Daya Antimikroba Obat Tradisional
Diare terhadap Beberapa Jenis Bakteri
Enteropatogen
Pudjarwoto T., Cyrus H. Simanjuntak, Nur Indah P.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RJ., Jakarta
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian daya anti mikroba obat tradisional diare terhadap bebe-
rapa jenis mikroba penyebab diare yang dilakukan secara in-vitro dengan metode Disk
Diffusion dari Kirby Bauer (1966).Empat jenis tumbuhan obat anti diare yang diuji
yaitu: daun jambu biji (Psidium guajava), umbi rumput teki (Cyperus rotundus), daun
sawi tanah (Nasturtium indicum), dan kulit buah manggis (Garsinia mangostana).
Obat-obat ini.diujikan kepada 3 macam kuman yaitu: Salmonella, Escherichia coli dan
Vibrio cholera. Sebagai kontrol digunakan antibiotik tetrasiklin 'dal= .bentuk disk
dengan potensi disk 10 p.g, diameter 6 mm.
Hasil penelitian menunjukkan, sari daun jambu biji temyata mempunyai daya anti
mikroba terhadap V. cholera. Pada konsentrasi 0,15 g/ml sari daun jambu biji dapat
menimbulkan zona bebas bakteri di sekitar disk sebesar 7,5 mm, sedangkan pada
konsentrasi 0,50 g/ml dapat menimbulkan zona bebas bakteri sebesar 13,5 mm. Makin
tinggi konsentrasi makin besar zona bebas bakteri yang ditimbulkannya. Sari daun
jambu biji dikenal mengandung bahan kimia avikularin dan guaijiverin yang diduga
sebagai bahan kimia yang bersifat anti mikroba terhadap V. cholera. Sari umbi rumput
teki, sari daun sawi tanah dan sari kulit buah manggis dalam pengujian ini tidak
menimbulkan zona bebas bakted, sehingga diduga tidak bersifat sebagai anti mikroba
baik terhadap Salmonella, E. coli maupun V. cholera.
PENDAHULUAN
Indonesia kaya akan sumber bahan obat tradisional yang
telah digunakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia secara
turun temurun. Keuntungan penggunaan obat tradisional adalah
antara lain karena bahan bakunya mudah diperoleh dan harganya
murah
o
). Delapan puluh persen penduduk Indonesia hidup di
pedesaan, di antaranya sukar dijangkau oleh obat modern dan
tenaga medis karena masalah distribusi, komunikasi dan trans-
portasi; di samping itu daya bell yang relatif rendah menyebab-
kan masyarakat pedesaan kurang mampu mengeluarkan biaya
untuk pengobatan modern, sehingga masyarakat cenderung
memilih pengobatan secara tradisional
(2,3)
.
Dalam rangka peningkatan dan pemerataan pelayanan ke-
sehatan masyarakat, maka obat tradisional perlu dimanfaatkan
sebaik-baiknya terutama di desa-desa dan pemukiman yang be-
lum/sulit dijangkau oleh puskesmas. Di sini obat tradisional
mempunyai makna yang sangat penting karena di samping ke-
tidakmampuan masyarakat untuk memperoleh obat-obat mo-
dern, juga karena obat tradisional adalah obat bebas yang dapat
diperoleh tanpa resep dokter
(1)
.
Tercatat ada 88 jenis tumbuhan obat yang dinyatakan ber-
khasiat sebagai obat tradisional diare. Tetapi sampai sekarang
pengetahuan maupun pemakaian obat-obat tradisional ini pada
umumnya hanya bersumber pada penuturan atau informasi dari
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992 45
orang ke orang, sedangkan informasi ilmiah belum banyak diper-
oleh
(4)
. Proses pengolahan obat tradisional pada umumnya sa-
ngat sederhana. Di antaranya ada yang diseduh dengan air,
dibuat bubuk kemudian dilarutkan dalam air, ada pula yang
diambil sarinya; cara pengobatan pada umumnya dilakukan
per-oral (diminum).
Komponen aktif yang berperan sebagai obat adalah zat-zat
kimia yang terkandung di dalam ramuan obat tersebut. Secara
kemoterapi, komponen-komponen tersebut antara lain dapat
berperan sebagai absorben, astringen, spasmolitik, anti bekteri,
suportif dan sebagainya
4
. Dalam hubungannya sebagai obat
antibakteri, obat-obat tradisional anti diare sampai saat Oki
masih belum banyak diketahui daya anti mikrobanya terhadap
berbagai jenis bakteri penyebab penyakit diare; sebagaimana
diketahui, secara bakteriologis penyebab penyakit diare terdiri
dari beberapa jenis bakteri, di antaranya yang terpenting adalah
Vibrio cholera. Salmonella sp., Shigella sp., Campylobacter,
Yersinia enterocolitica.
