background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991 45
Diet yang dapat Merusak Gigi pada
Anak-anak
Drg. Yuyus Ruslawati
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan
RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Masalah kesehatan gigi di Indonesia masih merupakan
masalah kesehatan masyarakat yang penting karena prevalensi
karies dan penyakit periodontal mencapai 80% dari jumlah
penduduk
(1)
. Usaha untuk mengatasinya belum memberikan basil
yang nyata bila diukur dengan indikator kesehatan gigi
masya-
rakat; misalnya prevalensi karies gigi dan penyakit periodontal
tidak berbeda pada tahun 1973 dan 1983.
Tingginya prevalensi karies gigi dan penyakit periodontal
serta belum berhasilnya usaha untuk mengatasinya, mungkin
dipengaruhi oleh faktor-faktor distribusi penduduk, faktor
lingkungan, faktor perilaku, dan faktor pelayanan kesehatan gigi
yang berbeda-beda pada masyarakat Indonesia
(2)
.
Laporan mengenai karies gigi di Indonesia selama ini adalah
pada anak usia sekolah dan dewasa, pada tahun 1973 jumlah gigi
dengan karies pada anak sekolah usia 12 tahun rata-rata adalah
3,5 di daerah perkotaan dan 0,7 di daerah pedesaan (Ibnoe
Effendi, 1977, Barmes, 1977); pada tahun 1983, 2,65 di daerah
perkotaan dan 2,06 di pedesaan
(2)
.
Data hasil penelitian dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta pada
Survei Kesehatan Gigi Masyarakat DKI Jakarta pada tahun
1984, menyatakan bahwa 4781 sampel dari 5 wilayah DKI
Jakarta ternyata keadaan karies gigi adalah sebagai berikut: pada
usia 15 tahun ke atas, penderita karies adalah 91,93% atau yang
bebas karies adalah 8,07% dengan DMF-T rata-rata tiap orang
6,65 dan gigi yang ditambal (F) hanya 0,54 tiap orang, sedangkan
gigi yang dicabut (M) 2,56 tiap orang.
Indeks karies gigi sulung anak usia prasekolah (def.t) dari
hasil penelitian atas 1099 anak menunjukkan bahwa 85,17%
anak menderita karies rata-rata def-t adalah 6,03 ± 4,96; def.s
adalah 13,25 ± 15,23. Pada penelitian ini hampir sembilan dari
sepuluh anak yang diteliti menderita karies dengan perincian
bahwa rata-rata harus dicabut satu gigi tiap anak dan yang harus
ditambal rata-rata 5 gigi tiap anak
(3)
.
TERJADINYA KARIES GIGI DAN KOMPOSISI GIGI
Karies gigi adalah suatu proses kerusakan yang dimulai dari
email (enamel) terus ke dentin dan merupakan suatu penyakit
yang berhubungan dengan banyak faktor. Ada 4 faktor utama
yang saling mempengaruhi untuk terjadinya karies; ke empat
faktor tersebut digambarkan sebagai 4 lingkaran yang saling
berinteraksi (multifaktorial). Lingkaran pertama adalah faktor
host yang meliputi gigi dan saliva, lingkaran ke dua adalah faktor
mikroorganisme, lingkaran ke tiga adalah faktor substrat dan
lingkaran ke empat adalah faktor waktu
(4)
.
Gambar : Model empat lingkaran faktor utama karies
(4)
Selain faktor langsung yang ada di dalam mulut (faktor
dalam) yang berhubungan dengan karies gigi, terdapat faktor-
faktor tidak langsung yang disebut faktor risiko luar, yang
merupakan faktor predisposisi dan faktor penghambat terjadinya
karies. Faktor luar antara lain adalah usia, jenis kelamin, keadaan
penduduk dan lingkungan, pengetahuan, kesadaran dan perilaku
yang berhubungan dengan kesehatan gigi, misalnya pengetahu-
an mengenai jenis makanan dan minuman yang menyebabkan
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991
46
karies.
