mengalami gang-
guan fungsi kunyah, meskipun kemampuan mengunyah tam-
paknya tidak berhubungan dengan penggunaan GT. Fungsi
kunyah yang optimal dianggap sebagai bagian dari fungsi
umum yang perlu untuk individu usia lanjut agar berhasil dalam
masa tuanya
(24)
.
Keberhasilan pasien beradaptasi dengan gigitiruannya ter-
gantung pada kemampuan untuk belajar, kemampuan otot-otot
dan motivasinya, yang akan berkurang pada individu berusia
lanjut
(12,24)
. Dan akibat penurunan drastis produksi saliva yang
mempunyai multifungsi, mukosa menjadi lebih peka akibat
pengurangan fungsi pelumas dan efek retensi saliva pada
GT
(10,13)
.
Kepada calon pemakai GTL dijelaskan bahwa tahap
pertama pemakaian adalah menstabilkan oklusi. Selanjutnya,
(a) GT dioklusikan dan bibir ditutup, (b) tutup mulut dan
gerakkan otot-otot wajah, (c) tutup mulut dan telan saliva; (d)
isap, kumur, dan minum air, (e) gigit makanan lunak kecil dan
telan. Aktivitas tersebut sangat bermanfaat bagi pemakai GTL
agar gigitiruannya dapat mengembalikan furgsi kunyah, fo-
netik, dan estetik tanpa mencederai mukosa mulut dan sendi
TM
(1)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002
44
background image
KESIMPULAN
9.
Walls A, Barnes I. Gerodontology : A condition and problem ? Dalam :
Barnes I, Angus W (eds), Gerodontology. Oxford : Wright, 1994 : 2- 9.
Dari hasil penelusuran pustaka mengenai proses menua
pada sendi TM, dapat disimpulkan bahwa akibat proses menua
yang secara fisiologis dialami oleh semua individu, terjadi
degenerasi. Mukosa mengalami penipisan, hiposalivasi, ak-
tivitas dan massa otot berkurang. Pada sendi TM dapat terjadi
artritis rematoid, osteoartritis dan osteoporosis. Hal ini dapat
terjadi akibat beban berlebihan, usia pemakaian sendi dan
pencabutan gigi dalam jumlah banyak tanpa penggantian.
10. Roth GI, Calmes R. Oral Biology, StLouis: CV. Mosby Co., 1981 :
147-95.
11. Grant AA, Heath JR, McCord JF. Complete prosthodontics : Problem,
diagnosis, and management. Mosby Year Book Europe, 1994.
12. Murray D. Full denture for the aging patient. Dalam : Barnes I, Angus W
(eds), Gerodontology, Oxford : Wright, 1994 : 146-55.
13. Ettinger RL. Clinical manifestation of oral mucosal aging. Dalam :
Squier CA, Hill MW (eds.). The Effect of Aging in Oral Mucosa and
Skin. Boca Raton : CRC Press, 1994: 15-9.
14. Okeson JP. Management of temporomandibular disorders and occlusion.
Ed. 3, St Louis : Mosby Year Book Inc, 1993.
Gigitiruan lengkap umumnya berpotensi menyebabkan
trauma yang tidak dapat direspon dengan baik oleh mukosa
individu usia lanjut. Keadaan tersebut dapat diminimalkan
dengan membuat GT yang sesuai dengan keadaan inidividu
usia lanjut, termasuk membuat GT baru jika diperlukan. Untuk
itu perlu ditekankan adanya penanganan khusus bagi individu
usia lanjut.
15. Hylander. Functional anatomy. Dalam : Sarnat BG, Laskin DM (eds.).
The temporomandibular joint: A biological basis for clinical practice,
Edisi ke-4. Philadelphia: WB Saunders Co. 1992 : 60-85.
16. Elias S. Pengaruh kehilangan gigi pada sendi temporomandibula dan
penanggulangannya. Majalah Ilmiah Kedokteran Gigi FKG USAKTI,
Edisi Khusus FORIL VI. Jakarta, 1999 :191-6.
17. Jubhari EH, Mailoa E, Sudjarwo I. Hubungan kliking sendi
temporomandibula dengan gigi edentulus posterior. Maj. Ilmiah Kedokt.
Gigi FKG USAKTI, Edisi Khusus FORIL VI. Jakarta, 1999:170-8.
KEPUSTAKAAN
18. Tonna EA. Aging skeletal, dental systems and supporting tissues. Dalam
: Finch CE, Hayflick L, Brody H, Rossman I (eds.). Handbook of the
Biology of Aging, New York : VanNostrand Reinhold Co, 1977.
1. Morisaki M.The limitation of geriatric dentistry. Dentistry in Japan 1997;
33: 131-3.
19. Soikkonen K, Hiltunen K, AinamoA. Radiographic condylar findings and
occlusal imbalance in old people. J Oral Rehabil 1996; 23: 856-9.
2. Federation Dentaire International. Oral health of elderly. FDI Dental
World 1993 ; 2 : 5-8.
20. Meikle MC. Remodelling. Dalam : Sarnat BG, Laskin DM (eds.). The
temporomandibular joint : A biological basis for clinical practice, Ed 4.
Philadelphia: WB Saunders Co, 1992 : 93-105.
3. Okimoto K, Matsuo K, Hayashi M,Terada Y.Oral ADL in the elderly.
Dentistry in Japan 1999; 35 : 57-60.
4.
Mitchell L, Mitchell DA. Oxford Handbook of Clinical Dentistry, Ed. 3.
Oxford : Oxford University Press, 1999 : 378.
21. Ogus HD, Toller PA. Gangguan sendi temporomandibula. Alih bahasa :
Yuwono L, Jakarta : Hipokrates, 1990 :15, 26-7, 29-30, 64.
5. Raustia AM, Peltola M, Salonen MAM. Influence of complete denture
renewal on craniomandibular disorders : A 1-year follow-up study. J Oral
Rehabil 1997; 24: 30-6.
22. Baillie S, Woodhouse K. Medical aspects of ageing : facial and oral pain.
Dalam : Barnes I, Angus W (eds.), Gerodontology. Wright : Oxford,
1994 : 7-14.
6. Drummond J, Newton J, .Scott J. Orofacial aging. Dalam : Barnes I,
Angus W (eds.), Gerodontology. Wright : Oxford, 1994 : 17-9.
23. Johnson, Effects of aging on the microvasculature and microcirculation in
skin and oral mucosa. Dalam : Squier CA, Hill MW (eds.). The Effect of
Aging in Oral Mucosa and Skin. Boca Raton: CRC Press, 1994: 99-104.
7. Fredman KA. Management of the geriatric dental patients. Chicago:
Quintessence Publ. Co. Inc., 1979: 25
24. Ow RKK, Loh T,Neo J, Khoo J. Perceived masticatory function among
elderly people. J Oral Rehabil 1997 ; 24 : 131-7.
8. Iacopino AM. Understanding and treating aging patients. Quintessence Int
1997; 28: 622-5.
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002 45