Untuk menambah informasi mengenai khasiat obat-obat
tradisional anti diare, telah diteliti secara bakteriologis beberapa
jenis tanaman that tradisional anti diare, antara lain yaitu kulit
buah manggis (Garsinia mangostana), daun jambu biji (Psidium
guajava), umbi rumput teki (Cyperus rotundus) dan daun sawi
tanah (Nasturtium indicum). Penelitian dilakukan untuk menge-
tahui ada tidaknya daya anti mikroba obat-obat tradisional ter-
sebut terhadap beberapa jenis bakteri penyebab penyakit diare.
Cara pengujian yang dilakukan adalah dengan menggunakan
teknik'Dg7usion Method dari Kirby Bauer (1966).
BAHAN DAN METODA
Persiapan bahan obat
Masing-masing bahan baku obat yang masih dalam kondisi
segar yaitu daun jambu biji, kulit buah manggis, daun tapak
liman, umbi rumput teki dan daun sawi tanah dibuat serbuk
dengan cara digerus untuk menghasilkan bubuk, kemudian di-
larutkan dengan dua macam bahan pelarut yaitu air dan alkohol
50%. Untuk bahan pelarut air, 12 gram serbuk dicampur
dengan 120 ml air kemudian direbus sampai mencapai volume
90 ml. Untuk bahan pelarut alkohol 50%, 12 gram serbuk
dicampur dengan 120 ml alkohol 50% kemudian didmkan
selama 2 jam, selanjutnya disaring dengan kertas saring.
Larutan ini disentrifus selama 10 menit pada putaran 200
rpm. Cairannya diambil dan selanjutnya dimasukkan ke dalam
freeze drier selama 24 jam sehingga diperoleh sari tumbuh-
tumbuhan dalam bentuk bubuk halus. Pengenceran terhadap
bubuk halus tersebut dilakukan dengan menggunakan air bebas
mineral dengan berbagai tingkat konsentrasi yaitu: 0,15 gram/
ml, 0,22 gram/ml, 0,28 gram/ml, 0,37 gram/ml dan 0,50 gram/ml.
Persiapan bakteri penguji
Beberapa jenis bakteri yang dignakan dalam penelitian ini
adalah bakteri-bakteri penyebab penyakit diare yaitu Vibrio
cholera, Salmonella dan Escherichia coli. Bakteri-bakteri ini
diperoleh dari persediaan yang disimpan di laboratorium. Mula-
mula dilakukan peremajaan dengan menanamnya ke dalam
media/ perbenihan KIA (Kliger Iron Agar). Setelah diinkubasi
selama 24 jam kemudian ditanamkan pada perbcnihan HIB
(heart Infusion Broth) selama lebih kurang 6 jam pada suhu
37°C. Dcngan menggunakan lidi kapas steril, diambil kuman
dari perbenihan HIB kemudian ditanamkan pada perbenihan
Muller Hinton Agar.
Pengujian daya antibakteri
Cara pengujian yang dilakukan adalah dengan menggunakan
Disk Diffusion Method dari Kirby Bauer (1966). Dengan pipet
Ependorf diambil 20.t1 cairan obat tersebut di atas dan
diteteskan ke dalam paper disk ukuran diameter 6 mm produksi
BBL. Selanjutnya paper disk ini diletakkan di atas perbenihan
Muller Hinton Agar yang telah berisi kuman bahan penguji
yang telah dipersiapkan sebelumnya. Perbenihan Muller Hinton
Agar diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C.
Interpretasi hasil pengujian dapat dilihat dari dua altematif.
Pertama ialah apabila di sekitar paper disk terdapat zona
(daerah) bening tanpa pertumbuhan bakteri; hal ini dinyatakan
positif, berarti obat tradisional yang diuji mempunyai daya
antimikroba. Alternatif ke dua ialah apabi la di sekitar paper
disk tidak terdapat zona bening yang bebas dari pertumbuhan
bakteri; dinyatakan negatif yang berarti obat tradisional yang
diuji tersebut tidak mempunyai daya antimikroba.
Sebagai kontrol digunakan paper disk yang mengandung
antibiotik tetrasiklin dengan konsentrasi 10 pg/ml.
