Mekanisme Diare Infektisius
Akut
Atan Baas Sinuhaji, A.H. Sutanto
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Rumah Sakit Dr Pirngadi, Medan
ABSTRAK
Diare Infeksius Akut dapat disebabkan oleh sejumlah virus, bakteri dan parasit.
Untuk dapat menimbulkan diare, mekanisme apapun yang digunakan oleh mikro-
organisme patogen tersebut, haruslah terjadi gangguan absorpsi/reabsorpsi cairan yang
terdapat di lumen usus dan meningkatnya secara berlebihan sekresi kelenjar-kelenjar
saluran cerna atau kombinasi keduanya.
Karena itu tanpa memandang penyebab diare, umumnya akibat yang terjadi adalah
oleh karena kehilangan cairan, elektrolit, basa dan makanan melalui tinja penderita.
PENDAHULUAN
Diare merupakan salah satu manifestasi gangguan fungsi
saluran cerna. Pada keadaan diare, jumlah air dalam tinja akan
meningkat, demikian juga volume tinja. Juga akan dijumpai
perubahan tinja baik dalam konsistensi, warna dan bau°. Defi-
nisi yang tepat dari diare masih sulit dikemukakan. Umumnya
frekwensi pengeluaran, bentuk dan konsistensi tinja tergantung
terutama pada diet yang bervariasi antara satu masyarakat de-
ngan masyarakat lainnya.
Pada umumnya diare didefinisikan sebagai pengeluaran
tinja yang cair dengan frekuensi sekurang-kurangnya 3 kali
sehari. Bagaimanapun dalam hal ini, konsistensi lebih diuta-
makan dibandingkan dengan frekuensi pengeluaran tinja°.
Pengeluaran tinja yang sering tetapi dengan konsistensi baik,
seperti misalnya pads bayi yang hanya mendapat ASI, tidak
dianggap sebagai diare. Kebanyakan tinja penderita diare akan
cair (watery diarrhoea), kadang-kadang dijumpai darah/lendir
dalam tinja (dysentery form).
Umumnya episode diare adalah akut, datang tiba-tiba dan
sembuh dalam beberapa hari. Pada keadaan-keadaan tertentu,
dapat berlangsung terus sampai berminggu-minggu, keadaan ini
disebut dengan persistent diarrhoea".
Pada tulisan ini, pembicaraan selanjutnya akan dibatasi pada
diare infeksius akut (diare akut yang disebabkan mikroorgan-
isme patogen seperti virus, bakteri dan parasit).
FUNGSI DAN STRUKTUR SALURAN CERNA
Fungsi utama saluran cerna, seperti juga permukaan mukosa
saluran-saluran lain yang terdapat pada manusia, adalah sebagai
pemisah (interface) antara bahan-bahan yang dimasukkan dari
dunia luar dengan milieu interior
m
. Dalam menjalankan posisi-
nya yang penting tersebut, saluran cerna akan bekerja dan me-
mainkan peranannya sebagai unsur perlindungan (protective
role) dengan dua cars yaitu :
1.
Sebagai barrier terhadap bahan-bahan patogen (seperti vi-
rus, bakteri, parasit, toksin, bahan-bahan allergenik dan lain-
lain).
2.
Menseleksi pemasukan bahan-bahan yang diperlukan tu-
buh; dengan perkataan lain mengambil dan menyerap cairan/
makanan yang dibutuhkan tubuh untuk berfungsi, bertambah dan
mengganti bagian yang rusak.
Karaena itu cairan/makanan yang tidak diserap, sel-sel usus yang
tua dan rusak, toksin-toksin, bahan-bahan patogen dan material-
material lain akan dibuang oleh saluran cerna keluar dari tubuh
44
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
dalam
bentuk tinja.
Makanan dan minuman yang dimakan sering terkontami-
nasi dengan bahan-bahan patogen, tetapi tubuh akan dilindungi
oleh mekanisme pertahanan yang terdapat di saluran cerna.
