Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 47
Pengaruh Faktor Berat Badan,
Usia Kandungan, Posisi Anak
Terhadap Taraf Retardasi
Mental
Siti Isfandari, Ekowati Rahajeng
Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan R.L, Jakarta
PENDAHULUAN
Retardasi mental adalah keadaan fungsi intelektual umum
bertaraf subnormal yang dimulai dalam masa perkembangan
individu dan berhubungan dengan terbatasnya kemampuan
belajar maupun daya penyesuaian dan proses pendewasaan
individu.
1
Retardasi mental bukari merupakan suatu penyakit, melain-
kan suatu kondisi yang mempunyai penyebab berbeda-beda.
Penyebab retardasi mental dapat dikatagorikan dalam 3 kata-
gori, yaitu yang bersifat organobiologik, psikoedukatif dan sosio
kultural. Penyebab organobiologik, misalnya : berat badan, usia
kelahiran, posisi bayi dalam kandungan, penyakit campak waktu
bayi, kekurangan fenilalanin, dan lain-lain. Penyebab psiko-
edukatif berkaitan dengan kurangnya stimulasi dini, lingkungan
yang tidak memacu perkembangan otak, terutama pada tiga
tahun pertama. Penyebab sosiobudaya berfokus pada perbedaan
variabel sosioekonomibudaya; prevalensi penderita retardasi
mental lebih besar pada keluarga dengan tingkat sosioekonomi
rendah.
Namun ketiga katagori penyebab retardasi mental tersebut
tidak berdiri secara terpisah. Kekurangan faktor yang satu dapat
diperbaiki dengan meningkatkan faktor yang lain, misalnya :
anak dengan berat badan lahir rendah dapat dicegah menjadi
retardasi dengan meningkatkan stimulasi yang berkaitan dengan
peningkatan fungsi otak.
Menurut kepustakaan prevalensi retardasi mental adalah 3,4%
dari seluruh populasi.
2
Di Indonesia menurut Catryn terdapat
prevalensi sebesar 3%.
3
Pada penelitian di komunitas pada orang
dewasa terdapat prevalensi sebesar 1,89%.
4
Penelitian tentang
retardasi mental sangat penting, karena menyangkut kualitas
sumber daya manusia. Sebagaimana diketahui retardasi mental
berat menjadi beban masyarakat, sedang border line atau ringan
masih dapat melakukan pekerjaan sederhana. Dari penelitian
Santoso (1981) dikatakan bahwa 74% (196) dari 265 narapidana
mempunyai kecerdasan subnormal dan mampu melakukan pe-
keijaan ringan.
3
Bila retardasi mental dapat dicegah oleh upaya tertentu, hal
ini akan menguntungkan sumber daya manusia.
FAKTOR PENYEBAB
Seperti telah dikatakan, penyebab retardasi mental terbagi
dalam 3 katagori, yaitu : penyebab organobiologis, psikoedukatif
dan sosial budaya. Wainer (1978) menggolongkan penyebab
retardasi mental dalam 2 golongan, yaitu : familial retardation
dan penyebab organobiologis.
Dalam familial retardation tidak ditemukan ketidak normalan
biologis, namun ada sejarah keluarga bahwa satu atau kedua
orang tuanya mengalami retardasi mental. Belum diketahui
apakah familial retardation disebabkan karena faktor genetik atau
pengalaman diasuh orartg tua yang mengalami retardasi mental.
Seperti yang telah dikatakan familial retardation tidak mem-
punyai sebab biologis yang jelas. IQ mereka berkisar antara 50
sampai 69 serta mempunyai sejarah keluarga yang mengalami
retardasi mental, tapi penyebab khususnya tidak diketahui.
Sebagian besar para ahli mengatakan bahwa familial retardation
adalah cacat bawaan yang diperoleh melalui gen dari orang tua
yang terbelakang kepada anaknya. Pendapat ini berdasarkan
pada kejadian bahwa 50% sampai 75% skor IQ dapat diperkira-
kan (diprediksi) melalui ketunrnannya.
Hal ini berarti makin dekat hubungan darah antara dua
orang, makin besar persamaan inteligensinya. Misal : anak
kembar identik lebih banyak kesamaannya dibanding anak
kembar fraternal, walau mereka diasuh secara terpisah. Demiki-
an pula IQ dari anak yang diadopsi lebih mendekati orang tua
biologisnya dibanding orang tua adopsinya.
