HASIL PENELITIAN
Respon Terapi Tamoxifien pada
Kanker Payudara Lanjut Lokal
dengan Reseptor Estrogen, Reseptor
Progesteron dan Mr 29.000 Positif
Azamris
Divisi Onkologi, Lab/SMF Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/
Rumah Sakit Umum Daerah Dr M Djamil Padang, Sumatra Barat
A
BSTRAK
Kanker payudara stadium lanjut lokal (III B) menduduki tempat teratas di Indonesia yang
penanganan primernya dengan radiasi dan penanganan sekunder secara hormonal sistemik.
Pengobatan hormonal reseptor estrogen dan reseptor progesteron belum memberikan hasil
maksimal, untuk itu diupayakan parameter lain yang dikenal dengan Mr 29.000.
Telah dilakukan penelitian secara uji klinik acak terkontrol, dengan pemeriksaan Estrogen
reseptor positif, Progesteron reseptor positif dan Mr 29.000 positif, pada penderita kanker
payudara lanjut lokal stadium III B, yang mendapat terapi Tamoxifen. Kemudian dinilai hasil
terapi setelah 3 bulan, apakan responnya lebih baik atau tidak.
Penelitian ini melibatkan 42 kasus kanker payudara lanjut lokal. Jumlah penderita
premenopause sama dengan penderita postmenopause, ER(+) ditemukan 11kasus, dan ER () 31
kasus. Dan Mr 29.000 (+) 7 kasus dari 11 kasus ER (+). Hanya 5 kasus yang memenuhi syarat
untuk penelitian, karena itu penelitian ini hanya deskriptif saja, penelitian perlu dilanjutkan
dengan kriteria yang lebih terarah dengan umur penderita 50 tahun atau lebih, sampel diperbesar
lebih dari 30 kasus dan waktu penelitian minimal tiga tahun. Kesimpulan pada penelitian ini
belum dapat diambil oleh karena jumlah kasus yang sedikit.
Kata kunci : kanker payudara lanjut lokal, reseptor estrogen, reseptor progesteron, Mr 29.000.
PENDAHULUAN
Kanker payudara merupakan penyakit keganasan wanita
yang paling sering dijumpai di Indonesia setelah kanker mulut
rahim 15,85 %
(1)
di RS Dr M Djamil 65%-70% penderita
kanker payudara datang dalam stadium lanjut, sedangkan
stadium lanjut lokal (III B) 43,40 %
(2)
.
Terapi primer berupa
radiasi memberikan kontrol 70%-72%, sedangkan terapi
hormonal tamoxifen merupakan terapi sekunder
(2-5)
.
Terapi
yang di dasarkan pada pemeriksaan estrogen reseptor dan
progesteron reseptor pada kanker payudara belum dikembang-
kan di RS Dr M Djamil secara umum
(6)
.
Terapi hormonal
bersifat sistemik spesifik, jadi efektif untuk kasus-kasus lanjut
lokal, regional dan metastasis jauh
(2)
pada dasarnya tujuan
terapi hormonal Tamoxifen ini untuk meniadakan atau
mengurangi pengaruh estrogen terhadap jaringan kanker
payudara, yaitu mencegah uptake estrogen pada jaringan
kanker yang mengandung reseptor estrogen, yang dapat
memacu pertumbuhan kanker payudara
(6)
.
Kodamark dan kawan-kawan menduga terapi dengan anti
estrogen Tamoxifen pada kanker payudara, bekerja menekan
pada tingkat sel induk, tidak membasmi sel kanker
(7)
.
Responsifitas kanker payudara terhadap terapi hormonal
kurang lebih 50%, didasarkan pada reseptor estrogen positif
(8)
.
Reseptor estrogen dan reseptor progesteron pada kanker
payudara merupakan petanda bahwa tumor sensitif terhadap
terapi Tamoxifen 70%-85%
(9,10)
. Kegagalan terapi hormonal
berdasarkan status reseptor estrogen dan reseptor progesteron
menuntut penggunaan parameter lain untuk meningkatkan
keberhasilan terapi hormonal ini. Pertengahan tahun 1980
ditemukan antibodi yang reaktif terhadap satu protein yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 53
diduga berkaitan erat dengan molekul reseptor estrogen, protein
ini berupa fosfoprotein dikenal dengan protein Mr 29.000
(11,12)
.