Mekanisme pertahanan tersebut dapat bersifat spesifik (imuno-
logik) dan non-spesifik (non-imunologik)(
3)
(Tabel 1). Protein
dari makanan yang diserap tetapi tidak menguntungkan tubuh
akan
diblok oleh mekanisme pertahanan tadi, demikian juga
mikroorganisme patogen akan diinaktifasi bahkan dibunuh.
Tabel 1.
Komponen barrier usus
Mekanisme Non-Imunologik
Intraluminal
Asam lambung
Akt~tas proteolitik
Motilitas usus
Permukaan mukosa
Musin
Membrane microvilli
Mekanisme Imunologik
Gut associated lymphoid tissue
Secretory IgA
Cell Mediated Immunity
Saluran cerna, mulai dari mulut sampai ke anus, bentuknya
tidak lebih sebagai suatu tabung. Sepanjang saluran cerna ini,
bermuara sejumlah kelenjar yang akan mensekresikan cairan
yang berfungsi untuk pencemaan. Cairan yang disekresikan ini
jauh lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan caftan yang
berasal dari makanan dan minuman
t21
. Di camping itu, struktur
usus halus didesain sedemikian rupa, sehingga membentuk per-
mukaan yang luas untuk tempat kontak antara cairan/makanan
yang terdapat di lumen usus dengan jaringan di dinding usus,
sehingga absorpsi yang maksimal dapat terjadi. Hal ini di-
mungkinkan karena permukaan usus halus yang menghadap ke
lumen, mengandung sejumlah lipatan-lipatan yang ditutupi oleh
sel-sel khusus yang disebut enterosit di mana sel ini berfungsi
untuk sekresi digesti dan absorpsi. Sel-sel ini umumya singkat,
setiap 3-4 hari sekali sel-sel ini akan diganti. Enterosit-enterosit
ini ditutupi lagi oleh brush like filament (microvilli), yang se-
lanjutnya akan menambah luas permukaan usus. Ditaksir luas
permukaan usus yang sehat sekitar 2000 m
2
atau seluas lapang-
an sepak bola. Karena itu tak mengherankan bila penyerapan
makanan paling banyak di usus halus, demikian juga air
s
`
)
.
Kolon, selain berfungsi untuk reservoir juga berfungsi dalam
penyerapan air. Lebih 90% air yang sampai/terdapat di kolon
akan diserap
1
") (label 2). Karena itu tinja yang normal hanya
mengandung sedikit air, lebih kurang 100-200 ml sehari.
Tabel 2.
Jumlah air yang diserap oleh segmen-segmen usus
Segmen
usus
Volume cairan
dijumpai
(I/hart)
Volume cairan
dijumpai
(I/hart)
Persentase
penyerapan
(%)
Jejunum
Ileum
Colon
9
4 5
1 2
4 5
3 4
0.9 1.8
50
75 80
90
CARA MIKROORGAMSME MENYEBABKAN MARE
Pada keadaan diare akan dijumpai peningkatan volume
caftan dalam tin ja
m
. Hal ini terjadi karena adanya gangguan usus
untuk mengabsorpsi/reabsorpsi cairan yang terdapat di lumen
usus dan meningkatnya secara berlebih-lebihan sekresi dari ke-
lenjar-kelenjar pencernaan ke lumen usus ataupun kombinasi
kedua-duanya. Akibatnya akan terjadi kehilangan cairan, elek-
trolit dan basa dalam jumlah yang besar melalui tinja, sehingga
gejala-gejala dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit dan
asam basa akan dijumpai.
Berdasarkan keterangan di alas, diare secara garis besar da-
pat dibagi Was Absorptive diarrhoea dan Secretory diarrhoea°.
Sebenarnya pembagian ini tidak begitu tegas karena sering
mikroorganisme yang menyebabkan absorptive diarrhoea, juga
dapat menyebabkan secretory diarrhoea(
o
.
