·
·
·
Losartan Memperbaiki
Losartan Memperbaiki
Disfungsi Ereksi
Disfungsi Ereksi
pada Pasien Hipertensi
pada Pasien Hipertensi
Losartan Memperbaiki
Disfungsi Ereksi
pada Pasien Hipertensi
H
ipertensi berat berhubungan dengan penurunan produksi
nitric oxide (NO) oleh endotel pembuluh darah. NO sangat
penting untuk relaksasi otot dan meningkatkan aliran darah
untuk tercapainya ereksi. Karena itulah, penurunan NO pada
pasien hipertensi berat menurunkan kemampuan ereksi.
Gangguan ereksi ini dapat bertambah buruk akibat pembe-
rian obat antihipertensi. Obat antihipertensi golongan beta
blocker dapat menyebabkan DE melalui penurunan kadar
testosteron dan potensiasi aktivasi adrenergik-
1 di penis.
Diuretik tiazida juga berhubungan dengan DE, diperkirakan
karena deplesi cairan dan zinc.
Di lain pihak penggunaan obat antihipertensi golongan ARB
(Angiotensin Receptor Blocker) disertai dengan DE yang lebih
rendah dibandingkan dengan obat antihipertensi golongan
diuretik atau beta blocker.
Losartan adalah obat golongan ARB (Angiotensin Receptor
Blocker) yang sudah lama digunakan dalam terapi hipertensi.
Losartan dilaporkan memiliki efek positif terhadap fungsi ereksi.
Dalam sebuah penelitian selama 12 minggu, pemberian losartan
(50-100 mg/hari) pada 82 pasien hipertensi dengan DE
meningkatkan sexual satisfaction dari 7,3% menjadi 58,5%
(p<0,001). Aktifitas seksual pasien juga meningkat dari
40,5% menjadi 62,3% dan jumlah pasien dengan aktifitas
seksual yang rendah dan sangat rendah menurun secara
bermakna (p=0,001).
Pada akhir penelitian, 11,8% pasien mengalami perbaikan
fungsi seksual dan 73,7% pasien mengalami perbaikan kualitas
hidup.
Hal ini diduga karena obat golongan ARB diperkirakan mem-
beri efek kontraksi pada otot cavernosum dan dalam jangka
panjang berpengaruh terhadap susunan kolagen otot caver-
nosum. Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk memberi-
kan data yang lebih lengkap mengenai efek positif obat-
obat antihipertensi ARB ini.
Kesimpulan:
Pemberian obat antihipertensi diuretik dan beta blocker
tampaknya meningkatkan perburukan DE.
Obat antihipertensi golongan ARB, seperti losartan bukan
saja memperbaiki disfungsi ereksi, namun juga memperbaiki
sexual satisfaction, meningkatkan aktifitas seksual dan juga
memperbaiki kualitas hidup pasien hipertensi dengan DE.
Penelitian lanjutan diperlukan untuk memberikan data yang
lebih lengkap. (YYA)
Referensi :
Doumas M, Tsakiris A, Douma S, Grigorakis A, Papadopoulos A, Hounta A, et al. Factors
Affecting the Increased Prevalence of Erectile Dysfunction in Greek Hypertensive
Compared With Normotensive Subjects. J. Andrology 2006; 27 (3): 469-77.
Khan MA, Morgan RJ, Mikhailidis DP. The Choice of Antihypertensive Drugs in Patients
with Erectile Dysfunction. Curr. Med. Res. and Opin. 2002; 18 (2):103-7.
Leibovici OK, Weinstein J, Ziv A, Bohem IH, Murad H, Raz I. Clinical, Socioeconomic, and
Lifestyle Parameters Associated With Erectile Dysfunction Among Diabetic Men.
Diabetes Care 2005; 28:173944
Medscape Cardiology. Erectile Dysfunction and antihypertensive drugs [citied 2008
Dec 10]. Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/439675_3
1.
2.
3.
4.
Disfungsi ereksi (DE) didefinisikan sebagai ketidakmampuan mencapai dan
mempertahankan ereksi penis yang adekuat untuk terjadinya hubungan seksual.
Bayi lahir imatur (belum cukup umur) merupakan individu
yang mempunyai risiko cukup besar. Salah satu risiko
adalah infeksi jamur Candida albicans yang diperkirakan
berhubungan dengan status imunitas yang belum matur.
S
atu studi menunjukkan bahwa kandidiasis berkembang pada
sekitar 60% neonatus yang sakit kritis dan kondisi ini dapat ber-
kembang menjadi infeksi yang invasif. Literatur lain menyebutkan
bahwa kematian dan kegagalan perkembangan neurologis terjadi
pada sekitar 73% bayi dengan berat badan lahir sangat rendah
yang terkena kandidiasis.
Dari sekian banyak preparat anti jamur, fluconazole merupakan
salah satu antijamur dari golongan triazole yang dianjurkan pada
penatalaksaan infeksi jamur kandidiasis. Fluconazole dengan profil
yang baik, dapat digunakan untuk jamur yang sudah resisten ter-
hadap golongan azole; didukung studi klinis yang cukup banyak
memberikan manfaat lebih untuk penatalaksanaan kandidiasis.
Neonatus lebih khusus lagi dengan BB lahir rendah ataupun
belum cukup umur merupakan populasi yang rawan terhadap
risiko infeksi Candida.
