background image
K
onsumsi alkohol dikaitkan dengan penurunan tingkat
kepatuhan pada ART berdasarkan sejumlah penelitian yang
berbeda, namun, bentuk, kekuatan dan konsistensi hubungan
tersebut tidak jelas. Oleh karena itu para peneliti AS melakukan
meta-analisis terhadap seluruh penelitian mengenai hubungan
antara alkohol dan kepatuhan pada ART, yang diterbitkan
antara 1996 dan 2007.
Seluruhnya ada 40 penelitian dimasukkan dalam analisis ini.
Penelitian tersebut memiliki metodologi dan definisi kepatuhan
yang berbeda (90-100% dosis). Namun, apabila digabungkan,
penelitian menunjukkan bahwa kemungkinan orang yang
minum alkohol digolongkan sebagai tidak patuh pada ART
adalah antara 50% dan 60% lebih tinggi dibandingkan
dengan orang yang tidak minum alkohol (OR = 0,548; CI:95%,
0,490-0,612; p < 0,001).
Lebih lanjut, jumlah alkohol yang diminum juga dikaitkan
dengan peningkatan risiko ketidakpatuhan. Pasien yang
memenuhi kriteria AS sebagai kecanduan alkohol adalah
±60% lebih mungkin tidak patuh dibandingkan orang yang
tidak minum alkohol atau yang hanya minum sedikit (OR =
0,474; CI:95%, 0,408 ­ 0,550; p < 0,001). Analisis lebih lanjut
mengungkapkan bahwa jumlah alkohol yang diminum, dan
bukan frekuensi minum yang menyokong ketidakpatuhan.
Para peneliti menulis, "secara keseluruhan, bukti yang ada
memberi kesan bahwa jumlah alkohol yang diminum adalah
kriteria kepatuhan yang lebih kuat dan penting dibandingkan
frekuensi minum, temuan yang tampak konsisten dengan
dampak dosis alkohol terhadap kepatuhan."
Salah satu faktor yang dikaitkan dengan konsumsi alkohol dan
ketidakpatuhan adalah laki-laki. Para peneliti mencatat bahwa
temuan itu "tidak konsisten dengan laporan sebelumnya yang
memberi kesan bahwa dampak alkohol terhadap kepatuhan
lebih jelas di antara perempuan."
Dampak alkohol terhadap kepatuhan juga lebih jelas pada
penelitian yang melibatkan lebih sedikit jumlah pengguna
narkoba suntikan. "Karena pengguna narkoba suntikan sudah
dihubungkan dengan tingkat kepatuhan yang lebih rendah,
ada kemungkinan bahwa dampak alkohol terhadap kepatu-
han tidak jelas bila dikaitkan dengan penggunaan narkoba
suntikan," komentar para peneliti.
Namun, walaupun penulis yakin dengan hubungan "erat dan
dapat terulang" antara alkohol dan ketidakpatuhan, para peneliti
kurang mengetahui alasannya. Oleh karena itu para peneliti ber-
pendapat "penelitian harus dilanjutkan untuk menilai ke-
mungkinan hubungan untuk menjelaskan keadaan saat peng-
gunaan alkohol akan mempengaruhi kepatuhan."
Konsumsi alkohol tidak hanya berdampak terhadap kepatuhan,
tetapi juga berdampak pada fungsi kekebalan. Berdasarkan
penelitian itu dan meta-analisis mereka sendiri, para peneliti me-
nyimpulkan, "intervensi alkohol yang berhasil dapat menunjukkan
dampak yang sangat baik terhadap pengembangan penyakit
dan, secara teoretis harapan hidup." (NFA)
Sumber:
1. Hendershot CS et al. Alcohol use and antiretroviral adherence: review and
meta-analysis. J Acquir Immune Defic Syndr (online edition), 2009.
2. Meta-analysis shows that alcohol consumption has negative impact on antiretroviral
adherence-http://www.aidsmap.com/en/news/2879CE24-6F55-41BE-A8C5-
D431DDC66AF3.asp
Konsumsi Alkohol Berdampak Buruk
Konsumsi Alkohol Berdampak Buruk
terhadap Kepatuhan pada Terapi Anti Retroviral
terhadap Kepatuhan pada Terapi Anti Retroviral
Konsumsi Alkohol Berdampak Buruk
terhadap Kepatuhan pada Terapi Anti Retroviral
Kemungkinan patuh pada terapi antiretroviral (ART) di kalangan penderita AIDS yang meng-
konsumsi alkohol ± 50% lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak mengkonsumsi alkohol.
Hal itu berdasarkan sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Journal of Acquired Immune
Deficiency Syndromes versi internet. Para peneliti juga menemukan bahwa jumlah alkohol yang
dikonsumsi juga mempengaruhi kepatuhan; penderita AIDS yang didefinisikan sebagai "peminum
yang bermasalah" 60% lebih mungkin kurang patuh pada ART.
BERITA TERKINI
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
50
49
BERITA TERKINI
M
enurut Hamburg, pemerintah federal Amerika telah
memesan 195 juta dosis, tetapi mungkin lebih banyak lagi jika
diperlukan. Biasanya, 100 juta orang Amerika mendapatkan
vaksinasi untuk flu musiman setiap tahun.
