background image
Penelitian V
Dari Anak-ana
di Kotamadya
irus Entero
k Usia Balita
Banjarmasin
Drs Eko R
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan
Departemen Kesehatan Re
aha
P
p l
rdjo
enelitian dan Pengembangan Kesehatan,
ub ik Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara anggota Badan Kesehatan Dunia
(World Health Organization) yang ikut melaksanakan program-
program dari Badan Kesehatan Dunia tersebut. Salah satu
prigram itu dikenal sebagai Progaram Pengembangan Imunisasi
(Expanded Programme on Immunization = EPI). Dalam pro-
gram itu dicanangkan peningkatan cakupan imunisasi pada
anak-anak usia balita. Salah satu dari program imunisasi ialah
pemberian vaksin polio pada anak-anak usia 3­14 bulan agar
timbul imunitas terhadap virus polio.
Jauh sebelum vaksinasi polio dilakukan di Indonsia (sejak
tahun 1980), para ahli virologi dari negara maju sudah
menyatakan bahwa virus polio sebagai anggota dari kelompok
virus entero bisa berinterferensi dengan anggota virus entero
lainnya (Sabin, 1963), Kono et al, 1963).
Berdasarkan pada pernyataan para ahli tersebut, bila akan
dilaksanakan vaksinasi massal di suatu daerah, sebaiknya di-
lakukan penelitian pendahuluan yang tujuannya untuk me-
ngetahui berapa banyak virus entero didapati pada anak-anak,
juga jenis-jenis virus entero yang paling banyak dijumpai, perlu
pula diselidiki seberapa jauh pencemaran air yang dipakai
untuk keperluan sehari-hari oleh virus entero ini. Bila data dan
penelitian itu sudah terkumpul dan dievaluasi maka dapatlah
dilaksanakan vaksinasi dengan mempertimbangkan hasil
penelitian yang sudah ada. Vaksinasi yang dilakukan
diharapkan akan membawa hasil lebih baik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah dan jenis
virus entero di suatu daerah, untuk mengetahui apakah jumlah
dan jenis virus entero itu berbeda untuk setiap musim.
CARA KERJA
Sampel berasal dari usapan rektum anak-anak usia balita
dari Kotamadya Banjarmasin sebanyak 342 sampel, diambil
pada bulan April 1981 (akhir musim hujan), sebagai peng-
ambilan sampel pertama. Pengambilan sampel kedua dilakukan
pada bulan September/Oktober (akhir musim kemarau) pada
tahun yang sama dengan jumlah 341 sampel.
Sampel-sampel ini dilarutkan dalam larutan garam se-
imbang Hanks (Hanks Balanced Salt Solution). Di laborato-
rium kemudian diberi larutan fluoro carbon untuk memisahkan
virus entero dengan virus lainnya atau dengan bakteri dari
parasit. Setelah mengalami pemusingan selama 1 jam kecepat-
an 1062 g maka lapisan yang diduga mengandung virus entero
akan terpisah, lapisan atas dari larutan inilah akan diambil
untuk bahan isolasi.
Biak jaringan lestari dari ginjal monyet hijau (established
cell line green monkey kidney) dikenal sebagai sel vero, di-
larutkan ke dalam medium esensiel minimum (Minimum
Essential Medium = MEM) yang telah ditambah 10% serum
anak sapi. Suspensi vero kemudian ditumbuhkan dalam tabung-
tabung biakan jaringan. Setelah biakan jaringan memoentuk
selapis sel pada sisi bawah dari tabung biakan jaringan
(biasanya 5-7 hari) maka bahan isolasi diinokulasikan ke
dala'm biakan jaringan, kemdian diamati setiap had di bawah
mikroskop khusus (inverted microscop). Sel yang
menunjukkan adanya efek sitopatogenik diartikan bahwa
isolasi virus berhasil (bahkan isolasi mengandung virus positif).