Komposisi gigi terdiri dari enamel di luar dan dentin di
dalam, dengan demikian struktur enamel sangat menentukan
terhadap proses terjadinya karies. Struktur enamel gigi terdiri
dari susunan kimia kompleks dengan gugusan kristal, yang
terpenting adalah hidroksil apatit dengan rumus kimia Ca
10
(PO
4
)
6
(OH)
2
(Newburn 1978). Permukaan enamel paling luar
lebih tahan terhadap karies dibandingkan lapisan enamel di
bawahnya karena lebih keras dan padat; pada permukaan enamel
terdapat F, Cl, ZM, Pb dan Fe sedangkan karbohidrat dan
magnesium lebih sedikit dibandingkan dengan enamel di
bawahnya
(4)
.
DIET YANG DAPAT MERUSAK GIGI
Yang berdiet karbohidrat cenderung mempunyai lebih
banyak karies, jenis karbohidrat yang paling kariogenik adalah
gula atau sukrosa karena mempunyai kemampuan untuk menolong
pertumbuhan bakteri kariogenetik. Mikroorganisme yang aktif
menyebabkan karies gigi adalah Streptococcus mutans, Strepto-
coccus
sanguis,
Streptococcus
salivarius. Oleh mikroorganisme
ini gula diubah menjadi asam yang berperan untuk terjadinya
permulaan karies gigi
(5,7,8)
.
Karbohidrat yang dapat menyebabkan karies dentis harus
bersifat :
1)
Ada dalam diet dalam jumlah yang berarti
2)
Siap difermentasikan oleh bakteri kariogenik
3)
Larut secara perlahan-lahan dalam mulut.
Karbohidrat yang memenuhi ke tiga syarat tersebut
(5,8)
:
1)
Starch (polisakharida)
2)
Sukrosa (disakharida)
3)
Glukosa (monosakharida).
Suatu studi epidemiologi mengenai status gigi anak usia 3
sampai 14 tahun dilakukan di panti asuhan Hope Wood Australia
selama sepuluh tahun. Di sini anak dibesarkan dari bayi, setelah
12 tahun mereka tinggal di luar panti asuhan. Mereka diberi diet
yang tetap nilai nutrisinya, terdiri dari sayuran segar dan mentah,
dan kuning telur; diet tanpa daging dan pemberian refined
karbohidrat terbatas dan ketat, kecuali pada hari-hari terakhir
diberi makanan di antara waktu makan secara terbatas yaitu susu,
buah dan sayuran. Prevalensi karies pada anak-anak Hope Wood
tersebut pada gigi tetapnya adalah sepersepuluh dari rata-rata
anak Australia seumur yang tinggal di luar panti. Rendahnya
karies tersebut lebih nyata lagi karena keadaan oral hygiene yang
buruk (75% anak menderita penyakit periodontal) dan rendahnya
kadar fluor. Tetapi setelah anak dilepas dari Hope Wood dan
mendapat diet yang konvensional, laju kariesnya meningkat.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa diet yang tetap
sampai umur 12 tahun tidak mengakibatkan gigi imun terhadap
karies
(13)
.
Penelitian Sri Mayangsari 1981 di SD Bangka 3 Bogor
terhadap 30 kasus menunjukkan bahwa frekuensi karies tinggi
bila rata-rata jumlah konsumsi refined karbohidrat tinggi dan
kebersihan mulut kurang. Jumlah konsumsi rata-rata kalsium,
fosfor dan fluor juga kurang; mungkin ini juga mempengaruhi
a
timbulnya karies gigi pada anak-anak tersebut.
Studi epidemiologi menunjukkan bahwa kejadian karies
sangat berbeda antara kelompok-kelompok penduduk; tetapi diet
dipertimbangkan sebagai perbedaan utama antara kelompok-
kelompok bangsa meskipun ada juga faktor genetik. Telah dibukti-
kan dari berbagai penelitian bahwa gula dalam diet merupakan
penyebab utama karies. Suku bangsa yang mengkonsumsi gula
lebih tinggi, kariesnya lebih tinggi dibandingkan dengan pen-
duduk asli Aborigin, Maori, dan Eskimo yang sebelum mengenal
diet modern keadaan kariesnya sangat rendah; tetapi setelah
diperkenalkan dengan kebudayaan Eropa & Amerika, karies
meningkat.
Gula berfungsi sebagai pemanis dan bahan pengawet,
memberikan bau yang harum; hal ini akan menimbulkan daya
tarik baik rasa, bau maupun bentuk makanan itu sendiri, sehingga
ada kecenderungan orang akan memilih makanan yang bergula.