Keberadaan Mr 29.000 ini berkorelasi dengan reseptor estrogen
kanker payudara namun maknanya belum jelas
(13)
.
Bila sel eukariotik terpapar suhu tinggi dan berbagai stres,
sel-sel ini akan bereaksi dengan menghasilkan sejumlah kecil
protein yang disebut Heat Shock Protein
(14,15)
. Hormon juga
dapat mempengaruhi eksperesi HSP 27. Bermacam-macam
protein dihasilkan pada keadaan di atas antara lain: Mr 29.000
(HSP 27), Mr 90.000 (HSP90) serta HSP 70. Mr 29.000 atau
estrogen related protein merupakan suatu fosfoprotein yang
berhubungan dengan ER(+), yang terlibat dalam sebagian besar
kanker payudara
(16)
.
Antigen Mr 29.000 ini telah dapat dideteksi dengan
antibodi monoklonal D5 yang timbul pada reaksi dengan
reseptor estradiol manusia yang telah dimurnikan
(16)
MR 29.000
hanya ditemukan pada jaringan yang mengandung ER (+)
(11,17)
.
Tidak satupun tumor dengan Mr 29.000 (-) dapat dikendalikan
dengan pengobatan hormonal. 20% reseptor estradiol positif
mempunyai Mr 29.000 fosfolipid rendah tumor ini buruk
responnya terhadap pengobatan hormonal
(17)
.
Pada kanker payudara terdapat hubungan sangat bermakna
dengan jumlah reseptor estrogen sitoplasma, antibodi spesifik
D5 bereaksi dengan Mr 29.000 sitosol ER (+) dan tidak
bereaksi dengan ER (-)
(17)
Cano dan kawan-kawan pada
penelitiannya mendapatkan penderita yang Mr 29.000 (+) 50%
memberikan respon lengkap atau sebagian terhadap terapi
hormonal, sedangkan 12% gagal mendapatkan perbaikan
(17)
.
Persentase penderita kanker payudara lanjut lokal yang ER (+)
26%.
TUJUAN PENELITIAN
Apakah keberadaan Mr 29.000 yang menyertai reseptor
estrogen dan reseptor progesteron memberikan makna dalam
responsivitas terapi Tamoxifen.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian uji klinik terkontrol
yang dilakukan di Bagian Bedah Onkologi/HNB RS Dr M
Djamil Padang. Penelitian dilakukan mulai 1 Januari 2003
sampai dengan 31 Desember 2003. Responden adalah penderita
kanker payudara stadium lanjut lokal (stadium III B).
Pemilihan sampel dilakukan secara acak sederhana.
Kriteria bagi responden yang diikutkan pada penelitian ini
adalah :
1. Wanita penderita kanker payudara.
2. Kanker Payudara Stadium III B - T4 N0-2 M0 dan setiap T
N3 M0(UICC 1992).
3. Belum pernah mendapat terapi kanker.
Setiap responden menjalani biopsi insisional dan hasilnya
diperiksa secara microwave untuk menentukan reseptor
Estrogen dan Progesteron serta pemeriksaan non microwave
pada protein Mr 29000.
HASIL
Jumlah kasus kanker payudara lanjut lokal dari bulan
Januari 2003 sampai Desember 2003 terkumpul sebanyak 42
kasus. Dengan rentangan umur termuda 28 tahun dan tertua 78
tahun.