Untuk dapat menimbulkan diare, bakteri enteropatogen yang
tertelan haruslah survive melewati asam lambung, berproliferasi
di lumen usus, membentuk kolonisasi pads usus halus/besar,
kemudian melekat (adherent) pada enterosit dan mensekresikan
enterotoksin. Mikroorganisme ini selanjutnya menginvasi mu-
kosa usus, multiplikasi dalam mukosa diikuti dengan pemben-
tukan sekretagogue dan sitotoksin
ta,
"
Secara garis besar bakteri enteropatogen menyebabkan
diare dengan 4 cara yaitu
tb)
:
1)
Kolonisasi dan melekatnya bakteri ke permukaan usus,
sehingga terjadi destruksi microvilli dan kerusakan enterosit
(adherent).
2)
Setelah mengadakan kolonisasi, bakteri akan mensekresi
enterotoksin yang akan mengikat reseptor spesifik di mukosa
usus. Akibatnya terjadi peningkatan mediator intraselluler
(adenosine 3-5 cyclic phosphate ataupun guanosine mono-
phosphate) yang akan menyebabkan perubahan transport air dan
elektrolit, tanpa adanya perubahan morfologi usus (toxigenic).
3)
Bakteri enteropatogen yang menginvasi mukosa usus akan
menyebabkan timbulnya radang dan ulkus. Enterosit dihancur-
kan dalam jumlah yang banyak, pembuluh darah akan ruptur,
lekosit rusak. Sehingga timbul/pengeluaran darah dan pus ber-
sama tinja (invasive).
4)
Sekresi sitotoksin yang menyebabkan kerusakan mukosa
usus
(cyroroxic).
Berdasarkan hal-hal di atas, maka virulensi bakteri entero-
patogen tergantung dari kesanggupan bakteri tersebut melewati
asam lambung dan kesanggupan menghasilkan ke-empat me-
kanisme di atas. Juga hams diingat, bakteri enteropatogen sering
menimbulkan diare dengan menggunakan lebih dari satu me-
kanisme tadi secara simultan
tb)
(Tabel 3).
Salah satu jenis virus enteropatogen yang sering menye-
babkan diare adalah Rotavirus. Infeksi Rotavirus ini umumnya
mengenai jejunum, tetapi dapatdifus menyebar mengenai seluruh
usus halus sehingga menimbulkan diare yang hebat. Virus ini
menimbulkan diare dengan cara menginvasi epitel villi sehingga
terjadi kerusakan sel yang matur"
.7.8)
Sel yang matur ini akan
diganti oleh sel immatur yang berasal dari proliferasi sel-sel
kripta. Sel immatur ini mempunyai kapasitas absorpsi yang
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992 45
Tabel 3.
Mekanisme Patogenik dart Bakteri Enteropatogen
Adherent
Toxigenic
Invasive
Cytotoxic
Enteropatho-
genic E. coli
Enterohemo-
rrhagic E. soli
Shigella
Enterotoxigenic
E. coli
Y. enterocolitica
Aeromonas
V. cholera dan
non-O' vibrio
serogroup
Shigella
Salmonella
Y. enterocolitica
C. jejuni
V. parahaemo-
lyticus
Shigella
Enteropatho-
genic E. coli
Enterohemo-
rrhagic E. coil
C. difficile
kurang dibandingkan dengan sel matur, juga aktifitas disakari-
dase yang terdapat di sel immatur ini masih kurang sehingga
terjadi gangguan pencernaan karbohidrat"
1
.
Parasit yang sering menyebabkan diare adalah Giardia
lamblia dan Cryptosporidium. Bagaimana sebenarnya kedua
parasit enteropatogen ini menyebabkan diare, masih belum jelas;
mungkin dengan melibatkan satu atau lebih mekanisme di bawah
ini :
1.
Bekerja sebagai barier mekanik sehingga mengganggu
absorpsi.
2.
