Masalah Emosional
Pasien Epilepsi Anak
dr. Budi Riyanto W.
UPF Mental Organik Rumah Sakit Jiwa Bogo,; Bogor
PENDAHULUAN
Epilepsi merupakan salah satu penyakit yang tertua dikenal
manusia; karena sifat serangannya yang mendadak dan
'
dramatis', penyakit ini banyak menarik perhatian, dan seeing
dihubungkan dengan hal-hal di luar ilmu kedokteran, seperti
roh jahat, setan atau kekuatan gaib. Anggapan demikian masih
tei asa sampai saat ini sehingga dapat menghambat
penanganannya secara efektif; pasien cenderung dikucilkan
oleh keluarga dan masyarakat, aktivitas sosialnya sangat
terbatas dan perkembangan kepribadiannya menjadi terganggu.
Kurangnya pengertian akan masalah epilepsi di kalangan
masyarakat merupakan sebab utama mengapa masalah epilepsi
belum dapat ditanggulangi dengan baik.
Walaupun belum pernah dilakukan penelitian epidemiologik
di Indonesia, pengalaman klinis sehari-hari menunjukkan
bahwa epilepsi tidak jarang dijumpai; bila kita berpedoman
pada angka dalam kepustakaan, yakni untuk insidensi sebesar
0,5 permil dan prevalensi sebesar 5 7 permit. Maka di
Indonesia terdapat paling sedikit 700.000 1.400.000 penderita
dengan pertambahan sebesar 70.000 kasus baru setiap tahun.
Selain itu ternyata lebih dari separuh penderita epilepsi
mendapatkan serangan pertamanya sebelum usia 18 tahun.
Dengan makin tersedianya teknik pemeriksaan diagnostik
dan obat-obatan yang efektif, masalah medik epilepsi makin
lama makin dapat diatasi, sehingga dengan demikian masalah
emosional dan sosialnya akan makin menonjol untuk lebih
diperhatikan. Pada dasarnya masalah emosional yang timbul
pada pasien epilepsi dapat disebabkan oleh berbagai faktor;
selain dari akibat pandangan masyarakat sekitar, beberapa jenis
epilepsi tertentu memperlihatkan serangan kompleks yang me-
nunjukkan gejala psikik dan perubahan tingkah laku, baik di
masa preiktal, selama serangan, maupun beberapa saat
sesudahnya.
Dibacakan pada Simposium Stres dan Depresi pada Anak dan
Remaja serta Penanggulangannya, Bogor, 3 Maret 1990.
GANGGUAN EMOSIONAL SEBAGAI SALAH SATU
GEJALA EPILEPSI
Seorang ibu menceritakan keadaan suaminya menjelang se-
rangan epilepsi: Mula-mula ia menjadi depresif, lalu cepat
tersinggung dan berbahasa sangat kasar; selama masa ini, ia
tidak berhenti memaksakan keinginannya, bahkan kadang-
kadang tidak segan memukul. Beberapa saat kemudian
serangan kejangnya pasti bangkit. Setelah serangan kejang
lewat, ia kernbali menjadi seperti biasa dan sangat menyesal
atas kelakuan sebelumnya.
2
Pasien tersebut menunjukkan gejala perubahan emosional
menjelang serangan kejangnya timbul, yang digolongkan ke
dalam epilepsi parsial kompleks. Pengobatan dengan antiepilepsi
yang adekuat dapat menghilangkan gejala-gejala tersebut,
meskipun kadang-kadang diperlukan penambahan obat anti-
psikotik untuk sementara guna mengendalikan gejala emosional-
nya.
Berdasarkan gejala utamanya, kejang parsial kompleks
dapat dibagi atas
3
:
1)
Hanya gangguan kesadaran seperti kebingungan sementara.
2)
Gejala kognitif seperti deja vu, jamais vu, gangguan
persepsi waktu atau rasa seperti mimpi.
3)
Gejala afektif seperti rasa takut, anxietas.
4)
Gejala psikosensorik seperti ilusi, halusinasi.