Tabel 1. Distribusi umur penderita kanker payudara lanjut lokal (n = 42)
Umur Jumlah
Kasus %
20 29
30 39
40 49
50 59
60 69
70 79
Total
2
5
13
11
9
2
42
5
12
31
26
21
5
100
Tabel 2. Distribusi status menopause penderita kanker payudara lanjut
lokal (n = 42)
Menopause Jumlah
Kasus
%
Pre menopause
Post menopause
Total
21
21
42
50
50
100
Tabel 3. Distribusi status ER penderita kanker payudara lanjut lokal
(n = 42)
Umur
ER (+)
ER (-)
20 29
30 39
40 49
50 59
60 69
70 79
Total
0
2
1
3
4
1
11
2
3
12
8
5
1
31
Tabel 4. Distribusi ER (+) berdasarkan status menopause pada penderita
kanker payudara lanjut lokal (n=11)
Menopause ER
(+) %
Pre menopause
Post menopause
Total
3
8
11
27
73
100
Taberl 5. Distribusi Mr 29.000 berdasarkan ER (+) pada penderita kanker
payudara lanjut lokal (n = 11)
Tipe Jumlah
Kasus %
Mr 29.000 (+)
Mr 29.000 (-)
Total
7
4
11
64
36
100
Tabel. 6. Respon terapi tamoxifen pada penderita kanker payudara lanjut
lokal ER (+) PR(-), Mr 29.000 (+).
Respon Terapi
Jumlah Kasus
%
Respon Komplit
Respon Parsial
Tidak respon
Total
1
1
2
4
25
25
50
100
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
54
Tabel 7. Respon terapi tamoxifen pada penderita kanker payudara lanjut
lokal ER (+) PR(+).
Tipe
Respon positif
Tidak respon
Mr 29.000 (+)
Mr 29.000 (-)
Total
2
1
3
1
1
2
DISKUSI
Kanker payudara lanjut lokal 31% ditemui pada usia 40-49
tahun, dan 50% penderita yang diamati masih haid teratur.
Tidak ada perbedaan penemuan penelitian ini dengan laporan
dari RSCM dan Jepang
(18,19)
. Reseptor estrogen positif terlihat
makin meningkat pada usia
50 tahun, sedangkan reseptor
estrogen negatif tinggi pada usia
60 tahun. Ditinjau dari
status menopause, reseptor estrogen positif ditemukan
sebanyak 8 dari 11 kasus post menopause (73%), dan 3 dari 11
kasus premenopause (27%).
Kurang lebih 50% tumor primer mengandung reseptor
estrogen (positif) dan reseptor estrogen ini meningkat dengan
bertambahnya usia
(3)
penderita premenopause lebih sedikit
yang estrogen reseptor positif-ER (+) (30%) dibandingkan
dengan penderita post menopause (60%)
(11)
.
Pada penelitian ini
terlihat status reseptor estrogen positif makin meningkat pada
usia lanjut (tabel 5) tidak berbeda dengan kepustakaan
(3)
.
Marsigliante dkk melaporkan bahwa 178 (65%) tumor P29
positif dan sisanya 95 (35%) P29 negatif. P29 berhubungan
sangat bermakna dengan ekspresi ER (+) (p<0,001). Penemuan
Mr. 29.000 (+) pada penderita kanker payudara lanjut lokal ini
sama seperti yang ditemukan oleh Marsigliante S
(20)
.
Adanya korelasi kuat antara ER (+) dengan Mr 29.000 (+)
ini bisa digunakan untuk menilai respon terapi tamoxifen
(21)
.
Pada 31 penderita kanker payudara lanjut lokal dengan ER(-)
PR(-) ternyata 1 kasus memberikan respon komplit, yang
sampai sekarang masih kontrol. Kepustakaan menyatakan 5% -
10% penderita kanker payudara ER(-) PR(-) memberi respon
dengan terapi hormonal
(20,22)
.
Pada penderita kanker payudara
lanjut lokal ER(+), PR(-), Mr 29.000 (+) satu kasus respon
komplit, dua kasus tidak memberikan respon. Dari 2 penderita
ER (+) PR () Mr 29.000 (-), 1 kasus respon parsial, 1 kasus
tidak respon.
Terapi tamoxifen berrespon pada dua penderita kanker
payudara lanjut lokal dengan ER(+) PR(+) Mr 29.000 (+)
Sedangkan pada penderita kanker payudara lanjut lokal ER(+)
PR(+) Mr 29.000(-) satu kasus memberi respon (tabel 7).
Jensen dkk. (1971)
(23)
mendapatkan 35%-40% penderita kanker
payudara ER(+) tidak memberi respon terhadap terapi
hormonal, mungkin karena estrogen komplek yang terbentuk
tak sanggup berimigrasi ke dalam inti sel kanker.
