K
apsul
NYERI KEPALA BERBAHAYAKAH ?
Semua orang pasti pernah merasakan nyeri kepala; kadang-kadang ringan dan hilang dengan sendirinya, tetapi bisa
juga sampai berhari-hari; bahkan disertai gejala lain seperti mual dan/atau muntah.
Sebagian besar nyeri kepala akan hilang/sembuh, dengan ataupun tanpa obat meskipun bisa kambuh lagi di lain
waktu; tetapi sebagian lagi dapat merupakan gejala awal dari suatu kelainan otak/susunan saraf yang lebih serius, yang
jika tidak segera terdeteksi dapat menjadi makin parah dan lebih sulit diobati.
Bagaimana membedakan nyeri kepala yang `biasa' dengan nyeri kepala yang `berbahaya'?
1.
Jika nyeri kepala mulai diderita setelah usia 50 tahun waspada terhadap kemungkinan arteritis temporalis atau
lesi desak ruang/tumor otak; pemeriksaan penunjang yang berguna ialah laju endap darah dan pencitraan
otak/susunan saraf pusat.
2.
Nyeri kepala mendadak dan berat tanpa gejala awal pikirkan kemungkinan perdarahan subarakhnoid, pecahnya
malformasi arteriovena atau massa intrakranial terutama di fossa posterior.
Pemeriksaan yang perlu segera dilakukan ialah pencitraan otak/susunan saraf pusat dan/atau punksi lumbal.
3.
Nyeri kepala yang berangsur memberat dalam beberapa hari/minggu; keluhan semacam ini dapat disebabkan oleh
massa intrakranial atau penggunaan zat/obat tertentu; mungkin diperlukan pemeriksaan/ screening darah dan/atau
pencitraan otak/susunan saraf pusat.
4.
Nyeri kepala yang disertai demam, mual dan muntah; jika tidak ditemukan kelainan/penyebab sistemik/ infeksi
yang dapat menyebabkannya, pikirkan kemungkinan infeksi susunan saraf pusat atau penyakit kolagen.
Pemeriksaan yang dapat berguna antara lain pemeriksaan darah dan/atau pencitraan otak/susunan saraf pusat.
5.
Nyeri kepala yang disertai dengan gejala neurologik fokal seperti papiledema, gangguan kesadaran atau fungsi
luhur, atau kaku kuduk; dalam hal ini pikirkan kemungkinan lesi desak ruang/tumor otak, malformasi arteriovena,
stroke atau penyakit kolagen.
6.
Nyeri kepala pada pasien AIDS atau kanker dapat merupakan gejala meningitis atau abses otak, atau metastasis;
dugaan ini harus dibuktikan dengan pemeriksaan punksi lumbal dan/atau pencitraan otak/ susunan saraf pusat.
Brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 51