Virus isolat yang positif dititer untuk mengetahui jumlah
virus per mill liter caranya adalah virus isolat diencerkan
dengan kelipatan 10 menggunakan PBS, mulai dari pengencer-
an sepuluh kali sampai seratus ju kali. Virus isolat yang
diencerkan kemudian dimasukkan
e dalam tabung-tabung
biakan jaringan yang sudah ditumbuhi biak sel vero. Efek
sitopatik yang timbul pada biak jaringan dengan pengenceran
virus isolat paling tinggi, menunjukkan titer dari virus isolat.
Bila titer virus sudah diketahui barn dapat dilaksanakan
identifikasi virus.
Identifikasi dimulai dengan mengencerkan virus isolat
ta
k
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988
44
background image
dengan garam peayangga pospat sehingga mendapatkan
onsentrast akhir 100 TCI
yang Mime damn 13 kelom
sera Schmith (Schmith po
penyangga pospat se
netralisasi dilakukan
TCID
50
) denim kelo
inkubator suhu 37 C
campuran virus-sera
imng biak jaringan berisi selapis jaringan sel vero yang sudah
diberi medium pemeliharaan (terdiri dart MEM ditambah 2%
serum anak apt). Sel yang sudah diino-Iculasn campur
virus dierarnkasn ke
hart seisms 14 hart untuk melihat ada
jaringan. Ha~l identif&asi adalah badman= den= hasil isolasi
irus, ttmbulnya efek sitopatik pada identifikasi wtinya negatif,
edangkan ttmbulnya efek sitopatik pada isolasi virus artinya
ositif. Pembacaan identifikasi dapat dibaca dengan kartu
ahan kelompok sera Schmith Nutt gambar 1).
abel 1. Kartu bagan kelompok sera Schmith
8
9
10
11
12
13
k
Dso. Antibodi terhadap virus entero
pok sera dikenal sebagai kelompok
ol sera), diencerkan dengan garatn
hingga didapatkan konsentrasi 25 unit. Uji
dengan mencampurkan virus isolat (100
mpok sera (25 unit) diinkubasikan dalam
. Setelah masa inkubasi selama 2 jam,
kemudian dimasukkan ke dalam tabung-
ta
an virus-
dalam inku6ator pada 37°C, diamati setiap
nya efek sito~patik pada
v
s
p
b
T
Nomor
Kelompok
7
1
2
3
4
5
6
P1
E4
CBl
E1
atau
E8
E9
E20
P2
E14
CY2
E2
E11
E22
P3
E16
CR3
E3
E12
E24
CA7
E17
C74
E5
R13
E25
CA9
E18
CB5
E6
E15
E26
ElO
E23
CB6
E7
E19
E27
E29
E30
E31
E32
E21
E33
Keterangan
:
P
: polio E:
Echo C
:
Coxseckle
Contoh pembacaan : Kumpulan virus sera no 7 dan no 1 tidak nampak efek
sitopatogenik, artinya virus yang ditemukan adalah virus Polio 1
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil isolasi virus
), maka dapat di-
artik
er 1978
ari 68 bahan isolasi, 20 (29,41%) positif dan pada bulan
bahab isolasi 15 (13,76%) positif
Tabel 1.
Isolasi virus entero dari usapan rectum anak-anak balita di
Kotamadya Banjarmasin berdasarkan kelompok umur pada
inasi negatif
Bahan isolasi yang dikumpulkan bulan April, dari 342
sampel, 79 (23,10%) sammpel diantaranya mengandung virus
entero (positif) 10 sampel tetkontaminasi oleh bakteri dan
jamur, sisanya tidak mengandung virus entero (negatif).
Bahan isolasi yang dikampulkan bulan September, dari 341
sampel, 42 sampel postif (12,32%), 2 terkontaminasi sedang-
kan sisanya negatif. Hasil selengkapnya isolasi virus berdasar-
kan kelompok umur dari pengumpulan sarnpel bulan April dan
September tertera pada Tabel 1 dan 2.
Uji atatistik hasil lesi virus entaro pada bulan April
dan September adalah bermakna (p < 0,10
an bahwa yang dttemukan pada anak-anak di bulan
September memang lebih sedikit. Isolasi virus entero berasal
dari Purwakarta (Jawa Barat) pada bulan Septemb
d
Maret 1979 dart 109
(Gendro Wahyuhono dan Suharyono, W, 1979). Perbanding-
an persentasi dari hasil isolasi virus entero di Kodya Banjar-
masin dibandingkan dengan di Purwakarta pada bulan Sep-
pengumpula bulan April 1981.