Tapi ahli lain membantah bahwa inteligensi lebih ditentukan
oleh pengalaman anak daripada keturunannya, dan bahwa retar-
dasi mental tanpa penyebab biologis, disebabkan oleh faktor
psikososial. Sudah diketahui bahwa anak yang kekurangan
stimulasi psikososial, inteligensinya tidak akan berkembang
normal. Peneliti lain berpendapat bahwa diasuh oleh satu atau
kedua orang tua yang retarded akan menyebabkan inteligensi
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990
48
anaknya akan di bawah rerata. Mereka berpendapat hal ini
karena terbatasnya stimulasi sosial yang diberikan oleh orang tua
terbelakang, juga karena lingkungan tempat mereka hidup tidak
sempurna.
Pandangan ini didukung kenyataan bahwafamilial retardation
lebih sering terjadi pada keluarga dengan tingkat sosial ekonomi
rendah dibanding yang menengah, terutama pada keluarga yang
hidup dalam lingkungan yang kurang menguntungkan. Di
samping itu "menjadi misikin" merupakan akibat dan bukan
sebab dari keluarga yang terbelakang. Pandangan ini disebut
cultural drift hypothesis. Keluarga yang retardasi mempunyai
taraf SES rendah karena keterbatasan kemampuan dan kapasitas
mereka.
Sedikit ahli berpendapat bahwa inteligensi di bawah rerata
disebabkan hanya oleh faktor psikososial atau biologis saja.
Sebagian besar yakin bahwa interaksi antara pengaruh faktor
genetik dan lingkungan yang menentukan tingkat keparahan
retardasi. Motivasi dan emosi dari orang yang terbelakang
merupakan hal penting dalam fungsi intelektualnya. Fungsi
intelektual dari orang dengan inteligensi normal dan yang di
bawah rerata dipengaruhi oleh keadaan di mana mereka diasuh,
dalam lingkungan yang kaya atau miskin stimulasi. Lingkungan
yang kaya akan stimulasi dapat meningkatkan fungsi intele-
gensi.
5
Di samping familial retardation, penyebab retardasi mental
berhubungan dengan tidak sempumanya berat badan dan usia
kelahiran. Bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram
sewaktu dilahirkari iempunyai kemungkinan lebih besar untuk
menderita retardasi mental. Anak dengan usia kandungan di
bawah 9 bulan berkaitan dengan tidak sempumanya keadaan
bayi yang membuatnya peka terhadap tekanan, stres dan pe-
nyakit dari lingkungan. Anak dengan usia kandungan di atas 9
bulan akan mengalami kekurangan persediaan makanan. Hal ini
mempengaruhi perkembangan otak yang berpengaruh terhadap
fungsi intelektual.
Akibat psikologik dan kemampuan belajar yang disebabkan
oleh ketidaksempumaan berat badan dan
,
usia kandungan saja
sulit dipastikan karena kedua hal itu dipengaruhi oleh banyak
variabel.
Penelitian Rubin dkk atas akibat psikologik dan kemampuan
belajar dari anak yang lahir prematur mendapatkan basil yang
menarik. Mereka menggolongkan bayi menurut usia kandung-
an dan berat badan. Kesimpulan dari penelitian mereka ialah :
anak laki dengan berat badan rendah dan preterm serta anak
dengan berat badan rendah aterm dan kedua jenis kelamin
merupakan anak dengan risiko tinggi dalam ketidak-sempumaan
fungsi belajar (sulit untuk belajar sempuma).
Hasil lengkap dari penelitian tersebut ialah :
1)
Berat badan rendah banyak berhubungan dengan kondisi
yang tidak normal, seperti skor Apgar yang rendah, mening-
katnya bilirubin dalam periode neonatal.
2)
Berat badan lebih berpengaruh terhadap ketidak sempumaan
logika, kemampuan mental (psikologis) dan kemampuan belajar
dibandingkan dengan usia kandungan.
3)
Bayi lelaki dengan berat badan rendah dan bayi dengan berat
badan rendah dengan usia kandungan cukup dari kedua jenis
kelamin lebih mempunyai masalah dalam kemampuan belajar
dibandingkan dengan bayi dengan berat badan dan usia
kandungan normal.
4)
Bayi dengan berat badan rendah mempunyai skor lebih
rendah dalam semua pengukuran obyektif perkembangan
mental, bahasa, kesiapan sekolah dan prestasi belajar pada usia
7 tahun.
5)
Tidak ada pengaruh perbedaan seks antara bayi dengan berat
badan rendah pada pengukuran objektif perkembangan psiko-
logis dan prestasi. Bayi lelaki lebih mempunyai permasalahan
dalam kemampuan belajar dibandingkan dengan bayi perem-
puan.
6) Pada usia 7 tahun, bayi dengan berat badan rendah lebih kecil
dan pendek serta insidens abnormalitas neurologisnya lebih
tinggi dibandingkan dengan bayi dengan berat badan normal.
7) Di antara bayi dengan berat badan ,normal, tidak ada per-
bedaan psikologis dan kemampuan belajar antara mereka
yang lahir preterm dan aterm.