Berhubung sifat kariogenitas maka dipikirkan dan telah di-
lakukan penelitian kemungkinan menggunakan bahan pemanis
yang lain yang tidak bersifat kariogenik
(6)
. Penelitian Ernest
Newbrun (1981) mengenai hubungan makanan mengandung
gula dengan karies dapat dilihat dalam tabel 1.
Tabel 1. Cariogenicity of Snack-foods-fed Rats ad libitum
Carious
Lesions
Food Sucrose
Total
Sugar
% %
Fissine
Bucco
linguae
Milk chocolate + rice crispie
42
50
29,9
43
Chocolate wafers
30
35
11,2
30
Biscuit whole meal flour
20
22
8,0
5
Biscuit white flour
14 19 10,6
2
Bread and jam
7
15
3,0
1,5
Biscuit sugar rice
1
3
2,6
0
Bread and cheese
0,4
3
3,1
0
DIET PADA ERUPSI GIGI
Diet dalam kesehatan gigi dapat dilihat dalam beberapa
segi
(2)
, pertama efek makanan di dalam rongga mulut yaitu efek
lokal pada waktu makanan dikunyah sebagai tahap awal pen-
cernaan; dan yang ke dua diet mempunyai efek sistemik, setelah
nutrien di dalam makanan dicerna dan diabsorpsi. Dengan
demikian peranan diet dan nutrisi pada karies penting dalam
aspek perkembangan, fisologi dan perilaku.
Di dalam diet terdapat mineral yang penting dalam perkem-
bangan resistensi gigi terhadap karies. Mineral-mineral tersebut
berperan penting pada perkembangan gigi maupun reminerali-
sasi dan kolonisasi bakteri pada permukaan gigi. Seperti telah
dibuktikan,
fluor
dalam diet secara dramatik dapat mereduksi
karies
(5,6)
.
Mineralisasi email masih berlanjut pada waktu gigi baru
erupsi sampai kira-kira antara 1,5 sampai 2 tahun
(9)
. Mineral
dalam tahap kristalisasi email adalah dalam keseimbangan yang
konstan dengan mineral dari saliva, substansi yang berakumulasi
pada gigi terutama pelikel dan plak, cairan gingiva dan mungkin
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991 47
cairan email. Keseimbangan ini akan menghasilkan deminerali-
sasi dan remineralisasi lapisan email luar, terutama gigi baru
erupsi
(6)
. Masa ini merupakan masa kritis perkembangan resis-
tensi gigi terhadap karies. Dengan diet yang baik, perawatan gigi
yang efektif akan dapat meningkatkan resistensi gigi terhadap
karies. Sebaliknya dengan diet kariogenik pada periode tersebut
akan meningkatkan perkembangan mikroflora yang kariogenik
dan hipomineralisasi email sehingga memudahkan gigi menjadi
karies
(6,9)
.
Defisiensi protein dalam diet pada tikus mengakibatkan
ukuran gigi yang lebih kecil, keterlambatan erupsi, meningkat-
kan memudahkan gigi terserang karies
(13)
.
Pada anak yang menyusu dengan dot botol, pada rahang atas
depan akan terdapat karies dan pada umumnya terjadi infeksi
bakteri Streptococcus mutan. Dot yang letaknya menempel pada
langit-langit mulut menyebabkan cairan susu membasahi semua
gigi atas kecuali gigi depan bawah. Bila anak-anak tidur dengan
susu dot di dalam mulut, air susu akan memenuhi sampai ke gigi
depan atas. Pada saat demikian bakteri pada permukaan gigi akan
memfermentasi subtrat. Bila susu mengandung sukrose selain
laktose maka Streptococcus mutan akan lebih banyak
(7,10,11)
.
USAHA PENANGGULANGAN
Usaha menanggulangi serta memperbaiki kesehatan gigi
anak membutuhkan tenaga kesehatan dan peran serta orang tua
dalam peningkatan, pengadaan, dan status gizi. Penyuluhan-
penyuluhan kepada ibu hamil di BKIA atau di Posyandu/Puskes-
mas tentang higiene mulut dan cara perawatan gigi bayi perlu
diberikan sedini mungkin. Diet yang baik harus diberikan kepada
anak bayi yang mulai erupsi gigi geligi sekitar 6-7 bulan.