Fluconazole dilaporkan juga efektif dan aman untuk mencegah
kolonisasi Candida pada neonatus yang terinfeksi Candida pada
studi yang melibatkan 100 bayi imatur dengan berat lahir < 1000
gram, dengan usia kurang dari 5 hari. Subyek ini dikelompokkan
menjadi kelompok yang mendapat Fluconazole dan kelompok
plasebo. Fluconazole diberikan iv dengan dosis 3 mg/kgBB setiap
tiga hari selama 2 minggu pertama, setiap 2 hari diberikan selama
minggu ke-3 dan ke-4, dan setiap hari selama minggu ke-5 dan
ke-6. Koloni Candida albicans diambil dari sekret nasofaring, kulit
lipat paha, dan feses.
Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa setelah diterapi selama
6 minggu, terjadi kolonisasi jamur Candida pada sekitar 22% bayi
yang mendapat fluconazole dan sekitar 60% pada kelompok
yang mendapat plasebo; perbedaan yang bermakna (p <0,01).
Koloni tersebut berkembang menjadi invasif (positif dari sampel
darah, urine, dan cairan serebrospinal) pada 20% kelompok plasebo,
namun tidak terjadi pada kelompok fluconazole.
Dari studi tersebut disimpulkan bahwa: pemberian fluconazole
pada usia 6 minggu pertama kehidupan efektif mencegah kolonisasi
jamur dan mencegah infeksi jamur yang invasif pada bayi berat
lahir < 1000 gram.
(TMB)
Referensi:
1. Kaufman D, Boyle R, Hazen KC. et al. Fluconazole prophylaxis againts fungal colonization and
infection in preterm infants. NEJM 2001;345:1660-6.
2. Benjamin, DK. Stoll, BJ. Fanaroff, AA. et al. Neonatal Candidiasis Among Extremely Low Birth
Weight Infants: Risk Factors, Mortality Rates, and Neurodevelopmental Outcomes at 18 to 22
Months. Pediatrics 2006; 117: 84 - 92.
Fluconazole
Mencegah Kolonisasi
Jamur pada Bayi Aterm
dengan BBLR
Asam traneksamat saat ini diketahui merupakan
preparat dengan potensi antifibrinolitik yang
berikatan dengan plasminogen tepatnya pada
lysine binding site, sehingga merupakan preparat
baku untuk mengatasi gangguan perdarahan.
S
elain untuk penanganan sindrom angioneurotik yang
merupakan indikasi penggunaan asam traneksamat di
luar gangguan perdarahan, saat ini telah dikembangkan
penggunaannya untuk mengatasi gangguan pigmentasi
yaitu melasma.
Melasma merupakan suatu masalah kosmetik khususnya
pada wanita Asia, walaupun saat ini sudah banyak terapi
yang digunakan namun belum ada yang memuaskan.
Studi awal penggunaan asam traneksamat yang diberikan
secara lokal dengan suntikan mikro (studi lain diberikan
dengan oral maupun topikal), menunjukkan asam tranek-
samat merupakan preparat yang menjanjikan untuk
penanganan melasma. Studi tersebut melibatkan 100
wanita melasma yang diberi asam traneksamat dengan
cara injeksi mikro 0,05 mL - 4 mg/mL selama 12 minggu;
parameter evaluasi menggunakan MASI (Melasma area
and severity index), yang dilakukan pada minggu ke-4, 8,
dan 12. Selain itu juga digunakan kuesioner mengenai
tingkat kepuasan yang secara subyektif diisi oleh pasien
sesuai perbaikan klinis.
Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa MASI turun ber-
makna pada minggu ke-8 dan 12, jika dibandingkan
dengan nilai awal, yaitu: 13,22 Ø 3,02 vs 9,02 Ø 2,62 vs 7,57
Ø 2,54 (p <0,05), masing-masing pada 0 - 8 - 12 minggu.
Sedangkan dari kuesioner diperoleh hasil 9,4% menye-
butkan hasil baik (tingkat keputihan 51 - 75%), 76,5%
cukup (derajat keputihan 26 - 50%) , dan 14,1 % kurang
(derajat keputihan 0 - 25%). Secara umum pemberian asam
tranexamat dengan mikro injeksi ditoleransi dengan baik.
Dari studi in-vitro diketahui plasminogen banyak terdapat di
bagian basal epidermal, dan ratinosit banyak mengandung
plasminogen activator (PA) khususnya PA tipe urokinase. PA
ini berguna untuk diferensiasi, pertumbuhan, migrasi dan juga
untuk pigementasi keratinosit; blokade efek ini mungkin me-
rupakan mekanisme kerja asam traneksamat dalam menurun-
kan hiperpigementasi pada pasien-pasien melasma.
(TMB)
Referensi:
1. Lee JH, Park JG, Lim SH. et al. Localized Intradermal Microinjection of Tranexamic
acid for Treatment of Melasma in Asian Patients: A Preliminary Clinical Trial.
Dermatologic
Surgery
2006;32(5):626-631.
2. Maeda K, Tomita Y. Mechanism of the Inhibitory Effect of Tranexamic acid on
Melanogenesis in Cultured Human Melanocytes in the Presence of Keratinocyte-
conditioned medium. J. Health Sci. 2007;53(4):389-96.
CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
B E R I T A T E R K I N I
CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
114
B E R I T A T E R K I N I
113
Asam Traneksamat
untuk
Melasma