Beberapa laporan mengatakan 60% penderita kanker
payudara yang mempunyai reseptor estrogen positif mem-
berikan respon terapi hormonal bila ER (+) PR (+) respon
terapi mencapai 70-80%
(3,8,23,24)
.
Bahkan ada penelitian yang
mencapai respon terapi hormonal 85%
(9)
.
Bila reseptor estrogen
(+) dan reseptor progesteron (-) respon terapi 30%
(3,8,23,25)
. Cano
A dan kawan-kawan
(11,16)
melaporkan bahwa penderita kanker
payudara yang ER (+) Mr 29.000 (+) memberikan respon terapi
hormonal yang tinggi (50%).
Pada penelitian ini respon terapi hormonal Tamoxifen pada
penderita kanker payudara ER (+) PR (+) Mr 29.000 (+)
diharapkan mendekati 100%. Dari jumlah sampel yang didapat,
tidak bisa dilakukan analisis statistik tetapi secara klinis pada
lima kasus yang memenuhi kriteria untuk penelitian ini terlihat
respon terapi cukup baik pada kasus Mr 29.000 (+) jika
dibandingkan dengan yang Mr 29.000 (-).
SARAN
1. Penelitian respon terapi Tamoxifen pada penderita kanker
payudara lanjut lokal dengan ER (+) PR (+) Mr 29.000 (+)
perlu dilanjutkan dengan kriteria yang lebih terarah yaitu
umur penderita di atas 50 tahun atau sudah menopause
untuk mendapatkan reseptor estrogen tinggi sehingga Mr
29.000 (+) yang didapat juga lebih tinggi.
2. Diperlukan waktu minimal tiga tahun untuk mendapatkan
sampel yang besar.
3. Diperlukan
waktu
follow up minimal enam bulan untuk
menilai respon terapi.
4. Untuk menentukan strategi pengobatan berdasarkan
reseptor hormonal, sudah waktunya diusulkan pemeriksaan
tersebut yang selama ini belum dilaksanakan secara umum
di RS Dr M Djamil Padang.
KEPUSTAKAAN
1.
Ramli M, Tjindarbumi D, Simanjuntak DC, Poetiray E, Albar ZA, Darwis
I, Breast Cancer in Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital: Management and
problematics. In: Advanced Postgraduate Course: Oncology, Medical
Faculty, University of Indonesia and Dharmais Cancer Hospital, National
Cancer Center,under the auspices of the Dutch Foundation Postgraduate
Medical Courses . Jakarta 8-10 November 1993. pp. 92-100.
2. Ramli M, Tjindarbumi D : Penatalaksanaan kanker payudara lanjut.
Dipresentasikan pada : Seminar Nasional II Kanker Payudara dan
Simposium Diagnosa Dini Tumor Ganas. Perhimpunan Ahli Bedah
Onkologi Indonesia, Manado 11 -13 Febuari 1988.
3.
Harris JR, Morrow M, Bonadonna G. Cancer of the Breast. In: Principles
and Practice of Oncology, 4 th.ed. Philadelphia. 1993, pp. 1264-1332.
4.
Ramli M. Kanker payudara, deteksi dini dan diagnosa kanker payudara.
Dipresentasikan pada Kursus Singkat pencegahan, diagnosa dini dan
pengobatan penyakit kanker FKUI-RSCM.
5. Sheldon T, Hayes DF. Primary radiation therapy for locally advanced
breast cancer. Cancer 1988; 60: 1219-1225.
6. Ramli M. Penatalaksanaan mutakhir kanker payudara. Dipresentasikan
pada Simposium dalam rangka HUT YKI wilayah Sumsel. Palembang
1995.
7.
Kodama F, Green GL. Relation of estrogen expression to clonal growth
and antiestrogen effect on human breast cancer cell. Cancer Res. 1985;
45; 2720-24.
8.
Forest PM. Tamoxifen as adjuvant therapy. Breast cancer controversy in
management; 1994; 377 91.
9. Fields SM, Koeller JM. Hormonal therpy in clinical oncology. 1993;
1165-76.
10. Jensen EV. Hormone Dependency of the Breast Cancer. Cancer
1987;47:1165-76.
11. Coffer AI, Lewis KM et al . Monoclonal antibodies against component
related to soluble estrogen reseptor. Cancer Res. 1985; 45: 3684-94.