Orang tua perlu diberi pendidikan mengenai hubungan gizi
dengan karies dan kemudian dapat diterapkan pada anak. Mem-
bawa anak-anak ke puskesmas dan ke dokter gigi untuk pe-
rawatan dan pencegahan 3 bulan sekali seyogyanya dibiasakan
sejak dini atau balita
(13)
.
KESIMPULAN
Pencegahan karies dapat dilakukan dengan berbagai cara
tetap pada dasarnya adalah :
1.
Dengan peningkatan resistensi gigi
2.
Menurunkan jumlah mikroflora, kariogenik, pengendalian
substrat
3.
Mengurangi waktu lamanya subtrat di dalam mulut
Pengendalian substrat adalah dengan pengaturan diet, agar
makanan yang dikonsumsi tidak sempat menjadi substrat
mikroflora. Di dalam mulut, diet mempunyai efek lokal dan
sistemik. Untuk kesehatan gigi, efek lokal lebih bersifat pember-
sih; efek sistemik, mulai dengan pencernaan dan absorbsi nutrien
baik sebelum erupsi maupun setelah erupsi, terutama mineral-
mineral Ca, P, dan F yang didistribusikan pula pada cairan tubuh
dan saliva. Setelah email gigi selesai terbentuk, mineral-mineral
tersebut tetap berfungsi dalam maturasi email sebelum dan
sesudah gigi erupsi. Komposisi saliva dipengaruhi pula oleh
protein di dalam diet.
Sukrosa mempunyai peran yang unik dalam proses terjadi-
nya karies, karena bakteri oral dapat menggunakannya untuk
metabolisme dengan berbagai cara.
Untuk mengurangi karies gigi perlu dianjurkan saran-saran
sebagai berikut :
1) Penyuluhan di BKIA atau Posyandu/Puskesmas tentang
nutrisi dan diet yang baik untuk pencegahan karies.
2) Mengurangi atau membatasi makanan yang kariogenik.
3) Pemeliharaan kebersihan mulut yang paling panting sikat
gigi sebelum tidur dan sikat gigi sesudah sarapan disertai
dengan kebiasaan diet yang baik.
KEPUSTAKAAN
1.
Ibnoe Effendi, Moller. Prevalensi penyakit gigi dan mulut di 7 kota di
Indonesia. Laporan sementara, Direktorat Gigi Departemen Kesehatan RI,
1973.
2.
Wibowo D. Laporan survey Kesehatan Gigi dan Mulut, Direktorat Ke-
sehatan Gigi, Jakarta, 1984.
3.
Isnu Suharsono Suwelo. Fluor dalam air minum di DKI Jakarta dan
hubungannya dengan karies. Simposium pencegahan karies gigi dengan
fluor, 1987.
4.
Newburn E. Etiology of dental caries. Dalam Coldwell RC, Stalland RE
(eds). A Textbook of Preventive Medicine, 1977.
5.
S Bambang. Pola konsumsi makanan penderita karies dentis di Surakarta.
Kumpulan Naskah KPPIKG IV FKG-UI Jakarta, 1979.
6.
Michael CA. Nutrition in dental caries. Dental Caries Publisher S. 1980,
271 - 275.
7.
Cleaton P. dkk. Dental caries, sucrose intake and oral hygiene in 5 year old
South African Indian 1984. Dental Research Institute, South Africa, 1982;
577 - 585.
8.
Wei Shy. Diet and Dental Caries., Pediatric Dentistry. 1982, 577 - 85.
9.
Chandra RK. Nutrition and Immunity, 1987; 192 - 193.
10.
Loesche WI. Nutrition and dental decay in infants. J Clin Nutr 1985.
11.
Richardson BD, Jones C, Melness PM, Ransho JM. Infant feeding
practices and nursing. 1981, 243.
12.
Beely JA. The teaching of nutrition in UK Dental School 1986; 452 - 453.
13.
Sri Harini Sumartono. Pengendalian diet untuk mencegah karies pada
anak. KPPKG VIII 7 ­ 9 September 1988. FKG-UI, hal. 194 - 5.
Every young man should learn to take criticism. He'll
probably be a parent someday.