6
Selain familial retardation, tidak sempumanya usia kandung-
an dan berat badan, retardasi mental dipengaruhi pula oleh
posisi bayi dalam persalinan. Bayi dengan posisi normal, yaitu
kepala dalam kedudukan ke luar lebih dahulu, mengalami
luka dan kesakitan lebih sedikit dibandingkan dengan posisi lain.
Bayi dengan posisi abnormal dapat menimbulkan berbagai
macam masalah. Kerusakan otak dan anoksia dapat terjadi
karena posisi yang abnormal. Kedua hal itu dapat mempengaruhi
perkembangan bayi, terutama fungsi intelektualnya.
6
Tujuan tulisan ini adalah untuk mengemukakan pengaruh
faktor berat badan, usia kandungan dan posisi janin terhadap
taraf retardasi mental. Dengan infonnasi yang lebih jelas, di-
harapkan dapat diadakan pencegahan sedini mungkin terhadap
kejadian retardasi mental.
MATERI DAN METODOLOGI
Data untuk penelitian ini diambil dan penelitian yang telah
dilakukan oleh Elcowati Rahajeng di SLB Semarang pada tahun
1988. Dalam penelitian tersebut populasi penelitian adalah
seluruh anak retardasi mental yang belajar di SLB tipe C.
Yang dijadikan subyek penelitian adalah siswa SLB Widya
Bhakti, Immanuel dan YPAC Semarang berjumlah 198 anak.
Rencana penelitian ini adalah studi observasional retrospektif
atau survei yang sifatnya deskriptif, karena kejadian retardasi
mental ditelusuri secara retrospektifmelalui karakteristik riwayat
persalinan.
Observasi dilakukan melalui wawancara tertulis tidak
langsung berdasarkan angket yang telah diujicoba. Responden
adalah ibu kandung dari anak retardasi mental (bila ibu sudah
meninggal, diwakili oleh suami atau saudara terdekat). Setiap
kuesioner dikirimkan kepada orang tua dilampirkan surat pe-
ngantar dan petunjuk pengisian dengan jelas. Untuk kuesioner
yang tidak lengkap jawabannya, dilakukan pemanggilan orang
tua melalui sekolah atau kunjungan rumah.
Pengklasifikasian taraf retardasi mental adalah :
1)
Taraf ringan, nilai IQ lebih 50
2)
Taraf sedang,nilai IQ 35 -- 49
3)
Taraf berat, nilai IQ kurang dari 34.
Definisi operasional dalam penelitian ini :
1) Berat badan anak waktu lahir adalah jumlah gram yang men-
jadi berat badan anak waktu lahir.
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 49
2)
Umur anak dalam kandungan adalah jumlah bulan yang
dilalui anak dalam rahim ibunya.
3)
Posisi janin adalah penjelasan dt kter atau bidan tentang letak
bayi sewaktu dilahirkan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Prosentase Taraf Retardasi Mental menurut Beat Badan Anak Waktu
Lahir.
Retardasi Mental
Berat Badan
Waktu Lahir
Berat Sedang
Ringan Total
f % f % f % f %
<
2500
6 35,3 5 29,4 6 35,3 17
100
2500
--
3000 10 14,29 13 18,57 47 67,14 70 100
>
3000
14 12,6 15 13,5 82 73,87 111 100
Keterangan :
X -- 10.777 p < 5% (Ekowati. 1988)
Dalam penelitian ini didapatkan basil bahwa ada hubungan
antara berat badan anal( dengan taraf retardasi mental. Anak
dengan berat badan makin ringan cenderung mengalami retar-
dasi mental yang lebih berat. Hal ini sesuai dengan pendapat
Drillen dkk. bahwa bayi yang sewaktu lahir mempunyai berat
di bawah 2500 gram cenderung mengalami retardasi mental
lebih berat. Makin ringan berat bayi, makin besar kemungkinan
untuk mengalami retardasi mental.
s
Kurangnya berat badan bayi berhubungan dengan kesehatan
ibu selama kehamilan terutama saat 3 bulan pertama dari ke-
hamilan. Pada masa itu terjadi pembentukan sistem saraf sentral
yang mempengaruhi fungsi intelektual. Kurangnya berat bayi
juga dipengaruhi oleh radiasi, obat-obatan dan kebiasaan me-
rokok pada ibu.
2
Bayi dengan berat badan kurang juga peka
terhadap penyakit infeksi yang dapat mempengaruhi perkem-
bangan logika, mental dan kemampuan belajar yang tidak
sempuma.
Tabel 2. Prosentase Taraf Retardasi Mental menurut Letak Janin.