12. Ciocca DR, Luque EM. Immunological evidence for the identity between
the HSP 27 estrogen related heat shock protein and the P29 estrogen
reseptor associated protein in breast and endometrial cancer. Breast Can
Res Treat 1991; 20:33-42.
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005 55
13. Hulka BS, Liu et al. Steroid hormones and risk of breast cancer 1994;
74;1111-24.
14. Petco L, Linguist S. HSP 26 is not required for growth and high
temperature, nor for thermotolerance, spare development, or germination.
Cell 1986; 45: 885 94.
15. Carper SW, Duffy JJ, Gerner EW. Heat shock protein in thermotolerance
and other cellular process. Cancer Res 1987; 47: 5249 86.
16. Cano A, Coffer A et al. Histochemical studies with an estrogen receptor
related protein in human breast tumor. Cancer Res. 1986 ; 46 : 6475 80.
17. Coffer AI, Spiller GH et al. Immunoradiometric studies with monoclonal
antibody against a component related to human estrogen reseptor. Cancer
Res 1985 ; 45 : 3694 98.
18. Tjindarbumi D, Ramli M, Watanabe S . Clinopathological Aspects of
Breast Cancer, A joint study between Indonesia and Japan. Med. J. Indon.
1995; 4(3): 148 153.
19. Nomura Y, Miura S et al. Relative effect of steroid hormone receptor on
prognostic of patient with operable breast cancer. Cancer 1992; 69:153
64.
20. Marsigliante S, Greco S, Biscozzo L. Transciptionally active non ligand
binding estrogen reseptor in breast cancer. Cancer lett 1992; 66:183 91.
21. Hayward JL, Rubben RD. Assessment of response therpy in advanced
breast cancer. Br.J.Cancer 1977;35:292 - 8
22. Fracchia AA, Evans JF, Einenberg BL. Stage III carcinoma of the breast :
Ann. Surg. 1980 ; 192 (6): 705-9.
23. Hubay CA, Arafah B, Gordon NH, Guyton SP, Cowe JP. Hormone
receptor . Surg. Clin. N.Am. 1984; 64 (6):1155 72.
24. Oster M W. Endocrine therapy and chemotherapy for breast carcinoma.
In: Disease of the Breast 3rd.ed. Philadelphia: Haagensen CD. 1993 . pp.
991 1011.
25. King RJ, Coffer AI. Histochemical studies with a monoclonal antibody
raise against a partially purified soluble estradiol receptor preparation
from human myometrium. Cancer Res. 1985; 45: 5728 85.
( Sambungan Halaman 4 )
English Summary
L-ORNITHIN-L-ASPARTATE (LOLA)
PREVENTS BLEBBING IN
HEPATOCYTES CAUSED BY ETHANOL
EXPOSURE
Nelson Simanungkalit Pospos
Board of Technologial Research
and Application, Jakarta,
Indonesia
Freshly isolated hepatocytes
exposed to ethanol 0,65 mol/l,
produced blebs on cell surfaces.
Blebs formation can be totally
prevented by 30 min aminoacid
LOLA preincubation.
Cermin Dunia Kedokt.2005 ; 149 : 57 - 59
nsp
SOME UNUSUAL FINDINGS DURING
KIDNEY
STONES ANALYSIS
Oen Liang Hie
Professor emeritus, Department of
Biochemistry, Faculty of Medi-
cine, University of Indonesia,
Jakarta, Indonesia.
Some experiences during urinary
stone analysis are presented.
Among them are :
1. A stone removed from the back
part of the nose of a young man
of about 20 year-old. No pain was
reported, only a feeling of some
obstruction of his airway.
Our analysis revealed that the
stone was formed around a rubber
eraser usually attached at the top
of a pencil. The patient could not
recall when he used that kind of
pencil during childhood.
2. A bladder stone the size of a
tennis ball.
Analysis revealed that the stone
was formed around a roll of
gauze, left behind by a surgeon
who operated on the patient years
ago for prostate hypertrophy.
Cermin Dunia Kedokt. 2005 ; 149 : 60 -61
olh
Cermin Dunia Kedokteran No. 149, 2005
56
Document Outline