Kerusakan langsung pada mukosa usus.
3.
Pembentukan eksotoksin.
4.
Menimbulkan reaksi imunologik.
5.
Mengubah pattern yang normal dari motilitas usus.
MANFAAT DARI SEGI PRAKTIS
Proses yang terjadi pads diare, sebenamya dapat dipandang
dari dua aspek. Pertama, secara alamiah, diare merupakan me-
kanisme pertahanan tubuh. Karena air yang keluar begitu banyak
akan bekerja sebagai pembersih usus (cleaning effect). Dengan
demikian bahan-bahan patogen (virus, bakteri, parasit, toksin,
bahan-bahan allergenik dan lain-lain) akan dikeluarkan dari
saluran cerna, sehingga membatasi efek selanjutnya dari bahan-
bahan tersebut°
l
. Berdasarkan hal tersebut, pemberian obat-obat
spasmolitik harus dihindarkan pads penderita diare karena dapat
menyebabkan overgrowth bakteri, megakolon toksik, ileus pa-
ralitik dan lain-lain
lo
.
Di samping itu diare, apapun penyebabnya, akan menye-
babkan kehilangan cairan dan elektrolit dari tubuh. Kehilangan
tersebut dapat merupakan hal yang serius bahkan mengancam
nyawa penderita, bila proses berlan jut menjadi dehidrasi berat,
renjatan dan komplikasi lain yang dapat timbul pads diare (se-
perti asidosis, gangguan keseimbangan elektrolit, gagal ginjal
dan lain-lain). Tidak kalah pentingnya adalah kehilangan ma-
kanan melalui tinja, sehingga bila diare berlangsung lama, dapat
terjadi kurang kalori protein.
Mengingat akibat-akibat tadi, maka prioritas utama peng-
obatan diare adalah rehidrasi secepat mungkin dengan pem-
berian cairan elektrolit, diikuti dengan pemberian makanan se-
telah tercapai rehidrasi.
Pemeriksaan makroskopis tinja dapat membantu meng-
identifikasi kasus yang termasuk invasive diarrhoea. Bila di-
jumpai darah/pus dalam tinja, kemungkinan menderita shigella
dysentry. Bila kelihatan sakit berat, dapat diberikan antimikroba
sebagai tambahan pemberian cairan elektrolit.
KEPUSTAKAAN
1. WHO/CDD/SER/80.2.Rev.2.1990 : A Manual for the treatment of
diarrhoeas. For use by physicians and other senior health worker.
2. Byme WJ. The gastrointestinal tract. In: Behnnan RE, Kliegman R. Nelson
Essentials of Pediatrics. Philadelphia: W.B. Saunders Company. 1990; pp.
377-410.
3. Israel EJ, Walher WA. Host defense development in gut and related disor-
ders. Pediatr. Clin. North. Am. 1988; 35: 1--15.
4. Bardhan PK. Pathophysiology of acute infectious watery diarrhoea. Interna-
tional training course on Diarrhoeal disease : Clinical Aspect, Dhaka. 414
December 1988.
5. Kerzner B. Pathogenesis of diarrhoea. Epidemiology and management of
diarrhoea in children of S.E. Asia. 1st Ross Round Table Asian Edition.
Excerpta Medica, Asia Pacific Congress Series No. 34. pp. 65-71, 1984.
6. Cohen MB. Etiology and mechanisms of acute infectious diarrhoea in infants
in the United States. J. Pediatr. 1991; 118: S 34-39.
7. Saniel MC. Mechanisms of diarrhoea. Acute Diarrhoeas: their management
and prevention. Ministry of Health, the Philippine Pediatric Society and the
Kabalitkat ng Pamilyang Pilipino Foundation, Inc. pp. 16-19, 1985.
8. Hamilton JR. The Pathophysiological basis for viral diarrhoea : A Progress
Report. J. Pediatr. Gastroenterol. Nutr. 1990; 11: 150-4.
46
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992