5)
Fenomena psikomotor seperti automatisme, gerakan me-
ngunyah.
6)
Gangguan berbicara seperti disfasi.
7)
Kombinasi gejala-gejala di atas.
Selain itu terdapat suatu keadaan yang disebut twilight state
keadaan kesadaran seperti mimpi dapat terjadi sebagai salah
satu fenomena iktal; keadaan ini berhubungan erat dengan
abnormalitas EEG di daerah temporal. Pada keadaan ini se-
seorang dapat mengalami halusinasi olfaktorik atau gustatorik,
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990
50
perubahan kesadaran dan disorientasi.
GANGGUAN EMOSIONAL SEBAGAI PENCETUS EPI-
LEPSI
Pada epilepsi idiopatik, dikenal beberapa faktor yang dike-
tahui dapat mencetuskan serangan epilepsi; di antaranya : ke-
lelahan, kurang tidur, terlambat makan (keadaan hipoglikemi)
dan masalah atau gangguan emosional. Kasus-kasus dengan
masalah emosional yang nyata harus dibedakan dengan kasus
psikiatrik mumi seperti histeria, reaksi konvrsi ataupun ke-
adaan malingering; meskipun tidak selalu mudah dalam praktek.
Pemeriksaan fisik biasanya tidak banyak membantu karena
banyak pasien epilepsi yang secara fisik tidak menunjukkan
kelainan. Oleh karena itu biasanya diperlukan pemeriksaan
tambahan, baik berupa wawancara psikiatrik maupun peme-
riksaan neurologik, termasuk elektroensefalografi.
Elektroensefalografi (EEG) merupakan alat bantu diagnostik
yang penting dalam epilepsi; lebih dari 90% penderita epilepsi
dapat memperlihatkan pola EEG abnormal bila direkam ber-
kali-kali dan dengan menggunakan teknik aktivasi dan direkam
sewaktu tidur. Makin sering serangan kejangnya, makin besar
kemungkinan terlihat kelainan dalam EEG; meskipun
demikian, masih ada sekitar 10% pasien epilepsi yang EEG nya
normal, yang mungkin disebabkan oleh adanya fluktuasi gejala.
Sebaliknya ada kasus dengan EEG false positive, yaitu orang
yang klinis tidak pemah menderita epilepsi tetapi EEGnya
menunjukkan kelainan; hal ini ditemui pada ± 0,4% orang
sehat; kasuskasus demikian tidak didiagnosis sebagai epilepsi
dan tidak memerlukan pengobatan.
4
Kasus-kasus histeria biasanya mengalami serangan hanya
bila di antara orang banyak, tidak sampai mengakibatkan
cedera diri, tidak pernah timbul di saat tidur dan sifat
kejangnya tidak khas atau berubah-ubah.
GANGGUAN EMOSIONAL AKIBAT PENYAKIT
EPILEPSI
Masalah ini timbul karena selama ini aspek sosial dari pe-
nyakit epilepsi kurang diperhatikan. Hal-hal semacam ini akan
muncul bila si anak mulai berkenalan dengan dunia luar, teman
sebaya dan menginjak usia sekolah. Apalagi bila kita
perhatikan, lebih dari separuh penderita epilepsi mendapat
serangan pertamanya sebelum usia 18 tahun, kebanyakan di
bawah usia 15 tahun.
5
Usia prasekolah
Perkembangan emosional anak pada masa ini banyak dipe-
ngaruhi oleh sikap orangtuanya. Orangtua yang menerima diag-
nosis dengan besar hati dan mengasuhnya seperti saudaranya
yang lain tidak akan banyak menghadapi masalah; sebaliknya
pola pengasuhan yang cenderung menyingkirkan si anak,
membanding-bandingkan dengan saudaranya yang sehat, atau
justru menjadi overprotective akan merugikan perkembangan
kepribadian si anak.