HASIL
Dari hasil penelitian ini dapat diperoleh informasi mengenai
daya antimikroba dari keempat jenis tumbuhan obat tradisional
anti diare yang diuji. Seperti terlihat pada tabel 1, sari umbi
rumput teki, sari kulit buah manggis dan sari daun sawi tanah
menunjukkan hasil negatif yang berarti tidak mempunyai daya
antimikroba terhadap ketiga jenis bakteri yang diuji yaitu V.
cholera, Salmonella dan Escherichia coli. Sari daun jambu biji
ternyata menunjukkan hasil positif, tapi terlihat hanya terhadap
bakteri V. cholera saja, sedangkan terhadap bakteri Salmonella
dan E. coli menunjukkan hasil negatif.
Tabel 1. Zona (daerah) bebas bakterl yang timbul pada pengujlan 4
macam obat tradisonal anti diare dengan disk difnsion method
terhadap 3 jenis bakterl yaitu V. cholera, Salmonella dan E. coli.
Jenis bakterl, zoos
(+/)
Jenis obat
Konsentrasi
E. coil V. chokna Salmonella
Sawi tanah
Jambu biji
Rumput teki
Kulit bush
manggis
Tetrasiklin
Khloramfenikol
0,15 gr/ml
0,15 gr/m5
0,15 gr/ml
0,15 gr/ml
10 µ. gr/ml
10 µ. gr/ml
+
+
+
+
+
+
+
Keterangan : + = timbul zona bebas bakteri
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992
46
Konsentrasi laruran sari daun jambu biji berpengaruh ter-
hadap zona bebas bakteri yang ditimbulkan. Dalam label 2
terlihat bahwa zona bebas bakteri laruran sari daun jambu biji
dengan konsentrasi yang lebih tinggi mempunyai ukuran yang
lebih besar dibandingkan dengan larutan dengan konsentrasi
yang lebih rendah.
Tabel 2. Besarnya zona bebas bakteri yang ditimbulkan pada pengujian
sari daun jambu biji dengan cara disk diffusion method terhadap
bakteri V. cholera untuk berbagai ti ngkat konsentrasi obat dalam
bahan pelarut air.
Diameter zona (mm)
Konsentrasi sari
daun jambu biji
(g /ml)
1 2
Rata-rata
0,15 g/ml
0,22 g/ml
0,28 g/ml
0,37 g/ml
0,50 g /ml
7,5
9,0
11,0
12,5
13,5
7,0
10,0
10,5
12,0
13,5
7,25
9,50
10,75
12,25
13,50
Jenis bahan pelarut diketahui juga berpengaruh terhadap
ukuran diameter zona bebas bakteri yang ditimbulkan. Di sini
terlihat bahwa pada bahan pelarut air bebas mineral, diameter
zona bebas bakteri yang ditimbulkan lebih besar daripada
diameter zona bebas bakteri dengan bahan pelarut alkohol 50%
(tabel 3).
Tabel 3. Perbandingan besarnya diameter zona bebas bakteri dart bahan
pelarut air dan alkohol 50% pada pengujian sari daun jambu biji
terhadap bakteri V. cholera dengan metode disk di/fusion.
Diameter zona (mm)
Bahan pelarut
konsentrasi
1 2
Rata-rata
Alkohol 50%
(0,15 g /ml)
Air bebas mineral
(0,15 g hnl)
7,5
8,0
7,0
8,0
7,25
8,00
Besarnya daya antimikroba sari daun jambu biji pada kon-
sentrasi 0,50 g/ml dalam pengujian ini tidak jauh berbeda
dengan besarnya daya antimikroba antibiotik tetrasiklin pada
konsentrasi 10 µg/ml (tabel 4).
Tabel 4. Diameter zona bebas bakteri sari daun jambu biji dibandingkan
dengan diameter zona bebas bakteri antibiotik tetrasiklin dan
khloramtenikol terhadap kuman V. cholera.
Janis obat
Konsentrasi
Diameter zona (mm )
Sari daun jambu biji
Tetrasiklin
Khloramfenikol
0,50 g /ml
10 µg/ml
30 µg/ml
13,5
14,0
22,0
PEMBAHASAN
Dalam fungsinya sebagai obat tradisional antidiare, sari
daun jambu biji ternyata mempunyai khasiat sebagai anti mikroba
sebagaimana terlihat dalam pengujian ini. Dari tiga jenis kuman
yang diuji dalam penelitian ini yaitu V. cholera, Salmonella
dan E. coli, terlihat bahwa sari daun jambu biji mempunyai
daya anti mikroba hanya atas bakteri V. cholera saja,
sedangkan terhadap Salmonella dan E. Coll tidak.