Positif kontam
Kelompok
Umur
Jumlah
bahan
isolasi
jumlah jumlah jumlah
0 tahun ­ 1 tahun
1 tahun ­ 2 tahun
2 tahun ­ 3 tahun
3 tahun ­ 4 tahun
107
82
64
49
20
31
14
10
4
3
1
2
4 tahun ­ 5 tahun
40
4
0
84
48
49
37
36
Total 342
79 10 253
(23,10%)
(2,92%)
(73,98%)
Tabel 2. lsolasi virus entero dari usapan rectum anak-anak balita di
Kotamadya Banjarmasin berdasararkan kelompok umur pada
pengumpulan bulan September 1981.
Positif kontaminasi negatif
Kelompok
Umur
Jumlah
bahan
isolasi
jumlah jumlah jumlah
0 tahun ­ 1 tahun
1 tahun ­ 2 tahun
128
129
17
20
2
0
109
109
2 tahun ­ 3 tahun
3 tahun ­ 4 tahun
4 tahun ­ 5 tahun
58
12
14
2
2
1
0
0
0
56
10
13
Total 341
42 2
297
(12,32%).
(0,59%)
(87,09%)
timber 12,32% 29,41%, sedangkan perbandingaa hasil isolasi
virus entero di Banjarmasin bulaii April dlandingkan dengan di
Purwakarta bulan Maret ialah 23,10%:13,76%. Jadi hasil
isolasi dart kedua tempat itu berlawanan, di Banjarmasin virus
entero paling banyak didapat pada bulan April sedangkan di
Purwakarta virus entero paling banyak didapat bulan Septem-
ber. Perbedaan haaii ini mungkin disebabkan letak geogratia
serta adat kebiaaaan masyarakat yang berbeda namun hal ini
perlu penelitian lebih lanjut.
Dari hasil penelitian di Banajarmasin tni malts dapatlah
diarankan bahwa pemberian vaksinasi polio sebaiknya dilaku-
kan pada bulan September/Oktober, karma virus intern di
dapati jauh lebih. sedikit dibandingkan dengan hu l isolasi
bulan April. Anjuran ini tidak berlaku bib virus entero yang
ditemukan pada bulan September adslah anggauta virus intent
yang punya kemungkinan bazar dapat berinterferensi dengan
vaksin polio. Sebaliknyn walaupun persentasi virus entero yang
ditemui pinta bulan April jauh lebih besar, namun bila sing-
aauta virus yang ditemui punya keniungklnan jauh Iebih kecil
untuk berinterferensi rmaka vaksinasi bulan April lebth balk
dari bulan September..
Untuk mengetahui apakah virus entero yang ditemukan
bulan April dan September itu punya kemungkinan untuk
berinterferensi atau tidak, perlulah dilthat hasil-hash dari iden-
tifikasi.
Hasil indentifikasi virus
Identifikasi dart 79 bahan isolat positif yang diambil
bulan April 1981 didapati hasil sebagai berikut ini, 27(34,18%)
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 45
background image
virus coxsackie grup B, 45 (56,96%) grup virus echo dan 7
(8,86%) grup virus polio. Identifikasi dari 42 bhan isolat
positif dari pengambilan bahan isolat bulan September 1981,
didapati hasil bahwa virus coxsackie paling banyak dijumpai,
meliputi 34 (80,95%)
,
sedangkan grup virus echo dan polio
masing-masing hanya dijumlai dalam 4 sampel (9,5%). Hasil
selengkapnya identifikasi virus dapat dilihat pada Tabel 3
dan 4.
Tabel 3.
Identifkasi virus entero dari pengumpulan sampel bulan
April 1981 di Kotamadya Banjarmasin, berdasarkan ke-
lompok umur.
Identifikasi virus entero dari
um
an
pel bulan
September 1981 di Kotamadya Banjarmasin, berdasarkan
kelo
ok um
Tabel 4.
peng
pul
sam
mp
ur.