Gangguan tingkah laku yang muncul dapat bersifat hiper-
kinetik, agresif atau destruktif yang dapat merugikan dirinya
dan sekelilingnya; gejala ini dapat muncul pada semua jenis
epilepsi, walaupun beberapa ahli mengatakan lebih banyak
ditemukan pada penderita epilepsi lobus temporalis. Sifat agresif
lebih banyak ditemukan pada laki-laki, dan makin dini muncul
nya, akan makin berat gejala yang ditimbulkannya.
6
Gangguan perkembangan dan emosional yang terlihat pada
masa ini sesungguhnya lebih banyak disebabkan oleh kelainan
otak yang diderita, yang sekaligus juga menyebabkan gejala
epilepsi; seperti riwayat cedera di saat persalinan, asfiksi atau
radang otak.
Usia sekolah
Sesungguhnya 80% pasien epilepsi anak-anak mempunyai
kemampuan intelektual yang normal dan dapat mengikuti se-
kolah biasa. Kasus-kasus dengan taraf kecerdasan rendah
umumnya diderita oleh pasien epilepsi yang mempunyai cacad
lain.
6
Pasien epilepsi dengan kemampuan intelek yang normal
dapat dan seyogyanya bersekolah di sekolah biasa; para guru
diharapkan dapat memahami bahwa anak-anak tersebut
mungkin sewaktu-waktu mendapat serangan epilepsi di sekolah,
dan dapat pula menunjukkan perubahan kecerdasan, tingkah
laku yang abnormal, konsentrasi yang menurun atau kesulitan
menerima mata pelajaran tertentu. Sampai saat ini masih ada
pasien epilepsi yang berhenti sekolah karena 'pak gum me-
ngatakan agar anak saya dibawa berobat dulu sampai sembuh
sebelum masuk sekolah kembali'. Pasien epilepsi dapat me-
lakukan setiap kegiatan olahraga sepanjang ada yang selalu
mengawasinya dan tidak membuatnya terlalu lelah; meskipun
demikian, olahraga yang potensiil berbahaya seperti berenang,
balap sepeda atau memanjat gunung tertentu tidak dianjurkan,
apalagi bila tanpa pengawasan. Penelitian oleh Crowther (1967)
menunjukkan bahwa 63% pasien epilepsi merasakan perlakuan
yang kurang wajar dari teman sekolah dan/atau gurunya; hal ini
terjadi terutama karana kekurang pengertian mereka mengenai
epilepsi.
7
Keadaan ini tentu sangat merugikan perkembangan
mental-emosional para pasien epilepsi anak.
Bila sekiranya seorang anak yang menderita epilepsi meng-
alami kemunduran intelektual, beberapa hal harus diteliti
8
:
1)
Obat antikonvulsan yang dimakan menyebabkan kelamban-
an proses berpikir dan mengurangi kemampuan konsentrasi.
2)
Adanya gangguan emosional misalnya depresi akibat
penyakit yang dideritanya, ditambah dengan tekanan psikik
yang dialaminya dari lingkungan.
3)
Serangan epilepsi masih kambuh pada epilepsi jenis lena
(absence) serangan berupa kehilangan kesadaran sesaat yang
dapat berlangsung berulang kali, sering tidak menarik perhati-
an; serangan-serangan sesaat ini dapat mengganggu konsentrasi
anak pada saat menerima pelajaran.
4)
Riwayat trauma kapitis yang mungkin diderita sewaktu se-
rangan.
5)
Adanya penyakit lain yang menyertai, seperti penyakit
degeneratif atau gangguan peredaran darah otak.
Selain itu pandangan masyarakat yang dapat dikatakan tidak
banyak berubah sejak zaman purba ikut memberi andil dalam
masalah ini. Penelitian di Yogyakarta (1983) menunjukkan
bahwa 20% anggota masyarakat yang terdiri dari anggota
Satpam, mahasiswa dan anggota DPRD tingkat II percaya bahwa
air liur penderita epilepsi dapat menularkan penyakitnya ke orang
lain; 31,9%tidak tabu dan hanya 48,1% yang yakin bahwa hal
itu tidak benar. Selain itu masih ada 10 di antara 85 reponden
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990 51
tersebut yang menganggap bahwa ayan atau epilepsi sama
dengan gila.