Informasi ini setidak-tidaknya mempunyai arti yang cukup
penting bagi pakar farmakologi terutama dalam hubungannya
dengan upaya pengembangan obat-obat tradisional. Di dalam
sari daun jambu biji diketahui terkandung bahan-bahan kimia
yang disebut Avikularin dan Guaijiverin. Bahan-bahan kimia
inilah gang mungkin berperan sebaga anti mikroba terhadap V.
cholera. Mengapa sari daun jambu biji ini hanya bersifat anti
mikroba terhadap V. cholera saja, sedangkan terhadap kuman
yang lain seperti Salmonella dan E. coli tidak, perlu diteliti lebih
mendalam baik dari segi farmakologis maupun bakteriologis.
Kerjasama antara ahli-ahli farmasi dan ahli-ahli mikrobiologi
akan sangat bermanfaat.
Sari umbi rumput teki, sari daun sawi tanah dan sari kulit
manggis tidak menunjukkan daya anti mikroba terhadap V. cho-
lera, Salmonella dan E. coli. Terhadap ketiga jenis obat ini perlu
dilakukan pengujian dengan jenis-jenis bakteri lain mengingat
penyebab diare dari segi mikrobiologis terdiri dari banyak jenis
bakteri. Alternatif lain ialah bahwa obat-obat tradisional ini
tidak berkhsiat sebagai antibakteri, tetapi mungkin berkhasiat
suportif, absorben atau sebagai astringen. Seperti diketahui,
buah manggis mengandung zat samak, vitamin B dan C serta
bahanbahan kimia lainnya. Zat samak adalah senyawa kimia
yang berupa polihidroksi asam benzoat yang biasanya larut
dalam air dan punya daya astringen. Sari daun sawi tanah
diketahui mengandung vitamin A, C dan D serta garam-garam
mineral. Dalam fungsinya sebagai obat diare, mungkin bersifat
suportif, yakni mengganti cairan/elektrolit tubuh yang hilang
akibat adanya proses dehidrasi. Sari umbi rumput teki banyak
mengandung minyak menguap dan asam stearat, bahan-bahan
kimia ini cenderung berkhasiat spasmolitik, yakni mencegah
stimulasi keluarnya carian tubuh dari usus halus.
Obat-obat tradisional biasanya diberikan kepada penderita
dengan jalan menyeduhnya dengan air; hal ini sangat membantu
karena penderita diare sering buang-buang air dan dapat
menyebabkan kekurangan cairan dan terganggunya
keseimbangan elektrolit tubuh.
Apakah obat-obat tradisional anti diare ini berkhasiat pula
untuk mengurangi lamanya diare pada penderita, masih hams
diteliti lebih lanjut.
KESIMPULAN DAN SARAN
Secara laboratoris dalam penelitian ini sari daun jambu biji
sebagai obat tradisional anti diare berkhasiat anti mikroba
yakni berperan sebagai bakterisid terhadap kuman Vibrio
cholera, sedangkan terhadap kuman Salmonella dan Eschericia
coil tidak berkhasiat sebagai anti bakteri.
Sari kulit buah manggis, sari umbi rumput teki dan sari daun
sawi tanah tidak menunjukkan tanda-tanda berkhasiat sebagai
anti bakteri terhadap ketiga jenis kuman tersebut di atas.
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992 47
Disarankan untuk melalukan penelitian secara lebih men-
dalam terhadap obat-obat tradisional anti diare baik dalam pe-
ranannya sebagai anti bakteri, terhadap etiologi milcrobiologis
dalam spektrum yang lebih luas, maupun penelitian-penelitian
yang bersifat klinis.
KEPUSTAKAAN
1.
Anonymous, Malaria Medika Jilid L Departemen Keschatan RI, 1977.
2.
Budiarso RL Laporan Survai Kesehatan Rumah Tangga tahun 1980. Punt
Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Ke-
sehatan Departemen Kesehatan RI, 1980.
3.
Winardi B. Penanganan Kruus di Lapangan. Lokakarya Intervensi Diare
Dengan Obat. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Penberantasan Penyakit
Menular, Departemen Kesehatan RI, 1982.
4.
Tampubolon O. Tumbuhan Obit. Jakarta : Fr. Bhatara Karya Alt:ara,1981.
5.
WHO LAB/19.3. Guidelines For Antimicrobial Susceptibility Testing