background image
3. Kurang berat, lebih dari 20% (Rodman Sterling).
Penyebab kematian utama (Rodman Sterling).
1. Cor pulmonale (53%)
2. Kegagalan pernafasan akut (sub akut 30%)
3. aritemia Jantung.
PROGNOSIS.
Masa hidup (survival) penderita
PPOM faktor-faktor yang
mempengaruhi prognosis :
1. Gangguan fungsionil inisial, VEP
1.0
sering
dijadikan para-
meter untuk menilai prognosis, umumnya prognosis buruk,
bila VEP
1.0
mencapai 1.5 liter atau kurang, dengan survival
kurang lebih 10 tahun, menjadi 4 tahun pada VEP
1 . 0
1 liter dan 2 tahun pada VEP
1.o
0,5 liter (Petty).
2. Adanya Cor pulmonale yang umumnya disertai dengan
hipoksemia dan hiperkapnia.
PENGALAMAN PRAKTEK
Shock Anafilaktik Akibat Pemakaian Obat per oral
Daftar kepustakaan dapat diminta pada penulis/
redaksi
Sudah ada beberapa dokter diajukan ke meja hijau oleh karena kasus
shock anafilaktik yang menyebabkan kematian. Dalam beberapa per-
temuan dan diskusi-diskusi, telah dibahas bahwa semua obat pada prin-
sipnya dapat menyebabkan terjadinya reaksi alergi, dan apabila berat
dapat menjadikan shock anafilaktile.
Pada kesempatan ini kami akan mengutarakan pengalaman kami sendiri
dengan penderita yang mengalami shock anafilaktik dengan minum
preparat derivat ampisilin.
Urut-urutan Kejadiannya.
·
Pada tanggal 5 April 1982 datanglah seorang penderita (umur
32 tahun) ke kamar praktek saya. Penderita sudah sering sekali berobat
kepada kami dengan diagnosis ulcus ventriculi; sudah sering menda-
patkan obat antasida dan analgetika. Pada hari tersebut penderita da-
tang dengan keluhan yang sama, disertai nyeri telan dan sedikit batuk-
batuk. Pada pe
meriksaan kami temukan adanya pharyngitis. Kemudian
kami berikan obat analgetika yang sudah biasa kami berikan dan kami
tambah dengan preparat derivat ampisilin.
Sudah kami lakukan anamnesa mengenai tahan atau tidak penderita
terhadap penisilin, tetapi penderita tidak mengetahuinya. Kemudian
penderita pulang dan resep dibelikannya. Berhubung obatnya datang
sudah terlalu malam dan penderita sudah tidur maka obat tersebut
belum diminum.
·
Baru pada keesokan harinya tanggal 6 April 1982 obat tersebut
diminum s
ekitar jam 7.
0O
pagi. Beberapa saat sesudah itu mendadak
penderita merasa gatal di seluruh tubuh,
nafas menjadi sesak dan
berbunyi (stridor), muka sembam dan pandangannya menjadi gelap,
kulit muka menjadi merah. Kemudian penderita minta diantar kembali
ke dokter.
Sampai di rumah dokter, penderita sudah lemah sekali dan menge-
luh badannya lemah sekali, pandangan gelap, dan leher terasa tersum-
bat. la masuk ke kamar praktek dengan digotong. Secepatnya penderita
kami berikan suntikan adrenalin 0,3 cc 1M, dan denyut nadi kami
monitor sambil berdoa kepada Tuhan YME.
Sekitar 3 -- 4 menit kemudian penderita mulai dapat bernafas
panjang dan membuka mata. Kami tanyakan bagaimana rasanya ?
Penderita sudah dapat menjawab bahwa nafas agak longgar dan sudah
tidak seberapa gelap lagi pandangannya. Kemudian kami lakukan peng-
ukuran tekanan darah, tekanan darahnya sudah 80/50 mm Hg.
Penderita kemudian kami bawa ke rumah sakit dengan posisi Tren-
delenberg dalam mobil. Sesampainya di rumah sakit kemudian diu-
langi pemberian suntikan adrenalin 0,3 cc subkutan. Sekitar 5 menit
kemudian tekanan darah 110/80 mm Hg, sesak nafas pendenta hazing
dan skin rash serta edema hilang. Selanjutnya penderita dian jurkan
untuk tinggal sementara di rumah sakit untuk mendapatkan pengawasan.
Demikianlah pengalaman praktek ini saya muat sekedar menambah
informasi pada Teman Sejawat semuanya.
dr. A. Guntur
Hermawan
Bagian P.P.K.M. Fakultas
Kedokteran
Universitas Sebelas Maret, Sttrakarta.
Cermin Dunia Kedokteran No. 26, 1982 45