9
Epilepsi adalah manifestasi klinis gangguan otak yang bangkit
secara mendadak dan berkala. Istilah kepribadian epileptik untuk
melukiskan sifat lamban, berbelit-belit, keras kepala, egosentrik,
cepat tersinggung, kasar dan agresif merupakan istilah yang
menyesatkan; gangguan.tingkah laku yang timbul kebanyakan
merupakan ekspresi dari perasaan takut, malu, frustrasi,
bingung atau perasaan bersalah akibat adanya kecurigaan
dalam masyarakat. Masalah yang sesungguhnya perlu dihadapi
adalah bagaimana mengatasi berbagai macam kesulitan
psikologik yang sering ditemui oleh pasien-pasien epilepsi.
10
GANGGUAN EMOSIONAL AKIBAT OBAT ANTIEPILEPSI
Sejak digunakannya fenobarbital sebagai obat antiepilepsi
pertama yang efektif, telah banyak ditemukan obat-obat lain
yang bermanfaat mengendalikan serangan epilepsi. Dua di
antaranya yang terpenting ialah difenilhidantoin dan karbama-
zepin.
Fenobarbital masih digunakan secara luas, terutama karena
harganya yang paling murah. Obat ini diketahui dapat me-
nimbulkan efek samping berupa hiperaktivitas pada anak-anak;
selain itu pada masa awal pengobatan, efek sedatifnya dapat
sangat mengganggu, terutama bila si anak harus ke sekolah.
Efek sedasi biasanya akan menghilang setelah beberapa minggu,
tetapi efek hiperaktivitas bila memang timbul kadang-kadang
memerlukan perhatian khusus dan bila perlu penggantian obat.
Anak-anak epileptik yang diobati dengan fenobarbital,
80% di antaranya menjadi nakal, agresif, perhatian mudah
teralih dan hiperaktif, karena kebanyakan di antara mereka
kadar serumnya rendah. Bila penggunaannya dihentikan, 40%
dari anak hiperaktif itu menjadi normal kembali. Perwujudan
toksisitas lain ialah gangguan suasana hati (jiwa) dan kecerdas-
an. Pengguna fenobarbital menjadi depresif dan fungsi kog-
nitifnya terganggu sehingga menghambat proses belajar, daya
tangkap dan ingatan akan hal-hal baru menjadi lemah; lagipula
karena hiperaktivitas, perhatian cepat teralih sehingga proses
pemahaman dan pengertian menjadi tidak mantap.
11
Fenitoin berkhasiat antikonvulsi tanpa menekan aktivitas
susunan saraf pusat, relatif paling aman.
12
Efek samping yang
mungkin timbul berupa vertigo, tremor, disartri, diplopi, nistag-
mus dan nyeri kepala. Keluhan-keluhan tersebut dapat timbul
pada permulaan terapi atau bila kadarnya dalam darah melebihi
20 ug/ml; pada kadar 30 ug/ml timbul ataksia dan pada 40
ug/ml timbul gangguan mental yang bervariasi antara bingung
sampai gelisah, bahkan delirium dan psikosis. Gejalagejala ini
akan berangsur menghilang bila penggunaannya dihentikan.
Selama proses pengurangan gejala dapat timbul keluhan
intelektual, gangguan inisiatif dan pemenuhan kebutuhan
primer. Gejala ini terutama muncul pada anak-anak dengan
minimal brain damage anak-anak dengan gejala kenakalan
dan sedikit terbelakang.
13
Karbamazepin dapat menimbulkan keluhan pusing, ataksia,
mual dan muntah; kadang-kadang disertai rasa lelah, bingung,
bicara berlebihan dan gangguan penglihatan berupa diplopi dan
penglihatan kabur. Obat ini juga dapat mengganggu fungsi hati
dan menyebabkan anemia aplastik.