Retardasi Mental
Beat Sedang
Ringan Total
Letak Janin
f % f % f % F %
Normal 15
20,8
24
33,3
33
45,8
72
100
Sungsang 15
46,875
6
18,75
11
34,375
32
100
Tidak tahu
0
0
3
3,19 91
96,8
94 100
Keterangan :
X -- 5.991 p < 5% (Ekowati Rahajeng. 1988)
Dari tabel 2 ternyata bahwa pada bayi dengan letak sungsang
proporsi retardasi mental berat lebih banyak dibandingkan
dengan retardasi mental sedang. Namun data ini masih me-
merlukan kdnfirmasi lebih lanjut karena adanya data yang tidak
diketahui sedangkan retardasi mental ringan relatif besar.
Proses kelahiran merupakan masa kritis, tapi bahaya dapat di-
kurangi bila bayi berada dalam posisi normal, yaitu kepala
keluar lebih dahulu. Posisi selain itu adalah abnormal dan
banyak menimbulkan masalah
6
Posisi yang tidal( normal membuat sulitnya pengeluaran bayi
melalui saluran kelahiran dan dapat mengakibatkan anoxia
(kekurangan oksigen). Dalam posisi sungsang plasenta yang
sudah terputus pada waktu kepala bayi masih berada dalam
kandungan dapat mengakibatkan terputusnya pemberian
oksigen pada bayi. Dengan demikian kerusakan otak dan anoksia
dapat mempengaruhi perkembangan otak dan fungsi intelektual-
nya.
Tabel 3. Prosentase Taraf Retardasi Mental menurut Umur Anak dalam
Kandungan.
Retardasi Mental
Berat Sedang Ringan Total
Umur Anak
dalam
Kandungan
f % f % f % f
< 9 bulan
5
25
5 25 10 50
20 100
9 bulan
9
9,7 15 16,3
68 74
92
100
> 9 bulan
16 18,6
13 15,6
57 66,8
86
100
Keterangan :
X -- 4.327 p > 0,05 (Ekowati Rahajeng. 1988)
Pada tabel 3 tampak bahwa usia bayi dalam kandungan
mempunyai hubungan yang kurang jelas dengan taraf retardasi
mental. Hal ini sesuai dengan basil penelitian Rubin dick (1973)
bahwa tidak ada perbedaan kemampuan psikologis dan belajar
pada bayi dengan berat normal berdasarkan perbedaan usia
kandungan. Berat bayi lebih berpengaruh terhadap fungsi neuro-
logis, psikologis dan kemampuan belajar dibandingkan dengan
usia kandungan.
5
Tapi apabila digolongkan berdasarkan usia
kandungan, tampak bahwa bayi dengan umur kandungan di
bawah 9 bulan dan normal cenderung mengalami retardasi
mental ke arah ringan, sedang pada usia kandungan di atas
9 bulan, terdapat kecenderungan yang bervariasi.
Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990
50
KESIMPULAN
Di antara beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya
retardasi mental, berat badan bayi dan letak bayi dalam kandung-
an mempunyai pengaruh yang bermakna. Makin ringan berat
bayi, retardasi mental yang dialami cenderung lebih berat.
Bayi dengan letak tidak normal cenderung pula mengalami
retardasi mental ke arah yang lebih berat dibanding bayi dengan
posisi normal.
SARAN
Dari hasil penelitian ini dapat disarankan agar ibu memper-
hatikan kesehatan dirinya, seperti : memperhatikan gizi, hati-hati
minum obat dan mengurangi kebiasaan buruk, seperti : kebiasa-
an minum alkohol, merokok serta secara rutin memeriksa
kandungannya.
Pada anak yang dikhawatirkan mempunyai resiko tinggi akan
mengalami retardasi mental, sebaiknya diberikan stimulasi psi-
kososial sebanyak mungkin.
KEPUSTAKAAN
1.
PPDGJ. Edisi 1.Direktoiat Kesehatan Jiwa. Depkes R.I.1973.
2.
WHO. Mental Retardation : Meeting The Challenge. Geneva. 1985.
3.
Santoso dkk Penyelidikan Pendahuluan Retardasi Mental di Propinsi Jawa
Tengah. Jiwa 1981; 2.
4.
Salan R. Penelitian Prevalensi Gangguan Jiwa di Jakarta Banat Tambora 1,
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. 1989.
5.
Elkind, Weiner. Development of The Child New York : John Willey & Sons
Inc. 1978.
6.
Chin, Drew, Logan. Mental Retardation Toronto : CV Mosby Company 1979.
Ucapan terima kasih :
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Dr Rudy Salan kepala Pusat
Pene/itian Penyakit Tidak Menular Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan RL, sejawat lainnya
serta semua pihak yang telah membantu dan memberikan saran-saran berharga dalam
penulisan makalah ini.