Diperkirakan 45 juta dosis vaksin ini tersedia pada pertengahan
Oktober 2009. Anak-anak dan dewasa muda, yang tampak-
nya lebih rentan terhadap H1N1 flu babi, serta wanita hamil,
pekerja perawatan kesehatan dan orang-orang dengan kondisi
kesehatan kronis seperti asma, diabetes dan penyakit jantung,
adalah prioritas calon pengguna vaksin.
Sejak pertama kali muncul di Meksiko dan Amerika Serikat musim
semi lalu, virus H1N1 (flu babi) terus menyebabkan penyakit
yang relatif ringan pada kebanyakan orang (mirip flu musiman)
dan pemulihan cukup cepat.
Menurut Dr Jesse Goodman, vaksin H1N1 yang telah disetujui
telah menjalani pengawasan produksi ketat oleh FDA, pengujian
kualitas produk dan prosedur rilis yang berlaku untuk vaksin
influenza musiman.
Hasil pendahuluan dari uji klinis menunjukkan hanya perlu satu
dosis suntikan vaksin flu babi untuk memicu respon imun yang
diinginkan di sebagian besar orang dewasa yang sehat delapan
sampai 10 hari setelah inokulasi, sama dengan vaksin influenza
musiman.
Studi klinis pada vaksin H1N1 berlanjut untuk menentukan
dosis yang optimal pada anak-anak. Hasil tersebut diharapkan
tidak lama, kata FDA.
Empat jenis vaksin dibuat oleh CSL Limited, MedImmune LLC,
Novartis Vaccines dan Diagnostics Limited, dan Sanofi Pasteur,
Inc. Menurut FDA, keempat perusahaan memproduksi vaksin
H1N1 dengan menggunakan proses yang sama, dan memiliki
catatan keamanan yang terbukti saat memproduksi vaksin
influenza musiman.
Uji awal vaksin menunjukkan toleransi yang baik, dengan efek
samping mirip dengan vaksin flu musiman. Ini termasuk rasa
sakit di tempat suntikan, dan juga mungkin demam ringan, pegal
sekujur tubuh dan kelelahan selama beberapa hari setelah
inokulasi. Untuk vaksin semprot hidung, yang paling umum
adalah efek samping hidung beringus atau tersumbat untuk
segala usia, sakit tenggorokan pada orang dewasa, dan demam
pada anak-anak usia 2-6 tahun.
FDA menekankan bahwa vaksin H1N1 tidak akan melindungi
terhadap flu musiman biasa. Itu sebabnya orang dianjurkan
untuk mendapatkan suntikan flu musiman sekarang, meskipun
virus H1N1 menyumbang sekitar 98 persen dari flu yang
beredar di Amerika Serikat saat ini.
Beberapa studi baru menunjukkan bahwa orang yang ter-
infeksi flu babi tampaknya menular lebih lama daripada pasien
dengan flu musiman biasa. Belum jelas apa temuan ini akan
berdampak terhadap rekomendasi layanan kesehatan untuk
memerangi flu babi, karena infeksi yang relatif ringan pada
kebanyakan orang dan waktu pemulihan cukup cepat.
Studi ini menunjukkan bahwa Anda tidak akan tertular dengan
virus H1N1 (flu babi) dalam satu atau dua hari. "Anda mungkin
tertular sudah sekitar satu minggu," kata Gaston De Serres,
seorang ilmuwan di Institute of Public Health di Quebec, yang
mempresentasikan salah satu studi Senin di sebuah konferensi
American Society for Microbiology di San Francisco.
Kadar virus dalam lendir hidung dapat memberikan indikasi
apakah flu masih dapat disebarkan oleh batuk dan bersin. Dalam
studi Kanada, antara 19 persen menjadi 75 persen orang dengan
flu H1N1 masih menunjukkan tanda-tanda virus dalam hidung
mereka delapan hari setelah timbulnya gejala pertama. Dua
penelitian lain, satu dari Singapura, yang lain dari Meksiko,
memberikan hasil yang sama.
Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan saat ini hampir
280.000 kasus infeksi, dengan setidaknya 3.205 kematian di
seluruh dunia.
CDC telah merekomendasikan bahwa orang yang terinfeksi flu
babi untuk tinggal di rumah dan menghindari kontak dengan
orang lain selama sedikitnya satu hari setelah mereka sudah
bebas dari demam tanpa menggunakan obat penurun
demam.
Nancy Cox, direktur CDC Divisi Influenza, mengatakan bahwa
menganjurkan orang-orang tidak bekerja atau sekolah untuk
waktu yang lama mungkin tidak perlu, karena virus H1N1
menyebabkan penyakit ringan, terutama pada anak-anak dan
dewasa muda.
(NFA)
FDA Menyetujui 4 Vaksin Flu Babi
US Food and Drug Administration telah menyetujui empat vaksin virus influenza H1N1 (flu babi), dengan
dosis pertama diharapkan akan tersedia dalam waktu empat minggu. FDA mengharapkan batch pertama
akan tersedia dalam waktu satu bulan. Persetujuan adalah kabar baik dalam menanggulangi virus influenza
H1N1, kata Komisaris FDA Dr. Margaret A. Hamburg. Vaksin ini akan membantu melindungi individu dari
penyakit serius dan kematian akibat influenza.