12
Tetapi selain itu karbama-
zepin juga mempunyai efek psikotropik yang dapat meng-
untungkan pada anak-anak yang mempunyai gangguan emosio-
nal; efek itu berupa : penderita menjadi lebih 'gesit' dan
cekatan, gangguan tingkah laku menjadi berkurang sehingga
obat ini banyak digunakan pada penderita epilepsi yang
menunjukkan gejala kompleks yang dahulu dikenal dengan
epilepsi lobus temporalis.
14
Efek ini tidak selalu sejajar dengan
efek antikonvulsinya.
PENUTUP
Masalah emosional dapat timbul pada setiap fase per-
kembangan anak, lebih-lebih pada anak yang menderita
epilepsi, karena epilepsi merupakan penyakit menahun yang
masih merupakan stigma di kalangan masyarakat.
Untuk mempersiapkan anak epilepsi menghadapi hari
depannya, berikut ini kami cantumkan sepuluh pedoman
pendidikan anak ayan.
15
I) Pendidikan harga diri.
Untuk menerima anak dan membantu si anak agar ia me-
nerima dirinya sebagai orang yang berharga. Harga diri se-
sungguhnya berarti ingin dihargai, ingin diperlukan sebagai
orang yang bernilai.
Anak mempunyai dua kebutuhan setiap anak
memerlukan dan ingin dicintai, anak ingin tidak dikecualikan,
melainkan ingin dilibatkan. Dan anak yang merasa dan
mengalami bahwa ia boleh ikut mengambil bagian dalam
pembicaraan, bahwa pendapatnya diterima dengan baik, bahwa
orangtuanya mencintainya, akan memperoleh harga diri,
sehingga anak ayan itu menjadi anak yang mandiri.
2)
Percaya diri.
Pmsesnya bermula dari kebutuhan keamanan. Anak perlu
diberi rasa aman, dan rasa aman ini tidak akan tumbuh bila
anak ayan terlalu 'diamankan
'
, apalagi dimanjakan. Epilepsi
jangan dijadikan sesuatu yang mengutuk anak. Berikan pe-
nerangan dan pengertian mengenai penyakitnya.
3)
Pengendalian emosi.
Anak ayan perlu dilatih, dibina mengendalikan emosi
karena emosi yang tidak stabil banyak mempengaruhi
penyakitnya. Untuk itu ia memerlukan ketenangan, di samping
kebutuhan untuk dihargai, dicintai dan rasa aman.
Pendidik anak ayan harus bersikap santai, tenang dalam
segala situasi dan kondisi; tenang ketika ada serangan, sewaktu
anak 'ngadat' ataupun sewaktu menghadapi kesulitan mengajar
membaca menulis atau berhitung. Dari pendidik yang tenang
juga diharapkan ketegasan untuk selalu bertindak konsekuen;
bertindak tegas selal berarti bahwa larangan mempunyai arti
yang menguntungkan demi tercapainya ketertiban dan
kehidupan pribadi ataupun antara manusia.
Kritik yang tidak ada artinya jangan dilontarkan.
4)
Didik anak agar tidak mudah terlukai.
Merasa terlukai, merasa tersinggung, cepat sakit hati menciri-
kan seseorang yang peka perasaannya, yang terlalu 'sensitif.
Anak ayan harus tahan omelan, cemoohan dan sedikit 'ndablek'.
5)
Bimbingan agar mendapat tempat di masyarakat.
Anak ayan mampu sekolah, mampu bekerja. Anak ayan
hares dididik untuk mampu meraih cita-citanya. Anak ayan
yang tidak cacad mental harus bersekolah di sekolah biasa;
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990
52
ia tidak boleh dikecualikan ataupun diberi pelayanan yang ber-
beda dari anak lain.
6)
Menerima keterbatasan.
Membandingkan kegagalan anak ayan dengan keberhasilan
anak lain merupakan kebiasaan yang buruk. Hal tersebut
,
berarti
bahwa anak ayan tidak diterima sebagaimana adanya.
Akibatnya anak menjadi tidak tenang, sulit berkembang
menjadi anak yang memiliki harga diri dan mandiri.
7)
Pendidikan menghadapi realitas.