Virus coxsackie grup B pada pengambilan sampel bulan
April didapati pada 27 sampel atau 7,89% dari seluruh sampel
sedangkan dari pengambilan bulan September didapati pula 25
sampel atau 7,33% dari seluruh sampel. Hasd ini menunjukkan
bahwa virus coxsackie grup B pada musim yang berbeda
jumlahnya tidak begitu berbeda. Uji statistik juga menunjukkan
tidak bermakna (p 0,05).
Virus echo yang didapat dari pengumpulan sampel bulan
April dan September jumlahnya sangat berbeda yaitu 45
(13,16%) dan 4 (1,17%), uji statistikpun menunjukkan hasil
yang bermakna (p < 0,10).
Virus polio dari pengambilan sampel bulan April dan Sep-
tember/Oktober masing-masing didapati 7 sampel (2,05%) dan
4 sampel (1,17%). Uji statistik untuk virus polio ini me-
nunjukkan hasil yang bermakna (p < 0,10).
Suatu hal yang sangat menarik adalah ditemukannya
virus coxsackie grup A pada pengambilan sampel bulan Sep-
tember dengan jumlah yang cukup banyak yaitu 9 sampel atau
2,64% dari seluruh sampel. Mengapa pada akhir musim hujan
banyak dijumpai virus echo sedangkan pada minim kemarau
muncul virus coxsackie grup A dan mengapa jumlah virus
echo sangat menurun tinggal kurang 10% dari pengumpulan
u
alami fluk
esar v
arik untuk diteliti lebih
lanjut.
s
kie B
a
si y
uat
denga
virus
(D
1954
an
rus
cox
u
idak berinterferensi
ngan vir
olio
(
H
dan
hols , 19
vi
echo
d
en
engan
us polio
ur vaksin,
alam
m
o
(Kon
t al, 1963
h
identifikasi viru dari peng
ulan
sampe
ri
ka vi
us ya
mukan
nterferensi semua d ngan
lio
ksin,
an
dengan
asarkan hal tersebut,
emang sebaiknya vaksinasi polio dilakukan pada bulan Sep-
tem
s
S
n
ali
viru
emu
mlahnya sedikit juga 21,43% diantara-
nya ti
rinter
de
us p
ur vak
eln
1984)
lain gru virus pol
rup
v
B,
erapa
gauta gr
rus cox
ie A
a
ck
4, 6, 7, 9, 11, 14,
dan angga
grup
v
la
cho 1, 3, 4, 6, 7, 11, 14, 16
, 19,
3
nte
bisa
gs menyebabkan kelu
han.
Dari
a virus
tero y
ditemukan di Ban
asin
i rus echo 4 da
eba
lum
di
ng tidak selalu sama.
di Banjarmasin dengan Purwakarta).
sampel b lan April, mengapa pula virus coxsackie tidak meng-
tuasi dan virus polio ada fluktuasi walaupun tidak
irus echo, semua ini men
seb
Grup viru coxsac
puny interferen
ang k
n grup
polio alldorf,
), sedangk grup vi
sackie A terb kti t
o tt
de
us p
Melnick, 1950
wi
Nic
52). Grup
rus
apat berinterfer si d
vir
gal
di
aupun di laborat rium
o e
).
Bila dilihat
asil
s
ump
l bulan Ap l ma
r
r
virus po
us-vi
n
te
galur va
g di
bisa ber-
i
e
sedangk
hasil identifikasi virus dari pengumpulan sampel bulan Sep-
tember didapati virus coxsackie A yang tidak berinterferensi
virus polio galur vaksin. Berd
m
ber_ atau
s yang dit
3 bulan ebelum eptember, kare a kecu
kan ju
dak be
ferensi
ngan vir
olio gal
sin.
Menurut M
ick (
, se
p
io, g
irus coxsackie beb
ang
up vi
sack
ntara lain coxsa ie A
21
uta
irus echo antara in e
2,
9,
, 18
0 serta virus e
ro 71
ju
mpu
semu
en
ang
jarm
kecual
s
vi
2
pat meny
bkan ke
puhan, ja
eandainya interferensi sesama anggauta virus entero tidak ada
virus-virus yang ditemukan tetap perlu mendapat perhatian
khusus.