Mendidik anak ayan sesuai dengan kemampuannya dan di-
arahkan menuju perkembangan selanjutnya. Pengamatan atas
aktivitas dan tingkah laku sehari-hari, kesukaan dan hobi, pada
saat bercakap, bermain ataupun bertengkar dengan kawan-
kawannya memberi petunjuk atas bakat yang ada padanya.
8)
Memperlihatkan efek samping obat.
Gejala efek samping obat perlu segera diketahui agar dapat
segera dicegah.
Perwujudannya dapat berupa letih, lesu, mengantuk, ke-
cerdasan menurun, hiperaktif, jalan sempoyongan, gerakan
lamban, sulit berbicara, cadel, melihat kembar atau bergoyang,
gemetar, mual, muntah dan nafsu makan hilang. Kulit menjadi
kasar, gusi menebal. Rambut bertambah lebat, gatal. Anemi dan
lekopeni dicurigai bila anak menjadi pucat dan mudah luka/
terinfeksi.
9)
Meningkatkan harkat hidup.
Melalui pendidikan dan kejuruan anak ayan dapat mem-
punyai bekal untuk hidup setaraf dengan anak non-epileptik.
10)
Menanamkan rasa ketuhanan.
Belajar untuk meletakkan diri dalam tangan Tuhan dan me-
nemukan rencana Tuhan dalam hidup.
KEPUSTAKAAN
1.
Mardjono M. Pandangan umum epilepsi. Dalam : Nuartha AABN, Purwa
Samatra DPG, Kondra IW (eds.). Seminar Epilepsi. Denpasar : Lab.
Neurologi FK UNUD. 1989. Hal. 1-9.
2.
Perilaku kebringasan pada penderita ayan. Warta Epilepsia 1989; 26 : 3.
3.
Kaplan HI, Sadock BJ. Modem Synopsis of Comprehensive Text book of
Psychiatry/IV. 4th ed. Baltimore, London : William and Wilkins. 1985.
p. 303-4.
4.
Masalah EEG dalam praktek. Warta Epilepsia 1989; 26 : 2.
5.
Mardjono M. Epilepsi : beberapa segi klinik masalah epilepsi dengan
perhatian khusus terhadap epilepsi lobus temporalis. Tesis. Jakarta 1963.
6.
Kondra IW. Beberapa masalah psikososial epilepsi. Dalam : Nuartha
AABN, Purwa Samatra DPG, Kondra IW (eds.) : Seminar Epilepsi.
Denpasar : Lab. Neurologi FK Unud. 1989. hal. 62-9.
7.
Crowther DL. Psychosocial aspects of epilepsy. Pediatr. Clin. N.Am. 1967
: 14 (4).
8.
Lumbantobing SM. Kejang pada anak. Dalam : Nuartha AABN, Purwa
Samatra DPG, Kondra IW (eds.) : Seminar Epilepsi. Denpasar Lab.
Neurologi FK UNUD. 1989. hat. 62-9.
9.
Meliala L. Beberapa masalah sosial penderita epilepsi. Dalam : Makalah
Lengkap Simposium Epilepsi. 10 Desember 1983. bal. 99-107.
10.
Sifat epileptik - suatu ketakhyulan kosong. Warta Epilepsia 1986; 14 : 8.
11.
Mengubah sikap terhadap obat-obat antiepilepsi. Warta Epilepsia 1986;
13 : 2-3.
12.
Gan VHS, Utama H. Antikonvulsi. Dalam : Gan S dkk. (eds.). Farma-
kologi dan Terapi. Ed. 2. Jakarta : Bagian Farmakologi FKUI. 1980. hal.
115-30.
13.
Phenytoin - satu di antara empat besar. Warta Epilepsia 1986; 15 : 2-3.
14.
Lumbantobing SM. Epilepsi. Dalam : Ismael S, Lumbantobing SM (eds.) :
Kejang pada anak. Jakarta : FKUI, 1983, bal. 137-9.
15.
Sepuluh perintah pendidikan anak ayan. Warta Epilepsia 1986; 13 : 3-7.
Cermin Dunia Kedokteran No. 62, 1990 53