Sangat disayangkan bahwa data kelumpuhan ataupun data
,
encephalitis yang berhubungan dengan infeksi virus entero
selain virus polio di Indonesia belum ada, oleh karena itu perlu
penelitian pada masa yang akan datang.
Data dari isolasi dan identifikasi virus juga memberikan
gambaran bahwa anak-anak usia > 1 tahun- 2 tahun lebih
banyak terinfeksi virus entero dari anak-anak usia 0­1 tahun,
oleh karena itu disarankan pemberian vaksinasi polio lebih baik
dilakukan sedini mungkin yaitu antara umur 3­6 bulan, karena
pada umur-umur tersebut virus entero kemungkinan besar
masih sedikit jumlahnya dalam tubuh anak-anak atau bahkan
belum masuk ke dalam tubuh. Jadi kemungkinan virus volio
galur vaksin terinterferensi dengan virus entero di dalam tubuh
anak yang divaksinasi. Anak-anak di atas usia 2 tahun lebih
sedikit terinfeksi virus entero, hal ini mungkin sekali
berhubungan dengan kebersihan, seorang anak makin besar
makin tabu akan kebersihan.
KESIMPULAN
Dari isolasi dan identifikasi virus entero anak-anak balita
di Kotamadya Banjarmasin diperoleh kesimpulan sebagai ber-
ikut.
1.
Musim yang berbeda menghasilkan jumlah virus yang ber-
beda dan jenis virus ya
2.
Waktu yang sama atau waktu yang hampir sama namun
tempat berbeda menghasilkan jumlah dan jenis virus yang
berbeda pula (lihat hasil perbandingan isolasi virus entero
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988
46
background image
3.
Kelompok virus yang dominan di suatu musim tidak mesti
dominan pada musim yang lain, ada pula kelompok virus
yang tidak terpengaruh oleh muslin (jumlah tidak meng-
alami fluktuasi yang tinggi).
4.
Dianjurkan vaksinasi di Kotamadya Banjarmasin dilakukan
pada bulan September atau bulan-bulan pada muslin ke-
marau serta sebaiknya diberikan pada usia vaksinasi dini.
Dalldorf
ffect to coxsackie virus infection on experimental
poliomelitis.. J Exp Med, 1951; 94
.
65-71.
2.
Gendro Wahyuhono, Suharyono W. Preliminary study of sero
immunity to polioviruses in urban population in Indonesia. Bull Penelitian
Kes, 1979 :7 ; 22-27.
3.
Howitt BF, Nichols NJ. Inoculation of cynomolgus monkey with
the coxsickie virus alone, combined, or with polio virus. J Immunol,
1952; 68 ; 599-608.
6.
M
KEPUSTAKAAN
G. The sparing e
1.
4.
Kono R. Hamada C Hoshito M, Fukuda T, Ashihara Y, Yaoi Hjr. Studies
on mixed infection with polioviruses type 1 and ECHO virus type 7 in
monkey and cell culture. Am I Hyg, 1963: 78 ; 89-101.
5.
Melnick JL. Studies on the coxsackieviruses, properties, immunological
aspect and distribution in nature. Bull NY Acad Med, 1950; 26 ;342-356.
elnick JL. Enteroviruses. In Evans As (ads), viral infection of human.
New York, London · Plenum Medical Book Company, 1984; p. 223.
7.
Sabin AB. Oral poliomyelitis vaccine . Recent result and recomendation
for optimum used. Roy Soc Health Journ, 1963: 82 ; 51.
UCAPAN TERIMA KASIH :
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr Ishak Koffman,
Kepala Ptislit Penyakit Menular, Badan Penelitian Pengembangan Kesehatan,
Dep.Kes. RL, Bapak Drh Suharyono Wuryadi, MPH dan Bapak Drh Gendro
Wahyuhono yang telah memberikan kesempatan pada' penulis untuk
melakukan penelfftian ini